Kapata Arkeologi
Not a member yet
316 research outputs found
Sort by
Pola Hias Gerabah Pada Situs-Situs di Kawasan Danau Sentani, Papua
Pottery is a type of man-made objects made with raw materials burnt clay, pottery has been known since prehistoric times. Pottery not only used as a fixture of daily needs are also often used as a burial container or as stock tomb. Fragments of pottery were found in the region of Lake Sentani rich decorative patterns including patterns of decorative lines and waves. The purpose of this study was to determine the decorative patterns found on pottery found at sites in the region of Lake Sentani and to know the techniques of pottery were found at sites in the region of Lake Sentani. The method used in this research is the method of data collection and data processing methods. Data collection was performed by means of a survey and excavation, while the data processing is done by classifying the findings for later analysis. The analysis was conducted to see the decorative patterns found on pottery and decorative techniques are used.Gerabah adalah benda jenis buatan manusia yang dibuat dengan bahan baku tanah liat yang dibakar, gerabah sudah dikenal sejak jaman prasejarah. Gerabah selain digunakan sebagai perlengkapan keperluan sehari-hari juga seringkali digunakan sebagai wadah penguburan atau sebagai bekal kubur. Fragmen gerabah yang ditemukan di kawasan Danau Sentani kaya akan pola hias diantaranya pola hias garis dan gelombang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola hias yang terdapat pada gerabah yang ditemukan pada situs-situs di kawasan Danau Sentani dan untuk mengetahui teknik pembuatan gerabah yang ditemukan pada situs-situs di kawasan Danau Sentani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data dan metode pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei dan ekskavasi sedangkan pengolahan data dilakukan dengan cara mengklasifikasi temuan untuk kemudian dianalisis. Analisis dilakukan untuk melihat pola hias yang terdapat pada gerabah dan teknik hias yang digunakan
Kepulauan Aru dan Integrasi Kebangsaan dalam Perspektif Sejarah dan Budaya
National integration is a central issue in the context of the management of the foremost islands in Indonesia. Aru Islands is one of the areas in Moluccas which became the region’s leading Indonesian island. This paper aims to address issues related to the Aru Islands national integration as one of the leading regions in Indonesia. Discussions focused on the perspective of history and culture as one of the approaches in addressing the issue of national integration. Therefore, use literature to illustrate the historical and cultural Aru Islands. The results of the discussion of an understanding that the similarity of historical and cultural background of the Aru Islands and surrounding areas provide awareness of the importance of national integration in the management of the outer islands in Indonesia.Integrasi kebangsaan merupakan isu sentral dalam konteks pengelolaan pulau terdepan di Indonesia. Kepulauan Aru adalah salah satu wilayah di Maluku yang menjadi kawasan bagi pulau terdepan di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan terkait isu integrasi kebangsaan bagi Kepulauan Aru sebagai salah satu wilayah terdepan di Indonesia. Pembahasan difokuskan pada perspektif sejarah dan budaya sebagai salah satu pendekatan dalam menjawab isu integrasi kebangsaan. Oleh karena itu, digunakan studi pustaka untuk memberi gambaran historis dan kultural Kepulauan Aru. Hasil pembahasan memberi pemahaman bahwa kesamaan latar belakang historis dan kultural Kepulauan Aru dan sekitarnya memberi kesadaran akan pentingnya integrasi kebangsaan dalam pengelolaan pulau-pulau terdepan di Indonesia
Sistem Perbentengan dalam Jaringan Niaga Cengkih Masa Kolonial di Maluku
In numbers of colonial archaeological research conducted by Balai Arkeologi Ambon, fort has been identified as the main archaeological remains in the Moluccas. The inventory shown that forts distributed in almost every islands of the Moluccas.Various research that has been conducted in the past are still unable to explain the historical context in this region. This situation was mainly based on the fact that these research only identify singluar fort in one area and not the larger spatial context. Adopting the historical-arcaheological perspective,this paper tries to understand the historical context of the forts spatial distribution in the moluccas in the relation to the spice monopoly in the region. This research found that the success of the spice trade monopoly is related to the fortification system developed by VOC in this region. Rangkaian hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon khususnya bidang arkeologi kolonial menempatkan benteng sebagai salah satu tinggalan arkeologi yang dominan di wilayah Maluku. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa bangunan benteng tersebar di hampir setiap pulau di Maluku. Berbagai hasil penelitian yang bersifat eksploratif tersebut dirasakan tidak mampu menjelaskan konteks sejarah sebaran benteng yang ada di wilayah ini. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian yang dilakukan hanya mengidentifikasi bangunan benteng dalam suatu daerah sehingga sebaran benteng tidak dipandang sebagai satu kesatuan konteks ruang wilayah tertentu. Melalui perspektif arkeologi-sejarah, tulisan ini berupaya memperoleh gambaran tentang konteks sejarah sebaran benteng khususnya dalam kaitannya dengan masa monopoli cengkih di Maluku. Dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa keberhasilan sistem monopoli cengkih masa kolonial di Maluku tidak lepas dari sistem perbentengan yang telah dibangun oleh Belanda (VOC) sejak awal penguasaan mereka di wilayah ini
Survei Arkeologis di Kawasan Halmahera Bagian Tengah
Halmahera is one main island in the northeast region of Wallacea. Having a uniquely environmental profile, Halmahera also serves as a home for a long cultural historical process of this region. Including for archaeological studies. Numbers of preliminary studies have been conducted to understand the dynamic of region’s culture in the past. Unfortunately, the quantity and the depth of these studies have not equivalent to the colossal potential of Halmahera’s culture history. This research is a part of the efforts to contribute in completing our knowledge on the dynamics of culture history in Halmahera. Focus of this research is to identify the archaeological potential in the geographic area of Central Halmahera. The opening of the large scale nickel mines in this region which is potentially threaten the preservation of the cultural heritage is the main consideration in chosing the research locus. Prelimenary survey has been adopted as an approach in this research. This study found that the region of Central Halmahera is a high potentially area for archaeological research according to the large coverage of the karst area in this region. Rescue and preservation action of sites in the mining area is absolutely necessary in order to maintaining the existence of all cultural heritage in the region.Halmahera merupakan salah satu daratan utama di timur laut kawasan Wallasea. Tidak hanya memiliki profil lingkungan yang khas, Halmahera juga merupakan rumah bagi proses panjang sejarah budaya kawasan. Termasuk bagi studi arkeologis. Berbagai kajian awal telah dilakukan untuk memahami dinamika budaya masa lalu di wilayah ini. Meski demikian kuantitas dan kedalamannya kiranya belum berbanding lurus dengan potensi raya sejarah budaya Halmahera sebagai sebuah kawasan. Kajian ini merupakan bagian dari upaya dalam berkontribusi melengkapi pengetahuan terkait dinamika sejarah budaya di wilayah Halmahera. Fokus penelitian diarahkan untuk menemukan segenap potensi arkeologis dalam lingkup geografis Halmahera Bagian Tengah. Pembukaan tambang nikel berskala besar di wilayah ini yang mengancam kelestarian warisan budaya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penentuan lokus. Survei penjajakan diadopsi sebagai metode dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa wilayah Halmahera Tengah memiliki potensi tinggi secara arkeologis mengacu pada bentang luas kawasan karst yang potensial sebagai hunian masa lalu dan segenap jejak tradisi yang masih melekat dalam keseharian masyarakat. Tindakan penyelamatan dan pelestarian atas situs-situs dalam pertambangan nikel mutlak diperlukan untuk menjaga eksistensi segenap warisan budaya dalam kawasan