JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
380 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN SISTEM KESEHATAN DI NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG
ABSTRACT
Background: The health sistem is an action effort with the main objective being to promote, restore or maintain one's health. More than 8 million people per year in developing countries and poor countries, die from conditions that can basically be prevented by the health sistem. 60% of deaths are due to conditions that can be prevented by health care.
Research objective: This study compares health sistems in five developing countries, namely China, India, Ghana, Mexico, South Africa and five developed countries, namely Australia, Canada, New Zealand, United Kingdom and United States. The variables being compared are in terms of Health Services, Access, Health Financing, Communication of Doctors and Patients, Prevention and Promotion of Health
Method: The method used in this research is Literature Review.
Results: There are striking differences between the health sistem in developed and developing countries. The problem of primary health care in developing countries is the slow process of health care. In developing countries the use of access is hampered due to the distance traveled, the use of access has not been optimal, and the use of access according to regulations is still not optimal by officers, while in developed countries the problem that occurs is the difficulty of getting an agreement with a doctor especially after working hours due to busy busyness. Prevention and health promotion efforts in developed countries are better done than developing countries which are more curative than preventive
Conclusion: Indeed, there are significant gaps in the health sistem in developed and developing countries. To overcome this gap, the world health program in developing sustainable goals must get the full support of all countries to create a health sistem that is able to overcome various health problems without any gaps.
Keyword: Health Sistem, Comparison of developed and developing countries
ABSTRAK
Latar Belakang: Sistem kesehatan adalah upaya tindakan dengan tujuan utamanya adalah mempromosikan, memulihkan atau menjaga kesehatan seseorang. Lebih dari 8 juta orang pertahun di negara berkembang dan negara miskin, meninggal akibat kondisi yang pada dasarnya dapat dicegah dengan sistem kesehatan. Sebesar 60% kematian akibat dari kondisi yang dapat dicegah oleh perawatan ksehatan.
Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sistem kesehatan yang ada di lima Negara Berkembang yaitu China, India, Ghana, Mexico, Afrika Selatan dan lima Negara Maju yaitu Australia, Kanada, New Zealand, United Kingdom dan United States. Adapun variabel yang dibandingkan adalah dari segi Pelayanan Kesehatan, Akses, Pembiayaan Kesehatan, Komunikasi dokter dan Pasien, Pencegahan dan Promosi Kesehatan.
Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Literatur Review.
Hasil dan pembahasan: Ada perbedaan menonjol antara sistem kesehatan di negara maju dan negara berkembang. Permasalahan pelayanan kesehatan primer di negara berkembang adalah lambatnya proses pelayanan kesehatan. Di negara berkembang pemanfaatan akses terhambat dikarenakan jauhnya jarak tempuh, belum optimalnya pemanfaatan akses, dan penggunaan akses sesuai regulasi yang masih belum optimal oleh petugas, sementara di negara maju permasalahan yang terjadi adalah sulitnya mendapat perjanjian dengan dokter terutama setelah jam kerja dikarenakan kesibukan yang padat. Upaya pencegahan dan promosi kesehatan di negara maju sudah lebih baik dilakukan dibandingkan negara berkembang yang lebih ke kuratif daripada preventif.
Kesimpulan: Memang terdapat kesenjangan atau gap yang cukup besar tentang sistem kesehatan di negara maju dan berkembang. Untuk mengatasi kesenjangan ini, program kesehatan dunia dalam development sustainable goals, harus lah mendapatkan dukungan penuh dari seluruh negara, untuk menciptakan sistem kesehatan yang mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan tanpa adanya kesenjangan.
Kata kunci: Sistem Kesehatan, Perbandingan negara maju dan berkemban
PENGARUH PENGASUHAN ORANGTUA PADA PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA
ABSTRACTBackground: Adolescents aged 15-18 years are vulnerable to all forms of risky behavior, including alcoholic drinks,drug addiction, bullying, pornographic behavior, internet complaints and premarital sexual behavior. Given theirrelatively young age, it is easy for them to be influenced by the environment around them. Especially, if there arepeers engaging in premarital sexual behavior. Therefore, the role of parents is very important, in which positivecare for adolescents has an impact on premarital sexual behavior.This study aims to see the effect of parental careon premarital sex behavior among high school students in Jambi City.Method: This study used a quantitative approach and the sample selection used a random sampling technique.The number of research respondents was 255 people in high schools Jambi City, starting from 19th August to 29thSeptember 2020. This study used 2 psychological measurement scales, namely parental care and adolescentpremarital sex behavior. The parenting measure scale was adapted from the Alabama Parenting Questionare witha reliability of 0.828 and the item discrimination test was that 22 items were dropped. The scale of measuringpremarital sex behavior has a reliability value of 0.835 and the results of the item discrimination test are 2 itemsthat fail.Results: Statistical analysis used simple linear regression. The value obtained is sig. 2 tailed < 0.05, meaning thatthere is an effect of parental care on premarital sex behavior of public high school students in Jambi City.Conclusion: Parent and adolescent interaction is considered the most important thing to minimize adolescentsfrom avoiding the dangers of risky behavior, namely premarital sex, one of which is open communication betweenparents and adolescents.Keyword: Parenting, Premarital Sex Behavior, Adolescents, High SchoolABSTRAKBACKGROUND Remaja yang berusia 15 – 18 tahun rentan terhadap segala bentuk perilaku beresiko, diantaranyaminuman beralkohol, kecanduan obat-obatan terlarang, tawuran, perundungan, perilaku pornografi, kencaduaninternet dan perilaku seksual pranikah. Mengingat usia mereka yang relatif muda, mudah baginya terpengaruholeh lingkungan di sekitar. Terutama, jika ada teman sebayanya melakukan perilaku seksual pranikah. Olehkarenanya, peran orang tua sangatlah penting, yang mana pengasuhan positif pada remaja berdampak padaperilaku seks pranikah.AIM AND OBJECTIVES Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pengasuhan orangtua terhadap perilakuseks pranikah pada siswa SMA Negeri di Kota Jambi.METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan pemilihan sampelnya menggunakan teknikrandom sampling. Jumlah responden penelitian sebanyak 255 orang meliputi 5 SMA Negeri di Kota Jambi, dimulaidari tanggal 19 Agustus – 29 September 2020. Penelitian ini menggunakan 2 skala ukur psikologi, yaitupengasuhan orangtua dan perilaku seks pranikah remaja. Skala ukur pengasuhan diadaptasi dari AlabamaParenting Questionare dengan reliabilitas senilai 0,828 dan uji deskriminasi aitem terdapat 22 aitem yang gugur.Skala ukur perilaku seks pranikah memiliki nilai reliabilitas 0,835 dan hasil uji deskriminasi aitem terdapat 2 aitemyang gugu
REDESAIN KURSI PERKULIAHAN MAHASISWA PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JAMBI
ABSTRACTBackground: One of the important facilities for college is a chair. The chair that is commonly used is a foldingchair with a small table on one side. This chair often makes users feel uncomfortable when writing or doing tasksat the table and often feels tired when using it. The research objective is to design lecture chairs that are moreergonomic according to the size and needs of students so that they can provide comfort when using them.Method: Quantitative descriptive research, located at the Faculty of Public Health, University of Jambi. Theredesign approach to chair size is related to the size of the student body anthropometry (seven sizes: shoulderwidth and height, elbow height, knee height, hip width and length, thigh length to legs). The sample consisted of94 students with descriptive analysis (comparing uniformity of mean scores, standard deviations used asreferences in percentiles 5 and 95).Result and Conclusion: There is a difference in size for the design of new chairs with the design of old chairs,namely the Chitose and Futura brand chairs. The raw material used foam, stainless-steel seat frames, backrestand seat covers use polyester and mahogany chairs. The new chair redesign uses the appropriateanthropometric size and ergonomics.Keywords: Redesign, Lecture Chair, Ergonomics, AnthropometryABSTRAKPendahuluan: Salah satu fasilitas penting untuk kuliah adalah kursi. Kursi yang umum digunakan adalah kursilipat dengan meja kecil di salah satu sisinya. Kursi ini sering membuat pengguna merasa tidak nyaman saatmenulis atau mengerjakan tugas pada meja tersebut dan sering merasa kelelahan saat menggunakannya.Tujuan penelitian merancang kursi perkuliahan yang lebih ergonomis sesuai ukuran dan kebutuhan mahasiswaagar dapat memberi kenyamanan saat menggunakannya.Metode: Penelitian kuantitatif bersifat deskriptif, yang berlokasi di Fakultas Kesehatan Masyarakat UniversitasJambi. Pendekatan redesign terhadap ukuran kursi dikaitkan dengan ukuran anthropometri tubuh mahasiswa(tujuh ukuran: lebar dan tinggi bahu, tinggi siku, tinggi lutut, lebar dan panjang pinggul, panjang paha ke kaki).Sampel berjumlah 94 mahasiswa dengan analisis deskriptif (membandingkan keseragaman nilai rata-rata,standard deviasi yang digunakan sebagai acuan pada persentil 5 dan 95).Hasil dan Kesimpulan: Adanya perbedaan ukuran untuk desain kursi baru dengan rancangan kursi lama yaitupada kursi merk chitose dan futura. Bahan baku yang digunakan untuk busa sandaran dan dudukanmenggunakan busa, rangka kursi stainless-stell, bahan pelapis sandaran dan dudukan kursi menggunakanpolyester dan meja kursi menggunakan bahan mahoni. Redesign kursi baru menggunakan ukuran antropometriyang sesuai dan ergonomis.Kata Kunci: Redesign, Kursi kuliah, Ergonomi, Anthropometr
THE EFFECTIVENESS OF MISOPROSTOL COMPARES TO OXYTOCIN IN MANAGEMENT OF RETAINED PLACENTA: AN EVIDENCE-BASED CASE REPORT
ABSTRACT
Introduction: Retained placenta is one of major cause for postpartum haemorrhage. Various medication and routes of administration have been reported to increase spontaneous placenta delivery and prevent manual removal of placenta. Purpose of the study to compare the outcome between misoprostol and oxytocin in management of retained placenta.
Method: literature searching was done in 4 databases (Pubmed, EbscoHost, Cochrane and Scopus) with specific keywords, continued with article selection and critical appraisal.
Result: 5 randomized controlled trial articles were found match to eligibility criteria. 3 of 5 studies found that spontaneous placental delivery occurred more in misoprostol group than oxytocin group. Based on 2 studies, the NNT value of misoprostol are 3 compare to oxytocin group. 2 other studies found that no significant differences of spontaneous delivery of placenta in misoprostol and oxytocin group. 2 studies found that misoprostol had shorter time for spontaneous placenta delivery. However, 2 other studies also found that misoprostol had longer time for spontaneous delivery. 1 study also found that Misoprostol group have less blood loss than oxytocin group.
Conclusion: administration of misoprostol has better outcome in induce spontaneous placenta delivery, time needed for delivery and less blood loss volume compared to oxytocin.
Keywords: misoprostol; oxytocin; prolonged third stage labour; retained placenta
 
RADIOSCAPHOLUNATE (RSL) FUSION ON SECONDARY OA WRIST WITH NEGLECTED DISLOCATION RADIOCARPAL JOINT AND CONTRACTURE DUE TO ENTRAPMENT OF SUPERFICIAL FLEXOR TENDON INDEX FINGER OF LEFT HAND
ABSTRACT
Background: When pain, deformity and instability compromise wrist function, wrist stabilization by means of fusion is a procedure of recognized validity. The goal of wrist arthrodesis is to provide the patient with a stable wrist for power grip and the predictable relief of pain while sacrificing wrist motion. The radioscapholunate (RSL) fusion is one of salvage procedure indicated in the case of traumatic or degenerative osteoarthritis of the radiocarpal joint, involving the lunate facet of the radius. RSL-fusion reduced total wrist motion (3 MC/Rad) in the F/E axis to an average of 49% of F/E in the unfused wrist but preserves midcarpal joint motion while alleviating pain.
Case Report: We report a 43-year-old male patient with pain on his left wrist. 10 months before admission, he felt down from stairs with his left hand bear his body weight. He broke his wrist and got surgery at that time. Because still feel pain and his index finger can’t fully extensed, he brought to Soeharso orthopaedic hospital. Here, we have done RSL-fusion using cross pinning K-Wire to reduce pain, distal scapoid excision to optimizing radial angulation and release superficial flexor tendon index finger of left hand.
Discussion: With Secondary OA of left wrist post traumatic with neglected radiocarpal dislocation and superficial flexor tendon contracture due to entrapment index finger of left hand post RSL-fusion, distal scapoid excision and release contracture can reduce pain at radiocarpal joint and improve range of movement.
Conclusion: The goal of Radioscapholunate (RSL) fusion is to optimizing wrist motion and strength while minimizing or eliminating pain
Keywords: Radioscapholunate fusion, partial wrist arthrodesis, limited wrist fusion, reduce pai
ANALISIS DETERMINAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RESTLESSNESS LEG SINDROM PADA PENDERITA CHRONIC KIDNEY DISEASE END STAGE DI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
ABSTRAKLatar Belakang: Restless legs syndrome (RLS) merupakan masalah kesulitan tidur atau bangun sesaat setelahonset tidur karena sensasi kaki yang tidak menyenangkan. Gangguan ini dapat dibagi menjadi dua kategori yaituRLS idiopatik (iRLS) dan RLS sehubungan dengan berbagai kondisi yang melatarbelakangi, seperti anemiadefisiensi besi, kehamilan, penyakit Parkinson, dan penyakit ginjal tahap akhir. Prevalensi RLS pada pasienpenyakit gagal ginjal lebih besar yang berkisar antara 6,6 hingga 62%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisisfactor-faktor determinan yang berhubungan dengan tingkat keparahan Restless legs syndrome pada penderitagagal ginjal akut stadium akhir yang sedang menjalani hemodialisa.Metoda : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menguji korelasi antar beberapa variable denganpendekatan cross sectional study. Sampel adalah seluruh penderita penderita gagal ginjal akut stadium akhir yangsedang menjalani hemodialisa berjumlah 50 orang dipilih menggunakan Teknik concecutive sampling. datadianalisis secara univariate menggunakan distribusi frekuensi, dan secara bivariate dengan uji, spearman-rank,coofecient correlation dengan tingkat signifikansi (p≥0.05).Hasil & Pembahasan : Hasil penelitian di dapatkan adanya hubungan antara umur (p=0,053, p<0,05) lamamenjalani hemodialisa (p=0,056, p<0,05) dengan Kejadian RLS berdasarkan uji Rank Spearman. Dimanaresponden dengan kelompok usia >60 tahun yang menderita RLS kondisi sangat parah, sedangkan kelompok usia35-45 tahun mayoritas mengalami kondisi RLS Parah. Penderita CKD yang mengalami kondisi RLS parahumumnya terjadi pada pasien yang menjalani HD <12 bulan hingga 48 bulan. Sedangkan RLS sangat parah tidakterlalu banyak namun dijumpai pada responden dengan lama HD 12-48 bulan (3,2%). Sebaliknya hasil uji statisticcoofecient contingency menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan RLS.Namun hasil penelitian menunjukkan laki-laki lebih banyak mengalami RLS dengan kondisi parah (33,3%)dibanding perempuan (17,2%).Kata Kunci : Restlessness-leg-syndrome, chronic-kidney-disease, facto
RENCANA STRATEGI BISNIS RSD KOLONEL ABUNDJANI BANGKO TAHUN 2019 – 2023
ABSTRACT
Background : The hospital’s strategic business plan has a program target that can overcome future problems related to service development. This study aims to provide a comprehensive review of the hospital strategis business planning process so that alternative strategies can be obtained for the next 5 year and become an alternative reference in process of formulating business strategic plan for government hospital
Methods: This research is operational research, qualitative research with in-depth interviews and document research using hospital performance reports.
Results: The results of the analysis of external and intenral environmental factors, alternative strategies that are suitable for current hospital conditions are service product development and market penetration. In order to realize this strategy there are several things that must be of particular concern, namely the limited resources that are available which include the availability of human resources and financial support and there is no available integrated hospital information system.
Conclusion: The alternative strategy set out in the hospital business strategic plan based on the current mapping of external and internal environmental factors is service product development anda market penetration. To realize this business strategy requires a strong and related stakeholders, especially in terms of human resources and budget avaibility.
Keywords: Hospitals, strategic plans, business strategy.
ABSTRAK
Latar Belakang. Rencana strategis bisnis rumah sakit memiliki target program yang dapat mengatasi permasalahan – permasalahan dimasa depan yang berkaitan dengan pengembangan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tinjauan komperhensif tentang proses penyusunan rencana strategis bisnis rumah sakit sehingga diperoleh strategi alternatif untuk 5 tahun kedepannya dan menjadi rujukan alternatif dalam proses penyusunan rencana strategis bisnis rumah sakit pemerintah.
Metode : penelitian ini adalah penelitian operasional, penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan penelitian dokumen mengunakan laporan kinerja rumah sakit.
Hasil : Hasil analisa faktor lingkungan eksternal dan internal, strategi alternatif yang cocok dengan kondisi rumah sakit sekarang adalah pengembangan produk layanan dan penetrasi pasar. Guna mewujudkan strategi ini ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian khusus yaitu keterbatasan sumber daya yang dimiliki yang meliputi ketersediaan sumber daya manusia dan dukungan keuangan serta belum tersedia sistem informasi rumah sakit yang terintegrasi.
Kesimpulan : Strategi alternatif yang ditetapkan dalam rencana strategis bisnis rumah sakit berdasarkan pemetaan faktor- faktor lingkungan eksternal dan internal saat ini adalah pengembangan produk pelayanan dan penetrasi pasar. Guna mewujudkan strategis bisnis ini membutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh sumber daya manusia yang ada di rumah sakit dan stakeholder yang terkait, terutama dalam hal ketersediaan SDM dan ketersediaan anggaran.
Kata Kunci : Rumah sakit, rencana strategis, strategi bisnis
LUARAN DINI REPAIR HIPOSPADIA SETELAH PROTOKOL PENCUCIAN GENITAL PREOPERATIF
ABSTRACT
Background: The complications after hypospadias repair are still common in our institution. Previous study in 2015 shows that 42 % develop uretrocutaneus fistula, 6 % had meatal stenosis, and 7 % had wound dehiscense. Infection may be one of the factors that plays role in the development of those complications. Genital toilet before hypospadias repair is tought to be useful in skin cleaning by removing transient flora and some resident flora to reduce the colony which may cause wound infections.
Research Objective: The aim of this study is to review early outcome of hypospadias repair after preoperative genital toilet protocol.
Methods: This is an analytical retrospective study of hypospadias patients underwent repair between January 2015 and August 2018. Goup A without genital toilet and group B All patients received genital toilet using Chloroxylenol 2% twice a day for one week prior to surgery. Postoperative complication such as wound infection, wound dehiscence, meatal stenosis and urethrocutaneus fistula were recorded.
Results: group A were 42 underwent repair in 1 Year periode.Group B were 90 hypospadias patients underwent repair in 2.5 years period foutry five patients (49 %) underwent one stage repair, while 46 patients (51%) underwent staged repair ( 35% chordectomy and scrotoplasty; 16% staged uretroplasty). Wound infections were observed in 3% patient , wound dehiscence in 1 %. Among patients who underwent urethroplasty, uretrocutaneus fistula were developed in 23 % patients and meatal stenosis were developed in 5.% patients. Preoperative genital toilet was significant to decrease complication (p value: 0.044).
Conclusion: preoperative Genital toilet is a safe, simple, and inexpensive method which can reduce the early complication of hypospadias repair
Keywords: outcome, hypospadia, genital toilet
ABSTRAK
Latar Belakang: komplikasi setelah dilakukan repair hipospadia masih sering terjadi di institusi kami. Penelitian sebelumnya menunjukkan 42% berkembang menjadi fistula uretrocutan, 6% meatal stenosis, dan 7% wound dehiscens. Infeksi merupakan salah satu dari faktor yang berperan dalam terjadinya komplikasi tersebut.pencucian genital sebelum dilakukan operasi bisa berguna dalam membersihkan dan menghilangkan transient flora dan beberapa flora pathogen untuk menuruni jumlah koloni yang dapat mengakibatkan infeksi luka operasi. Tujuan penelitian ini menilai luaran dini dari operasi hipospadia setelah dilakukan protocol pencucian genital sebelum operasi.
Metode: penelitian ini merupakan descriptive retrospective study pada pasien hipospadia yang telah dilakukan repair of antara Januari 2015 dan Agustus 2018. Kelompok A tanpa dilakukan protocol dan kelompok B dilakukan protocol Seluruh pasien mendapatkan pencucian genital menggunakan Chloroxylenol 2 % dua kali sehari selama satu minggu sebelum dilakukan pembedahan. Komplikasi pasca operasi seperti infeksi luka operasi, wound dehiscens, meatal stenosis, fistula uretrocutan dicatat.
Hasil: kelompok A sebanyak 42 pasien yang telah dilakukan repair hipospadia selama 1 tahun. kelompok B 90 pasien yang telah dilakukan operasi hipospadia selama 2.5 tahun dimana 43 pasien (49 %) operasi satu tahap, dan 47 pasien (51%) staged repair ( 35% kordektomi dan skrotoplasti; 16% staged uretroplasty). Infeksi luka operasi 3% patien, dehisen 1 %. Pada pasien yang dilakukan uretroplasty, fistula uretrokutan sebanyak 23 % pasien dan meatal stenosis sebanyak 5.% pasien. Pencucian genital sebelum operasi bermakna dalam menurunkan komplikasi (p value: 0.044).
Kesimpulan: Pencucian genital peoperatif merupakan metode yang aman, sederhana, and murah dalam menurunkan komplikasi dini setelah operasi hipospadia.
Kata kunci: outcome, hypospadia, genital toile
HUBUNGAN KONSUMSI JENGKOL DENGAN KEJADIAN GAGAL GINJAL KRONIS DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RSUD RADEN MATTAHER JAMBI TAHUN 2017
ABSTRACT
Background: Djenkol (Pithecolobium jiringa) is one of the food consumed by the population of Indonesia. Djenkol seeds can be consumed raw, roasted, or fried. However djenkol contents djenkolic acid which nephrotoxic and can crystallize so it would blockage the urinary tract and then damaging the kidney. Chronic renal failure is chronic renal function impairment, progressive and irreversible. Chronic renal failure is a global health problem with an increased incidence, prevalence and morbidity rates. The purpose of this study was to determine the relationship of between consumption of djenkol with the incidence of chronic renal failure in the Department of Internal Medicine Raden Mattaher Hospital in Jambi from January to February 2017.
Methods: The observational analytic study with case control design held in 72 subject with 36 CRF patient in the case group and 36 non CRF patient in the control group. Purposive sampling was used to collect subject. This research was conducted at the Department of Internal Medicine Raden Mattaher Hospital in Jambi from January to February 2017. Data were obtained from interviews, medical records and observation sheet.
Results: In the case group dominated with male patient (20 respondents, 55,6%) and respondent with age range 36-45 years (11 respondent, 30,6%). Most of the respondents consume djenkol: 50 people (69.4%). In the case group who consume djenkol are 30 subjects (60.0%), while in the control group 20 subject consume djenkol. Chi-Square test showed that history consumption of djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 4.000; p = 0.011; Cl95% = 1.337 to 11.965). The number of consume djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 3.314; p = 0.023; Cl95% = 1.154 to 9.520). The frequency of consume djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 3.750; p = 0.008; Cl95% = 1.379 to 10.200). The duration of consume djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 3.143; p = 0.018; Cl95% = 1.199 to 8.241).
Conclusion: These results show that there is relationship between consumption of djenkol with the incidence of chronic kidney failure in the Department of Internal Medicine Raden Mattaher Hospital in Jambi from January to February 2017.
Keywords: chronic renal failure (CRF), consumption of djenkol, duration, frequency, number.
ABSTRAK
Latar Belakang : Jengkol (Pithecolobium jiringa) merupakan salah satu makanan yang banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Biji jengkol dapat dikonsumsi dengan mentah, dibakar atau digoreng. Namun jengkol mengandung asam jengkolat yang bersifat nefrotoksik dan dapat mengkristal yang akan menyumbat saluran kemih dan merusak ginjal. Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan ireversibel. Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan dunia dengan peningkatan insidensi, prevalensi serta tingkat morbiditas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsumsi jengkol dengan kejadian gagal ginjal kronik di Bagian Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi pada juli-agustus Tahun 2017.
Metode : Penelitian analitik observasional dengan desain case control dengan 72 sampel, diantaranya 36 pasien GGK sebagai kelompok kasus dan 36 pasien non GGK sebagai kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan di Bagian Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi periode Januari-Februari tahun 2017. Data diperoleh dari wawancara langsung, rekam medis dan lembar observasi.
Hasil : Pada kelompok kasus didominasi oleh pasien pria yaitu 20 orang (55,6%) dan responden dengan rentang usia 36-45 tahun (30,6%). Sebagian besar responden mengkonsumsi jengkol yaitu 50 orang (69,4%). Kelompok kasus yang mengkonsumsi jengkol ada 30 orang (60,0%), sedangkan kelompok kontrol yang mengkonsumsi jengkol ada 20 orang (40,0%). Pada uji statistic Chi-Square diperoleh riwayat konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=4,000; p=0,011; Cl95%= 1,337-11,965). Jumlah konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=3,314; p=0,023; Cl95%= 1,154-9,520). Frekuensi konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=3,750; p=0,008; Cl95%= 1,379-10,200). Lama konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=3,143; p=0,018; Cl95%= 1,199-8,241).
Kesimpulan: Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi jengkol dengan kejadian gagal ginjal kronik di Bagian Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi pada juli-agustus tahun 2017
Kata kunci: gagal ginjal kronik (GGK), konsumsi jengkol, lama konsumsi frekuensi, jumlah.
 
PERBANDINGAN EFEK PEMBERIAN ASAM FOLAT SELAMA KEHAMILAN TERHADAP KADAR PROGESTERON, T4 DAN KEJADIAN NEURAL TUBE DEFECT (NTD) PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS)
ABSTRACT
Background : Folate needs increase during pregnancy because folate is needed for fetal growth and development. Folate deficiency can cause abnormalities in the mother (anemia, peripheral neuropathy) and the fetus (congenital abnormalities). Folic acid supplementation when conception is known to reduce the risk of neural tube defects (NTD) in the fetus. Pregnancy causes significant changes in iodine metabolism and quality, serum thyroid binding protein, and the development of the mother's thyroid gland. This study aims to determine the relationship of consumption of folic acid to progesterone, T4 and NTD levels.
Method : This study was conducted in 32 rats divided into 4 treatment groups (aquadest, folate 600 µg, 800 µg, 1000 µg). folate administration is carried out on the first day of marriage until the 20th day (H-1 termination). Examination of T4 and Progesterone levels was carried out by the ELFA method.
Results : The results showed no association between administration of folic acid with progesterone levels (p> 0.05), T4 (p> 0.05) and NTD incidence (p> 0.05).
Keyword : Folate, T4, Progesteron
ABSTRAK
Latar Belakang : Kebutuhan folat meningkat selama masa kehamilan karena folat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Kekurangan folat dapat menyebabkan kelainan pada ibu (anemia, neuropati perifer) maupun janin (kelainan bawaan). Suplementasi asam folat saat konsepsi diketahui dapat mengurangi risiko neural tube defect (NTD) pada janin (De Wals, 2007). Kehamilan menyebabkan perubahan signifikan pada metabolisme dan kirens iodium, serum thyroid binding protein, dan perkembangan kelenjar tiroid ibu. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi asam folat terhadap kadar progesteron, T4 dan NTD.
Metode : Studi ini dilakukan pada 32 tikus yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan (aquadest, folat 600 µg, 800 µg , 1000 µg). pemberian folat dilakukan pada hari pertama dikawinkan sampai hari ke 20 (H-1 terminasi). Pemeriksaan kadar T4dan Progesteron dilakukan dengan metode ELFA.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara pemberian asam folat dengan kadar progesteron (p> 0,05), T4 (p> 0,05) dan angka kejadian NTD (p> 0,05).
Kata kunci : folat, T4, Progestero