Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Not a member yet
168 research outputs found
Sort by
PENERAPAN SURFACE MODEL DAN SPASIAL AUTOKORELASI DALAM MEMBENTUKAN STRUKTUR KOTA DEPOK
Tingginya dinamika penduduk perkotaan menjadi permasalahan tersendiri untuk memahami struktur ruang kota. Penggunaan data skala detail terutama yang bersifat data kontinum sangat dibutuhkan untuk mendapatkan gambaran yang tepat terhadap fenomena ini. Sensus sebagai salah satu metode pencacahan penduduk yang detail belum dapat menjawab bagaimana struktur kota karena terkendala batas spasial dan waktu yang lama (10 tahun). Perkembangan teknologi SIG mampu menjembatani kebutuhan informasi ini. Penerapan surface model yang mengadopsi sistem grid mampu menciptakan distribusi penduduk dalam bentuk data kontinum yang dapat mereprestasikan model struktur kota yang mendekati kenyataannya. Penggunaan model surface method diterapkan untuk informasi data kependudukan terutama pada penelitian di wilayah yang memanfaatkan skala detail. Perkembangan Kota Depok yang dicirikan dengan tingginya angka pertambahan penduduk serta perluasan area permukiman dan wilayah terbangun yang cepat, menjadikan kota ini merupakan tempat yang tepat untuk penerapan metode ini. Hasil penelitian menunjukkan penduduk Kota Depok terdistribusi mendekati pusat-pusat kegiatan, semakin mendekati pusat kegiatan maka penduduk semakin padat, dan sebaliknya semakin menjauhi pusat kegiatan penduduk semakin jarang. Hal ini sejalan dengan model eksponensial antara kepadatan penduduk terhadap jarak dari pusat yang mengindikasikan terjadinya pola konsentrik pada distribusi penduduk
ANALISA INDEKS KEKERINGAN DENGAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN PRODUKTIVITAS SAWAH TADAH HUJAN DI KABUPATEN INDRAMAYU
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kekeringan dan menganalisis produktivitas padi sawah tadah hujan di Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Unit analisis adalah produktivitas padi sawah tadah hujan di Kecamatan Indramayu, Kecamatan Haurgeulis, dan Kecamatan Gantar dengan satuan kw/ha. Data produktivitas padi dianalisis dengan indeks kekeringan yang didapatkan melalui metode SPI di Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Kekeringan di Kabupaten Indramayu mengalami kekeringan yang dimulai dari Bulan Mei sampai dengan Bulan Oktober. Daerah yang rawan bencana kekeringan dalam periode 10 tahun terakhir ialah daerah Poligon Anjatan dengan 33 kali kejadian kekeringan. Bulan Agustus mengalami kejadian kekeringan paling banyak di 3 daerah poligon stasiun hujan. Kabupaten Indramayu memiliki pola tanam pada 2 kali tanam padi dan 1 palawijaya dengan jenis yang bervariasi. Musim tanam pertama padi adalah bulan November-Desember-Januari dan musim tanam kedua Mei-Juni-Juli. Pada periode musim tanam pertama menunjukkan produktivitas yang tinggi, sementara musim tanam kedua menunjukkan penurunan. Pola produktivitas dari masa tanam pertama ke masa tanam kedua rata-rata selama 10 tahun menunjukkan penurunan. Hal ini diikuti juga dengan nilai indeks kekeringan yang pada masa tanam pertama November-Desember-Januari antara norma-sangat basah lalu menjadi agak kering-sangat kering pada masa tanam kedua Mei-Juni-Juli. Kenaikan produktivitas hanya terjadi jika fenomena kemarau basah terjadi yaitu pada masa tanam 2006/2007-2007 di Kecamatan Gantar, masa tanam 2007/2008-2008 di Kecamatan Haurgeulis dan Kecamatan Indramayu, masa tanam 2010/2011-2011 di Kecamatan Indramayu, masa tanam 2012/2013-2013 di Kecamatan Haurgeulis
INTRUSI SALINITAS DIMUARA SUNGAI TALAWAAN
Kajian ini bertujuan untuk menganalisa intrusi salinitas pada daerah sungai Talawaan Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Serangkaian kegiatan penelitian untuk mengetahui intrusi salinitas kedalaman, dan debit air dari Sungai Talawaan dilakukan pada 4 stasiun pengukuran yang telah ditentukan dari muara ke arah hilir, masing-masing stasiun ditentukan satu titik yang akan dijadikan patokan dalam pengambilan sampel, yaitu bagian yang paling dalam. Pada titik tersebut akan diambil sampel air pada lapisan permukaan, tengah, dan dasar, kemudian diikuti dengan pengkuran kedalaman. Pengukuran kedalaman dan pengambilan sampel dilakukan selama 9 jam, dan diambil setiap 3 jam secara bersamaan. Sampel yang didapat kemudian diperiksa dilaboratorium untuk mengetahui nilai salinitasnya dengan menggunakan alat pengukur kualitas air (HORIBA U-10). Hasil pengukuran menunjukan bahwa nilai salinitas pada lapisan dasar lebih tinggi dibandingkan lapisan yang ada diatasnya untuk semua titik pengkuran. Salinitas cenderung menurun pada stasiun yang lebih jauh dari muara sungai, stasiun 1 memiliki salinitas yang tinggi dikarenakan jaraknya yang paling dekat dengan laut, dan stasiun 4 memiliki salinitas terendah karena jaraknya yang paling jauh laut. Debit air sungai yang dihitung pada sungai ini tergantung kecepatan arus dan luas penampang dari sungai. Berdasarkan hasil penelitian, perubahan nilai salinitas yang terjadi pada masing-masing stasiun dipengaruhi oleh pasang surut dan kedalaman. Jangkauan intrusi salinitas terjauh pada Sungai Talawaan tidak melebihi 1.466 m, karena pada daerah ini tidak terlihat adanya indikasi salinitas pada lapisan permukaan, tengah, ataupun dasar karena salinitas yang terukur pada stasiun terakhir tidak melebihi 0 PSU. 
PREDIKSI EROSI LAHAN PADA DAS AIR DINGIN BAGIAN HULU DI KOTA PADANG
This research was conducted to identify the land in Watershed Air Dingin In Part Upstream Padang City based on the level of erosion and conservation directives. The method used to determine the level of erosion is determined based on a formula USLE (Universal Soil Loss Equation) and conservation directives refers to the modification of Kumajas (1992). The results showed very mild erosion is 5.93 tonnes/ha/year with an area of 58.61 ha, mild erosion is 43.9 tonnes/ha/year with an area of 24.49 ha, ie erosion was 181.64 tons/ha/year with an area of 3.91 ha and severe erosion which 74.91 tonnes/ha/year with broad 4.33 ha.Whereas conservation direction on very mild erosion on slopes IV (≥ 40 %) were left in a natural state, mild erosion on slopes III (26 – 40 %) is performed with a bench terracing, erosion was on the slope II (14 – 25 %) do with crop rotation with a terrace by the width (mulsa utilization) and the weight carried by erosion bench terraces (Cultivation with human labor)
PENGARUH FILTRASI TERHADAP PADATAN TERLARUT TOTAL AIRTANAH DI PERUMAHAN TAMAN NAROGONG INDAH BEKASI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :1) Jumlah Zat Padat Terlarut (Total Disolved Solid/TDS) airtanah yang digunakan untuk keperluan rumah tangga di Perumahan Taman Narogong Indah Bekasi; 2) Seberapa besar kemampuan filtrasi dapat mengurangi jumlah zat padat terlarut pada airtanah yang digunakannya untuk kebutuhan rumah tangga; 3) Apakah airtanah hasil filtrasi ini layak digunakan untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan standar Jumlah Zat Padat Terlarut (Total Disolved Solid/TDS). Penelitian dilakukan di Perumahan Taman Narogong Indah – Bekasi. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu deskriptif dengan pendekatan survey. Analisis data dilakukan dengan membandingkan antara Standar TDS air yang layak dikonsumsi dengan TDS hasil pengukuran. Standar yang digunakan adalah dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dari PERMENKES No. 492/Menkes/Per/IV/2010.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah Zat Padat Terlarut (Total Disolved Solid/TDS) airtanah yang digunakan untuk keperluan rumah tangga di daerah penelitian tergolong layak berdasarkan standar air yang ditetapkan oleh Permenkes Nomor 492/ Menkes/Per/ IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Dimana dari 5 sampel airtanah yang tidak menggunakan filter, empat diantaranya dengan nilai TDS lebih rendah dari standar maksimum yang diperbolehkan dan hanya satu sampel yang tidak layak karena TDS-nya melebihi standar maksimum yang diperbolehkan. Pada sampel airtanah yang menggunakan filter, secara keseluruhan tergolong layak untuk dikonsumsi karena TDS-nya jauh lebih rendah dari standar maksimum yang diperbolehkan. Walaupun demikian, bila standarnya ditingkatkan dengan menggunakan standar WHO maka airtanah di daerah penelitian, semua sampel tidak layak untuk dikonsumsi. Kemampuan filter polyprophylena secara pasti tidak diketahui seberapa besar dapat menurunkan TDS air daerah penelitian. Namun kenyataannya pada titik sumur yang berdekatan, TDS airtanah yang menggunakan filter ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan TDS airtanah pada sumur yang tidak menggunakan filter. Artinya filter polyprophylena efektif untuk menurunkan TDS airtanah di daerah penelitian
APLIKASI EKOWISATA BAHARI TERHADAP PERKEMBANGAN TERUMBU KARANG DISISI BARAT PULAU SUMATERA: studi kasus di kabupaten pesisir barat
Kabupaten Pesisir Barat yang terletak pada sepanjang pesisir barat wilayah Lampung merupakan wilayah yang berkaitan erat dengan pengembangan biota-biota laut. Perlindungan dari biota-biota laut tersebut yaitu dalam hal perlindungan terhadap ekosistem terumbu karang. Salah satu upaya dalam perlindungan ekosistem tersebut dapat berupa rehabilitasi untuk mengembalikan keberadaan dan kondisi ekosistem tersebut. Tujuan dari penelitian Terumbu Karang Kabupaten Pesisir Barat ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang yang ada di Kabupaten Pesisir Barat dan aplikasi ekowisata bahari terhadap kondisi terumbu karang yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Studi literatur; 2) Pengambilan data dengan menggunakan metode transek garis (LIT); 3) Analisa data. Pengambilan data dilakukan pada 3 kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat, yaitu Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Ngambur dan Kecamatan Bengkunat. Berdasarkan hasil dari penelitian didapatkan tutpan karang hidup di Kecamatan Pesisir Selatan sebesar 33%, di Kecamatan Ngambur 45% dan Kecamatan Bengkunat sebesar 36,6%. Dari ketiga data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kondisi terumbu karang di Kabupaten Pesisir Barat masuk dalam kondisi sedang, untuk kondisi terumbu karang yang demikian sangat baik dilakukan penerapan konsep ekowisata bahari dalam proses pengembangan penggelolaan wilayah pesisir. Pengembangan potensi ekowisata bahari pada wilayah pesisir Kabupaten Pesisir Barat dilakukan bukan berdasarkan longitudinal section akan tetapi juga dikembangkan juga dengan potongan cross section.
 
Penggunaan Media “Peta Buta Elektronik†Terhadap Pengetahuan Peta Buta Siswa Sekolah Dasar: studi sekolah dasar islam terpadu an-nadwah bekasi
This research aims to find an empirical answers about the different knowledge of student’s blank map by using “Peta Buta Elektronik“ on the subjects of social science education.The research was conducted at SDIT AN-Nadwah Bekasi. The method used is an experimental method. The sampling technique is purposive sampling. With the research criteria samples which is taught by the same teacher, has taught the same material, and also has the same level of value achievement. The instrument used in this study is in the form of a multiple choice test which is pre test and post test.The results showed that there were differences between the students knowledge of blank map among the experimental class which using an “Peta Buta Elektronik“ and the controls class which did not use the “Peta Buta Elektronik“ on the natural appearance material also the social and cultural diversity. There is an increase in the average value of 15.22 in the experimental class, whereas the control group had increased by an average of 13.00. The existence of a significant difference to the knowledge of blank mapis evidenced by the t test and obtained = 2.41 and with dk/hp 58 and a significance level of 0.05 is 1.67. So > meaning that the alternative hypothesis is accepted while the null hypothesis is rejected. Based on this study it is known that there are differences inknowledge of student’s fourth grade blank map by using the “Peta Buta Elektronik“. Therefore, the teachers of social science education are able to use this “Peta Buta Elektronik“ as one of the media used in teaching and learning process, especially on the natural appearance material also the social and cultural diversity.
Keywords: Media of Education, Knowledge of the Blank Map, Peta Buta Elektroni
PERANAN PROGRAM PEMBERDAYAAN ALTERNATIF MASYARAKAT PERKOTAAN TERHADAP MASALAH NARKOBA: STUDI KASUS : KAMPUNG PERTANIAN, KELURAHAN KLENDER, KECAMATAN DUREN SAWIT, JAKARTA TIMUR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan program pemberdayaan alternatif masyarakat perkotaan terhadap masalah narkoba di Kampung Pertanian, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Kampung Pertanian, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Informan dalam penelitian ini terdiri dari sembilan informan kunci dan tiga informan pendukung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Juli 2017.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa sebelum adanya program pemberdayaan alternatif masyarakat perkotaan, masalah narkoba yang terjadi di Kampung Pertanian sangat mengkhawatirkan, hal tersebut dapat dilihat dari: (1) Tingginya tingkat kejahatan narkoba yang terjadi baik penyalahgunaan maupun peredaran narkoba; (2) Tingginya tingkat kriminalitas/kejahatan; (3) Banyaknya keberadaan bandar narkoba; (4) Banyaknya keberadaan pengedar narkoba; dan (5) Banyaknya keberadaan pengguna narkoba. Namun, sesudah adanya program pemberdayaan alternatif masyarakat perkotaan masalah narkoba yang terjadi di Kampung Pertanian mengalami penurunan, hal tersebut dapat dilihat dari: (1) Tingkat kejahatan narkoba yang terjadi menurun baik penyalahgunaan maupun peredaran narkoba; (2) Tingkat kriminalitas/kejahatan menurun; (3) Keberadaan bandar narkoba tidak ada; (4) Keberadaan pengedar narkoba menurun; dan (5) Keberadaan pengguna narkoba menurun. Pelaksanaan pemberdayaan alternatif masyarakat perkotaan di Kampung Pertanian memberikan peranan atau pengaruh dalam mengurangi masalah narkoba yang terjadi di Kampung Pertanian.
 
INTERAKSI DAN PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BADUY DI ERA MODERN
Suku Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Suku ini memiliki dua wilayah, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Kedua wilayah ini memiliki adat istiadat yang cukup ketat, salah aturan yang cukup terkenal adalah tidak diperkenankan untuk menggunakan dan memiliki teknologi, mengatur tata cara berpakaian dan tata cara hidup. Namun, pada Baduy Dalam memiliki aturan yang cukup ketat untuk menjalankannya dibandingkan dengan Baduy Luar. Seiring dengan bertambah nya pengunjung wisata budaya di Baduy membuat masyarakat Baduy semakin intensif berinteraksi dengan masyarakat luar Baduy dan hal ini akan mendorong terjadinya suatu perubahan sosial pada tatanan masyarakat Baduy. Hasil dari penelitian yang dilakukan langsung di Baduy dengan menggunakan teknik wawancara mendalam mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan sosial pada masyarakat Baduy, baik pada Baduy Luar ataupun Baduy Dalam, terutama perubahan tata cara berpakaian pada warga Baudy Luar dan Penggunaan Teknologi. Namun, perubahan sosial lebih besar terjadi pada masyarakat Baduy Luar. Kemudian, perubahan sosial tidak begitu terlihat pada Baduy Dalam karena hanya terjadi perubahan sosial dalam aspek penggunaan bahasa.
Kata Kunci : Interaksi Sosial, Perubahan Sosial, Masyarakat Badu
PENGARUH VARIASI PENGGUNAAN LAHAN PADA BERBAGAI FORMASI GEOLOGI TERHADAP RESESI ALIRAN DASAR DI DAS WURYANTORO PROPINSI JAWA TENGAH
In the environmental viewpoint, water and land characteristics are strongly influenced by some aspects such as layout, position, landscape development, natural factors and human activity impact.Spatial aspects of land and water resources are the asset of spatial-based national development. Land resources management need to consider the characteristic of both renewable and nonrenewable land resources.Hydrological characteristics is a result of interaction and interrelation of human socio-economic parameters with some watershed physical factors. Apart from that, besides land use as physical factors, there are some other factors such as morphometry, lithology, geomorphology and geology. They are all naturally come from a watershed that cannot be altered by a human (unmanageable). Some combination of watershed physical factors and the manageable factors such as land use plan, slope, and slope length will give a specific watershed response to the rainfall. Eventually, this affects the large-small of river flows behavior. Baseflow river is an essential substance for the development of water resource management strategies at watershed scale. Therefore, this study aimed to estimate baseflow river recession at various geological formation. It also influences characteristics of baseflow recession in Wuryantorosub-watershed at Wonogiri district.
Simultaneous Statistical Analysis (ANOVA) and partial (t-test) analysis show that there is a significant influence on the variation of land use in diverse geological formations toward the baseflow recession, with a determination coefficient value - Adjusted R-square is 58.1%.The simultaneous analysis describes a simultaneously effect of recession baseflow coefficient with value test of the test F table > F count at a level of confidence by 5%, and a partial analysis shows that all land use variations in three geological formations significantly influence baseflow recession. Recession model of these two relations is Y = 1.426 + 0,583X1 + 0,384X2 + 0,269X3. This condition indicates that baseflow recession is influenced by some basic by a number of entire environmental attributes. Thus, there will be a sustainable synergy of baseflow recession management that maintain river pattern by the surrounding inhabitant as an alternative water supply for local communities.
Keywords: Baseflow, perennial river, variations in land use, geological formation