JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
    676 research outputs found

    KAJIAN PERANAN HUKUM ADAT DALAM PENGELOLAAN DAN PERLINDUNGAN HUTAN PADA MASYARAKAT ADAT DAYAK UUD DANUM DESA DEME KECAMATAN AMBALAU

    Full text link
    Customary law is based on the process of interaction in society, and then functions as a pattern for organizing and facilitating the interaction process, customary law is generally not accounted for, is not codified and is coercive in nature, has sanctions so it has legal consequences. This research aims to identify the customary laws of the Dayak Uud Danum community that are related to forest management and protection and to determine the level of awareness and compliance of the Dayak Uud Danum Indigenous Peoples towards customary law in forest management and protection in Deme Village, Ambalau District, Sintang Regency. The method used in this research is a sequential exploratory method where data collection is carried out sequentially starting from qualitative data collection then quantitative data consisting of interviews, questionnaires, observation and documentation study. The data collection technique was carried out using the census method, with a total of 77 respondents. Customary law in forest management and protection in the Dayak Uud danum indigenous people, Deme Village, Ambalau District, namely Nyanggar, Manyo Buah, Nitoi Tanom, Nitoi komuran, Nupang Ngumok, Nupang Nowvong, Pongotullui, Pati Mati, Kotibasch. The Uud danum Dayak indigenous people have a high legal awareness and compliance with their customary laws.Keywords: Customary Law, Indigenous Peoples, Dayak Peoples.AbstrakHukum adat didasarkan pada proses interaksi dalam masyarakat, dan kemudian berfungsi sebagai pola untuk mengorganisasikan serta memperlancar proses interaksi tersebut, hukum adat umumnya tidak dikitabkan, tidak dikodifikasikan dan bersifat paksaan, mempunyai sanksi jadi mempunyai akibat hukum. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hukum adat masyarakat Dayak Uud Danum yang berhubungan dengan pengelolaan dan perlindungan hutan serta mengetahui tingkat kesadaran dan kepatuhan Masyarakat Adat Dayak Uud Danum Terhadap hukum adat dalam pengelolaan dan perlindungan hutan di Desa Deme Kecamatan Ambalau Kabupaten Sintang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif sekuensial dimana pengumpulan data dilakukan secara berurutan dimulai dari pengumpulan data kualitatif kemudian data kuantitatif yang terdiri dari wawancara, kuesioner, observasi dan studi dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus, dengan jumlah responden 77 orang. Hukum adat dalam pengelolaan dan perlindungan hutan pada masyarakat adat Dayak Uud danum Desa Deme Kecamatan Ambalau yaitu Nyanggar, Manyo Buah, Nitoi Tanom, Nitoi komuran, Nupang Ngumok, Nupang Nowvong, Pongotullui, Pati Mati, Kotibasch. Masyarakat adat dayak Uud danum memiliki kesadaran dan kepatuhan hukum yang tinggi terhadap hukum adat mereka hal ini sangat dipengaruhi oleh bahasa dan pola pikir magis dan animisme yang masih dianut masyarakatnya.Kata Kunci : Hukum Adat, Masyarakat Adat, Masyarakat Daya

    KARAKTERISTIK PENGUNJUNG WISATA BUKIT SALAPAR DI DESA CIPTA KARYA KECAMATAN SUNGAI BETUNG KABUPATEN BENGKAYANG

    Full text link
    Salapar Hill tourism is one of the tourist destinations that has the potential to be developed into a natural tourism, to support this potential, a concept is needed in developing tourism development that can attract visitors to come to visit, so data on the development of Salapar Hill tourism objects are needed that are tailored to the characteristics of visitors. the tour. This study aims to obtain the characteristics of visitors in Bukit Salapar nature tourism. The study used a survey method by conducting direct interviews with respondents/visitors. The sampling technique of respondents in this study used the accidental sampling method. The characteristics of visitors who come to Bukit Salapar tourism are visitors from Bengkayang (76.74%) dominated by men (55.81%) with an age range of 13-24 years (95.35%), the latest education is high school graduates (51 ,16%), unmarried marital status (95.35%), occupations that dominate as students and college students (69.77%), information about tourism objects is mostly obtained from friends 67.44%, the highest number of visits is 1 time ( 60.47%), length of visit more than 4 hours (76.74%). with the main objective of enjoying the view of (65.12%).Keywords: Cipta Karya Village, Salapar Hill, Visitor Characteristics.AbstrakWisata Bukit Salapar menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup berpotensi dikembangankan menjadi salah satu wisata alam, untuk mendukung potensi tersebut diperlukan konsep dalam menyusun pengembangan wisata yang dapat menarik minat pengunjung untuk datang berkunjung sehingga diperlukan data mengenai pengembangan obyek wisata Bukit Salapar yang disesuaikan dengan karakteristik pengunjung wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik pengunjung di wisata alam Bukit Salapar. Penelitian menggunakan metode survey dengan melakukan wawancara langsung terhadap responden/ pengunjung. Teknik pengambilan sampel responden pada penelitian menggunakan metode accidental sampling. Karakteristik pengunjung yang datang ke wisata Bukit Salapar yaitu pengunjung dari Bengkayang (76,74%) didominasi oleh laki-laki (55,81%) dengan kisaran usia 13-24 tahun sebesar (95,35%), pendidikan terakhir lulusan SMA (51,16%), status pernikahan belum menikah (95,35%), pekerjaan yang mendominasi sebagai pelajar dan mahasiswa (69,77%), informasi mengenai obyek wisata lebih banyak diperoleh dari teman 67,44%, jumlah kunjungan terbanyak 1 kali (60,47%), lama waktu kunjungan lebih dari 4 jam (76,74%). dengan tujuan utama untuk menikmati pemandangan sebesar (65,12%).Kata kunci: Desa Cipta Karya, Bukit Salapar, Karakteristik Pengunjung

    PENGARUH PEMBERIAN ROOTONE-F DAN SUMBER BAHAN SETEK PADA PERTUMBUHAN SETEK KRATOM (Mitragyna speciosa Korth)

    Full text link
    Kratom cultivation can be done in a generative and vegetative way, but to do it vegetatively, it must be use PGR for root growth. The purpose of the study was to determine the best part of branch cuttings for kratom cultivation by giving PGR Rootone-F. The research was conducted by factorial experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of 2 factors, namely: kratom trunk branch with 3 factor levels namely the upper, middle and bottom and Rootone-F with 2 factor levels, namely with and without Rootone-F. Each treatment was repeated 10 times. The results showed that the upper, middle and lower of kratom trunk branches produced the same effect on the growth of kratom cuttings. The application of PGR Rootone-F was significantly able to increase the growth of the number and length of roots, the number of leaves and the percentage of survival compared to cuttings that were not given Rootone-F. Based on these results, kratom cultivation can be carried out vegetatively using branch cuttings with the application of Rootone-F as much as 100 ppm.Keywords: branch cuttings, kratom, Rootone-FAbstrakBudidaya kratom dapat dilakukan dengan cara generatif dan vegetatif, namun untuk dilakukan secara vegetatif harus menggunakan ZPT untuk pertumbuhan akarnya.  Tujuan penelitian menentukan bagian setek cabang yang terbaik untuk budidaya tanaman kratom dengan pemberian ZPT Rootone-F. Penelitian menggunakan metode percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri 2 faktor yaitu: cabang batang kratom dengan 3 taraf faktor yaitu bagian atas, tengah dan bawah dan Rootone-F dengan 2 taraf faktor yaitu dengan dan tanpa Rootone-F. Masing-masing perlakuan diulang 10 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian cabang batang kratom atas, tengah maupun bawah menghasilkan pengaruh yang sama pada pertumbuhan setek kratom. Pemberian ZPT Rootone-F secara nyata mampu meningkatkan pertumbuhan jumlah dan panjang akar, jumlah daun serta persentase hidup dibandingkan dengan setek yang tidak diberi Rootone-F. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka budidaya kratom dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan setek cabang disertai aplikasi Rootone-F sebanyak 100 ppm.Kata kunci:  kratom, Rootone-F, setek caban

    PERSEPSI MASYARAKAT DUSUN KOPIANG KECAMATAN MANDOR TERHADAP KEBERADAAN KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS UNTAN KABUPATEN LANDAK

    Full text link
    Forest Areas with Special Purposes KHDTK is a very important supporting forest area, determined by the government for public purposes such as research and development, education and training as well as religion and culture without changing the main functions of forest areas as conservation, protection and production functions. It is necessary to know KHDTK specifically for development and development, this is because the support of the Kopiang Dusun community around the KHDTK aims for the success of the KHDTK development activities. The study used a survey method with interviews with 47 respondents with a questionnaire guide. The analytical method used is the non-parametric analysis of the Kendall Tau correlation. The study showed that community perceptions in Village Kopiang Mandor District tended to be neutral with a percentage of 44.68%, a positive and insignificant relationship between knowledge and income levels with community perceptions, as well as a positive and significant relationship between cosmopolitan levels and community perceptions in Kopiang Hamlet, Mandor District. Landak District on the Existence of Forest Areas with Special Purposes (KHDTK).Keywords: forest area with special purpose (KHDTK), perception, relationshipAbstrakKawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus KHDTK suatu kawasan hutan penunjang yang sangat penting, ditetapkan oleh pemerintah untuk kepentingan umum seperti penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan serta religi dan budaya tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan sebagai fungsi konservasi, lindung dan produksi. Keberadaan KHDTK perlu diketahui, karena dukungan masyarakat Dusun kopiang yang berada disekitar KHDTK bertujuan untuk keberhasilan kegiatan pengembangan KHDTK tersebut. Tujuan penelitian menguraikan serta menguji hubungan antar persepsi Masyarakat Dusun Kopiang terhadap keberadaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus KHDTK. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik wawancara terhadap 47 responden dengan panduana kuesioner. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis non parametik korelasi Kendall Tau. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat di Dusun Kopiang Kecamatan Mandor cenderung netral dengan persentase 44,68%, hubungan yang positif dan tidak signifikan antara tingkat pengetahuah dan pendapatan dengan Persepsi masyarakat, serta hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat kosmopolitan dengan Persepsi masyarakat Dusun Kopiang Kecamatan Mandor Kabupaten Landak terhadap Keberadaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus.Kata Kunci: kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK), persepsi, hubunga

    IDENTIFIKASI JENIS POHON FAMILI DIPTEROCARPACEAE DI KAWASAN KEBUN RAYA SAMBAS KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    Plant identification aims to determine the identity of plants that are not yet known. In general, Dipterocarpaceae is a large tree with a very dominant canopy and has many types of buttresses (almost every genus has different buttresses). Diptorecarpaceae have resin that is generally white, yellow, brown, or black. In general, the Sambas Botanical Gardens area is covered by secondary forest vegetation with lowland forest, swamp forest, and riparian forest dominated by Dipterocarpaceae. The purpose of this study was to identify and describe tree species and morphological characteristics of the Dipterocarpaceae family in the Sambas Botanical Gardens area. This research was conducted using a survey method and flora exploration which was carried out by roaming, namely by exploring every corner of the location that could represent the types of ecosystems or vegetation in the area studied. The results of the study found 21 species from 5 different genera with a total of 108 individuals.Keywords: Identification, Dipterocarpaceae, Sambas Botanical Garden AbstrakIdentifikasi tumbuhan bertujuan untuk mengetahui identitas dari tanaman yang belum diketahui. Pada umumnya Dipterocarpaceae merupakan pohon yang besar dengan tajuk yang sangat dominan dan mempunyai banyak tipe banir (hampir setiap genus mempunyai banir yang berbeda). Diptorecarpaceae memiliki damar yang umumnya berwarna putih, kuning, coklat, atau hitam. Kawasan Kebun Raya Sambas secara umum merupakan lahan yang ditutupi oleh vegetasi hutan sekunder dengan tipe hutan dataran rendah, hutan rawa serta hutan riparian yang didominasi jenis Dipterocarpaceae. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis pohon dan ciri-ciri morfologi famili Dipterocarpaceae di kawasan Kebun Raya Sambas. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey dan eksplorasi flora yang dilakukan dengan cara jelajah, yaitu dengan menjelajah setiap sudut lokasi yang dapat mewakili tipe-tipe ekosistem ataupun vegetasi di kawasan yang diteliti.Hasil penelitian ditemukan 21 spesies dari 5 genus berbeda dengan total 108 individu.Kata kunci: Identifikasi, Dipterocarpaceae, Kebun Raya Samba

    STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA MEBEL KAYU (STUDI KASUS DI MEBEL NGERAWAN DESA LONAM KECAMATAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS)

    Full text link
    The development of small businesses in Indonesia makes a positive contribution to job opportunities and increases the country's foreign exchange. One of these small businesses is the wood furniture business, especially in Ngerawan furniture, Lonam Village, Pemangkat District, Sambas Regency, which processes wood raw materials into products such as doors, windows, frames, school tables and chairs. The Ngerawan furniture business, apart from having strengths, has weaknesses that can affect the development of the Ngerawan furniture business, such as not having a business license, weak financial management, and others. So we need the right strategy so that the business can continue to grow for the better. The purpose of this research is to develop the right strategy to do so that a business can develop well. The results showed that the company got a difference in the total IFAS score of 0.37 for the X axis and the difference in the total EFAS score of -0.23 for the Y axis so that it was in a quadrant II position where the strategy to be used was the ST strategy, which is to utilize all the strengths exist to address the threat. The ST strategy that can be carried out by the Ngerawan furniture company is to find more suppliers of wood raw materials, make business licenses, improve quality and set prices that are appropriate but still affordable, make showrooms, and provide wood ovens to cope with uncertain weather conditions.Keywords: strategy, development, furniture, SWOT analysisAbstrakPerkembangan usaha kecil di Indonesia memberikan kontribusi yang positif bagi kesempatan kerja dan penambahan devisa negara. Salah satu usaha kecil tersebut yaitu usaha mebel kayu khususnya pada mebel Ngerawan, Desa Lonam, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, yang mengolah bahan baku kayu menjadi produk seperti pintu, jendela, kusen, meja sekolah dan kursi sekolah. Usaha mebel Ngerawan ini selain memiliki kekuatan tentu memiliki kelemahan yang dapat mempengaruhi berkembangnya usaha mebel Ngerawan tersebut seperti belum memiliki surat izin usaha, manejemen keuangan yang lemah, dan lain-lain. Sehingga dibutuhkan strategi yang tepat agar usaha tersebut bisa terus berkembang menjadi semakin baik lagi. Tujuan dari penelitian ini ialah menyusun strategi yang tepat untuk dilakukan agar suatu usaha dapat berkembang dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan mendapatkan selisih total skor IFAS sebesar 0,37 untuk sumbu X dan selisih total skor EFAS sebesar -0,23 untuk sumbu Y sehingga berada pada posisi kuadran II yang mana strategi yang akan digunakan adalah strategi ST yaitu memanfaatkan seluruh kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman. Strategi ST yang dapat dijalankan perusahaan mebel Ngerawan yaitu mencari lebih banyak pemasok bahan baku kayu, membuat surat izin usaha, meningkatkan kualitas dan menetapkan harga yang sesuai tetapi tetap terjangkau, membuat showroom, dan menyediakan oven kayu untuk mengatasi kondisi cuaca yang tidak menentu.Kata kunci: strategi, pengembangan, mebel, analisis SWO

    STRATEGI PENINGKATAN CADANGAN KARBON MANGROVE DI MEMPAWAH MANGROVE PARK KABUPATEN MEMPAWAH

    Full text link
    Mangroves are one of the blue carbon parameters, because of their role in utilizing CO2 for photosynthesis and storing it in the form of biomass and in sediments. Mempawah Mangrove Park has the potential as a CO2 gas absorber in an effort to reduce the impact of global warming, but the carbon stock in the MMP area is still very low. The purpose of this study is to develop a strategy for developing conservation and nursery management in order to increase carbon stocks in Mempawah Mangrove Park, Mempawah Regency. SWOT analysis was used in this study. The results showed that there were 8 internal factors, 3 strengths and 5 weaknesses, and on external factors there were 5 opportunities and 4 challenges. So that the IFAS and EFAS calculations are in quadrant III with an IFAS value of -0.52 and an EFAS value of 0.81, and the strategy that will be used is the WO strategy, which is to take advantage of existing opportunities and minimize weaknesses with building a mangrove seedbed area. permanently, establishing cooperation with the Mempawah FMU to provide special training for nursery and conservation activities, increasing collaboration with the Mempawah Tourism Office to repair MMP facilities and infrastructure that were damaged during the Covid-19 pandemic, and taking advantage of opportunities from communities who care about the existence of forests. mangroves for the successful collaboration with BPDAS to plant 70,000 mangrove seedlings.Keywords: carbon, conservation, mempawah mangrove park, nursery, SWOT Abstrak Mangrove merupakan salah satu parameter blue carbon, karena perannya dalam memanfaatkan CO2 untuk fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk biomassa dan di dalam sedimen. Mempawah Mangrove Park (MMP) memiliki potensi sebagai penyerap gas CO2 sebagai upaya untuk mengurangi dampak pemanasan global, namun stok cadangan karbon yang ada di kawasan MMP ini masih sangat rendah. Tujuan penelitian ini yaitu menyusun strategi pengembangan pengelolaan konservasi dan pembibitan dalam rangka meningkatkan cadanga karbon di MMP, Kabupaten Mempawah. Analisis SWOT digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan terdapat 8 faktor internal yaitu 3 kekuatan dan 5 kelemahan, dan pada faktor eksternal terdapat 5 peluang dan 4 tantangan. Sehingga pada perhitungan IFAS dan EFAS berada pada kuadran III dengan nilai IFAS sebesar-0,52 dan nilai EFAS sebesar 0,81, dan startegi yang akan digunakan adalah strategi WO yaitu memanfaatkan peluang yang ada dan meminimalkan kelemahan yang dimiliki dengan membangun area persemaian bibit mangrove yang permanen, membangun kerjasama dengan Pihak KPH Mempawah untuk memberikan pelatihan khusus kegiatan pembibitan dan konservasi, meningkatkan kerjasama dengan Dinas Pariwisata Mempawah untuk melakukan perbaikan sarana dan prasarana MMP yang rusak selama masa pandemi Covid-19, dan memanfaatkan peluang dari masyarakat yang peduli terhadap keberadaan hutan mangrove untuk menyukseskan kerjasama dengan pihak BPDAS untuk menanam 70.000 bibit mangrove.Kata kunci: karbon, konservasi, mempawah mangrove park, pembibitan, SWO

    ESTIMASI KARBON TERSIMPAN PADA Avicennia marina DI HUTAN MANGROVE DESA SENTEBANG KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS

    Full text link
    The increasing content of carbon dioxide (CO2) and the reduction in forest area as a CO2 absorber in the atmosphere are the causes of global warming. One solution to reduce the CO2 content in the atmosphere is through the development or improvement of forest vegetation. Mangrove forests are considered to be able to absorb carbon quite well through the process of photosynthesis. The purpose of this study was to estimate standing carbon storage in mangroves in Sentebang Village, Jawai District, Sambas Regency. This research was conducted using a survey method with a non-destructive sampling approach. Data collection was done by making 55 observation plots. The tree observation plots were made measuring 10 m x 10 m with a distance between plots on a 30 m line. Each plot was measured with a tree diameter of 5 cm. From the results of the study, it was found that one type of mangrove with a diameter of 5 cm was Avicennia marina. From the results of the study, the above ground biomass was 293,31 ton/ha and root biomass was 177,87 tons/ha. As well as the estimated above-ground carbon of 137,56 ton/ha and root carbon of 83,60 ton/ha. As well as obtaining CO2 absorption of 811,69 ton/ha.Keywords: carbon,  global warming, mangrove, stored carbonAbstrakMeningkatnya kandungan karbondioksida (CO2) serta berkurangnya luas hutan sebagai penyerap CO2 di atmosfer merupakan penyebab pemanasan global. Salah satu solusi untuk menurunkan kandungan CO2 di atmosfer adalah melalui pembangunan atau perbaikan vegetasi hutan. Hutan mangrove dianggap dapat menyerap karbon cukup baik melalui proses fotosintesis. Tujuan penelitian ini yaitu mengestimasi simpanan karbon tegakan pada mangrove di Desa Sentebang Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas. Penelitian ini dilakukan dengan metode non destructive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan membuat 55 petak pengamatan. Petak pengamatan dibuat berukuran 10 m x 10 m dengan jarak antar petak pada jalur 30 m. Setiap petak dilakukan pengukuran diameter pohon ≥ 5 cm. Hasil penelitian ditemukan satu jenis mangrove yang memiliki diameter ≥  5 cm yaitu Avicennia marina. Hasil penelitian diperoleh biomassa di atas permukaan tanah sebesar 293,31 ton/ha dan biomassa akar sebesar 177,87 ton/ha. Serta estimasi karbon di atas permukaan tanah sebesar 137,56 ton/ha dan karbon akar sebesar 83,60 ton/ha. Serta memperoleh serapan CO2 sebesar 811,69 ton/ha.Kata Kunci : karbon, pemanasan global, mangrove, karbon tersimpa

    MOTIVASI DAN KEGIATAN MASYARAKAT DALAM MELESTARIKAN HUTAN ADAT BUKIT SAMABUE DESA SEPAHAT KECAMATAN MENJALIN KABUPATEN LANDAK

    Full text link
    The customary forest can not be separated from the indigenous community. This research aims to study the motivation, their effort deeply, and the customary law's appliedto conserve HutanAdatSamabue. The method used was descriptive qualitative in the form of an intensive interview. The informants chosen as the subject of research through purposive sampling were the village chief, community leaders, youth leaders, and female figures. The result of this study was: people in the community's motivation to conserve the customary forest are improved because they have been aware of the forest resource management. They are aware that customary forest needs to be preserved so that they will depend not only on it but also on other commodities. Customary law has the same position as positive law. In some cases, customary law's place and role are strictly applied. The violation will be fined, and every decision made by the customary council is very well respected. The surrounding community considers HutanAdatSamabue sacred, making it very well sustainable. The forest becoming the main source of water to support local community activity in farming and planting. Furthermore, a waterfall is also important and has potential in tourism, food, basic necessities, crafts, herbals, and many others.Keywords: Motivation, conservation, customary lawAbstrakHutan adat adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan keberadaannya bagi sebagian masyarakat adat yang berada di suatu wilayah Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji motivasi dan kegiatan masyarakat sekitarnya dalam melestarikan Hutan Adat Samabue serta mengetahui penerapan hukum adat oleh masyarakat Desa Sepahat dalam melestarikan hutan adatnya Metode yang digunakan adalah Deskriptif kualitatif yaitu suatu metode penelitian dalam bentuk wawancara mendalam. Para informan yang akan dijadikan subyek penelitian dipilih secara purposife sampling, yaitu Kepala Desa, pemuka masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh wanita desa setempat. Hasil yang didapat dalam penelitian adalah : Motivasi dan kegiatan masyarakat  dalam melestarikan hutan adat cukup meningkat, karena masyarakat dapat memahami akan pentingnya pengelolaan kelestarian hutan, karena hutan adat harus dipertahankan agar tetap lestari sehingga hidup masyarakat tidak hanya tergantung pada hutan adat saja tetapi juga komuditas lainnya. Kedudukan hukum adat dapat disejajarkan dengan hukum positif, terutama yang berkaitan dengan hukum adat. Untuk kasus-kasus tertentu kedudukan dan peranan hukum adat ini diberlakukan sangat ketat, setiap adanya pelanggaran akan diberikan sanksi (denda), dan setiap putusan yang telah ditetapkan oleh dewan adat sangat dipatuhi bagi pelanggar untuk membayarnya sesuai dengan besarnya denda yag telah ditentukan.dan diputuskan oleh dewan adat. Hutan Adat Samabue dianggap  masih sakral bagi masyarakat setempat sehingga sangat terjaga kelestariannya. Sebagai sumber mata air mengingat mayoritas masyarakatnya bertani dan bercocok tanam, juga terdapat potensi wisata alam yaitu air terjun, sebagai sumber pangan, sumber rempah-rempah, sumber sandang, sumber papan dan sumber bahan anyaman, sumber kesehatan serta banyak lagi manafaat dari keberadaaan hutan adat ini bagi masyarakat sekitarnya.Kata Kunci : Motivasi, Melestarikan, Hutan Adat

    PENILAIAN POTENSI OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA ALAM (ODTWA) KAWASAN MANGROVE DI DESA SUNGAI KUPAH KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA

    Full text link
    Sungai Kupah is one of the villages in Kubu Raya Regency which has diverse natural resources such as flora and fauna as well as natural beauty that has the potential as a tourist attraction. This study aims to assess the object potential and natural attractions of the mangrove area and to find out the characteristics of visitor to the mangrove area of the Sungai Kupah, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. This tourist attraction has not been as popular as other tourism because has not been exposed out. This research is expected to promote mangrove Sungai Kupah area more widely. It needs to be researched to assess the potential feasibility of developing the object of natural tourist attraction (ODTWA) Mangrove Sungai Kupah area. The method used is accidental sampling for visitor respondents and purposive sampling for informants. The result from this research, mangrove sungai kupah area get a value of 4.009,62 with an average value of 373 (B) is quite potential to be developed, while the visitor profile is visitors who come more than female visitor, the age range of visitors who mostly come is 17-23 years, with the most dominant marital status being married, the purpose of visiting is forrest or recreation, most visitor come for the first time with the length of the visit is at most 2-2,5 hours, the vehicles used are mostly motorized and knowing the existence of tourist attractions in the mangrove area on the Sungai Kupah river, most of the information comes from friends.Keyword: Accidental Sampling, Sungai Kupah, Tourist AttractionAbstrakSungai Kupah merupakan salah satu desa di Kabupaten Kubu Raya yang memiliki kekayaan alam yang beragam seperti flora dan fauna serta keindahan alam yang berpotensi sebagai daya tarik wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi objek dan daya tarik wisata alam kawasan mangrove serta mengetahui karakteristik pengunjung kawasan mangrove Sungai Kupah Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Objek wisata ini belum sepopuler wisata lainnya karena belum terekspos. Penelitian ini diharapkan dapat mempromosikan kawasan mangrove Sungai Kupah lebih luas. Perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji potensi kelayakan pengembangan objek wisata alam (ODTWA) kawasan Mangrove Sungai Kupah. Metode yang digunakan adalah accidental sampling untuk responden pengunjung dan purposive sampling untuk informan. Hasil dari penelitian ini, kawasan mangrove sungai kupah mendapatkan nilai 4.009,62 dengan nilai rata-rata 373 (B) cukup potensial untuk dikembangkan, sedangkan profil pengunjung yaitu pengunjung yang datang lebih banyak dari pengunjung perempuan, kisaran usia pengunjung yang paling banyak datang yaitu 17-23 tahun, dengan status pernikahan paling dominan yaitu sudah menikah, tujuan berkunjung yaitu untuk istirahat/rekreasi, paling banyak pengunjung datang pertama kali dengan lama waktu kunjungan paling banyak 2-2,5 jam, kendaraan yang digunakan kebanyakan bermotor dan mengetahui adanya tempat wisata kawasan mangrove di Sungai Kupah kebanyakan informasi dari teman.Kata Kunci : Accidental Sampling, Daya Tarik Wisata, Sungai Kupa

    671

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL HUTAN LESTARI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇