JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
    676 research outputs found

    PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN OBJEK WISATA DANAU LAET DI DESA SUBAH KECAMATAN TAYAN HILIR KABUPATEN SANGGAU

    Full text link
    Lake Laek tourism object is an important location as a regional development for tourism purposes and can provide benefits to the community. However, until now there is no data related to public perception of the existence of these tourism objects. The purpose of the study was to obtain public perception of the existence of the Laet Lake tourist attraction in Subah Village, Tayan Hilir District, Sanggau Regency. Data was collected through a survey method with interview techniques with the help of a questionnaire. Data collection was done by purposive sampling technique. Data analysis used Descriptive Analysis and Inferential Analysis. Public perception of the existence of Lake Laet tourist attraction in Subah Village tends to be neutral, with a frequency value of 60.34% from 58 respondents with moderate levels of knowledge, income, and cosmopolitanism.Keyword: Lake laek. Tourist objects, Community perception, Survey AbstrakObjek wisata danau laek merupakan lokasi penting sebagai sebagai perkembangan daerah untuk tujuan wisata dan dapat memberikan manfaat terhadap masyarakat. Namun sampai saat ini belum ada data terkait persepsi masyarakat terhadap keberadaan obyek wisata tersebut. Tujuan penelitian adalah mendapatkan persepsi masyarakat terhadap keberadaan objek wisata danau laet di Desa Subah Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei dengan teknik wawancara dengan bantuan koesioner. Pengambilan data dilakukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan Analisis Deskriptif dan Analisis Inferensial. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan objek wisata Danau Laet di Desa Subah cenderung netral yaitu dengan nilai frekuensi sebesar 60,34 % dari 58 responden dengan tingkat pengetahuan, pendapatan, dan kosmopolitan yang sedang.Kata kunci: danau late, obyek wisata, persepsi masyarakat,  surve

    PENGARUH CAMPURAN TOP SOIL ULTSOL, COCOPEAT DAN PUPUK KANDANG SAPI SEBAGAI MEDIA PEMBIBITAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) DI PERSEMAIAN PERMANEN BPDASHL KOTA PONTIANAK

    Full text link
    Effect of Mixture of Top Soil Ultisol, Cocopeat and Cow Manure as Media for Breeding Calliandra (Calliandra calothyrsusu). The Permanent Nursery of BPDASHL Pontianak. guided by Ir. Hj. Ratna Herawatiningsih, M.Sc. as the first supervisor and Hafiz Ardian, S.Hut, M.P. as a second advisor. Calliandra plant (Calliandra callothyrsus) is one type that is known as a fuel-producing plant, grows fast and can be pruned repeatedly. This research aimed to study the effects of a mixture of top soil ultisol, cocopeat and cow manure on the growth of calindra (Caliandra calothyrsus) seedlings in order to determine the best mix of top soil ultisol and cocopeat cow dung manure for growth of calliandra seedlings in nursery media. This research was carried out in the Permanent Nursery of BPDASHL Kapuas Pontianak for approximately 2 months in the field, using the Completely Randomized Design (CRD) experimental method. The data were collected and analyzed first for material height, diameter, number of stalks and Live Ratio Crown (LRC). The results showed that the Top Soil treatment of Ultisol + Cocopeat + Cow Manure (P5) showed a very significant effect on the growth of height, diameter, number of stalks and LRC of calliandra seedlings. Top Soil Treatment of Ultisol + Cow Manure (P4) had a very significant of the effect on increase in diameter of calliandra seedlings.Keywords: Calliandra, Cocopeat, Cow Manure, Growth, UltisolAbstrakPengaruh Campuran Top Soil Ultisol, Cocopeat Dan Pupuk Kandang Sapi Sebagai Media Pembibitan Kaliandra (Calliandra calothyrsusu). Di Persemaian Permanen BPDASHL Kota Pontianak. dibimbing oleh Ir. Hj. Ratna Herawatiningsih, M.Si. selaku pembimbing pertama dan Hafiz Ardian, S.Hut, M.P. selaku pembimbing kedua.Tanaman kaliandra (Calliandra callothyrsus) merupakan salah satu jenis yang sudah diketahui sebagai tanaman penghasil bahan bakar, cepat tumbuh dan dapat dipangkas secara berulang-ulang. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian pengaruh campuran tanah top soil ultisol, cocopeat dan pupuk kandang kotoran sapi terhadap pertumbuhan bibit kalindra (Caliandra calothyrsus) dalam rangka menentukan campuran terbaik top soil ultisol dan cocopeat serta pupuk kandang kotoran sapi untuk pertumbuhan bibit kaliandra pada media pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan di Persemaian Permanen BPDASHL Kapuas Kota Pontianak selama kurang lebih 2 bulan di lapangan, dengan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang dikumpulkan dan di analisis pertamabahan tinggi, diamater, jumlah tangkai dan Live Ratio Crown (LRC). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan Top Soil Tanah Ultisol + Cocopeat + Kotoran Sapi (P5) menunjukan pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah tangkai dan LRC bibit kaliandra. Perlakuan Top Soil Tanah Ultisol + Kotoran Sapi (P4) berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter bibit kaliandra.Kata kunci: Kaliandra, Cocopeat, Kotoran Sapi, Pertumbuhan, Ultisol

    ANALISA BIAYA DAN PENDAPATAN UNIT PRODUKSI PLYWOOD (Studi Kasus PT. Sambas Alam Lestari) DI KABUPATEN SAMBAS

    Full text link
    PT. Sambas Alam Lestari wants efficiency in the costs incurred but there is No. production cost analysis yet for plywood product at PT. Sambas Alam Lestari. Analysis of production costs and income is an alternative to determine an effective and efficient production proces by minimizing production costs. The research aims to identify the production costs incurred to produce per cubic meter of plywood, calculate the income earned per cubic meter of plywood, and analyze the economic benefit of the plywood bussines. This research was conducted at PT. Sambas Alam Lestari, Sambas Regency from 30 September to 28 October 2020 followed by data analysis. Primary data collection using survey methods with interview, observation, and documentation techniques. While secondary data with interview techniques, observation, and study information sourced from the literature that supports this research. The equipment used in data collection were calculators, laptops, cameras, observation lists, and writing instruments. Based on the results of the stud, it shows that the production cost of plywood is Rp 3.678.975/m3, fixed costs are Rp 702.036/m3, and variable costs are Rp 2.976.939/m3, in general the proportion of fixed costs in 19,1% and variable costs 80,9% . the total revenue obtained from the sale of plywood is Rp 3.810.592/m3. The income earned is Rp 130.655/m3. Based on the feasibility analysis , the R/C ratio value was 1,03 so that economically the plywood industry of PT. Sambas Alam Lestari is profitable and feasible.Keywords: Plywood, Production Costs, Profit, Revenue, R/C ratioAbstrakPT. Sambas Alam Lestari menginginkan adanya efisiensi atas biaya-biaya yang dikeluarkan tetapi belum adanya analisis biaya produksi untuk produk plywood di PT. Sambas Alam Lestari. Analisa biaya produksi dan pendapatan menjadi alternatif untuk menetukan proses produksi yang efektif dan efisien dengan meminimumkan biaya produksi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi biaya produksi yang dikeluarkan untuk memproduksi per meter kubik plywood, menghitung  pendapatan yang diperoleh per meter kubik plywood, serta menganalisis keuntungan ekonomis dari usaha plywood. Penelitian ini dilakukan di PT. Sambas Alam Lestari Kabupaten Sambas mulai tanggal 30 September sampai 28 Oktober 2020 dilanjutkan dengan analisis data. Pengambilan data primer menggunakan metode survey dengan teknik wawancara , observasi, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder dengan teknik wawancara, observasi, dan mempelajari informasi yang bersumber dari literature yang mendukung penelitian ini. Peralatan yang digunakan dalam pengambilan data adalah kalkulator, laptop, kamera, daftar pengamatan, dan alat tulis menulis. Berdasarkan hasil penelitianmenunjukan bahwa biaya produksi plywood sebesar Rp 3.678.975/m3, biaya tetap sebesar Rp 702.036/m3, dan biaya variabel Rp 2.976.939/m3, secara umum besarnya proporsi biaya tetap adalah 19,1% dan biaya tidak tetap/variabel sebesar 80,9%. Total penerimaan yang diperoleh dari penjualan plywood sebesar Rp 3.810.592/m3. Pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 130.655/m3.Berdasarkan analisis kelayakan didapatkan nilai R/C rasio sebesar 1,03 sehingga secara ekonomis usaha industri plywood PT. Sambas Alam Lestari menguntungkan dan layak untuk diusahakan.Kata kunci: Plywood, Biaya produksi, Pendapatan, Penerimaan, R/C rasi

    PERENCANAAN INTERPRETASI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE DI DESA SUNGAI KUPAH KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA

    Full text link
    Sungai Kupah Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. Geographically, this destination is crossed by the equator which is located between 109°10'8”E – 109°10'40”E and 0°1'36”S - 0°2'8''S with a developed area of 7500 km. The environmental and socio-cultural conditions of the Sungai Kupah Village community are currently being developed as a Telok Standing Ecotourism destination, but in the implementation of its management, it has not shown the principles of ecotourism. The development of Telok Standing Ecotourism can be optimal if it is supported by environmental interpretation activities. The method used in this research is a survey with interview techniques. The results of the data collection show that Telok Standing Ecotourism has natural resources that have the potential to be developed as a tourist destination in the form of physical potential, plant potential and cultural potential. The potential consists of mangrove ecosystems, rice field landscapes, Panjang Island, Kapuas River, lighthouse, 12 plants and 10 animals that are typical of mangroves, as well as settlement patterns, making coconut sugar and salted fish, eating sepulung, robo-robo and culmination. Based on the potential that exists in the mangrove ecotourism area of Sungai Kupah Village, the manager can plan 2 tour packages. Environmental education interpretation package with activities that visitors can do, namely studying mangrove ecosystems, getting to know mangrove ecosystem animals, getting to know coastal landscapes through lighthouses, and sunsets. Cultural tourism package activities in the form of saprahan, robo-robo, eating sepulung, and social traditions of the Coastal community.Keywords: ecotourism, interpretation, mangrove.AbstrakDesa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya secara geografis destinasi ini dilewati garis khatulistiwa yang terletak antara 109°10’8”BT – 109°10’40”BT dan 0°1’36”LS - 0°2’8”LS dengan luasan kawasan yang dikembangkan yaitu 7500 km.  Kondisi lingkungan dan sosial budaya masyarakat Desa Sungai Kupah saat ini sedang dikembangkan sebagai destinasi Ekowisata Telok Berdiri, namun dalam pelaksanaan pengelolaannya belum menunjukkan prinsip-prinsip ekowisata. Pengembangan Ekowisata Telok Berdiri dapat optimal jika didukung oleh kegiatan interpretasi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan teknik wawancara. Hasil pendataan menunjukkan bahwa Ekowisata Telok Berdiri memiliki sumber daya alam yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berupa potensi fisik, potensi tumbuhan dan potensi budaya. Potensi tersebut terdiri ekosistem mangrove, lansekap persawahan, Pulau Panjang, Sungai Kapuas, mercursuar, 12 tanaman dan terdapat 10 hewan yang menjadi khas mangrove, serta terdapat pola permukiman, pembuatan gula kelapa dan ikan asin, makan sepulung, robo-robo dan kulminasi. Berdasarkan potensi yang ada di kawasan ekowisata mangrove Desa Sungai Kupah, pengelola dapat merencanakan 2 paket wisata. Paket interpretasi edukasi lingkungan dengan kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung yaitu mempelajari ekosistem mangrove, mengenal satwa ekosistem mangrove, mengenal bentang alam pesisir melalui mercusuar, dan sunset. Kegiatan paket wisata budaya berupa saprahan, robo-robo, makan sepulung, dan tradisi sosial masyarakat Persisir.Kata kunci ˸ ekowisata, interpretasi, mangrove

    IDENTIFIKASI DAN PEMANFAATAN BAMBU DI KAWASAN HUTAN DESA BHAKTI MULIA KECAMATAN BENGKAYANG KABUPATEN BENGKAYANG

    No full text
    This study aims to record the types of bamboo in Bhakti Mulia Village, Bengkayang Sub-District, Bengkayang District, to record the parts of the bamboo plant used by the people of Bhakti Mulia Village, Bengkayang Sub-District, Bengkayang District, to record various uses of bamboo carried out by the people of Bhakti Mulia Village, Bengkayang Sub-District, Bengkayang District. The method used is a survey and observation method with direct interview techniques. Sampling of the use of bamboo was carried out using purposive sampling. The tools used in collecting interview data were questionnaires, Tally sheets and stationery, tools used in sampling were machetes, safety equipment (gloves, shoes), equipment for herbarium (cutting scissors, plastic packing, knives, newspapers, scissors, insulation and label hangers, permanent markers), Cameras/mobile phones for documentation, Voice recorders and the materials used are bamboo, spiritus. Based on the results of the study, it was noted that 9 types of bamboo were used by the community, namely: Aur (Bambusa multiplex), Au (Bambusa vulgaris), Batunk (Dendracalamus asper), Bincank (Dendrocalamus hirtellus), Gare (Gigantochloa ater), Abe (Gigantochloa balui) , Tarenk (Gigantochloa hasskarliana), Acurit (Gigantochloa levis), Boro mari/Boro lamang (Schzostachyum brachycladum). These 9 types of bamboo are all used by the community in the form of crafts and traditional rituals, farming tools, consumption of cooking foods such as lemang, the parts used are the stems, leaves for food wrapping, and shoots for vegetables.Keyword: Bamboo, Bhakti Mulia, Identification, Utilization.AbstrakPenelitian bertujuan untuk mendata jenis bambu yang ada di Desa Bhakti Mulia Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang, mendata bagian tumbuhan bambu yang di manfaatkan oleh masyarakat Desa Bhakti Mulia Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang, mendata berbagai pemanfaatan bambu yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bhakti Mulia Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang. Metode yang digunakan adalah metode survey dan observasi dengan teknik wawancara langsung. Pengambilan sampel pemanfaatan bambu dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Alat yang digunakan dalam pengambilan data wawancara adalah kuisioner, Tally sheet dan alat tulis, Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah Parang, Perlengkapan keamanan (sarung tangan, sepatu), Peralatan untuk herbarium (Gunting stek, plastik packing, Pisau, koran, gunting, isolasi dan gantungan label, spidol permanen), Kamera/hp untuk dokumentasi, Perekam suara dan bahan yang digunakan adalah bambu, spiritus. Berdasarkan hasil penelitian tercatat 9 jenis bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu: jenis Aur (Bambusa multiplex), Au (Bambusa vulgaris), Batunk (Dendracalamus asper), Bincank (Dendrocalamus hirtellus), Gare (Gigantochloa ater), Abe (Gigantochloa balui), Tarenk (Gigantochloa hasskarliana), Acurit (Gigantochloa levis), Boro mari/Boro lamang (Schzostachyum brachycladum). 9 jenis bambu ini semuanya dimanfaatkan oleh masyarakat dalam bentuk kerajinandan, ritual adat, alat bertani, konsumsi memasak makanan seperti lemang bagian yang digunakan adalah bagian batang, daun untuk pembungkus makanan, tunas untuk sayur.Kata kunci: Bambu, Bhakti Mulia, Identifikasi, Pemanfaatan

    PENGETAHUAN MASYARAKAT DAYAK IBAN TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI PEWARNA ALAMI TENUN IKAT DI DUSUN KELAYAM DESA MANUA SADAP KABUPATEN KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    Natural dyes are extracted from plants (such as leaves, flowers, and seeds), animals, and minerals. The purpose of this study was to explore the characteristics of the community of tie weavers by the Dayak Iban tribe in Kelayam, to collect data on plant species as natural dyes for Ikat weaving, to explore community knowledge in the process of natural dyes for ikat weaving. The research was conducted using the survey method with data collection techniques by observation and interviews. (observation) directly in the field. Weaving has a function as a means of introduction and kinship. The use of plants as natural dyes has long been carried out by the Dayak Iban people who live in Kelayam Hamlet. Most of the plants used are obtained from the forest where they live. There are seven types of plants used for the manufacture of natural dyes by the Dayak Iban tribe in the Kelayam Hamlet, such as Engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa lunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Keyword: Dayak Iban Trible, Natural Dye.AbstrakPewarna alami merupakan zat warna yang berasal dari ekstraksi tumbuhan (seperti bagian daun, bunga, biji), hewan dan mineral. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karekteristik masyarakat penenun ikat oleh suku Dayak Iban di Kelayam. mendata jenis tumbuhan sebagai pewarna alami Tenun Ikat, serta mengetahui pengetahuan masyarakat dalam proses pewarna alami untuk tenun ikat. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data secara observasi dan wawancara (pengamatan) langsung dilapangan. Tenun yang dihasilkan memiliki fungsi sebagai sarana memperkenalkan dan tali persaudaraan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami telah lama dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Iban berdomisisli di Dusun Kelayam. Sebagian besar tumbuhan yang dimanfaatkan diperoleh dari hutan disekitar tempat tinggal mereka.  Ada 7 jenis  tanaman yang digunakan untuk pembuatan pewarna alami oleh suku dayak iban di Dusun Kelayam seperti: engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa iunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Kata Kunci: Dayak Iban, Pewarna Alam

    KEANEKARAGAMAN MOLUSKA DI KAWASAN REHABILITASI MANGROVE DI KELURAHAN SETAPUK BESAR KOTA SINGKAWANG

    Full text link
    Developing mangrove forests in empty areas will form new habitats for several types of fauna, such as mollusks groups. Mollusks are soft-bodied animals that are commonly found in mangrove ecosystems. Gastropods and Bivalves are two classes that are commonly found living on and in the substrate or found attached to mangrove trees. Mangroves serve as spawning, shelter, foraging, and rearing areas for this group. The role of mollusks in the food chain in the mangrove ecosystem built as detritus eaters helps the availability of nutrients in the substrate. This study aims to determine and examine the diversity of mollusk species in each planting period in the mangrove rehabilitation area, Setapuk Besar Village, Singkawang City. The research was conducted in July 2020 using a purposive sampling technique with the direct observation method at the research location. The observation stations were in the planting years 2007, 2011, 2015, and 2019. The results showed differences in the planting period followed by different mollusks found. At the research site, ten species were found consisting of 2 classes: gastropods and bivalves, gastropods class consisting of 5 families, and two families' bivalves' class. The number of individuals found in the plots at all stations was 434. The mollusk's diversity index value at station 1 = 1.77, station 2 = 1.51, station 3 = 1.28, and station 4 = 1.39, and the overall diversity index value is 1.88. The dominance index value at station 1 = 0.20, station 2 = 0.25, station 3 = 0.31 and station 4 = 0.29. The similarity index value at stations 1 and 2 = 83.33%, stations 1 and 3 = 54.54%, stations 1 and 4 = 46.16%, stations 2 and 3 = 66.66%, stations 2 and 4 = 54.54% and stations 3 and 4 = 80%.Keywords: Molluscs, Mangrove Rehabilitation, Setapuk Besar Village Pembangunan hutan mangrove pada areal kosong akan membentuk habitat baru bagi beberapa jenis fauna seperti kelompok moluska. Moluska adalah hewan bertubuh lunak yang banyak ditemukan di ekosistem mangrove. Gastropoda dan Bivalvia merupakan dua kelas yang umum dijumpai hidup di atas dan dalam substrat atau dijumpai menempel pada pohon mangrove. Mangrove menjadi daerah pemijahan, berlindung, mencari makan dan pembesaran bagi kelompok ini. Peran moluska dalam rantai makanan di ekosistem mangrove yang terbangun sebagai pemakan detritus membantu kesediaan hara dalam substrat.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji keanekaragaman jenis Moluska disetiap periode penanaman di kawasan rahabilitasi mangrove Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020 menggunakan metode pengamatan langsung di lokasi penelitian dengan teknik purposive sampling. Stasiun pengamatan berada pada tahun tanam 2007, 2011, 2015 dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan periode tanam diikuti dengan perbedaan jenis moluska yang ditemukan. Pada lokasi penelitian ditemukan sebanyak 10 spesies terdiri dari 2 kelas yaitu gastropoda dan bivalvia, kelas gastropoda terdiri 5 famili dan kelas bivalvia 2 famili. Jumlah individu yang ditemukan dalam plot di semua stasiun penelitian sebanyak 434 individu. Nilai indeks keanekaragaman jenis Moluska pada stasiun 1 = 1,77, stasiun 2 = 1,51, stasiun 3 = 1,28, stasiun 4 = 1,39, nilai indeks keanekaragaman secara keseluruhan adalah 1,88. Nilai indeks dominansi pada stasiun 1 = 0,20, stasiun 2 = 0,25, stasiun 3 = 0,31 dan stasiun 4 = 0,29. Nilai indeks kesamaan jenis pada stasiun 1 dan 2 = 83,33%, stasiun 1 dan 3 = 54,54%, stasiun 1 dan 4 = 46,16%, stasiun 2 dan 3 = 66,66%, stasiun 2 dan 4 = 54,54% serta stasiun 3 dan 4 = 80%.Kata kunci: Moluska, Rehabilitasi Mangrove, Kelurahan Setapuk Besa

    UJI IN VITRO DAYA RACUN DAUN RENGAS (Gluta renghas Linn) DAN MANGGA KWENI (Mangifera odorata Griff) TERHADAP SERANGAN JAMUR PELAPUK KAYU (Schizopyllum commune Fries)

    Full text link
    Wood is an organic material that is easily affected by various factors of wood destruction, one of them is wood decay fungal Schizopyllum commune Fries. To overcome the attack of this fungal, it is needs preventive efforts such as using natural materials that are efficacious as anti-fungal. In this study, testing was conducted to analyze the toxic power of methanol extract from the leaves of Anacardiace family plant, namely Gluta renghas and Mangifera ordorata. This study used RAL factorial with 2 factors (type of leaves extract and concentration levels). The methods used were moisture content measurement of those leaves powder, extraction stage with methanol solvent, yield percentage measurement, and anti fungal assays. The results showed that there was no interaction between type of leaves extract and concentrations levels, but concentration levels showed significant effect to the antifungal activity. The optimum concentration of the extracts in inhibited the growth of decay fungal S. commune was 3 %. Keywords: in vitro assay, anti fungal, Gluta renghas, Mangifera ordorata rengas, Schizopyllum commune AbstrakKayu merupakan bahan organic yang mudah terserang berbagai faktor perusak kayu diantaranya adalah jamur pelapuk Schizopyllum commune Fries, untuk megatasi serangan jamur ini perlukan usaha pencegahan seperti menggunakan bahan alam yang berkhaasiat sebagai anti jamur. Dalam penelitian ini dilakukan penggujian untuk mengganalisadaya racun ekstrak methanol dari daun tanaman family Anacardiace yaitu G. renghas dan M. ordorata. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) factorial dengan 2 faktor (jenis ekstrak dan tingkat konsentrasi). Metode yang digunakan adalah pengukuran kadar air serbuk, ekstraksi dengan menggunakan pelarut methanol, penentuan rendemen dan pengujian anti jamur. Hasil penelitian diperoleh bahwa tidak terdapat interaksi antara factor jenis ekstrak dan tingkat konsentrasi, sedangkan factor tingkat konsentrasi mempengaruhi aktivitas anti jamur. Konsentrasi terbaik dari kedua ekstrak dalam menghambat jamur pelapuk S. commune adalah 3 %. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan spasi tunggal, mempergunakan huruf Kata kunci: uji in vitro, anti jamur, Gluta renghas, Mangifera ordorata rengas, Schizopyllum commun

    ETNOBOTANI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN DARI HASIL HUTAN BUKAN KAYU OLEH MASYARAKAT DESA MEKAR RAYA KECAMATAN SIMPANG DUA KABUPATEN KETAPANG

    Full text link
    Forest is a stretch of land that contains natural resources and has the potential to meet human needs. One of the benefits that are immediately taken from the forest is non-timber forest products in the form of plants for woven craft materials. the utilization of non-timber forest products as materials for woven crafts in Mekar Raya Village is not processed optimally and has not been well documented. This study aims to record and document non-timber forest products used by communities around the forest as raw materials for woven crafts and to find out the use of plants as woven materials in Mekar Raya Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency. This study uses a survey method with data collection techniques using census techniques. Data was obtained through observation and interviews. The results showed that there were 15 species of plants used, namely marau rattan (Calamus mattanensis Blume), sega rattan (Calamus caesius Blume), row palm rattan (Calamus ciliaris), belubuk rattan (Calamus burckianus Beccari), shrimp rattan (Korthalsia echinometra Beccari), rattan rattan fine (Calamus hispidulus Becc), tali bamboo (Gigantochloa hasskarliana), talang bamboo (Schizostachyum brachycladum), Betung bamboo (Dendrocalamus asper), pring bamboo (Bambusa arundinacea) tingel bamboo (Schizostachyum flexuosum), resam (Dicranopterisagu linearis), bemban (Donnax canniformis), prickly pandanus (Pandanus tectorius). which produces as many as 33 produce of webbing such as Badang, oyik podi, kerampan, pingan, bag, badah fruit, lid serving, keranyang, bakol, prada, labong subang, pemangkong mattress, trige, tangol, troket, nyiruk, temasok tomik, ngora, ujo , sengkurung, circular, bracelet, ring, roof of the house, copan, temasok tomik, pretentious perogoh, pretentious ignition, bajot, and omak.Keywords: Ethnobotany, Crafts, Society.Abstrak Hutan merupakan hamparan lahan yang mengandung sumber daya alami dan memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Salah satu manfaat yang lansung diambil dari hutan adalah hasil hutan bukan kayu berupa tumbuhan untuk bahan kerajinan anyaman. pemanfaatan hasil hutan bukan kayu sebagai bahan kerajinan anyaman di Desa Mekar Raya kurang diolah dengan maksimal dan belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendata dan mendokumentasikan hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan sebagai bahan baku kerajinan anyaman dan mengetahui pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan anyaman di Desa Mekar Raya Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik sensus. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan ada 15 jenis tumbuhan yang digunakan yaitu rotan marau (Calamus mattanensis Blume) rotan sega (Calamus caesius Blume), rotan palem baris (Calamus ciliaris) rotan belubuk (Calamus burckianus Beccari), rotan udang (Korthalsia echinometra Beccari), rotan rotan halus (Calamus hispidulus Becc), bambu tali (Gigantochloa hasskarliana), bambu talang (Schizostachyum brachycladum), bambu Betung (Dendrocalamus asper), bambu pring (Bambusa arundinacea) bambu tingel (Schizostachyum flexuosum), resam (Dicranopteris linearis) Rumbia  (metroxylon sagu), bemban  (Donnax canniformis), pandan berduri (Pandanus tectorius). yang menghasilkan sebanyak 33 jenis produk anyaman seperti Badang, oyik podi, kerampan, pingan, tas, badah buah, tutup saji, keranyang, bakol, prada, labong subang, pemangkong kasur, trige, tangol, troket, nyiruk, temasok tomik, ngora, ujo, sengkurung, bundar, gelang, cincin, atap rumah, copan, temasok tomik, sok perogoh, sok penyalan, bajot, dan omak. Kata kunci: Etnobotani, Kerajinan, Masyarakat. 

    ETNOBOTANI BAHAN PANGAN MASYARAKAT DUSUN PEMATANG MERBAU DESA SUNGAI AWAN KIRI KECAMATAN MUARA PAWAN KABUPATEN KETAPANG

    Full text link
    Ethnobotany is the study of the traditional use of plants by the community in meeting their daily needs. It is important to study the use of plants by the community or etobotany so that their knowledge in the use of these plants is not lost in the flow of modernization, including the people of Pematang Merbau Hamlet, Sungai Awan Kiri Village, Muara Pawan District, Ketapang Regency. This study aims to examine the use of food plants by the people of Pematang Merbau Hamlet and to study based on scientific (ethical) basis. This study uses a survey method with the selection of respondents using a snowball sampling technique, namely determining the respondent's key and then determining other respondents based on information from previous respondents. The research was conducted through three stages, namely literature review, interviews and field observations as well as data processing and analysis. From research conducted on the community of Pematang Merbau Hamlet, there are 107 species of food plants that are used by the community which are included in 45 plant families. The groups that use food plants by the Pematang Merbau hamlet are staple foods (1 species), carbohydrate sources (10 species), fruits (46 species), vegetables (29 species), cooking spices and spices (25 species), as well as beverage ingredients (7 species). 40% of the food plants used by the community are wild plants and the remaining 60% are cultivated plants. The most widely used family is the Cucurbitaceae family with 9 species and the most widely used habitus is trees by 42%.Keywords: Ethnobotany, Food Crops, Pematang Merbau Hamlet.AbstrakEtnobotani merupakan ilmu yang mempelajari mengenai pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat secara tradisonal dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kajian terhadap pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat tradisional atau etobotani penting dilakukan agar pengetahuan kearifan mereka dalam pemanfaatan tumbuhan tersebut tidak hilang ditelan arus modernisasi termasuklah pada masyarakat Dusun Pematang Merbau, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengetahuan pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat Dusun Pematang Merbau dan  mengkaji berdasarkan pengetahuan ilmiah (etik). Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pemilihan responden dilakukan dengan teknik snowball sampling yaitu menentukan responden kunci untuk kemudian mentukan responden yang lain berdasarkan informasi dari responden sebelumnya. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan yaitu kajian pustaka, wawancara dan observasi lapangan serta pengolahan dan analisis data. Dari penelitian yang dilakukan pada masyarakat Dusun Pematang Merbau, terdapat 107 spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang termasuk kedalam 45 famili tumbuhan. Kelompok pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat Dusun Pematang Merbau yaitu makanan pokok (1 spesies), sumber karbohidrat (10 spesies), buah-buahan (42 spesies), sayur-sayuran (29 spesies), bumbu masak dan rempah (25 spesies), serta bahan minuman (7 spesies). Tumbuhan pangan yang dimanfaatkan masyarakat 40% berupa tumbuhan liar dan sisanya 60% merupakan tanaman hasil budidaya. Famili yang paling banyak digunakan adalah famili Cucurbitaceae sebanyak 9 spesies dan habitus yang banyak digunakan yaitu pohon sebesar 42%.Kata kunci: Etnobotani, Bahan Pangan, Dusun Pematang Merba

    671

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL HUTAN LESTARI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇