JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
380 research outputs found
Sort by
COMPARISON OF THREE METHOD OF DNA EXTRACTION FOR METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA)
Background: MRSA is a gram positive bacteria that has a peptidoglycan in the cell wall which is noteasy to lysis during the DNA extraction procces.Objectives: This study aimed to compare three DNA extraction method, using a conventional method, chelex method, and commercial kit in MRSA.Methods: This is a descriptive study with laboratory experiments. The sample was swabs of purulent wounds from inpatients in Jambi that were randomly selected. Swab sample identified as MRSA was extracted with three methods and tested using UV-Vis spectrophotometer.Results: The study results showed that the best DNA purity was found by DNA extraction usingcommercial kit (1.43), followed by chelex (1.14) and conventional (1.07) methods. Likewise, the highest concentration of DNA was DNA extraction using commercial kit (330 g/ml), followed by the chelex (78 g/ml) and conventional (54 g/ml) methods.Conclusion: A conventional method can be used as an extraction method that is easy to do and more economical. The best DNA purity and concentration was obtained in the kit extraction method, followed by chelex and conventional methods.Keywords: MRSA, extraction, conventional, chelex, ki
THE VARIATION OF THE NOS3 GENE RS1799983 IS NOT ASSOCIATED WITH PREECLAMPSIA IN MALAY POPULATION
ABSTRACT
Background: eNOS play role in preeclampsia pathophysiology due to disturbing spiral arteries re-modelling and enhanced maternal vasoconstriction. A genetic variant of NOS3 associated with eNOS level. In addition, the previous study reported a genetic variant of NOS3 rs1799983 as a risk of preeclampsia with conflicting results beyond the population. To the best of our literature search, this genetic variant as preeclampsia risk has never been reported in the Jambi Malay population. This study aims to determine the association of the NOS3 genetic variant with preeclampsia in the Jambi Malay population.
Methods: This study was a cross-sectional study that involved 43 pregnant women suffering preeclampsia and 53 normotensive pregnant women. All the subject resides in Jambi Province and was Jambi Malays. Genotyping was performed with tetra ARMS-PCR. Bivariate statistically analysis was performed.
Result: The frequency of GT genotype was lower in the preeclamptic group and GG genotype was higher in the preeclamptic group than the TT genotype, but the difference was not statistically different for NOS3 rs1799983.
Conclusion: Our findings indicate that the genetic variant of NOS3 rs1799983 is not associated with preeclampsia in the Jambi Malay population.
Keywords: NOS3, eNOS, rs1799983, genetic variant, preeclampsia, Malay population
ABSTRAK
Pendahuluan: eNOS berperan dalam patofisiologi preeklamsia karena mengganggu remodelling arteri spiralis dan meningkatkan vasokonstriksi maternal. Varian gen NOS3 berkaitan engan peningkatan kadar eNOS. Penelitian sebelumnya melaporkan hasil yang bertentangan pada berbagai populasi terkait hubungan antara varian gen NOS3 rs1799983 dengan risiko kejadian preeklamsia. Sejauh pencarian literatur, varian gen NOS3 rs1799983 sebagai risiko preeklamsia belum pernah dilaporkan pada populasi Melayu Jambi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan varian gen NOS3 dengan preeklamsia pada populasi Melayu Jambi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang, melibatkan 43 orang ibu hamil dengan preeklamsia dan 53 orang ibu hamil normotensif. Semua subjek berdomisili di Provinsi Jambi dan merupakan orang Melayu Jambi. Pemeriksaan genotip dilakukan dengan metode tetra ARMS-PCR. Analisis statistik dilakukan meggunakan uji bivariat.
Hasil: Hasil analisis didapatkan frekuensi genotip GT lebih rendah pada kelompok preeklampsia dan genotip GG lebih tinggi pada kelompok preeklampsia dibandingkan genotip TT, namun perbedaan tersebut tidak berbeda bermakna secara statistik.
Kesimpulan: Hasil penelitian ini mengesankan bahwa varian genetik NOS3 rs1799983 tidak meningkatkan risiko preeklampsia pada populasi Melayu Jambi.
Kata kunci: NOS3, eNOS, rs1799983, varian genetik, preeklamsia, populasi Melay
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN MAKAN, STATUS GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN COVID-19 PADA ORANG DEWASA OVERWEIGHT DAN OBESITAS
ABSTRACT
Background: Overweight and obesity has been known as a risk factor to get covid-19 and complication or severe covid-19. Due to government regulation like quarantine, people more susceptible to increased their weight in the pandemic covid-19 time. As It make people had difficulty to exercise outside their house and could increase dietary intake of unhealthy food. Aims and objective: our study aimed to investigate the association of dietary intake, nutritional status and physical activity with covid-19 in the overweight and obesity adult population. Method: we conducted a cross sectional study among adult with overweight and obesity in Jambi City. Dietary intake, nutritional status, physical activity and covid 19 data were collected using a FFQ semiquantitatif, GPAQ and structured questionaire respectively. The survey conducted from September to Oktober 2021.
Results: A total 156 respondents have been included in the study, Most of the subjects age was between 18 -25 years (69,2%), and females (55,8%). Obesity was observed in 82,1% of the subjects with 78,2% subjects ate more than the recommendation, only 30,1% subjects had inactivity and 19,2% subjects had covid-19. There were 20 subjects (80%) who had covid-19 with over intake and obesity but it was not significant statistically. The physical activity also not related significantly to covid-19.
Conclusions: In this study we found no significant association between the dietary intake, nutritional status, and physical activity with covid-19, however our data need to be confirmed and investigate in the future with more extensive population studies.
Keyword: Covid-19, Dietary intake, Obesity, Physical activity
ABSTRAK
Latar belakang: Kelebihan berat badan dan obesitas diketahui meningkatkan risiko terkena Covid-19 dan komplikasi dari penyakit covid-19, atau Covid-19 yang parah. Peraturan pemerintah seperti karantina, mengakibatkan masyarakat lebih mudah untuk meningkatkan berat badannya selama masa pandemi Covid-19. Karena peraturan tersebut menyebabkan masyarakat kesulitan berolahraga di luar rumah dan dapat meningkatkan konsumsi makanan yang tidak sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan makan, status gizi, dan aktivitas fisik dengan kejadian Covid-19 pada orang dewasa overweight dan obesitas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang pada orang dewasa overweight and obesitas di Kota Jambi. Data asupan makan, status gizi, aktivitas fisik, dan kejadian Covid-19 dikumpulkan menggunakan FFQ semikuantitatif, GPAQ, dan kuesioner terstruktur. Pengambilan data berlangsung dari bulan September hingga Oktober 2021.
Hasil: Total responden yang mengikuti penelitian ini sebanyak 156 orang, sebagian besar responden penelitian berusia 18-25 tahun (69,2%) dan berjenis kelamin perempuan (55,8%). Obesitas di temukan pada 82,1% responden dengan 78,2% responden asupan makannya lebih, responden yang kurang aktif hanya 30,1% dan 19,2% responden pernah terkena penyakit covid-19. Terdapat 20 responden (80%) yang terkena covid-19 dengan asupan makan lebih dan obesitas tetapi hasil ini tidak signifikan secara statistik. Aktivitas fisik juga tidak berhubungan signifikan dengan covid-19.
Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan makan, status gizi, dan aktivitas fisik dengan kejadian Covid-19 pada orang dewasa overweight dan obesitas (nilai P > 0,05).
Kata kunci: Asupan makan, aktivitas fisik, covid-19, obesita
MOLNUPIRAVIR DAN NIRMATRELVIR/RITONAVIR SEBAGAI TERAPI ORAL COVID-19
COVID-19 merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus SARS-CoV-2 yang dideklarasikan sebagai pandemik global pada tanggal 11 Maret 2020. COVID-19 dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian, sehingga diperlukan penanganan yang serius. Obat-obat anti virus yang efektif, aman dan dapat ditoleransi dengan baik sedang dikembangkan. Tinjauan literatur ini membahas molnupiravir dan nirmatrelvir/ritonavir sebagai terapi COVID-19 dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai efektivitas kedua obat tersebut. Molnupiravir bekerja dengan menghambat enzim RdRp sedangkan nirmatrelvir sebagai protease inhibitor yang menyebabkan terganggunya replikasi virus. Keuntungan dari kedua obat ini penggunaannya peroral sehingga lebih praktis, lebih dapat diterima masyarakat, serta distribusinya lebih mudah. Muncul berbagai varian baru SARS-CoV-2 yang telah terindentifikasi, terutama ada 5 VOC (Variant of Concern) yaitu Alpha, Beta, Gamma, Delta dan Omicron. Hasil invitro menunjukkan bahwa molnupiravir serta nirmatrelvir mampu melawan semua VOC yang ada saat ini termasuk Omicron. Secara umum molnupiravir dan nirmatrelvir/ritonavir dinilai aman dan memberikan hasil yang efektif sebagai terapi COVID-19 dalam mencegah progresivitas penyakit, serta menurunkan persentase pasien yang dirawat inap/kematian. Molnupiravir menurunkan risiko rawat inap/kematian sebesar 30%, sedangkan nirmatrelvir/ritonavir sebesar 70% sampai dengan 94% pada pasien COVID-19 derajat ringan-sedang. Hasil ini menjadi pertimbangan bahwa pemberian nirmatrelvir/ritonavir lebih dipilih sebagai obat oral pilihan pertama dibandingkan molnupiravir. Pada molnupiravir tidak dianjurkan pemberian kepada wanita hamil atau remaja <18 tahun, sedangkan pemberian nirmatrelvir/ritonavir pada pasien gangguan ginjal harus disesuaikan dosisnya. Untuk kedepannya diharapkan ada penelitian yang membandingkan secara langsung mengenai efektivitas molnupiravir dan nirmatrelvir/ritonavir sebagai terapi COVID-19.
Kata kunci: molnupiravir, nirmatrelvir/ritonavir, Covid-1
ADIKSI INTERNET: STUDI PADA REMAJA SMA KOTA JAMBI
Background: Patients with internet addiction are known to experience changes in brain structure with manifestations of impaired executive function planning-reasoning and increase the risk of impulsivity. Adolescents are considered more susceptible to internet addiction than adults. Physical-social distancing during the Covid-19 pandemic increases the risk of internet exposure among adolescents. Research in 2021 on 2,932 adolescents from 33 provinces in Indonesia found 19.3% of internet addiction incidences in adolescents.
Objective: This study aims to determine the incidence of internet addiction in high school students in Jambi City.
Methods: A cross sectional study with multistage sampling technique on an affordable population of all Jambi City Senior High School students by using instrument Internet Addiction Diagnostic Questionnaire.
Results: Among 529 high school students, 123 students (23.2%) experienced internet addiction (38.2% male, 61.8% female). The increase in internet access during the Covid-19 pandemic was agreed by 46.5% students with the majority use of the internet were 6-10 hours (52.2%). The duration of internet use during the pandemic and the main motive for internet use had a significant relationship with internet addiction (p = 0.000; 0.025). Internet use with a duration of 11 hours/day in adolescents has a 6-fold risk of internet addiction (OR = 6,539).
Conclusions: Internet addiction among adolescents in Jambi City is higher than the national data. Collaboration between the government, schools, communities and health service providers is needed to find solutions for the prevention and adequate management of internet addiction in adolescents, especially in the Jambi City.
Keyword: internet addiction, adolescents, Jambi cit
TROMBOSITOPENIA TROMBOSIS IMUN TERINDUKSI VAKSIN COVID-19
Vaksinasi COVID-19 merupakan usaha terhadap mengurangi gejala berat akibat pandemi COVID-19. Vaksin COVID-19 telah dikembangkan dan diedarkan serta dilaksanakan di dunia, dengan efektivitas dan keamanan yang teruji. Namun, beberapa laporan menyebutkan adanya kejadian yang merugikan setelah vaksinasi, yaitu trombosis atipikal dan trombositopenia. Kejadian tersebut dinamakan Trombositopenia Trombosis Imun Terinduksi Vaksin (TTITV) COVID-19. Walaupun laporan TTITV sangat kecil dan tidak berefek terhadap keseluruhan manfaat imunisasi, namun jika tidak ditangani secara tepat dapat mengancam nyawa. Artikel ini akan membahas secara singkat mengenai TTITV dari insidensi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis dan terapi. Diharapkan dapat memberi kewaspadaan akan TTITV paska vaksinasi.Â
Kata kunci: diagnosis, gejala klinis, insidensi, patogenesis, dan terapi TTIT
ANALISIS MANAJEMEN PROGRAM KEGIATAN KIE (KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI) DINAS KESEHATAN KOTA LUBUKLINGGAU TERHADAP PENGAWASAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG BEREDAR DI MASYARAKAT
Latar belakang: Proyek kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) pengawasan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat pada Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau adalah proyek berdasarkan analisis dari permasalahan yang ada pada Kota Lubuklinggau.
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran pelaksanaan manajemen program dari kegiatan KIE pengawasan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan participant observation.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan pada tahap inisiasi, prioritas masalah yang ditemukan adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan minuman yang aman. Pada tahap persiapan, dibentuk Tim Pelaksana KIE yang selanjutnya melakukan kickoff project meeting untuk pengenalan program. Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah KIE melalui media sosial (Facebook dan Instagram), mengadakan pertemuan kemanan pangan dengan produsen makanan dan minuman, dan melakukan penyuluhan masyarakat tentang pola hidup sehat. Untuk kegiatan monitoring dan supervisi, evaluasi, dan pelaporan sudah dijadwalkan dengan baik dan memiliki tim khusus untuk bertugas dalam hal tersebut.
Kesimpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa manajemen program dari kegiatan KIE pengawasan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat oleh Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau sudah baik dan teratur namun masih terdapat beberapa kendala internal dan eksternal dalam teknik pelaksanaannya.
Kata kunci: KIE, Manajemen Program, Makanan dan Minuman, Pengawasa
PEMODELAN FAKTOR RISIKO TUBERKULOSIS PARU DI SUMATERA BARAT
Latar belakang: Tuberkulosis (TB) saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di Indonesia. Pada tahun 2018 prevalensi TB paru di Indonesia sebesar 0,42% dan di Sumatera Barat sebesar 0,31%.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model faktor risiko penyakit TB Paru pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan menggunakan data sekunder tahun 2020 yang dikumpulkan dari Dinas Kesehatan dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat dan analisis multivariat meliputi analisis kluster, analisis biplot dan analisis diskriminan.
Hasil: Hasil penelitian didapatkan prevalensi penderita TB terbanyak berada di Kota Solok yaitu 20 per 10.000 penduduk. Proses pengelompokan menghasilkan tiga kluster kabupaten/kota berdasarkan faktor penyebab TB. Kluster satu tidak memiliki permasalahan terhadap faktor penyebab TB. Kluster dua dipengaruhi oleh variabel prevalensi TB, persentase cakupan bayi imunisasi BCG, jumlah posyandu, persentase penduduk miskin, dan persentase sumber air minum layak. Kluster tiga dipengaruhi oleh variabel persentase tiak ada/tidak menggunakan fasilitas tempat BAB, nilai indeks kualitas udara, persentase rumah tangga memiliki lantai tanah, kepadatan penduduk, jumlah balita gizi kurang, persentase bahan bakar utama memasak dengan kayu, dan persentase rumah tangga sanitasi layak memiliki faktor penyebab TB tertinggi.
Simpulan: Terdapat perbedaan karakteristik dan kerawanan pada masing-masing kluster kabupaten/kota di Sumatera Barat berdasarkan faktor penyebab TB.Â
Kata kunci: Model, Faktor Risiko, Tuberkulosis
HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DAN KADAR KALSIUM DALAM DARAH SEBAGAI DETEKSI OSTEOPOROSIS PADA WANITA USIA 40-60 TAHUN DI KOTA JAMBI
ABSTRACT
Background The number of women over the age of 40 years experiencing menopause is increasing. According to data released by the WHO in 2014 which said that by 2030 the number of women worldwide and will enter menopause could reach 1.2 billion. In Indonesia in 2025 it is estimated that there will be 60 million menopausal women. This condition is a risk factor for osteoporosis. In addition to naturally due to menopause, there are other factors that influence, namely Body Mass Index (BMI) and calcium levels in the blood. The purpose of this study was to determine the relationship between body mass index and blood calcium levels as the detection of osteoporosis in women aged 40-60 years in Jambii City.
Methods This research is a quantitative research method (sequential explanatory design) with a cross sectional method. The sample is 60, with data analysis using univariate and bivariate analysis.
Results: There is a significant relationship between Body Mass Index and Calcium Levels in the blood with 95% CI 0.035-0.566, the Prevalence Ratio (PR) obtained is 1.77
Conclusion: interpretation of high body mass index or obesity risk to have low blood calcium levels by 1.7 times compared to people who have a normal body mass index.
Key words : Osteoporosis, Blood calcium, Body Mass Index (BMI)
ABSTRAK
Latar Belakang Jumlah wanita lebih dari usia 40 tahun mengalami menopause semakin meningkat. Menurut data yang dikeluarkan oleh WHO tahun 2014 yang mengatakan bahwa pada tahun 2030 jumlah perempuan di seluruh dunia dan akan memasuki masa menopause bisa mencapai 1,2 miliar. Di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan dada 60 juta perempuan menopause. Kondisi ini menjadi faktor risiko untuk terjadinya osteoporosis. Selain secara alami karena menopause, ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi yaitu adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kadar kalsium pada darah. Tujuan untuk hubungan antara indeks massa tubuh dan kadar kalsium dalam darah sebagai deteksi osteoporosis pada wanita usia 40-60 tahun di Kota Jambii.
Metode Penelitian ini merupakan penelitian metode kuantitatif (sequential explanatory design) dengan metode cross sectional. Sampel sebanyak 60, dengan analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat.
Hasil: Ada hubungan yang signifkan antara Indeks Massa Tubuh dan Kadar Kalsium dalam darah dengan 95% CI 0,035-0,566, Prevalens Ratio (PR) yang didapatkan adalah 1,77
Kesimpulan interpretasi Indeks Massa Tubuh yang tinggi atau kegemukan berisiko untuk memiliki kadar Kalsium Darah yang rendah sebesar 1,7 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki Indeks Massa Tubuh yang Normal.
Kata kunci : Osteoporosis, Kalsium darah, Indeks Massa Tubuh (IMT
HUBUNGAN EKSPRESI 8OH2DG SEBAGAI PENANDA STRES OKSIDATIF KERUSAKAN DNA DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DAN LUARAN NEONATAL
Background: Hypoxic conditions in preeclampsia cause oxidative stress in the placenta. Oxidative stress triggers endothelial dysfunction resulting in changes in placental parenchyma and vasculature, turn leads to clinical manifestations in maternal and neonatal. Previous studies reported that preeclampsia placental tissue increased the expression of the oxidative stress marker 8OH2dG.Objective: This study aimed to observe the expression of the marker 8OH2dG on the incidence ofpreeclampsia and its association with neonatal outcome.Methods: This study design was case-control, a number of 44 pregnant women participated in this study. The case group was preeclampsia women based on American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) 2013 criteria and normotensive women as control group. The immunohistochemical was perform in placental tissue for expression of 8OH2dG in trophoblast nuclei. The results were positive when the trophoblast cell nuclei were stained ≥5% with moderate and strong intensity; and negative if stained weakly <5%. Bivariate analysis was performed to determine the association of 8OH2dG expression with preeclampsia and neonatal outcome.Results: This study reported the frequency of trophoblast nuclei with 8OH2dG positive staining was higher in the preeclampsia group than the control group. Expression of 8OH2dG positive staining also increased the risk of low birth weight and asphyxia.Conclusion: The results of this study indicate that the marker 8OH2dG is associated with preeclampsia and adversely neonatal outcome.Keywords: 8OH2dG, preeclampsia, oxidative stress, neonatal outcom