Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Not a member yet
168 research outputs found
Sort by
Kajian Pengelolaan Pesisir berbasis Tipologi di Kabupaten Tanah Laut
The coastal area of Tanah Laut Regency has two different coastal sides, namely the west and south coasts with different typologies on both coasts in terms of physical conditions and community activities. The purpose of this research is to know the typology in the West and South coastal areas of Tanah Laut Regency and the Coastal Management Concept based on coastal typology. The stages of data collection in this study consisted of secondary and primary data. Secondary data uses data from government agencies, studies, and regional planning documents, including data, geology, slope, topography, and satellite imagery for landforms. Based on the results of the analysis, there are 3 types of coastal typology groups, namely Marine Deposition Coast, Sub Aerial Deposition Coast, and Volcanic Coast. Coastal management strategies for the typology of the Sub Aerial Deposition Coast type such as planting mangroves, adaptation of vertical houses and coastal buildings. Meanwhile, the typology of the Volcanic Coast and Marine Deposition Coast is in the form of hard/protective buildings, coastal buildings, seawalls, and groins.Wilayah pesisir Kabupaten Tanah Laut memiliki dua sisi pesisir yang berbeda, yaitu pesisir barat dan selatan dengan tipologi di kedua pesisir berbeda baik secara kondisi fisik dan aktivitas masyarakatnya. Tujuan dari penelitian ini mengetahui tipologi di wilayah pesisir Barat dan Selatan Kabupaten Tanah Laut dan Konsep Pengelolaan Pesisir berdasarkan tipologi pesisir. Tahapan pengumpulan data penelitian ini terdiri dari data sekunder dan primer. Data sekunder menggunakan data dari badan pemerintah, studi dan dokumen perencanaan daerah, meliputi data, geologi, kemiringan, topografi, dan citra satelit untuk bentuk lahan. Berdasarkan hasil analisis, jenis tipologi pesisir 3 (tiga) kelompok tipologi, yaitu tipologi pengendapan marin (Marine Deposition Coast), pengendapan lumpur (Sub Aerial Deposition Coast) dan proses vulkanik (Volcanic Coast). Strategi pengelolaan pesisir pantai tipologi tipe Lumpur (Sub Aerial Deposition Coast) seperti penanaman mangrove, adaptasi rumah vertikal dan bangunan pantai. Sedangkan tipologi pesisir Batu (Volcanic Coast) dan Pasir (Marine Deposition Coast) berupa bangunan keras/protektif Bangunan pantai, seawall dan groin
Media Pembelajaran berbasis Website dalam Meningkatkan Pengetahauan Kemaritiman Siswa
This research intends to create prototype products that connect inland students to be oriented toward or connected to the sea. Indonesia aspires to become a maritime nation, but those who live upstream or distant from the ocean have not yet made rivers and seas their primary environments. Through a prototype product, this research is anticipated to contribute to the development of the maritime paradigm of the Indonesian people, particularly among students who live far from the ocean. The created goods include maritime materials and subject matter, such as maritime history, culture, resources, and socioeconomics. This study employs a qualitative descriptive approach to research using instruments derived from surveys and analysing datainstruments derived from surveys and analyzing data, this study employs a qualitative descriptive approach to research. The majority of inland pupils have not grasped maritime materials or content, indicating the requirement for a product that can always connect with the sea. On the basis of this issue, a publicly accessible marine website was established to construct a maritime paradigm.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan protoype produk yang menghubungkan siswa pedalaman selalu berorientasi atau terkoneksi dengan laut. Indonesia memiliki cita-cita untuk menjadi negara maritim namun saat ini masyarakat yang berada di daerah hulu atau yang jauh dari laut belum menjadikan sungai dan laut sebagai kawasan utamanya Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk membangun paradigma kemaritiman masyarakat Indonesia khususnya siswa yang berada jauh dari wilayah laut melalui suatu produk prototype. Produk yang dikembangkan memuat materi dan konten kemaritiman seperti sejarah, budaya, sumber daya maritim, serta sosial ekonomi kemaritiman. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan instrumen dari kuesioner dengan menelaah data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa pedalaman belum menguasai materi ataupun konten kemaritiman sehingga diperlukan suatu produk agar dapat menghubungkan selalu dengan laut. Atas dasar masalah tersebut dikembangkannya sebuah website kemaritiman yang bisa diakses umum untuk membangun paradigma mariti
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur
Cianjur Regency is one of the regencies located in West Java Province that is vulnerable to disasters because it is passed by the Cimandiri fault. Furthermore, according to BPS the population of Cianjur districts during year 2013 – 2021 increased by around 12.64%. The increasing number of population may cause various problems, including that is related to the spatial problems and land use issues. Moreover, the vulnerability of natural disasters is highly related to the land use of the area. Hence, research regarding land use in Cianjur districts to seek the its relation with the vulnerability of natural disasters is needed. This study conducted a land use analysis using Landsat 8 satellite imagery for 2013 and 2022 in 6 sub-districts in Cianjur district. To obtain land use classification of study area, an unsupervised classification of Landsat imagery is conducted with using Iso class algorithms. There three classes of land use resulted, namely namely built-up land, high vegetation and low vegetation. The overall accuracy of the data from year 2013 is 82.67% with kappa index of 0.74. Moreover the overall accuracy of the data from year 2022 is 89.33% with kappa index of 0.84. Changes of land use can be seen when these two different year data are overlay. Overall, the main differences are increasing number of built-up area and high vegetation land use classification while the low vegetation shows a decreasing number. It is hoped that this research can contribute to policy makers in establishing decisions related to spatial planning for sustainable development in disaster-prone areas around Cianjur district.Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang rentan terhadap bencana karena dilewati sesar Cimandiri. Disisi lain, berdasarkan data BPS tahun 2013-2021 populasi penduduk di kabupaten Cianjur mengalami peningkatan sekitar 12,64%. Peningkatan populasi penduduk ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah masalah keruangan terkait penggunaan lahan. Disisi lain, ada keterhubungan antara penggunaan lahan dengan kerawanan bencana alam, sehingga dibutuhkan suatu penelitian terkait penggunaan lahan di kabupaten Cianjur. Penelitian ini melakukan analisis penggunaan lahan menggunakan citra satelit landsat 8 tahun 2013 dan 2022 di 6 kecamatan pada kabupaten Cianjur. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data penggunaan lahan dari citra landsat adalah metode tidak terbimbing (unsupervised classification) dengan algoritma Iso class dan menghasilkan 3 kelas penggunaan lahan yaitu lahan terbangun, vegetasi tinggi dan vegetasi rendah. Hasil dari pengolahan data menghasilkan data penggunaan lahan tahun 2013 dengan overall accuracy 82,67% dan kappa index 0,74 serta data penggunaan lahan tahun 2022 overall accuracy 89,33% dan kappa index 0,84. Kedua data penggunaan lahan tersebut ketika ditampalkan maka memperlihatkan adanya perubahan penggunaan lahan dari tahun 2013 hingga 2022. Perubahan penggunaan lahan ini ada pada peningkatan lahan terbangun, peningkatan vegetasi tinggi dan penurunan vegetasi rendah. Harapanya penelitian ini dapat memberikan kontribusi kepada pemangku kebijakan dalam pengambilan keputusan terkait tata ruang demi pembangunan berkelanjutan untuk wilayah rentan bencana di kabupaten Cianjur
Pengaruh Peningkatan Lahan Terbangun Terhadap Penurunan Permukaan Tanah Di Kota Jakarta Utara Tahun 2014-2022
This study aims to determine the effect of increased built-up land on land subsidence in North Jakarta City in 2014-2022. This research uses a quantitative approach and descriptive research type. This research uses remote sensing and geographic information system (GIS) processing techniques using Landsat 8 and Sentinel 1 image data in 2014 and 2022, processing is done through the Google Earth Engine platform. In the variable increase in built-up land, the analysis was carried out using the supervised classification method into 2 classifications, namely built-up land and non-built-up land. And to get the value of land subsidence, DInSAR (Different Interferometric Synthetic Aperture Radar) analysis was conducted. Then to determine the value of the influence between the variable increase in built-up land (x) and the variable land subsidence (y), a simple linear regression analysis was carried out with the equation Y = 6.413 + 13.178X resulting in a significance value of 0.000 <0.05. The R Square value is 0.466 which means that there is an effect of increasing built-up land on land subsidence by 46.6%. While the tcount value obtained a result of 9.239 and the ttable value of 0.1966 and means tcount> ttable. So it can be concluded that Ha is rejected and Ha is accepted, which means that there is a significant influence between the increase in built-up land on land subsidence in North Jakarta City in 2014-2022Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan lahan terbangun terhadap penurunan permukaan tanah di Kota Jakarta Utara tahun 2014-2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan teknik pengolahan penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (SIG) dengan menggunakan data Citra Landsat 8 dan Sentinel 1 tahun 2014 dan tahun 2022, pengolahan dilakukan melalui platform Google Earth Engine. Pada variabel peningkatan lahan terbangun dilakukan analisis menggunakan metode kalsifikasi terbimbing (supervised classification) menjadi 2 klasifikasi yaitu lahan terbangun dan lahan non terbangun. Dan untuk mendapatkan nilai penurunan permukaan tanah dilakukan analisis DInSAR (Different Interferometric Synthetic Aperture Radar). Kemudian untuk mengetahui nilai pengaruh antara variabel peningkatan lahan terbangun dengan variabel penurunan permukaan tanah ( dilakukan analisis regresi linear sederhana dengan persamaan Y = 6,413 + 13,178X menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000<0,05. Nilai R Square sebesar 0,466 yang artinya terdapat pengaruh peningkatan lahan terbangun terhadap penuruan permukaan tanah sebesar 46,6%. Sedangkan nilai thitung diperoleh hasil sebesar 9,239 dan nilai ttabel sebesar 0,1966 dan memiliki arti thitung>ttabel. Sehingga dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ha diterima, yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara peningkatan lahan terbangun terhadap penurunan permukaan tanah di Kota Jakarta Utara tahun 2014-2022
Perbandingan Algoritma Classification and Regression Tree (CART) dan Random Forest (RF) untuk Klasifikasi Penggunaan Lahan pada Google Earth Engine
Land Use and Land Cover (LULC) change are increasing along with the population growth and their activity-followed. Quick and accurate analyses are neded to support the land use management. One of the effective and accurate platforms to generate LULC classification maps are Google Earth Engine (GEE), a cloud-based geospatial by utilising multi-spectral imagery and various processing algorithms.There are at least two LULC classifier methode using the decision tree algorithm: Classification And Regression Tree (CART) and Random Forest (RF). Differences classifier method are allowed to produce difference accuracy level. Few studies have explained how the accuracy level and effectiveness of these two methods.This research aims to identify an accurate and effective LULC classifier method by comparing the accuracy values of the two methods on Landsat 8 and Sentinel 2A imagery. The RF algorithm shows higher accuracy result than the CART algorithm on both Landsat 8 and Sentinel 2A images. The most optimal sample proportion is 60:40 with higher accuracy result on both image and classifier algorithm. The Landsat 8 imagery with sample proportion 60:40 shows the highest accuracy result (OA=93,94 and Kappa=0,927).Perubahan penggunaan lahan terus terjadi seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ikutannya. Diperlukan analisis yang cepat dan akurat untuk mendukung tatakelolanya. Salah satu yang dibutuhkan adalah teknik klasifikasi penggunan lahan yang cepat dan efektif salah satunya dapat dilakukan melaluiplatform berbasis cloud Google Earth Engine (GEE) dengan memanfaatkan citra multi-spektral dan melibatkan berbagai algoritma pengolahan. Setidaknya terdapat dua metode klasifikasi menggunakan algoritma pohon keputusan (decision tree algorithm) yaitu: Classification and Regression Tree (CART) dan Random Forest (RF). Perbedaan metode klasifikasi memungkinkan terjadinya perbedaan akurasi dari klasifikasi yang dihasilkan. Belum banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana perbedaan tingkat akurasi dan efektifitas kedua metode ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metode klasifikasi yang akurat dan efektifdengan membandingakan nilai akurasi kedua metode pada citra Landsat 8 dan Sentinel 2A. Metode RF menunjukkan nilai akurasi yang lebih tinggi dibandingkan metode CART pada citra Landsat 8 dan Sentinel 2A. Proporsi sampel 60:40 merupakan proporsi yang paling optimal dengan nilai akurasi paling tinggi pada masing-masing metode klasifikasi dan citra yang digunakan. Penggunaan citra Landsat 8 dengan proporsi sampel 60:40 menghasilkan nilai akurasi paling tinggi (OA=93,94% dan Kappa=0,927)
Analisis Tingkat Ancaman Longsor dI Distrik Ransiki Kabupaten Manokwari Selatan
One of the most important activities in landslide risk management is mapping the level of landslide threat. The objective of this research was to map the level of landslide threat in the Ransiki District. This study was carried out in the Ransiki District, South Manokwari Regency, West Papua Province from May to November 2021. Lithology, Geological Structure, Rainfall, Land Use, and Slope were the parameters used in this study. The stack plate method was used, and the analytical hierarchy process (AHP) method was used for parameter weighting. This AHP was used to calculate the weight of each parameter class and landslide disaster parameter. The landslide threat level was mapped using ArcGIS 10.1 software. According to the research findings, there were three levels of landslide threat in the Ransiki District, South Manokwari Regency. The low threat level covered 6,792.06 hectares, or 37.52% of total area of Ransiki District. The Ransiki District has a moderate threat level covered 6,741.33 hectares, or 37.24% of its total area. Ransiki District had a high threat level of 4,567.85 hectares, or approximately 25.24% of its total area. This study provided suggestion that in areas with moderate and high threat levels, more research can be conducted to reduce the impact and losses caused by landslidesPemetaan tingkat ancaman longsor merupakan salah satu kegiatan yang penting manajemen risiko bencana longsor. Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan tingkat ancaman longsor pada Distrik Ransiki. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan yaitu dari bulan Mei hingga bulan November 2021 di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Metode. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Litologi, Struktur Geologi, Curah Hujan, tata Guna Lahan, dan Kemiringan Lereng. Metode yang digunakan yaitu metode tumpeng susun dimana untuk pembobotan parameter menggunakan Metode analytical hierarchy process (AHP). AHP ini digunakan untuk penentuan bobot dari setiap kelas parameter dan parameter bencana longsor. Pemetaan tingkat ancaman longsor dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.1. Hasil Peneltiannya yaitu terdapat 3 tingkat ancaman bencana longsor di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Tingkat Ancaman rendah memiliki luasan 6.792,06 Hektar atau 37,52% dari total luasan Distrik Ransiki. Tingkat Ancaman Sedang seluas 6.741,33 Hektar atau 37,24% dari total luas wilayah Distrik Ransiki. Tingkat Ancaman Tinggi sebesar 4.567,85 Hektar atau Sekitar 25,24% dari total luas wilayah Distrik Ransiki. Saran dari penelitian ini adalah pada daerah dengan tingkat ancaman sedang dan tinggi dapat dilakukan penelitian lebih lanjut guna meminimalisir dampak dan kerugian yang akan disebabkan oleh longsor
Perubahan Tutupan Vegetasi terhadap Daerah Rawan Longsor di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
Vegetasi mempunyai manfaat yang sangat penting dalam kehidupan manusia, selain untuk kebersihan udara, ketersediaan air tanah dan kehidupan hewan, tutupan vegetasi juga berfungsi untuk mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim serta mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor. Penelitian ini difokuskan di 6 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Cianjur yang merupakan daerah yang paling terdampak gempa dan longsor pada November 2022. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial perubahan tutupan lahan dengan variabel turupan lahan tahun 2013 dan 2022 serta Indeks Rawan Longsor (IRL). Variabel tersebut diperoleh berdasarkan hasil pengolahan data Citra Satelit Landsat-8 tahun 2013 dan Landsat-9 tahun 2022 serta data raster rawan bencana longsor dari BNPB. Hasil dari penelitian ini adalah perubahan tutupan lahan dari tahun 2013 - 2022 terhadap Indeks Rawan Longsor.
 
Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Pendidikan Geografi Pada Implementasi Case Based Learning dalam Mata Kuliah Geomorfologi Dasar: Bahasa Inggris
Changes in the paradigm of student center-based learning are starting to take place in Indonesian universities. This is stated and emphasized in the main university performance indicators (IKU7), namely collaborative and participatory classes. At the implementation stage, various types of learning models were developed, but explicitly CBL and PjBL were used as the main raw models. The purpose of this study was to determine the effect of the application of the Case Based Learning (CBL) model on improving students' critical thinking skills. The subjects in this study amounted to 25 people with the type of quantitative research one group pretest and posttest design. The results show that the CBL model is quite effective in improving students' critical thinking skills through calculating the percentage n-gain score of 56.24%. This finding is reinforced by the high positive response of students to the learning model through perception networking through research questionnaires.Perubahan paradigma pembelajaran berbasis student center mulai marak dilakukan di perguruan tinggi Indonesia. Hal ini tertuang dan dipertegas dalam indikator kinerja utama perguruan tinggi (IKU7) yaitu kelas kolaboratif dan partisipatif. Pada tahap implementasinya berbagai jenis model pembelajaran dikembangkan, namun secara eksplisit CBL dan PjBL dijadikan raw model utama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dari penerapan model Case Based Learning (CBL) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 25 orang dengan jenis penelitan one group pretest and posttest design. Adapun hasilnya menunjukan bahwa model CBL cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa melalui perhitungan persentase n-gain Score sebesar 56,24%. Temuan ini diperkuat dengan tingginya respon positif mahasiswa terhadap model pembelajaran tersebut melalui penjaringan persepsi melalui angket penelitian
Pemetaan Persebaran Penyakit Malaria di Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung
Malaria transmission in Pesawaran District has decreased for three consecutive years, namely 2018-2020 where it reached an API rate of 0.67 per 1000 population. In 2020 Punduh Pidada District has 28 positive cases of malaria. Factors that influence the number of cases of malaria transmission include environmental factors such as rainfall, land use, and altitude. The purpose of this study was to determine the distribution of malaria in terms of transmission factors in the form of environmental factors in the form of land use and topography. The method used in this research is qualitative with descriptive analysis. Data analysis techniques in this study are buffering techniques and map analysis. The results of this study indicate that land use and topography have an influence on the number of cases of malaria transmission in Punduh Pidada District. The land uses that had the highest cases were mixed forest (18 cases), plantations (18 cases), settlements (20 cases), and fish ponds (20 cases). Meanwhile, the altitude/topography of less than 200 meters above sea level covers all sample locations of malaria transmission in Punduh Pidada District in 2016-2021.Penularan malaria di Kabupaten Pesawaran mengalami penurunan selama tiga tahun berturut turut yaitu tahun 2018 sampai 2020 di mana mencapai angka API sebesar 0.67 per 1000 penduduk. Pada tahun 2020 Kecamatan Punduh Pidada memiliki kasus positif malaria sebanyak 28 kasus. Faktormempengaruhi jumlah kasus penularan malaria diantaranya faktor lingkungan seperti curah hujan, penggunaan lahan, dan ketinggian tempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persebaran malaria dilihat dari faktor penularan berupa faktor lingkungan berupa penggunaan lahan dan topografi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik buffering dan analisis peta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan dan topografi memiliki pengaruh terhadap jumlah kasus penularan malaria di Kecamatan Punduh Pidada
Hubungan Dinamika Sosial Ekonomi Wilayah dengan Interaksi Ruang Kawasan Perbatasan di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara
The state border area has an important position for state sovereignty. Sebatik Island is one of the border areas designated as PKSN for defense and security purposes, along with a new growth center in the economic sector. Therefore it is necessary to know the development of the socio-economic condition of the region along with the various spatial interaction activities that have been carried out by the border communities of Sebatik Island. This paper aims to (1) identify the socio-economic conditions of the area in the Sebatik Island Border Area, (2) identify spatial interaction activities carried out by border communities on Sebatik Island in order to fulfill their daily needs, (3) assess the relationship between socio-economic conditions in Sebatik Island with spatial interactions between regions that have been carried out by the community. This study uses qualitative methods by applying the principle of data triangulation. Some research results can be fund is the Sebatik island region still has a dependence on other regions, one of which is on the territory of neighboring countries. This becomes an anomaly if it is associated with the function of the border area as a manifestation of state sovereigntyKawasan perbatasan negara memiliki posisi penting bagi kedaulatan negara. Pulau Sebatik merupakan salah satu kawasan perbatasan yang ditetapkan sebagai PKSN untuk kepentingan pertahanan dan keamanan, beserta pusat pertumbuhan baru dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu perlu untuk mengetahui perkembangan kondisi sosial-ekonomi wilayah beserta berbagai aktivitas interaksi ruang yang selama ini dilakukan oleh masyarakat perbatasan Pulau Sebatik. Makalah ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kondisi sosial-ekonomi wilayah di Kawasan Perbatasan Pulau Sebatik, (2) mengidentifikasi aktivitas interaksi ruang yang dilakukan masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, (3) melakukan penilaian hubungan antara kondisi sosial-ekonomi wilayah Pulau Sebatik dengan interaksi ruang antar wilayah yang telah dilakukan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan prinsip triangulasi data. Beberapa hasil penelitian yang dapat ditemukan adalah bahwa kawasan pulau sebatik masih memiliki ketergantungan terhadap wilayah lain, salah satunya terhadap wilayah negara tetangga. Hal ini menjadi anomali jika dikaitkan dengan fungsi kawasan perbatasan sebagai manifestasi kedaulatan negara