Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
    164 research outputs found

    Implementasi Etika Kristen Dalam Keluarga Badan Pengurus Jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia Propinsi Jawa Tengah

    Full text link
    Family institution as the smallest unit of the human institutional system, like an organization, need rules and a code of ethics in order to run well. If ethics is not consistently applied in a family, it will have a negative impact on the harmony and quality of family, which in turn has a bad impact on the church, school, community and nation. Therefore, the aim of this Applied Research is to find out the level and what the most dominant indicators that tend to determine the implementation of Christian Ethics in the Family of the Church Leaders of Alliance Church in Central Java Province. This research using Quantitative Method based on aexegetical study text from Ephesians 5: 22-6: 4 in order to find out the indicators that determine the research. About 120 people are taking as a sample, using the Non Random Sampling Technique, data computed by SPSS Programme version 20. The result showed that, first, the level of implementation of Christian ethics in the family based on Ephesians 5: 22-6: 4 among The Church Leaders of Alliance Church in Central Java Province is in the category "Medium", This condition caused by pragmatic pastoral leadership patterns that took priority on church marketing and lackof synergy between church, family and school in realizing implementation of Christian Ethics in the Family. Second, Physical Aspect more determine the implementation of Christian ethics in the family among The Church Leaders. The results of this research indicate that the Physical and Theological Aspects are closely related (link) with each other as the main catalyst influencing the implementation of Christian ethics in the family which can ultimately build the body of Christ and create healthy church growth.  Therefore, the church needs to value both aspects proportionally. ABSTRAKLembaga keluarga sebagai satuan terkecil dari sistem kelembagaan manusia, layaknya sebuah organisasi memerlukan peraturan dan kode etik agar berjalan baik. Jika etika tidak diterapkan secara konsisten dalam sebuah keluarga, maka akan membawa dampak negatif bagi keharmonisan dan kualitas keluarga yang berdampak buruk kepada gereja, sekolah, masyarakat dan bangsa. Oleh sebab itu, Penelitian Terapan (Applied Research) ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar tingkat dan dimensi mana yang dominan menentukan, implementasi etika Kristen dalam keluarga Badan Pengurus Jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (BPJ GKII) di Propinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan eksegesis terhadap nats Efesus 5:22-6:4 sebagai landasan teori dan menemukan indikator penelitian. Sampel penelitian sebanyak 120 orang, teknik pengambilan sampel dengan Non-Random Sampling, penghitungan data memakai SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, tingkat implementasi etika Kristen berdasarkan Surat Efesus 5:22-6:4 dalam keluarga BPJ GKII Propinsi Jawa Tengah berada dalam ketegori sedang. Hal ini disebabkan oleh pola pengembalaan pragmatis yang lebih berorientasi pada pemasaran organisasi gereja serta lemahnya sinergi antara gereja, keluarga dan sekolah dalam mewujudkan implementasi etika Kristen dalam keluarga. Kedua, aspek fisik dalam dimensi relasi suami-istri merupakan indikator yang paling dominan menentukan implementasi etika Kristen dalam keluarga BPJ GKII Propinsi Jawa Tengah.  Hasil riset ini menunjukkan bahwa aspek fisik dan teologis saling terkait erat (link) satu sama lain sebagai katalisator utama yang mempengaruhi implementasi etika Kristen dalam keluarga yang akhirnya dapat membangun tubuh Kristus dan menciptakan pertumbuhan gereja yang sehat. Oleh karena itu, gereja perlu menghargai kedua aspek ini secara proporsional

    Human Suffering and Theological Construction of Suffering

    Full text link
    Suffering, as a natural part of life, will be burdensome and burdensome when we respond in the wrong way. Therefore, it is necessary to have a theological construction so that humans can survive and pass through their sufferings victoriously. This paper aims to build a theological response to human suffering by proposing the presence of a theology of suffering. It can be concluded that through the theology of suffering, suffering humans can accept suffering as God\u27s sovereignty. This theology also builds on the understanding that the way of suffering can identify God. The suffering experienced by humans does not come immediately because it has a unique purpose for everyone. It is also found that in the theology of suffering, God suffered through the death of His Son on the Cross for the benefit of humanity. This paper is written entirely with an analytic approach by relying on various theories and interpretations of Bible verses through in-depth literature studies ABSTRAK: Penderitaan sebagai bagian alami kehidupan, akan menjadi sesesuatu yang membebani dan menjerumuskan ketika ditanggapi dengan cara yang salah. Oleh sebab itu, diperlukan kehadiran sebuah konstuksi teologis agar manusia dapat bertahan dan melewati penderitaanya dengan kemenangan. Paper ini bertujuan untuk membangun tanggap teologis terhadap penderitaan manusia dengan mengusulkan kehadiran teologi penderitaan. Disimpulkan bahwa melalui teologi penderitaan, manusia yang menderita dapat menerima penderitaan sebagai sebuah kedaulatan Tuhan. Teologi ini juga membangun pengertian bahwa Allah dapat dikenali melalui jalan penderitaan. Penderitaan yang dialami manusia tidak hadir serta merta karena memiliki tujuan khas bagi setiap orang. Juga ditemukan bahwa di dalam sebuah teologi penderitaan, Allah ikut menderita melalui kematian anak-Nya di atas Salib untuk kepentingan manusia. Paper ini sepenuhnya ditulis dengan pendekatan analitik dengan mengandalkan berbagai teori dan tafsiran ayat-ayat Alkitab melalui pendalaman kajian pustaka

    The Priority of the Church’s Ministry during a Pandemic

    Full text link
     The global COVID-19 pandemic has caused churches to change their worship patterns from meeting at church buildings to virtual worship at home to prevent transmission of the virus and comply with the health protocols set by the local governments. This study aims to determine the priority of the pastoral ministry during the COVID-19 pandemic and explore new strategies to be adopted analyze and examine the functions of the church, especially with regards to how the church responds previously during the pandemic and determines the priority of the church\u27s ministry to continue to do the Great Commission and the Great Commandment amid the COVID-19 pandemic. This study uses the descriptive qualitative method by researching relevant literature using Biblical perspective. Based on this study, we   recommend that churches to embrace digital online technology for digital evangelism to effectively reach, connect and engage with many people who are more connecting to social media platforms. Online church is an effective tool for evangelism and missiology to extend the reach and enable the spread of the Gospel worldwide in the digital era. ABSTRAK: Pandemi global COVID-19 telah menyebabkan gereja-gereja untuk mengubah pola ibadahnya dari yang dilakukan di gedung gereja kepada pola ibadah virtual di rumah, sebagai upaya untuk mencegah transmisi virus dan mengikuti protokol-protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menggali apa yang menjadi fungsi dari gereja, khususnya berkaitan dengan pertanyaan apa yang menjadi sikap gereja sebelumnya ketika diperhadapkan dengan pandemi dan untuk mengetahui akan apa yang menjadi prioritas pelayanan gereja untuk tetap dapat melakukan apa yang menjadi Perintah Utama dan Amanat Agung di masa COVID-19 pandemi. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif melalui penelitian terhadap berbagai literatur yang relevan dengan menggunakan perspektif Alkitab. Berdasarkan penelitian ini, kami merekomendasikan gereja-gereja untuk memanfaatkan teknologi digital untuk dapat menjangkau, terhubung dan terlibat secara efektif dengan banyak orang yang sekarang menggunakan platform media sosial. Gereja online adalah alat yang efektif untuk melakukan pekabaran Injil dan misiologi untuk memperluas jangkauan penyebaran Injil ke seluruh dunia di era digital

    Konsep Manusia Baru Di Dalam Kristus Berdasarkan Surat Efesus 4:17-32

    Full text link
    The Concept of a New Man in Christ Based on Ephesians 4:17-32. This article discusses the new man in Christ through a syntactic and semantic approach to text analysis, namely the focus on the text itself, interactions with other texts, and the writings of the Church Fathers. Only those who wear the new humanity that comes from Christ can become new human. The new human consists of soul and body which is in the new humanity. Humanity in Christ is the humanity of Adam renewed by Christ by dying on the cross, buried, and rising from the dead so that Christ has provided a new container that is humanity universally new. This new humanity is universal salvation which is a kind of clothing for every individual. Wearing new humanity or Christ\u27s clothes becomes individual salvation. When we wear the clothes of Christ, we become new people so that our souls and bodies or our whole lives are in the new humanity. The soul and body that is in this new humanity are now continuing to process or be renewed towards a soul and body like Christ. How? That is fighting sin and doing love both spiritually and physically. Konsep Manusia Baru Di dalam Kristus Berdasarkan Surat Efesus 4:17-32. Artikel ini membahas tentang manusia baru di dalam Kristus melalui pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis yaitu fokus pada teks itu sendiri, interaksi dengan teks-teks lain dan tulisan para Bapa Gereja. Hanya orang Kristen yang mengenakan kemanusiaan baru yang berasal dari Kristus yang dapat menjadi manusia baru. Manusia baru terdiri dari jiwa dan tubuh yang berada di dalam kemanusiaan baru. Kemanusiaan di dalam Kristus adalah kemanusiaan Adam yang diperbarui oleh Kristus dengan jalan Yesus mati di atas kayu salib, dikubur, dan bangkit dari kematian sehingga Kristus telah menyediakan suatu wadah baru yaitu kemanusiaan baru secara universal kepada manusia. Kemanusiaan baru adalah keselamatan universal yang menjadi semacam pakaian untuk dikenakan bagi setiap individu. Memakai kemanusiaan baru atau pakaian Kristus menjadi keselamatan individu. Ketika orang Kristen mengenakan pakaian Kristus dan menjadi manusia baru, sehingga jiwa dan tubuh serta seluruh hidup ada di dalam kemanusiaan baru. Jiwa dan tubuh yang ada di dalam kemanusiaan baru ini sekarang terus berproses atau diperbarui menuju jiwa dan tubuh seperti Kristus. Bagaimana caranya? Yaitu melawan dosa dan melakukan kasih baik secara jiwai dan badani

    Perempuan: Sumber Dosa atau Sumber Hikmat? Tafsir Ulang Kejadian 3:1-24 dari Perspektif Feminis

    Full text link
    There is an understanding that women and their bodies are the source of sin that must be shunned in our society. It is also evident in Christianity, where themes about women\u27s bodies and their sexuality are also often associated with sin, transgression and punishment. This understanding is rooted in the story of Eve eating fruit in the Garden of Eden (Gen. 3:1-24) which is seen as a story of the "fall" of humans because of women\u27s sin. In other words, women are seen as the cause of humans falling into sin. Of course, this understanding has a negative impact on women dignity. Women then experience discrimination almost in all fields. Their body and sexuality are also controlled by men. In this regard, a re-reading of the text of Genesis 3:1-24 is needed to free women from such kind of understanding. The author interprets the text of Genesis 3:1-24 from a feminist perspective using literature research methods. The result of this interpretation is that women are not the source of sin but rather the source of wisdom. Through the results of this interpretation is expected to change the way of thinking of society to respect women and their bodies better. Dalam kehidupan masyarakat terdapat pemahaman bahwa perempuan dan tubuhnya adalah sumber dosa yang harus dijauhi. Hal ini tampak dalam kekristenan di mana tema tentang tubuh perempuan dan seksualitasnya juga sering dihubungkan dengan dosa, pelanggaran dan hukuman. Pemahaman ini berakar dari kisah Hawa makan buah di taman Eden (Kej. 3:1-24) yang dipandang sebagai cerita “kejatuhan†manusia karena dosa perempuan. Dengan kata lain, perempuan dipandang sebagai penyebab manusia jatuh ke dalam dosa. Pemahaman ini menimbulkan dampak negatif terhadap perempuan secara keseluruhan. Perempuan mengalami diskriminasi hampir dalam segala bidang. Tubuh dan seksualitas mereka juga dikontrol oleh laki-laki. Sehubungan dengan hal itu, perlu dilakukan pembacaan ulang terhadap Kejadian 3:1-24 untuk membebaskan kaum perempuan. Penulis menafsirkan Kejadian 3:1-24 dari perspektif feminis dengan menggunakan metode penelitian literatur. Hasil dari penafsiran ini adalah bahwa perempuan bukan sumber dosa melainkan adalah sumber hikmat. Melalui hasil tafsiran ini diharapkan dapat mengubah cara berpikir masyarakat untuk lebih menghargai perempuan dan tubuhnya

    Injil Sebagai Kabar Tentang Kembalinya Kemuliaan Tuhan Ke Dalam Segenap Ciptaan

    Full text link
    This article surveys various understanding on what the Gospel is: as ‘how to get into heaven’, a declaration about forgiveness of ‘personal sins’, an invitation for a social-political revolution, and a good news about the fulfillment of God’s promise to Israel. The author argues for a theological and hermeneutical option to understand the gospel in a wider meta-narrative of creation, fall, and redemption. This option use a motif of ‘the return of God’s glory into the whole creation’ as a paradigm to understand the gospel. This article tries to show how polarization between ‘the gospel of personal salvation’ and ‘the social gospel’ can be overcome by understanding the gospel as a declaration of the ‘return of God’s glory into creation’. Artikel ini membahas aneka ragam pemahaman tentang apa itu Injil: sebagai ‘cara untuk masuk surga’, berita tentang pengampunan ‘dosa-dosa pribadi’, suatu undangan bagi revolusi sosial-politik, sampai suatu kabar tentang penggenapan janji TUHAN kepada umat-Nya. Dalam artikel ini akan dipertimbangkan sebuah opsi teologis dan tafsir untuk memahami Injil dalam konteks meta-naratif yang lebih luas, yakni didalam penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Opsi teologis ini memakai motif ‘kembalinya kemuliaan Allah ke dalam seluruh ciptaan’ sebagai paradigma untuk memahami Injil. Artikel ini menunjukkan bagaimana polarisasi antara ‘Injil keselamatan pribadi’ dan ‘Injil sosial’ dapat diatasi dengan memahami injil sebagai deklarasi tentang ‘kembalinya kemuliaan Allah ke dalam segenap ciptaan’

    Tugas Pedagogis Gembala Dalam Menyiapkan Warga Gereja Menghadapi Perubahan Sosial

    Full text link
    Social change is an inevitable conversation. Everyone needs to be prepared for social change. Likewise for church members, they need to be prepared for social change and there must be a pastoral pedagogical task in preparing church people for social change. The author conducts research by analyzing literature analysis to examine the issue. To prepare church members for social change, a pastor needs to conduct coaching that emphasizes Christian beliefs, so that these beliefs can be demonstrated in daily life. Then the second pedagogical task is the value of trust in church members. Human needs in the era of society 5.0 are strengthening the value of consideration and understanding in this context based on Christian principles. Gospel communication can fade because of the challenges of the times, but opposes social change in the era of the 5.0 shepherd community in support of providing guidance that leads to gospel communication. Church members need to be equipped to be able to communicate the gospel in the midst of a Christian perspective. Perubahan sosial adalah sebuah situasi yang tidak bisa dihindari. Setiap orang perlu dipersiapkan dalam menghadapi perubahan sosial. Demikian pula bagi warga gereja, mereka perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan sosial dan tentunya ada tugas pedagogis gembala dalam menyiapkan warga gereja untuk meghadapi perubahan sosial. Penulis melakukan penelitian dengan pendekatan analisis literatur untuk mengkaji isu tersebut. Untuk mempersiapkan warga gereja menghadapi perubahan sosial seorang gembala perlu melakukan pembinaan yang menekankan pada penguatan keyakinan iman Kristen, sehingga keyakinan tersebut dapat didemonstrasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Kemudian tugas pedagogis kedua adalah memperkuat nilai kemanusiaan pada warga gereja. Kebutuhan manusia di era masyarakat 5.0 adalah penguatan nilai kemanusiaan dan tentunya dalam konteks ini berdasarkan prinsip-prinsip kekristenan. Komunikasi injil dapat memudar karena tantangan zaman, tetapi menghadapi perubahan sosial di era masyarakat 5.0 gembala berperan untuk memberikan pembinaan yang mengarah pada komunikasi Injil. Warga gereja perlu diperlengkapi untuk dapat mengomunikasikan Injil di tengah perubahan cara pandang tentang kekristenan

    Spiritualitas Pandemik: Tinjauan Fenomenologi Ibadah Di Rumah

    Full text link
    This research departs from the facts in the reality that we faced since the determination of the COVID-19 pandemi in Indonesia. The churches convert every activity from the church into homes. This phenomenon brings researchers to the spirituality of the congregation during a pandemi with devotions at home. A qualitative approach with a methodological method is used to obtain teaching from these experiences on the spiritual side. With a sample of one hundred respondents from four Churches Congregation who held every devotion activities at home, they realized that the opportunity to understand God\u27s sovereignty upon the whole world, and increasingly surrendered to Him (arround 94%). The respondent composition is dominated by attending live streaming (96%) while doing devotion at home with church printed-out services is 3%. Several respondents found 2.6% sharing the Word by themself in the devotion session at home. By this research, there is hope for churches to take a serious look to the digital field by forming a digital commission/department or another designation with the task of serving the online services because advances in information technology become tools that cannot be ignored for the advancement of church services and developments. The pandemi did not pose a threat to the congregation to grow and rush on the spiritual side. Penelitian ini berangkat dari fakta di lapangan yang ada sejak penentuan pandemik korona jenis baru di Indonesia. Gereja-gereja mengalihkan ibadah di gereja menjadi di rumah-rumah. Fenomena ini membawa peneliti kepada sisi spiritualitas jemaat selama pandemik dengan ibadah di rumah. Pende-katan kualitatif dengan metode metodologi dipakai untuk mendapatkan pengajaran dari pengalaman ter-sebut bagi sisi spiritualitas. Dengan sample seratus responden dari empat jemaat yang mengadakan iba-dah di rumah, di temukan hasil diantaranya menyadari kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan atas seisi dunia, dansemakin berserah pada-Nya (sekitar 94%). Komposisi responden didominasi mengikuti ibadah dengan live streaming (92%) sedangkan ibadah di rumah dengan tata ibadah dari gereja sebanyak 5%. Dari sejumlah responden didapati 2,6% berbagi Firman Tuhan (sharing) pada sesi khotbah dalam kebak-tian di rumah. Dengan penelitian ini ada harapan kepada gereja-gereja untuk menatap dengan serius bidang digital dengan (misalnya) membentuk komisi/sie khusus digital atau sebutan lain dengan tugas pa-da pelayanan dunia daring karena kemajuan teknologi informasi menjadi tools yang tidak dapat diabaikan demi kemajuan pelayanan dan perkembagan gereja. Masa pandemik tidak menjadi ancaman kepada warga jemaat untuk bertumbuh dan bergegas dalam sisi spiritualitas

    Dewan Redaksi dan Daftar Isi Volume 4, Nomor 2, Juli 2020

    No full text

    Penciptaan Ruang Keempat Sebagai Basis Pembinaan Warga Gereja Pribumi Dalam Menggereja Di Jawa

    Full text link
    The true Church must run of vocation as peacemakers. Peacemaker could do if the Church has become part of the context. If the Church were exiled by the context, it means that there are issues that must be resolved within the Church. Northen Central Java Christian Church (GKJTU), and the same with other churches on the Javanese, experienced alienation from the context. That alienation because there is the question of the identity of a Hybrid Church. To cope with it all the citizens of the Church must be built to move nearing the Javanese culture with the formation of the fourth space as its base. This fourth space is a space to interact back with the Christianity of Javanese culture that\u27s been left behind. The fourth space is the place for contextualize. The formation of this fourth space should be seen from the poskolonial theory is Homi k. Bhabha about third space.  Gereja yang hidup dan benar harus menjalankan panggilannya sebagai pembawa damai. Pembawa damai bisa dilakukan jika Gereja telah menjadi bagian dari konteks. Jika gereja diasingkan oleh konteks itu artinya ada persoalan yang harus diselesaikan di dalam gereja itu. Gereja Kristen Jawa tengah utara (GKJTU), dan sama dengan Gereja lain di Jawa, mengalami keterasingan dari konteks. Keterasingan itu karena ada persoalan identitas Hybrid gereja. Untuk mengatasi hal itu semua warga gereja harus dibina untuk bergerak mendekati budaya Jawa dengan pembentukan ruang keempat sebagai basisnya. Ruang keempat ini adalah ruang untuk berinteraksi kembali kekristenan dengan budaya Jawa yang sudah ditinggalkannya. Pembentukan ruang keempat ini harus dilihat dari teori poskolonial Homi K. Bhabha

    128

    full texts

    164

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇