PEDAGOGIA: Jurnal Pendidikan
Not a member yet
158 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Media Pembelajaran Audio Visual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Pada Siswa Kelas V SDN Kalianget Timur X
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal maupun non verbal.Dalam pembelajaran PAI, agar bahan pelajaran yang diberikan lebih mudah dipahami oleh siswa, diperlukan media yang membantu proses penyampaian tersebut.Melalui media (alat bantu), diharapkan akan terjadi persepsi yang sama antara guru dan siswa. Apalagi Pendidikan Agama Islam yakni pendidikan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam mencapai ketentraman bathin dan kesehatan mental padaumumnya.Media CD ini bisa digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran PAI, khususnya pada materi “menceritakan kisah-kisah Nabi”.Melalui film tentang kisah Nabi yang ada dalam kaset CD, tentunya siswa akan lebih mudah memahami dan lebih mengasyikkan untuk digunakan sebagai sarana belajar daripada menggunakan buku ajar biasa yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Tujuan yang ingin dicapai melaluipenelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan media CD dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran PAI materi menceritakan kisah Nabi di kelas V SDN Kalianget Timur X.Berdasarkan hasil yang diperoleh dari siklus I sampai II, pemanfaatan media pembelajaran CD pada materi menceritakan kisah Nabi terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar baik secara kelompok maupun secara individu. Pemanfaatan media pembelajaran CDjuga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yang meliputi keaktifan, kerjasama, keberanian, kedisiplinan, serta ketelitian siswa
Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Media Kerlip (Kertas Lipat) Pada Konsep Kelipatan Bilangan Pada Siswa Kelas IV SDN Bantelan Sumenep
Masalah yang dihadapi oleh guru kelas IV SDN Bantelan Sumenep adalah rendahnnya nilai matematika pada materi konsep kelipatan bilangan. Berdasarkan hasil observasi diperoleh data bahwa pada tahun ajaran 2012/2013 tercatat sebesar 70% siswa belum tuntas, sedangkan 30% siswa sudah tuntas atau telah memenuhi nilai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70. Salah satu penyebab kondisi tersebut terjadi adalah kurang tepatnya media yang digunakan oleh guru serta pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru (konvensional), sehingga menyebabkan siswa cepat merasa bosan dan membutuhkan waktu berfikir lama dalam menjawab pertanyaan. Setelah ditemukan masalah penulis berkolaborasi dengan guru bidang studi matematika ingin meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui media kertas lipat. Kertas lipat yang dimaksud adalah bahan manipulatif yang dapat dimainkan dan dilipat dalam menjelaskan konsep kelipatan bilangan. Bahan ini berfungsi menyajikan materi yang relatif abstrak menjadi lebih nyata Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang terjadi pada latar penelitian (kelas).Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart. Dalam penelitian tindakan kelas, yang menjadi salah satu karakteristiknya adalah penelitian dilakukan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri atas: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil refleksi digunakan sebagai dasar untuk perbaikan proses dan hasil pembelajaran pada siklus berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media kertas lipat dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi konsep kelipatan bilangan. Nilai hasil belajar mengalami peningkatan pada siklus I ketuntasan hasil belajar mencapai 52% sedangkan pada siklus ke II hasil belajar siswa mencapai 79%. Peningkatan tersebut membuktikan bahwa media kertas lipat dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi konsep kelipatan bilangan. Peningkatan tersebut membuktikan bahwa media kertas lipat dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi konsep kelipatan bilangan
Penggunaan Model Pembelajaran Picture and Picture Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Karangan
Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks, produktif dan ekspresif, karena penulis harus terampil menggunakan grofologi, struktur bahasa dan memiliki pengetahuan bahasa yang memadai, untuk itu perlu dilatih secara teratur dan cermat sejak kelas awal SD. Karangan sebagai salah satu hasil karya menulis, merupakan hasil pekerjaan dari mengarang. Menulis karangan dalam penelitian ini adalah menulis karangan narasi. Salah satu masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah kesulitan siswa dalam menulis karangan yang baik dan benar, yang juga terjadi pada siswa kelas IVA SDN Pinggir Papas 1. Pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan model kooperatif tipe picture and picture diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa dalam hal menulis karangan. Untuk itu, dilakukan penelitian terhadap siswa kelas IVA SDN Pinggir Papas I Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep yang berjumlah 33 siswa. Penelitian dengan judul “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Karangan” ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari tahap rancangan, kegiatan, pengamatan, dan refleksi. Data yang diperoleh berupa nilai hasil LKS dan kuis individu berupa menulis karangan, lembar observasi aktivitas guru dan siswa serta penilaian penggunaan model pembelajaran kooperatif picture and picture, juga hasil respon siswa. Dari hasil analis menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IVA SDN Pinggir Papas 1. Peningkatan ini terjadi pada nilai rata-rata LKS, yaitu dari 55 menjadi 71,6. Adapun hasil karangan individu siswa dari rata-rata 56,7 dengan ketuntasan 55% menjadi 74,5 dengan ketuntasan mencapai 88% atau terjadi peningkatan sebesar 33% dari siklus I
Memahami Konsep Matematika Pada Materi Sifat-Sifat bangun Ruang Pada Kelas VB Melalui Kolaborasi Metode Ceramah Demonstrasi dan Eksperimen
Selama ini pelajaran matematika selalu menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa, khususnya siswa SD. Siswa merasa dipaksa menghafal rumus-rumus yang ada dalam pelajaran matematika, akibatnya siswa menjadi tidak semangat dalam mengikuti pelajaran matematika oleh guru. Apalagi jika dalam proses pembelajarannya, guru hanya menerangkan materi kemudian siswa diminta untuk menghafalnya dan mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan tanpa bertanya apakah siswanya itu sudah paham atau belum terhadap materi tersebut. Untuk itu, peneliti selaku guru kelas VB berusaha melakukan perbaikan pembelajaran dengan mengkolaborasi beberapa metode pembelajaran yang sesuai dengan konsep matematika pada materi Sifat-sifat Bangun Ruang yaitu dengan menggunakan metode ceramah, demonstrasi dan eksperimen. Dari hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan selama 2 siklus, diperoleh kesimpulan bahwa motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika di kelas VB dapat ditingkatkan melalui penerapan metode ceramah yang dikolaborasi dengan metode demonstrasi dan eksperimen. Hal ini ditunjukkan dengan hasil observasi aktivitas belajar siswa selama 2 siklus menunjukkan 93% siswa aktif mengikuti proses pembelajaran. Hasil angket respon siswa juga menunjukkan bahwa siswa tertarik mengikuti pembelajaran dengan metode kolaborasi yang digunakan guru dengan angka persentase 80% siswa menjawab“ya”.Penerapan metode ceramah, demonstrasi dan eksperimen yang dikolaborasi juga terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep matematika pada materi Sifat-sifat Bangun Ruang. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai tes hasil belajar siswa yang memperoleh nilai ≥70 (KKM) sebanyak 29 orang atau sekitar 96,7% pada siklus II secara klasikal dapat dikatakan tuntas, dari yang sebelumnya hanya ada 12 orang siswa (40%) pada siklus I. Nilai rata-rata siswa juga meningkat dari 64,5 pada siklus I menjadi 86,5 pada siklus II. “ya”.Penerapan metode ceramah, demonstrasi dan eksperimen yang dikolaborasi juga terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep matematika pada materi Sifat-sifat Bangun Ruang. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai tes hasil belajar siswa yang memperoleh nilai ≥70 (KKM) sebanyak 29 orang atau sekitar 96,7% pada siklus II secara klasikal dapat dikatakan tuntas, dari yang sebelumnya hanya ada 12 orang siswa (40%) pada siklus I. Nilai rata-rata siswa juga meningkat dari 64,5 pada siklus I menjadi 86,5 pada siklus II
Kolaborasi Metode Ceramah, Diskusi dan Latihan Pada Materi Perkembangan Teknologi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan interaksi antara guru dengan siswa. Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, dalam praktek pembelajaran mustahil menggunakan satu metode saja. Kombinasi (kolaborasi) penggunaan beberapa metode merupakan keharusan dalam praktek pembelajaran. Terkait dengan parktek pembelajaran di kelas, peneliti selaku guru kelas mengalami permasalahan dalam pelajaran IPS mendeskripsikan materi “Perkembangan Teknologi” pada siswa kelas IVB yang berdampak pada rendahnya prestasi siswa. Penyebab kegagalan tersebut yaitu metode yang digunakan kurang tepat dan kurangnya motivasi siswa dalam mendiskripsikan persoalan. Oleh karena itu peneliti mencoba menggunakan kolaborasi metode ceramah, diskusi dan latihan. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan terhadap siswa kelas IVB SDN Pinggir Papas 1 selama dua siklus, kolaborasi metode ceramah, diskusi dan latihan dapat meningktkan prestasi belajar siswa. Untuk prestasi belajar siswa yang tuntas secara indvidu mulai dari siklus I sebanyak 22 siswa (73%) dengan nilai rata-rata 74, pada siklus II bertambah menjadi 27 orang (90%) dengan nilai rata-rata 87. Sedangkan untuk aktivitas belajar siswa pada siklus I mendapat penilaian 60% meningkat menjadi 93,3% pada siklus II, maka dapat dikatakan bahwa pada siklus II ini perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan kolaborasi metode ceramah, diskusi dan latihan telah berhasil menjadikan siswa aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Pada Kompetensi Dasar Aritmatika Sosial Dengan Model Pembelajaran Bermain Peran
Guru sebagai salah satu komponen pendidikan yang berperan langsung dalam pembelajaran siswa harus dapat mengupayakan metode pembelajaran sesuai dengan materi yang disajikan agar lebih mudah dipahami oleh siswa. Keberhasilan pembelajaran bergantung pada kemampuan guru mengolah pembelajaran yang dapat menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik awal berhasilnya pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang peneliti anggap inovatif dan kreatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran bermain peran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran bermain peran lebih baik dari pembelajaran konvensional sebab dengan bermain peran dapat mendorong siswa mengekspresikan peasaannya dan menciptakan analogi otentik ke dalam situasi permasalahan kehidupan nyata. Melalui pembelajaran bermain peran siswa secara langsung dapat menemukan konsep-konsep yang digunakan dalam materi Aritmatika Sosial sebab secara tidak langsung hampir setiap hari siswa telah menerapkannya dalam kehidupan nyata, maka peneliti memilih judul Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Kompetensi Dasar Aritmatika Sosial dengan Model Pembelajaran Bermain Peran di Kelas VII SMPN 4 Satu Atap Konang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada kompetensi dasar aritmatika sosial dengan model pembelajaran bermain peran di kelas VII SMPN 4 Satu Atap Konang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan data deskriptif kualitatif yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII SMPN 4 Satu Atap Konang tahun pelajaran 2013/2014. Dalam pengumpulan data penelitian, peneliti menggunakan data hasil observasi dan data tes hasil belajar. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I terdiri dari satu kali pertemuan (satu kali tatap muka), demikian halnya dengan siklus II. Data aktivitas siswa digali dengan lembar pengamatan aktivitas siswa, data kemampuan guru mengelola pembelajaran digali dengan lembar observasi kemampuan guru mengelola pembelajaran, sedangkan data hasil belajar siswa digali dengan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa kelas VII SMPN 4 Satu Atap Konang tahun pelajaran 2013/2014 dengan model pembelajaran bermain peran pada kompetensi dasar aritmatika sosial mengalami peningkatan. Sebelum dilakukan kegiatan siklus I dan siklus II, peneliti melakukan kegiatan prasiklus untuk mengetahui prestasi belajar siswa sebelum diberi tindakan
Penggunaan Metode Penugasan atau Resitasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III dalam Memahami Konsep Mengenal Pecahan Sederhana
Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti siswa, proses penalaran deduktif digunakan untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki siswa. Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa melalui metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran sehingga siswa akan benar-benar memahami konsep, tidak hanya sekedar menghafal. Metode resitasi (penugasan) menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran, dimana penyajian pelajaran dengan cara guru memberi tugas tertentu dalam waktu yang telah ditentukan dan siswa mempertanggungjawabkan tugas yang dibebankan kepadanya. Melalui penggunaan metode resitasi (penugasan), diharapkan hasil belajar siswa kelas III dalam memahami konsep mengenal pecahan sederhana dapat meningkat. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Ganding 1 sebanyak 20 orang. Penelitian menggunakan metode observasi dan tes. Untuk metode observasi ditulis dengan rumus prosentase, sedangkan metode tes dihitung dengan mencari nilai rata-rata, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode penugasan atau resitasi dalam proses pembelajaran matematika sudah tergolong sangat baik, dengan nilai persentase yang muncul yaitu 100%. Hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang juga mengalami peningkatan nilai rata-rata tes belajar, dari 63 (siklus I) menjadi 82 (siklus II), dan peningkatan ketuntasan belajar siswa dari 60% pada siklus I menjadi 95% pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode penugasan atau resitasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada materi memahami konsep mengenal pecahan sederhana di SDN Ganding 1 Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep tahun pelajaran 2012/2013
Optimalisasi Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas VI Melalui Metode Contextual Teaching And Learning (CTL)
Peranan guru dalam pembelajaran IPS mempunyai hubungan erat dengan dengan cara mengaktifkan siswa dalam belajar, terutama dalam proses pengembangan kemampuan dan keterampilan.Untuk mengurangi sifat verbalisme siswa dan membantah pemahaman konsep yang terdapat dalam materi IPS yang terdapat di SD, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk mengembangkan model interaktif dalam pembelajaran IPS serta mengidentifikasi sumber-sumber pelajaran. Salah satu model interaktif yang bisa diterapkan guru salah satunya adalah model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Pembelajarn kontekstual merupakan suatu proses yang bertujuan untuk membantu siswa memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari dengan menghubungkan pokok materi pelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.Dari hasil kegiatan penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dalam dua siklus terhadap siswa kelas VIA di SDN Pinggir Papas 1 Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep, dan berdasarkan seluruh pembahasan dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwaOptimalisasi Pembelajaran IPS pada Siswa Kelas VIAmelalui Metode Contextual Teaching And Learning(CTL) dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami materi pembelajaran IPS, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa, serta siswa menjadi aktif dan tertarik mengikuti proses pembelajaranyang dilaksanakan oleh guru di kelas
Peningkatan Hasil Belajar IPS siswa Kelas VI SDN Kalianget Timur IX Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Tujuan pembelajaran IPA adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Tujuan tersebut akan berhasil apabila dalam prosesnya melibatkan interaksi siswa yang optimal. Aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan dengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. Metode yang dimaksud adalah metode pembelajaan kooperatif model jigsaw, yaitu model belajar kooperatif dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai enam orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Penelitian ini didasarkan pada rendahnya kemampuan diskusi kelompok pada siswa. Peneliti menemukan setiap kelompok jika melakukan kerja kelompok tidak berhasil, siswa cenderung saling menyalahkan bahkan muncul perasaan tidak adil. Akibatnya, metode kerja kelompok yang peneliti terapkan seharusnya bertujuan baik, yakni menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan bekerjasama, justru bisa berakhir dengan kekurang harmonisan dan rasa tidak adil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar IPA setelah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model jigsaw pada siswa kelas VI. Untuk itu digunakan metode observasi aktivitas guru dan siswa, serta metode tes yang dilakukan terhadap siswa-siswi kelas VI SDN Kalianget Timur IX Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep selama dua siklus. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil bahwa pembelajaran IPA dengan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus II sebesar 78,5 atau meningkat sebesar 18 jika dibanding dengan nilai rata-rata hasil belajar pada siklus I yaitu 60,5. Pada siklus II 100% siswa tuntas belajarnya dibandingkan siklus I yang hanya sebesar 60%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw pada siswa kelas VI SDN Kalianget Timur IX Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 29,75% melebihi kriteria peningkatan yang ditentukan yaitu sebesar 20%
Implementasi Pembelajaran Berbasis masalah untuk Meningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Pada hakikatnya, belajar adalah suatu proses kejiwaan atau peristiwa pribadi yang terjadi di dalam diri setiap individu. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa, belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang baik, tetapi pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI adalah kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah yang bertujuan meningkatkan prestasi dan motivasi belajar siswa dalam memahami dan menguasai pelajaran PAI. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari tahap rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian adalah siswa kelas VIA SDN Pinggir Papas 1 Kec. Kalianget Kab. Sumenep. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran berbasis masalah dan hasil pengamatan aktivitas guru dan siswa. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIA. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata tes hasil belajar dalam setiap siklus. Yaitu dari pra siklus (60,4), siklus I (67,02), dan siklus II (76,82), serta ketuntasan belajar siswa meningkat mulai dari pra siklus (24,3%), siklus I (40%), dan siklus II (86,48%)