Kapata Arkeologi
Not a member yet
316 research outputs found
Sort by
Studi Konseptual Museum Negeri Sirisori Islam
Maluku provincial government has the local characteristic as represented in the “pemerintahan negeri” as a unified system of customary communities in Maluku province government areas. It gives an understanding that the land administration system has implications for aspects of customary law relevant to understanding the history of the culture of a country. Therefore, in the context of the preservation of cultural resources, land administration is the collective memory of the people of Maluku that must be preserved. In regard to the preservation of cultural resources, research conducted in the State Islamic Sirisori is expected to summarize the totality of the cultural history of the country Sirisori Islam. Further more, the results of this study is a conceptual study on the establishment of the museum Sirisori Islamic country. Based on the conceptual study, an alternative form of museum management can adapt the form of eco-museum as an attempt to preserve the cultural resources that existin Sirisori Islamic State. The themes that can be displayed in a museum presentation; State History Sirisori Islam, Islamic tradition Sirisori State Society, and the State Archaeological Collection Sirisori Islam.Provinsi Maluku memiliki karakteristik pemerintahan yaitu sistem Pemerintahan Negeri sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam wilayah pemerintahan Provinsi Maluku. Hal ini memberi pemahaman bahwa sistem pemerintahan negeri memiliki implikasi pada aspek hukum adat yang terkait dengan pemahaman sejarah budaya suatu negeri. Oleh karena itu, dalam konteks pelestarian sumber daya budaya, pemerintahan negeri merupakan memori kolektif masyarakat Maluku yang harus dilestarikan. Dalam kaitan pelestarian sumberdaya budaya tersebut, penelitian yang dilakukan di Negeri Sirisori Islam ini diharapkan dapat merangkum totalitas sejarah budaya negeri Sirisori Islam. Selanjutnya, hasil penelitian ini merupakan kajian konseptual pendirian museum negeri di Sirisori Islam. Berdasarkan kajian konseptual tersebut, alternatif bentuk pengelolaan museum dapat mengadaptasi bentuk eco-museum sebagai upaya untuk melestarikan sumberdaya budaya yang ada di Negeri Sirisori Islam. Tema-tema yang dapat ditampilkan dalam penyajian museum diataranya; Sejarah Negeri Sirisori Islam, Tradisi Masyarakat Negeri Sirisori Islam, dan Koleksi Arkeologi Negeri Sirisori Islam.
Arkeologi Kepulauan Maluku
Archaeological cultural resources in the Maluku Islands consist of a variety of aspects, including Prehistoric, Historic, Islamic, colonial and Ethnoarchaeology. These aspects are categorized in helping the mapping of archaeological research in the Maluku Islands. Functional structural archaeological remains integrated in the cultural unity of the social system as a symbolic interaction. Maluku Archipelago covers the two areas, namely Maluku and North Maluku. The problem this paper is how archaeological resources can show the interpretation of symbolic interaction. Archaeological remains (cultural resources); dolmen, caves, castles, old country/old settlement, menhirs, sultanate, Kapata / folklore is the basic structure of cultural understanding in the Maluku Islands. The goal is to know and understand the remains, archaeological remains were able to reconstruct the culture of human society Maluku Islands. Approach to research using library study. From the research that archaeological cultural resources is a symbolic interpretation of the interaction of a group of human society in a particular area. Sites sampled studies prove that archaeological cultural resources as a reflection of the people of Maluku Generally and certain areas in the Moluccas in particular.Sumberdaya budaya arkeologi di Kepulauan Maluku terdiri dari berbagai aspek, diantaranya Prasejarah, Sejarah, Islam, Kolonial dan Etnoarkeologi. Aspek-aspek tersebut dikategorisasikan untuk memudahkan pemetaan penelitian arkeologi di Kepulauan Maluku. Struktural fungsional tinggalan-tinggalan arkeologi terintegrasi dalam kesatuan sistem sosial budaya sebagai interaksi simbolik. Kepulauan Maluku berarti kita berbicara dalam dua wilayah, yaitu Maluku dan Maluku Utara. Permasalahan penulisan ini adalah bagaimana sumberdaya budaya arkeologis dapat menunjukan interprestasi interaksi simbolik. Tinggalan-tinggalan arkeologis (sumberdaya budaya); dolmen, gua, benteng, negeri lama/permukiman lama, menhir, kesultanan, kapata/folklore adalah struktur dasar pemahaman akan kebudayaan di Kepulauan Maluku. Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memahami tinggalan-tinggalan arkeologis mampu merekonstruksi kebudayaan masyarakat manusia Kepulauan Maluku. Pendekatan penelitian menggunakan studi kepustakaan. Dari hasil penelitian bahwa sumberdaya budaya arkeologi merupakan suatu interprestasi interaksi simbolik suatu kelompok manusia masyarakat pada daerah tertentu. Situs-situs kajian penulis yang menjadi sampel membuktikan bahwa sumberdaya budaya arkeologi sebagai cerminan masyarakat Maluku Umumnya dan daerah tertentu di Maluku pada khususnya
Gerabah Situs Wayputih sebagai Komoditi Barter di Kerajaan Hoamoal
The site of Wayputih settlement in the history and traditions of the various sources mentioned as the part of the Kingdom Hoamoal region. This study aims to clarify the role of settlement Wayputih sites as the region as one of the central region of the kingdom Hoamoal clove producer. In addition it describes the process of trade and exchange between commodities produced by commodity from outside the area. This study uses a survey to see traces of settlements based on primary data pottery artifacts, then perform quantitative and qualitative analysis of data to explain the use and development of the system of commodity exchanges in the region. The results of the study, found the distribution of pottery with a high quantity in the site area. It can be concluded that based on the intensity of pottery and not produced in the local area, then to obtain it from outside the region to barter with cloves produced in the local area. Trade and exchange of pottery with cloves in Wayputih, support the development of trade in the territory of the Kingdom Hoamoal.Situs pemukiman Wayputih dalam berbagai sumber sejarah maupun tradisi tutur merupakan wilayah pemerintahan dari Kerajaan Hoamoal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan permukiman situs Wayputih sebagai wilayah sebagai salah satu wilayah pusat penghasil cengkeh bagi kerajaan Hoamoal. Selain itu menggambarkan proses perdagangan dan pertukaran antara komoditi yang dihasilkan dengan komoditi dari luar wilayah. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk melihat jejak-jejak permukiman berdasarkan data utama artefak gerabah, selanjutnya melakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif data untuk menjelaskan penggunaan dan perkembangan sistem pertukaran komoditi di wilayah tersebut. Hasil penelitian, ditemukan sebaran gerabah dengan kuantitas yang tinggi di wilayah situs tersebut. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan intensitas gerabah dan tidak dihasilkan di wilayah setempat, maka untuk memperolehnya dari wilayah luar dengan melakukan barter dengan cengkeh yang dihasilkan di wilayah setempat. Perdagangan dan pertukaran gerabah dengan cengkeh di Wayputih, mendukung perkembangan niaga di wilayah Kerajaan Hoamoal
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru
The Aru islands is one of the key regions in the cultural historical study of Southeast Asia and Australia. This major role is represented at least by two aspects: firstly, the paleogeographical character of the Aru Islands as an extension of Sahul land that included New Guinea and Australia and secondly the role as a resource regio for exotic commodities such as pearl and bird of paradise. With this specific profile, Aru islands is potential to be studied archaeologically. Few archaeological studies had been initiated over last decade but still not balance with the colossal profile of regoin’s cultural history. This study tries to contribute in improving such condition by focusing on the archeological potential in the kobror island. As an initial study, this research has adopted the reconnaissance survey as a key method to collect data. Referential study also has been adapted to reconigze the historical background of the region. This study found that two major aspects : firstly, the prehistotic character of the archaeological profile of the region as represented by the presence of a rock art sites and secondly, living tradition as reflected by the representation of cave burial that associated with the application of boat as a symbol and traditional religion.Kepulauan Aru adalah salah satu kawasan terpenting dalam studi sejarah budaya di Asia Tenggara dan Australia. Peran penting ini setidaknya diwakili oleh dua aspek: pertama, karakter paleogeografi Kepulauan Aru yang merupakan bagian dari perluasan daratan besar Sahul yang mencakup juga Papua dan Australia serta kedua, peran khas wilayah ini sebagai salah satu kawasan sumber komoditi eksotik seperti mutiara dan bulu burung cendrawasih. Dengan profil yang sedemikian kepulauan ini sejatinya memiliki potensi arkeologis yang cukup raya untuk dikaji. Beberapa penelitian arkeologis pada tahap mula memang telah dilaksanakan. Namun dirasa belum berbanding lurus dengan luasnya cakupan sejarah budaya wilayah ini. Tulisan ini mencoba untuk mengisi ruang dimaksud dengan memberi perhatian pada tinjauan atas potensi arkeologis yang ada di Pulau Kobror Kepulauan Aru. Sebagai sebuah kajian yang bersifat inisiasi, pendekatan yang digunakan adalah survei penjajakan guna merekam segenap data arkeologis yang ada di wilayah Kobror. Kajian pustaka juga dilakukan untuk menemukan kerangka historis wilayah kajian. Hasil penelitian menemukan aspek penting dalam tinjauan sejarah budaya di Kepulauan Aru: pertama adalah jejak budaya prasejarah yang teramati lewat situs lukisan cadas dan kedua, ragam tradisi berlanjut sebagaimana terekam dalam situs penguburan kuno yang tekait dengan aplikasi perahu sebagai simbol dan religi tradisional
Salib di Ujung Timur Nusa Lease: Gereja Ebenhaezer, Tinggalan Kolonial di Desa Sila Leinitu Kecamatan Nusalaut
Not many churches in Indonesia, which still retain the authenticity of nature since the church was founded. Despite being the oldest church in Ambon Islands Lease, Ebenhaezer Church in the village of Sila Leinitu Nusa Laut sub-district which was built in 1715, is one of the many churches in the Moluccas which still retains the authenticity of nature, even after repeated experience of building renovations. This research aims to describe the architecture and layout of the church. In addition, this paper describes the findings of worship fixtures in the church hall which is now very rare in other churches in the Moluccas.Tidak banyak gereja di Indonesia yang masih mempertahankan sifat keaslian sejak gereja tersebut didirikan. Meskipun menjadi gereja tertua di Kepulauan Ambon Lease, Gereja Ebenhaezer di desa Sila Leinitu kecamatan Nusa Laut yang dibangun pada tahun 1715, adalah salah satu dari sekian banyak gereja di Maluku yang masih mempertahankan sifat keaslian tersebut, walau telah beberapa kali mengalami renovasi bangunan. Penulisan ini bertujuan untuk menggambarkan teknik arsitektur dan tata ruang gereja. Selain itu juga, penulisan ini menjelaskan tentang hasil temuan perlengkapan peribadatan di dalam ruang gereja yang kini sudah sangat jarang ditemui pada gereja lainnya di Maluku
Strategi Subsistensi dan Pemilihan Lokasi Hunian Prasejarah di Situs Yomokho, Sentani
The research in the Sentani was concucted in the Yomokho site to understand the strategy of human occupation and subsistence. Reconesaince survey and excavation was adopted in this research. Focus group discussion was also adopted in this research to test the most adoptable heritage socialication for the school students. Pottery is the main artifacts found in this research. The analysis also found that the past communities in the Yomokho site lived the traditional house. The main factor to consider this site as the place to live in the past was based on the location that nearby the lake and sago forest.Penelitian di Kawasan Danau Sentani dilakukan di Situs Yomokho untuk mengetahui strategi pemilihan tempat tinggal manusia pendukung budaya Situs Yomokho, dan pola subsistensi. Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan survei permukaan tanah dan ekskavasi. Hasil ekskavasi di Situs Yomokho diperoleh temuan berupa fragmen gerabah polos maupun hias. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa fragmen gerabah hanya ditemukan di lapisan tanah bagian atas yang berwarna hitam. Kondisi Bukit Yomokho berupa lereng bukit yang miring. Diasumsikan manusia pendukung Situs Yomokho tinggal di rumah panggung, tidak semua bagian bukit dipilih untuk mendirikan tempat tinggal, tetapi disesuaikan dengan kondisi lereng bukit dan kondisi tanah. Pemilihan Situs Yomokho sebagai hunian masa lalu didasarkan pada lokasinya yang dekat dengan danau dan didukung oleh keberadaan hutan sagu