Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Not a member yet
168 research outputs found
Sort by
PENGARUH KETEBALAN BATU ANDESIT TERHADAP KELUARAN TERMOELEKTRIK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketebalan batu andesit terhadap keluaran termoelektrik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini ialah ketebalan batu andesit. Ketebalan batu andesit yang digunakan yaitu ketebalan 1 cm, 2 cm, dan 3 cm. Penelitian ini dilakukan pengujian laju kalor konduksi dan keluaran termoelektrik berdasarkan ketebalan batu andesit. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi laboratorium dan observasi lapangan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa batu andesit ketebalan 1 cm menghasilkan laju kalor konduksi tertinggi dibandingkan ketebalan 2 cm dan 3 cm. Begitu juga dengan keluaran yang dihasilkan termoelektrik. Batu andesit ketebalan batu 1 cm menghasilkan keluaran paling besar dibandingkan ketebalan batu 2 cm dan 3 cm. Tegangan keluaran V0(tanpa beban) dan V1(dengan hambatan 100 ohm) yang dihasilkan termoelektrik pada ketebalan batu 1 cm berturut-turut sebesar 1.40 V dan 1.08 V, ketebalan batu 2 cm sebesar 1.37 V dan 0.98 V, dan ketebalan batu 3 cm sebesar 1.22 V dan 0.94 V. Berdasarkan hasil data pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh ketebalan batu andesit terhadap keluaran termoelektrik.
Kata Kunci: Termoelektrik, Andesit, Laju Kalor Konduksi, Keluaran Termoelektrik
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketebalan batu andesit terhadap keluaran termoelektrik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini ialah ketebalan batu andesit. Ketebalan batu andesit yang digunakan yaitu ketebalan 1 cm, 2 cm, dan 3 cm. Penelitian ini dilakukan pengujian laju kalor konduksi dan keluaran termoelektrik berdasarkan ketebalan batu andesit. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi laboratorium dan observasi lapangan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa batu andesit ketebalan 1 cm menghasilkan laju kalor konduksi tertinggi dibandingkan ketebalan 2 cm dan 3 cm. Begitu juga dengan keluaran yang dihasilkan termoelektrik. Batu andesit ketebalan batu 1 cm menghasilkan keluaran paling besar dibandingkan ketebalan batu 2 cm dan 3 cm. Tegangan keluaran V0(tanpa beban) dan V1(dengan hambatan 100 ohm) yang dihasilkan termoelektrik pada ketebalan batu 1 cm berturut-turut sebesar 1.40 V dan 1.08 V, ketebalan batu 2 cm sebesar 1.37 V dan 0.98 V, dan ketebalan batu 3 cm sebesar 1.22 V dan 0.94 V. Berdasarkan hasil data pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh ketebalan batu andesit terhadap keluaran termoelektrik.
Kata Kunci: Termoelektrik, Andesit, Laju Kalor Konduksi, Keluaran Termoelektrik
 
Analisis Zonasi Ekowisata Bahari Berbasis Sistem Informasi Geografis: (Studi Kasus Kabupaten Pesisir Barat)
The magnitude of tourism potential and diversity of tourism in Pesisir Barat District, making the attraction for tourists in Pesisir Barat District. It is needed a tourism planning in the mapping of marine ecotourism area in Pesisir Barat District, beauty of nature, and the interest of foreign tourists are not hindered by the attributes - ecotourism attributes that are inadequate for the purpose of the prosperity that has a big impact for the province and the country. The purpose of this research is to design the zoning of marine ecotourism area in Pesisir Barat regency. The method used is Community Based Analysis Method and SWOT Analysis based on Geographic Information System. Based on the analysis, this regency has 30 areas that have the potential to be developed. It can be concluded that special attention is needed from the government in arranging space and territory in natural resources owned by Pesisir Barat regency.Besarnya potensi wisata dan keanekaragaman wisata di Kabupaten Pesisir Barat, menjadikan daya tarik bagi turis untuk dilakukannya pariwisata di Kabupaten Pesisir Barat.Diperlukan sebuah perencanaan pariwisata dalam pemetaan wilayah ekowisata bahari di Kabupaten Pesisir Barat, sehingga keindahan alam, dan ketertarikan wisatawan asing tidak terhalangi oleh atribut–atribut ekowisata yang kurang memadai demi tujuan tercapainya kemakmuran daerah yang berdampak cukup besar bagi provinsi maupun negara. Tujuan penelitian ini adalah mendesain zonasi kawasan ekowisata bahari di kabupaten Pesisir Barat.Metode yang digunakan adalah Analisis Berbasis Masyarakat dan Analisis SWOT yang berbasis SistemInformasi Geografis. Berdasarkan hasil analisis yang sudah dilakukan, kabupaten ini memiliki 30 wilayah yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.Disimpulkan bahwa perlu perhatian khusus dari pemerintah dalam menata ruang dan wilayah dalam sumberdaya kekayaan alam yang dimiliki oleh kabupaten Pesisir Barat
KAJIAN PENGGUNAAN METODE IP, STORET, dan CCME WQI DALAM MENENTUKAN STATUS KUALITAS AIR
Pemantauan kualitas air perlu dilakukan pada air sungai, laut, danau, rawa dan tanah sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kegunaannya bagi makhluk hidup. Kajian ini bertujuan untuk membandingkan beberapa metode perhitungan indeks kualitas air yang paling efektif, sensitif dan obyektif dalam menentukan status kualitas air permukaan. Metode perhitungan Indeks Kualitas Air (IKA) diperlukan untuk menyederhanakan banyaknya nilai dari berbagai jenis parameter menjadi sebuah angka tunggal yang mampu mendeskripsikan kualitas air, sehingga lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Perhitungan IKA dengan menggunakan metode Storet, IP, dan CCME WQI (Canadian Council of Ministers of The Environment) dilaksanakan di beberapa penelitian di berbagai negara. Kajian ini akan membandingkan hasil literatur dari penelitian IKA di beberapa negara. Metode tersebut akan dibandingkan dengan beberapa indikator. Hasil kajian menunjukkan Metode IP lebih unggul jika memakai data tunggal karena memiliki kelebihan dari segi biaya dan waktu, namun hanya mempresentasikan status mutu air pada saat itu saja, tidak dalam periode tertentu. Metode Storet dan CCME menggunakan data perulangan sepanjang waktu (time series data) sehingga menggambarkan status mutu air dalam periode tertentu. CCME WQI lebih unggul dari Metode Storet dan Metode IP karena memperhitungkan besarnya selisih hasil pengujian yang melebihi baku mutu melalui F3 (Amplitude). Dari kajian di atas disimpulkan, Metode CCME merupakan metode yang paling tepat untuk menganalisis kualitas air baik pada air permukaan maupun air tanah dengan tingkat efektivitas dan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya serta penggunaan jumlah dan jenis parameter yang fleksibel
KAJIAN PENGGUNAAN KONDESAT AC SEBAGAI BAHAN BAKU AIR MINUM DARI SEGI KUALITAS DAN KUANTITAS (REVIEW)
Penggunaan Air Conditioner (AC) yang semakin banyak oleh masyarakat baik di lingkungan perumahan maupun di perkantoran, mengakibatkan adanya air hasil proses pendinginan udara. Air yang dihasilkan jumlahnya cukup banyak, namun pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal. Kegiatan ini bertujuan untuk mereview beberapa penelitian mengenai kondesat AC sehingga akan diketahui metode yang paling efektif dalam menentukan kualitas kondesat AC sebagai bahan baku air minum pada penelitian selanjutnya. Sejauh ini belum banyak penelitian mengenai kondesat AC. Beberapa penelitian hanya menganalisa sebagian parameter dari parameter fisik, kimia, dan bakteriologis. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Wahyu, dkk (2006), yang menganalisa parameter fisik, kimia (CO2, Amonia, Nitrat, KMN04, dan Fenol) dan mikrobiologi. Kemudian penelitian oleh Laila, dkk (2009), yang hanya menganalisa parameter konduktivitas, TDS, PH dan logam Pb. Lalu penelitian oleh Bambang, dkk (2016) yang meneliti tentang parameter laju alir, fisika (TDS, Turbidity dan pH) dan mikrobiologi. Diantara penelitian tersebut, belum ada yang menggunakan metode WQI untuk menentukan kualitas kondesat AC. Selain itu belum ada pula yang melakukan analisa ekonomi mengenai keunggulan kondesat AC sebagai alternatif sumber air bersih. Oleh karena itu pada penelitian ini kami menggunakan metode DOE WQI untuk mengetahui kualitas sekaligus melakukan analisa ekonomi dari penggunaan kondesat AC tersebut. Pemilihan metode DOE WQI disebabkan karena metode ini dianggap mampu menyederhanakan perhitungan status mutu air hanya dengan mengukur 6 paramater yaitu BOD, COD, DO, Amonia, TSS, dan pH. Pengambilan sampel kondesat sebaiknya dilakukan pada rentang waktu yang sama, untuk mendapatkan jumlah volume kondesat yang akurat. Nilai volume tersebut berpengaruh pada analisa ekonomi yang akan dilakukan. Pemeriksaan fisik mikrobiologi, dan logam juga harus tetap dilakukan untuk mengantisipasi temuan pada penelitian sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa metode DOE WQI merupakan metode yang efektif untuk mengevaluasi kualitas kondesat AC jika dibarengi dengan pemeriksaan parameter logam.
Keyword : Kualitas Air, Kondesat AC, Review Penggunaan Kondesat ACPenggunaan Air Conditioner (AC) yang semakin banyak oleh masyarakat baik di lingkungan perumahan maupun di perkantoran, mengakibatkan adanya air hasil proses pendinginan udara. Air yang dihasilkan jumlahnya cukup banyak, namun pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal. Kegiatan ini bertujuan untuk mereview beberapa penelitian mengenai kondesat AC sehingga akan diketahui metode yang paling efektif dalam menentukan kualitas kondesat AC sebagai bahan baku air minum pada penelitian selanjutnya. Sejauh ini belum banyak penelitian mengenai kondesat AC. Beberapa penelitian hanya menganalisa sebagian parameter dari parameter fisik, kimia, dan bakteriologis. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Wahyu, dkk (2006), yang menganalisa parameter fisik, kimia (CO2, Amonia, Nitrat, KMN04, dan Fenol) dan mikrobiologi. Kemudian penelitian oleh Laila, dkk (2009), yang hanya menganalisa parameter konduktivitas, TDS, PH dan logam Pb. Lalu penelitian oleh Bambang, dkk (2016) yang meneliti tentang parameter laju alir, fisika (TDS, Turbidity dan pH) dan mikrobiologi. Diantara penelitian tersebut, belum ada yang menggunakan metode WQI untuk menentukan kualitas kondesat AC. Selain itu belum ada pula yang melakukan analisa ekonomi mengenai keunggulan kondesat AC sebagai alternatif sumber air bersih. Oleh karena itu pada penelitian ini kami menggunakan metode DOE WQI untuk mengetahui kualitas sekaligus melakukan analisa ekonomi dari penggunaan kondesat AC tersebut. Pemilihan metode DOE WQI disebabkan karena metode ini dianggap mampu menyederhanakan perhitungan status mutu air hanya dengan mengukur 6 paramater yaitu BOD, COD, DO, Amonia, TSS, dan pH. Pengambilan sampel kondesat sebaiknya dilakukan pada rentang waktu yang sama, untuk mendapatkan jumlah volume kondesat yang akurat. Nilai volume tersebut berpengaruh pada analisa ekonomi yang akan dilakukan. Pemeriksaan fisik mikrobiologi, dan logam juga harus tetap dilakukan untuk mengantisipasi temuan pada penelitian sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa metode DOE WQI merupakan metode yang efektif untuk mengevaluasi kualitas kondesat AC jika dibarengi dengan pemeriksaan parameter logam.
Keyword : Kualitas Air, Kondesat AC, Review Penggunaan Kondesat A
PENGEMBANGAN MENTAL MAP DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI DI SEKOLAH
Mental map sebagai gambaran tentang suatu wilayah dan lingkungannya, yang dikembangkan oleh individu atas dasar pengalaman sehari-hari dari berbagai sumber, antara lain dapat diperoleh melalui pembelajaran di sekolah dari guru dan media. Alat ukur keakuratan mental map seseorang terhadap suatu wilayah adalah mengkonfirmasi atau menerjemahkan dalam peta kartografis. Namun bersama peta kartografis, spektrum mental map peserta didik dapat dikembangkan tidak hanya berupa pengetahuan dan persepsi tentang lokasi geografis dari suatu obyek di permukaan bumi, peserta didik juga dapat melihat hubungan antar fenomena di permukaan bumi, pola, persamaan dan perbedaan hingga interdependensi suatu tempat dengan menerapkan prinsip dan pendekatan geografi. Mental map yang baik dan berkembang akan berguna bagi peserta didik dalam membuat keputusan untuk kepentingan pribadi hingga memberikan solusi kepada masyarakat. Guru berperan mendesain pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang mengembangkan mental map. Setiap pokok bahasan geografi pada mata pelajaran geografi dijelaskan dengan sudut pandang geografi dalam skala lokal, regional dan global. Setiap pokok bahasan geografi di sekolah juga harus menerapkan prinsip maupun pendekatan geografi untuk memaksimalkan mental map peserta didik terhadap lingkungan tempat tinggalnya, negaranya dan internasional sesuai tujuan pembelajaran geografi di sekolah
STUDI NAMA GEOGRAFI MELALUI LAYANAN PEMETAAN URUNDAYA DI DESA GIRIPURWO, PURWOSARI, GUNUNGKIDUL D.I. YOGYAKARTA
A geographical name is a name that identify specific feature on the earth. That features could be a settlement, administrative region, natural feature, artificial feature, unbounded region, or virtual region. Under the Law Number 4 of 2011 concerning Geospatial Information, the geographical name is one of the layer that must appear on the base map. The acquisition of geographical names can be facilitated by crowdsourcing map that are conducted by corporations or the public. The objectives of this study are 1) to carry out an inventory of geographic names through crowdsourced maps, and 2) to examine the opportunities and challenges of the study of geographic names in rural areas. We observed data from crowdsourcing maps, e.g., Google Maps, Here Maps, and OpenStreetMaps that cover Giripurwo Village. We used spatial comparison in this research. We also compared its appearances on various mapping scales. A field survey was conducted to get more qualitative information about geographical names and to test the accuracy of maps. The results showed that there were differences between the crowdsource map services in presenting the geographical names at the same scale level. We face constraints in this mapping, i.e. limited accessibility in the entire region and sparsely populated in a karst region. Conversely, the high participation of rural communities is beneficial in this mapping process.Nama geografi merupakan sebuah nama yang diberikan kepada suatu kenampakan di permukaan bumi. Kenampakan tersebut dapat berupa kenampakan wilayah permukiman, jenjang administrasi, kenampakan alami, kenampakan buatan manusia, wilayah tak-berbatas, maupun wilayah imajinatif. Sesuai UU No 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, nama geografi merupakan salah satu unsur yang harus ada pada peta dasar. Inventarisasi nama geografi dimudahkan dengan keberadaan peta digital hasil urundaya yang dilakukan oleh korporasi maupun masyarakat. Tujuan penelitian ini yaitu 1) melakukan inventarisasi nama geografi melalui peta digital urundaya, dan 2) mengkaji peluang dan tantangan studi nama geografi di wilayah perdesaan. Data penelitian berupa peta digital yang tersaji pada Google Maps, Here Maps, dan OpenStreetMaps pada cakupan desa Giripurwo. Metode yang dilakukan yaitu komparasi keruangan. Nama geografi diperbandingkan dalam berbagai skala pemetaan. Survei lapangan dilakukan untuk mendapatkan deskripsi yang mendalam serta untuk uji akurasi peta digital urundaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antar layanan peta urundaya dalam menyajikan nama geografi pada tingkatan skala yang sama. Kendala yang dihadapi dalam pemetaan di wilayah desa yaitu keterbatasan aksesibilitas dalam mengelilingi seluruh wilayah serta merupakan perbukitan karst yang jarang penduduknya. Partisipasi masyarakat perdesaan yang tinggi sangat membantu dalam proses pemetaan berbasis urundaya in
Mobilitas Sosial Dan Identitas Etnis Betawi: (Studi Terhadap Perubahan Fungsi dan Pola Persebaran Kesenian Ondel-Ondeldi DKI Jakarta)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan mobilitas sosial serta fungsi dan pola sebaran Kesenian Ondel-ondel Betawi. Pada tahun 1940-an ondel-ondel yang difungsikan sebagai kesenian yang bersifat sakral, namun saat ini ondel-ondel difungsikan sebagai kesenian Betawi yang bersifat ekonomis. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Administrasi Jakarta Pusat pada pada tahun 2017. Dalam penelitian ini terdapat dua pertanyaan penelitian. Pertama, bagaimana perubahan fungsi pada kesenian ondel-ondel Betawi. Kedua, bagaimana pola persebaran kesenian ondel-ondel Betawi. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix method), yaitu metode kualitatif untuk membahas bagaimana perubahan fungsi kesenian ondel-ondel Betawi. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Akademisi Universitas Negeri Jakarta, Seniman Betawi, Pengelola Sanggar Ondel-ondel, dan informan pendukung seperti masyarakat yang pernah menggunakan ondel-ondel dalam acara kebudayaan yang diambil secara snowball. Dan metode analisa geografis untuk mengetahui bagaimana pola persebaran kesenian ondel-ondel Betawi dengan sampel populasi untuk sanggar. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik yang digunakan dalam validitas data adalah triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, ondel-ondel merupakan kesenian tradisional yang sangat identik dengan identitas etnis Betawi. Perpindahan masyarakat Betawi ke pinggir Jakarta menyebabkan penggunaan ondel-ondel meredup karena masyarakat Betawi lebih memilih untuk menggunakan seni musik modern dan membuat pengelola sanggar ondel-ondel bertahan dengan cara mengamen keliling untuk biaya peremajaan sanggar sehingga terjadinya mobilitas horizontal dan mobilitas vertikal. Sanggar ondel-ondel di Kota Administrasi Jakarta Pusat terdapat 5 sanggar aktif dengan termasuk kedalam Pola Tersebar Merata. Lokasi yang menjadi tujuan mengamen keliling adalah lokasi yang ramai dengan aktivitas masyarakat. Dari mengamen inilah, banyak oknum liar yang memanfaatkan keadaan ondel-ondel menjadi media untuk mencari makan dengan penampilan seadanya dan mengharapkan belas kasihan dari masyarakat. Penampilan ondel-ondel liar yang tidak sesuai pakem ini telah merubah fungsi dan makna ondel-ondel yang semula merupakan atribut kebudayaan menjadi suatu kesenian budaya Betawi yang tidak dihargai lagi dengan uang recehan.
Kata Kunci: Ondel-ondel Betawi, Identitas Etnis Betawi, dan Pola Persebaran Ondel-ondelPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan mobilitas sosial serta fungsi dan pola sebaran Kesenian Ondel-ondel Betawi. Pada tahun 1940-an ondel-ondel yang difungsikan sebagai kesenian yang bersifat sakral, namun saat ini ondel-ondel difungsikan sebagai kesenian Betawi yang bersifat ekonomis. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Administrasi Jakarta Pusat pada pada tahun 2017. Dalam penelitian ini terdapat dua pertanyaan penelitian. Pertama, bagaimana perubahan fungsi pada kesenian ondel-ondel Betawi. Kedua, bagaimana pola persebaran kesenian ondel-ondel Betawi. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix method), yaitu metode kualitatif untuk membahas bagaimana perubahan fungsi kesenian ondel-ondel Betawi. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Akademisi Universitas Negeri Jakarta, Seniman Betawi, Pengelola Sanggar Ondel-ondel, dan informan pendukung seperti masyarakat yang pernah menggunakan ondel-ondel dalam acara kebudayaan yang diambil secara snowball. Dan metode analisa geografis untuk mengetahui bagaimana pola persebaran kesenian ondel-ondel Betawi dengan sampel populasi untuk sanggar. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik yang digunakan dalam validitas data adalah triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, ondel-ondel merupakan kesenian tradisional yang sangat identik dengan identitas etnis Betawi. Perpindahan masyarakat Betawi ke pinggir Jakarta menyebabkan penggunaan ondel-ondel meredup karena masyarakat Betawi lebih memilih untuk menggunakan seni musik modern dan membuat pengelola sanggar ondel-ondel bertahan dengan cara mengamen keliling untuk biaya peremajaan sanggar sehingga terjadinya mobilitas horizontal dan mobilitas vertikal. Sanggar ondel-ondel di Kota Administrasi Jakarta Pusat terdapat 5 sanggar aktif dengan termasuk kedalam Pola Tersebar Merata. Lokasi yang menjadi tujuan mengamen keliling adalah lokasi yang ramai dengan aktivitas masyarakat. Dari mengamen inilah, banyak oknum liar yang memanfaatkan keadaan ondel-ondel menjadi media untuk mencari makan dengan penampilan seadanya dan mengharapkan belas kasihan dari masyarakat. Penampilan ondel-ondel liar yang tidak sesuai pakem ini telah merubah fungsi dan makna ondel-ondel yang semula merupakan atribut kebudayaan menjadi suatu kesenian budaya Betawi yang tidak dihargai lagi dengan uang recehan.
Kata Kunci: Ondel-ondel Betawi, Identitas Etnis Betawi, dan Pola Persebaran Ondel-onde
KETERSEDIAAN AIR SUNGAI CIKUKULU DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA LULUT KECAMATAN KLAPANUNGGAL KABUPATEN BOGOR PROVINSI JAWA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ketersediaan air sungai Cikukulu dapat memenuhi kebutuhan air domestik penduduk Desa Lulut, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Januari–Agustus 2018. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survey. Subjek penelitian ini adalah sungai Cikukulu yang airnya digunakan oleh 10 RT penduduk Desa Lulut. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketersediaan air sungai Cikukulu mampu memenuhi kebutuhan air domestik penduduk Desa Lulut yang terdiri dari 10 RT. Penduduk di 10 RT Desa Lulut pada tahun 2018 sebesar 4.062 jiwa dengan kebutuhan air domestik 243.720 liter/hari. Debit sungai Cikukulu pada musim penghujan sebesar 83.808.000 liter/hari sedangkan pada musim kemarau sebesar 26.092.800 liter/hari. Maka ketersediaan air sungai Cikukulu pada musim penghujan adalah 83.564.280 liter/hari sedangkan pada musim kemarau adalah 25.849.080 liter/hari. Presentase pertumbuhan penduduk Desa Lulut pada tahun 2016– 2018 sebesar 2,63%, sehingga diproyeksikan penduduk 10 RT Desa Lulut pada 20 tahun mendatang sebesar 6.826 jiwa dengan proyeksi kebutuhan air domestik 409.560 liter/hari. Maka air sungai Cikukulu mampu memenuhi kebutuhan air domestik penduduk 10 RT Desa Lulut pada 20 tahun mendatan
ANTASEDEN EMPLOYEE ENGAGEMENT: STUDI KASUS : PERUSAHAAN JASA LAYANAN PELABUHAN
The aims of this study were to describe and analyse the influence of organizational culture to employee engagement; to describe and analyse the influence of work environment to employee engagement; to describe and analyse the influence of organizational cultural and work environment to employee engagement as simultaneously. The hyphothesis of this study were: (i) organizational culture and work environmrnt have positiveand and significant influence to employee engagement as partially, and (ii) organizational culture and work environment have positive and significant influence to employee engagement as simultaneously.
This study was a causal research to obtain evidences of causal relationships. The technique sampling applied was a cluster random sampling method with questionnaires as the instrument to collect data whose result processed using method Scala Likert Summated Rating (LSR) with score 1 – 4. Respondents of this research were employees of PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) – a port services company in the Province of Banten. Respondents of 155 employees were interviewed based on statements in the quetionnaires. This research used technique of path analysis using SPSS software version 22. The results of this hypothesis indicated that (i) organizational culture and work environment have positive and significant influence on employee engagemen as partially, and (ii organizational culture and work environment have positive and significant influence on employee engagement as simultaneously
GEOGRAFI, GEOPOLITIK, DAN GLOBALISASI: SUATU ANALISA TERHADAP TEORI SISTEM DUNIA IMMANUEL WALLERSTEIN
World systems theory emerged in the 1970s trying to understand the failure of development in developing countries. This theory is based on the teachings of neo-Marxist and and "Annales". According to this theory, the world is driven by a single system, namely, the capitalist system. Regions of the world can be divided into three parts: Center, developed and dominant; Semi-periphery; and Periphery, dependent and underdeveloped. The relationship between the area "center" and "periphery" patterned exploitative, that marked the surplus flow to the countries of the "center". These systems form through a long transformation marked by the process of annexation (incorporation), colonization, agrarian commercialization, industrialization and proletarianization, as well as the dissemination of ideas of liberalism. The existence of capitalist system increasingly with the process of globalization.
Keywords: The world system, development, socio-economic changes