JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
    380 research outputs found

    PRESEPSI MAHASISWA TERHADAP LINGKUNGAN PEMBELAJARAN DI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

    Get PDF
    Abstract Background: In the learning environment of medical education institutions, every medical student will experience and undergo various learning activities. Therefore, medical education institutions should be able to create a comfortable learning environment for medical students without lowering the standard and quality of learning. Research Objectives: The purpose of this study is to determine student perception of the learning environment, so that it can be an input to the institution as an effort to optimize the learning environment of Medical Study Program Faculty of Medicine and Health Sciences Jambi University (PSKed FKIK UNJA). Method: The cross-sectional study was conducted at PSKed FKIK UNJA in April-October 2016 and involved 315 student respondents o the 2nd, 4th and 6th semesters. The perception data on the learning environment and learning strategy was obtained from the Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) questionnaire and subsequently performed qualitative research with focus group discussion method (FGD) to confirm and explore student perception based on the questionnaire analysis result. Result: This research shows that 90% of students of PSKed FKIK UNJA have positive perception toward learning environment PSKed FKIK UNJA. From five categories of student perceptions of the learning environment, there are 13 statements that get negative response from students, this negative response indicates there are several students who are not satisfied with the elements that exist in the learning environment PSKed FKIK UNJA. Conclusion: It can be concluded that positive perception toward the learning environment shows the learning environment PSKed FKIK UNJA has been in accordance with student expectations. According to the students, the learning environment of PSKed FKIK UNJA has some drawbacks in terms of arrangement and coordination of lecture schedules by the academic and faculty members, unallocated break time of the students. The atmosphere of learning remains unconducive due to the lack and limited of infrastructure facilities, low supervision of cheating behavior, and lack of support systems for outstanding students and stressful students. Keywords: perception, learning environment, medical students         Abstrak Latar Belakang: Di dalam lingkungan pembelajaran  institusi pendidikan kedokteran, setiap mahasiswa kedokteran akan mengalami dan menjalani berbagai kegiatan pembelajaran yang bervariasi Oleh karena itu institusi pendidikan kedokteran harus dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman bagi mahasiswa kedokteran tanpa menurunkan standar dan kualitas pembelajaran . Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran sehingga dapat menjadi masukan kepada pihak institusi dalam upaya mengoptimalisasi lingkungan pembelajaran Program Studi Kedokteran  Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi (PSKed   FKIK UNJA). Metode: Penelitian cross sectional dilaksanakan di PSKed FKIK UNJA pada bulan April-Oktober 2016 dan melibatkan 315 responden mahasiswa semester 2, 4 dan 6. Data persepsi terhadap lingkungan pembelajaran dan strategi pembelajaran didapat dari kuesioner Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) dan selanjutnya  dilakukan penelitian kualitatif dengan metode diskusi kelompok terfokus (DKT) untuk mengkonfirmasi dan mengeksplorasi persepsi mahasiswa tersebut berdasarkan hasil analisis  kuesioner. Hasil: Penelitian ini menunjukkan 90% mahasiswa PSKed FKIK UNJA memiliki persepsi positif terhadap lingkungan pembelajaran PSKed FKIK UNJA. Dari lima kategori persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran , terdapat 13 pernyataan yang masih mendapatkan respon negatif dari mahasiswa , respon negatif ini menunjukkan masih terdapat mahasiswa yang tidak puas terhadap elemen-elemen yang ada pada lingkungan pembelajaran PSKed FKIK UNJA. Kesimpulan: Pada penelitian ini disimpulkan persepsi positif terhadap lingkungan pembelajaran menunjukkan lingkungan pembelajaran PSKed FKIK UNJA telah sesuai dengan harapan mahasiswa.  Menurut pendapat  mahasiswa,  lingkungan pembelajaran PSked FKIK UNJA masih terdapat kekurangan dari segi pengaturan dan koordinasi  jadwal kuliah oleh bagian akademik dan staf pengajar,   waktu libur mahasiswa yang tidak teralokasi dengan baik, sarana prasarana yang masih kurang dan terbatas sehingga menyebabkan suasana pembelajaran tidak kondusif, kurangnya  pengawasan terhadap perilaku mencontek, dan kurangnya sistem dukungan  untuk mahasiswa yang berprestasi dan bagi mahasiswa yang mengalami stres. Kata kunci: persepsi,  lingkungan pembelajaran, , mahasiswa kedoktera

    UJI RESISTENSI LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI TERHADAP ABATE (TEMEPHOS) 1% DI KELURAHAN MAYANG MANGURAI KOTA JAMBI PADA TAHUN 2016

    Get PDF
    Abstract Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a public health problem in Indonesia. There are an increasing number of dengue cases in the city of Jambi, which in 2013 amounted to 315 cases and in 2014 amounted to 678 cases. Village of Mayang Mangurai was the region with the highest incidence of dengue in the city of Jambi. One of the effort to reduce dengue cases is through the control of dengue vector larvae with temephos larviciding ie 1%. There has been no research on the status of temephos resistance in the city of Jambi. Methods: This was an experimental study with post test only control group design. Samples are Aedes aegypti dididapatkan by simple random sampling technique. Samples were obtained from several homes located on RT 1, 14, 16, 17, 18, 20, 31 and 40 Mayang village Mangurai Jambi City in January 2016. The dose used is 1% temephos WHO diagnostic dose (0,012mg /l). Results: The results showed the percentage of mortality of larvae of Aedes aegypti from Mayang village Mangurai Jambi City to abate (temephos) 1% with WHO diagnostic dose (0.012 mg / l) of 100% within 24 hours of exposure. Based on the criteria of resistance status, Aedes aegypti larvae of Mayang Village Mangurai Jambi city is still vulnerable to abate (temephos) 1%. Conclusions: There was no resistance Aedes aegypti larvae to abate (temephos) 1%.   Keywords : Temephos 1%, Resistensi, Jambi, Aedes aegypti   Abstrak Latar Belakang : Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terdapat peningkatan jumlah kasus DBD  di Kota Jambi, yaitu  pada tahun 2013  sebesar 315 kasus dan pada tahun 2014 sebesar 678 kasus. Kelurahan Mayang Mangurai  merupakan daerah dengan kejadian DBD tertinggi di Kota Jambi.  Salah satu  upaya menurunkan  kasus DBD adalah  melalui pengendalian  larva vektor DBD dengan larvasida yaitu  temephos 1%. Belum ada penelitian tentang status resistensi temephos di Kota Jambi.   Metode:  Penelitian ini  merupakan penelitian eksperimental dengan post test only control group design. Sampel  adalah larva Aedes aegypti yang dididapatkan  dengan teknik simple random sampling. Sampel diperoleh  dari beberapa rumah yang berlokasi di RT 1, 14, 16, 17, 18, 20, 31 dan 40 Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi pada Bulan Januari tahun 2016. Dosis yang dipakai adalah temephos 1% dosis diagnosis WHO (0,012mg/l). Hasil :Hasil penelitian menunjukkan persentase kematian  larva Aedes aegypti dari kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi terhadap abate (temephos) 1% dengan dosis diagnostik WHO (0,012 mg/l) sebesar 100% dalam 24 jam  paparan. Berdasarkan kriteria status resistensi, larva Aedes aegypti dari Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi masih rentan terhadap abate (temephos) 1%. Kesimpulan : Tidak ditemukan resistensi larva Aedes aegypti terhadap abate (temephos) 1%.   Kata Kunci : Temephos 1%, Resistensi, Jambi, Aedes aegypt

    KORELASI PEMERIKSAAN NS 1 Ag DAN PEMERIKSAAN DARAH TEPI PADA ANAK DENGAN DEMAM

    Get PDF
    Abstract Background: Examination of NS1 is one enforcement investigation in the diagnosis of dengue fever, which has been widely used and is believed to have a high degree of accuracy. But in some cases the results of the tests show results that are inconsistent with blood tests edges. Under these conditions, researchers interested in studying the correlation NS1 Ag examination by examination of peripheral blood in children with fever. Methods: This study is observational Analytical involving 70 pediatric patients (age <14 years) who were hospitalized in Mayang Medical Centre (MMC) with a diagnosis of fever. Samples were taken by way of Consecutive Sampling. Time data collection was held on October 1, 2014 until March 31, 2015. Results: Overview of test results on samples of peripheral blood for cases hemoglobin (g / dL) had a mean value of 12.73 ± 0.94, the levels of erythrocyte (million / mm3) has an average value of 4.84 ± 0.29, the levels of leukocytes (/ mm3) has a mean value of 5166.28 ± 1904.06, platelets (/ mm3) has an average value 120,168.03 ± 40191.56, hematocrit (%) had a mean value of 38.74 ± 2,65.Untuk group control of hemoglobin (g / dL) had a mean value of 11.86 ± 1.03, the levels of erythrocyte (million / mm3) has an average value of 4.59 ± 0.35, the levels of leukocytes (/ mm3) has a mean value of 11520 ± 4234, 78, the levels of platelets (/ mm3) has an average value 325,571.43 ± 89177.38, hematocrit (%) had a mean value of 36.34 ± 2.90. Differences in mean values of the results of leukocytes and platelets between the case group and control group had a p-value of 0.000 and the results of Pearson correlation test between NS1 Ag test results by examination of peripheral blood in children showed a correlation value <0.05. Conclusion: There is no correlation between the results of the NS1 Ag by examination of peripheral blood in children with fever.   Keywords: NS1 Ag, Blood Bank Examination, Fever   Abstrak Latar Belakang: Pemeriksaan NS1 merupakan salah satu pemeriksaan penunjang dalam penegakkan diagnosa demam dengue yang saat ini telah banyak digunakan dan dipercaya memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Namun pada beberapa kasus hasil pemeriksaannya memperlihatkan hasil yang tidak sejalan dengan pemeriksaan darah tepinya. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai korelasi pemeriksaan NS1 Ag dengan pemeriksaan darah tepi pada anak yang menderita demam. Metode: Penelitian ini merupakan Observasional Analitik yang melibatkan 70 pasien anak (berusia < 14 tahun) yang dirawat di Rumah Sakit Mayang Medical Centre (MMC) dengan diagnosis demam. Sampel penelitian diambil dengan cara Consecutive Sampling. Waktu pengambilan data dilaksanakan pada 1 Oktober 2014 sampai 31 Maret 2015.  Hasil: Gambaran hasil pemeriksaan darah tepi pada sampel untuk kelompok kasus kadar hemoglobin (g/dL) memiliki nilai rerata 12,73±0,94, kadar eritrosit (juta/mm3) memiliki nilai rerata 4,84±0,29, kadar leukosit (/mm3) memiliki nilai rerata 5166,28±1904,06, kadar trombosit (/mm3) memiliki nilai rerata 120168,03±40191,56, kadar hematokrit (%)memiliki nilai rerata 38,74±2,65.Untuk kelompok kontrol kadar hemoglobin (g/dL) memiliki nilai rerata 11,86±1,03, kadar eritrosit (juta/mm3) memiliki nilai rerata 4,59±0,35, kadar leukosit (/mm3) memiliki nilai rerata 11520±4234,78, kadar trombosit (/mm3) memiliki nilai rerata 325571,43±89177,38, kadar hematokrit (%) memiliki nilai rerata 36,34±2,90. Perbedaan nilai rerata dari hasil pemeriksaan leukosit dan trombosit antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol memiliki nilai p-value 0,000 serta hasil uji korelasi Pearson antara hasil pemeriksaan NS1 Ag dengan pemeriksaan darah tepi pada anak menunjukkan nilai korelasi <0,05. Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara hasil pemeriksaan NS1 Ag dengan pemeriksaan darah tepi pada anak yang menderita demam.   Kata Kunci: NS1 Ag, Pemeriksaan Darah Tepi, Dema

    EFEKTIVITAS MENCUCI TANGAN DENGAN SABUN CUCI TANGAN CAIR BERBAHAN AKTIF TRICLOCARBAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JAMBI ANGKATAN 2015

    Get PDF
    Abstract Background: Hand hygiene is essential to prevent various infectious diseases caused by bactery of hands which can contaminate hands in a short time during daily activities. Indonesian people who wash their hands with soap only 12%. One of the methods hand washing in removing dirt and germs on the hands is  Seven-step hand washing. Many types of soaps are used by people to wash their hands and Triclocarban is one of the active ingredient of hand washing soap. The aim of this study was to determine the effectiveness of seven-step of hand-washing with liquid Triclocarban soap in hand hygiene.Method : This study was an analytic study by using one group pretest-posttest experiment. The study took place in biomedic laboratorium Faculty of Medicine and Health Sciences University Jambi from January to March 2016. The samples were 36 swab cottons stick from sidelines right fingers students before and after handwash then analyzed with statistic. Result : The average number of bacterial colonies before and after hand wash were 28,41 and 7,12 CFU/Cm2. The study was considered significant because the results of Wilcoxon test show p<0.15 was 0,000. The bactery found mostly was cocci gram-positive and the least was bacilli gram-negative. Conclusion : Seven-steps hand washing with liquid triclocarban soap is effective in maintaining the cleanliness of hands. Keywords : Hand wash with soap, Seven steps hand washing, Triclocarban  Abstrak Latar Belakang : Kebersihan tangan penting untuk mencegah penyakit infeksi karena mikroba mengkontaminasi tangan dalam waktu yang singkat dalam aktivitas sehari-hari. Rata-rata hanya 12% masyarakat Indonesia yang mencuci tangan pakai sabun. Metode cuci tangan tujuh langkah adalah metode cuci tangan paling lengkap dalam menghilangkan kotoran dan kuman yang ada di tangan. Banyak jenis sabun yang digunakan untuk mencuci tangan, salah satunya sabun cuci tangan berbahan aktif Triclocarban. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas mencuci tangan tujuh langkah dengan sabun cuci tangan cair Triclocarban dalam menjaga kebersihan tangan. Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik one group pretest-posttest eksperimen. Lokasi di laboratorium Biomedik FKIK Universias Jambi dari Januari sampai Maret 2016. Sampel penelitian ini adalah usapan kuman dengan kapas lidi di sela-sela jari tangan kanan mahasiswa sebelum dan sesudah cuci tangan sebanyak 36 orang yang kemudian dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon. Hasil  : Jumlah koloni bakteri rata-rata sebelum dan sesudah cuci tangan adalah 28.41 dan 7.12 CFU/Cm2. Penelitian ini dianggap bermakna karena pada hasil analisis uji Wilcoxon didapatkan nilai p < 0,15 yakni 0,000. Bakteri yang paling banyak didapatkan adalah kokus gram positif dan paling sedikit batang gram negatif. Kesimpulan     :  Mencuci tangan tujuh langkah dengan sabun cuci tangan cair Triclocarban efektif dalam menjaga kebersihan tangan. Kata Kunci       : CTPS, Cuci tangan tujuh langkah, Triclocarba

    HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN IBU HAMIL MENGKONSUMSI TABLET ZAT BESI

    Get PDF
    Abstract Background: Pregnant women must have adequate nutrition, for pregnant women essentially all require additional nutrients, but it is often a shortage of energy are protein and some minerals, such as iron. The number of iron deficiency in pregnant women in Indonesia is quite apprehensive because it reaches 40%. Thus raises fears of the loss of generations of Indonesia.To analyze knowledge and family support for compliance to consume iron tablets to pregnant women.Methods: This study is a quantitative research using analytic survey with cross sectional design. The sampling technique used is non-probability by accidental sampling with a sample of 95 respondents.Results: There was a significant relationship between the level of knowledge with adherence (p-value = 0.002) and the presence of a significant relationship between family support with adherence (p-value = 0.004).Conclusion: Of the 95 respondents who researched obtained respondents who do not comply is 73 (76.8%). Based on the data obtained can be seen that the variable knowledge and family support are factors that affect the compliance of pregnant women consume iron tablets. Keywords: Compliance, knowledge, and family support.   Abstrak Pendahuluan: Ibu hamil pada dasarnya memerlukan semua zat gizi  tambahan, namun yang terjadi adalah kekurangan energi protein dan beberapa mineral seperti zat besi.Angka kekurangan zat besi pada ibu hamil di Indonesia cukup memprihatinkan karena mencapai 40 %.Sehingga menimbulkan kekhawatiran hilangnya generasi berkualitas Indonesia.Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi pada ibu hamil. Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan desain Cross Sectional. Tekhnik pengambilan sampel non probability dengan accidental sampling dengan jumlah sampel 95 responden. Hasil: Adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan (p-value = 0,002) dan adanya hubungan bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan (p-value =0,004). Kesimpulan: 95 responden yang diteliti didapatkan responden yang tidak patuh sebanyak 73 (76,8%). Di harapkan ibu hamil dapat meningkatkan pengetahuan tentang tablet zat besi dan patuh mengkonsumsi tablet zat besi. Kata Kunci: Kepatuhan, pengetahuan, dan dukungan keluarg

    HUBUNGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DENGAN KEJANG DEMAM PADA ANAK BALITA

    Get PDF
    Abstract Background: Febrile seizure is a convulsion that occured after body temperature increased (rectal temperature more than 38oC) caused by an extracranial process, occuring in 2-4% of children about 6 months to 5 years old. Febrile seizure is one of the commonest cause of seizures in children, especially toddlers and an event that often makes parents worry. One of the factor that caused it is iron deficiency anemia because iron plays an important role in neural function. This study purposed to know relationship between iron deficiency anemia and febrile seizure in toddlers. Method: This study is done with observational retrospective analytic. The population is all children diagnosed with febrile seizure (case group) and febrile without seizure (control group) who hospitalized in Raden Mattaher General Hospital Jambi in 2015 that is available in the hospital medical records. There are 84 samples consists of 42 samples in case group and 42 others in control group. This study variables are age, gender, body temperature, and iron deficiency anemia. Result: Febrile seizure occured the most in the case group in age of 12 to 23 months (31,0%) in the males (61,9%), while the most common body temperature category is >39oC (61,9%). Iron Deficiency Anemia occured in toddlers with Febrile Seizure group (45,2%) more than febrile without seizure group (19%). Based on bivariate analysis, p value of the relationship between iron deficiency anemia and febrile seizure is 0,01 (p= 0,01), and the odds ratio is 3,511. Conclusion: There is a significant relationship between iron deficiency anemia and febrile seizure in toddlers at Raden Mattaher General Hospital Jambi 2015. Key Words: Febrile Seizure, Iron Deficiency Anemia Abstrak Latar Belakang : Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun. Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang sering dijumpai pada anak, khususnya anak balita dan merupakan peristiwa yang mengkhawatirkan bagi orang tua, dan tingginya angka kejadian dimasyarakat. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kejang demam adalah anemia defisiensi besi karena besi memiliki peran penting dalam fungsi neurologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan anemia defisiensi besi dengan kejang demam pada anak balita. Metode : Penelitian dilakukan secara observasional analitik retrospektif. Populasi penelitian adalah semua pasien anak yang didiagnosis kejang demam ( kelompok kasus ) dan demam tanpa kejang ( kelompok kontrol ) yang dirawat di RSUD Raden Mattaher tahun 2015 yang tercatat pada rekam medis. Jumlah sampel dalam penelitian ini ada 84 orang terdiri dari 42 orang kelompok kasus dan 42 orang kelompok kontrol. Variabel yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, suhu tubuh dan anemia defisiensi besi. Hasil : Kejang demam paling banyak pada kelompok kasus kategori usia 12-23 bulan  (31,0%), pada jenis kelamin laki-laki (61,9%) ,dan pada suhu tubuh kategori >39oC (61,9%). Anemia Defisiensi Besi lebih banyak pada anak balita  kelompok Kejang Demam sebanyak (45,2%) dibandingkan dengan kelompok yang demam tanpa kejang sebanyak (19%). Berdasarkan analisis bivariat hubungan anemia defisiensi besi dengan kejang demam didapatkan nilai p= 0,01, OR = 3,511. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara Anemia Defisiensi Besi dengan Kejang Demam pada anak balita di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2015. Kata Kunci : Kejang Demam, Anemia Defisiensi Bes

    PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TERHADAP DIET RENDAH GARAM SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN KONSULTASI GIZI DI POLI GIZI RUMAH SAKIT RADEN MATTAHER TAHUN 2017

    Get PDF
    ABSTRAK   Latar  Belakang  :  Tahun  2013  jumlah  penduduk  di  indonesia  yang  menderita  hipertensi sebanyak 65 juta jiwa dari 252 juta penduduk. Dalam penatalaksanaan non-farmakologi hipertensi,  diet  rendah  garam  sangat  diperlukan  dapat  menurunkan  sebanyak  2 -8  mgHg tekanan darah. Pengetahuan yang baik tentang diet rendah garam dapat mengontrol tekanan darah bagi pasien hipertensi dengan mengkomsumsi garam tidak lebih dari 2,4 g/hari. Pasien hipertensi sebaiknya diberikan konsultasi gizi untuk meningkatkan pengetahuan tentang diet rendah garam. Dari hasil data rekam medik RSUD raden Mattaher pada januari-maret 2016 jumlah kasus baru pasien hipertensi 60 pasien dengan jumlah kunjungan 586 pasien dan tidak semua pasien mendapatkan konsultasi gizi. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan ni lai pengetahuan pasien hipertensi sebelum dan sesudah diberikan konsultasi gizi.   Metode  : Desain  penelitian  ini  adalah  Pre-  ekperimen  dengan  one  grup  pretest  posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel adalah 20 pasien hipertensi yang melakukan konsultasi gizi di RSUD Raden Mattaher. Sebelum dan sesudah konsultasi gizi pasien diminta menjawab kuesioner yang terdiri dari 12 pertanyaan. konsultasi diet rendah garam diberikan oleh ahli gizi sesuai dengan materi yang telah ditetapkan. Analisis data menggunakan uji t.   Hasil : Perbedaan rata-rata skor sebelum diberikan konsultasi gizi adalah 67,90 dan rata -rata skor sesudah diberikan konsultasi gizi adalah 87,90 rata -rata skor pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan konsultasi gizi adalah 20,00 dengan nilai signifikansi 0,000<0,05.Dari hasil analisis  data  dengan  uji  t  didapatkan  ada  perbedaan  pengetahuan  sesudah  diberikan konsultasi gizi   Kesimpulan : Ada peningkatan pengetahuan setelah diberikan konsultasi gizi.   Kata Kunci : Hipertensi, Diet Rendah Garam, Konsultasi Gizi       ABSTRACT   Background: In 2013 total population in Indonesia suffering from hypertension as much as 65 million people from 252 million population. In the non-pharmacological management of hypertension, a low-salt diet can reduce as much as 2-8 mgHg blood pressure. A good knowledge of low-salt diet can control blood pressure for hypertensive patients by consuming no more  2.4 g/  day.  Hypertensive  patients  should be  given  nutritional  assistance  to  improve knowledge about low-salt diet. From the results of medical record at Regional Public Hospital Raden Mattaher in january to March 2016 the number of new cases of hypertensive patients 60 patients with the number of visits 586 patients but not all patients get nutrition consultation. The purpose of this study was to know the difference in the value of knowledge of hypertensive patients before and after being given nutritional consultation.   Methods:  This Pre- experiment study used one group  pretest posttest design. Sampling technique using non probability sampling that purposive sampling. With 20 hypertensive patients, who conducted nutritional counseling at Regional public hospital Raden Mattaher. Before and after the nutrition consultation the patient was asked to answer a questionnaire used consist 12 questions. Low-salt diet consultancy is given by nutritionists in accordance with the material that has been set. Data analysis with t test.   Result: The mean difference score before given a nutritional consultation was 67.90 and the mean score after given a nutritional consultation was 87.90. The mean difference between the pre and post nutritional score was 20.00 with a significance value of 0.000 <0.05. From the results of data analysis with t test  there is a difference of knowledge after given a nutritional consultation.   Conclusion: There is improvement knowledge after being given a nutrisional consultation.   Keywords: Hypertension, Low Salt Diet, Nutrition Consultatio

    KEHAMILAN DENGAN SINDROMA ANTIFOSFOLIPID

    Get PDF
    Abstract Antiphospholipid antibody syndrome is disorder of coagulation characterize with vascular thrombosis associated with increase of antiphospholipid (aPL) antibody such as anticardiolipin (aCL) antibodies, lupus anticoagulant (LA), and anti-beta 2 glycoprotein I antibody. Management of with antiphospholipid antibody syndrome basicly consists of  management and pregnancy (antenatal care), labour, and puerpurium. The  aim of the management is to monitor the risk of thrombosis,  inadequate uteroplacenter circulation, and decide the perfect timing for delivery. The rational therapy given is both preventive and curative with anticoagulant and antiplatelet agent. The new paradigm in management of antiphospholipid antibody syndrome is treatment with intravena immunoglobulin to decrease aCL and LA.   Keyword: Pregnancy, Antiphospholipid syndrome   Abstrak Sindroma antifosfolipid merupakan suatu kelainan sistem pembekuan darah yang ditandai dengan trombosis vaskuler yang dihubungkan dengan peningkatan antibodi antifosfolipid (aPL) yaitu antibodi antikardiolipin (aCL), antikoagulan lupus (LA) dan antibodi anti-beta 2 glikoproteinI. Penatalaksanaan kehamilan dengan sindroma antifosfolipid pada dasarnya terdiri atas penatalaksanaan dalam kehamilan (pemeriksaan antenatal), persalinan dan masa nifas dengan tujuan pemantauan pada risiko trombosis, gangguan sirkulasi uteroplasenter dan penentuan saat persalinan yang adekuat. Terapi rasional yang diberikan adalah terapi preventif dan kuratif dengan pemberian antikoagulan dan antiagregasi trombosit. Paradigma baru dalam penatalaksanaan sindroma antifosfolipid adalah dengan pemberian terapi imunoglobulin intravena yang bertujuan menurunkan kadar antibodi antikardiolipid dan antikoagulan lupus.   Kata kunci: Kehamilan, Sindroma  antifosfolipi

    PENGARUH MEROKOK TERHADAP pH SALIVA DAN AKTIVITAS ENZIM PTIALIN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

    Get PDF
    Abstract Background: Cigarettes can cause disturbances in the oral cavity. From previous research it is known that daily cigarette consumption impact on decrease of salivary secretion and bicarbonate content. This will affect the decrease in salivary pH. Low salivary pH also has an effect on decreasing ptialin enzyme activity. Departing from the basic theory, researchers want to see the extent to which smoking can affect salivary pH and pyalin enzyme activity in students of the Faculty of Medicine and Health Sciences Jambi university. Methods: This study is a cross-sectional study with a sample of samples taken in total sampling from Jambi University medical students who smoke 39 people. Performed salivary pH examination and measurement of pyalin enzyme activity in students who smoke. The research data obtained will be tested statistically using fisher test to see the effect of smoking from aspect of cigarette consumption per day and smoking period to salivary pH and ptialin activity. Results: Based on the level of cigarette consumption per day, the students smoked more in the 5-10 cigarettes per day category which was 82.05%. Based on the smoking period, students smoked more in the category of more than 5 years ie 66.67%. Based on salivary pH measurements, students who smoked were generally in the abnormal pH category of 79.49%. Based on the measurement of ptialin enzyme activity, students who smoked generally in the category did not work up to 71.79%. The statistical test of cigarette consumption per day to saliva pH has p value = 0,617. Statistical test result from smoking period to salivary pH has p value = 0,01 with PR = 6 and CI95% 1,4-25,713. The statistical test result from the level of cigarette consumption per day on ptialin enzyme activity has p value = 1,000. The statistical test result of the smoking period on ptialin enzyme activity has p = 0,000 with PR = 9 and CI95% 2,264-35,773. The statistical test results of salivary pH relationship on ptialin enzyme activity has p = 0,000 with PR = 6,97 and CI 1,108-43,802. Conclusion: There is no correlation between cigarette consumption level to salivary pH and student enzyme activity of smoking. There was a correlation between smoking period and salivary pH and pyalin enzyme activity of smoking students and there was also a significant association between salivary pH and pyalin enzyme activity of smoking students. Keywords: smoking, pH saliva, ptialin     Abstrak Pendahuluan: Rokok dapat menyebabkan gangguan pada rongga mulut. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa konsumsi rokok harian berdampak terhadap penurunan sekresi saliva dan kandungan  bikarbonat. Hal ini akan berdampak pada terjadinya penurunan pH saliva. pH saliva yang rendah juga berdampak pada penurunan aktivitas enzim ptialin. Berangkat dari dasar teori tersebut, peneliti ingin melihat sejauh mana merokok dapat mempengaruhi pH saliva dan aktivitas enzim ptialin pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan universitas Jambi. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian crossectional dengan sampel penelitian yang diambil secara total sampling dari mahasiswa kedokteran Universitas Jambi yang merokok sejumlah 39 orang. Dilakukan pemeriksaan pH saliva dan pengukuran aktivitas enzim ptialin pada mahasiswa yang merokok. Data penelitian yang didapat akan diuji secara statistik menggunakan uji fisher untuk melihat pengaruh merokok dari aspek tingkat konsumsi rokok per hari dan periode merokok terhadap pH saliva dan aktivitas ptialin. Hasil: Berdasarkan tingkat konsumsi rokok per hari, mahasiswa lebih banyak merokok dalam kategori 5-10 batang per hari yaitu 82,05%. Berdasarkan periode merokok, mahasiswa lebih banyak merokok dalam kategori lebih dari 5 tahun yaitu 66,67%. Berdasarkan pengukuran pH saliva, mahasiswa yang merokok pada umumnya dalam kategori pH tidak normal yaitu 79,49%. Berdasarkan pengukuran aktivitas enzim ptialin, mahasiswa yang merokok umumnya dalam kategori tidak bekerja maksimal yaitu 71,79%. Hasil uji statistik tingkat konsumsi rokok per hari terhadap pH saliva memiliki nilai p=0,617. Hasil uji statistik dari periode merokok terhadap pH saliva memiliki nilai p=0,01 dengan PR=6 dan CI95% 1,4-25,713.  Hasil uji statistik dari tingkat konsumsi rokok per hari terhadap aktivitas enzim ptialin memiliki nilai p=1,000. Hasil uji statistik dari periode merokok terhadap aktivitas enzim ptialin memiliki nilai p=0,000 dengan PR=9 dan CI95% 2,264-35,773 . Hasil uji statistik dari hubungan pH saliva terhadap aktivitas enzim ptialin memiliki nilai p=0,000 dengan PR=6,97 dan CI 1,108-43,802. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat konsumsi rokok terhadap pH saliva dan aktivitas enzim ptialin mahasiswa yang merokok. Ada hubungan antara periode merokok dengan pH saliva dan aktivitas enzim ptialin mahasiswa yang merokok serta juga terdapat hubungan bermakna antara pH saliva dengan aktivitas enzim ptialin mahasiswa yang merokok. Kata Kunci: merokok, pH saliva, ptiali

    PENERAPAN ANASTESI REGIONALPADA OPERASI EKSTREMITAS ATAS

    Get PDF
    Abstarct Anesthesia for upper limbs is generally performed with a general anesthetic mode, rarely using regional anesthesia, while for lower extremity anesthesia has been long with peripheral nerve blocks. Many patients who have to undergo surgery but are constrained because of the risk of general anesthesia surgery, in addition to cardiovascular conditions that can be disrupted when. Peripheral nerve block anesthesia for upper limb operations offers significant efficiency and effectiveness. These benefits include superior control over intraoperative pain, more surgical stress, minimal systemic disturbance, lower postoperative nausea and vomiting (PONV) incidence and postoperative local analgesia and reduced hospital stay and financing. Keywords: Regional Anastesi, upper limbs operations   Abstrak Anestesi untuk ekstremitas atas umumnya dilakukan dengan moda anestesi umum, jarang sekali menggunakan anesthesia regional, sementara untuk anestesi extremitas bawah sudah lama dengan blok saraf perifer. Banyak pasien yang harus menjalani operasi namun terkendala karena adanya resiko operasi anestesi umum, disamping kondisi kardiovaskuler yang bisa sesewaktu mengalami gangguan. Anestesi blok saraf perifer untuk operasi ekstremitas atas menawarkan efisiensi dan efektifitas yang sangat signifikan. Manfaat ini termasuk kontrol yang unggul mengatasi nyeri intraoperatif, stres bedah yang lebih, gangguan sistemik yang minimal, insiden mual dan muntah pasca operasi (Post Operative Nausea and Vomiting = PONV) lebih rendah serta analgesia pasca operasi lokal serta mengurangi lama rawat rumah sakit dan pembiayaan. Kata Kunci: Anastesi regional, operasi ekstremitas ata

    333

    full texts

    380

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇