JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
    380 research outputs found

    GAMBARAN HITUNG JUMLAH DAN JENIS LEUKOSIT SERTA POLA MAKAN PADA KOMUNITAS SUKU ANAK DALAM DI DESA BUKIT SUBAN DAN SEKAMIS KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN 2016

    Get PDF
    Abstract Backgrounds  :Suku Anak Dalam (SAD) is a self-term for the indigenous communities that lived in the forest in Jambi. SAD’s morbidity rate was quite high. Malnutrition affected nearly all SAD citizens. Therefore, SAD citizens was expected to have a good immune system in order not to infected to the disease. One that is vital to the immune system were the leukocytes. The main function of Leukocyte was for protection or as the body's defense against infection. The purpose of this study is to describe the number and type of leukocyte count and dietary habits of SAD citizens. Method :This research was a descriptive study with the technique of sampling with accidental sampling technique. The amount of sampels were 44 person. This study used a Sysmex-800i Hematology Analyzer and interview form. Result :The results showed that the number of normal white cell count by 75% and 25% leukocytosis. In  leukocyte count, 77,28% were neutropenia, 11,36% neutrophilia, 68,18% eosinophilia, 4,55% limfositopenia, 6,81% lymphocytosis, and 4,55% monocytosis. In dietary habits 50% were eat two times a day, 100% consumed rice, 72,7% consumed chicken, 65,9% consumed tempe, 47,72% consumed vegetables spinach and beans, and 88,63% consumed bananas. Conclusion: Samples of normal leukocyte counted more than leukocytosis. For leukocyte count still many who had neutropenia and eosinophilia. Dietary habits of SAD citizens was too much who eat two times a day. Keywords : Leukoytes counts, Dietary habits, Suku anak dalam Abstrak Latar belakang : Suku Anak Dalam (SAD) merupakan sebutan diri bagi komunitas adat yang hidup dalam hutan di Provinsi Jambi. Angka kesakitan SAD cukup tinggi. Masalah gizi buruk hampir diderita semua warga Suku Anak Dalam. Karena itu, warga Suku Anak Dalam diharapkan memiliki sistem imunitas yang baik agar tidak terjangkit penyakit. Salah satu yang berperan penting terhadap sistem imunitas adalah leukosit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hitung jumlah dan jenis leukosit serta pola makan pada komunitas Suku Anak Dalam. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif dengan teknik pengambilan sampel dengan teknik accidental sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 44 orang. Sampel darah masyarakat Komunitas Suku Anak Dalam diperiksa di laboratorium menggunakan alat Hematology Analyzer SYSMEX-800i. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah hitung leukosit yang normal sebanyak 75% dan leukositosis 25%. Untuk hitung jenis leukosit didapat neutropenia sebanyak 77,28%; neutrofilia sebanyak 11,36%; eosinofilia sebanyak 68,18%; limfositopenia sebanyak 4,55%; limfositosis sebanyak 6,81%; dan monositosis sebanyak 4,55%. Distribusi pola makan didapatkan paling banyak makan 2 kali sehari sebanyak 50%; mengkonsumsi makanan nasi sebanyak 100%; mengkonsumsi lauk hewani ayam sebanyak 72,7%; mengkonsumsi lauk nabati tempe sebanyak 65,9%; mengkonsumsi sayur-mayur bayam sebanyak 47,72% dan kacang panjang sebanyak 47,72%; dan mengkonsumsi buah pisang sebanyak 88,63%. Kesimpulan: Sampel yang jumlah leukositnya normal lebih banyak dibandingkan dengan leukositosis. Untuk hitung jenis leukosit masih banyak yang mengalami neutropenia dan eosinofilia. Pola makan masih banyak yang makan 2 kali sehari. Kata kunci : Hitung leukosit, Pola makan, Suku anak dala

    PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN ASAM AMINO RANTAI CABANG (AARC) TERHADAP KEKUATAN OTOT PADA LANSIA

    Get PDF
    Abstract   The decrease of muscle mass and strength in elderly people will affect the functional capacity and increase the risk of sarcopenia. One factor that can affect the loss of muscle mass and strength in elderly is the decrease in nutrition intake i.e macronutrient especially protein and branched chain amino acids (BCAA). Therefore, elderly people need greater protein and BCAA intakes compare to younger adult to support good health and prevent the progressive decline in muscle mass and strength due to aging process. Keywords: protein intake, branched chain amino acids intake, muscle strength     Abstrak   Pada lanjut usia (lansia) terjadi penurunan massa dan kekuatan otot yang memengaruhi kapasitas fungsional sehingga meningkatkan risiko sarkopenia. Salah satu faktor yang dinilai dapat memengaruhi penurunan massa dan kekuatan otot pada lansia adalah menurunnya asupan protein dan asam amino rantai cabang (AARC). Oleh sebab itu lansia membutuhkan asupan protein dan AARC yang lebih besar daripada dewasa muda untuk mendukung kesehatan yang baik dan mencegah penurunan progresif massa dan kekuatan otot akibat proses penuaan. Keywords: asupan protein, asupan asam amino rantai cabang (AARC), kekuatan oto

    GAMBARAN KESESUAIAN KEGIATAN POSYANDU DENGAN PEDOMAN PELAKSANAAN POSYANDU DI KOTA JAMBI

    Get PDF
    Abstract Posyandu is one form of Community Based Health Effort (UKBM) run of, by, for and with the community, in order to empower people and provide convenience to the public in obtaining basic health care. Knowing programs owned posyandu society will be easier to get information and lessons learned about health that will impact the increase in the quality of health from an early age and elderly as well as the conformity of the program posyandu the guidelines posyandu expected to reduce maternal mortality, infant and toddler. Aims of the research is to describe the implementation of Posyandu program are given to the public in the city of Jambi and explain owned posyandu barriers in implementing the program. This study is descriptive with the approach used is a quantitative approach. The subjects used were public and Posyandu cadres in the city of Jambi. Samples were taken at several the posyandu where all the subjects come and meet the selection criteria for inclusion in the study until the required number of subjects met. The result showed maternal health programs, compliance is 33.3% of prenatal care, postpartum examination 10%, and the provision of vitamins and tablets Fe 25%, the percentage of child health programs 100% compliance, does the weighing and the determination of the status of growth. The immunization program, namely compliance, implementation of 13.3% BCG, DPT 28.3%, 23.33% polio, measles hepatitis 16.67% and 3.33%. Nutrition programs, nutrition counseling kesesuainnya is 76.67%, early detection of growth disorders 45%, supplementary feeding is done 100%, while provision of vitamin tablet Fe and 3.33%. Diarrhea prevention and treatment programs, counseling PHBs the suitability of 8.33% and 3.33% of Oralit administration. Most of implementing the program in posyandu implementation is not in accordance with the guidelines. Only on child health programs and supplementary feeding in accordance with the guidelines for the implementation the posyandu. Keyword : Posyandu   Abstrak Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang dijalankan oleh, oleh dan untuk masyarakat, untuk memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan dasar. Mengetahui program yang dimiliki masyarakat posyandu akan lebih mudah mendapatkan informasi dan pelajaran tentang kesehatan yang akan berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan sejak usia dini dan lansia serta kesesuaian program posyandu dengan pedoman posyandu yang diharapkan dapat mengurangi angka kematian ibu melahirkan, Bayi dan balita Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Posyandu yang diberikan kepada masyarakat di kota Jambi dan menjelaskan adanya hambatan posyandu yang dimiliki dalam pelaksanaan program. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Subjek yang digunakan adalah kader masyarakat dan posyandu di kota Jambi. Sampel diambil di beberapa posyandu dimana semua subjek datang dan memenuhi kriteria seleksi untuk dimasukkan dalam penelitian ini sampai jumlah yang dibutuhkan dari mata pelajaran terpenuhi. Hasilnya menunjukkan program kesehatan ibu, kepatuhan adalah 33,3% perawatan prenatal, pemeriksaan pascapartum 10%, dan pemberian vitamin dan tablet Fe 25%, persentase program kesehatan anak 100% kepatuhan, apakah bobot dan penentuan status Pertumbuhan. Program imunisasi, yaitu kepatuhan, penerapan 13,3% BCG, DPT 28,3%, polio 23,33%, hepatitis campak 16,67% dan 3,33%. Program gizi, gizi konseling kesesuainnya adalah 76,67%, deteksi dini gangguan pertumbuhan 45%, pemberian pakan tambahan dilakukan 100%, sedangkan pemberian vitamin tablet Fe dan 3,33%. Program pencegahan dan pengobatan diare, penyuluhan PHB memiliki kesesuaian 8,33% dan 3,33% administrasi Oralit. Sebagian besar pelaksanaan program dalam pelaksanaan posyandu tidak sesuai dengan pedoman. Hanya pada program kesehatan anak dan pemberian pakan tambahan sesuai dengan pedoman pelaksanaan posyandu. Kata kunci : Posyand

    DETEKSI DINI OSTEOPOROSIS PASCA MENOPAUSE

    Get PDF
    Abstract                Osteoporosis occurs when the process of bone erosion and bone formation become unbalanced. The cells that cause bone erosion (osteoclasts) begin to make canals and holes in bone faster than the work of osteoblast-producing cells that create new bone to fill the hole, so bone decreases bone mass density and worsening bone microarchitecture Postmenopausal osteoporosis is caused by an estrogen deficiency. Estrogen plays a very important role in bone metabolism, affecting the activity of osteoblast cells and osteoclasts, including maintaining the work balance of both cells. Because osteoporosis is a disease that usually does not start with symptoms, the most important step in preventing and treating osteoporosis is early checking for early detection so that from this examination will be known next step. Keywords: Osteoporosis, Post menopause, Early Checking   Abstrak          Osteoporosis terjadi ketika proses pengikisan tulang dan pembentukan tulang menjadi tidak seimbang. Sel-sel yang menyebabkan pengikisan tulang (osteoklas) mulai membuat kanal dan lubang dalam tulang lebih cepat daripada kerja sel-sel pemicu pembentukan tulang (osteoblas) yang membuat tulang baru untuk mengisi lubang tersebut, sehingga tulang mengalami penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang, Osteoporosis pasca menopause disebabkan karena adanya defisiensi estrogen slot deposit 5000.  Estrogen memegang peran yang sangat penting dalam metabolisme tulang, mempengaruhi aktivitas sel osteoblas maupun osteoklas, termasuk menjaga keseimbangan kerja dari kedua sel tersebut. Karena osteoporosis merupakan suatu penyakit yang biasanya tidak diawali dengan gejala, maka langkah yang paling penting dalam mencegah dan mengobati osteoporosis adalah pemeriksaan secara dini untuk deteksi awal sehingga dari pemeriksaan ini akan diketahu langkah selanjutnya. Katakunci: Osteoporosis, Pasca Menopause, Deteksi din

    KEMAMPUAN CLINICAL REASONING PADA UJIAN OSCE MAHASISWA KEDOKTERAN TAHUN KETIGA

    Get PDF
    Abstract Background: Clinical reasoning is one of the clinical skill competencies that must be owned by a doctor so it needs to be studied and tested. The OSCE is one method of assessment that can be used to assess the achievement of clinical reasoning. OSCE in the third year at Faculty of Medicine Islamic University of Indonesia (FM IUI)  has been using clinical case OSCE so that can be used to assess clinical reasoning skill in addition to others clinical skills such as   physical examination and clinical procedural skills. This study aimed to evaluate the clinical reasoning skills of students in the third year of the OSCE exam at FM IUI. Method: The cross sectional study method was used in this study. OSCE test result semesters 5 and 6 of the academic year 2015/2016 collected. Clinical reasoning skills of students in  OSCE obtained from the score of the diagnosis ability in clinical case OSCE station. The difference between clinical reasoning skill on each  OSCE station and its correlation with the written test on the corresponding block were analyzed. Result: There is differences between clinical reasoning skill in OSCE stations semester 5 and 6. There was no relationship between the score clinical reasoning skills  at the OSCE   with written test achievement on the corresponding block. Conclusions: The clinical reasoning skills on the OSCE  semesters 5 and 6 do not illustrate the clinical reasoning skills of third-year medical students in this study. This study supports the need for   further development of the assessment of clinical reasoning skills on the OSCE  for medical students. Keywords   : clinical reasoning, OSCE, medical student   Abstrak Latar Belakang: Penalaran klinis atau clinical reasoning merupakan salah satu kompetensi keterampilan klinis yang harus dimiliki oleh seorang dokter sehingga perlu dipelajari dan diujikan. OSCE merupakan salah satu metode assessment yang dapat digunakan untuk menilai pencapaian clinical reasoning. OSCE pada tahun ketiga di FK UII telah   menggunakan kasus klinis untuk dapat juga menilai clinical reasoning disamping keterampilan klinis yang lain seperti  pemeriksaan fisik dan tindakan prosedural.   Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan clinical reasoning mahasiswa kedokteran pada ujian OSCE tahun ketiga di FK UII. Metode:Metode yang digunakan adalah cross sectional dari hasil ujian OSCE semester 5 dan 6 tahun akademik 2015/2016. Kemampuan clinical reasoning mahasiswa pada ujian OSCE didapatkan dari nilai kemampuan menegakkan diagnosis pada stasion OSCE yang berupa manajemen kasus klinis. Nilai OSCE direkap pada semua mahasiswa yang mengikuti ujian  pada periode tersebut. Analisis dilakukan dengan melihat perbedaan kemampuan clinical reasoning antar station OSCE dan menilai korelasinya dengan ujian tulis pada blok yang bersesuain . Hasil: Terdapat perbedaan kemampuan clinical reasoning antar stasion OSCE baik di semester ke 5 maupun ke 6. Tidak terdapat hubungan antara nilai kemampuan diagnosis pada ujian OSCE dengan pencapaian nilai ujian tulis blok yang berkaitan dengan konten OSCE yang diujikan. Pembahasan: Kemampuan diagnosis pada ujian OSCE semester 5 dan 6 tidak menggambarkan kemampuan clinical reasoning mahasiswa tahun ketiga pada penelitian ini. Diperlukan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut mengenai penilaian dan pencapaian kemampuan clinical reasoning pada ujian OSCE bagi  mahasiswa kedokteran. Kata kunci : clinical reasoning, OSCE, mahasiswa kedoktera

    EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

    Get PDF
    Abstract The development of science and technology in the medical field to encourage experts always conducted research on various diseases, including one of them is a contagious disease events in order to overcome suffering and death from the disease. Based on his travels disease can be divided into: Acute and Chronic. Based on the nature of transmission can be divided into: Infectious and Communicable. The process of interaction between the occurrence of the disease is a disease agent, human (Host) and the surrounding environment. For infectious diseases, the occurrence of diseases caused by the interaction between: Agent diseases (microorganisms), humans and the environment, while for non-communicable diseases disease process due to the interaction between the disease agent (non-living agent), humans and the environment. Non-communicable diseases can be acute can also be chronic. In Infectious Diseases Epidemiology is not primarily to be discussed is that chronic diseases.   Keywords: communicable diseases, non-communicable diseases   Abstrak Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran mendorong para tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap berbagai penyakit termasuk salah satunya adalah penyakit menular demi mengatasi kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit. Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi : Akut  dan Kronis.  Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi : Menular dan Tidak Menular. Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan lingkungan sekitarnya. Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan sedangkan untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan. Penyakit tidak menular dapat bersifat akut dapat juga bersifat kronis. Pada Epidemiologi Penyakit tidak Menular terutama yang akan dibahas adalah penyakit- penyakit yang bersifat kronis.   Kata kunci: Penyakit menular, penyakit tidak menula

    PENGALAMAN TENAGA KESEHATAN TENTANG PELAYANAN BPJS KESEHATAN PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PRIMER DI KOTA JAMBI TAHUN 2014

    Get PDF
    Abstract Social Security Agency (BPJS) in health, has responsibility to carry out the national healthy service system such as promotive, preventive, curative and rehabilitative, in form of funding health assurance. The assurance is using government facilities and private facilities collaboration with BPJS. The purpose of this research is to gain a deep understanding of the experience of health workers in the primary health care system of Jambi city in Year 2014 type of qualitative research with descriptive phenomenological approach. Participants in this study were health workers ie doctors and nurses who work in primary facilities / health care, selected in accordance with criteria established by 16 participants. Purposive sampling method is the data analysis methods Colaizzi. Data testing was tested by Credibility test, Tranferability, Dependability and Confirmability. The results showed experience of physicians and nurses about the health care system BPJS are: 1) The procedure BPJS service not unlike the procedures Askes services and free medical treatment, 2) health care systems BPJS more beneficial to society. 3) System services BPJS cause problems for patients and health professionals 4) Health workers resolve problems directly and indirectly are temporary and, 5) BPJS service system perceived differently by each nurse and doctor. Understanding of issurance procedures sytem affect to the system of issurance itself and differences in perceptions. advice; BPJS should socialize health care system, meeting the needs of supporting facilities and SIM administration and service optimization.   Keywords: Experience, health workers, primary health care facilities, health care system BPJS.   Abstrak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan, memiliki tanggung jawab menyeleggarakan sistem pelayanan kesehatan Nasional berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative, dalam bentuk jaminan pembiayaan kesehatan. Fasilitas pelayanan yang digunakan adalah semua fasilitas pemerintah dan swasta yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, namun yang berperan sebagai ujung tombaknya adalah fasilitas pelayanan kesehatan primer. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh pemahaman yang mendalam pengalaman Tenaga kesehatan terutama perawat dan dokter tentang sistem pelayanan kesehatan primer di kota Jambi Tahun 2014. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriftif. Partisipan dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yaitu dokter dan perawat yang bekerja di fasilitas primer/ Puskesmas perawatan, dipilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebanyak 16 partisipan. Metode pengambilan sampel purposive sampling, dengan analisa data metode Colaizzi. Pengujian data uji Credibility, Tranferability, Dependability dan Confirmability. Hasil penelitian didapatkan pengalaman dokter dan perawat tentang sistem pelayanan BPJS kesehatan adalah: 1) Prosedur pelayanan BPJS tidak  berbeda dengan  prosedur  pelayanan Askes dan Jamkesmas, 2) Sistem pelayanan BPJS kesehatan lebih bermanfaat bagi masyarakat. 3) Sistem pelayanan BPJS menimbulkan permasalahan bagi pasien, dan tenaga kesehatan 4) Tenaga kesehatan  menyelesaikan masalah secara langsung dan bersifat sementara serta tidak langsung, 5) Sistem pelayanan BPJS dipersepsikan berbeda oleh masing-masing perawat dan dokter. Pemahaman terhadap prosedur sistem pelayanan mempengaruhi timbulnya permasalahan, sehingga terjadi kesalahan dan perbedaan persepsi. Saran; melakukan sosialisasi sistem pelayanan BPJS kesehatan, pemenuhan kebutuhan fasilitas penunjang dan pengoptimalan SIM administrasi dan pelayanan.   Kata Kunci: Pengalaman, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan primer, BPJS kesehatan

    KAJIAN ABILITY TO PAY (ATP) BAGI CALON PESERTA BPJS KESEHATAN DALAM PEMILIHAN BESARAN IURAN DI PROPINSI JAMBI TAHUN 2015

    Get PDF
    Abstract Introduction: Government has launched Health for all, especially in health financing set forth in Law No. 40 of 2004 on the Social Security. Various indicators have been prepared in order to the degree of achievement of a better public health, including life expectancy 70.07 years, nutritional status and MMR 102 per 100,000 live births and IMR 32 per 1,000 live births. Riskesdas 2013 Indonesia was ranked 108 out of 187 countries in the HDI rankings, so it needs the strengthening of the aspect of health services. One indicator is in terms of access, through a program DTPK including facilities and infrastructure. This was confirmed by JKN program that coverage should reach 95% coverage by 2019. The achievement of 2014 in Indonesia only 51.8% of the total population of 238 million. The achievement of universal coverage in BPJS Health Branch Jambi in 2014 amounted to 44.69% of the amount of 1.70963 million inhabitants. The aim of research to determine the ability to pay premiums / contributions, with the specific purpose of measuring the level of heads of household income, the level of non-food expenditure and food expenditure and expenditure on tobacco candidates BPJS. Method: observational research (Mixed Methods) with the design of cross sectional, locations in five regencies / cities in the area Office BPJS Jambi, as respondents community / family heads who will register as a candidate member BPJS Health, the study period of 3 months, with a total sample 718 people distributed in Jambi 137 people, Kab. West Tanjab 145 people, Kab. East Tanjab 140 people, Kab. Muaro 147 and Kab Muarabulian 149 people, the sampling technique accidental sampling, variable-free (revenue and expenditure of households), while the dependent variable (ability to pay), the analysis of the test dataT. Results: The level of income, including high-income 97.20% while only 2.40% of low-income, middle-income remainder (0.40%). On the basis of the income level, nearly 95.7% had grade I package options (25,500), while 1.5% and 2.8% choose a package class II (42.500) and class III (59,500). For the amount of ATP which is calculated based on 10% of disposable income of Rp. 25,235, if calculated based on 5% of expenditure cigarettes plus non-food expenditures, the amount of ATP her Rp. 574 992, and if calculated at 5% of the total expenditure of cigarettes, earned Rp. 110.044.- Conclusion: The average income of the family head of Rp. 3,652,973, non-food expenditure of Rp. 854 302, food expenditure of Rp. 1,129,484, expenditure on tobacco Rp. 295 681, while the amount of ATP's ability to Rp 25,235, There is a relationship between the level of income of the respondent selection in the selection of the amounts of fees BPJS   Keywords: income, expenditure ability to pay, a premium option packages         Abstrak Pendahuluan, Pemerintah telah mencanangkan Kesehatan bagi semua, terutama dalam pembiayaan kesehatan yang tertuang dalam UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN.  Berbagai indicator telah dipersiapkan guna menuju capaian derajad kesehatan masyarakat yang lebih baik, diantaranya UHH 70,07 tahun, status gizi dan AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 32 per 1000 kelahiran hidup. Hasil Riskesdas 2013 Indonesia menduduki peringkat 108 dari 187 negara dalam rangking HDI, sehingga perlu penguatan dari aspek penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Salah satu indikatornya adalah dari sisi akses, melalui  program DTPK termasuk fasilitas sarana dan prasarananya. Hal ini diperkuat oleh Program JKN yang cakupan coverage harus mencapai 95 % tahun 2019. Capaian tahun 2014 di Indonesia baru 51,8 %  dari jumlah penduduk  sebesar 238 juta jiwa. Capaian universal coverage di BPJS Kesehatan Cabang Jambi tahun 2014 sebesar 44,69 % dari jumlah 1.709.630 jiwa. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan membayar premi / iuran, dengan tujuan khusus mengukur tingkat pendapatan kepala keluarga, tingkat pengeluaran non pangan dan pengeluaran pangan serta pengeluaran untuk rokok calon peserta BPJS Kesehatan Metodologi:  jenis penelitian observasional (Mixed Methods) dengan disain cros sectional, lokasi  di 5 Kabupaten/Kota dalam wilayah Kantor BPJS Kesehatan  Jambi,  sebagai responden masyarakat/kepala keluarga yang akan mendaftarkan sebagai calon anggota BPJS Kesehatan,  waktu penelitian 3  bulan, dengan total sampel 718 orang terdistribusi di Kota Jambi 137 orang, Kab. Tanjab Barat 145 orang , Kab. Tanjab Timur 140 orang , Kab. Muaro Jambi 147 orang dan Kab Muara Bulian 149 orang, teknik pengambilan sampel accidental sampling, variable bebas (pendapatan dan  pengeluaran kepala keluarga), sedangkan variable terikatnya (ability to pay), analisis data dengan uji T. Hasil Penelitian : Tingkat pendapatan termasuk berpendapatan tinggi 97,20% sedangkan yang berpendapatan rendah hanya 2,40%, sisanya berpendapatan sedang (0,40%). Dengan dasar tingkat pendapatan tersebut, hampir 95,7% mempunyai pilihan paket kelas I (25.500), sedangkan 1,5%  dan 2,8%  memilih paket kelas II (42.500)  dan kelas III (59.500). Untuk  besaran ATP yang dihitung berdasar 10% dari disposable income sebesar Rp. 25.235, jika dihitung berdasar 5% dari pengeluaran rokok  ditambah pengeluaran non pangan, maka besaran ATP nya Rp. 574.992, dan jika dihitung berdasar 5% dari jumlah pengeluaran rokok, didapatkan  Rp. 110.044.- Kesimpulan :       Rata-rata pendapatan kepala keluarga sebesar Rp. 3.652.973, pengeluaran non pangan  Rp. 854.302,  pengeluaran pangan  Rp. 1.129.484,  pengeluaran untuk rokok Rp. 295.681,  sedangkan besaran kemampuan ATP sebesar Rp 25.235, Ada hubungan antara antara tingkat pendapatan terhadap pemilihan responden dalam pemilihan besaran iuran BPJS Kesehatan   Kata kunci : pendapatan, pengeluaran ability to pay, paket pilihan prem

    HUBUNGAN PEMERIKSAAN DARAH TEPI , SEROLOGIS DAN KLINIS SEBAGAI FAKTOR RESIKO TERJADINYA SYOK DEMAM BERDARAH DENGUE PADA BAYI DAN ANAK

    Get PDF
    Abstract Predicting DHF patients that will continue causing Shock or Recurrent Shock is not easy. Based on several studies it appears that examination of peripheral blood, serology, and clinical features into several factors to predict dengue hemorrhagic shock in infants and children. In Jambi there has never been any research related to it. Therefore it is necessary to do research on "Relationship of Blood Pressure, Serologic and Clinical Symptoms as Risk Factors of Shampoo Dengue Fever Shock in Infants and Children." This study was an observational analytical study conducted at Mayang Medical Center Hospital Jambi with a sample of all dengue hemorrhagic patients from January to November 2016. All samples were seen as peripheral blood examination result, serological examination result, and patient clinical picture to be analyzed statistically Chisquare associated with the occurrence of Dengue Hemorrhagic Shock. Characteristics of 70 respondents by sex had a balanced portion between men and women (50%), by age, the number of respondents was 5-10 years old (48.57%), based on clinical symptoms, who bleeded only 27, 14%, stomach tension 47.14%, 88.57% abdominal pain, and 40% decrease in awareness. Based on the results of peripheral blood examination, respondents had Hb values ​​of at most 12-14 g / dL (57.14%), platelets at most 51,000-100.000 / mm3 (25.71%) and hematocrit at most ≤42% (75.71 %). For serologic examination of NS1 Ag, generally showed positive results (60%). Based on statistical analysis of the relationship between clinical symptoms (bleeding, stomach tension, abdominal pain, and decreased consciousness), blood test results (Hb, platelets, Ht) and serologic examination of NS1 Ag with shocks in pediatric and infant patients with dengue hemorrhagic fever Gives result p value <0,05. Conclusion: There is a significant relationship between clinical symptoms, blood test results and serologic examination of NS1 Ag with shock occurrence in pediatric and infant patients with dengue hemorrhagic fever. Keywords: peripheral blood, clinical symptoms, serologic, dengue fever   Abstrak Memprediksi pasien DBD yang akan berlanjut sehingga menimbulkan Syok atau Syok berulang tidaklah mudah. Berdasarkan beberapa penelitian tampak bahwa pemeriksaan gambaran darah tepi, serologi, dan gambaran klinis menjadi beberapa faktor untuk meprediksi  terjadinya syok demam berdarah dengue pada bayi dan anak. Di Jambi belum pernah dilakukan penelitian terkait hal tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai “Hubungan Pemeriksaan Darah Tepi, Serologis dan gejala klinis Sebagai Faktor Resiko Terjadinya Syok Demam Berdarah Dengue Pada Bayi dan Anak.†Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik yang dilakukan di Rumah Sakit Mayang Medical Center Jambi dengan sampel seluruh pasien demam berdarah dengue periode Januari-November 2016. Seluruh sampel dilihat hasil pemeriksaan darah tepi, hasil pemeriksaan serologis, dan gambaran klinis pasien untuk kemudian dilakukan analisa secara statistik chisquare terkait hubungannya dengan terjadinya Syok Demam Berdarah Dengue. Karaktersitik 70 reponden berdasarkan jenis kelamin memiliki porsi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan (50%), berdasarkan usia, jumlah responden paling banyak berusia 5-10 tahun (48,57%), berdasarkan gejala klinis, yang mengalami perdarahan hanya 27,14%, perut tegang 47,14%, nyeri perut 88,57%, dan penurunan kesadaran 40%. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah tepi, responden memiliki nilai Hb paling banyak 12-14 g/dL (57,14%), trombosit paling banyak 51.000-100.000/mm3 (25,71%) dan hematokrit paling banyak ≤42% (75,71%). Untuk pemeriksaan serologi NS1 Ag, umumnya menunjukkan hasil positif (60%). Berdasarkan analisis statistik terkait hubungan antara gejala klinis (perdarahan, perut tegang, nyeri perut, dan penurunan kesadaran), hasil pemeriksaan darah (Hb, trombosit, Ht) dan pemeriksaan serologi NS1 Ag dengan terjadinya syok pada pasien anak dan bayi yang menderita demam berdarah dengue memberikan hasil p value<0,05. Kesimpulan: ada hubungan yang bermakna antara gejala klinis, hasil pemeriksaan darah dan pemeriksaan serologi NS1 Ag dengan terjadinya syok pada pasien anak dan bayi yang menderita demam berdarah dengue. Kata Kunci:     darah tepi, gejala klinis, serologis, demam berdarah deng

    PROGRAM PELATIHAN STANDARIZED DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU OSCE

    Get PDF
    Abstract A Good examination process for medical students must be able to mimic a real world situation.  Decrement of number of patients, case complexity, and patient safety issue should be considered.  Meanwhile using only one case with real patient does not represent competency sampling.  Standardized Patient (SP) Program is a tool to facilitate medical student’s learning.  SP is a normal person who is trained to portray real patient.  SP can be use in both learning or assessment process of history taking, physical examination, clinical reasoning, diagnostics, therapy, and education.  A well  established SP system is very crucial. A sets of steps can be done to obtained a good SP system. It comprises: recruitment, training process, rehearsal, and conduction of examination.  This article describes those points above while emphasizing on training process which include practical steps and general principals in order to obtain a well managed training.   Keyword: standardized patient, training, clinical skill, OSCE   Abstrak Proses ujian yang baik bagi mahasiswa kedokteran harus dapat menyerupai situasi nyata. Berkurangnya jumlah pasien, kompleksitas kasus, dan permasalahan keselamatan pasien harus dipertimbangkan.  Sementara hanya menggunakan satu pasien sungguhan kurang dapat mewakili sampling kompetensi.  Program Standardized Patient (SP) merupakan wahana untuk mendukung proses pembelajaran bagi mahasiswa. SP adalah orang normal yang dilatih untuk menggambarkan  pasien sungguhan.  SP dapat dipakai untuk proses belajar maupun assessment dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penalaran klinis, diagnosis, pilihan terapi, dan edukasi.  Terbentuknya sistem penyedia pasien standar dengan mutu yang konstan sangatlah penting. Serangkaian langkah dapat dilakukan untuk mewujudkan ketersediaan tersebut.  Langkah tersebut meliputi: rekruitmen, training, gladiresik, dan pelaksanan ujian. Artikel ini membahas satu persatu bagian tersebut di atas dengan menekankan pada proses training yang membahas langkah demi langkah serta prinsip-prinsip utama dalam pelaksanaan training agar dapat berjalan dengan baik. Kata kunci: Pasien standar, pelatihan, keterampilan klinik, OSC

    333

    full texts

    380

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇