Jurnal TIN Universitas Tanjungpura
Not a member yet
163 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI KEKUATAN TARIK PRODUK DRONE PROPELLERS BERBAHAN MATERIAL FILAMENT PETG PADA PROSES 3D PRINTING FDM DENGAN METODE RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM)
Kerusakan produk drone propellers sering terjadi dan umumnya tidak diperbaiki melainkan diganti dengan komponen baru. Drone propellers biasanya berbahan karbon serat berupa material mahal dan sulit didapatkan. PETG berupa filament yang cocok untuk pencetakan komponen mekanis, tahan bahan kimia dari jenis filament umum lainnya serta mudah didapat dan murah. Namun, penentuan kombinasi parameter yang salah terhadap filament PETG merupakan hal yang sering terjadi hingga mengakibatkan kegagalan cetak di proses 3D printing menyebabkan lemahnya kekuatan tarik pada produk. Tujuan penelitian guna mencegah kegagalan pencetakan tersebut dengan pengoptimalan parameter pencetakan filament PETG serta mendapatkan alternatif produk drone propellers yang lebih murah berdasarkan material PETG terhadap proses 3D printing FDM bermetode RSM. Metodologi penelitian dengan menemukan rancangan percobaan parameter awal yakni nozzle temperatures, printing speeds dan layer thickness. Kemudian diolah dengan metode RSM di Minitab, guna mendapat kumpulan parameter spesimen pengujian tarik, berdasarkan standard ASTM D638. Didapat nilai response berupa elastic modulus dari masing-masing spesimen. Diolah data tersebut dengan ke Minitab untuk mendapat hasil penelitian pengolahan data parameter dalam bentuk regresi, ANOVA, plots dan optimal design dengan hasil variabel independen paling berpengaruh, kombinasi parameter optimal terbaik dan kemampuan elastic modulus tertinggi. Pencetakan drone propellers dari hasil parameter optimal yang kemudian dilakukannya pengujian penerbangan untuk menguji kualitas kelayakan propellers untuk digunakan, berdasarkan standard ASTM F2506. Hasil variabel parameter independen paling pengaruh dari penelitian yaitu parameter layer thickness. Kombinasi parameter berdasarkan hasil contour plots yang dengan ditetapkannya hold values tertentu akan nilai tertinggi elastic modulus sebesar >0,125 Gpa. Dan, hasil kombinasi parameter optimal terbaik yakni nozzle temperature 245oC, printing speed 35 mm/s dan layer thickness 0,25 mm. Diterapkan hasil parameter optimal tersebut untuk pencetakan drone propellers. Penelitian menunjukkan propellers print dapat dinyatakan sebagai produk alternatif terhadap produk drone propellers dengan biaya yang lebih murah berdasarkan material yang digunakan dari produk original. Kata kunci: 3D Printing, Drone Propellers, Kekuatan Tarik, Parameter, PETG, Response Surface Methodolog
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DAN PENENTUAN KEY PERFORMANCE INDICATORS DENGAN METODE PERFORMANCE PRISM, AHP, OMAX, SERTA TLS DI INDOSAT OOREDOO HUTCHISON SALES AREA PONTIANAK
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) adalah salah satu perusahaan penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi di Indonesia yang menawarkan berbagai layanan komunikasi, multimedia, internet, dan komunikasi data merek IM3. Dalam menghadapi persaingan di industri telekomunikasi yang semakin sengit, penting bagi Indosat Ooredoo Hutchison untuk melakukan pengukuran kinerja yang menyeluruh guna mengevaluasi dan meningkatkan kinerjanya. Adapun kondisi kinerja perusahaan saat ini dinilai tidak optimal. Hal ini terindikasi dari catatan revenue bulanan perusahaan yang tidak mencapai target yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan, bahkan tidak mencapai angka forecast yang telah diramalkan berdasarkan kapabilitas perusahaan. Penelitian ini mengadopsi metode Performance Prism untuk melakukan pengukuran kinerja yang komprehensif. Metode ini mempertimbangkan lima aspek penting, yaitu satisfication, strategy, process, capabilities, dan contribution, untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai kinerja perusahaan. Selanjutnya, menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) guna menentukan bobot kepentingan masing-masing Key Performance Indicators (KPI). Hasil pembobotan KPI kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) dan Traffic Light System (TLS) untuk mengevaluasi tingkat kinerja perusahaan secara keseluruhan dan mengidentifikasi indikator yang perlu diperbaiki. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh hasil pengukuran kinerja yang komprehensif di Indosat Ooredoo Hutchison Sales Area Pontianak. Hasil penelitian ini meliputi evaluasi kinerja perusahaan secara menyeluruh berdasarkan masing-masing perspektif performance prism dari tiap stakeholder perusahaan yang disusun dalam tujuan strategis yang ingin dicapai. Tiap KPI yang diidentifikasi dari tujuan strategis diukur pembobotan menggunakan AHP dan diukur performanya saat ini menggunakan OMAX dan TLS. Hasil pengukuran kinerja yang dilakukan menunjukkan tiga KPI dengan performa yang kurang saat ini dan memiliki urgensi untuk segera dilakukan perbaikan dimana rekomendasi program yang dapat dijalankan diantaranya program bonus paket, boosting incentive, dan pemasangan signboard guna meningkatkan performance perusahaan IOH SA Pontianak..Kata kunci: Pengukuran kinerja, Performance prism, AHP, OMAX, TL
PENGUKURAN KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP LAYANAN X DI KOTA PONTIANAK MENGGUNAKAN SERVICE QUALITY DAN ZONE OF TOLERANCE
Semakin maraknya perusahaan operator seluler membuat perusahaan harus berupaya keras dalam memenangkan persaingan bisnisn dengan menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Perusahaan XYZ menawarkan jasa telekomunikasi kartu internet dengan salah satu produknya yaitu, Kartu Perdana X. Berdasarkan data internal Perusahaan, didapati bahwa pada tahun 2023 di Kuartal 1, terjadi penurunan pengguna Kartu X pada Bulan Maret dan April, disamping itu berdasarkan kuesioner pendukung terdapat keluhan pelanggan terhadap produk X yang berkaitan dengan sinyal sebanyak 71%, yang berkaitan dengan harga dan lain-lain. Oleh karena itu perlu dilakukannya penelitian mengenai tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk X di Kota Pontianak. Pengolahan data dilakukan dengan metode Service Quality (SERVQUAL) yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk X dan Zone of Tolerance (ZOT) yang digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan produk X. Hasil pengolahan data X dengan metode SERVQUAL yaitu terdapat atribut yang memiliki gap (kesenjangan) yang paling rendah, yaitu pada atribut Harga paket yang lebih murah dibandingkan kompetitor dengan gap (kesenjangan) sebesar -0,87. Sedangkan atribut dengan nilai gap (kesenjangan) paling rendah ada pada atribut Informasi mengenai produk X tercantum dengan baik dan mudah dipahami yaitu sebesar 0,05. Perhitungan dengan menggunakan metode ZOT mendapatkan hasil bahwa terdapat 5 atribut yang menjadi prioritas perbaikan. Attribut prioritas perbaikan secara berurut adalah atribut Performa jaringan X cepat dan stabil, Harga paket yang lebih murah dibandingkan kompetitor, Outlet penjualan produk dapat menarik pelanggan untuk membeli produk, Kesesuaian harga paket pada material promosi dan harga paket yang sebenarnya dan Produk X dapat ditemukan dengan mudah di Outlet-Outlet Pontianak Kata Kunci: Kepuasan Pelanggan, Service Quality, Zone of Tolerance
PERBAIKAN RANCANGAN WASHBASIN PORTABEL MENGGUNAKAN METODE KANO DI ERA TRANSISI PANDEMI COVID-19
Covid-19 menyebar dengan cepat dan langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah adalah protokol kesehatan. PERBUP Sambas No. 44 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan mengharuskan lingkungan usaha untuk menyediakan sarana cuci tangan. RM. Bulan menjadi salah satu rumah makan yang ada di daerah Selakau, Kabupaten Sambas dengan pengunjung luar kota yang banyak setiap harinya juga terkena dampak pandemi yang ikut menyediakan sarana cuci tangan atau washbasin. Washbasin di lokasi tersebut dalam penggunaannya beresiko menyebarkan virus dan memiliki banyak kekurangan. Hasil observasi saat jam sibuk didapatkan sekitar 15% – 30% dari total pengunjung yang mencuci tangan. Persentase ini kecil dan berisiko meningkatkan penularan, maka salah satu solusi yang memungkinkan adalah membuat sarana cuci tangan yang memiliki daya tarik tanpa membuat pengunjung tersadar ingin mencuci tangan atau diarahkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu.Perancangan washbasin dimulai dengan pengumpulan data kuesioner item desain yang telah disusun dan penentuan item terpilih menggunakan voice of customer. Kemudian dilanjutkan pengumpulan data kuesioner kano untuk mendapatkan tingkatan prioritas atribut menggunakan metode KANO. Penyusunan konsep produk berdasarkan item terpilih dan menyesuaikan dengan antropometri, kemudian dibuat dengan pertimbangan prioritas KANO.Item desain atau atribut produk washbasin yang didapat terdiri dari 22 pasang dan terbagi menjadi dua yaitu khusus pengunjung (K1- K17) dan khusus karyawan (K18 – K22). Washbasin yang diinginkan oleh pengunjung memiliki desain keran berbahan stainless steel, sistem pedal dan berbentuk lurus, basin berbahan sama dan berbentuk lingkaran, tempat sabun terpasang dan digunakan dengan ditekan dari depan. Tempat tisu terpasang dan berbentuk lembaran. Tempat sampah terpisah dengan washbasin dan berbahan stainless steel. Produk washbasin memiliki tampilan persegi, bergaya minimalis disertai ornamen kayu, juga terdapat cermin, tempat penyimpanan berupa wadah, dan sensor pemberitahuan jika air didalam penampungan habis. Washbasin yang diinginkan karyawan memiliki sistem pembuangan langsung melalui selang, terdapat saringan pada basin, portabel dan memiliki lemari penyimpanan. Tingkat prioritas berdasarkan Kano didapatkan prioritas pertama terletak pada atribut yang berkategori Must be, prioritas kedua pada atribut yang berkategori One Dimensional, prioritas ketiga pada atribut yang berkategori Attractive, dan prioritas terakhir pada atribut yang berkategori Indifferent. Kata Kunci : Covid-19, Desain, Kano, Rumah Makan, Washbasin.
IMPLEMENTASI PREDICTIVE MAINTENANCE UNTUK MESIN PENGUPAS BUAH PINANG DENGAN MIKROKONTROLLER
Saat ini terdapat berbagai jenis metode perawatan yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Metode corrective maintenance umunya menghabiskan ongkos yang lebih besar dikarenakan ongkos yang dikeluarkan tidak hanya untuk melakukan perawatan tetapi timbul juga ongkos sebagai akibat dari kerusakan. Preventive maintenance akan menghabiskan biaya perawatan yang lebih besar jika dibandingkan dengan predictive maintenance. Metode predictive maintenance memungkinkan untuk memprediksi kerusakan lebih awal dan memungkinkan dilakukannya perawatan sebelum kerusakan terjadi. Permasalahan maintenance secara umum dihadapi oleh seluruh pengguna mesin. Pengguna mesin pada industri kecil menengah umumnya tidak mengenal maintenance dan hanya melakukan perbaikan saat mesin sudah mengalami kerusakan. Selain itu, mesin yang digunakan tidaklah canggih. Salah satunya adalah mesin pengupas buah pinang. Monitoring atau pengawasan dapat dilakukan terhadap mesin yang diamati agar kerusakan dapat dideteksi secara dini menggunakan berbagai sensor yang dipasangkan pada mesin. Pendeteksian dini kerusakan mesin ini diharapkan dapat meminimalisirkan ongkos dari kegiatan perawatan. Penelitian diawali dengan pengumpulan data dari mesin. Data-data mesin yang dikumpulkan adalah variabel percepatan getaran mesin, suhu mesin, dan suara dari mesin. Pengumpulan data dilakukan menggunakan sebuah mikrokontroller NodeMCU ESP8266 yang telah dipasangkan sensor-sensor. Biasanya karakteristik dari mesin akan berdistribusi normal saat mesin sudah bekerja dalam steady state. Pendeteksian kerusakan dapat dilakukan dengan memeriksa apakah variabel yang diamati telah melewati batas normalnya atau tidak. Jika variabel yang diamati melewati batas normal maka mesin dapat dikategorikan sebagai rusak. Pendeteksian dilakukan dengan menangkap data yang dihasilkan mesin secara langsung yang kemudian dianalisis oleh program. Implementasi predictive maintenance pada mesin pengupas buah pinang dengan baik menunjukkan program dapat mendeteksi kerusakan mesin. Kata Kunci: Predicitve Maintenance
USULAN STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN WARUNG KOPI AMING PODOMORO
Aming Coffee Podomoro adalah kedai kopi yang terdapat pada Kota Pontianak. Aming Coffee merupakan tempat yang banyak diminati oleh masyarakat Kota Pontianak, akan tetapi pelanggan yang datang masih merasakan kurangnya pelayanan yang diberi oleh Aming Coffee Podomoro, hal ini disebabkan oleh kurang maksimalnya kinerja dari Aming Coffee podomoro dalam melayani konsumen yang datang, sehingga membuat pelanggan yang datang merasa belum cukup puas dengan pelayanan yang diberi, dengan total 11 % responden merasa belum puas, 11,5 % responden merasa biasa saja kemudian 8,6 % responden lainnya merasa pelayanan yang diberikan sudah baik. Data tersebut didapat dari rata-rata 31 responden diambil dari 100 kuisioner penelitian. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan hasil yaitu gap dari kualitas pelayanan yang diberikan dan dapat memberikan rekomendasi perbaikan dari hasil perbandingan antara harapan pelanggan dan kinerja dari Aming Coffee Podomoro. Penyelesaian masalah terkait menggunakan metode Service Quality dan Importance Performance Analysis untuk mengetahui tingkat gap harapan pelanggan dengan kinerja Aming Coffee Podomoro dan menentukan prioritas perbaikan untuk kualitas pelayanan Aming Coffee Podomoro. Kualitas pelayanan tersebut dilakukan dengan membagikan 100 kuisioner tertutup kepada responden pelanggan Aming Coffee Podomoro. Hasil identifikasi dari metode Service Quality dan Importance Performance Analysis didapatkan bahwa ada 8 atribut yang berada dalam kuadran I pada analisis IPA, atribut-atribut tersebut harus diberi perbaikan agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi.Kata Kunci: Aming Coffee Podomoro, Kota Pontianak, Service Quality, Importance Performance Analysis
PENINGKATAN REPURCHASE INTENTION BERDASARKAN CUSTOMER EXPERIENCE QUALITY DAN EKUITAS MEREK PADA LAYANAN PENGIRIMAN MAKANAN DARING
Permasalahan terkait dengan bagaimana suatu perusahaan dapat mempertahankan maupun meningkatkan minat konsumen untuk melakukan pemakaian layanan kembali (repurchase intention) melalui pendekatan customer experience quality dan brand equity dengan customer value sebagai variabel intervening. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan seberapa berpengaruhnya customer experience quality dan brand equity terhadap repurchase intention melalui customer value sebagai variabel intervening. Melalui penelitian ini bisa memberikan masukan kepada perusahaan online food delivery Gofood dan Shopeefood mengenai upaya untuk meningkatkan pembelian kembali atau repurchase intention. Selain itu, penelitian ini memberikan rekomendasi perbaikan mengenai solusi untuk Gofood dan Shopeefood lakukan kedepannya serta sebagai referensi bagi penelitian lanjutan dengan tema yang sama.Pemilihan metode PLS SEM penelitian ini lebih bersifat memprediksi dan menjelaskan variabel laten dari pada menguji suatu teori dan jumlah sampel dalam penelitian tidak besar serta memiliki variabel unobserved, yaitu memiliki kemampuan mengukur variabel dari beberapa indikator (loading factor). Hasil yang didapat dari pengambilan kuesioner berjumlah kurang lebih sebanyak 277 orang, akan tetapi sampel yang diambil pada penelitian ini sebanyak 200 sampel dengan 100 sampel untuk Gofood dan 100 sampel untuk Shopeefood.Temuan penelitian ini menunjukan bahwa pada perusahaan Gofood, customer experience quality dan brand equity berpengaruh terhadap customer value yang berarti memiliki hubungan positif dan signifikan dengan nilai p-value sebesar 0,002 pada customer experience quality dan 0,004 pada brand equity begitu pula dengan perusahaan Shopeefood memiliki nilai yang sama yaitu 0.003 pada customer experience quality dan brand equity, sedangkan brand equity pada perusahaan Gofood dan Shopeefood memiliki pengaruh terhadap repurchase intention yang berarti memiliki hubungan positif dan signifikan dengan nilai p-value sebesar 0,000, customer value pada perusahaan Gofood dan Shopeefood berpengaruh terhadap repurchase intention yang berarti memiliki hubungan positif dan signifikan dengan nilai p-value masing-masing sebesar 0,003 dan 0,002, customer experience quality pada perusahaan Gofood maupun Shopeefood tidak berpengaruh terhadap repurchase intention karena memiliki hubungan positif tetapi tidak signifikan dengan nilai p-value masing-masing sebesar 0.195 dan 0.198, terakhir baik customer experience quality maupun brand equity berpengaruh terhadap repurchase intention dengan customer value sebagai variabel intervening karena memiliki baik customer experience quality maupun brand equity memiliki hubungan positif dan signifikan dengan nilai p-value masing-masing sebesar 0.003 dan 0.002 pada pelanggan Gofood, tetapi pada pelanggan Shopeefood, brand equity tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap repurchase intention dengan customer value sebagai variabel intervening karena memiliki nilai p-value sebesar 1.145.Kata Kunci: Customer Experience Quality, Brand Equity, Repurchase Intention, Customer Value, PLS SEM, Gofood, Shopeefood
PENGUKURAN EFEKTIVITAS KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DI MASA TRANSISI PANDEMI COVID-19 MENGGUNAKAN METODE BEHAVIORALLY ANCHORED RATING SCALE (BARS) DAN MANAGEMENT BY OBJECTIVES (MBO) (Studi Kasus Cresa Mart, Sambas, Kalimantan Barat)
Cresa Mart merupakan supermarket yang berlokasi di Jalan Gusti Hamzah, Kec. Sambas, Kab. Sambas, Kalimantan Barat, Cresa Mart telah berdiri sejak tahun 2015. Supermarket ini menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari, ATK, pakaian, dan perkakas. Permasalahan yang dihadapi Supermarket Cresa Mart adalah menyesuaikan peraturan jam kerja karyawan berdasarkan situasi pandemic Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020 dengan menambahkan jumlah shift kerja dan mengurangi jumlah pekerja. Tahun 2022 menurunnya kasus Covid-19 yang berdampak pada perusahaan sehingga Cresa Mart mengembalikan sistem jam kerja seperti sebelum masa pandemi terjadi. Selama masa peralihan jam kerja ini ditemukan bahwa kinerja karyawan tidak memuaskan dan sering kali tidak memenuhi ekspektasi perusahaan namun Cresa Mart belum memiliki metode yang optimal untuk mengetahui kinerja karyawannya. Perusahaan Cresa Mart belum memiliki visi misi perusahaan yang menjadi koridor bagi karyawan untuk bekerja. Berdasarkan permasalahan ini maka metode yang tepat adalah metode BARS (Behaviourally Anchor Rating Score) yang digunakan untuk menilai kinerja karyawan berdasarkan penilaian supervisor/pemimpin karyawan dengan menilai kriteria kunci seperti kedisiplinan, tanggung jawab, perilaku kerja, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab. Bertujuan untuk menentukan visi dan misi perusahaan diperlukan metode yang dapat merancang management objective berdasarkan data BARS. Metode MBO (Management by Objective) adalah metode yang tepat untuk menentukan visi dan misi perusahaan yang dapat merancang objective bagi perusahaan Cresa Mart.Hasil dari penelitian ini adalah dinilainya 48 karyawan dengan penilaian BARS yang spesifik untuk masing-masing departemen aktif. Kriteria yang digunakan dalam. BARS adalah disiplin, kualitas kerja, perilaku kerja, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab. Berdasarkan hasil penilaian BARS dapat ditentukan MBO untuk Cresa Mart dan masing-masing departemen. Terdapat 5 objective yang dibentuk untuk 5 kriteria yang telah ditentukan. Kata Kunci: BARS, MBO, Metode Penilaian Karyawan, Obyektif, Supermarke
PENGARUH PERILAKU KONSUMEN ATAS KESADARAN HALAL DAN SERTIFIKAT HALAL TERHADAP MINAT BELI MAKANAN BAKSO TYGA SAPI DI WILAYAH PONTIANAK
Bakso Tyga Sapi merupakan makanan yang banyak digemari oleh masyarakat Pontianak. Pencantuman sertifikasi halal pada makanan menjadi sarana yang efektif bagi konsumen untuk memilih makanan halal. Bakso Tyga Sapi belum memiliki sertifikasi halal dalam label produk, namun perusahaan telah menjamin kehalalan produknya. Jaminan terhadap kehalalan produk pangan dapat diciptakan dengan cara sertifikasi halal. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku konsumen atas kesadaran halal dan sertifikat halal terhadap minat beli makanan Bakso Tyga Sapi di wilayah Pontianak.Kuesioner dijadikan sebagai sumber data penelitian dan masyarakat muslim di wilayah Pontianak dijadikan sebagai sampel. Purposive sampling adalah salah satu jenis pengambilan sampel bukan probabilitas, di mana tidak semua anggota populasi memiliki peluang untuk dimasukkan ke dalam sampel. Metode yang digunakan analisis regresi linear berganda dan teknik pengambilan sampel 100 orang yang pernah makan Bakso Tyga Sapi Pontianak dimasukkan dalam sampel penelitian.Hasil penelitian menunjukkan t hitung adalah 5,657 > 1,984 dan tingkat signifikansinya 0,000 1,984 dan tingkat signifikansi 0,008 lebih kecil daripada 0,05 maka variabel sertifikat halal berpengaruh terhadap minat beli. Diketahui bahwa nilai f hitung untuk variabel kesadaran halal dan sertifikat halal yang secara bersama-sama mempengaruhi minat beli adalah 130,909 > 3,09 dan tingkat signifikansinya adalah 0,000 < 0,05. R-Square menghasilkan nilai output sebesar 0,730 atau 73%, sedangkan sisanya sebesar 27% dipengaruhi oleh variabel lain.Kata Kunci: Kesadaran Halal, Minat Beli, Regresi Linear Berganda, Sertifikat Halal
STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PADA INSTALASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS UPT KLINIK UTAMA SUNGAI BANGKONG PONTIANAK
Instalasi Anak Berkebutuhan Khusus UPT Klinik Utama Sungai Bangkong Pontianak merupakan salah satu layanan kesehatan pemerintah yang melayani terapi rawat jalan untuk konsultasi dan rehabilitasi medik terhadap anak dengan kebutuhan khusus. Dalam satu hari, terdapat 20-30 pasien yang menggunakan layanan ini. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner pendukung didapatkan keluhan keluarga pasien baik fasilitas maupun pelayanan yang diberikan. Oleh karena itu, Instalasi Anak Berkebutuhan Khusus UPT Klinik Utama Sungai Bangkong Pontianak perlu untuk meningkatkan kualitas pelayanannya agar kepuasan pelanggan juga meningkat demi mencapai kepuasan pelanggan. Penelitian dilakukan untuk mengukur kepuasan pelanggan dan kualitas pelayanan serta mendapatkan rekomendasi perbaikan pada Instalasi Anak Berkebutuhan Khusus UPT Klinik Utama Sungai Bangkong Pontianak menggunakan metode CSI, SERVQUAL, dan IPA agar pelayanan yang diberikan memuaskan bagi keluarga pasien. Metode CSI bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung secara dengan melihat tingkat harapan berdasarkan atribut pelayanan. Metode SERVQUAL bertujuan untuk menganalisis perbedaan atau gap dari harapan yang diinginkan pelanggan dengan kenyataan dari pelayanan jasa. Metode IPA bertujuan untuk membuat prioritas perbaikan berdasarkan atribut-atribut pelayanan. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden yaitu keluarga pasien anak. Kuesioner yang akan disebar berupa kuesioner tingkat kepentingan dan tingkat harapan. Berdasarkan hasil pengumpulan data dari kuesioner tersebut akan diolah menggunakan metode CSI, SERVQUAL, dan IPA. Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, hasil pengolahan data menggunakan metode CSI diperoleh tingkat kepuasan pelanggan sebesar 74,944 dan masuk ke dalam kategori “Cause of Concern” (Kekhawatiran) pada tabel indeks interpretasi. Hasil pengolahan data menggunakan metode SERVQUAL diperoleh rata-rata tingkat kepentingan sebesar 4,53. Kemudian rata-rata tingkat kepuasan sebesar 3,75. Hasil perhitungan kesenjangan atau gap diperoleh bahwa terdapat 4 atribut yang bernilai positif. Hasil pengolahan data menggunakan metode IPA diperoleh sebanyak 5 atribut pelayanan pada Kuadran I Diagram Kartesius. Sehingga kelima atribut pelayanan tersebut yang menjadi prioritas perbaikan agar kualitas pelayanan meningkat. Kata Kunci: Customer Satisfaction Index (CSI), Service Quality (SERVQUAL), Importance Performance Analysis (IPA), Kualitas Pelayanan, Instalasi Anak Berkebutuhan Khusus UPT Klinik Utama Sungai Bangkong Pontiana