JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
380 research outputs found
Sort by
PENGARUH TERONG PIRUS KERINCI TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH GALUR SPRAGUE DAWLEY
Latar belakang: Terong pirus memiliki kandungan flavonoid yang memiliki efek hipoglikemik sehingga berperan penting dalam pengobatan diabetes melitus.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis efektif jus buah terong pirus kerinci terhadap kadar glukosa darah Tikus Putih.
Metode: Desain penelitian adalah True Experimental Pretest-Posttest Control Group Design. Subjek penelitian adalah 24 ekor Tikus putih jantan galur Sprague dawley yang terbagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrol, perlakuan dosis 75 mg/ml, perlakuan dosis 150 mg/ml, dan perlakuan dosis 250 mg/ml. Kadar gula darah diperiksa pada hari ke-0, hari ke-14, dan hari ke-40 dengan alat fotometer. Data kadar gula darah dianalisis dengan Uji paired T-test dan Uji One-way Anova dilanjutkan Post Hoc.
Hasil: Hasil Uji paired T-test menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan kadar gula darah setelah pemberian aloksan pada hari ke-7 penelitian dan terjadi penurunan yang signifikan kadar gula darah tikus setelah pemberian terong pirus pada dosis 75 mg/ml, 150 mg/ml, dan 250 mg/ml dengan Penurunan tertinggi terdapat pada pemberian dosis 250 mg/ml. Hasil Uji One-way Anova dan post hoc didapatkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar kelompok penelitian setelah pemberian terong pirus.
Simpulan: Terong Pirus berpengaruh menurunkan kadar gula darah pada tikus yang telah diinduksi aloksan dengan penurunan paling efektif pada pemberian terong pirus dosis 250 mg/ml.
Kata Kunci : Diabetes Melitus, Terong pirus, Â Kadar gula darah, Tikus putih (Rattus norvegicus
STUDI LITERATUR: TELAAH MEKANISME TRANSISI EPITELIAL-MESENKIMAL (TEM) PADA TUMOR FIBROEPITELIAL PAYUDARA
ABSTRACT
Fibroepitelial breast tumors are a group of neoplasms with heterogeneous lesions. Fibroadenoma (FA) and Phyllodes Tumor (PT) are classified as fibroepitelial breast tumors. Breast tumors that tend to be malignancy, there is a process that epithelial cells shift to mesenchymal cells, called Epithelial-Mesenchymal Transition (EMT). The aims of this was to determine the processes and factors in the mechanism of TEM in breast fibroepitelial tumors that would be the basis for distinguishing tumor types between the two.
Keywords: Fibroepithelial Tumor of Breast, Epithelial-Mesenchymal Transition, Fibroadenoma, Phyllodes Tumor
ABSTRAK
Tumor fibroepitelial payudara merupakan kelompok dari neoplasma dengan lesi heterogen. Fibroadenoma (FA) dan Tumor Filoides (TF) ialah pembagian dari tumor fibroepitelial payudara. Pada tumor payudara yang cenderung pada jenis keganasan, terdapat proses yang dapat mengubah sel epitel menjadi sel mesenkimal, yang disebut juga Transisi Epitelial-Mesenkimal (TEM). Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan proses dan faktor-faktor dalam mekanisme TEM pada tumor fibroepitelial payudara yang akan menjadi dasar untuk membedakan jenis tumor antara keduanya.
Kata kunci: Tumor Fibroepitelial Payudara, Transisi Epitelial-Mesenkimal, Fibroadenoma, Tumor Filoide
HUBUNGAN FEAR OF MISSING OUT DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PENGGUNA SOSIAL MEDIA DEWASA AWAL
ABSTRACT
Bcakground: Social media makes it easier to get information and communicate remotely quickly and efficiently. However, the use of excessive social media can have a negative impact on its users, such as experiencing fear of missing out (FoMO). FoMO occurs due to the fear of missing a moment and feeling that other people's lives are better than theirs. This research aims to see the relationship between FoMO and the subjective well-being of social media users in early adulthood.
Methods: The study used a quantitative approach with convenience sampling technique to obtain 55 trial research participants and 165 field test research participants with the characteristics: (1) aged 18-25 years; (2) domicile in Jabodetabek; (3) have more than one social media application. The study used the Fear of Missing Out Scale (FoMOs). To measure subjective well-being, researchers used the Satisfaction with Life Scale (SWLS). The data collection technique was carried out online by using a questionnaire in the form of a Google Forms. Statistical analysis used is correlation technique.
Result: Based on the results, there is a significant relationship between FoMO and subjective well-being.
Conclusion: It can be concluded that FoMO has a relationship with subjective well-being in early adult social media users.
Keywords: early adulthood, fear of missing out, subjective well-being
ABSTRAK
Pendahuluan: Media sosial memudahkan penggunanya untuk mendapatkan informasi serta komunikasi jarak jauh dengan cepat dan efisien. Namun, penggunaan media sosial yang terlalu intens dapat memberikan dampak negatif, seperti mengalami fear of missing out (FoMO). FoMO terjadi karena adanya perasaan takut kehilangan suatu momen dan merasa kehidupan orang lain lebih baik dari dirinya.
Metode: Penelitian ini hendak ingin melihat hubungan FoMO dengan subjective well-being pengguna media sosial pada dewasa awal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik convenience sampling sehingga memperoleh 55 partisipan penelitian uji coba dan 165 partisipan penelitian uji lapangan dengan karakteristik: (1) berusia 18-25 tahun; (2) domisili di Jabodetabek; (3) memiliki lebih dari satu aplikasi media sosial. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka penelitian menggunakan alat ukur Fear of Missing Out Scale (FoMOs). Lalu untuk mengukur subjective well-being, peneliti menggunakan Satisfaction with Life Scale (SWLS). Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan kuesioner dalam bentuk Google Forms. Analisis statistik yang digunakan yaitu teknik korelasi.
Hasil: Berdasarkan hasil analisis statistik terdapat hubungan yang signifikan antara FoMO dengan subjective well-being.
Kesimpulan: Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa FoMO memiliki hubungan dengan subjective well-being pada pengguna media sosial yang berusia dewasa awal.
Kata kunci: fear of missing out, subjective well-being, dewasa awa
HUBUNGAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-36 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMBANG KABUPATEN KAMPAR
Latar belakang: Stunting merupakan keadaan malnutrisi tertinggi di dunia yang terjadi pada anak balita. Stunting terjadi pada awal kehidupan terutama pada masa balita yaitu masa yang paling rentan terkena penyakit yang disebabkan oleh masalah kekurangan gizi yang berdampak pada pertumbuhan balita. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan stunting pada balita. Salah satu faktor tersebut yaitu penyakit infeksi.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan menggunakan disain penelitian case control. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah simple random sampling untuk kelompok kasus dan purposive sampling untuk kelompok kontrol. Sampel kasus dan sampel kontrol dengan jumlah masing-masing 48. Hubungan dan besar risiko antara variabel diuji menggunakan Chi-square.
Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada anak usia 24-36 bulan dengan p-value 0,001 dan nilai OR 4,200 (1,760-10,020) (p-value < 0,05). Anak usia 24-36 bulan dengan riwayat sering menderita penyakit infeksi berisiko 4,2 kali lebih besar untuk menderita stunting dibandingkan dengan anak usia 24-36 bulan dengan riwayat jarang menderita penyakit infeksi.
Simpulan: Riwayat penyakit infeksi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan.
Kata Kunci: balita, penyakit infeksi, stuntin
ANALISIS PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN PADA IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN DINAS KESEHATAN REJANG LEBONG
Latar belakang: Kesehatan Ibu dan Anak merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat, namun kasus kematian ibu di Kabupaten Rejang Lebong masih terjadi. Hal ini diduga karena pelaksanaan jaminan persalinan (Jampersal) kurang optimal.
Tujuan: Peneliti bertujuan untuk mengalanalisis pelaksanaan program pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan melahirkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong dengan pendekatan manajemen proyek.
Method: Desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus diguanakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui observasi terlibat dan telaah dokumen.
Hasil: Pada tahap inisiasi, masalah yang diidentifikasi adalah belum optimalnya pelaksanaan program jaminan persalinan (Jampersal) di Rejang Lebong dengan prioritas masalah berupa akses lokasi fasyankes rujukan Jampersal yang cukup jauh. Perencanaan kegiatan digambarkan dengan timeline/milestone jangka pendek, menengah, dan panjang dari Maret 2021–Desember 2022. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan masing-masing milestone.
Simpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa manajemen pengembangan program pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan melahirkan yang dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Rejang Lebong menghasilkan program Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) yang dinilai tepat sebagai solusi dari prioritas masalah yang telah diidentifikasi sebelumnya, yaitu permasalahan akses lokasi fasyankes rujukan Jampersal yang dirasakan cukup jauh.
Kata kunci: Ibu Hamil, Jampersal, Layanan Kesehatan, Rumah Tunggu Kelahira
CRITICAL INCIDENTS DALAM SESI TUTORIAL: IDENTIFIKASI DAN STRATEGI INTERVENSI DALAM DINAMIKA KELOMPOK
Latar Belakang: Diskusi tutorial adalah salah satu kegiatan penting dalam pembelajaran problem based learning. Di masa pandemi Covid 19 kegiatan ini dilakukan secara online dan menjaga dinamika kelompok tetap berjalan menjadi sebuah tantangan. Persepsi tutor dan mahasiswa tentang critical insidents dipengaruhi oleh sudut pandang masing-masing individu.
Tujuan: Untuk mengidentifikasi persepsi siswa dan tutor tentang kejadian kritis selama tutorial dan jenis intervensi yang dilakukan oleh tutor untuk mengatasi insiden tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode campuran yang melibatkan 84 siswa tahun keempat dan 7 tutor. Persepsi siswa dan tutor tentang insiden kritis dikumpulkan dengan survei online menggunakan kuesioner yang tervalidasi.
Hasil: menurut persepsi siswa dan tutor, didapatkan partisipasi yang tidak setara sebagai insiden kritis yang paling sering terjadi. Namun didapatkan perbedaan persepsi antara siswa dan tutor tentang faktor penghambat diskusi yang memerlukan intervensi tutor; siswa menganggap kepribadian yang sulit, sedangkan tutor menyatakan ketidakseimbangan partisipasi. Faktor tutor, umpan balik, penilaian, kualitas skenario, dan masalah penjadwalan juga ditemukan memiliki peran dalam insiden kritis dalam tutorial. Intervensi tutor terhadap kejadian kritis telah dilakukan namun masih perlu ditingkatkan lagi.
Simpulan: Persepsi siswa dan tutor tentang kejadian kritis sejalan dalam hal kejadian yang paling sering terjadi, tetapi berbeda dalam faktor yang paling menghambat diskusi dan memerlukan intervensi tutor. Intervensi oleh tutor tidak memadai untuk mengatasi insiden kritis yang timbul.
Kata kunci: kejadian kritis, tutorial, dinamika kelompo
ANALISIS FAKTOR RISIKO MUSCULOSKELETAL DISORDER (MSDs) PADA PEKERJA PETIK TEH DI PT X KAYU ARO
ABSTRACT
Background: Musculoskeletal complaints look trivial but have a general impact on tea picking workers which will later affect the worker’s performance. The purpose of this study is to analyze risk factors that affect complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in tea picking workers at PT X Kayu Aro judging from several factors namely Age, gender, working period, work posture, workload, transport distance and duration of working.
Method: Research Design is Cross Sectional. The sample technique used is Proposional random sampling with a sample number of 81 tea picking workers at PT X KayuAro. Bound variables are complaints of musculoskeletal disorders (MSDs) and free variables are individual factors and work factors (Genderi,, iAge, period iWork, working posture, transport distance, Duration ofWork). Data collection is conducted using NBM methods and OWAS measurements, while on data analysis using chi squaretest.
Results: The proportion of complaints of musculoskeletal disorders among tea picking workers at PT X Kayu Aro is (78.6%) with MSDS complaints. There was a relationship between age (PR=1,760; 95% CI: 1,712-17,165), years of service (PR=1,476;95% CI: 1,720-19,290), weight of load (PR=1,402;95% CI: 1,412-15,744), duration of work (PR=1.409; 95% CI: 1.315-11.022) and there was no relationship between gender, work posture and transport distance.
Conclusion: Factors that affect the risk of complaints of musculoskeletal disorders in tea picking workers at PT X Kayu Aro include age, gender, working period, workload and duration of work. Therefore, it is advisable for workers to pay attention to working hours and can also be heavy burdens that are makasimal to minimize complaints of musculoskeletal disorder.
Keywords: Tea Picking Workers, Musculoskeletal Di sorders,Risk Factors
ABSTRAK
Latar Belakang : Keluhan musculoskeletal terlihat sepele namun berdampak serius pada pekerja petik teh yang nantinya akan mempengaruhi kinerja pekerja. Tujuan dari penelitan ini adalah menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja petik teh di PT X Kayu Aro dilihat dari beberapa faktor yaitu Usia, jenis kelamin, masa kerja, postur kerja, beban kerja, jarak angkut dan durasi kerja.
Metode : Desain Penelitian adalah Cross Sectional. Teknik sampel yang digunakan yaitu Proposional random sampling dengan jumlah sampel 81 pekerja petik teh di PT X Kayu Aro. Variabel terikat adalah keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) dan variabel bebas adalah faktor individu dan faktor pekerjaan (Jenis Kelamin, Usia, masa Kerja, postur kerja, jarak angkut, Durasi Kerja). Pengumpulan data dilakukan wawancara dengan menggunakan metode NBM dan pengukuran OWAS, sedangkan pada analisis data menggunakan uji Chi square.
Hasil : Proporsi keluhan musculoskeletal disorders pada pekerja petik teh di PT X Kayu Aro adalah (78,6%) merasakan keluhan MSDS. Ada hubungan antara usia (PR=1,760;95% CI: 1,712-17,165), masa kerja (PR=1,476;95% CI: 1,720-19,290), berat beban (PR=1,402;95% CI: 1,412-15,744), durasi kerja (PR=1,409; 95% CI: 1,315-11,022) dan tidak ada hubungan antara jenis kelamin, postur kerja dan jarak angkut.
Kesimpulan :Faktor yang mempengaruhi munculnya risiko keluhan musculoskeletal disorders pada pekerja petik teh di PT X Kayu Aro diantaranya usia, masa kerja, beban kerja dan durasi kerja. Maka dari itu disarankan bagi para pekerja agar memperhatikan jam kerja dan juga dapat berat beban yang maksimal untuk menimimalisir keluhan musculoskeletal disorder.
Kata Kunci : Pekerja Petik Teh, Musculoskeletal Disorders, Faktor Risik
ANALISIS PELAKSANAAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANGAN TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DALAM KEBERHASILAN LAYANAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAMBI TAHUN 2021
ABSTRACT
Background: The creation of a work atmosphere that can encourage the success of nurses to be able to provide quality nursing services requires a leader. A leader must have a significant and positive influence on the performance of nurses. The leadership of the head of the room is very influential on the performance of nurses which reflects the quality of health services in hospitals. The purpose of this study was to analyze the implementation of the function of the head of the room management on the performance of implementing nurses in the success of nursing services at Jiwa Hospital, Jambi Province.
Method: This research uses descriptive analytical research with a cross sectional method approach. The purpose of this study was to determine the relationship between the independent variable and the dependent variable at the same time. The study was carried out in May - October 2021 as many as 136 nurses. The instrument in this study used a questionnaire. Data analysis used bivariate and univariate analysis using the Chi Square test.
Result: The results of the management function that as many as 75 people (55.1%) of respondents said that the supervisory function of the head of the room was good, the organizing function of the head of the room was good and there were 67 people (57.8%) of the respondents said that it was not good, the supervisory function of the head of the room was 67 people ( 57.8%) of respondents said it was not good. that as many as 81 people (59.6%) of respondents said that the supervisory function of the head of the room was good. The results of the Chi Square test of the planning function have a significant effect on the performance of nurses with a value (p = 0.016) The organizing function has a significant effect on the performance of individual nurses with a value (p = 0.042. the variables analyzed in the last stage have p value <0.05 so the analysis stops at this stage.
Conclusion: All independent variables deserve to be included in multivariate modeling, this is because there is no p-value for each variable above 0.05 (p-value <0.05) (planning p-value: 0.011, Organizing p-value: 0.029 and Monitoring p-value: 0.017)
Keyword: Leadership, Head of Room, Menjamen
ABSTRAK :
Pendahuluan: Terciptanya suasanan kerja yang dapat mendorong keberhasilan perawat untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan yang bermutu diperlukan seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kinerja perawat. Kepemimpinan kepala ruangan sangat berpengaruh terhadap kinerja perawat yang mencerminkan mutu dari pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis Pelaksanaan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Dalam Keberhasilan Layanan Keperawatan Di Rs Jiwa Provinsi Jambi.
Metode: Penelitian ini menggunakan Penelitian Deskriptif Analitik dengan pendekatan Metode Cross Sectional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen pada waktu bersamaan Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Oktober Tahun 2021 sebanyak 136 perawat pelaksana. Intrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.Analisa data yang digunakan analisa bivariat dan univariat dengan menggunakan uji Chi Square.
Hasil: Hasil fungsi menajemen bahwa sebanyak 75 orang (55,1%) responden mengatakan bahwa fungsi pengawasan kepala ruanagan baik , fungsi pengorganisasian kepala ruanagan baik dan ada 67 orang (57,8%) responden mengatakan kurang baik, fungsi pengawasan kepala ruanagan ada 67 orang (57,8%) responden mengatakan kurang baik. bahwa sebanyak 81orang (59,6%) responden mengatakan bahwa fungsi pengawasan kepala ruanagan baik. Hasil uji Chi Square fungsi perencanaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perawat dengan nilai (p=0,016) Fungsi pengorganisasian berpengaruh signifikan terhadap kinerja individu perawat dengan nilai (p=0,042. fungsi perencanaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja individu perawat dengan nilai (p=0,042). Dua variabel yang dianalisis pada tahap terakhir yang mempunyai p value < 0,05 sehingga analisis berhenti pada tahap ini.
Kesimpulan: Semua variabel independen layak untuk di ikut sertakan kedalam pemodelan multivariat, hal ini karenakan tidak ada p-value masing- masing variabel yang diatas 0,05 (p-value <0,05) (perencanaan p-value : 0,011, Pengorganisasian p-value : 0,029 dan Pengawasan p-value : 0,017).
Kata Kunci : Kepemimpinan, Kepala Ruangan, Menajame
KONTRIBUSI HIGIENITAS BOTOL SUSU DAN SUMBER AIR TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BALITA 6-24 BULAN DI PUSKESMAS KENALI BESAR KOTA JAMBI
ABSTRACT
Background: Diarrhea contributed to 8.8% of the average death per 1000 births as a cause of child mortality in children under 5 years old in the Southeast Asian region in 2016. This disease is influenced by many factors, including hygiene and sanitation of eating and drinking utensils. As many as 75% of infants in developing countries are bottle fed, but the contribution of hygiene and water sources is unknown. Objective: This study aims to determine the relationship between feeding bottle hygiene and water sources with the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months in the work area of Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi on 2020.
Methods: This study is an analytical observation survey with a Case Control approach. This study uses the help of a questionnaire that has been tested for validity and reliability. A total of 80 samples were involved in this study.
Results: Factors that influence the relationship between feeding bottle hygiene and diarrhea are how to wash bottles, use of soap, use of special brushes, sterilization of milk bottles, storage of milk bottles and based on the use of water sources where more respondents used water that was not refilled as many as 55 people (68.8 %). The physical quality of the water used by the respondents was cloudy as many as 18 samples (22.5%) and smelly as many as 4 samples (5.0%). The bacteriological quality of the water used by the respondents was positive for Lactose Broth (LB) as many as 33 samples (41.3%) and the positive for Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB) were 29 samples (36.3%).
Conclusion: The researcher concluded that the use of soap and how to store milk bottles and water sources were the causes of diarrhea in toddlers. It is hoped that this research can be a recommendation for regional policy makers to pay attention, especially to the water sources used.
Keywords: diarrhea, toddlers, feeding bottle hygiene, water sources
ABSTRAK
Latar belakang: Diare berkontribusi terhadap 8,8 % dari rata-rata kematian per 1000 kelahiran sebagai penyebab kematian anak pada balita dibawah 5 tahun di wilayah Asia Tenggara pada tahun 2016. Penyakit ini dipengaruhi banyak faktor, termasuk higienitas dan sanitasi alat makan-minum. Sebanyak 75% bayi di negara berkembang mendapatkan susu botol, namun kontribusi higienitas dan sumber air belum diketahui. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan higienitas botol susu dan sumber air dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi tahun 2020.
Metode: Penelitian ini adalah survei yang bersifat observasi analitik dengan pendekatan Case Control. Penelitian ini menggunakan bantuan kuesioner yang telah di uji validitas dan realibilitas. Sebanyak 80 sampel terlibat dalam penelitian ini.
Hasil: Faktor yang mempengaruhi hubungan higienitas botol susu dengan kejadian diare yaitu berupa cara mencuci botol, penggunaan sabun, penggunaan sikat khusus, cara sterilisasi botol susu, penyimpanan botol susu, serta berdasarkan penggunaan sumber air dimana lebih banyak responden menggunakan air yang bukan isi ulang yaitu sebanyak 55 orang (68,8 %). Kualitas fisik air yang digunakan responden yaitu keruh sebanyak 18 sampel (22,5 %) dan berbau sebanyak 4 sampel (5,0 %). Kualitas bakteriologis air yang digunakan responden bersifat positif Lactose Broth (LB) sebanyak 33 sampel (41,3 %) dan yang positif Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB) sebanyak 29 sampel (36,3 %).
Kesimpulan: Peneliti menyimpulkan bahwa terdapat bahwa pengunaan sabun dan cara penyimpanan botol susu serta sumber air merupakan penyebab diare pada balita. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi rekomendasi pengambilan kebijakan daerah untuk memperhatikan terutama sumber air yang digunakan.
Kata kunci: diare, balita, higienitas botol susu, sumber air
 
SELF-COMPASSION PASIEN DENGAN SAKIT HERNIA NUKLEUS PULPOSUS
ABSTRACT
Background: Self-compassion is a form of awareness of one's own situation and reducing and ending suffering within self. Someone with high self-compassion can be happier in life, including someone who is experiencing pain from Hernia Nucleus Pulposus (HNP). This study aims to determine the self-compassion of HNP patients who are undergoing medical rehabilitation therapy.
Methods: This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques using observations, interviews and the self-compassion scale from Neff (2003) to determine the level of self-compassion of the subject. The subjects were 3 people with an age range of 53 – 58 years. The study was conducted from March to May 2021. Researchers selected 3 HNP patients who were very routine and came on schedule for medical rehabilitation therapy.
Results: This study found 3 themes, namely (1) HNP patients know that their illness cannot be cured as before. (2) Patients routinely undergo physical therapy. (3) Patients believe that if they do treatment sincerely, they will feel calm and feel pain. The common humanity component is also a factor in being able to increase self-compassion in patients
Conclusion:
Patients who suffer from HNP are able to empathize with themselves, especially patients who are undergoing medical rehabilitation physical therapy.
Keywords: Self-Compassion, Common Humanity, Hernia Nucleus Pulposus
ABSTRAK
Latar Belakang: Self-compassion merupakan bentuk kesadaran akan keadaan diri sendiri dan mengurangi serta mengakhiri penderitaan dalam diri. Seseorang dengan self-compassion yang tinggi dapat lebih bahagia dalam menjalani hidupnya, termasuk seseorang yang sedang mengalami nyeri Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui self-compassion pasien HNP yang sedang menjalani terapi rehabilitasi medik.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan skala self-compassion dari Neff (2003) untuk mengetahui tingkat self-compassion subjek. Subjek berjumlah 3 orang dengan rentang usia 53 – 58 tahun. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2021. Peneliti memilih 3 pasien HNP yang sangat rutin dan datang sesuai jadwal untuk terapi rehabilitasi medik.
Hasil: Penelitian ini mendapatkan 3 tema yaitu (1) Pasien HNP mengetahui sakit yang dialami tidak dapat sembuh seperti sebelum sakit.. (2) Pasien rutin untuk melakukan terapi fisik. (3) Pasien yakin bahwa jika melakukan pengobatan dengan ikhlas maka diri menjadi tenang dan sakit tidak terasa. Komponen common humanity juga menjadi faktor dalam mampu meningkatkan self-compassion pada pasien
Kesimpulan: Pasien yang menderita HNP mampu berempati terhadap dirinya sendiri terutama pasien yang sedang menjalani terapi fisik rehabilitasi medik.
Kata kunci : Self-Compassion, Common Humanity, Hernia Nucleus Pulposu