Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Pengaruh Quality Of Life Dan Religiusitas Secara Simultan Terhadap Subjective Well Being Mahasiswa Teologi
Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh quality of life dan religiusitas secara silmultan terhadap subjective well-being mahasiswa teologi yang bernaung dibawah Yayasan Pekabaran Injil Nusantara. Sampel penelitian adalah mahasiswa teologi Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga dan Sekolah Tinggi Alkitab Nusatara di Malang di bawah naungan Yayasan Pekabaran Injil Nusantara (PINTA) yang berjumlah 112 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik sampel jenuh. Alat pengumpulan data menggunakan tiga skala yaitu skala kepuasan hidup, skala quality of life dan religiusitas. Analisis data menggunakan analisis regresi berganda dengan hasil nilai F = 39,716 pada p = 0,000 (p<0,05), dan R2= 0,422. Melaui uji two ways anova didapatkan hasil quality of life dan religiusitas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap subjective well-being mahasiswa teologi yang berada dibawah naungan Yayasan Pekabaran Injil Nusantara (PINTA). The research carried out aims to determine the influence of quality of life and religiously against subjective well-being simultaneously of theological students under the foundation of the Gospel of Nusantara. The research samples are the theological students of the NusantaraTheological College Salatiga and Nusantara Bible Seminary in Malang under the foundation of the Gospel of Nusantara (PINTA), amounting to 112 students. Data collection techniques using saturated sample techniques. Data collection tools use three scales of life satisfaction scale, quality of life scale, and religiosity. Data analyzed by multiple regression analysis with the result of the value F = 39.716 at p = 0.000 (P < 0.05), and  R2= 0.422. Through the test, two ways ANOVA showed that quality of life and religiosity significantly influences the subjective well-being by simultaneously of theological students who are under the foundation of the Gospel of  Nusantara (PINTA)
Kecaman Tuhan Terhadap Dosa Yehuda Berdasarkan Penafsiran Yesaya 1:10-20 Dan Relevansinya
God’s Censure of the Sins of Judah (The Interpretation of Isaiah 1:10-20) and its relevance for Churches. The writing of this article will eksplore the social problems that happened in the South of Israel (Judah). With using qualitative method hermeneutical approach, this writing will excavate the meaning of the God’s censure of the sins of the Judah in Isaiah 1:10-20, in order to get it’s relevance for the current churches. Based on the research, the meaning of God\u27s censure the sins of Judah in Isaiah 1: 10-20 is that the people of Judah assume that the LORD will deal with their official and lively worship, while they forget and oppress their fellow humans. For God, all of that is a form of evil and showing self-deceitful piety. Their crime is proven by the rise of social injustice, namely the oppression of the weak such as the poor, widows and orphans. So through the prophet Isaiah, the Lord firmly censure them and said that the worship they performed, the offering of the sacrifice they gave and the prayers they offered were something that was burdensome and disgusting to God. Judah was found guilty before God and had to turn to God\u27s law and will. God censure the sins of Judah because all of them both leaders and people had insulted the holy God.  Kecaman Tuhan terhadap Dosa Yehuda (Penafsiran Yesaya 1:10-20) dan Relevansinya bagi Gereja. Penulisan artikel ini akan menelisik masalah sosial yang terjadi di Israel Selatan (Yehuda) pada masa pelayanan nabi Yesaya. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan hermeneutik, tulisan ini akan menggali lebih mendalam makna kecaman Tuhan atas dosa kaum Yehuda dalam Yesaya 1:10-20, sehingga dapat menemukan relevansinya bagi gereja masa kini. Dari penelitian yang dilakukan, maka kecaman Tuhan terhadap dosa Yehuda dalam Yesaya 1:10-20 adalah kaum Yehuda beranggapan bahwa TUHAN akan berkenan dengan ibadah-ibadah mereka yang resmi dan meriah, sementara mereka melupakan dan menindas sesamanya manusia. Bagi Tuhan, semuanya itu adalah bentuk kejahatan dan pamer kesalehan diri yang menipu. Kejahatan mereka terbukti dengan maraknya ketidakadilan sosial, yaitu penindasan terhadap kaum lemah seperti orang miskin, para janda dan anak yatim. Maka melalui nabi Yesaya, dengan tegas Tuhan mengecam mereka dan mengatakan bahwa ibadah-ibadah yang mereka lakukan, persembahan korban yang mereka berikan dan doa-doa yang mereka sampaikan adalah sesuatu yang membebani dan menjijikkan bagi TUHAN. Yehuda dinyatakan bersalah di hadapan Tuhan dan harus berbalik kepada hukum dan kehendak TUHAN. Tuhan mengecam dosa Yehuda karena mereka semua baik pemimpin maupun umat telah menghina Allah yang kudus
Refleksi Pada Relasi Antara Teologi dan Filsafat Dalam Perspektif Teologi Injili
The pros and cons of philosophy and theology have a reputation in the history of Chris-tianity. The importance of understanding philosophy and its importance can be explained correctly. Re-flections on the relationship between philosophy and theology will help Christians sharpen and develop their theology, especially evangelical theology. Therefore, philosophy and theology need to be har-moniously correlated in knowing God through His truth, by always thinking of God and advancing God\u27s word through the perspective of evangelical theology. Philosophy and theology are mutually reinforcing and sharpening. Meanwhile, the relationships offered are mutually constructive in their task as a means of knowing God and also to build insight into the evangelical Christian world. Relasi pro dan kontra mengenai filsafat dan teologi telah tergores di dalam sejarah ke-kristenan. Pentingnya memahami filsafat dan  teologi sangatlah penting, sehingga dapat merelasikan ke-duanya secara tepat. Refleksi terhadap relasi antara filsafat dan teologi akan membantu orang Kristen untuk menajamkan dan mengembangkan teologinya, khusus teologi injili. Oleh sebab itu, filsafat dan teologi perlu direlasikan secara harmonis di dalam mengenal Allah melalui kebenaran-Nya, dengan senantiasa bersikap takut akan Allah dan menghargai firman Allah melalui perspektif teologi injili. Keilmuan filsafat dan teologi saling menguatkan dan menajamkan. Adapun relasi yang dimaksud ialah keduanya digunakan saling membangun dalam tugasnya sebagai sarana pengenalan akan Allah serta sebagai kerangka untuk membangun wawasan dunia Kristen yang injili
Tinjauan Psiko-Teologi Terhadap Fenomena Kekerasan Dalam Pacaran Pada Remaja
Fenomena kekerasan dalam berpacaran bukan hanya terjadi di ruang tertutup atau pribadi saja melainkan sangat mudah ditemukan di ruang publik seperti halaman sekolah, tempat rental komputer, taman, trotoar, kendaraan umum, pada penumpang kendaraan roda dua di tengah lalu lintas. Dan ketika peristiwa itu berlangsung serta disaksikan oleh masyarakat umum, pelaku dan korban tidak merasa terganggu, rikuh, malu, atau berhenti. Padahal kekerasan dalam pacaran di kalangan remaja merupakan salah satu akses kepada kekerasan dalam rumah tangga, apabila hal ini tidak ditangani secara benar sebelum berkelanjutan dengan korban yang mengalami dampak pada fisik, psikis, sosial, moral, ekonomi dan masa depan generasi penerus. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan mengkaji fenomena kekerasan dalam pacaran dari sudut pandang Alkitab dan psikologi, dimana secara psikologis kekerasan seksual yang terjadi pada masa remaja berdampak negatif bagi pelaku maupun korban kekerasan seksual. Adapun kekerasan pada masa berpacaran dapat disebabkan karena remaja mengalami loncatan akibat gejolak hormon dan pesatnya teknologi informasi. Secara teologis hubungan seks sebelum menikah adalah tindakan merusak kehidupan para pelakunya dan kekerasan pada masa berpacaran merupakan tindakan yang bertentangan dengan konsep imago dei.  The phenomenon of dating violence does not only occur in closed or private spaces but is very easy to find in public spaces such as school yards, computer rental places, parks, sidewalks, public transportation, on two-wheeled vehicle passengers in the middle of traffic. And when the event took place and was witnessed by the general public, the perpetrators and victims did not feel disturbed, uncomfortable, embarrassed, or stopped. Whereas violence in courtship among adolescents is one access to domestic violence, if this is not handled properly before it is sustained with victims who have an impact on the physical, psychological, social, moral, economic and future generations. The method used is descriptive research by examining the phenomenon of dating violence from the perspective of the Bible and psychology, where psychologically sexual violence that occurs during adolescence has a negative impact on perpetrators and victims of sexual violence. The violence during dating can be caused by adolescents experiencing jumps due to hormone fluctuations and rapid information technology. Theologically sex before marriage is an act of destroying the lives of the perpetrators and violence during dating is an action that is contrary to the concept of Imago dei.Â
Penilaian Berbasis Test di Sekolah Minggu
Assessment as a component of learning in Sunday schools plays an important role as a measure of success in achieving Sunday school goals. Without an assessment, parents, the church, Sunday school teachers, children cannot know the extent of their success in learning in the Sunday school. This paper tries to highlight aspects of assessment in Sunday school, specifically to the factors related to the use of test-based assessment techniques that can be used in the learning process in Sunday school. It is expected that by examining the factors related to the use of test-based assessment techniques, Sunday school teachers can use them in Sunday school services that are conducted. The results of the study show that test-based assessment techniques used in Sunday schools need to pay attention to the competencies that are intended to be mastered by Sunday school children and the types of learning material delivered to Sunday school children. In addition to paying attention to aspects of competency and types of learning material, the selection of test-based assessment techniques in Sunday schools also needs to pay attention to aspects of the feasibility and economics. Penilaian sebagai salah satu komponen pembelajaran di Sekolah Minggu, memegang peranan yang penting sebagai alat ukur keberhasilan pencapaian tujuan Sekolah Minggu. Tanpa adanya penilaian maka orang tua, gereja, guru Sekolah Minggu, anak-anak tidak bisa mengetahui sejauhmana keberhasilan mereka menjalani proses pembelajaran di Sekolah Minggu. Tulisan ini mencoba menyoroti aspek penilaian di Sekolah Minggu, secara khusus kepada faktor-faktor yang terkait dengan penggunaan teknik penilaian berbasis test yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran di Sekolah Minggu. Diharapkan dengan dikajinya faktor-faktor terkait pengunaan teknik penilaian berbasis test maka guru-guru Sekolah Minggu dapat menggunakannya dalam pelayanan Sekolah Minggu yang dilakukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknik penilaian berbasis test yang digunakan di Sekolah Minggu perlu memerhatikan kompetensi yang hendak dikuasai oleh anak Sekolah Minggu dan jenis materi pembelajaran yang disampaikan kepada anak Sekolah Minggu. Di samping perhatian terhadap aspek kompetensi dan jenis materi pembelajaran, pemilihan teknik penilaian berbasis test di Sekolah Minggu juga perlu memerhatikan aspek praktibilitas dan ekonomis
Jangan Menceraikan Istri yang Berzinah: Penafsiran terhadap Matius 19:9
Salah satu dasar pernikahan Kristen adalah Matius 19:4-6, namun demikian Yesus dalam Matius 19:9 justru disimpulkan membenarkan perceraian dengan sebuah persyaratan. Di tengah-tengah terus meningkatnya angka perceraian suami dan istri di Indonesia, mendiskusikan lagi ayat ini tampanya cukup relevan. Frasa “mē epi porneia†(kecuali karena zinah) dalam ayat ini telah menimbulkan perdebatan. Melalui frasa itu, sebagian besar penafsir menilai bahwa Yesus membenarkan suami menceraikan istri yang berzinah, hanya sebagian kecil yang menolaknya. Menolak terjemahan frasa “mē epi“ sebagai “kecuali karena†merupakan alasan yang umum digunakan untuk menentang pendapat bahwa Yesus membenarkan perceraian. Sayangnya argumentasi semacam ini telah ditolak oleh sebagian besar penafsir karena sintaksis Yunani dinilai tidak mendukungnya. Kali ini saya akan menggunakan tema utama serta hakikat retorika injil Matius ini sebagai bingkai kerja penafsiran untuk menafsirkan teks tersebut. Dengan pendekatan di atas, Yesus dalam Matius 19:9 secara implisit tidak membenarkan seorang suami menceraikan istri yang berzinah. One of the foundations of Christian marriage is Matthew 19: 4-6, but Jesus in Matthew 19: 9 is concluded to justify divorce with a condition. In the midst of the continuing increase in the number of divorce in Indonesia, discussing this verse again seems quite relevant. The phrase "mē epi porneia" (except for adultery) in this verse has caused debate. Through that phrase, most interpreters consider that Jesus justifies a husband divorcing an adulterous wife, only a small percentage rejects it. Rejecting the translation of the phrase "mē epi" as "except because" is a reason commonly used to oppose the idea that Jesus justifies divorce. Unfortunately, this kind of argument has been rejected by most interpreters because Greek syntax is seen as not supporting it. This time I will use the main theme and nature of Matthew\u27s gospel rhetoric as the hermeneutical framework for interpreting the text. With the above approach, in Matthew 19: 9 Jesus implicitly did not justify a husband divorcing an adulterous wife
Mengantisipasi dan Mengatasi Kecanduan Games Online Dalam Perspektif Teologi Injili
The development of technology is so rapid at present, the products produced greatly affect human life; either the ones that provide benefits or the ones that causes negative impacts. Parents, teachers and clergies finally see the importance of educating the adolescents to prevent and overcome the negative impact of online games addiction. Is the integrative and holistic Christian faith formation able to prevent and overcome the negative impact of the addiction? This paper is a result of a research that claims that the integrative and holistic Christian faith formation is able to lower the level of the addiction at the adolescents, especially at the younger children. While for those who don’t have any Christian faith formation, increase their level of addiction. In conclusion, it should be taken a precaution in order to avoid the teenagers from online games addiction by equipping them with training as early as possible. And for those who are in serious level of addiction, it is encouraged to take the integrative and holistic Christian faith formation.Perkembangan teknologi begitu pesat saat ini, produk-produk yang dihasilkan sangat memengaruhi kehidupan manusia, baik itu yang bermanfaat, maupun yang dapat menimbulkan dampak negatif. Orang tua, guru dan rohaniwan melihat pentingnya perhatian pada pembinaan anak remaja agar dapat mencegah dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games online ini. Apakah pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat mengantisipasi dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games online terhadap anak remaja? Tulisan ini adalah hasil penelitian yang menyatakan bahwa pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat menurunkan tingkat kecanduan terhadap games online pada anak remaja, khususnya pada anak-anak yang berusia lebih muda. Sedangkan anak-anak remaja yang tidak mendapatkan pembinaan iman Kristen, semakin meningkat tingkat kecanduan terhadap games online. Jadi kesimpulannya, perlu diambil langkah antisipasi agar anak-anak remaja tidak semakin tinggi tingkat kecanduannya terhadap games online dengan mengadakan pembinaan sejak dini. Sedangkan untuk mereka yang telah tinggi tingkat kecanduannya, dapat diambil langkah mengatasinya dengan memberikan pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik
Transformasi Wawasan Dunia Marapu: Tantangan Pembinaan Warga Gereja Di Sumba
The spirituality of some Sumbanese Christians is characterized by Marapu, not Christianity. This was influenced by their religious commitment to Marapu.Through a mixed method approach, this study shows that Marapu\u27s worldview is a major force, which shapes the culture and religious commitment of Sumbanese. The principles in the worldview of Marapu are the main protocols in understanding reality, including Christian principles. This is a challenge for the church in Sumba in fostering its members. Based on Romans 12:1-2 and Philippians 4:8-9 it will be shown that the direction of church service and the fostering of church members is the transformation of worldview.This transformation must be based on biblical principles.The impact is a biblical and moderate cultural transformation. Sebagian orang Kristen Sumba memiliki spiritualitas yang berciri Marapu, bukan Kristen. Ini dipengaruhi oleh komitmen religiusnya terhadap Marapu. Melalui mixed method approach, penelitian ini menunjukkan bahwa wawasan dunia Marapu adalah kekuatan utama, yang membentuk budaya dan komitmen religius orang Sumba. Prinsip-prinsip dalam wawasan dunia Marapu penjadi protokol utama dalam memahami realita, termasuk prinsip-prinsip Kristen. Akibatnya adalah sinkretisme dan lemahnya komitmen terhadap prinsip-prinsip Kristen. Ini adalah tantangan dalam pembinaan warga gereja di Sumba. Berdasarkan Roma 12:1-2 dan Filipi 4:8-9 akan ditunjukkan bahwa arah pelayanan gereja dan pembinaan warga gereja adalah transformasi wawasan dunia. Transformasi ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip biblikal. Dampaknya adalah transformasi budaya yang biblikal dan moderat
Pembinaan Guru Sekolah Minggu Untuk Mengajarkan Konsep Keselamatan Pada Anak
This article discusses the formation of Sunday school teachers to teach children safety. The author uses a qualitative approach to analyze teacher needs, then the authors construct a pattern of coaching Sunday school teachers by elaborating sources of literature in accordance with the needs of teachers obtained from the needs analysis. The results of the needs analysis show there are three main needs needed by the teacher, namely aspects of knowledge about sin and salvation, aspects of personality where there are teachers who are still unsure of safety, and aspects of skills related to the ability to teach safety. The proposed pattern of coaching is to provide teaching about sin and salvation, the use of media for evangelism, mentoring or teacher supervision and evaluation.Artikel ini membahas tentang pembinaan guru sekolah minggu untuk mengajarkan keselamatan pada anak. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis kebutuhan guru, kemudian penulis melakukan konstruksi pola pembinaan guru sekolah minggu dengan melakukan elaborasi sumber literatur sesuai dengan kebutuhan guru yang diperoleh dari hasil analisis kebutuhan. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan ada tiga kebutuhan utama yang diperlukan guru yaitu aspek pengetahuan tentang dosa dan keselamatan, aspek kepribadian di mana ada guru yang masih ragu dengan keselamatan, dan aspek keterampilan berkaitan dengan kemampuan mengajarkan keselamatan. Pola pembinaan yang diusulkan adalah dengan memberikan pengajaran tentang dosa dan keselamatan, pemanfaatan media penginjilan, pendampingan atau supervisi guru dan evaluasi