Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Penguatan Guru PAK Untuk Pendidikan Karakter: Melihat Kontribusi Seri Selamat
Binsen S. Sidjabat, Penguatan Guru PAK Untuk Pendidikan Karakter: Melihat Kontribusi Seri Selamat. Artikel ini membahas kontribusi Seri Selamat karya Andar Ismail untuk meluaskan pemahaman guru PAK di sekolah terkait pendidikan karakter. Delapan belas tema karakter bangsa yang diajarkan perlu guru kepada siswa di sekolah dapat diterangi oleh beragam topik atau judul dalam Seri Selamat. Dengan mempelajari topik atau judul yang diangkat oleh tulisan ini dari studi Seri Selamat, diharapkan guru PAK yang mempelajari, akan memperoleh pemikiran yang menguatkan dan memperkaya pelak-sanaan tugasnya dalam pendidikan iman terintegrasi dengan pembentukan karakter siswa. Pembina warga jemaat di gereja pun dapat beroleh manfaat dari hasil studi ini. Binsen S. Sidjabat, Strengthening Teacher Christian Education for Character Education: Seeing Contributions Selamat Series. This article describes significance of Andar Ismail’s Selamat Series for teachers of Christian religious education in school context of Indonesia to develop character formation. There are eighteen aspects of national values that can be used by teachers as framework in helping students to learn Christian values and character. Selected chapters and writings from the Selamat Series can contribute the understanding of Christian teachers on the eighteen national values. Christian nurture in the church can also be benefitted by this research
Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani
Sonny Eli Zaluchu, The Hermenetic Pattern of Hebrew Wisdom Literature. Hebrew Wisdom Literature is one of the most distinctive kinds of literature that can found in the Old Testament. Particular hermeneutic patterns are needed to interpret literary books. The writings of the wisdom literature of the Hebrew people are rich in various types of literary styles from being oral traditions to written forms and being part of the Old Testament canon. This paper aims to form a hermeneutic pattern in the form of defining literary categories, capturing the main ideas of the writer, seeing the text in context, and paying attention to the style of language. Studying these four patterns will help the interpreter elevate the meaning of the contents of the literature of Wisdom. Writing presented in a descriptive, analytical form. Sonny Eli Zaluchu, Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani. Sastra Hikmat Orang Ibrani adalah salah satu sastra yang sangat khas yang dapat dijumpai di dalam Perjanjian Lama. Diperlukan pola hermenetik khusus untuk melakukan penafsiran terhadap kitab-kitab sastra tersebut. Hal tersebut diper-lukan karena tulisan sastra hikmat orang ibrani kaya dengan berbagai jenis gaya kesusasteraan sejak men-jadi tradisi oral hingga dalam bentuk tertulis dan menjadi bagian dari kanon Perjanjian Lama. Tulisan ini bertujuan merumuskan pola hermenetik berupa menentukan kategori sastra, menangkap gagasan utama penulis, melihat teks di dalam konteks, dan memperhatikan gaya bahasa. Mempelajari keempat pola ter-sebut akan menolong penafsir mengangkat makna dari isi kitab-kitab sastra Hikmat. Tulisan disajikan di dalam bentuk deskriptif analitis
Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16
Talizaro Tafonao, Christian Teacher Personality in Perspective of 1 Timothy 4: 11-16. One important indicator that must be known by Christian teachers is to have a good personality. Trough this research, author describes the Christian Teacher Personality in Perspective of 1 Timothy 4: 11-16. Authors used qualitative research methods in doing study of the text 1 Timothy 4: 11-16 to analyze the Bible\u27s point of view of the personality of Christian teachers. The results of these research analysis are: First, Being in words. Based on this text , Timothy was instructed to be an ensamples in words, both of personal conversations with several people and those delivered in public. Second, ensamples in Love. This love refers to love between humans and between human and God. God desired all human to love one another, with agape love, because the other third love, named storge, philo and eros will properly function if it is based on agape love. Third, ensamples in holiness. Holy and pure life needs to be developed and struggled for because God has delivered and saved. Holiness means clean, free from sin, sacred etc Thus, the successful of a Christian Religion teacher is having a personality with Bible truth as guidance. Talizaro Tafonao, Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16. Salah satu indikator penting yang harus diketahui oleh guru Kristen adalah memiliki kepribadian yang baik. Dari karya tulis ini, penulis mendreskripsikan Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16. Dalam menemukan jawaban penelitian ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan kajian terhadap teks 1 Timotius 4:11-16 untuk menganalisis pandangan Alkitab tentang kepribadian guru Kristen. Setelah penulis melakukan kajian terhadap teks tersebut di atas, maka adapun hasil analisisnya adalah: Pertama, Keteladanan dalam perkataan. Dalam hubungannya dengan konteks ini, Timotius diperintahkan untuk menjadi teladan dalam perkataan, baik yang ia sampaikan secara pribadi kepada beberapa orang maupun yang disampaikan di depan umum. Kedua, Keteladan Dalam Kasih. Kasih ini dinyatakan pada sesama manusia dan kepada Tuhan. Allah menghendaki agar manusia saling mengasihi satu dengan yang lain, dengan kasih agape, sebab ketiga kasih, yakni storge, philo dan eros hanya dapat berfungsi dan terjalin dengan baik sebagaimana mestinya jika didasari oleh kasih agape. Ketiga, Teladan Dalam Kesucian. Hidup suci dan murni perlu dikembangkan dan diperjuangkan karena Tuhan yang telah membebaskan dan menyelamatkan. Jadi kesucian adalah bersih, bebas dari dosa, keramat dan lain-lain. Dengan demikian, keberhasilan seorang guru Agama Kristen harus memiliki kepribadian sesuai dengan kebenaran Alkitab
Strategi Pelayanan Lintas Budaya Berdasarkan Markus 4:1-34
Harming & Katarina, Cross-cultural Service Strategy based on Mark 4: 1-34. The author conducted a study of the text of Mark 4: 1-34 using qualitative research literature study using the biblical hermeneutic principle. Based on the analysis of the text of Mark 4: 1-34 the authors find there are four cross-cultural service strategies namely by understanding local culture, using media. Harming & Katarina, Strategi Pelayanan Lintas budaya Berdasarkan Markus 4:1-34. Penulis melakukan penelitian terhadap teks Markus 4:1-34 dengan menggunakan penelitian kualitatif studi pustaka dengan menggunakan prinsip hermeneutik Alkitab. Berdasarkan analisis terhadap teks Markus 4:1-34 penulis menemukan ada empat strategi pelayanan lintas budaya yaitu dengan memahami budaya lokal, menggunakan media yang ada dalam budaya, memberdayakan potensi yang ada, dan menciptakan terobosan
Gereja Dan Kemiskinan: Diskursus Peran Gereja Di Tengah Kemiskinan
Fibry Jati Nugroho, Church and Poverty: Discourse on the Role of the Church in the Midst of Poverty. The problem of poverty is not only a local problem, but a problem that the world is struggling with. The Church as the Lord\u27s mandate in the middle of the world, is required to play a role in helping the problem of poverty. How naturally does the church play a role in the midst of community poverty? By using descriptive analysis methods, and in conjunction with the thinking of Karl Marx, examine the role of the church in helping to overcome the problem of poverty. The church\u27s calling should be to voice injustice and oppression of poor people\u27s rights. The Church is present to side with the weak, the powerless, the poor, and the marginalized. If the church does not have partiality to the weak, then the presence of the church has no meaning. The church needs to continually offer its prophetic criticism indiscriminately against various abuses of power, the occurrence of injustice, the deprivation of public rights, and the oppressive and impoverishing system of humans. The spirituality and religiosity of the congregation must also come to a social piety, in which the spiritual energy possessed by the congregation is able to encourage concern for various problems in people\u27s lives. Spirituality like this must be a concern of the church in building the life of the church. The cross must be understood as a reflection of the suffering and death of Christ, but at the same time must be able to open the eyes and ears of suffering, misery, and human hope for their dignity and human dignity. That\u27s where the church plays a role. Fibry Jati Nugroho, Gereja dan Kemiskinan: Diskursus Peran Gereja di Tengah Kemiskinan. Permasalahan kemiskinan bukan hanya menjadi masalah lokal, namun menjadi masalah yang digumulkan oleh dunia. Gereja sebagai mandataris Tuhan di tengah dunia, dituntut untuk dapat berperan dalam membantu masalah kemiskinan. Bagaimanakah sewajarnya gereja berperan di tengah kemiskinan masyarakat? Dengan menggunakan metode deskriptif analisis, serta meminjam pemikiran Karl Marx, untuk menelisik peran gereja dalam membantu mengatasi permasalahan kemiskinan. Panggilan gereja yang seharusnya adalah untuk menyuarakan ketidakadilan dan penindasan hak-hak orang misÂkin. Gereja hadir untuk berpihak kepada yang lemah, tidak berÂdaya, miskin, dan yang terpinggirkan. Jika gereja tidak memiliki keperpihakan kepada yang lemah, maka kehadiran gereja tidak memiliki makna. Gereja perlu terus menerus menyuÂaraÂkan kritik profetisnya tanpa pandang bulu terhadap berbagai penyalahÂgunaan kekuasaan, terjadinya ketidakadilan, terampasnya hak-hak masyaÂrakat, dan terhadap sistim yang menindas serta memiskinkan manusia. Spiritualitas dan religiusitas jemaat juga harus sampai kepada sebuah kesalehan sosial, di mana energi spiritual yang dimiliki jemaat mampu untuk mendorong kepeduliannya akan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Spiritualitas seperti inilah yang harus menjadi perhatian gereja dalam membangun kehidupan jemaat. Salib harus dipahami sebagai refleksi atas penderitaan dan kematian Kristus, namun di saat yang sama pula harus mampu membuka mata dan telinga akan penderitaan, kesengsaraan, dan pengharapan manusia akan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Disitulah gereja berperan
Implikasi Konteks Perempuan Yahudi dalam Penerapan Gereja Masa Kini
As people who had chosen by God, Israelites already have a concept about how to treat women in their culture. Laws in Jewish culture had organized the attitude that women must play to preserve life as God\u27s chosen people. This article is wrote using descriptive methods. As a result, in Jewish culture, women’s role was down under men (inferior). However, besides their primary task in their family, as the progress is women join in worship and leadership. This age, women have the same opportunities to involved in it.Sebagai masyarakat yang dipilih Allah, bangsa Israel telah memiliki konsep tentang bagaimana memperlakukan perempuan dalam kebudayaannya. Peraturan-peraturan dalam kebudayaan Yahudi telah mengatur bagaimana sikap yang harus diperankan kaum perempuan dalam memelihara kehidupan sebagai umat pilihan Tuhan. Sebagai kesimpulan, dalam kebudayaan Yahudi, peran perempuan menjadi lebih di bawah dibandingkan pria (inferior). Meskipun demikian, selain tugas utamanya dalam kehidupan keluarga, dalam perkembangannya perempuan terlibat dalam peribadatan dan kepemimpinan. Saat inipun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat di dalamnya
Kepemimpinan Hamba Tuhan Menurut Matius 20:25-28
Abstract: The leadership of God\u27s servant raises a polemic because there are still those who think about God\u27s servant being only servant and not being leader, however, in that opinion it is true. The researcher found a superior idea from Matthew 20:25-28 that placed God\u27s servant not only as servant but also as leader. The method used in this research is the research developed by Walter C. Kaiser, Jr. in the book Towards Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Teaching and Teaching, which addresses: contextual analysis, syntactic analysis, verbal analysis, theological analysis and homiletical analysis. The researchers, after observing the principle of exegesis presented by Kaiser, Jr., found that the text of Matthew 20: 25-28 could be discussed the themes of the leadership of God\u27s servant who studied contextual and syntactical analysis providing support for the theme. Researchers also pay attention to verbal analysis, theological analysis and homiletical analysis, the results of which support the characteristics of God\u27s servant leadership in Matthew 20:25-28, namely: communicative, assertive, gentle, humble, serving, willing to sacrifice
Permasalahan Pembinaan Warga Gereja Di Kewari
Ruat Diana, This article discusses the issue of church community development in Kewari. The main focus of this article is the difficulty of fostering church members to the Kewari community. Through this research, the authors describe the factors behind the difficulty of fostering church members in Kewari. These factors are seen from social and historical aspects. The author assesses the importance of exposing it as a reflection in carrying out church community development. The pattern of community life, language differences and the slow adjustment of language, the level of community education, and the beliefs of the community became a factor of difficulty of building church people in Kewari Ruat Diana, Permasalahan Pembinaan Warga Gereja di Kewari. Artikel ini membahas ten-tang permasalahan pembinaan warga gereja di Kewari. Fokus utama dari artikel ini adalah faktor kesulit-an pembinaan warga gereja kepada masyarakat Kewari. Melalui penelitian ini, penulis menggambarkan faktor-faktor yang melatarbelakangi kesulitan pembinaan warga gereja di Kewari. Faktor-faktor tersebut dilihat dari aspek sosial dan sejarah. Penulis menilai pentingnya memaparkan hal tersebut sebagai sebuah refleksi dalam melaksanakan pembinaan warga gereja. Pola hidup masyarakat, perbedaan bahasa dan lambatnya penyesuaian bahasa, tingkat pendidikan masyarakat, dan keyakinan masyarakat menjadi faktor kesulitan pembinaan warga gereja di Kewari
Religious Pluralism And Christian Responses
Enggar Objantoro, Pluralisme Agama dan Tanggapan Kristen. Pluralisme agama merupakan paham yang mempercayai bahwa semua agama di dunia ini sama. Kaum pluralis percaya bahwa kebenaran-kebenaran yang ada dalam semua agama mempunyai nilai yang sama, tidak ada agama yang lebih tinggi dari agama yang lain. Pluralisme agama menjadi tantangan yang sangat serius bagi kekristenan, sebab paham itu menolak kebenaran Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat manusia. Kekristenan harus menjawab kritikan-kritikan kaum pluralis terhadap kebenaran-kebenaran Alkitab, dengan memberikan argumentasi yang jelas dan tegas. Teolog-teolog Injili percaya bahwa kebenaran-kebenaran Alkitab merupakan sesuatu yang khas/unik dalam kekristenan, yang tidak sama dengan kebenaran-kebenaran dalam agama-agama lain. Enggar Objantoro, Religious Pluralism and Christian Responses. Religious pluralism be-lieves that all religions are equal. Pluralists believe that the truths in religions have the same value, there is no religions higher than other. Religious pluralism is serious challenge for Christianity, because they reject the biblical truth that Jesus is only the savior for human being in the world. Christianity has to response to the pluralist critiques over the biblical truths, based on the Word of God. Evangelical theologians believe that the biblical truth is unique, and is just in Christianity. It is different with the truths of other religions