Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Not a member yet
285 research outputs found
Sort by
EVALUASI PENYUSUNAN MATERI PENGAJARAN FONETIK PADA BAHAN AJAR BAHASA MANDARIN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi penyusunan materi pengajaran fonetik pada bahan ajar bahasa Mandarin tingkat sekolah menengah atas. Penelitian ini melibatkan 8 paket bahan ajar bahasa Mandarin di sekolah menengah atas. Dari penelitian 8 paket bahan ajar tersebut ternyata penyusunan pengajaran fonetik pada sebagian besar bahan ajar tersebut masih menggunakan format umum, serta tidak mempertimbangkan kesulitan pelajar yang bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia. Selain itu, pada sebagian besar bahan ajar, alokasi jumlah unit pelajaran tentang fonetik cenderung masih sedikit dan terkesan disederhanakan. Berdasarkan hal ini, dengan bersumber kepada beberapa penelitian fonetik yang telah dilakukan oleh beberapa pemerhati pendidikan bahasa Mandarin baik di Indonesia dan Tiongkok, peneliti menyarankan format penyusunan pengajaran fonetik pada bahan ajar bahasa Mandarin tingkat sekolah menengah atas yang lebih baik. Hal ini dilakukan agar peserta didik khususnya pelajar pemula bahasa Mandarin di sekolah menengah atas dapat lebih mudah mempelajarinya. Kata-kata kunci : Bahasa Mandarin, bahan ajar, fonetik, sekolah menengah atas AbstractThe main objective of this study is to evaluate the arrangement of phonetic teaching in Mandarin teaching material at senior high school level. The study involved eight packages of Mandarin teaching materials in senior high school. Based on the study of this 8 packages teaching materials, apparently the arrangement of phonetic teaching in most of the materials still utilizes a common format, and does not take into consideration the difficulties of students whose native language is Indonesian. In addition, the majority of the teaching materials allocates only a few units of phonetic lessons, and is oversimplified. As regards, I suggested a better format on the arrangement of phonetic teaching in Mandarin teaching material at senior high school level, referring to some phonetic research that has been done by some Mandarin education observers, both in Indonesia and China. Hopefully learners, especially beginner students in senior high school may learn Mandarin much easier.Keywords: Mandarin, teaching material, phonetic, senior high schoo
REVITALISASI NASKAH SYAIR: SEBUAH SOLUSI DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS MAHASISWA UNTUK MENCINTAI BUDAYA LOKAL
Abstract Cultures were grown in campus tend to imitate the western culture, so that the local culture is ruled out. The local culture is considered ancient culture, so it does not show up in the form of creativity. Though Indonesia is rich with culture can be preserved in the campus. One of them is a manuscript poem, which is one form of the local culture of our nation. The text of the poem can be in the form of creative songs, drama, dance and others. One solution is to develop student creativity with the revitalization (revive) the text of the poem and developed through programs of student organizations in the field of arts and culture. So it is the first step to develop a sense of love of local culture.Keywords: manuscript poem, student activity, local culture AbstrakBudaya yang tumbuh di kampus cenderung meniru budaya barat, sehingga budaya lokal dikesampingkan. Budaya lokal dianggap budaya kuno, sehingga tidak muncul dalam bentuk kreativitas. Padahal Indonesia kaya dengan budaya dapat dipertahankan dalam kampus. Salah satunya adalah puisi naskah, yang merupakan salah satu bentuk budaya lokal bangsa kita.Teks puisi bias dalam bentuk yang kreatiflagu, drama, tari dan lain-lain. Salah satu solusinya adalah dengan mengembangkan kreativitas siswa dengan revitalisasi teks puisi dan dikembangkan melalui program organisasi mahasiswa di bidangsenidanbudaya. Jadi langkah pertama untuk mengembangkan rasa cinta budaya lokal.Kata-kata kunci: naskah syair, kreativitas mahasiswa, budaya loka
PENDEKATAN LINGUISTIK SINKRONIS DAN DIAKRONIS PADA BEBERAPA DIALEK MELAYU: PEMIKIRAN KRITIS ATAS SEJARAH BAHASA MELAYU
AbstrakPerdebatan tentang asal usul bahasa Indonesia masih terus berlangsung. Untuk membuktikan pendapat mana yang paling tepat, haruslah dibuktikan secara ilmiah akademik. Untuk menjawab masalah itu, tulisan ini berupaya untuk menganalisis asal bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia secara linguistik. Caranya ialah membandingkan bahasa Indonesia dengan dialek Malayu Menado dan Melayu Ambon, yang dianalisis secara sinkronis dan diakronis. Dalam penganalisisan itu digunakan metode distribusional dengan membandingkan bahasa Indonesia dengan dialek Melayu Menado dan dialek Melayu Ambon. Hal yang diperbandingkan dalam domain sinkronis ialah aspek fonologis, morfologis, dan sintaktis; dalam domain diakronis ialah aspek linguistik dan aspek ekstralinguistik. Hasil yang diperoleh ialah bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia bukan merupakan dialek Melayu. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat jati diri bahasa Indonesia, baik dari segi linguistik maupun politik.Kata-kata kunci : sinkronis, diakronis, dialek, pijin, kreol AbstractThe debate about the origin of Indonesian is still ongoing. To prove the most appropriate statement, the statement must be tested academic scientifically. To answer that problem, this paper seeks to analyze the origin of the Malay language that becomes the forerunner Indonesian language linguistically. The analysis is carried out by comparing Indonesian language with Manado Malay dialect and Malay Ambon, which is analyzed synchronically and diachronically. In analyzing that problem, the distributional method is used to compare the Indonesian with Manado Malay dialect and Ambonese Malay dialect. The comparability in synchronous domain is phonological, morphological, and syntactic aspects; in diachronic domain linguistic and extra-linguistic aspects are compared. The results obtained is Malay language becomes the forerunner of Indonesian and it is not a Malay dialect. Thus, the results of this study are expected to strengthen Indonesian language identity, both in terms of linguistic and political aspect.Keywords: Synchronic, diachronic, dialect, pidgin, creol
THE ACQUISITION OF PRAGMATIC DIMENSION IN THE TEACHING AND LEARNING OF MALAY: AN EARLY REVIEW
AbstractThis study is focussing on the acquisition of pragmatic structure in the first language parameter, particularly in Malay. The pragmatic structure assumes that a speaker innately has a choice for Face Threatening Acts (FTA's) in his construction of sentences for a particular conversation. The structure of FTA’s are Bald On-Record (BOR), Negative Politeness (NP), Positive Politeness (PP), and Off-Record-indirect strategy (OR). From the pragmatic perspective, each of the FTA’s consists of a certain purpose. To look at the competency of pragmatic acquisition structure, subjects of this study were exposed through classroom interactions based on three learning outcomes. For each learning outcome, subjects were given six situations which totalling to 18 situations for all the three learning outcomes mentioned. Each situations demands subjects to discuss and interact using the FTA’s that they have already acquired. The study shows that in regard of the acquisition of FTA’s among subjects, BOR acquired the highest score, followed by PP, NP, and OR in all the six situations undergone by the subjects. Keywords: Face Threatening Acts (FTA’s), language acquisition, pragmatic AbstrakPenelitian ini berfokus pada akuisisi struktur pragmatis dalam parameter bahasa pertama, terutama dalam bahasa Melayu. Struktur pragmatis berasumsi bahwa seorang penutur memiliki pilihan untuk Tindak Tutur yang Mengancam Muka (Face Threatening Acts/FTA) dalam konstruksi kalimatnya dalam percakapan tertentu. Struktur FTA adalah Bald On-Record (BOR), Kesopanan Negatif (Negative Politeness/NP), Kesopanan Positif (Positive Politeness/PP), dan strategi tidak langsung Off-Record (OR). Dari perspektif pragmatis, masing-masing dari FTA mengandung tujuan tertentu. Untuk melihat kompetensi akuisisi struktur pragmatis, subyek penelitian ini mengikuti interaksi kelas berdasarkan tiga hasil belajar. Untuk setiap hasil belajar, mata pelajaran diberi enam situasi sebanyak 18 situasi untuk ketiga hasil belajar yang disebutkan. Setiap situasi menuntut subyek untuk membahas dan berinteraksi menggunakan FTA yang telah mereka peroleh. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hal akuisisi FTA, BOR memperoleh skor tertinggi, diikuti oleh PP, NP, dan OR dalam semua enam situasi yang dialami oleh subyek.Kata kunci: Tindak tutur mengancam muka (FTA), penguasaan bahasa, pragmati
VERBA BERENDONIM INDRA PENGLIHATAN DALAM BAHASA INDONESIA : KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF DAN SEMANTIK LEKSIKAL
AbstrakIndra penglihatan merupakan salah satu organ tubuh yang penting untuk manusia sehingga dihasilkan berbagai varian verba berendonim indra penglihatan, akan tetapi penelitian tentang hal ini sangat terbatas. Melalui penelitian ini yang menggunakan teori linguistik kognitif dan semantik leksikal diperoleh bahwa (1) verba berendonim indra penglihatan yang paling banyak digunakan adalah verba yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari yang paling sering dilakukan dan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak digunakan varian verba berendonim indra penglihatan, sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang semakin sedikit varian verba yang digunakannya; (2) skema representasi verba berendonim indra penglihatan mengambarkan hubungan antara makna verba ini dengan pemaparannya pada kamus dan penggunaannya pada kehidupan sehari-hari; dan (3) kognisi menentukan ranah penggunaan verba berendonim indra penglihatan dengan cara menghubungkan ruang mental dengan pengalaman indrawi penuturnya.Kata-kata kunci: Endonim, skema representasi, kognisi, ranah AbstractThe sense of sight is one of the vital organs for humans to produce many variants of verbs sight endonym;however, research on this area is very limited. Using the theory of cognitive linguistics and lexical semantics, this study reveals that the most widely usedverbsof sight endonym are the ones associated with most frequently performed daily activities; the higher the education, the more variants of the verbsused, and vice versa.It also indicatesthe schematic representation of the verbs of sight endonym reflects the relationship between the meaningsand descriptions of the verbsin a dictionary and their use in everyday life; and the domain of cognition determines use of the verbs by linking mental space with the sensory experience of the speaker.Keywords: endonym, representation scheme, cognition, domai
TRIANGLING BELLOW’S SEIZE THE DAY
AbstractOver the years, new theories of literary criticism have invariably emerged as a response, critique to, and development of the earlier criticisms. This paper introduces a relatively new literary theory that can enrich the repertoire of literary criticism in Indonesian context, namely family systems therapy or FST, through a critical analysis of Seize the Day by Saul Bellow, an American author whose works mainly deal with the theme of family and the issues revolving it. Partly a critique to Freud’s psychoanalysis and its variants, family systems therapy holds that one’s identity is a part of a matrix of identity, thereby requiring the analysis of one’s interrelatedness with the others involved in the matrix in order to understand one’s self. The analysis shows that the protagonist of the novel, Wilhelm, is involved in a triangle in his effort to cope with his anxiety. Triangling is also found to be merely one of the many outlets for the protagonist’s anxiety. The paper concludes that family systems theory is appropriate to critically analyze literary works dealing with family matters, such as Seize the Day. This theory offers new insights not only into the practice of literary criticism but also into seeing problems in life. Keywords: Family systems therapy, triangle, anxiety AbstrakTeori-teori kritik sastra terus bermunculan, baik sebagai tanggapan, kritik, atau perkembangan dari teori-teori sebelumnya. Makalah ini memperkenalkan sebuah teori yang cukup baru yang bisa memperkaya khasanah kritik sastra di Indonesia, yaitu terapi sistem keluarga, melalui sebuah analisis terhadap novel berjudul Seize the Day karangan Saul Bellow, seorang penulis Amerika yang karya-karyanya terutama mengangkat tema keluarga dan permasalahan yang melingkupinya. Sebagai kritik terhadap teori Psikoanalisis oleh Freud dan variasi-variasinya, terapi sistem keluarga percaya bahwa identitas seseorang adalah bagian dari matriks identitas, sehingga analisis terhadap keterhubungan seseorang dengan orang lain yang terlibat dalam matriks tersebut diperlukan jika ingin memahami diri seseorang. Analisis menunjukkan bahwa protagonis novel tersebut, Wilhelm, terlibat dalam sebuah hubungan segitiga atau triangling dalam usahanya untuk menghadapi kegelisahan hidupnya; selain itu, hubungan segitiga hanyalah satu dari sekian jalan keluar untuk kegelisahan yang dihadapi protagonis. Makalah ini menyimpulkan bahwa teori psikoterapi keluarga cocok untuk menganalisis secara kritis karya-karya sastra yang berkenaan dengan masalah keluarga, seperti Seize the Day. Teori ini menawarkan sudut pandang baru, tidak hanya terhadap praktik dalam kritik sastra, tapi juga terhadap cara melihat permasalahan dalam hidup. Kata kunci: Terapi sistem keluarga, segitiga, kegelisahan
POTENSI BAHASA SUNDA DALAM MEMPERKAYA BAHASA INDONESIA
AbstrakBahasa Indonesia akan senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan penuturnya. Bahasa Indonesia juga banyak menggunakan kosakata dari luar yang dianggap lebih mewakili konsep, gagasan, atau ide tertentu. Bahasa yang menjadi sumber serapan bagi bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, bahasa daerah lain di Indonesia, atau bahasa asing. Sebagai bahasa daerah dengan penutur yang cukup banyak, bahasa Sunda mempunyai kemantapan, baik dalam korpus (tata bahasa, kamus) maupun dalam pemakaiannya. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kosakata bahasa Sunda yang berpeluang masuk ke dalam bahasa Indonesia, dan (2) karakteristik kosakata tersebut dilihat dari segi makna, kategori, dan bentuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif. Hasil temuan menunjukkan bahwa kosakata bahasa Sunda banyak yang berpeluang menjadi kosakata bahasa Indonesia, terutama kosakata yang memiliki konsep, gagasan, atau ide yang tidak ada dalam bahasa Indonesia, baik menyangkut istilah kekerabatan, berkaitan dengan fisik manusia, nama tumbuhan dan bagiannya, aktivitas badan dan aktivitas sehari-hari, aktivitas terkait benda, rasa sakit, sifat manusia, alam dan keadaan, nama penyakit maupun konsep lainnya yang tidak ada dalam bahas Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kosakata Sunda yang masuk ke dalam wacana dan menjadi interferensi leksikal (atau harus dimiringkan) dalam media massa berbahasa Indonesia. Selain itu, kosakata yang berkaitan dengan budaya Sunda, seperti nama kesenian, alat musik, tradisi, dan sastra Sunda berpeluang juga menjadi kosakata bahasa Indonesia atau setidaknya menyumbang Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan selanjutnya. Kata kunci: Bahasa Indonesia, KBBI, kosakata, bahasa Sunda AbstractIndonesian will continue to evolve as its speakers grow. Indonesian uses plenty of vocabulary from the outside which is considered to better represent particular concepts or ideas. The languages that have been the sources for borrowing are Malay, regional languages in Indonesia, or foreign languages. As a local language with a significant number of speakers, Sundanese is established, both in the corpus (grammar, dictionaries) as well as in its use. This paper aims to describe (1) Sundanese vocabulary is likely to enter into Indonesian, and (2) the characteristics of such Sundanese vocabulary is likely to enter into Indonesian in its meaning, category and form. The method used in this research is descriptive. A large number of Sundanese words are likely to be the vocabulary of Indonesian, especially those concerning a concept, or an idea that does not exist in Indonesian, e.g. kin terms, human physical nature, names of plants and parts, the activity of the body and everyday activities, activities related to objects, pain, human nature, the nature and circumstances, and names of diseases. This is evidenced in the number of Sundanese vocabulary in Indonesian passages and lexical interferences in Indonesian mass media. Moreover, the vocabulary related to Sundanese culture, such as names of arts, musical instruments, traditions and literary are likely to also be the Indonesian vocabulary and contribute to the next edition of the Great Dictionary of the Indonesian Language.Keywords: vocabulary, Sundanese, Indonesian, Indonesian dictionar
PEMBELAJARAN PELAFALAN BAHASA PERANCIS MELALUI MODEL ARTIKULATORIS PENGEMBANGAN (MAP) BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF
AbstrakPenelitian ini merupakan kajian untuk merancang dan mengembangkan model pembelajaran pelafalan bahasa Perancis, yaitu model artikulatoris pengembangan (MAP) berbasis teknologi multimedia CD-ROM Interaktif. Kajian ini dilakukan untuk melakukan penyempurnaan dan inovasi berupa pengintegrasian teknologi multimedia dan MAP dalam pembelajaran pelafalan bahasa Perancis. Penelitian ini mengkaji (1) perancangan dan pengembangan model pembelajaran Artikulatoris Pengembangan yang berbasis multimedia CD-ROM dalam pembelajaran pelafalan bahasa Perancis; (2) pemerolehan data empirik mengenai efektivitas penerapan model tersebut dalam pembelajaran pelafalan bahasa Perancis, (3) kendala yang dihadapi oleh para pembelajar selama proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah Research Development. Adapun langkah-langkah yang peneliti tempuh dalam melaksanakan penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) Studi Pendahuluan, (2) Perencanaan dan Pengembangan Model, dan (3) Validasi Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MAP berbasis multimedia CD-ROM terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pelafalan bahasa Perancis. Hasil penelitian menunjukkan pula terdapat 2 (dua) jenis kesalahan pelafalan mahasiswa, yaitu secara fonologis dan secara artikulatoris. Kedua kesalahan tersebut diakibatkan oleh kesulitan mahasiswa dalam melafalkan [µ], [ø], [õ] [ã],[e],[ò],[v], dan [z]. Kesulitan secara fonologis dipengaruhi oleh penguasaan bahasa sebelumnya, sementara kesalahan secara artikulatoris mahasiswa tidak memfungsikan alat ucap secara tepat dan optimal.Kata-kata kunci: Model pembelajaran pelafalan, bahasa Perancis, MAP Abstract This research is aimed to design and develop a teaching model of French pronunciation, namely the model of interactiveCD-ROMmultimedia-based articulatory development. The study was undertaken to make improvements and innovations, such as the integration of multimedia technology and the articulatory model in teaching French pronunciation. This study presents data concerning (1) the design and development of the model; (2) the empirical data on the effectiveness of the application of the model in teaching French pronunciation, (3) the constraints faced by the learner during the learning process. The method used was Research Development, which consisted of three phases, namely: (1) preliminary study, (2) planning and development of the model and (3) validation of the model. Results show that the model in question proved to be effective in improving the quality of learning French pronunciation. In addition, results show there were two types of student pronunciation errors, phonological and articulatory. Both are caused by the difficulty in pronouncing [µ], [ø], [õ] [ã],[e],[ò],[v], and [z]. Phonological difficulties are influenced by first language interference, while articulatory difficulties are caused by students not using their articulatory tracts properly and optimally. Keywords: Pronunciation teaching model, French, articulatory model of developmen
ENGLISH LANGUAGE COMPETENCY AND OUTSOURCED CALL CENTERS IN BANGLADESH
AbstractThis paper attempts to investigate whether or not the English competency of Customer Service Representatives (CSRs) is hindering the growth and development of outsourced call centers in Bangladesh. It also looks into the problems being faced by call centers in hiring English competent CSRs. A limited appraisal of the English communication training of the CSRs offered by Call Centre Training Institutes is also within the purview of the paper. With this purpose 33 supervisors of different call centers, who are in charge of monitoring the CSRs, have been interviewed with a questionnaire comprised of both close and open ended questions. The result shows there is scarcity of skilled English communicators which is one of the major barriers in the growth and development of the call centers. However, factors like product knowledge, intercultural communication skills, service personality are also crucial as they are integral for successful transaction and addressing them will pave the way for the progress of the industry. The result also implicitly indicates that mainstream education system in Bangladesh is still unable to produce competent English communicators. The findings of the study reveal that the current shortage of skilled manpower can further become more acute when call center industry grows in line with the expectation of the government. It is also revealed that the call center training institutes are incapable of delivering the kind of training required for the aspirant CSRs. This study pinpoints the necessity of future research in several directions to ensure a balance between the demand and supply of native like fluent English communicators for call center Industry in Bangladesh. Keywords: English language competency, outsourced call centers, CRRs Abstrak Tulisan ini mencoba untuk menyelidiki apakah kompetensi bahasa Inggris Perwakilan Layanan Pelanggan (Customer Service Representatives/CSR) menghambat pertumbuhan dan perkembangan pusat-pusat panggilan pengalihluaran di Bangladesh. Tulisan ini juga menyelidiki masalah yang dihadapi oleh pusat panggilan dalam mempekerjakan CSR yang berkompeten dalam bahasa Inggris. Sebuah penilaian terbatas dari pelatihan komunikasi bahasa Inggris bagi CSR yang ditawarkan oleh Lembaga Pelatihan Pusat Panggilan akan menjadi pembahasan dalam artikel ini. Untuk mencapai tujuan ini, 33 pengawas dari pusat-pusat panggilan yang berbeda, yang bertugas memantau CSR, telah diwawancarai dengan kuesioner terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka. Hasilnya menunjukkan ada kelangkaan staf yang terampil dalam bahasa Inggris yang menjadi salah satu hambatan utama dalam pertumbuhan dan perkembangan pusat panggilan. Namun, faktor-faktor seperti pengetahuan produk, kemampuan komunikasi antarbudaya, kepribadian layanan juga berperan penting karena semuanya merupakan bagian integral transaksi yang berhasil dan upaya peningkatan semua faktor tersebut akan membuka jalan bagi kemajuan industri. Hasilnya juga secara implisit menunjukkan bahwa sistem pendidikan utama di Bangladesh masih mampu menghasilkan individu yang berkompeten dalam bahasa Inggris. Temuan penelitian ini juga mengungkapkan bahwa kekurangan tenaga kerja yang terampil dapat menjadi lebih parah ketika industri pusat panggilan tumbuh sejalan dengan harapan pemerintah. Terungkap juga bahwa lembaga pelatihan pusat panggilan tidak mampu menyediakan jenis pelatihan yang dibutuhkan oleh para calon CSR. Penelitian ini menunjukkan perlunya penelitian masa depan di beberapa aspek untuk memastikan keseimbangan antara permintaan dan pasokan individu yang fasih berbahasa Inggris seperti penutur jati untuk Industri pusat panggilan di Bangladesh. Kata kunci: Kompetensi bahasa Inggris, pusat panggilan pengalihluaran, CS
Reviewer acknowledgements for Journal of Bahasa & Sastra, Vol.15, No.2, October 2015
Reviewer acknowledgements for Journal of Bahasa Sastra, Vol.15, No.2, October 201