JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
    380 research outputs found

    EFEK TERAPI DISFUNGSI EREKSI DENGAN LI-ESWT DIKOMBINASI DENGAN PDE-5 INHIBITOR DIBANDING PDE-5 INHIBITOR SAJA TERHADAP KADAR hs-CRP

    Get PDF
    ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efek pemberian tadalafil 2,5 mg oral sekali sehari dan pemberian terapi Li-ESWT dua kali seminggu selama empat minggu pada penderita disfungsi ereksi serta melihat pengaruhnya terhadap kadar hs-CRP. Jenis penelitian ini merupakan uji klinis eksperimental dengan rancangan pre and posttest control group design. Pada penelitian ini terkumpul 26 orang subjek penelitian. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol mendapatkan monoterapi PDE-5 Inhibitor (tadalafil) 2,5 mg dan kelompok perlakuan mendapatkan terapi kombinasi PDE-5 Inhibitor (tadalafil) 2,5 mg dengan Li-ESWT. Terapi diberikan selama 4 minggu. Skor IIEF-5, skor EHS diperiksa pada pre dan post-terapi. Kadar hs-CRP subjek diperiksa pada pre, mid, dan post-terapi. Kelompok perlakuan menunjukkan perbaikan disfungsi ereksi lebih baik dibanding kelompok kontrol dari skor IIEF-5 (p = 0,047) dan skor EHS (p = 0,032). Namun hal ini tidak didapatkan pada kadar hs-CRP (p = 0,271). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemberian monoterapi dan terapi kombinasi tidak dapat menurunkan kadar hs-CRP secara konsisten. Pemberian terapi kombinasi PDE-5 Inhibitor dengan modalitas Li-ESWT mampu meningkatkan fungsi ereksi lebih baik dibandingkan monoterapi PDE-5 Inhibitor namun tidak dapat menurunkan kadar hs-CRP lebih banyak dibandingkan monoterapi. Tidak ada hubungan antara penurunan kadar hs-CRP dengan peningkatan nilai IIEF-5 dan EHS.   Kata kunci: disfungsi ereksi, Li-ESWT, PDE-5 Inhibitor, tadalafil, hs-CR

    A ANALISIS PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium cepa L) TERHADAP KADAR ASAM URAT DARAH PADA TIKUS PUTIH (Rattus Norvegicus) JANTAN YANG DIINDUKSI KALIUM OKSONAT

    No full text
    Background : Based on data From the World Health Organization (WHO) expressed an increase in the incidence of gout disease. In Indonesia is known to occur at the age below 34 years (32%) and age more than 34 years (68%). Gout disease based on health service data of Pekanbaru is included in the 10 major diseases in Puskesmas. The disease begins with hyperuricemia conditions due to excessive production of uric acid metabolism and decreased urinary acid excretion or one of them. Shallots are known to have active compounds such as flavonoids, saponins, polyphenols, terpenoids, alkaloids.  Research Objectives : To analyze the influence of red onion/shallot extract (Allium cepa L) on blood uric acid levels in white rats (rattus norvegicus) potassium-induced oksonate. Research Method : Using the design of experimental studies with the research draft "Pre and Posttest control group Design" using samples of 30 mice that were divided into five groups. Results : Use of shallot extract against the level of blood uric acid in white rats induced potassium oksonat is meaningful with evidence of a decrease in blood uric acid levels between before and after treatment. The most effective dose in lowering blood uric acid levels is a dose in the group of 400mg/KgBB/day. Conclusion : The administration of shallot is known to affect blood uric acid levels in white rats males, and the shallot is known to have active compounds to lower blood uric acid levels in the white rats males. Keywords : uric acid, shallot extract, hyperuricemi

    KORELASI NILAI PROSES ROTASI KLINIK DENGAN KELULUSAN UJI KOMPETENSI MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER (UKMPPD)

    Get PDF
                    Pendidikan dokter di Indonesia saat ini sudah memiliki standar kompetensi sebagai acuan kompetensi lulusan dokter berupa standar kompetensi dokter Indonesia (SKDI). Sebagai proses pendidikan yang paling akhir sebelum menempuh UKMPPD, pendidikan tahap profesi sangat diharapkan mampu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan maupun perilaku bagi mahasiswa sebagai bekal untuk mengikuti UKMPPD. Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji hubungan antara masing-masing komponen nilai tiap stase pendidikan tahap profesi dengan kelulusan UKMPPD. Metode penelitian ini adalah observasional kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Subjek yang digunakan adalah 135 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia tahun angkatan 2011 dimana subjek sudah melaksanakan UKMPPD dan merupakan first taker. Hasil yang diperoleh dari beberapa aspek penilaian profesi dokter, Ujian tulis, OSLER, nilai total dan minicex berhubungan dengan luaran nilai CBT UKMPPD (p=0.000;p=0,019;p=0,002;p=0,001) sedangkan utul, OSLER, dan nilai total berhubungan dengan luaran nilai OSCE UKMPPD (p=0.000; p=0,000; p=0,000). Kata kunci: Pendidikan profesi, Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Abstract Currently, medical education in Indonesia has a standard as a reference to assess competency for new medical doctor, namely standar kompetensi dokter Indonesia (SKDI). It is hoped that the clinical clerkship, the last educational process before taking national board examination, will be able to provide knowledge, skills and behavior for students before taking national board examination. This study intends to examine the relationship between each component of the scores for each stage of education at the clinical clerkship and passing national board examination. This method is quantitative observational with cross sectional approach. The subjects used were 135 students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Indonesia in class of 2011 where the subjects already done national board examination and they were the first takers. The results obtained from several aspects of the assessment of the clinical clerkship, written exams, OSLER, total score and minicex scores were related to the CBT score output (p=0.000; p=0.019; p=0.002; p=0.001) while written exam, OSLER, and total score related to the OSCE score output (p=0.000; p=0.000; p=0.000).   Key Words: Clinical clerkship, clinical rotation, National board examination

    GAMBARAN ANEMIA PADA KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM

    Get PDF
    ABSTRACT Postpartum hemorrhage is bleeding that exceeds 500 ml after the baby is born in vaginal delivery and exceeds 1000 ml after abdominal labor before 6 weeks of delivery. However, even a smaller amount of blood loss is very dangerous especially in anemic pregnant women. The purpose of this study was to determine the description of anemia in maternal with the incidence of postpartum hemorrhage.  This research is a descriptive study with cross sectional design using secondary data from medical records for the period of January 1 to December 31 in 2018 taken from two hospitals representing type A hospitals and Type B Hospitals in Palembang, namely RSUP Dr.  Mohammad Hoesin and Siti Khodijah Islamic Hospital Palembang with a total sample of 176. Data analysis used univariate analysis of the variables descriptively to determine the appearance of anemia in the incidence of postpartum hemorrhage. The results showed that of 111 mothers who experienced anemia there were 53 (47.7%) who experienced postpartum hemorrhage while of 65 mothers who were not anemic 14 (21.5%) had postpartum hemorrhage. The conclusion of this study is the picture of anemia in pregnant women tends to experience postpartum hemorrhage. Therefore, the government's action in an effort to prevent anemia in pregnant women by providing iron tablet supplements still needs to be done by looking at the socioeconomic conditions and education levels of the Indonesian people which are still mostly included in the poor category especially in rural areas. Keyword : Anemia; Post Partum Hemorrhage    ABSTRAK Perdarahan postpartum merupakan perdarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir pada persalinan pervaginam dan melebihi 1000 ml setelah persalinan abdominal sebelum 6 minggu persalinan. Akan tetapi kehilangan darah dengan jumlah yang lebih kecilpun sangat berbahaya khususnya pada keadaan wanita hamil yang anemis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran anemia pada ibu bersalin dengan kejadian perdarahan postpartum. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional dengan menggunakan data sekunder rekam medik periode 1 Januari s/d 31 Desember tahun 2018 yang diambil dari dua rumah sakit yang mewakili rumah sakit tipe A dan Rumah Sakit Tipe B yang ada di Kota Palembang yaitu RSUP Dr. Mohammad Hoesin dan Rumah Sakit Islam Siti Khodijah Palembang dengan total jumlah sampel sebanyak 176. Analisis data menggunakan univariat yaitu menganalisis variabel secara deskriptif untuk mengetahui gambaran anemia pada kejadian perdarahan postpartum. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 111 ibu yang mengalami anemia ada sebanyak 53 (47,7%) yang mengalami perdarahan postpartum sedangkan dari 65 ibu yang tidak anemia ada 14 (21,5%) mengalami perdarahan postpartum. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gambaran anemia pada ibu hamil cendrung mengalami perdarahan postpartum. Oleh sebab itu tindakan pemerintah dalam upaya mecegah anemia pada ibu hamil dengan pemberian suplemen tablet besi tetap perlu dilakukan secara melihat kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang masih sebagian besar masih termasuk dalam kategori miskin terutama didaerah pedesaan. Kata Kunci : Anemia dan Perdarahan Postpartu

    GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT DIABETES MELLITUS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2

    Get PDF
    ABSTRACT Introduction: According to the International Diabetes Federation (IDF), the number of people with DM worldwide in 2010 was 285 million. This number increased to 371 million people in 2012 and increased to 387 million people in 2014. This number will continue to increase beyond 600 million people in 2035. The prevalence of DM in Jambi province based on interviews diagnosed by doctors and symptoms by 1.1 percent. According to the United Kingdom Prospective Study (UKPDS) report, the most important chronic complications are cardiovascular disease, peripheral vascular disease, retinopathy, and diabetic nephropathy. Thus actually death in DM occurs not directly due to hyperglycemia, but is associated with complications that occur. The need for motivation and education from health workers regarding the use of DM drugs. Sometimes other drugs are needed to treat complications of DM. Methods: This study uses a prospective descriptive study. The data taken is secondary data by looking at the research variables recorded in the patient's medical record. The sample of this study were all patients with diabetes mellitus who were treated at Raden Mattaher Hospital in May to September 2019 (total sampling). Results: Most patients with diabetes mellitus were aged ≥ 45 years, ie 67 people. The longest use of diabetes mellitus drugs is more than 1 year to 3 years, which is 30 people. The most widely used diabetes mellitus drug, insulin aspart, is 27 people. How to use diabetes mellitus drug is a single insulin as many as 32 people. Conclusion: Diabetes Mellitus Type 2 tends to occur in the elderly at most more than 1 year to 3 years using the most diabetes mellitus diabetes drug administered by means of a single insulin.   Keywords: DM type 2, Diabetes Mellitus drugs, how to use   ABSTRAK Pendahuluan Menurut International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita DM di seluruh dunia pada tahun 2010 adalah 285 juta orang. Angka ini meningkat menjadi 371 juta orang pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 387 juta orang pada tahun 2014. Angka ini akan terus meningkat melampaui 600 juta orang pada tahun 2035. Prevalensi penyakit DM di provinsi Jambi berdasarkan wawancara yang terdiagnosis dokter dan gejala sebesar 1,1 persen. Menurut laporan United Kingdom Prospective Study (UKPDS), Komplikasi kronis paling utama adalah penyakit kardiovaskuler, penyakit pembuluh darah perifer, retinopati, serta nefropati diabetik. Dengan demikian sebetulnya kematian pada DM terjadi tidak secara Iangsung akibat hiperglikemianya, tetapi berhubungan dengan komplikasi yang terjadi. Perlunya motivasi dan edukasi dari petugas kesehatan tentang penggunaan obat DM. Terkadang diperlukan obat lain untuk mengobati komplikasi dari DM. Metode Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif prospektif. Data yang diambil adalah data sekunder dengan melihat variabel-variabel penelitian yang tercatat pada rekam medik pasien. Sampel penelitian ini adalah semua pasien diabetes mellitus yang berobat di RS Raden Mattaher pada bulan mei sampai september 2019 (total sampling). Hasil Pasien yang terkena diabetes mellitus terbanyak pada umur ≥ 45 tahun, yakni 67 orang. Lama penggunaan obat diabetes mellitus paling banyak lebih dari 1 tahun hingga 3 tahun yakni 30 orang. Obat diabetes mellitus yang paling banyak digunakan yakni insulin aspart sebanyak 27 orang. Cara penggunaan obat diabetes mellitus yaitu insulin tunggal sebanyak 32 orang. Kesimpulan Diabetes mellitus tipe 2  cenderung terjadi pada usia lanjut  paling banyak lebih dari 1 tahun hingga 3 tahun menggunakan obat diabetes mellitus terbanyak insulin aspart yang diberikan dengan cara insulin tunggal.   Kata kunci : DM tipe 2, obat Diabetes Mellitus, cara penggunaa

    KARAKTERISTIK PASIEN EFUSI PLEURA DI KOTA JAMBI

    Get PDF
    ABSTRAK Pendahuluan Efusi pleura merupakan keadaan terkumpulnya cairan di dalam rongga pleura, baik itu transudat maupun eksudat. Penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya efusi pleura dapat berupa keganasan maupun proses inflamasi. Keganasan intratorakal dan ekstratorakal dapat menimbulkan terjadinya efusi pleura (efusi pleura maligna/EPM). Sampai sekarang belum ada data deskriptif mengenai efusi pleura di kota Jambi. Adapun tujuan penelitian ini mengetahui karakteristik pasien dengan efusi pleura dan proporsi kejadian efusi pleura maligna di Kota Jambi. Metode Penelitian ini adalah penelitian deskritif dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian merupakan pasien efusi pleura di kota Jambi dari dua RS pemerintah yaitu RSUD Raden Mattaher dan RSUD H. Abdul Manap tahun 2017- 2018 sebanyak 138 sampel. Cara pengambilan sampel dalam penelitan yaitu purposive sampling. Data yang diambil adalah data dari rekam medis pasien dan data primer berupa hasil pemeriksaan sitologi Hasil penelitian ini mendapatkan pasien efusi pleura paling banyak pada proporsi umur 40 – 59 tahun (52,72 %). Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki dengan 88 pasien (63,77%). Lokasi efusi tersering adalah hemithorak dekstra (52,9 %) dan proporsi kejadian efusi pleura maligna hanya 32,61 %. Simpulan Efusi pleura sering terjadi pada usia 40-59 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Sebagian besar efusi pleura adalah negatif maligna, hanya 32,61 % berupa EPM. Kata kunci: efusi pleura maligna (EPM), karakteristik, sitologi   ABSTRACT Introduction Pleural effusion is a condition where the fluid either a transudate or an exudate accumulate in pleural cavity. Disease that can cause pleural effusion can be either a malignancy or an inflammatory process. Intratoracal and extratoracal malignancies can cause pleural effusion (malignant pleural effusion / MPE). The aim of this study was to describe the characteristics of patients with pleural effusion and the proportion of malignant pleural effusion in Jambi City. Methods This research is a descriptive study with a retrospective approach, was conducted in 138 sample of pleural effusion patients at two hospital Raden Mattaher and H. Abdul Manap Hospital in 2017-2018. The data was taken from the patient's medical record and primary data in the form of cytological examination results. Results of this study found that most patients with pleural effusion were at the age 40 - 59 years (52.72%), and more men than women (63.77%). The location of the most common effusion was the right hemithorax (52.9%) and the proportion of malignant pleural effusion was only 32.61%. Conclusion Pleural effusion often occurs at the age of 40-59 years with male sex predominant. Most pleural effusions are negative for malignancy, MPE was only 32,61 %. Keywords: characteristics, cytology, malignant pleural effusion (MPE

    THE EFFECT OF VITAMIN D3 SUPPLEMENTATION PER ORAL AND SUN EXPOSURE ON THE EMPLOYEES OF PROF. DR. R SOEHARSO ORTHOPEDIC HOSPITAL OF SURAKARTA WITH VITAMIN D INSUFICIENCY OR DEFICIENCY

    Get PDF
    Background : Vitamin D insufficiency affects almost 50% of the population worldwide. About 1 billion people worldwide from all ethnicities and age groups, have a vitamin D deficiency. This pandemic of hypovitaminosis D closely related to to lifestyle (such as less of outdoor activities) and environmental (such as air pollution) factors that reduce exposure to sunlight, which is required for ultraviolet-B (UVB)-induced vitamin D production in the skin. High prevalence of vitamin D insufficiency is an important public health issue because hypovitaminosis D is an independent risk factor for total mortality in the general population. Last studies suggest that we may need more vitamin D to prevent chronic disease. As few foods contain vitamin D, guidelines recommended supplementation at suggested daily intake and tolerable upper limit levels. It is also suggested to take a measurement of  the 25-hydroxyvitamin D level serum as the initial diagnostic test in patients at risk for deficiency. Treatment with either vitamin D2 or vitamin D3 is recommended for deficient patients. Subjects and Method : This study was an experimental study with one group design pretest and postest. Target population was employee of Prof dr R Soeharso Orthopaedic hospital with deficiency or insuficiency of vitamin D level. Total of 40 subjects has been measured serum 25-hydroxyvitamin D level. The result found that 1 sample is normal and excluded from the study, and 39 others are included in the study. All of them have been treated with vitamin D3 suplement 50.000 IU per week for eight weeks then measured serum 25-hydroxyvitamin D level post treatment. All the result was analized with Wilcoxon test respectively Results : All samples undergoing treatment with vitamin D3 suplement had a significant improvement on the result of Vitamin D level. Wilcoxon rank test shows the value of p = <0.001 (p <0.05) which means that there is a significant improvement of  vitamin D serum levels before and after treatment.Conclusion : Normalization of hypovitaminosis D level with cholecalciferol (D3) treatment significantly reduces the severity of fatigue symptoms in person who has complain about fatigue conditions

    PROFIL EKSTRA PARU TUBERKULOSIS SECARA HISTOPATOLOGIK PADA FORMALIN FIXED PARAFFIN EMBEDDED (FFPE) DI PROVINSI JAMBI

    Get PDF
    ABSTRACT Background Extrapulmonary Tuberculosis (EPTB) is a condition in tissue outside the lung that is characterized pathologically with extensive involvement of lymphocyte inflammation cells, the presence of epitheloid granuloma cells in the langhans and the duration of the cancer. Tuberculosis (TB) remains a major global public health problem, with 1.5 million deaths every year worldwide.. Histopathologic variations in the appearance of the diagnosis of EPTB often overlap commonly with granulomatous inflammation. This study aims to describe the EPTB profile histopathologically on FFPE samples in Jambi province. Methods This research is a descriptive study with cross sectional technique, evaluating the histopathological picture of EPTB on formalin Fixed Paraffin Emdedded (FFPE) preparations. The study was conducted in February - August 2019 in the Anatomy Pathology Laboratory of the Faculty of Medicine and Health Sciences and FFPE samples originating from Hospitals in Jambi Province. Histopathological data are divided into 3 categories: non-specific chronic mastitis, granulomatous chronic mastitis and specific chronic mastitis. Histopathological variables were assessed by histopathological score. Result Obtained 72 FFPE EPTB tissues from hospitals in Jambi Province, mostly originating from lymph nodes as much as 58.3% followed by breasts as much as 16.5%. The most common histopathopathic picture is in accordance with tuberculosis (EPTB) as much as 54.2% and cases of granulomatous inflammation which is still high as much as 44.4%. Histopathological picture of EPTB fulfills all tuberulosis criteria (100%), in contrast to granulomatous inflammation only fulfills 2 criteria, namely lymphocytes and epithelioid. Conclusions Histopathological picture of extrapulmonary tuberculosis in histopathology for the most part still gives a classic picture. Key Words : Histopathology, Extrapulmonal Tuberculosis, Formalin Fixed Paraffin Embedded (FFPE)   ABSTRAK Latar Belakang Ektrapulmonal Tuberkulosis (EPTB)  adalah suatu kondisi pada jaringan diluar paru  yang ditandai secara patologi dengan keterlibatan secara ekstensif  sebukan sel radang limfosit, adanya granuloma epitheloid  sel datia langhans dan masa perkijuan. Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat global utama, dengan 1,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Diagnosis untuk kasus EPTB  pada jaringan saat ini secara umum masih menggunakan pemriksaan patologi anatomi. Adanya berbagai variasi gambaran secara histopatologis mmebuat diagnosis EPTB seringkali tumpang tindih terumata dengan radang granulomatosa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil EPTB secara histopatologik pada sampel FFPE di provinsi Jambi. Metode Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik cross sectional, menilai gambaran histopatologis EPTB pada sediaan Formalin Fixed Paraffin Emdedded (FFPE).  Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari - Agustus 2019 di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dan sampel FFPE yang berasal dari Rumah Sakit di Provinsi Jambi. Data histopatolgis dibagi menjadi 3 kategori yaitu: mastitis kronis non spesifik, mastitisn kronis granulomatosa dan mastitis kronis spesifik. Variabel histopatologi yang dinilai dengan skor histopatologis. Hasil Didapatkan 72 jaringan FFPE  EPTB dari Rumah Sakit di  Provinsi Jambi , paling banyak berasal dari  kelenjar getah bening sebanyak 58,3% diikuti dengan payudara sebanyak 16,5%. Gambaran histopatolgois paling banyak adalah sesuai dengan tuberculosis (EPTB) sebanyak 54,2% dan kasus radang granulomatosa  yang masih tinggi yaitu sebanyak 44,4%. Gambaran histopatologis EPTB memenuhi semua kriteria tuberulosis (100% ), berbeda dengan radang granulomatosa hanya memenuhi 2 kriteria yaitu sebukan limfiosit dan gambaran epitelioid. Kesimpulan gambaran histopatologis ekstra paru tuberkulosis secara histopatologis paling banyak ditemukan di kelenjar getah bening dan  sebagian besar masih memberikan gambaran yang klasik.  Kata Kunci : Histopatologi,  Tuberkulosis Ekstra Paru , Formalin Fixed Parafin Embedded (FFPE

    KAJIAN CAPAIAN INDIKATOR KAPITASI BERBASIS PEMENUHAN KOMITMEN PELAYANAN (KBK) BPJS DI FKTP KOTA JAMBI

    Get PDF
    ABSTRACT Background: The implementation of capitation payments based on fulfilling service commitments (KBK) is assessed by achieved indicators including contact rate, RRNS and RPPB. Based on data monev Jambi 2019 showed that indicators of KBK BPJS in province Jambi are not reached the target. This research to analyze the factors that affect the achievement of the targets of the BPJS indicators in the Contact rate, RRNS and RPPB in the FKTP in the city of Jambi in 2019. Method: This study used a quantitative descriptive. This study done in 34  primary health care in Jambi city. The questionnaire filled by head of primary health care and p-care staffs as a respondent. Result: The result in this study showed the dominant trouble in reaching the indicator contact rate was exorbitant of target was too high 29 (42.6%). The problem of  RRNS indicator was increasing the demand of hospital referral which 48 (70,6%) samples answered. RPPB target was too high 35 (51.5%). Conclusion: The implementation of Capitation Based on Service Commitment in primary health care in Jambi City had not been done maximally. Keywords : KBK, FKTP, BPJS ABSTRAK Latar Belakang : Pelaksanaan pembayaran kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan (KBK) dinilai berdasarkan pencapaian indikator meliputi Angka Kontak, Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik (RRNS) dan Rasio Peserta Prolanis Rutin Berkunjung (RPPB). Berdasarkan data yang dilakukan oleh team Monev Provinsi Jambi 2019 indikator KBK BPJS di provinsi Jambi masih belum memenuhi target yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi belum tercapainya target pemenuhan indikator KBK BPJS pada Angka Kontak, RRNS dan RPPB pada FKTP dikota Jambi tahun 2019. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di 34 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) kota Jambi. Instrumen penelitian ini menggunakan wawancara dengan panduan kuesioner kepada kepala FKTP serta petugas p-care diFKTP sebagai responden. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan yang paling dominan dalam memenuhi target indikator Angka Kontak adalah terlalu tingginya target yang ditetapkan 29 (42.6%), kesulitan dalam RRNS adalah meningkatnya permintaan rujukan 48 (70.6%), dan kesulitan RPPB adalah terlalu tinggi target yang ditetapkan 35 (51.5%). Kesimpulan : pelaksanaan sistem Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan di FKTP kota Jambi belum terlaksana secara maksimal. Masih ada faktor yang menyebabkan belum tercapainya indikator KBK sehingga membuat FKTP berada di zona tidak aman. Kata kunci : KBK, FKTP, BPJ

    Osteokondroma Raksasa Pada Rami Pubis: Laporan Kasus

    Get PDF
    ABSTRAK Pendahuluan Osteokondroma adalah tumor tulang jinak yang paling umum. Osteokondroma merupakan malformasi perkembangan daripada neoplasma sejati.Osteokondroma biasanya mempengaruhi tulang yang berkembang oleh osifikasi endokondral dan jarang berasal dari tulang yang berkembang secara osifikasi intramembran seperti tulang rami pubis, skapula, klavikula, dan tulang rusuk. Objektif Makalah ini dimaksudkan untuk menyajikan kasus osteokondroma pubis yang jarang terjadi dan mengevaluasi hasil setelah eksisi luas. Kasus Seorang pria 34 tahun dengan benjolan di daerah selangkangan kanan mengeluh selama 10 tahun. Di RSO Prof Soeharso, pasien menjalani eksisi lebar ramus pubis kanan, di mana banyak struktur berbahaya yang harus dihindari. Kami mendapatkan seluruh jaringan tumor dengan diameter 12 sentimeter. Menurut Konferensi Klinikopatologi tumor disimpulkan sebagai osteokondroma. Lokasi tumor dan presentasi klinis jarang terjadi. Tumor ini tidak memiliki keterlibatan viseral atau vaskular meskipun lesi tersebut sangat dekat dengan banyak struktur vital pada ramus pubis superior. Hasil Setelah 1 tahun evaluasi, kondisi klinis pasien baik. Pasien tidak merasakan keluhan apapun, tidak ada tanda-tanda kambuh, dan tidak ada komplikasi pada luka operasi.     Kesimpulan Kami telah melakukan eksisi ekstensif tumor di ramus pubis pria berusia 34 tahun. Hasil pemeriksaan histopatologi sesuai dengan gambaran osteokondroma. Osteokondroma yang muncul dari panggul adalah presentasi yang tidak biasa yang harus diingat sebagai diagnosis banding saat mengevaluasi pasien dengan massa di panggul

    333

    full texts

    380

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇