Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Model Gaya Hidup Nazir Sebagai Refleksi Gaya Hidup Hedon Pengkotbah Pada Zaman Milenial
Pada abad ke-21 ini, media baik media cetak maupun media elektronik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sumber ide dan opini secara global dipengaruhi oleh media. Hal ini berimbas kepada masalah gaya hidup (life style). Manfaat emosional dari gaya hidup yang lebih utama daripada manfaat fungsional terjadi pada kalangan konsumen masyarakat Indonesia. Gaya hidup ini juga berdampak pada kehidupan hamba Tuhan. Gaya hidup hamba Tuhan pada masa kini di tengah zaman milenial perlu di kaji ulang sehingga kehidupan hamba Tuhan dapat dijadikan teladan yang baik, benar, dan tepat oleh seluruh orang percaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  mengetahui  gaya hidup hamba Tuhan pada zaman milenal. Melalui  penelitian ini didapatkan model gaya hidup hamba Tuhan pada zaman milenial. Model gaya hidup tersebut dideskripsikan  berdasarkan prinsip, langkah-langkah, dan motivasinya.Â
Merajut Kembali Komunitas Damai: Studi Landasan Biblis Dan Teologis Resolusi Konflik
 "REINFORCING PEACEFUL COMMUNITIES": The Study of Biblical and Theological Foundations for Conflict Resolution. Studi Landasan Biblis dan Teologis Untuk Membangun Komunitas Damai. Plurality which is considered as a nation\u27s wealth, it also turns out to be the cause of the emergence of conflicts with nuances of ethnicity, race and religion. Unfortunately political elites often politicize issues based on ethnic and religious sentiments to gain power. They did not consider the serious effects that were caused as a result of the politicization of ethnic and religious issues. Horizontal conflicts with nuances of religion and ethnicity that have occurred in various regions in Indonesia, such as in Ambon, Poso, Kalimatan, are more often triggered by the politicization of religious and ethnic issues or initially the conflict is not caused by ethnic or religious problems, but often the conflict brought to the realm of religion so as to make the conflict increasingly enlarged and inevitable. This writing is an effort to explore the biblical and theological foundation for an effort to build a peaceful community post the conflict. This study uses hermeneutic studies and the library research methods by utilizing library resources both books and journals related to conflict resolution.  MERAJUT KEMBALI KOMUNITAS DAMAIâ€: Studi Landasan Biblis dan Teologis untuk Resolusi Konflik. Pluralitas yang dianggap sebagai suatu kekayaan bangsa, ternyata juga bisa menjadi penyebab munculnya konflik bernuansa suku, ras dan agama. Sayangnya para elite politik justru sering mempolitisasi isu-isu berdasarkan sentimen suku dan agama untuk meraih kekuasaan. Mereka tidak mempertimbangkan dampak serius yang ditimbulkan sebagai akibat politisasi isu suku dan agama. Konflik-konflik horizontal bernuansa agama dan suku yang pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Ambon, Poso, Kalimatan, lebih sering dipicu oleh adanya politisasi terhadap isu agama dan suku. Pada awalnya konflik tersebut bukanlah disebabkan oleh masalah agama, tetapi seringkali konflik tersebut dibawa ke ranah agama sehingga menjadikan konflik semakin membesar dan tak terelakkan.Tulisan ini adalah sebuah upaya menggali landasan biblis dan teologis bagi suatu upaya merajut kembali komunitas damai pasca konflik. Penelitian ini menggunakan metode perpaduan antara studi hermeneutik dan literatur dengan memanfaatkan sumber-sumber pustaka baik buku maupun jurnal yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Â
Kepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi Teknologi
Daniel Ronda, Christian Leadership in the Era of Technology Disruption. The fast development of the technology cannot be avoided, but now these fast developments are facing disruption. However, These developments have both positive and negative impact. Related to Christianity, the disruption of technology needs to be addressed properly. Therefore, this article try to gives some direction to empower the Christian leaders in this era of technological disruption. The study of this article is using literatures to analyze the nature of technology disruption, then presents some conceptual framework for the Christian leaders on how to deal with technological disruption. The author proposes several roles of Christian leaders that need to be carried out in the surprisingly fast changing era, such as a spiritual approach where The Word of God is a must to be a guidance to this era, an educational approach because in the era of technological disruption there is a big gap between innovation of technology and readiness of people to deal with, an integrity approach in using all kind of new technology that brought moral issues, a benefit approach in facing the diversity of technology benefits, and a humanistic approach is to relate personally with other people which is more important than any kind of relatonship in using technology. Daniel Ronda, Kepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi Teknologi. Teknologi yang terus berkembang merupakan sebuah perkembangan yang tidak dapat dihindari, tetapi saat ini perkembangan tersebut menyebabkan terjadinya disrupsi. Perkembangan tersebut dapat berdampak secara positif maupun negatif. Dalam kaitannya dengan kekristenan, disrupsi teknologi perlu disikapi. Oleh sebab itu, artikel ini memberi arah untuk memberdayakan peran pemimpin Kristen di era disrupsi teknologi ini. Kajian yang digunakan dalam artikel ini adalah literatur yang menganalisis tentang disrupsi teknologi, kemudian mengemukakan sebuah kerangka konsep peran pemimpin Kristen di era disrupsi teknologi. Penulis mengusulkan beberapa peran pemimpin Kristen yang perlu dilakukan mengahadapi era yang berubah secara mengejutkan, antara lain: melakukan pendekatan spiritual di mana firman Tuhan adalah sebuah keharusan sebagai pedoman dan penuntun menghadapi era ini, melakukan pendekatan edukatif karena di era disrupsi teknologi ada kesenjangan antara inovasi dan kesiapan manusia untuk bersaing, melakukan pendekatan integritas dalam memanfaatkan teknologi, menggunakan pendekatan azas manfaat dalam meng-hadapi disrupsi teknologi, dan melakukan pendekatan yang humanistik
Karya Allah Pada Masa Intertestamen
From the word submitted by the prophet Malachi (432 BC) to the angel of God speaking to the priest Zechariah, his father John the Baptist, is estimated to be about 400 years. And over that long period of time, what really happened? Is God indeed dwelling? Or is God preparing for the coming of the Messiah? Or God is angry with His people, who continue to sin? These questions are certainly the mainstays of the theologians to do research. The author tries to collect data from previous studies of historical events, archeological results, and Biblical text. Thus it can be deduced a conclusion, what is actually happening in the grace period of 400 years. Research begins from the years before, during the intertestament and thereafter. The most likely to be studied is the history of Persian media, Greek (Hellenistic), Jews regain Jerusalem (Maccabees struggle) and the formation of the Roman empire. After doing research it turns out in history and events it is found that God plays an active role. The fulfillment of Daniel, Hosea and Malachi\u27s prophecies occurred during the intertestament. Even supernatural things, which would not have been possible if God had not intervened, had occurred. This research will certainly convince all readers, that God is still working and in control in every age. Dari perkataan nubuat nabi Maleakhi (432 SM) hingga malaikat Tuhan berbicara kepada Imam Zakaria, bapaknya Yohanes pembaptis diperkirakan 400 tahun.Dan sepanjang periode waktu yang panjang tersebut, apakah yang terjadi?Apakah Allah berdiam diri? Atau apakah Ia sedang mempersiapkan kedatangan Mesias? Atau Allah marah terhadap umat-Nya yang terus hidup dalam dosa?Pertanyaan-pertanyaan ini yang seringkali menjadi perdebatan para teolog.Penulis mencoba mengumpulkan dari peristiwa-peristiwa sejarah yang telah diteliti sebelumnya, hasil-hasil arkelogi, dan teks Alkitab yang berkaitan. Kemudian dapat diambil suatu kesimpulan, apa yang sebenarnya trjadi dalam periode 400 tahun tersebut. Penelitian dimulai dari tahun-tahun sebelum, selama dan setelah masa intertesmen.Hal-hal yang dipelajari meliputi sejarah Media Persia, Yunani (Helenisasi), kembalinya orang Yahudi ke Yerusalem (pemberontakan Makabe) dan terbentuknya kerajaan Romawi.Setelah melakukan penelitian, maka diperoleh realitas bahwa Allah berperan secara aktif dalam masa tersebut.Penggenapan Nubuat dalam Daniel, Hosea dan Maleaki terjadi pada masa intertestemen.Bahkan hal-hal yang supranatural, yang tidak mungkin terjadi, jika bukan Allah yang mengintervensi hal-hal yang terjadi tersebut.Hasil penelitianini tentu menyakinkan para pembaca bahwa Allah masih dan sedang bekerja dan mengontrol dalam segala zaman
Konsep Teologi Injili Tentang Roh Orang Mati
Decky Krisnando, Enggar Objantoro, & I Putu Ayub Darmawan, The Consept of Evangelical Theology About the Spirit of Death People. This article is a library research which describe the evangelical theology about the spirit of death people. To describe the theology, researcher make a research from the relevan books resources concerning the topic, in which it is analyzed in order that found the relation among them. After that, the researcher make a conclusion systematically. From the research, Evangelical theology about the spirit of death people is in the different dimension when he is life. For the death, there are just two possibilities to go in the heaven or in the hell. For the people who believe in God, he will go to the heaven, but the people who does not believe in God, he will go to the hell. The existence in the heaven and the hell is everlasting. The spirit which is in the heaven, will live together with God in eternity. For the unbeliever, they will be punished in the hell forever.   Decky Krisnando, Enggar Objantoro, & I Putu Ayub Darmawan, Konsep Teologi Injili Tentang Roh Orang Mati. Artikel ini merupakan sebuah penelitian pustaka yang memaparkan tentang konsep teologi Injili tentang roh orang mati. Untuk memaparkan konsep tersebut, penulis mencari berbagai informasi dari sumber pustaka relevan terkait topik penelitian yang kemudian dianalisis sehingga dapat ditemukan keterkaitan dan peta konsepnya dan akhirnya merumuskan konsep penulis secara sistematis dan dipaparkan secara deskriptif. Dari penelitian yang dilaksanakan, konsep teologi Injili tentang roh orang mati ada dalam dimensi yang berbeda dengan ketika ia ada di dunia ini. Hanya ada dua kemungkinan bagi jiwa/roh orang mati yaitu masuk dalam sorga atau neraka. Bagi orang yang percaya Kristus maka jiwa/rohnya akan masuk dalam sorga yang mulia. Sebaliknya bagi orang yang tidak percaya Kristus, jiwa/rohnya akan masuk neraka. Keberadaan di sorga dan neraka sifatnya kekal. Jiwa/roh yang masuk sorga akan mengalami kemuliaan bersama dengan Allah kekal, selama-lamanya. Begitu juga, jiwa/roh yang masuk neraka, akan mengalami penghukuman, yang tidak berkesudahan, selama-lamanya
Manajemen Konflik Dalam Gereja Mula-Mula: Tafsir Kisah Para Rasul 2:41-47
Frans Paillin Rumbi, Conflict Management in The Early Church: Interpretation of the Acts 2:41-47. The main question put forward in this study is that in the early church there was no conflict? On that basis, the writer tries to find answers by using library research methods with the reader response interpretation approach. The result seems to be that the congregation was originally formed in the midst of conflict. Furthermore, in the early days they were confronted with internal and external conflicts. Internal conflicts include inner conflicts related to their waiting for the Kingdom of God and inner conflicts of individualistic and materialistic. The choice between prioritizing one\u27s own welfare or having to share with others. To overcome the various conflicts that arise, they try to process it by first consistently building alliances on the basis of the work of the Holy Spirit. Furthermore, they developed a lifestyle based on the spirit of repentance and desire to renew the way of life, practicing the teachings of the Lord Jesus and the Apostles by promoting solidarity with others and controlling individualistic and materialist attitudes, building intensive communication in order to create mutual understanding and mutual understanding. Frans Paillin Rumbi, Manajemen Konflik Dalam Gereja Mula-mula: Tafsir Kisah Para Rasul 2:41-47. Pertanyaan utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah benarkah dalam jemaat mula-mula tidak ada konflik? Atas dasar itu, maka penulis mencoba mencari jawab dengan mengunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan tafsir reader response. Hasilnya tampak bahwa jemaat mula-mula terbentuk di tengah-tengah konflik. Selanjutnya pada masa-masa awal mereka telah diperhadapkan dengan konflik baik internal maupun ekstenal. Konflik internal antara lain berupa konflik batin berkaitan penantian mereka atas Kerajaan Allah serta konflik batin berupa individualistis dan materialistik. Pilihan antara mementingkan kesejahteraan sendiri atau harus berbagi dengan orang lain. Untuk mengatasi berbagai konflik yang muncul, mereka berusaha mengolahnya dengan pertama-tama konsisten membangun persekutuan di atas landasan karya Roh Kudus. Selanjutnya mereka mengembangkan pola hidup yang dilandasi semangat pertobatan dan keinginan memperbaharui cara hidup, mempraktekkan pengajaran Tuhan Yesus dan para Rasul dengan mengedepankan solidaritas kepada sesama serta mengendalikan sikap individualitik dan materialis, membangun komunikasi yang intensif agar tercipta kesehatian atau saling pengertian satu sama lain
Jadikanlah Murid: Tugas Pemuridan Gereja Menurut Matius 28:18-20
Make Disciples: The Duty of Church Discipleship According to Matthew 28: 18-20. This article discusses the task of church discipleship according to Matthew 28: 18-20. The author conducted a literature study to understand the intent of Matthew 28: 18-20 and to carry out the construction of the task of discipleship in the church. The task of discipleship, Jesus addressed his disciples, then proceeded to their successors who lived in a community of faith to carry out the task of discipleship. In the task of discipleship, the community of faith in a church as an institution takes action to proclaim the good news so that every nation can be part of a community of faith in Jesus Christ. In discipleship, everyone who enters the community of faith in Christ is accepted without distinction, because this task is a multicultural task. Teaching is an important part of the discipleship task. Teaching is done in order to strengthen new believers or new students enter the community of faith in Jesus, then they become disciples of the Lord Jesus who can be sent to disciple others. Jadikanlah Murid: Tugas Pemuridan Gereja Menurut Matius 28:18-20. Artikel ini membahas tentang tugas pemuridan gereja menurut Matius 28:18-20. Penulis melakukan studi pustaka untuk memahami maksud Matius 28:18-20 dan melakukan konstruksi tugas pemuridan gereja. Tugas pemuridan, Yesus tujukan kepada para murid-murid-Nya, kemudian dilanjutkan oleh pada penerus mereka yang hidup dalam sebuah komunitas iman untuk menjalankan tugas pemuridan tersebut. Dalam tugas pemuridan, komunitas iman dalam sebuah gereja sebagai suatu institusi melakukan tindakan pergi untuk mewartakan kabar baik sehingga setiap bangsa dapat menjadi bagian dari komunitas iman pada Yesus Kristus. Dalam pemuridan, setiap orang yang masuk dalam komunitas iman pada Kristus, diterima dengan tanpa membedakan mereka, sebab tugas ini adalah tugas yang multikultural. Pengajaran merupakan bagian penting dalam tugas pemuridan. Pengajaran dilakukan agar dapat memantapkan orang-orang yang baru percaya atau murid-murid baru masuk ke dalam komunitas iman pada Yesus, kemudian mereka menjadi murid Tuhan Yesus yang dapat diutus untuk memuridkan orang lain
Landasan Filsafat Antropologi-Teologis Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kristen
Karnawati & Priyantoro Widodo, Anthropological-Theological Philosophy in the Development of the Christian Education Curriculum. The basis for developing a Christian education curriculum is guided by God as the "center" of all knowledge. However, a philosophical foundation that looks at the human element according to the perspective of the Word of God is needed to analyze its usefulness. This paper aims to examine the foundation of anthropological philosophy based on the Word of God. This paper uses the literature study method by looking for sources from the Bible, books and journals. The results of this paper are, the anthropological philosophy of the development of a Christian education curriculum based on the Word of God contains concepts such as: humans as religious beings are God\u27s creations and must have respect and obey God; humans as individual beings are unique and valuable in the sight of God; humans as moral beings do right and do good; and humans as social beings have solidarity and social responsibility. Thus this paper can add insight to the developers of the Christian education curriculum to be able to use the foundation of anthropological philosophy in accordance with the values of the Word of God. Karnawati & Priyantoro Widodo, Landasan Filsafat Antropologi-Teologis Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kristen. Dasar dalam pengembangan kurikulum pendidikan Kristen adalah berpedoman kepada Allah sebagai “pusat†dari segala pengetahuan. Namun demikian sebuah landasan filosofis yang melihat kepada unsur manusia menurut cara pandang Firman Tuhan diperlukan untuk dianalisa kemanfaatannya. Tulisan ini bertujuan mengkaji landasan filsafat antropologi yang berdasarkan Firman Tuhan. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan mencari sumber dari Alkitab, buku-buku dan jurnal. Adapun hasil dari tulisan ini adalah, landasan filsafat antropologi pengembangan kurikulum pendidikan Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan memuat konsep antara lain: manusia sebagai makhluk religi merupakan ciptaan Allah dan harus memiliki rasa hormat dan taat kepada Allah; manusia sebagai makhluk individu adalah unik dan bernilai dalam pandangan Allah; manusia sebagai makhluk susila melakukan hal benar dan berbuat baik; dan manusia sebagai makhluk sosial memiliki solidaritas dan tanggungjawab bermasyarakat. Dengan demikian tulisan ini dapat menambah wawasan para pengembang kurikulum pendidikan Kristen untuk dapat menggunakan landasan filsafat antropologi yang sesuai dengan nilai-nilai Firman Tuhan
Sola Experientia: Suatu Analisis Terhadap Teologi Schleiermacher
This article is an overview of the theology of Friedrich Schleiermacher, known as the Father of Modern Theology. By using qualitative research methods on various available literature that review the life and theological thinking of Schleiermacher, the author tries to reveal that the unique thinking of FriedrichSchleiermacher\u27s theology is strongly influenced by his spiritual background, parental influence, church origin and tradition, educational patterns and the thought of his theological education and zeit geist (the spirit of the times) who were carrying the current of modern thought when Schleiermacher lived. On the one hand, Schleiermacher\u27s theology is often considered to be liberal in the theological paradigm of reform and evangelicalism because it departs from feeling, not from the spirit of Sola Scriptura. But on the other hand, Schleiermacher\u27s theology makes a positive contribution because it gives a place to the experience of faith (Sola Experientia) with a living God who can not only be reached with philosophia or wisdom. Artikel ini merupakan Tinjauan terhadap Teologi dari Friedrich Schleiermacher, yang dikenal sebagai Bapak Teologi Moderen.Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif terhadap berbagai literatur yang telah tersedia yang mengulas mengenai kehidupan dan pemikiran teologi dari Schleiermacher, maka penulis mencoba untuk mengungkapkan bahwa keunikan pemikiran Teologi FriedrichSchleiermacher sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan rohaninya, pengaruh orangtua, asal dan tradisi gereja, pola pendidikan dan pemikiran pendidikan teologinya serta zeit geist (semangat zaman) yang sedang membawa arus pemikiran moderen pada waktu Schleiermacher hidup. Pada satu sisi, Teologi Schleiermacher kerap dianggap liberal dalam paradigma teologi reformasi dan evangelical karena ia berangkat darifeeling, bukan dari semangat Sola Scriptura. Namun pada sisi lain, Teologi Schleiermacher memberikan kontribusi positif sebab memberikan tempat kepada pengalaman iman (Sola Experientia) dengan Allah yang hidup yang tidak hanya dapat dijangkau dengan philosophia atau wisdom