Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Strategi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama
Research does not start from the method but must depart from the root of the problem. Formulating precisely the paradigm and background of the research will help researchers design the research design and determine the method to use. In this case, quantitative, qualitative or a mixture of both can use. Through this paper, it explains that religious research and various topics within it are open with various approaches because of their nature as science. This paper builds research insights ranging from understanding the research itself, determining and formulating research problems to choosing the right approach by introducing various methods. Through this paper, it expected that there would be no difficulty in colliding the paradigm in conducting religious research with a qualitative, quantitative or both approaches. Penelitian tidak dimulai dari metode tetapi harus berangkat dari akar permasalahan. Merumuskan secara tepat paradigma dan latar belakang penelitian akan membantu peneliti merancang desain penelitian dan menentukan metode yang akan digunakan. Dalam hal ini, dapat digunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif atau campuran keduanya. Melalui tulisan ini dipaparkan bahwa penelitian agama dan berbagai topik di dalamnya terbuka dengan berbagai pendekatan karena sifatnya sebagai ilmu pengetahuan. Paper ini membangun wawasan penelitian mulai dari pemahaman tentang penelitian itu sendiri, penentuan dan perumusan masalah penelitian hingga memilih pendekatan yang tepat melalui perkenalan terhadap berbagai metode. Melalui paper ini diharapkan tidak terdapat kesulitan benturan paradigma di dalam menjalankan penelitian agama dengan pendekatan kualitatif, kuantitatif atau keduanya
Kajian Teologis Mengenai Praktik Okultisme Dan Pelayanan Pelepasan Bagi Mahasiswa
Types of occultism practices in the society were trusting in the spirit of the dead, a talisman which was considered to have the power to keep the body, and the science of strength given by the ancestors to offspring. So that made offspring suffer from frequent manifestations and was possessed by an evil spirit. This article examines that issues. Theory about the exorcist services by Graham H. Twelftree the theoretical frame observe carefully these problems. Methods of this research was the direct involvment method by viewing, serving and interviewing the people who involved in the power of the occult. This research was conducted in STT Abdi Sabda Medan. Three things that invited by researcher are first, which causes people involved with occultism practices. Secondly, due both to the occult practices and to their descendants who are having a negative impact, they often encounter manifestations of evil spirits also stressed physically, psychologically and spiritually. Third, efforts to heal and cure that people from the occult is exorcist services. Okultisme adalah kepercayaan mengenai kuasa-kuasa gelap yaitu kekuatan gaib di luar kekuatan Tuhan.Jenis praktik okultisme yang terdapat pada masyarakat ialah kepercayaan terhadap roh orang mati, jimat yang dianggap memiliki kesaktian untuk menjaga badan, dan ilmu kekebalan yang diberikan oleh nenek moyang kepada keturunannya, sehingga membuat keturunannya menderita karena sering manifestasi dan dirasuki oleh roh-roh jahat. Artikel ini mengkaji persoalan tadi.Teori mengenai pelayanan eksorsis oleh Graham H.Twelftree dalam bingkai teoritis meneropong permasalahan tersebut.Metode penelitian yang penulis lakukan untuk menulis artikel ini adalah keterlibatan langsung melihat, melayani dan interview kepada mereka yang terlibat kuasa okultisme. Penelitian ini dilakukan di STT Abdi sabda Medan, Tiga hal yang menjadi temuan penelitian: Pertama, yang menyebabkan orang terlibat dengan praktik okultisme adalah karena diturunkan oleh nenek moyang yang melakukan praktik okultisme. Kedua, akibat praktik okultisme baik terhadap orang yang melakukan dan terhadap keturunannya adalah memiliki dampak negatif, mereka akan sering mengalami manifestasi roh-roh jahat juga tertekan secara fisik, psikologis dan secara rohani. Ketiga, Upaya yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan dan memulihkan seseorang agar terlepas dari kuasa okultisme adalah melalui pelayanan eksorsis
Pengaruh Pelayanan Kunjungan Pastoral Terhadap Pertumbuhan Rohani Jemaat
This research aim to test the influence of pastoral visiting ministry to the spiritual growth of the church. Research executed in Gereja Kemah Injil Indonesia of Tenggarong, Kutai Kartanegara District, Kalimantan East. The results showed that there was an influence of pastoral visiting ministry on the spiritual growth of the congregation as indicated by the correlation coefficient of 0.340 which was significant at α = 0.05. Pastoral visiting ministry will bring the pastor closer to the congregation that he serves, making the pastoral ministry effective, thereby impacting the spiritual growth of the congregation. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pelayanan kunjungan pastoral terhadap pertumbuhan rohani jemaat.Penelitian dilaksanakan di Gereja Kemah Injil Indonesia Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat pengaruh pelayanan kunjungan pastoral terhadap pertumbuhan rohani jemaat yang ditunjukkan melalui koefisien korelasi sebesar 0,340 yang signifikan pada α = 0,05. Pelayanan kunjungan pastoral akan mendekatkan gembala dengan jemaat yang dilayaninya, membuat pelayanan penggembalaan menjadi efektif, sehingga berdampak pada pertumbuhan rohani jemaat
Implikasi Pembinaan Pemuda Gereja Atas Faktor-Faktor Penyebab Kasus Hamil di Luar Nikah
This article discusses the implications of fostering church youth on the factors that cause cases of pregnancy out of wedlock. The author uses qualitative methods with data collection techniques of observation, and interviews, then in compiling the implications of the author using relevant library sources. The results showed that the factors causing cases of pregnancy out of wedlock are the lack of attention and supervision of parents, then the free association of youth, lack of self-fortification, lack of sexual knowledge, and technological developments that facilitate access to negative sexual information. The implication for church youth coaching is that holistic coaching is needed for both youth and parents. Coaching can be done by organizing groups to grow together, Christian faith seminars, personal care and making catechism curriculum on sexuality. Artikel ini membahas tentang implikasi pembinaan pemuda gereja atas faktor-faktor penyebab kasus hamil di luar nikah. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, dan wawancara, kemudian dalam menyusun implikasi penulis menggunakan sumber-sumber pustaka relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kasus hamil di luar nikah adalah kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, kemudian pergaulan bebas pemuda, kurangnya pembentengan diri, minimnya pengetahuan seksual, dan perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi negatif seksual. Implikasi bagi pembinaan pemuda gereja adalah perlu dilaksanakan pembinaan yang holistik baik pada pemuda maupun orangtua. Pembinaan dapat dilaksanakan dengan menyelenggarakan kelompok tumbuh bersama, seminar iman Kristen, personal care dan pembuatan kurikulum katekisasi tentang seksualitas
Hukuman Mati Di Indonesia Menurut Perspektif Alkitab dan Implikasi Bagi Penegak Hukum Kristen
Provisions and implementation of the death penalty, is a serious and very severe law for perpetrators who are considered to have committed serious and serious violations before the law. The Indonesian state still holds and carries out such a death sentence, as regulated in the Criminal Code. There are three stages in the Bible regarding the provisions and execution of the death penalty: (1) The death penalty applies to people who sin directly to God, such as worshiping idols, turning to the spirits of the dead, chanting the name of God carelessly and not keeping the Sabbath day holy, (2 ) The death penalty applies to people who commit sins against others such as killing and all the acts of adultery, and (3) The provisions and execution of the death penalty are null and void for anyone who is in faith and obedience to Christ. The task as a Christian and church law enforcer is to bring sinners to believe and be in fellowship with Christ. For "criminals" who deserve to be sentenced to death, according to the Criminal Code, it is recommended that they be sentenced to life in retribution for violations. In this way, "criminals" are given the opportunity to be rehabilitated and reconstructed by Christ and His church, through Faith in Christ and His atonement work. So the point is that, the provisions and implementation of the death penalty must be canceled and replaced with life sentences. In such a sentence, "prisoners" only need to trust and obey Christ for the rest of their lives. This is called the Law of God\u27s Grace. Ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati, merupakan hukum yang serius dan sangat berat bagi para pelaku yang dianggap melakukan pelanggaran-pelanggaran serius dan berat di mata hukum. Negara Indonesia masih memegang dan melaksanakan hukuman mati seperti itu, sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Di dalam Alkitab terdapat tiga tahapan tentang ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati: (1) Hukuman mati diberlakukan kepada orang yang berdosa langsung kepada Allah, seperti menyembah berhala, berpaling kepada arwah orang mati, menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dan tidak menguduskan hari sabat, (2) Hukuman mati diberlakukan bagi orang yang melakukan dosa terhadap sesama seperti membunuh dan semua perbuatan zinah, dan (3) Ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati batal dan tidak berlaku lagi bagi siapapun yang berada di dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Tugas sebagai penegak hukum Kristen dan gereja adalah membawa orang-orang berdosa supaya percaya dan berada di dalam persekutuan dengan Kristus. Bagi “para penjahat†yang patut dihukum mati, sesuai dengan KUHP, disarankan supaya dihukum seumur hidup saja sebagai retribusi atas pelanggaran yang dilakukan. Dengan cara demikian, “para pelaku kriminal†diberi kesempatan untuk direhabilitasi dan direkonstruksi oleh Kristus dan gereja-Nya, melalui Iman kepada Kristus dan karya pendamaian-Nya. Jadi intinya adalah bahwa, ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati harus batal dan diganti dengan hukuman seumur hidup. Dalam status hukuman seperti itu, “para narapidana†hanya perlu percaya dan taat kepada Kristus selama sisa hidup yang masih ada. Inilah namanya Hukum Kasih Karunia Allah
Budaya Betangkant Anak Dalam Suku Dayak Keninjal Sebagai Upaya Kontektualisasi Kasih Allah
The purpose of this paper is to analyze a culture of Betangkant Children of the Keninjal Dayak tribe as an effort to contextualize the good news. The study of the meaning and cultural aspects of raising children in an effort to apply the gospel or good news in the context of the life of the Dayak Keninjal community. Through the culture of Betangkant Children in the Keninjal tribe, Madyaraya Village gives meaning and an entrance to evangelism for Dayak Keninjal to accept Jesus Christ as Savior in his life and figure of a Father who loves His Son. God created humans with creativity to be cultured, and with the framework of human culture looking at God and accepting God\u27s self-revelation through filters and a framework that was intact in culture. Sustainability of God\u27s covenant relationship with His people in all times and in all contexts. The culmination of this agreement is the Lord Jesus, who brought a new covenant to His people. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis sebuah budaya Betangkant Anak Dayak Keninjal sebagai upaya kontekstualisasi kabar baik. Pengkajian aspek arti dan nilai budaya mengangkat anak dalam upaya penerapan Injil atau kabar baik dalam kontek kehidupan masyarakat Dayak Keninjal. Melalui budaya Betangkant Anak di suku Keninjal, desa Madyaraya memberikan makna dan pintu masuk penginjilan bagi suka Dayak Keninjal untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dalam kehidupanya dan figure seorang Bapa yang mengasihi Anak-Nya. Allah menciptakan manusia dengan kreatifitas untuk berbudaya, dan dengan kerangka budaya manusia memandang Allah dan menerima penyataan diri Allah melalui filter dan kerangka yang utuh budaya. Keberlangsungan hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya di segala waktu dan segala konteks. Puncak dari perjanjian ini adalah Tuhan Yesus, yang membawa perjanjian baru bagi umat-Nya.Â
Tema-Tema Theologis Khotbah Yesus Di Bukit Dalam Injil Matius 5:1-7:29
The Kingdom of God is the main teaching Jesus teached trough the Sermon on the mountain. Jesus’ sermon on the mountain may called a basic teaching of Jesus. All teachings, advices and answers from someone or people group afterward consist to His teachings in the sermon on the mountain. The Christians are well known to the text of the sermon on the muntain but did not hold the teaching as a foundation in thinking dan deeds in daily life. Jesus’ main teaching is transformation. The listener in the ancient time or the reader today, who confess as a citizen of the Kingdom of God couraged ti live not only obey the law literally, but must have deepest acknowledgment about the law and live according to the new deepest sight about the law. The transformation that become Jesus’ most important teaching are about transformation in personal life, social life, personal spirituality life and communal spirituality life. Kerajaan Allah adalah inti dari khotbah Tuhan Yesus yang disampaikan di atas bukit, atau yang lebih dikenal dengan Khotbah di Bukit. Khotbah di Bukit dapat juga disebut sebagai inti atau dasar pengajaran Tuhan Yesus. Semua pengajaran, nasihat dan jawaban yang diberikan atas pertanyaan orang-orang secara pribadi maupun kelompok orang, bersesuaian dengan pengajaran-Nya melalui Khotbah di Bukit. Orang Kristen tidak asing dengan pengajaran dalam Khotbah di Bukit, tetapi belum semua orang Kristen menjadikan ajaran dalam Khotbah di Bukit sebagai dasar pijakan dalam hidup dan tindakan sehari-hari. Inti dari jaran Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit adalah pembaruan. Para pendengar dan pembaca masa kini, yang mengaku sebagai “warga Kerajaan Allah†didorong untuk hidup bukan saja berpatokan pada hukum yang tertulis; dalam hal ini Hukum Taurat, tetapi pada pemahaman yang lebih dalam dan mendasar atau hakiki dari hukum Tuhan tersebut.  Pembaruan yang menjadi tekanan Tuhan Yesus meliputi kehidupan pribadi, dalam kehidupan bersosial, kerohanian pribadi dan kerohanian komunal atau hidup keagamaan.Â
Citra Diri Menurut Kejadian 1:26-27, Dan Aplikasinya Bagi Pengurus Pemuda Remaja GPdI Hebron-Malang
Murni Hermawaty Sitanggang & Juantini, Self-Image According to Genesis 1:26-27, The Application for Youth Stewards The Indonesian Pentecostal Church Hebron-Malang. The right understanding about self-image as written in Genesis 1:26-27 will affect someone’s way of life. This research tries to prove that with focused on to the Youth Stewards at The Indonesian Pentecostal Church Hebron-Malang. The research used a qualitative method with a descriptive and exegetical approach. The result is most of the ministers do not have the right self-image as Genesis 1:26-27 said yet. From the religious side, their self-image is low with 36,5% score, and from the psychological side they score 45,9% and then from the social side the result is 55,5%. Murni Hermawaty Sitanggang & Juantini, Citra Diri Menurut Kejadian 1:26-27, dan Aplikasinya bagi Pengurus Pemuda Remaja GPdI Hebron-Malang. Pengertian yang benar tentang citra diri manusia sebagaimana tertulis dalam Kejadian 1:26-27 akan mempengaruhi cara hidup seseorang. Penelitian ini berusaha membuktikan hal tersebut dengan memfokuskan sasaran penelitian kepada pengurus pemuda remaja GPdI Hebron-Malang.Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan eksegesis. Dari hasil penelitian kemudian didapat bahwa sebagian pengurus belum sepenuhnya memiliki citra diri yang dimaksudkan dalam Kejadian 1:26-27. Dari segi rohani, citra diri mereka rendah dengan persentase 36,5%, kemudian dari segi psikologi persentase yang didapatadalah 45,9% dan dari segi sosial hasilnya adalah 55,5%
Kelahiran Baru Di Dalam Kristus Sebagai Titik Awal Pendidikan Karakter Unggul
David Eko Setiawan, Superior character education is a conscious and planned effort that aims to internalize moral values, character which materialized in the implementation of good attitudes and behavior. To achieve these goals, it is necessary to think of an important event that must occur in human life. The event is called new birth. New birth is a spiritual event that can only be done by God through the Holy Spirit to people who believe in the preaching of the gospel. When the event occurs, God will give him a new life. At that time the old nature will be replaced with a new nature so that believers could be able to express a new life. The correlation of the new birth with superior character education is through new birth individuals experience very significant changes. These changes touch aspects such as mind, feeling and will so that one can have superior qualities in him. This is the key to radical change in a person so that eventually he can have a superior characterDavid Eko Setiawan, Pendidikan karakter unggul adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral, akhlak sehingga terwujud dalam implementasi sikap dan perilaku yang baik. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu dipikirkan sebuah peristiwa terpenting yang harus terjadi dalam kehidupan manusia. Peristiwa itu disebut kelahiran baru. Kelahiran baru merupakan peristiwa spiritual yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus kepada manusia yang percaya kepada pemberitaan Injil. Ketika peristiwa tersebut terjadi, maka Allah akan memberikan kehidupan baru kepadanya. Saat itu juga kodrat lama digantikan dengan kodrat yang baru sehingga orang percaya dapat dapat mengungkapkan hidup yang baru. Korelasi kelahiran baru dengan pendidikan karakter unggul adalah melalui kelahiran baru individu mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan tersebut menyentuh aspek pikiran, perasaan dan kehendak sehingga seseorang dapat memiliki sifat-sifat unggul pada dirinya. Ini menjadi kunci perubahan yang radikal di dalam diri seseorang sehingga akhirnya dia dapat memiliki karakter unggul