Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
The Theology of a Jealous God: A Study of Exodus 20:3-5 and a Jealous God
Jealousy is one of the characteristics of God, which is essential in His divinity. It\u27s just that some take it casually and even tend to see that jealousy like this is not too severe. This is why this article was written to ascertain the extent to which God\u27s jealousy is essential to be studied by God\u27s people and its application from the perspective of the responsibility of faith in Him. It should be understood that the Bible shows this nature of God, that He is a jealous God. However, this jealousy of God is certainly not as heavy as humans\u27 jealousy in general. God was jealous of the acts of disloyalty made by humans against Him, namely deliberately rebelling against and worshiping other gods. God has the right to be jealous because of the disobedience of His chosen people, who have violated the content of His eternal covenant. Therefore, this article is written using a biblical-theological approach, namely trying to understand the purpose of God\u27s jealousy as contained in Exodus 20: 3-5 by paying attention to the text and context and then analyzing it to find its value, relevance, and application in daily life. In the end, this article shows that the background behind God\u27s jealousy is, firstly, there is a broken promise, second is the existence of a double attitude (because of a special relationship before), and the third is that there is an attitude of relationship dissatisfaction that causes jealousy, namely adultery with other gods. ABSTRAKSikap cemburu merupakan salah satu sifat khas Allah yang esensial dalam keilahian-Nya. Hanya saja, ada yang menanggapinya secara biasa saja bahkan cenderung melihat bahwa sifat cemburu seperti ini tidak terlalu serius. Inilah yang menyebabkan artikel ini ditulis untuk memastikan sejauh mana kecemburuan Tuhan penting dipelajari oleh umat Tuhan dan aplikasinya dari perspektif tanggung jawab iman kepada-Nya. Perlu dipahami bahwa Alkitab menunjukkan sifat Allah ini, bahwa Ia adalah Allah yang cemburu. Namun, kecemburuan Allah ini tentu tidak sama bobotnya dengan kecemburuan yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Sejujurnya Tuhan Allah sangat cemburu dengan tindakan ketidaksetiaan yang dibuat oleh manusia terhadap-Nya yaitu dengan sengaja memberontak dan menyembah allah lain. Allah berhak cemburu karena ketidak-taatan umat pilihan-Nya yang telah melanggar konten kovenan-Nya yang kekal. Karena itu, artikel ini ditulis menggunakan pendekatan teologi biblika yaitu berupaya memahami maksud kecemburuan Allah sebagaimana dimuat di dalam Kel. 20:3-5 dengan memperhatikan teks dan konteks lalu menganalisis untuk menemukan nilai, relevansi, dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya artikel ini memperlihatkan bahwa yang menjadi latar belakang di balik kecemburuan Allah ialah, pertama adanya janji yang diingkari, kedua ialah adanya sebuah sikap menduakan (karena adanya hubungan spesial sebelumnya), dan yang ketiga ialah adanya sikap ketidakpuasan relasi yang menimbulkan kecemburuan yaitu perzinahan dengan allah-allah lain
Implikasi Pedagogis Pada Sakramen Perjamuan Kudus Dalam Liturgi Gereja
The Lord\u27s Supper is one of the sacraments of the church and is an important part of the Christian liturgy. The author conducts research on the meaning of the Holy Communion so that he can find pedagogical implications in the Holy Communion. The research used is a literature analysis approach that uses various relevant literature sources. The pedagogical implications of the Lord\u27s Supper concern the past, present and future. The meaning of the past means that the Lord\u27s Supper is a reminder of Christ\u27s sacrifice for believers. Today means that the Lord\u27s Supper means sharing in enjoying the benefits of Christ’s death and fellowship with the members of the body of Christ, even Christ himself. The meaning of the future means that the Holy Communion is a guarantee of enjoying the Kingdom of Heaven and the great supper in the future. The Lord\u27s Supper is an expression of hope for His return. Christ Jesus is the sure hope. Practically speaking, Holy Communion reminds us of the importance of fellowship with fellow members of the body of Christ. ABSTRAKPerjamuan Kudus merupakan salah satu sakramen gereja dan menjadi bagian penting dalam liturgi Kristen. Penulis melakukan penelitian terhadap makna perjamuan kudus sehingga dapat menemukan implikasi pedagogis dalam perjamuan kudus. Penelitian yang digunakan adalah pendekatan analisis pustaka yang menggunakan berbagai sumber pustaka relevan. Implikasi pedagogis Perjamuan Kudus menyangkut masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Makna masa lalu berarti bahwa Perjamuan Kudus merupakan peringatan pengorbanan Kristus bagi orang percaya. Masa kini berarti bahwa Perjamuan Kudus memiliki makna keikutsetaan menikmati keuntungan kematian Kristus serta persekutuan dengan anggota tubuh Kristus, bahkan Kristus sendiri. Makna masa yang akan datang berarti bahwa Perjamuan Kudus menjadi jaminan menikmati Kerajaan Sorga dan perjamuan agung di masa yang akan datang. Perjamuan Kudus merupakan perwujudan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali. Kristus Yesus adalah pengharapan yang pasti. Secara praktis, Perjamuan Kudus mengingatkan tentang pentingnya persekutuan dengan sesama anggota tubuh Kristus
Efektifitas Strategi Pelayanan Pastoral Konseling Kepada Pasien Panti Rehabilitasi Narkoba
The number of young people who fall into the trafficking of drugs is increasing. The phenomenon of the number of prisons and detention centers inhabited by people assisted by drug cases is no longer a secret. It is not uncommon for church youth to be counted on that number so that components of the Church such as pastors, assemblies, service activists, and other elements of society deserve to give a more serious portion of attention. Because the face of the future church cannot be separated from the Church Youth today. This research departs from this fact and the services of North Sumatra STT students at the Rehabilitation Center in Medan. More than fifteen years of experience in this area is worth exploring through field research. The method used is qualitative and with 28 people who are the objects of research from the Rehabilitation Center. Data were obtained from students who actively carry out mentoring services to Rehabilitation Institutions, Rehabilitation Institution Managers, and patient families from some of the objects (patients). The results show that there are five steps; understanding the counselee, giving loving help, the role of a father, and family prayer, provides a better change despite the variety of outcomes (cures) of people who have participated in the rehabilitation program. Pastoral care and the care of family or parents add to the healing process. This has something to do with spirituality and the pattern of pastoral Christian counseling services provided. But on the other hand, the formation of habits in serving students of the Theological College (STT) needs to be pursued through pastoral counseling services with assistance to people who are addicted and follow rehabilitation programs. ABSTRAKKaum muda yang terjerumus kepada penyalagunaan narkoba dan obat-obatan semakin bertambah. Fenomena banyaknya Lapas dan Rutan dihuni oleh warga binaan kasus narkoba bukan rahasia lagi. Tidak jarang pula pemuda gereja yang terhitung pada bilangan itu sehingga komponen Gereja seperti pendeta, majelis, aktifis pelayanan dan elemen masyarakat lainnya patut untuk memberi porsi perhatian yang lebih serius. Sebab wajah gereja masa depan tidak terlepas dari Pemuda Gereja masa kini. Penelitian ini berangkat dari fakta tersebut dan pelayanan mahasiswa STT Sumatera Utara di Panti Rehabilitasi di Medan. Pengalaman lebih lima belas tahun pada bidang ini patut untuk ditelusuri melalui penelitian lapangan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan dengan 28 orang yang menjadi objek penelitian dari Panti Rehabilitasi. Data diperoleh dari mahasiswa yang aktif melaksanakan pelayanan pendampingan ke Panti Rehabilitasi, Pengelolah Panti Rehabilitasi dan keluarga pasien dari sebagian objek (pasien). Hasilnya menunjukkan adanya lima langkah; memahami konseli, memberi pertolongan penuh kasih, peran Ayah, dan doa keluarga, memberikan perubahan yang lebih baik meski adanya keragaman outcome (kesembuhan) dari orang-orang yang pernah mengikuti program rehabilitasi tersebut. Pendampingan pastoral dan perhatian keluarga atau orang tua menambah daya proses penyembuhan. Hal ini ada sangkut pautnya dengan spiritualitas dan pola pelayanan pastoral konseling Kristen yang diberikan. Namun disisi lain pembentukan kebiasaan dalam melayani bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) perlu diupayakan melalui pelayanan pastoral konseling dengan pendampingan kepada orang-orang yang kecanduan dan mengikuti program rehabilitasi.The number of young people who fall into the trafficking of drugs is increasing. The phenomenon of the number of prisons and detention centers inhabited by people assisted by drug cases is no longer a secret. It is not uncommon for church youth to be counted on that number so that components of the Church such as pastors, assemblies, service activists, and other elements of society deserve to give a more serious portion of attention. Because the face of the future church cannot be separated from the Church Youth today. This research departs from this fact and the services of North Sumatra STT students at the Rehabilitation Center in Medan. More than fifteen years of experience in this area is worth exploring through field research. The method used is qualitative and with 28 people who are the objects of research from the Rehabilitation Center. Data were obtained from students who actively carry out mentoring services to Rehabilitation Institutions, Rehabilitation Institution Managers, and patient families from some of the objects (patients). The results show that there are five steps; understanding the counselee, giving loving help, the role of a father, and family prayer, provides a better change despite the variety of outcomes (cures) of people who have participated in the rehabilitation program. Pastoral care and the care of family or parents add to the healing process. This has something to do with spirituality and the pattern of pastoral Christian counseling services provided. But on the other hand, the formation of habits in serving students of the Theological College (STT) needs to be pursued through pastoral counseling services with assistance to people who are addicted and follow rehabilitation programs. ABSTRAKKaum muda yang terjerumus kepada penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan semakin bertambah. Fenomena banyaknya Lapas dan Rutan dihuni oleh warga binaan kasus narkoba bukan rahasia lagi. Tidak jarang pula pemuda gereja yang terhitung pada bilangan itu sehingga komponen Gereja seperti pendeta, majelis, aktifis pelayanan dan elemen masyarakat lainnya patut untuk memberi porsi perhatian yang lebih serius. Sebab wajah gereja masa depan tidak terlepas dari Pemuda Gereja masa kini. Penelitian ini berangkat dari fakta tersebut dan pelayanan mahasiswa STT Sumatera Utara di Panti Rehabilitasi di Medan. Pengalaman lebih lima belas tahun pada bidang ini patut untuk ditelusuri melalui penelitian lapangan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan dengan 28 orang yang menjadi objek penelitian dari Panti Rehabilitasi. Data diperoleh dari mahasiswa yang aktif melaksanakan pelayanan pendampingan ke Panti Rehabilitasi, Pengelolah Panti Rehabilitasi dan keluarga pasien dari sebagian objek (pasien). Hasilnya menunjukkan adanya lima langkah; memahami konseli, memberi pertolongan penuh kasih, peran Ayah, dan doa keluarga, memberikan perubahan yang lebih baik meski adanya keragaman outcome (kesembuhan) dari orang-orang yang pernah mengikuti program rehabilitasi tersebut. Pendampingan pastoral dan perhatian keluarga atau orang tua menambah daya proses penyembuhan. Hal ini ada sangkut pautnya dengan spiritualitas dan pola pelayanan pastoral konseling Kristen yang diberikan. Namun di sisi lain pembentukan kebiasaan dalam melayani bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) perlu diupayakan melalui pelayanan pastoral konseling dengan pendampingan kepada orang-orang yang kecanduan dan mengikuti program rehabilitasi
Participation of Religious Leaders in Helping the Success of the Government\u27s COVID-19 Vaccination Program
Participation of Religious Leaders in Helping the Success of the Government\u27s COVID-19 Vaccination Program. The basic idea of this paper departs from observations in the virtual and real world, where certain people or groups are found who disagree with the need to be vaccinated. If the country\u27s people reject the mandatory mass vaccination, which the government is discussing, it will take a long time to restore normal activities. This paper uses a descriptive qualitative method with a literature study approach. The description in this paper found some people\u27s rejection of vaccines because their views or perceptions about COVID-19 influenced it. The government\u27s hope to immediately carry out mass vaccinations for all Indonesian people must be balanced with maximum efforts to make it happen. This substantial effort can be made by providing massive education in the media, conducting public campaigns, and providing guarantees to vaccine recipients. On the other hand, the success of this vaccination program does not only depend on the government; all elements of society are expected to contribute in this regard, especially religious leaders. The manifestation of the involvement of religious leaders is by educating the congregation through the pulpit about vaccines. In addition, religious leaders must also set an example by participating in vaccinations and actively countering hoax news. The dominance of factual information about vaccines dominates mass lines on social media. ABSTRAKKeikutsertaan Pemuka Agama Dalam Membantu Mensukseskan Program Vaksinasi COVID-19 Pemerintah. Ide dasar tulisan ini berangkat dari pengamatan di dunia maya dan nyata, yang mana ditemukan orang-orang atau kelompok tertentu yang tidak menyetujui keharusan untuk divaksin. Apabila masyarakat tanah air kecenderungan menolak wajib vaksinasi masal yang diwacanakan oleh pemerintah, tentu akan lama memulihkan aktivitas normal kembali. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Uraian pada tulisan ini ditemukan, penolakan sebagian orang terhadap vaksin karena dipengaruhi oleh pandangan atau persepsi mereka mengenai COVID-19. Harapan pemerintah untuk segera melakukan vaksinasi masal ke seluruh masyarakat tanah air, harus diimbangi upaya yang maksimal dalam mewujudkannya. Upaya konkret itu dapat dilakukan dengan pemberian edukasi secara masif di media, melakukan kampanye publik dan adanya jaminan kepada penerima vaksin. Disisi lain suksesnya program vaksinasi ini tidak hanya bergantung kepada pemerintah, semua elemen masyarakat diharapkan kontribusinya dalam hal ini terutama para pemuka agama. Wujud dari keterlibatan pemuka agama adalah dengan mengedukasi jemaat melalui mimbar tentang vaksin. Selain itu, pemuka agama juga harus memberi contoh dengan ikut divaksin, serta aktif mengcounter berita hoax agar dominasi berita faktual tentang vaksin menguasai lini massa di media sosial
Kontribusi Metode Bermain Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan Hasil Belajar Anak Sekolah Minggu
This article aims to determine the contribution of the play method in improving learning activities and learning outcomes for Sunday School children at the Indria level. Based on the results of field observations, it is known that the activities and learning outcomes of children are not considered good criteria. This is because during the learning process at Sunday Schools, especially at the Indria Level, Sunday School Teachers still apply conventional teaching methods, so that children become bored and pay less attention to what is being taught. This study used a classroom action research method involving 20 children as the research sample. There are two cycles used with four stages starting from planning the action, implementing the action, observing the action and reflecting. The results showed that by applying the play method, children\u27s learning activities increased and children\u27s learning outcomes were also good. ABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mengetahui adanya kontribusi dari metode bermain dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar anak Sekolah Minggu jenjang Indria. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa aktivitas dan hasil belajar anak belum termasuk kriteria yang baik. Hal ini disebabkan pada saat proses pembelajaran di Sekolah Minggu khususnya di Jenjang Indria, Guru Sekolah Minggu masih menerapkan cara mengajar yang konvensional, sehingga anak menjadi bosan dan kurang memperhatikan apa yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Tindakan kelas yang melibatkan 20 anak sebagai sampel penelitian. Ada dua siklus yang digunakan dengan empat tahapan yang dimulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode bermain, aktivitas belajar anak meningkat dan juga hasil belajar anak menjadi baik.This article aims to determine the contribution of the play method in improving learning activities and learning outcomes for Sunday School children at the Indria level. Based on the results of field observations, it is known that the activities and learning outcomes of children are not considered good criteria. This is because during the learning process at Sunday Schools, especially at the Indria Level, Sunday School Teachers still apply conventional teaching methods, so that children become bored and pay less attention to what is being taught. This study used a classroom action research method involving 20 children as the research sample. There are two cycles used with four stages starting from planning the action, implementing the action, observing the action and reflecting. The results showed that by applying the play method, children\u27s learning activities increased and children\u27s learning outcomes were also good. ABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mengetahui adanya kontribusi dari metode bermain dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar anak Sekolah Minggu jenjang Indria. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa aktivitas dan hasil belajar anak belum termasuk kriteria yang baik. Hal ini disebabkan pada saat proses pembelajaran di Sekolah Minggu khususnya di Jenjang Indria, Guru Sekolah Minggu masih menerapkan cara mengajar yang konvensional, sehingga anak menjadi bosan dan kurang memperhatikan apa yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Tindakan kelas yang melibatkan 20 anak sebagai sampel penelitian. Ada dua siklus yang digunakan dengan empat tahapan yang dimulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode bermain, aktivitas belajar anak meningkat dan juga hasil belajar anak menjadi baik
Konsep Hidup Kekal Menurut Pandangan Dunia Etnis Baliem, Papua Sebagai Potensi dan Krisis Bagi Kontekstualisasi Injil
This study reveals the Baliem ethnic concept of "eternal life" and how it relates to contextual gospel preaching (both potential and crisis). The study was conducted using a qualitative approach with a participant observer method supported by a study of a variety of relevant literature with a discussion of the concept of eternal life of Baliem people in Papua. As for the Baliem Society, Papua with a background of traditional societies with a worldview of animism has an eternal view of life which is lived out as an "ideal situation and condition" in the Nabelan-Kabelan myth and "an ideal person or figure" in the Naurekul myth. Through this view of eternal life, there is a "meeting point" and "difference" with the gospel message and Bible values. Because it is possible to be able to advocate and implement a contextual evangelistic approach for the Baliem people in Papua by touching and empowering their cultural values, Thus the Gospel and Christianity are not just a history or monument but are still present and change society while still paying attention to the integrity of the socio-cultural context, especially the people of Baliem, Papua.  ABSTRAKStudi ini mengungkapkan konsep etnis Baliem mengenai “hidup kekal†dan bagaimana kaitannya dengan pemberitaan Injil yang kontekstual (baik potensi maupun krisis). Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif melalui metode pengamatan partisipan yang didukung dengan kajian kepada beragam literatur yang relevan dengan pembahasan mengenai konsep hidup kekal orang Baliem di Tanah Papua. Masyarakat Baliem, Papua dengan latar belakang masyarakat tradisional dengan pandangan dunia animisme memiliki pandangan hidup kekal yang dihayati sebagai “situasi dan kondisi yang ideal†pada mitos atau legenda Nabelan-Kabelan dan “pribadi atau sosok yang ideal†dalam legenda Naurekul. Melalui pandangan mengenai hidup kekal seperti ini, maka terdapat “titik temu†maupun “perbedaan†dengan berita Injil dan nilai-nilai Alkitab. Karena itu memungkinkan untuk dapat menganjurkan dan melaksanakan pendekatan kontekstualisasi Injil bagi etnis Baliem di Papua dengan menyentuh, memanfaatkan dan memberdayakan nilai budaya etnis Baliem, Dengan demikian Injil maupun kekristenan bukan hanya akan menjadi sejarah atau monumen namun akan tetap hadir dan mengubahkan masyarakat dengan tetap memperhatikan keutuhan konteks sosial budaya, khususnya etnis Baliem, Papua
Church Education Strategies in Overcoming Syncretism in the Dayak Tribe of Punan Lisum
This research aims to find the appropriate strategy in overcoming syncretism in the lives of the Dayak Punan Lisum tribe so that their faith grows in the proper knowledge according to the Gospel. This research was conducted on the community in Muara Belinau Village, Tabang Districts, Kutai Kartanegata District, East Kalimantan. This study uses a qualitative approach with ethnographic methods. Data collection was carried out using interviews. The results showed that the Dayak Punan Lisum Christians in Muara Belianu Village still believed in particular objects considered to have power from God. Even though they have become Christians for decades, they still hold on to their old beliefs. This research shows syncretism in the Dayak Punan Lisum community. However, teaching, preaching, pastoral counseling, discipleship, and involvement in prayer groups positively changed faith beliefs from old beliefs to Christian beliefs. In addition, faith-building in society reduced syncretism in the life of confidence in the Dayak Punan Lisum tribe.  ABSTRAKTujuan penelitian untuk menemukan strategi yang tepat dalam upaya penanggulangan sinkretisme dalam kehidupan Suku Dayak Punan Lisum agar iman percayanya bertumbuh dalam pengetahuan yang benar sesuai dengan Injil. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat di Desa Muara Belinau, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegata, Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, pengamatan dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Kristen Suku Dayak Punan Lisum di Desa Muara Belianu masih memercayai pada benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kuasa dari pada Tuhan. Meskipun telah menjadi Kristen sudah usia puluhan tahun, namun masih berpegang pada kepercayaan lama mereka. Penelitian ini menunjukkan adanya sinkretisme dalam masyarakat Suku Dayak Punan Lisum. Melalui pengajaran, kotbah, konseling pastoral dan pemuridan serta kelompok doa memberikan kontribusi yang positif dalam perubahan kepercayaan iman dari kepercayaan lama kepada kepercayaan iman Kristen. Pembinaan iman di tengah-tengah masyarakat mampu mengurangi sinkretisme dalam kehidupan iman percaya Suku Dayak Punan Lisum
Theological Basis for Obedience to the Government During the Covid-2019 Pandemic in Indonesia
The Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pandemic continues to increase its spread. The government has made efforts to contain the space by enacting several health protocols by March 2020. However, many Indonesians have not followed through on this appeal, and this situation also occurs in the context of the church. The Covid-19 pandemic is predicted to subside at the end of August or early September 2020, but this has not been realized. The authors observe the phenomenon of failure to recognize this due to a lack of adherence to health protocols. Obedience is an important principle that needs to be understood and implemented by all Indonesian people, especially Christians and church leaders. This research used the descriptive method to identify the phenomenon to get to the main problem, namely the concept of obedience. This research got the theological formulation of obedience to the government, namely priestly service, political service, and submission to government policies that have justice and humanity values.  ABSTRAKPandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terus meningkat penyebarannya. Pemerintah telah melakukan upaya untuk mengatasi penyebaran dengan memberlakukan beberapa protokol kesehatan pada bulan Maret 2020, namun masih banyak masyarakat Indonesia belum menaati imbauan tersebut, dan situasi tersebut juga terjadi dalam konteks gereja. Pandemi Covid-19 diprediksi akan reda pada akhir Agustus atau awal September 2020, namun hal tersebut tidak terealisasi. Penulis mengamati fenomena gagalnya realisasi tersebut karena kurangnya ketaatan terhadap penerapan protokol kesehatan. Ketaatan adalah prinsip penting yang perlu dimengerti dan diimplementasikan oleh seluruh masyarakat Indonesia, secara khusus bagi umat Kristen dan para pemimpin gereja. Penelitian ini memakai metode deskriptif melakukan identifikasi fenomena untuk mendapatkan pokok permasalahan yaitu konsep ketaatan. Hasil penelitian menunjukkan formulasi teologis ketaatan kepada pemerintah yaitu pelayanan keimaman, pelayanan politis dan ketundukan kepada kebijakan pemerintah yang memiliki nilai keadilan serta kemanusiaan
The Church\u27s Contextual Mission to Poverty Problems in Indonesia
Poverty in Indonesia is a crucial problem that must be considered by various parties, including the church. However, the church often neglects this because the church is often preoccupied with its theological model that sides with wealth so that the existence of the poor is ignored. This makes the church\u27s mission neglected because it does not take the condition of the poor seriously. Using the phenomenological method, this article shows that poverty should be a severe concern in the missiological aspect of the church. In addition, the method of rhetorical criticism is used to show that the Bible also speaks of God\u27s care for the poor. The study results recommend that the church should have the courage to carry out missiological duties to the poor by putting the poor first and placing the poor as equals, who also receive the same salvation from God. Through this missiological task, the church will contribute to alleviating poverty. ABSTRAKKemiskinan di Indonesia merupakan masalah krusial yang harus diperhatikan oleh berbagai pihak, termasuk gereja. Namun seringkali gereja mengabaikan hal ini, karena gereja seringkali asyik dengan model teologinya yang berpihak pada kekayaan, sehingga keberadaan orang miskin diabaikan. Hal ini menjadikan tugas misiologi gereja terbengkalai karena tidak memperhatikan dengan serius keadaan orang miskin. Dengan menggunakan metode fenomenologi artikel ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan harus menjadi perhatian yang serius dalam aspek misiologi gereja. Di samping itu digunakan juga metode kritik retorik untuk menunjukkan bahwa Alkitab pun berbicara tentang kepedulian Allah terhadap orang miskin. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa gereja harus berani menjalankan tugas misiologi kepada orang-orang miskin, dengan cara mendahulukan dan menempatkan orang miskin sebagai sesama yang sejajar, yang juga mendapatkan keselamatan yang sama dari Allah. Melalui tugas misiologi tersebut, gereja akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan
Contextualization of the Bejopai Pattern of the Kubin Dayak Tribe as a Contextual Discipleship Effort in West Kalimantan
Dayak Kubin tribe has a culture that still survives to this day, namely Bejopai culture. Bejopai is an activity of the Dayak Kubin community that is generally done by working in the areas. Through the Bejopai culture conducted by the Dayak Kubin tribe in West Kalimantan, the author observes that contextual discipleship can be done. The problem formulation in this study is how the purpose of this writing is how the contextual discipleship approach in Dayak Kubin tribe through Bejopai culture in West Kalimantan? The aim is to present the contextual discipleship approach in the Dayak Kubin tribe through Bejopai Culture in West Kalimantan. The qualitative research method using qualitative methods is to make observations, interviews, or study documents. The locus of this study is in Sungai Bakah Village. Through the discussion results, it was found that contextual discipleship can be applied through persuasive communication approaches, patterns of working while telling stories, and discipleship to discipleship. The conclusion is that Bejopai culture can be used as a medium to do contextual discipleship that is quite effective in the Dayak Kubin tribe.  ABSTRAKSuku Dayak Kubin memiliki budaya yang masih bertahan hingga saat ini yaitu budaya Bejopai. Bejopai ialah suatu aktivitas masyarakat Dayak Kubin yang umumnya dilakukan di ladang dengan bekerja di ladang bersama-sama. Melalui budaya Bejopai yang dilakukan oleh suku Dayak Kubin yang ada di Kalimantan Barat tersebut, penulis mengamati bahwa dapat dilakukan sebuah pemuridan secara kontekstual. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana pendekatan pemuridan kontekstual dalam suku Dayak Kubin melalui budaya Bejopai di Desa Sungai Bakah? Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memaparkan pendekatan pemuridan kontekstual dalam suku Dayak Kubin melalui Budaya Bejopai di Kalimantan Barat. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan melakukan pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen. Penulis juga menggunakan pendekatan metode etnografi, dengan mengamati keseharian masyarakat Dayak Kubin yang berkaitan dengan aspek budaya masyarakat tersebut. Lokus dari penelitian ini yaitu di Desa Sungai Bakah. Melalui hasil pembahasan yang penulis lakukan, diketahui bahwa pemuridan kontekstual dapat diterapkan melalui pendekatan komunikasi persuasif, pola bekerja sambil bercerita, dan memuridkan untuk memuridkan. Kesimpulan dari penelitian ini ialah budaya Bejopai dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan pemuridan secara kontekstual yang cukup efektif dalam konteks suku Dayak Kubin