JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
    380 research outputs found

    EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA), FILTRAT DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA), LARUTAN DAUN TEMBAKAU (NICOTIANA TABACUM) DAN BUBUK TEMEFOS 1% (ABATE) TERHADAP MORTALITAS JENTIK NYAMUK AEDES AEGYPTI

    Get PDF
    ABSTRACTBackground: Dengue Hemorragic Fever (DHF) has caused real and serious problems in Jambi Province.Infectious diseases caused by mosquitoes are currently underway to control mosquito larvae. Utilization ofnatural larvicides is expected to produce larvicides that are more environmentally friendly. Types of plants thatproduce natural enzymes that are useful as larvicides are papaya seeds (Carica papaya), soursop leaves(Annona muricata), tobacco leaves (Nicotiana tabacum).Methods : This type of research is experimental design with post test only with control group design, whereobservations were made 8 (eight) times which were carried out every 3 hours after the treatment was carried out.The sample in this study amounted to 30 Aedes aegypti mosquitoes for each group. Univariate analysis usingfrequency distribution and bivariate analysis using dependent T test.Results: The lowest larvae mortality was found in papaya seed extract and the highest mortality was found insoursop leaf filtrate. The results of the analysis in the treatment group of papaya seeds (Carica papaya), soursopleaves (Annona muricata), tobacco leaves (Nicotiana tabacum) obtained p-value <0.05, so there was a significantdifference between the treatment group and the control group.Conclusion : The administration of papaya seed extract (Carica papaya), soursop leaf filtrate (Annona muricata),and tobacco leaf water (Nicotiana tabacum) had an effect on mosquito larvae mortality.Keywords: Papaya (Carica papaya), Soursop (Annona muricata), Tobacco (Nicotiana tabacum), Temefos 1%,Mortality of Aedes aegypti.ABSTRAKLatar Belakang : Penyakit Dengue Hemorragic Fever (DHF) telah menimbulkan permasalahan nyata dan seriusdi Provinsi Jambi. Penyakit menular akibat nyamuk saat ini terus dilakukan upaya pengendalian jentik nyamuk.Pemanfaatan larvasida alami diharapkan munculnya larvasida yang lebih bersahabat bagi lingkungan. Jenistanaman yang menghasilkan enzim alami yang berguna sebagai larvasida adalah biji pepaya (Carica papaya),daun sirsak (Annona muricata), daun tembakau (Nicotiana tabacum).Metode : Jenis penelitian bersifat experimental design dengan post test only with control group design, dimanaobservasi dilakukan sebanyak 8 (delapan) kali yang dilakukan setiap 3 jam pada saat setelah dilakukanperlakuan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 ekor nyamuk Aedes aegypti untuk tiap kelompok. Analisisunivariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji T dependen.Hasil : Mortalitas jentik terendah terdapat pada ekstrak biji pepaya dan mortalitas tertinggi terdapat pada filtratdaun sirsak. Hasil analisis pada kelompok perlakuan terhadap biji pepaya (Carica papaya), daun sirsak (Annonamuricata), daun tembakau (Nicotiana tabacum)didapatkan nilai p-value<0,05 sehingga terdapat perbedaan yangsignifikan antara kelompok perlakuan tersebut dengan kelompok kontrol. Kesimpulan : Pemberian ekstrak biji pepaya (Carica papaya), filtrat daun sirsak (Annona muricata), dan larutandaun tembakau (Nicotiana tabacum) mempunyai pengaruh terhadap mortalitas jentik nyamuk.Kata Kunci : Pepaya (Carica papaya), Sirsak (Annona muricata),Tembakau (Nicotiana tabacum), Temefos 1%,Mortalitas Aedes aegypti

    BRAND EQUITY AND CUSTOMER’S LOYALTY IN HEALTHCARE SETTING: A NARRATIVE REVIEW

    Get PDF
    ABSTRACT Background: The growth of hospitals in the world is getting higher, and over time makes hope for the quality of better health services. Since 2012, in Indonesia, there has been an increase number of hospitals by 5.2%, with the number of hospitals amounting to 2,820 hospitals. The large number of hospitals has made competition between hospitals to attract customers even higher. Hospitals need to think about how to maintain the loyalty of their patients to build hospital’s income. One that influences brand loyalty is brand equity from the service provider. Research objective: The purpose of this study is to assess the influence of brand equity on brand loyalty, and assess the values ​​that affect customer loyalty. Method: The research method is a review of narrative literature using a systematic search, including 11 studies. Result: This brand equity was found to have dimensions such as brand loyalty, brand association, brand awareness, brand trust and perceived quality. Patient loyalty can only be achieved by increasing patient satisfaction through good quality services. Conclusion: Only by a good that patient re-visit intention could be build and in the end increase the hospital's revenue. Keywords: brand equity, brand loyalty, customer loyalty, hospital   ABSTRAK Latar belakang: Pertumbuhan rumah sakit di dunia semakin tinggi, dan seiring dengan waktu membuat harapan terhadap mutu pelayanan kesehatan semakin tinggi. Sejak tahun 2012 sampai dengan saat ini, di Indonesia terdapat peningkatan jumlah rumah sakit sebesar 5,2%, dengan jumlah rumah sakit sebesar 2.820 rumah sakit. Banyaknya jumlah rumah sakit membuat persaingan antar rumah sakit untuk menggaet pelanggan pun semakin tinggi. Rumah sakit perlu memikirkan bagaimana mempertahankan loyalitas dari pasien mereka untuk membangun pendapatan rumah sakit. Salah satu yang mempengaruhi loyalitas merek adalah ekuitas merek (brand equity) dari penyedia layanan. Tujuan penelitian:  ini adalah menilai pengaruh ekuitas merek terhadap loyalitas merek, dan menilai nilai-nilai yang mempengaruhi loyalitas pelanggan. Metode: Peninjauan literatur naratif menggunakan pencarian sistematik, dengan menyertakan 11 studi. Hasil: Ekuitas merek ini ditemukan memiliki dimensi seperti loyalitas merek, asosiasi merek, kesadaran merek, kepercayaan merek dan kualitas yang dirasakan. Loyalitas pasien hanya dapat dicapai dengan meningkatkan kepuasan pasien melalui layanan berkualitas baik. Kesimpulan: Hanya dengan kepuasan pasien yang baik, niat kunjungan ulang dapat dibangun dan akhirnya meningkatkan pendapatan rumah sakit Kata kunci: ekuitas merek, loyalitas merek, loyalitas pelanggan, rumah saki

    GAMBARAN KLINIS DAN LABORATORIUM PADA PASIEN PNEUMONIA DI ICU RSUD RADEN MATTAHER JAMBI

    Get PDF
    ABSTRACT Background: Appropriate and rapid diagnosis and management through clinical presentation and laboratory results of pneumonia patients can reduce morbidity and mortality. Research Objectives: This study aims to determine the clinical and laboratory features in pneumonia patients. Research Methods: Research is descriptive, including clinical and laboratory symptoms Results: Of the 22 ICU pneumonia patients consisting of 9 patients VAP (40.90%), 8 patients HAP (36.36%) and CAP 5 patients (22.73%). With 9 patients (40.90%) neurological cases, 5 patients (22.73%) internal medicine cases, 6 patients (27.27%) neurosurgery cases and 2 patients (9.09%) digestive surgery cases. The highest number of deaths was 13 patients (59.09%), while moving to HCU 5 patients (22.72%), moved in 3 patients (13.63%) and went home at the request of one patient (4,54 %). Awareness at the time of ICU coma in 2 patients (9.09%), sopor 5 patients (22.72%), somnolence 11 patients (50%), apathy 2 patients (9.09%) and compos mentis 2 patients (9, 09%). Diastolic blood pressure 59-119 mmHg and systolic 87-218 mmHg. The pulse is 72-142 times / minute, the temperature is 36.1-39.9oC. Laboratory results: the number of leukocytes 5.12-31.03 cells / µL, hemoglobin 2.5-15.9 g / dL, the number of erythrocytes 0.71-5.47 cells / µL, hematocrit 7.30-46.30% and platelet counts 94-666 cells / µL. Uterum kidney function 10-215 mg / dl and Creatinine 0.6-13.7 mg / dl Conclusions: Pneumonia patients were mostly VAP and HAP in 17 patients (77.27%). The highest number died in 13 patients (59.09%). Awareness at the time of admission was highest for 11 patients (50%). Low-high diastolic tension and normal-high systolic. Normal-fast pulse, normal-high temperature. Laboratory results: normal-high leukocyte count, hemoglobin, erythrocyte count, low-normal hematocrit and low-high platelet count. The function of the kidney ureum and creatinine is normal. We suggest rapid diagnosis of pneumonia treated in the ICU by comparison of the data above with the results of research describing clinical symptoms and local laboratory results Keywords: clinical picture, laboratory, CAP, HAP, VAP   ABSTRAK Latar Belakang: Diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat dan cepat melalui gambaran klinis dan hasil laboratorium pasien pneumonia dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian.. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis dan laboratorium pada pasien pneumonia. Metode Penelitian: Penelitian bersifat deskriptif, meliputi gejala klinik dan laboratorium. Hasil Penelitian: Dari 22 pasien pneumonia ICU terdiri dari VAP 9 pasien (40,90%), HAP 8 pasien (36,36%) dan CAP 5 pasien (22,73%). Dengan penyakit dasar 9 pasien (40,90%) kasus neurologi, 5 pasien (22,73%) kasus penyakit dalam, 6 pasien (27,27%) kasus bedah saraf dan 2 pasien (9,09%)  kasus bedah digestif.   Luaran yang ada terbanyak meninggal 13 pasien (59,09%), sedangkan pindah ke HCU 5 pasien (22,72%), pindah ruang rawat inap 3 pasien (13,63%) dan pulang atas permintaan sendiri 1 pasien (4,54%). Kesadaran pada waktu masuk ICU koma 2 pasien (9,09%), sopor  5 pasien (22,72%), somnolens 11 pasien (50%), apatis 2 pasien (9,09%) dan compos mentis 2 pasien (9,09%). Tensi diastolik 59-119 mmHg dan sistolik 87-218 mmHg. Nadi 72-142 kali/ menit, suhu 36,1-39,9oC. Hasil laboratorium :  jumlah lekosit 5,12-31,03 sel/µL, hemoglobin 2,5-15,9 g/dL , jumlah eritrosit 0,71-5,47 sel/µL, hematokrit 7,30-46,30% dan jumlah trombosit 94-666 sel/µL. Fungsi ginjal ureum 10-215 mg/dl dan Creatinine 0,6-13,7 mg/dl. Kesimpulan: Pasien pneumonia sebagian besar VAP dan HAP 17 pasien (77,27%). Luaran terbanyak meninggal 13 pasien (59,09%). Kesadaran pada waktu masuk terbanyak somnolens 11 pasien (50%).  Tensi diastolic rendah-tinggi dan sistolik normal-tinggi. Nadi normal-cepat, suhu normal-tinggi. Hasil laboratorium:  jumlah lekosit normal-tinggi, hemoglobin, jumlah eritrosit, hematokrit rendah-normal dan jumlah trombosit rendah-tinggi. Fungsi ginjal ureum dan Creatinine normal-tinggi. Diagnosa cepat pneumonia yang dirawat di ICU dengan perbandingan data diatas hasil penelitian deskripsi gejala klinik dan hasil laboratorium setempat. Kata kunci : gambaran klinis, laboratorium, CAP, HAP, VAP &nbsp

    LOOP-MEDIATED ISOTHERMAL AMPLIFICATION (LAMP) DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS INFEKSI PARASIT MALARIA BERBASIS MOLEKULER

    Get PDF
    Penegakan diagnosis malaria merupakan hal penting dalam program eleminasi malaria. Proses yang cepat, akurat dan murah merupakan harapan dalam diagnosis malaria, khususnya pada daerah remote area, pada kondisi gawat darurat atau pada saat ketidaktersediaan tenaga mikroskopis. Pemeriksaan RDT dan RDTs yang telah digunakan untuk menegakkan diagnosis malaria, terkadang memiliki akurasi yang kurang diharapkan. Pemeriksaan mikroskopis sebagai gold standard, sering terkendala saat tidak ada tenaga mikroskopis. Pengalaman tenaga mikroskopis juga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Nested PCR sering digunakan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan mikroskopis, namun membutuhkan peralatan dan laboratorium khusus sehingga membutuhkan biaya yang mahal. Untuk menjawab kekurangan pada metode pemeriksaan sebelumnya, maka loop-mediated isothermal ampliï¬cation (LAMP) dikembangkan sebagai metode diagnosis. LAMP sebagai metode pemeriksaan yang berbasis molekuler memiliki akurasi yang tinggi, dengan sensitifitas dan spesifisitas pada hampir semua penelitian sebelumnya lebih dari 90%. LAMP juga dapat mendeteksi spesies plasmodium dari pasien malaria pada daerah endemis atau non-endemis (kasus impor), pada kehamilan, pada kondisi densitas parasitemia yang rendah dan pada daerah dengan low transmission

    POTENSI MIKROBIOTA USUS DALAM PENCEGAHAN DAN TATALAKSANA OBESITAS

    Get PDF
    Obesitas adalah epidemi yang berkembang di banyak negara, termasuk di negara-negara berkembang.  Obesitas memiliki dampak kesehatan yang serius termasuk penyakit kardiovaskular, hipertensi pulmonal, gangguan muskuloskeletal, berbagai jenis kanker, bahkan kematian. Biaya sosial dan ekonomi dari obesitas dan komorbiditas terkaitnya sangat besar dan membebani sistem perawatan kesehatan. Proses fisiologis yang mengatur berat badan dan metabolisme menjadi penyebab perjalanan peyakit obesitas, termasuk sinyal lapar dan kenyang  yang berasal dari perifer dan respon gastrointestinal terintegrasi yang dipengaruhi oleh mikrobiota usus. Mikrobiota berperan dalam perjalanan penyakt obesitas dengan mememngaruhi perolehan nutrisi, regulasi energi, dan memiliki peran penting dalam mengatur berat badan. Komposisi mikrobiota usus terbentuk dalam tahun pertama kehidupan dan terus mengalamin perubahan ke mikrobiota tipe dewasa yang diakibatkan oleh faktor inang dan faktor eksternal, termasuk efek dari mikrobiota itu sendiri, perubahan perkembangan di lingkungan usus, dan transisi ke diet orang dewasa. Triliunan bakteri yang berada di dalam saluran pencernaan manusia meningkatkan kemungkinan bahwa mikrobiota usus memiliki peran penting dalam mengatur berat badan dan mungkin ikut bertanggung jawab atas perkembangan obesitas pada beberapa orang. Artikel ini membahas peran memodifikasi mikrobiota usus dalam perjalanan penyakit dan perkembangan obesitas

    EFFEKTIVITAS MADU JAMBI SEBAGAI ANTI ADHESIVE INTRA PADA LUKA BERSIH TIDAK TERKONTAMINASI

    No full text
    Abstrak Latar belakang: Adhesi peritoneum setelah pembedahan merupakan akibat dari cedera permukaan peritoneum dan iskemik jaringan. Zat anti adhesi merupakan salah satu metode menurunkan kejadian adhesi. Madu merupakan salah satu obat yang memiliki sejarah panjang sebagai anti adhesive, antibakteri, dan penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas madu Jambi dalam pencegahan pembentukan adhesi intraabdomen. Metode: 24 tikus laki-laki jenis wistar dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok control sebagai kelompok A, kelompok NaCl 0.9% sebagai kelompok B, kelompok Madu minimal sebagai kelompok C dan kelompok madu maksimal sebagai kelompok D. penilaian dilakukan pada hari ke 10 dimana data yang dikumpulkan berupa identifikasi adhesi, derajat adhesi secara makroskopis sedangkan penilaian mikroskopis berupa vascular endothelial cell, sel inflamasi, dan sel fibroblast cell Hasil: adhesi secara makroskopis pada kelompok A sebanyak 6 tikus, kelompok B sebanyak 6 tikus, kelompok C sebanyak 2 tikus and kelompok D sebanyak 2 tikus. Perbandingan kejadian adhesi antara dua kelompok yaitu kelompok A vs C memiliki hasil bermakna (p: 0.014) dan kelompok A vs D bermakna (p: 0.014). perbandingan kelompok berdasarkan derajat adhesi memiliki hasil yang bermakna pada kelompok A vs C (P: 0.041). perbandingan secara mikroskopis berdasarkan sel fibroblast tidak memberikan hasil yang bermakna. kesimpulan: Madu Jambi memberikan efek anti adhesive pada luka bersih tidak terkontaminasi Kata kunci: madu, anti adhesive, efektivita

    PENILAIAN RISIKO JATUH DENGAN PENGGUNAAN TIMED UP AND GO TEST PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS GENU GRADE 1 - 3

    Get PDF
    ABSTRACT Background: Knee osteoarthritis (OA) is the most common form of arthritis. The presence of knee pain, decreased functional mobility, stiffness, and decreased quadriceps strength in knee OA patients can cause physical disability. In optimizing the patient's functional mobility to perform activities of daily living, a valid and reliable tool is needed at the beginning and after the intervention. The purpose of this study was to measure functional mobility by assessing the risk of falling using the TUG test in patients with knee OA grade 1 to grade 3. Methods: A descriptive study with 93 samples of knee OA patients at the Orthopedic Surgery Clinic of the hospital. Data were obtained from interviews, medical records, and observation sheets. Results: Based on age, knee OA was most common in patients in the late elderly group, namely 45 patients (48.4%). Based on gender, knee OA is more common in women (84%) than men (16,1%). Based on Body Mass Index (BMI), the results of a normal BMI are the same as those of heavy fat (42%). From the radiological examination results, patients with genu OA were at K/L 2 degrees as many as 46 patients (49.4%). On the TUG test results, knee OA patients with a low risk of falling were 68 patients (73.1%). Knee OA patients who have a low risk of falling are more experienced by knee OA patients with BMI in the heavy fat category, namely 28 patients (30.1%). Patients with grade K/L 1 had the lowest fall risk as many as 17 patients (85%), patients with K/L 2 degrees had the lowest risk of falling as many as 38 patients (83%), patients with K/L 3 degrees had low fall risk equals moderate fall risk in 13 patients (48%). Conclusion: Knee OA patients both at grade 1, grade 2, and grade 3 have the lowest risk of falling and all knee OA patients have the risk of fallers due to their OA. Keywords: knee osteoarthritis, TUG test, Kellgren-Lawrenc

    CHRONIC INFLAMMATORY DEMYELINATING POLYNEUROPATHY

    Get PDF
    Chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy (CIDP) merupakan penyakit neuropati autoimun kronik. CIDP klasik ditandai dengan hilangnya persepsi sensorik dan kelemahan anggota gerak secara progresif dan disertai hilangnya refleks selama lebih dari 8 minggu. Penyakit ini cukup jarang terjadi, namun apabila tidak di tatalaksana dengan tepat dapat menyebabkan kecacatan. Diagnosis CIDP ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan analisa LCS, dan pemeriksaan  elektrodiagnostik. Pilihan terapi CIDP yang cukup efektif dan terjangkau adalah kortikosteroid, dimana obat ini berfungsi menekan inflamasi dengan menghambat aktivitas  sel T. Prognosis CIDP relatif baik pada pasien usia muda, gejala kelemahan otot proksimal, respon terhadap terapi steroid, dan dari studi elektrofisiologi terdapat perlambatan conduction velocities yang ringa

    FORMULASI DAN UJI EFEKTIFITAS EMOLIENT RAMBUT FORMULASI DAN UJI EFEKTIFITAS EMOLIENT RAMBUT PADA SHAMPO MINYAK KELAPA SAWIT MURNI SHAMPO MINYAK KELAPA SAWIT MURNI

    No full text
    ABSTRACTBackground: Pure palm oil contains linoleic acid of 5% -11% which acts as a moisturizer (emollient) on the skinand hair. Based on the potential possessed by palm oil, cosmetic preparations are made in the form of shampooas an emollient for hair with 3 formulas consisting of 5%, 10% and 15% pure palm oil concentrations using an oilin-water basis.Methods: This study aims to determine the physical properties of the best and stable shampoo in storage andthe best formula as an emollient for hair. The physical properties test carried out were organoleptic observation,pH determination, specific gravity measurement, foam height measurement, moisture content measurement,hendonic test and emollient test.Result: The data generated descriptively states that FI and FII are stable and have physical properties that meetstandards compared to FIII, which occurs when separation occurs during storage. The effectiveness of theemollient test on hair is that FII has the ability to soften hair compared to other formulas.Conclusion: the best shampoo formula physically, is stable on storage and has an effectiveness of softeninghair is FII with pure palm oil concentration is 10%.Key words: shampoo, pure palm oil, emollientABSTRAKPendahuluan: Minyak sawit murni mengandung asam linoleat sebesar 5%-11% yang berfungsi sebagaipelembab (emolien) pada kulit dan rambut. Berdasarkan potensi yang dimiliki oleh minyak sawit murni tersebutmaka dibuatlah sediaan kosmetik berupa shampo sebagai emolien pada rambut dengan 3 Formula terdiri ataskonsentrasi minyak sawit murni 5%, 10% dan 15% menggunakan basis minyak dalam air.Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sampo yang terbaik dan stabil pada penyimpanandan formula yang terbaik sebagai emollient pada rambut. Adapun uji sifat fsik yang dilakukan adalahpengamatan Organoleptis, penentuan pH, pengukuran Bobot Jenis, pengukuran Tinggi Busa, pengukuran KadarAir, Uji hendonik dan Uji emolien.Hasil: Data yang dihasilkan secara deskriptif menyatakan bahwa FI dan FII stabil dan memiliki sifat fisik yangmemenuhi standard dibandingkan FIII yang terjadi pemisahan saat penyimpanan. Efektifitas uji emollient padarambut bahwa FII memiliki kemampuan melembutkan rambut dibandingkan Formula lain.Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa formula sampo yang paling baik secara fisik, stabil pada penyimpanandan memiliki efektifitas melembutkan rambut adalah FII dengan konsentrasi minyak sawit murni adalah 10%.Kata kunci: shampoo, minyak sawit murni, emolien

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI PEAK FLOW METER PADA USIA PRODUKTIF DI KELURAHAN MAYANG MANGURAI KOTA JAMBI

    Get PDF
    ABSTRACTAsthma is a common long-term inflammatory disease of the airways of the lungs. Asthma is characterized byvariable and recurring symptoms, reversible airflow obstruction, and easily induced bronchospasm. Symptomsinclude episodes of wheezing, coughing, chest tightness and shortness of breath. Asthma may occur severaltimes a day or several times per week. Asthma symptoms can get worse at night or with exercise, but this variesfrom person to person. The Peak Flow Meter is a simple, easy-to-use tool that measures peak expiratory flow(PEF) and detects airflow limitations. The peak flow meter is the recommended alternative for the diagnosis ofasthma. This study was an observational analytic study with a cross sectional design. The number ofrespondents was 32 people, measured the peak expiratory flow using a peak flow meter. The results of this studyindicate that gender, age, comorbidities and smoking history are factors that affect the value of the peak flowmeter.Keyword : Peak Flow Meter, lung, asthmaABSTRAKAsma adalah penyakit inflamasi jangka panjang yang umum terjadi pada saluran udara paru-paru.Asma ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang, obstruksi aliran udara reversibel, danbronkospasme yang mudah diinduksi. Gejala termasuk episode mengi, batuk, dada sesak, dan sesaknapas. Asma dapat terjadi beberapa kali sehari atau beberapa kali dalam seminggu. Gejala asmabisa menjadi lebih buruk pada malam hari atau saat berolahraga, tetapi ini bervariasi dari orang keorang. Peak Flow Meter adalah alat sederhana dan mudah digunakan yang mengukur aliran ekspirasipuncak (PEF) dan mendeteksi batasan aliran udara. Pengukur aliran puncak adalah alternatif yangdirekomendasikan untuk diagnosis asma. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasionaldengan desain cross sectional. Responden berjumlah 32 orang, diukur aliran ekspirasi puncakmenggunakan peak flow meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, penyakitpenyerta dan riwayat meroko merupakan faktor yang mempengaruhi nilai peak flow meter.Kata kunci : Peak Flow Meter, paru-paru, asm

    333

    full texts

    380

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇