Kapata Arkeologi
Not a member yet
    316 research outputs found

    Tinggalan Perang Dunia II Dan Konseptualisasi Museum di Morotai

    Get PDF
    Morotai Island is one of the locations which left many traces of World War II in Indonesia. This suggests that Morotai Island has a strategic geographical position for the two military forces involved at the time. In this context, the legacy of World War II in Morotai has important historical value to be preserved, one of them through the establishment of a museum. This study aimed to develop appropriate thematic concept for presentation of the museum. Literature study and field observations conducted to obtain data related to the historical and archaeological remains exist in the study area. The results of this study, obtained information about the actual condition of archaeological remains exist in Morotai, as well as the formulation of the concept of thematic presentation of the exhibition. Thus, early studies of this thematic concepts can provide the storyline, so as to give weight to the information of the existing archaeological remains in the Morotai.Pulau Morotai merupakan salah satu lokasi yang banyak meninggalkan jejak Perang Dunia II di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Pulau Morotai memiliki posisi geografis yang strategis bagi dua kekuatan militer yang terlibat saat itu. Dalam konteks inilah, peninggalan Perang Dunia II yang ada di Morotai memiliki nilai sejarah yang penting untuk dilestarikan, salah satunya melalui pendirian sebuah museum. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun konsep tematik yang tepat bagi penyajian museum. Studi pustaka dan observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh data terkait dengan sejarah dan tinggalan arkeologi yang ada di lokasi penelitian. Hasil kajian ini, diperoleh informasi tentang kondisi aktual tinggalan arkeologi yang ada di Morotai, serta rumusan tentang konsep tematik penyajian pameran. Dengan demikian, studi awal konsep tematik ini dapat memberikan alur cerita atau storyline, sehingga mampu memberikan bobot informasi tinggalan arkeologi yang ada di Morotai

    Cover Vol. 9 No. 1 (2013)

    No full text

    Fungsi Bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam Bagi Suku Yali dalam Novel Penguasa-penguasa Bumi Karya Don Richardson

    Get PDF
    This study discusses the function of the building of Dokwi Vam and Kembu Vam contained in the novel-Sovereign Ruler of the Earth works Don Richardson. In general, this novel tells the story of the life of Stan Dale and Yali tribe. Stan Dale is a missionary who served in Papua. He struggled to introduce Christianity to the Yali tribe. This study uses the description of the technical literature. This research resulted in a description of the function of the building of Dokwi Vam and Kembu Vam contained in the novel Lord of-Ruler of the Earth works Don Richardson. Dokwi Vam used as a museum (where the old stuff) to worship as they still follow animism, while the Kembu Vam serves as a temple / animism worship in Yali tribe.Penelitian ini membahas tentang fungsi bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam yang terdapat dalam novel Penguasa-Penguasa Bumi karya Don Richardson. Secara umum, novel ini bercerita tentang kehidupan Stan Dale dan suku Yali. Stan Dale adalah seorang missionaris yang melayani di Tanah Papua. Ia berjuang untuk memperkenalkan agama Nasrani kepada suku Yali. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan teknik studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan deskripsi tentang fungsi bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam yang terdapat dalam novel Penguasa-Penguasa Bumi karya Don Richardson. Dokwi Vam digunakan sebagai museum (tempat barang-barang kuno) untuk penyembahan karena mereka masih menganut kepercayaan animisme, sedangkan Kembu Vam berfungsi sebagai rumah peribadatan/penyembahan dalam kepercayaan animisme suku Yali

    Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis

    Get PDF
    The Meaning of Tuhaha community’s grouping based on archaeological remains can not be separated from one another, due to the partial temporal nature. This study used a literature study, in order to examine the issue of research, how society grouping Tuhaha State, based on archaeological remains. Archaeological remains is meant here is a dolmen, menhirs and the old village/ancient settlements. The objective of this study is to know and understand the patterns of grouping Tuhaha State community based archaeological remains. The results showed that grouping State community/village Tuhaha archaeological remains contextually based culture has symbolic interaction, integration and socio-cultural systems on the basis of grouping patterns in the structure of the dolmen, menhirs(micro scale) and Old village Huhule (macro scale). Huhule as anintegral unity of the social system, in which there are parts of the system dolmen, menhirs, as well as the concepts of cultural mapping (monodualisme). Integration between the dolmen of five, symbolizing Patalima community groups, and soa of nine (patasiwa).Pemaknaan pengelompokan  masyarakat Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, disebabkan oleh sifat temporal parsial. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan, guna menelaah permasalahan penelitian, yaitu bagaimana pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha, berdasarkan tinggalan arkeologi. tinggalan arkeologis yang dimaksudkan di sini adalah dolmen, menhir serta kampung lama/permukiman kuno. Tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami pola pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengelompokan masyarakat Negeri/Desa Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis secara kontekstual budaya memiliki hubungan interaksi simbolik, integrasi dan sistem sosial budaya atas dasar pola pengelompokan pada struktur dolmen, menhir (skala Mikro) dan kampung Lama Huhule (skala Makro). Huhule sebagai kesatuan sistem sosial integral, yang di dalamnya terdapat bagian sistem dolmen, menhir, serta konsep-konsep pemetaan budaya (monodualisme). Integrasi antara dolmen berjumlah lima, melambangkan kelompok masyarakat patalima, dan soa berjumlah sembilan (patasiwa)

    Preface Vol. 9 No. 2 (2013)

    No full text

    Perdagangan Internasional: Pengaruhnya Terhadap Perubahan Sistem Nilai Budaya Orang Maluku

    Get PDF
    AbstrakKeterlibatan Orang Maluku dalam percaturan perdagangan internasional dan perjumpaan dengan berbagai pedagang asing telah membawa perubahan dalam peradaban Orang Maluku. Dari para pedagang asing ini para Sultan dan raja-raja memperoleh pengetahuan tentang: agama, perdagangan, pelayaran maupun berbagai teknologi baru. Perdagangan internasional membawa dampak yang cukup penting bagi kehidupan sosial budaya Maluku, karena menjadi ruang perjumpaan berbagai Negara dengan latar budaya yang berbeda-beda dan berpengaruh terhadap budaya asli Maluku, namun identitas Maluku tetap terjaga, yakni ciri kebudayaan monodualitas. Dalam kebudayaan monodualistis kedua kelompok harus tetap ada dan satu harus memberikan kemungkinan kepada yang lain untuk tetap hidup, sebab kalau satu tidak ada maka keberadaan yang lain tidak berarti. Dalam waktu bersamaan juga tumbuh ikatan-ikatan persaudaraan yang didasarkan pada nilai tolong menolong antar sesama. Hal ini lahir sebagai upaya penegakan keseimbangan baru dalam perbedaan untuk peredam kekerasan dan keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. AbstractThe involvement of the Moluccan in the international trade and the interaction with the foreign traders has brought the transformation in the civilization of tbe Moluccas. Through these foreign traders sultans and the kings achieving knowledge on religion, trade, seafaring and new technologies. The international trade has created major impacts on the social and cultural life in the moluccas asnit save as a interaction space for countries with variois background and has influenced the original cultural of the Moluccas although the identity of the Moluccas is the existed with the monodualism characteristic. In the perspective of the monodualistic culture every group has to still exist and must depend one another to support every part. As the meaning of one always depends on the existence of the other. In the same time the brotherhood relationship has grew based on tbe mutual benefit principal. This phenomenom was existed as an effort to create the new balance in difference to control the conflict and violence and  as a good will to live in peace

    Cover Vol. 8 No. 2 (2012)

    No full text

    Preface Vol. 8 No. 1 (2012)

    No full text

    Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku

    Get PDF
    Penelitian hunian prasejarah di Jasirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Pulau Ambon dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan permukiamn prasejarah di situs Morela. Tujuan dan manfaat daripada penelitian ini, antara lain : 1) Mendata kembali dan menggali potensi peninggalan arkeologi yang terdapat di Situs Negeri Morela. 2) Mengetahui kronologi dan konteks temuan arkeologi  Negeri Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang ilmu, khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara hubungan temporal parsial situs-situs di Morela. Hasil penelitian didapat dengan menggunakan teknik pengumpulan data; wawancara, survei, telaah pustaka dan ekskavasi.  Prehistoric residential research at Jasirah Leihitu Central Maluku Ambon Island conducted to determine how the development on the site of prehistoric settlement at Morela. The purpose and benefits than this study, among other things: 1) Collecting back and explore the potential of archaeological relics contained in the Site Morela State. 2) Knowing the chronology and context of archaeological findings and the overall context of State Morela findings with other sites around. 3) Knowing the results of archaeological remains there. 4) Useful for advanced research in all fields of science, especially Archaeology. The results showed that there was a change in the development of settlements, from the settlements in the mountains, then down to the coast and settlement patterns that show the macro pattern of partial temporal relationship in Morela sites. Research results obtained by using the technique of data collection; interviews, surveys, literature review and excavation

    Appendix Vol. 8 No. 2 (2012)

    No full text

    162

    full texts

    316

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kapata Arkeologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇