Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Not a member yet
285 research outputs found
Sort by
KOHESI GRAMATIKAL PENGACUAN DALAM CERPEN PEMBELAAN BAH BELA KARYA MOH. WAN ANWAR
Abstrak Kohesi Gramatikal Pengacuan dalam Cerpen Pembelaan Bah Bela karya Moh. Anwar. Dipandang sebagai proses komunikasi antara penyapa dan pesapa dalam peristiwa komonukasi secara lisan, sedangkan dalam komunikasi secara tertulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau struktur lahir bersifat kohesif dan dilihat dari segihubungan makna atau struktur batinnya bersifat koheren. Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimatkalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukan keruntutan ide yang diungkapkan melalui penada kekohesian. Cerpen dipilih sebagai objek kajian dikarenakan bentuk cerpen ringkas namun tetap menuntut tingkat kohesi dan koherensi yang tinggi agar tetap berupa satu wacana utuh. Oleh karena itu, cerpen berjudul Pembelaan Bah Bela diteliti karena cerpen ini merupakan salah satu karya terbaik dari Moh. Wan Anwar yang ceritanya berisi budaya jawara dalam masyarakat Banten. Analisis teks dalam penelitian ini akan menggunakan seluruh kalimat yang ada pada wacana cerpen tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil analisis yang lebih nyata karena masalah kohesi dan konteks situasi menyangkut masalah ketergantungan unsur-unsur dalam wacana.Kata kunci: Kohesi gramatikal pengacuan, wacana, analisis teks, cerpen. Abstract Referent Cohesion in Pembelaan Bah Bela a Short Story by Moh. Anwar. From the prespective of oral communication discourse is understood as a communication process between an addresser and an addressee. From written communication perspective, on the other hand, discourse is thought as the expression of the addresser. An integrated discourse is the one that is cohesive and coherent. It is complete when the sentenses constituting it support the topic, and integrated when the sentences are systematic and well-structured. Well structured idea is indicated by the use of cohesive devices. A short story has been chosen to investigate as it is short yet requires a high level of cohesion and coherence to allow it to be a complete reading. This article investigate “Pembelaan Bah Bela” one of best short stories by Moh. Wan Anwar. It tells about a Jawara culture in Banten. All the sentences in the short stories are analyzed. The investigation serves to show how cohesive devices work to construct a discourseKeywords: referent cohesion, text analysis, short stor
INVESTIGATING CULTURAL CONTENTS OF READING PASSAGES IN THE TESTS DEVELOPED BY ENGLISH TEACHERS IN A SENIOR HIGH SCHOOL
AbstractCultural contents contained in reading passages need to be treated carefully due to their influence to shapethe readers’ points of view. Since a test can include reading passages, careful selection of reading passages should also be conducted in a test development. This research is aimed at investigating what cultures are contained in the reading passages of the tests developed by the English teachers in a senior high school and the reasons why the reading passages were included. The methods employed in this research were textual analysis and case study. The data for textual analysis were collected from 24 reading passages from the tests developed by the English teachers of a senior high school in Cianjur, West Java, Indonesia. The information related to the problems of inclusion of cultural contents in the tests was collected from an interview. Among 24 reading passages in the tests, 10 reading passages were culture-neutral, while 14 reading passages contained cultural items.The findings show that in 14 reading passages, the culture contained are the target culture (40%) in the forms of naming, place, and season, the international culture (40%) in the forms of naming, place, and season,and the source culture (20%) in the forms of naming and place. Theunbalance proportion of the source culture can influence the readers’ mindset and the result of the test due to familiarity issue of the materials. Regarding why this proportion is found in the tests, the teachers were not aware of the cultural content issue. Therefore, the proportion was not intentionally made. The unawareness of teacher can lead to the inclusion of inappropriate cultural contents in the tests. Hence, based on the findings, it is recommended that teachers be more aware of cultural contents in reading passages and develop a test with a more balance proportion of cultural contents in reading passages.Keywords: Cultural contents, the source culture, the target culture, the international culture, reading passages. AbstrakIsi budaya yang terkandung dalam wacana harus diperlakukan dengan hati-hati karena bisa mempengaruhi sudut pandang pembaca. Dikarenakan tes mencakup wacana, pemilihan wacana secara hati-hati juga harus dilakukan dalam pengembangan tes. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki budaya apa yang terkandung dalam wacana-wacana di dalam tes yang dikembangkan oleh guru bahasa Inggris di SMA dan alasan mengapa wacana tersebut dimasukkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tekstual dan studi kasus. Data untuk analisis tekstual dikumpulkan dari 24 wacana dari tes yang dikembangkan oleh guru bahasa Inggris dari SMA di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Informasi yang berhubungan dengan masalah masuknya isi budaya dalam tes dikumpulkan dari wawancara. Di antara 24 wacana tes, 10 wacana netral dari budaya, sementara 14 mengandung temuan budaya. Hasil menunjukkan bahwa dari 14 wacana, budaya yang terkandung adalah budaya target (40%) dalam bentuk penamaan, tempat, dan musim, budaya internasional (40%) dalam bentuk penamaan, tempat, dan musim, dan budaya sumber (20%) dalam bentuk penamaan dan tempat. Proporsi budaya yang tidak imbang dapat mempengaruhi pola pikir pembaca dan hasil tes karena berkaitan dengan tingkat pengetahuan terhadap materi. Mengenai mengapa proporsi ini ditemukan dalam tes, guru tidak menyadari masalah konten budaya. Oleh karena itu, proporsi tidak sengaja dibuat. Ketidaksadaran guru dapat menyebabkan masuknya isi budaya yang tidak pantas ke dalam tes. Oleh karena itu, berdasarkan temuan, disarankan bahwa guru menjadi lebih sadar akan isi budaya dalam wacana dan mengembangkan tes dengan menjaga keseimbangan proporsi isi budaya dalam wacana.Kata kunci: Isi budaya, budaya sumber, budaya target, budaya internasional, wacana
SASTRA “BACAAN LIAR” HARAPAN MENUJU KEMERDEKAAN
AbstrakPenelitian ini berupaya untuk merangkai sumber informasi terkait sastra yang dianggap sebagai « bacaan liar ». Pada waktu pemerintahan kolonial, media karya sastra sangat efektif sebagai wadah perjuangan bentuk agitator dan protes kepada pemerintah sekaligus suplemen untuk memahami diri dan nasibnya sehingga harapan untuk keluar dari kolonialisme pemerintahan Belanda lekas terwujud. Pandangan ideologi komunis digunakan pijakan mentransmisikan stabilitas nilai-nilai politik, sosial, dan ekonomi dengan cara vergadering dari gerakan-gerakan radikal revolusioner Bumiputera.Kata kunci: Bacaan liar, ideologi komunis, sastra perjuangan,revolusioner Bumiputera. AbstractThis study seeks to assemble relevant literature resources that are considered ‘wild readings’. At the time of colonial rule, the literary media was very effective as a vehicle for struggle and protest to the government in addition to serving as a supplement to understand themselves in hopes that Dutch colonialism would soon be over. The communist ideology was used as a framework to transmit stability of political, social, and economic values by way vergadering of radical revolutionary movements of Bumiputera.Keywords: Communist ideology, literary struggle, revolution of Bumiputera, wild readin
Reviewer acknowledgements for Journal of Bahasa & Sastra, Vol.15, No.1, April 2015
Reviewer AcknowledgementsJournal of bahasa sastra wishes to acknowledge the following individuals for their assistance with peer review of manuscripts for this issue. Their help and contributions in maintaining the quality of the journal are greatly appreciated
GORDON RAMSAY’S POLITENESS STRATEGIES IN MASTERCHEF AND MASTERCHEF JUNIOR US
AbstractThis research aims to investigate the types of politeness strategies that are performed by Gordon Ramsay in judging the Masterchef US and Masterchef Junior US contestants’ dishes and to reveal whether Gordon Ramsay performs any different politeness strategies between the Master chef and Masterchef Junior contestants. The data spring from Gordon Ramsay utterances, taken from the elimination test of two episodes of Masterchef season 4 (episode 9 and 12) and the elimination test of two episodes of Masterchef Junior US season 1 (episode 2 and 6). The framework of Brown Levinson’s (1987) politeness strategies is adopted. Findings reveal that Gordon Ramsay performed bald on-record strategy, positive politeness, and off record strategy. Furthermore, Ramsay performed diferent varieties of politeness strategies in Masterchef; and performed only positive politeness strategy in Masterchef Junior.Keywords: politeness strategies, masterchef, masterchef junior, Gordon RamsayAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki tipe strategi kesopanan yang dilakukan oleh Gordon Ramsay saat menilai masakan dari kontestan Masterchefdan Masterchef Junior US dan untuk mengungkapkan adakah perbedaan strategi kesopanan yang dilakukan Gordon Ramsay kepada kontestan Masterchef US dan Masterchef Junior US. Data penelitian ini berupa tuturan Gordon Ramsay yang diambil dari tes eliminasi dalam dua episode Masterchef US musim ke-4 (episode 9 dan 12), dan dua episode Masterchef Junior US musim pertama (episode 2 dan 6). Teori yang digunakan adalah teori strategi kesopanan milik Brown dan Levinson (1987). Hasil temuan menunjukkan bahwa Gordon Ramsay melakukan strategi kesopanan bald-on record, strategi kesopanan positif, danstrategi kesopanan off record. Lebih lanjut, Gordon Ramsay melakukan lebih banyak variasi strategi kesopanan di Masterchef, sebaliknya, Gordon Ramsay hanya melakukan strategi kesopanan positif di Masterchef Junior.Kata-kata kunci: Strategi Kesopanan, Masterchef, Masterchef Junior, GordonRamsa
CLASSROOM SHARING EXPERIENCES: BUILDING STUDENTS’ AWARENESS FOR PROBLEM SOLVING IN TRANSLATING POETRY
AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman mahasiswa untuk membangun kepedulian dalam mengatasi masalah khususnya pada penerjemahan puisi. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara dan observasi kelas yang melibatkan 85 orang mahasiswa semester enam dari dua kelas yang berbeda dan dua orang dosen pengampu mata kuliah Translating Literary Works di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris pada salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Kuesioner dilengkapi oleh 55 mahasiswa dari 85 yang terlibat dalam penelitian. Wawancara dilakukan untuk melengkapi dan mengecek kebenaran informasi yang diperoleh melalui kuesioner. Selain itu, observasi kelas dilakukan di dua kelas paralel untuk melihat aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh dua orang dosen dan mahasiswa dari dua kelas tersebut. Observasi difokuskan pada materi perkuliahan, metode dan teknik pengajaran yang diterapkan oleh dosen, masalah yang dihadapi dan teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam penerjemahan puisi. Data dianalisis berdasarkan beberapa teori penerjemahan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman mahasiswa yang disampaikan di dalam kelas memberikan beberapa keuntungan bagi mereka karena berbagi pengalaman di dalam kelas mampu: (1) memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan pekerjaan penerjemahan secara lebih serius karena mereka dituntut untuk menyajikan hasil karya terjemahan di dalam kelas; (2) membangun rasa percaya diri mahasiswa dalam menerjemahkan karena hasil terjemahannya akan diberikan umpan balik; (3) melatih kemampuan mahasiswa menganalisis masalah untuk mencari jalan keluar yang sesuai; (4) memperkenalkan mahasiswa terhadap pengetahuan kritis bahasa sumber dan bahasa sasaran; dan (5) membangun kepedulian mahasiswa agar masalah yang muncul dalam proses penerjemahan yang sangat kompleks dapat diselesaikan.Kata kunci: berbagi pengalaman, kepedulian, penyelesaian masalah AbstractThis research was aimed at describing the classroom sharing experiences to build students’ awareness dealing with the problem solving in translating poetry. The data were collected through questionnaire, interview and classroom observation involving 85 sixth semester students in two different classes and two lecturers of Translating Literary Works course at the English Language and Literature Studies in one state university in Bandung city. The questionnaire was completed by 55 (out of 85) students invited to fill in the questionnaire. Interview was done to complete and cross check the information derived from the questionnaire. Meanwhile, the observation was administered in the two parallel classes to observe the activities done by the two lecturers and students in the two classes. The observation was focused on the course materials, teaching methods and techniques applied by the lecturers, problems faced and techniques used to solve the problems by the students in translating poetry. The data were then analyzed based on some relevant theories of translation. The result of the research showed that the classroom sharing experiences gave some advantages to the students with several reasons: (1) motivating students to do their translation works more seriously since they had to present their translation works to the class; (2) developing the students’ self-confidence in translating the tasks since their translation works were given some feedbacks; (3) training the students to analyze the problems to find out the most appropriate techniques to solve the problems; (4) introducing the students to have more critical knowledge of both source and target languages; and (5) building the students’ awareness of how the problems appeared in a very complex translation process were solved. Keywords: awareness, problem solving, sharing experienc
LESS COMMON PATTERNS WITH INTENSIFIERS ‘TOO’ AND ‘VERY IN THE CORPUS OF INUGURAL ADDRESSES OF US PRESIDENTS
AbstractThis paper studies “very” and “too”, two intensifiers used in the corpus of inaugural address of all US presidents, from Washington to Obama. My aims here is to identify uncommon pattern with “too” and “very”, and the semantic prosodies as well. I downloaded the data and processed it as a corpus by using a corpus tookit called AntConc (Anthony, 2006). I used the query “very” and “too” to obtain concordances. A shared feature of these intensifiers is they mostly modify adjectives as shown by frequency. Although less significant in terms of frequency, some common patterns are discovered, such as “very + N” and “very + AdjSuperlative + N” construction, which are attested in COCA. One that is against prescriptive grammar is a + too + Adj + N”, where the suggested construction is usually “too + Adj + a + N”. As for the semantic prosody, I found some data attested in COCA, where “too” can be used to intensify positive evaluation, which is contrary to Azar (2002) and some other grammar books. As for very, it is more flexible that the prosodies might either be positive or negative. The result of COCA and BNC has shown that these structures are uncommon. I argue that these structures are used under the markedness frame, to make listeners focus on issues that the speakers wanted to empahasize.Keywords: very, too, intensifiers, semantic prosody, inaugural address, corpus AbstrakArtikel ini menyelidiki "very" dan "too", dua pengintensif yang ditemukan dalam korpus pidato pelantikan semua presiden AS, dari Washington sampai Obama. Tujuan artikel ini adalah untuk mengidentifikasi pola tidak biasa dengan kata "very" dan "too", dan prosodi semantiknya. Saya mengunduh data pidato dan diproses sebagai korpus dengan menggunakan perangkat korpus yang disebut AntConc (Anthony, 2006). Saya menggunakan query "very" dan "too" untuk mendapatkan konkordansi. Fitur yang ditemukan dari kedua pengintensif ini adalah keduanya kebanyakan memodifikasi kata sifat seperti yang ditunjukkan oleh frekuensi. Meskipun kurang signifikan dalam hal frekuensi, beberapa pola umum ditemukan, seperti konstruksi "very+ N" dan "too+ AdjSuperlatif + N", yang dibuktikan dalam COCA. Salah satu fitur yang bersebrangan dengan tata bahasa preskriptif adalah pola “a + too+ Adj + N ", sementara konstruksi yang biasa dipakai adalah " too+ Adj + a + N ". Adapun secara prosodi semantik, saya menemukan beberapa data yang dibuktikan di COCA, di mana "too" dapat juga digunakan untuk mengintensifkan penilaian positif, yang bertentangan dengan Azar (2002) dan beberapa buku tata bahasa lainnya. Sementara itu, kata “very” lebih fleksibel di mana prosodinya bisa positif atau negatif. Hasil COCA dan BNC menunjukkan bahwa struktur ini jarang ditemukan. Saya berpendapat bahwa struktur ini digunakan di bawah bingkai markedness, untuk membuat pendengar berfokus pada isu-isu yang ingin ditekankan penutur.Kata kunci: very, too, pengintensif, prosodi semantik, pidato pelantikan, korpu
FORMULASI GAYA BAHASA INGKARI DALAM ALQURAN
AbstrakArtikel penelitian ini merupakan ringkasan hasil penelitian kelompok yang bertujuan mendeskripsikan formulasi gaya bahasa ingkari dilihat dari uslub nahwi-bahalaghi. Sumber datanya diambil melalui dokumentasi mushaf Alquran yang diterbitkan oleh Departemen Kementrian Agama RI tahun 1990 bekerja sama dengan Departemen Agama Islam, Urusan Wakaf dan Dakwah Kerajaan Arab Saudi. Objek penelitiannya terfokus pada seperangkat formulasi gaya bahasa ingkari yang dituturkan oleh orang-orang kafir musyrik. Adapun datanya dihimpun melalui dokumentasi dan format pencatatan. Kemudian data tersebut dianalisis secara kualitatif nahwiyah-balaghiyah dan kuantitatif yang mencakup frekuensi, presentase, rerata, dan rentang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uslub nahwi, gaya bahasa ingkari menggunakan uslub nahwi yang terdiri atas syarat, qasam, dan tahdid, sedangkan dari uslub balaghi, uslub ingkari menggunakan qashar, amr, nahy, dan istifham. Uslub ingkari itu muncul karena faktor kepribadian yang mencakup sikap, keyakinan syirik, pendakwan diri sebagai putra dan kesasih Allah, bersumpuh tidak syirik, anggapan bahwa Uzair dan Isa adalah putra Allah; anggapan bahwa Alquran adalah dongengan orang-orang terdahulu; anggapan bahqa da’i adalah lemah akal, tukang sihir, pendusta, gila, pencegah peribadatan mereka, larangan mendengar Alquran; anggapan bahwa orang mukmin adlah sesat dan mengada-ada; dan anggapan bahwa sanggup menanggung dosa orang-orang mukmin. Kata-kata kunci: Uslub ingkari, uslub nahwi-balaghiAbstractThis research article is a summary of the results of the group research that aims to describe the formulation of the denied style seen from uslub nahwi-bahalaghi. Sources of data were taken through the Qur'an Manuscripts documentation published by the Department of the Ministry of Religious Affairs in 1990 in collaboration with the Department of Islamic, Endowments and Propagation Affairs Kingdom of Saudi Arabia. The object of research is focused on the formulation of a set of spoken language style denied by the infidels and idolaters. The data were collected through documentation and recording format. Then the data is analyzed qualitatively through jawanib nahwiyah-balaghiyah and quantitatively through frequency, percentage, mean, and range. The results showed that of uslub nahwi, denied style is using uslub nahwi consisting of terms: qasam, and tahdid, while from uslub balaghi, denied uslub is using qashar, amr, nahy, and istifham. Denied sslub arised because of personality factors including attitudes, syirk beliefs, accuseing themselves as God's sons and beloved, swearing not shirk, assumption of that Ezra and Jesus were the son of God; assumption of that the Qur'an is the tales of the past; asssumption of that preacher is weak reasonable, sorcerer, liar, lunatic, preventor of their worship, prohibition of hearing the Qur'an; assuming that the believer is someone misguided and ridiculous; and assumptions of that they could bear the sins of the believers.Keywords: Denied Uslub, uslub nahwi-balagh
STUDENTS’ PERCEPTION ON THE USE OF AUTHENTIC MATERIALS IN SENIOR HIGH SCHOOL
AbstractThis study aims to find out the senior high school students’ perception on the use of materials (authentic and non-authentic) in the classroom. To select the representative sample, a sampling method was used. This research observes the perceptions of 10 first-grade students of a Senior High School on the use of authentic and non-authentic materials. They were taught using both materials, authentic and non-authentic. After that, to collect the data, they were asked to fill in the questionnaire (Likert Scale) which showed the students’ perception toward both materials, authentic and non-authentic. Then, the data were analyzed based on two different categories proposed by Peacock (1997) which covered: (1) overall class interest and enthusiasm and (2) self-reported interest enthusiasm. The result of the study indicated that authentic and non-authentic materials had their own benefit. The students indicated that the authentic materials slightly higher than the non-authentic ones.Keywords: EFL Methodology, english subject, materials (authentic and non-authentic). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan persepsi para siswa terhadap penggunaan materi dalam pelajaran Bahasa Inggris (otentik dan non-otentik). Metode sampel digunakan untuk memilih sampel yang benar-benar mewakili keseluruhan populasi. Penelitian ini berupaya mengobservasi persepsi dari sepuluh siswa/siswi kelas X di sekolah menengah atas terhadap penggunaan materi pelajaran Bahasa Inggris yang berbentuk otentik dan non-otentik. Pada tahap proses pengumpulan data, para siswa/siswi mengisi angket (menggunakan skala Likert) yang menunjukkan persepsi mereka terhadap penggunaan bahan materi pelajaran Bahasa Inggris yang otentik dan non-otentik. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis berdasarkan dua kategori dari Peacock (1997), yaitu: (1) antusiasme dan minat keseluruhan kelas. (2) antusiasme dan minat diri sendiri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing bentuk materi, baik otentik maupun nonotentik memberikan manfaat bagi siswa. Para siswa memberikan persepsi positif lebih tinggi terhadap penggunaan materi otentik dibandingkan dengan non-otentik.Kata-kata kunci: Metodologi pengajaran bahasa Inggris, materi otentik dan non-otenti
METODE AUDIOLINGUAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan metode audiolingual dalam pembelajaran bahasa Arab terhadap peningkatan kemampuan berbicara siswa. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian siswa Kelas XI MIA-2 SMAN 1 Cicurug Kabupaten Sukabumi Tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode audiolingual dalam pembelajaran bahasa Arab dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Kualitas proses dapat dilihat dari peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, sedangkan kualitas hasil terlihat dari peningkatan nilai hasil belajar yang menunjukkan kemampuan berbicara siswa pada Siklus I sebesar 80,96 dan Siklus II sebesar 83,59. Adapun persentase keterlibatan siswa dalam belajar pada Siklus 1 sebesar 86,8% dan pada Siklus 2 sebesar 92,1%.Kata-kata kunci: Metode audiolingual, pembelajaran bahasa Arab, kemampuan berbicaraAbstractThis study aims to determine the effect of the use of methods audiolingual in Arabic learning to increase their speaking ability. The method used is a Class Action Research conducted in two cycles with a Class XI Science 2 SMAN 1 Cicurug Sukabumi 2014. The results showed that the use of methods audiolingual in Arabic learning can improve the quality of student learning processes and outcomes. The quality of the process can be seen from the increase in student engagement in learning, while the quality of the results, the increase in the value of learning outcomes that demonstrate the ability to speak the students in the first cycle was 80.96 and 83.59 for Cycle II. The percentage of student engagement in learning in Cycle 1 at 86.8% and in Cycle 2 of 92.1%.Keywords: Audio lingual methods, learning Arabic, speaking abilit