JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK HABITAT RHIZANTHES ZIPPELII DI GUNUNG POTENG CAGAR ALAM RAYA PASI KOTA SINGKAWANG KALIMANTAN BARAT
Rhizanthes zippelii is one of the flora species found in the Pasi Gunung Poteng Nature Reserve area of West Kalimantan. Habitat characteristics for this species need to be studied considering that this plant very much depend on the host Tetrastigma to obtain food nutrients during its life cycle. The purpose of the research was to describe the habitat characteristics of Rhizanthes zippelii in the Area of Gunung Poteng Pasi Nature Reserve and provide information on the types of plants that host Rhizanthes zippelii in Gunung Poteng Pasi Nature Reserve. The research was conducted by survey method in the field by sampling using a double plot that is placed purposively. Data collected in the form of biotic and abiotic components of the habitat. From the five plots of observations there was found 189 individuals of R.zippelii which were in the form of buds, individuals blooming and rotting stages. The host plant of this species is Tetrastigma pisicarpum. In the nature with hosts plants, it froms a small group of population consisting of several individuals and in this nature reserve was found at an altitude of 423-484 meters above slopes ranging 15.8-36.4%. The ambient temperature ranges from 24-25C with a relative humidity of 80-99%.Keywords: Habitat characteristics, Host Tetrastigma, Rhizanthes zippelii AbstrakRhizanthes zippelii termasuk salah satu spesies flora yang terdapat pada kawasan Cagar Alam Raya Pasi Gunung Poteng Kalimantan Barat. Karakteristik habitat untuk spesies ini perlu dilakukan mengingat tumbuhan ini sangat tergantung kepada inang Tetrastigma untuk mendapatkan nutrisi makanan selama hidupnya. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan karakteristik habitat Rhizanthes zippelii di kawasan Gunung Poteng Cagar Alam Raya Pasi serta memberikan informasi mengenai jenis tumbuhan yang menjadi inang dari Rhizanthes zippelii di Gunung Poteng Cagar Alam Raya Pasi. Penelitian dilakukan dengan metode survey di lapangan dengan pengambilan contoh menggunakan petak ganda yang diletakkan secara purposive, data yang diukur berupa komponen biotik dan abiotik pada habitat. Pengukuran pada 5 plot pengamatan pada jenis R.zippelii, ditemukan 189 individu baik itu yang masih berupa kuncup, individu mekar dan membusuk. Tumbuhan inang dari spesies ini yaitu Tetrastigma pisicarpum. R.zippelii dengan inang membentuk populasi kecil yang terdiri dari beberapa individu dan di cagar alam ini ditemukan pada ketinggian 423-484 Mdpl dengan kelerengan 15,8-36,4%. Suhu udara berkisar antara 24-25⁰C dengan kelembapan relatif 80-99%.Kata kunci : Karakteristik Habitat, Inang Tetrastigma, Rhizanthes zippeli
PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI DESA RASAU JAYA II KABUPATEN KUBU RAYA
Rasau Jaya II Village Kubu Raya Regency in West Kalimantan province is a location prone to forest and land fires every year detected high hotspots most of the population work as farmers for that farmers dependence is very high on forests and land as a source of livelihood. Frequent forest and land fires have an impact on farmers' household incomes. The purpose of the research was to look at the opinion of farmers' households due to forest and land fires in 2015 to 2016 with a span of 1 year. inferential use T Test. As well as analyzing whether there is a difference of opinion of farmers' households in the time before the fire and after the fire. The method used in this study is a survey method with data retrieval techniques in the field using questionnaires and interviews. In this study there were 116 people from the number of pupulation 851 families. Data analysis used in this study is qualitative and quantitative descriptive analysis and inferential analysis using T Test. Based on the survey results and from statistical test results, by comparing data that are paired between income before and after forest and land fires. There is a difference in income obtained by research respondents, characterized by a decrease in income after forest and land fires, this is reinforced by the calculation of T test, where the calculation of T Test is -8.55.Keywords: Farmer’s household income, forest and land fires AbstrakDesa Rasau Jaya II Kabupaten Kubu Raya di provinsi Kalimantan Barat adalah lokasi rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya terdeteksi titik-titik hotspot yang tinggi sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani untuk itu ketergantungan petani sangat tinggi terhadap hutan dan lahan sebagai sumber mata pencaharian. Seringnya terjadi kebakaran hutan dan lahan berdampak pada pendapatan rumah tangga petani. Tujuan penelitian dilakukan untuk melihat pendapatatan rumah tangga petani akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 hingga tahun 2016 dengan rentang waktu 1 tahun. Serta menganalisis apakah ada perbedaan pendapataan rumah tangga petani pada saat sebelum terjadinya kebakaran dan setelah terjadinya kebakaran. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik pengambilan data di lapangan menggunakan kuesioner dan wawancara. Dalam penelitian ini terdapat sebanyak 116 orang dari jumlah pupulasi 851 KK. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif serta analisis inferensial menggunakan Uji T. Berdasarkan dari hasil survey serta dari hasil pengujian statistik yaitu dengan cara membandingkan data yang saling berpasangan antara pendapatan sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Terdapat perbedaan pendapatan yang diperoleh responden penelitian, ditandai dengan terjadinya penurunan pendapatan setelah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, hal ini diperkuat dengan adanya perhitungan uji T, dimana hasil perhitungan Uji T tersebut sebesar -8,55Kata kunci: Pendapatan rumah tangga petani, kebakaran hutan dan laha
PREFERENSI PAKAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus wurmbii) DI STASIUN PENELITIAN CABANG PANTI TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG KALIMANTAN BARAT
Orangutans (Pongo pygmaeus wurmbii) are arboreal animals that spend a lot of time on trees to move, make nests and find food. The study aims to measure the percentage difference in the amount of feed per individual orangutan, the diversity of feed types and fondness for orangutan feed types and calculate inp (Important Value Index) feed vegetation in the daily roaming area of orangutan orangutans at Cabang Panti Station Research (CPRS). Research methods used to determine orangutan feeding activities are Focal Animal Sampling and Random Sampling to analyze vegetation in the daily roaming area of orangutans. Research methods used to determine orangutan feeding activities are Focal Animal Sampling and Random Sampling to analyze vegetation in the daily roaming area of orangutans. There were 40 species of plants in the vegetation analysis, which on average were orangutans' food species. Orangutans have a tendency to visit certain types of food. The highest percentage of bibi’s orangutan is Koompassia excelsa as 40 % dan 30 % Willughbeia angustifolia, Alfred’s orangutan is Ficus sp 94 % dan 6 % mangifera sp, while the Salju’s orangutan is Ficus sp 28 % dan 23 % Koompassia excelsa.Keywords : Cabang Panti, Food preferences, Orangutan,AbstrakOrangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) tergolong satwa arboreal yang banyak menghabiskan waktunya di atas pohon untuk beraktivitas, membuat sarang serta mencari makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persentase perbedaan jumlah pakan setiap individu orangutan, keberagaman jenis pakan serta kesukaan terhadap jenis pakan orangutan dan menghitung INP (Indeks Nilai Penting) vegetasi pakan pada daerah jelajah harian orangutan orangutan di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP). Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui aktivitas makan orangutan yaitu Focal Animal Sampling serta Random Sampling untuk menganalisis vegetasi di daerah jelajah harian orangutan. Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui aktivitas makan orangutan yaitu Focal Animal Sampling serta Random Sampling untuk menganalisis vegetasi di daerah jelajah harian orangutan. Terdata 41 jenis tumbuhan dalam analisis vegetasi yang rata-rata merupakan jenis pakan orangutan. Orangutan umumnya memiliki kecenderungan untuk mengunjungi jenis pohon pakan tertentu. Persentase frekuensi terbesar kunjungan orangutan bibi adalah jenis Koompassia excelsa sebesar 40 % dan 30 % Willughbeia angustifolia, orangutan Alfred jenis Ficus sp 94 % dan 6 % jenis mangifera sp, sedangkan orangutan Salju jenis Ficus sp 28 % dan 23 % jenis Koompassia excelsa.Kata kunci : Cabang Panti, Preferensi pakan, Oranguta
ESTIMASI PRODUKSI KARBON DARI SERASAH HUTAN MANGROVE DESA MENDALOK KECAMATAN SUNGAI KUNYIT KABUPATEN MEMPAWAH
This study estimates carbon production from mangrove litter per unit area related to the existing carbon stock in Mendalok Village, Sungai Kunyit District, Mempawah Regency. The study used a survey method with a purposive sampling technique in three zones with 10 sample plots per zone. Litter was collected using a litter trap placed systematically in each designated plot for three months. The variables measured were wet weight and dry weight of mangrove forest litter. Based on the study results, several points are calculated, including the rate of litter production, litter biomass content, and litter carbon content. The amount of zone I litter production which is dominated by Avicennia marina species is 4.71 tons/ha/year, the amount of zone II litter production which is dominated by Rhizophora stylosa is 11.10 tons/ha/year, and the amount of zone III litter production is dominated by Bruguiera sp of 8.28 tons/ha/year. The average litter production in this mangrove area is 8.03 tons/ha/year. The total primary growth rate for Avicennia spp. zone is 4.01 tons/ha/year, the total primary growth rate for the Rhizophora spp. zone is 7.36 tons/ha/year, and the total primary growth rate for the Bruguiera spp. zone is 5.48 tons/ha/year. The total carbon content of the Avicennia spp. zone is 2.40 tons/ha, the total carbon content of the Rhizophora spp. zone is 5.66 tons/ha, and the total carbon content of the Bruguiera spp. zone is 4.23 tons/ha. The average carbon production in this mangrove area is 4.09 tons/ha.Keywords: litter, mangrove forest, carbon production, Mendalok AbstrakPenelitian bertujuan mengestimasi produksi karbon dari serasah mangrove per satuan luas terkait stok karbon yang ada di Desa Mendalok Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling pada tiga zona dengan 10 plot sampel per zona. Serasah dikumpulkan dengan litter trap yang diletakkan secara sistematik di setiap plot yang telah ditentukan selama tiga bulan. Variabel yang diukur adalah bobot basah dan bobot kering serasah hutan mangrove. Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa point yang dihitung diantaranya laju produksi serasah, kandungan biomassa serasah dan kandungan karbon serasah. Jumlah produksi serasah zona I yang didominasi oleh jenis Avicennia spp sebesar 4,71 ton/ha/tahun, jumlah produksi serasah zona II yang didominasi oleh jenis Rhizophora spp. sebesar 11,10 ton/ha/tahun dan jumlah produksi serasah zona III yang didominasi oleh jenis Bruguiera spp. sebesar 8,28 ton/ha/tahun. Rerata produksi serasah pada kawasan mangrove ini adalah 8,03 ton/ha/tahun. Jumlah laju pertumbuhan primer zona Avicennia spp. sebesar 4,01 ton/ha/tahun, jumlah laju pertumbuhan primer zona Rhizophora spp. sebesar 7,36 ton/ha/tahun dan jumlah laju pertumbuhan primer zona Bruguiera spp. sebesar 5,48 ton/ha/tahun. Jumlah kandungan karbon zona Avicennia spp. sebesar 2,40 ton/ha, jumlah kandungan karbon zona Rhizophora spp sebesar 5,66 ton/ha dan jumlah kandungan karbon zona Bruguiera spp. sebesar 4,23 ton/ha. Rerata produksi karbon pada kawasan mangrove ini sebesar 4,09 ton/ha. Kata kunci: Serasah, hutan mangrove, produksi karbon, Mendalo
PEMANFAATAN AREN (Arenge pinnata) OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK MUARA DI DESA SUNGAI ILAI KECAMATAN BEDUAI KABUPATEN SANGGAU
AbstractSugar palm is non timber forest products from the starch and fruits types. Sugar palm spread from East India to Indonesia and has many benefits for the community one of them is Dayak Muara community. Purpose of this study is to describe the use of sugar palm and the efforts to maintain sugar palm by the Muara Dayak community in Sungai Ilai Village Beduai District Sanggau District. This study used the concept survey methods with data collection techniques in the form of interviews with a questionnaire guide to 70 respondents using sugar palm, and observation techniques in Muara Ilai, Batu Karang and Sungai Goa Dalam. The results showed the part of sugar palm that used is roots, stems, flowers, fruit, leaves, fibers and sticks to used as traditional medicine, palm flour, palm caterpillars, sugar palm, ready to drink palm water, sugar palm wrappers, traditional ceremony ornaments, bubu (fish traps), plates and sugar palm fruit. The use of sugar palm by the community can for production and consumption needs. Production needs get from sugar palm, ready to drink palm water, palm wrappers, bubu (fish traps), and plates, meanwhile for consumption needs that is when sugar palm used as traditional medicine, palm flour, palm caterpillars, traditional ceremony ornaments and broom sticks. The efforts of the Muara Dayak community to maintain sugar palm in two ways, the first is maintaining the naturally growing in Batu Karang and Sungai Goa Dalam and do cultivation in Muara Ilai. Keywords: Utilization Sugar Palm, Dayak Muara Community, Production, ConsumptionAbstrakAren merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari kelompok jenis pati dan buah-buahan. Aren menyebar dari India Timur sampai ke Indonesia dan memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat salah satunya masyarakat Dayak Muara. Penelitian ini bertujuan menguraikan pemanfaatan Aren dan usaha mempertahankan Aren oleh masyarakat suku Dayak Muara di Desa Sungai Ilai Kecamatan Beduai Kabupaten Sanggau. Metode penelitian ini adalah metode survey dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dengan panduan kuesioner kepada 70 responden pemanfaat Aren, dan teknik observasi yang dilakukan di tiga dusun yaitu Muara Ilai, Batu Karang dan Sungai Goa Dalam. Hasil penelitian menunjukkan bagian Aren yang dimanfaatkan adalah bagian akar, batang, bunga, buah, daun, ijuk dan lidi yang digunakan sebagai obat tradisional, tepung Aren, ulat Aren, gula Aren, air nira siap minum, pembungkus gula Aren, ornamen upacara adat, bubu (perangkap ikan), piring, sapu lidi dan kolang-kaling. Pemanfaatan Aren oleh masyarakat dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dan produksi. Kebutuhan produksi diperoleh dari gula Aren, nira Aren siap minum, pembungkus gula Aren, bubu (perangkap ikan), dan piring, sementara untuk kebutuhan konsumsi yaitu ketika Aren sebagai obat tradisional, tepung Aren, ulat Aren, ornamen upacara adat dan sapu lidi. Usaha masyarakat Dayak Muara untuk mempertahankan Aren dilakukan dengan dua cara yaitu memelihara Aren yang tumbuh secara alami yang dilakukan masyarakat di Dusun Batu Karang dan Sungai Goa Dalam dan melakukan bududaya Aren yang dilakukan di Dusun Muara Ilai. Kata kunci: Pemanfaatan Aren, Masyarakat Suku Dayak Muara, Produksi, Konsums
KUALITAS MORFOLOGIS BIBIT SENGON (Paraserianthes falcataria L) SEBAGAI BIBIT SIAP TANAM DI PERSEMAIAN BPDASHL SIANTAN KALIMANTAN BARAT
Sengon (Paraserianthes falcataria L) is a plant planted by the West Kalimantan BPDASHL to provide seedlings for the land rehabilitation and state forests and the community.This study was conducted with the objectives of: (1) determining morphological values which include: height, diameter, robustness, root shoot ratio, seed quality index and (2) determine the correlation between age and seed quality based on the age of the seedlings before and after the age of three months. The study used a survey method with purposive sampling and random sampling. Sampling for ten seedlings was carried out random on 30 seeds selected for each age class. The data collected in the study were in the form of morphological quality consisting of height (cm), diameter (mm), wet weight, and dry weight of seedlings. Based on height, diameter, wet weight and dry weight of the seedlings, the sturdiness, shoot-to-root ratio and seed quality index were calculated. Based on the morphological quality, the age of sengon seedlings aged 3 to 3.5 months is included in the category of targeted seedlings so that they are suitable for planting in the field. The regression analysis result showed that there was a relationship between growth age and character of sengon seedlings aged 2.5 months to 4 months. As the age of the seedlings increases, the height and diameter increases. The regression of morphological characters with positive and high coefficient values indicated that seedling age had a positive relationship to seedling quality.Keywords: morphological, quality, sengon AbstrakSengon (Paraserianthes falcataria L) merupakan salah satu jenis tanaman yang disemaikan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kalimantan Barat untuk penyediaan bibit dalam rangka rehabilitasi lahan dan hutan negara serta masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menentukan nilai mutu bibit yang meliputi : tinggi, diameter, kekokohan, rasio pucuk akar (RPA), indek mutu bibit (IMB) dan (2) menentukan korelasi umur dengan kualitas bibit berdasarkan umur bibit sebelum dan sesudah berumur tiga bulan.Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan secara purposive sampling dan random sampling. Pengambilan sampel untuk 10 bibit dilakukan secara random terhadap 30 bibit yang sudah diseleksi pada masing-kelas umur. Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa kualitas morfologis terdiri dari tinggi (cm), diameter (mm), berat basah,dan berat kering bibit. Berdasarkan ukuran tinggi, diameter, berat basah dan berat kering bibit dihitung kekokohan, rasio pucuk akar (RPA), indeks mutu bibit (IMB). Berdasarkan kualitas morfologis maka umur bibit sengon yang berumur 3 sampai 3,5 bulan sudah termasuk dalam kategori bibit siap tanam sehingga layak untuk ditanam dilapangan. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa terdapat hubungan umur pertumbuhan dan karakter bibit sengon umur 2,5 bulan sampai 4 bulan. Semakin bertambahnya umur bibit ukuran tinggi dan diameter semakin meningkat. Hasil regresi karakter morfologis dengan nilai koefisien positif dan tinggi, menunjukkan bahwa umur bibit mempunyai hubungan positif terhadap kualitas bibit. Kata Kunci : kualitas, morfologis, sengo
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN TEMBAWANG DI DUSUN JEMONGKO DESA KUALA DUA KECAMATAN KEMBAYAN KABUPATEN SANGGAU
Local wisdom is the value system or behavior of local people in interacting with the environment in which they live. Jemongko hamlet in kuala dua village has wisdom in the form of tembawang management, this study aims to find out and describe the forms of local wisdom of jemongko hamlet community. The method used in this study is a survey method with interview techniques with the help of questionnaires. Respondents were taken by snowball sampling, with 15 responden in total. Analysis data used is qualitative descriptive analysis. Local wisdom cared out the jemongko hamlet community in the tembawang environment includes; the prohibition of cutting down trees, prohibition of urinating and defecating, prohibition of killing animals, prohibition of burning shrimp paste, and as maintaining the attitude, speech, and belief in a bunyik (ghost). Keywords; local wisdom, jemongko village, tembawang management, community. AbstrakKearifan lokal adalah sistem nilai atau perilaku masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Dusun jemongko di desa kuala dua memiliki kearifan berupa pengelolaan tembawang, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat dusun jemongko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik wawancara dengan bantuan kuesioner. Responden diambil secara snowball sampling, dengan jumlah total 15 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Kearifan lokal yang dihayati masyarakat dusun jemongko di lingkungan tembawang meliputi; larangan menebang pohon, larangan buang air kecil dan besar, larangan membunuh hewan, larangan membakar pasta syari'at, serta menjaga sikap, ucapan dan keyakinan terhadap bunyik (hantu).Kata kunci; kearifan lokal, dusun jemongko, pengelolaan tembawang, masyarakat.
INVENTARISASI TUMBUHAN HOYA (APOCYNACEAE) DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU
Hoya is an epiphytic vine whose survival is primarily dependent on the concentration of its root system. Hoya involves various processes in human life, including as a decorative herb, a source of food to boost economic value, and a medicinal ingredient. There are still many people who rarely know about this hoya plant. The purpose of this study was to make an inventory and find the types of hoya in the Protected Forest Area, Jangkang District, Sanggau Regency. This research was conducted for ± 4 weeks in the Protected Forest Area of Jangkang District, followed by an analysis of research data. This study used a survey method with the determination of plots in the field carried out by purposive sampling with a size of 20 x 20 m, then described, These observations were made at three different locations, namely hills, valleys, and riparian. The total number of observation plots was 24 plots and the object of this study was the hoya plant species found in trees. Based on the data obtained at the research location, there are 4 types of hoya with 62 individuals from the total observation plot. The types of hoya found in the research location were Hoya lasiantha, Hoya meredithii, Hoya mitrata and Hoya ranauensis. The observations indicate that hoya is more common in riparian locations with 30, compared to 13 hill locations, 19 in valley locations. This can happen because hoya prefers growing conditions with high humidity.Keywords: Hoya, Protected Forest, Plant InventoryAbstrakHoya adalah tumbuhan epifit merambat yang kelangsungan hidupnya banyak tergantung pada keberadaan pohon tumpangannya. Hoya memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai tanaman hias, sumber pangan untuk meningkatkan nilai ekonomi, dan sebagai bahan obat-obatan. Pemahaman tentang tumbuhan hoya ini masih banyak masyarakat yang jarang mengetahuinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi dan menemukan jenis hoya yang terdapat dalam Kawasan Hutan Lindung Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini dilaksanakan ± 4 minggu di Kawasan Hutan Lindung Kecamatan Jangkang dilanjutkan dengan analisis data penelitian. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan penentuan petak di lapangan dilakukan secara purposive sampling dengan ukuran 20 x 20 m, kemudian dideskripsikan, pengamatan ini dilakukan pada tiga lokasi yang berbeda yaitu bukit, lembah dan riparian. Jumlah seluruh petak pengamatan sebanyak 24 petak dan objek dari penelitian ini adalah jenis tumbuhan hoya yang terdapat pada pohon. Berdasarkan data yang diperoleh di lokasi penelitian terdapat 4 jenis hoya dengan jumlah individu sebanyak 62 dari total seluruh petak pengamatan. Jenis-jenis hoya yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah Hoya lasiantha, Hoya meredithii, Hoya mitrata dan Hoya ranauensis. Dari hasil pengamatan menerangkan bahwa hoya lebih banyak dijumpai pada lokasi riparian dengan jumlah 30, dibandingkan dengan lokasi bukit berjumlah 13, lokasi lembah berjumlah 19. Hal ini dapat terjadi karena hoya lebih menyukai kondisi tempat tumbuh yang memiliki kelembaban yang cukup tinggi. Kata kunci: Hoya, Hutan Lindung, Inventarisasi Tumbuha
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KELIMPAHAN KERANG KEPAH (Polymesoda erosa) DI HUTAN MANGROVE DESA SUNGAI NILAM KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS
The purpose of this study was to examine the effect of physical environmental factors, namely soil texture, soil salinity, soil pH, soil organic matter content, soil temperature and soil moisture, air temperature and humidity and light intensity on the abundance of mussel shells (Polymesoda erosa) in the forest. mangrove in Sungai Nilam Village, Jawai District, Sambas Regency. This study used a survey method, soil and mussel sampling techniques were carried out by purposive sampling and descriptive data analysis was used. Soil samples were tested in the laboratory to observe several parameters such as soil texture and soil organic matter content. The abundance of mussel shells in the mangrove forest of Sungai Nilam Village is not affected by soil texture because the typical texture in that location is clay, dusty and sandy dust, while mussels can also live in sandy areas. Soil organic matter suitable for mussel shells with a value of 4.24. The light intensity is suitable for mussel shells with a value of 2692 Cd. The temperature and humidity ranged from 29.9°C-35.1°C and 66%-88% were still suitable for the presence of mussels. Soil temperature and humidity ranged between 28-30°C and 52-56% which were good values for the presence of mussels. Soil pH in the range of 5.5-7 is a suitable value for the presence of mussels. Salinity suitable for mussel shells with a value of 10.3 ppt. The number of mussels obtained is an average of 3/m². Another factor that affects the existence of mussel shells is human activities that take mussel shells and seasonal factors also determine the number of shellfish in the forest.Keywords: abundance, environmental factors, mangrove forest, sungai nilam village AbstrakTujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh faktor lingkungan fisik yaitu tekstur tanah, salinitas tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, suhu tanah dan kelembaban tanah, suhu udara dan kelembaban udara dan intensitas cahaya terhadap kelimpahan kerang kepah (Polymesoda erosa) di hutan mangrove Desa Sungai Nilam Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas. Penelitian ini menggunakan metode survei, teknik pengambilan sampel tanah dan kerang kepah dilakukan secara purposive sampling dan analisis data menggunakan deskriptif. Sampel tanah diuji di laboratorium untuk melihat beberapa parameter yang diamati seperti tekstur tanah dan kandungan bahan organik tanah. Kelimpahan kerang kepah di hutan mangrove Desa Sungai Nilam tidak dipengaruhi oleh tekstur tanah dikarenakan khas tekstur yang ada dilokasi tersebut yaitu liat berdebu dan debu berpasir sedangkan kerang kepah juga bisa hidup di daerah berpasir. Bahan organik tanah yang cocok untuk kerang kepah dengan nilai 4,24. Intensitas cahaya yang cocok untuk kerang kepah dengan nilai 2692 Cd. Suhu dan kelembaban udara berkisar antara 29,9°C-35,1°C dan 66%-88% masih layak untuk keberadaan kerang kepah. Suhu dan kelembaban tanah berkisar antara 28-30°C dan 52-56% merupakan nilai yang baik bagi keberadaan kerang kepah. pH tanah pada kisaran 5,5-7 merupakan nilai yang cocok untuk keberadaan kerang kepah. Salinitas yang cocok untuk kerang kepah dengan nilai 10,3 ppt. Jumlah kerang kepah yang di dapat yaitu rerata 3/m². Faktor lain yang mempengaruhi keberadaan kerang kepah adalah aktivitas manusia yang mengambil kerang kepah dan faktor musim juga menentukan jumlah kerang di hutan.Kata kunci : Desa Sungai Nilam, Faktor Lingkungan, Hutan Mangrove, Kerang kepah Kepah
BIOAKTIVITAS EKSTRAK LIMBAH BUAH BAKAU (Rhizophora mucronata Lamk) TERHADAP JAMUR PERUSAK KAYU Schizophyllum commune Fries
This research aimed to evaluation the anti-fungal activity of mangrove fruit waste extracts Rhizophora mucronata Lamk and the optimal concentration in inhibiting the growth of the Schizophyllum commune Fries. Mangrove fruit waste was derived from LSM Surya Perdana Mandiri, Setapuk Besar village, North Singkawang district, Singkawang city, West Borneo. Mangrove fruit waste made into particle with size pass of 20 mesh and retained 40 mesh. Then mangrove fruit waste was extract with maceration process with aquades as a solution. The extract then mixed with potatoes dextrose agar (PDA) with several concentration i.e. 0%, 2%, 4%, 6%, 8% and 10% and pour into petri dish. One isolate of S. commune was put in the center of PDA in each petri dish and then incubated for seven days. The results of research showed that the antifungal activity of mangrove fruit waste extract was included in the weak category for concentrations of 2%, 4% 6% with anti fungal activities values 13.40%, 17.05% and 20.23% respectively and moderate category for concentrations of 8% and 10% with anti fungal activities values were 34,91% and 42.40%. Based on the AFA value category and BNJ test results, mangrove fruit waste extract with a concentration of 10% is the extract concentration with the highest anti-fungal activity value of 42.40%. Keyword: Anti-fungal activity, mangrove fruit waste, Rhizophora mucronata Lamk, Schizophyllum commune FriesAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas anti jamur ekstrak limbah buah bakau (Rhizophora mucronata Lamk) dan konsentrasi efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Schizophyllum commune Fries. Limbah buah bakau diperoleh dari LSM Surya Perdana Mandiri, kelurahan Setapuk Besar, kecamatan Singkawang Utara, kota Singkawang, Kalimantan Barat. Limbah buah bakau dibuat menjadi partikel dengan ukuran lolos 20 mesh dan tertahan 40 mesh. Kemudian limbah buah bakau di ekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut aquades. Ekstrak kemudian dicampurkan dengan Potato Dextrose Agar (PDA) dengan beberapa konsentrasi yaitu 0%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% dan dituangkan ke dalam cawan petri. Salah satu isolate S. commune ditempatkan ditengah PDA pada setiap cawan petri dan kemudian diinkubasi selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas anti jamur ekstrak limbah buah bakau termasuk dalam kategori lemah untuk konsentrasi 2%, 4% dan 6% dengan nilai AFA berturut-turut adalah 13,40%, 17,05% dan 20,23% serta kategori sedang untuk konsentrasi 8% dan 10% dengan nilai AFA berturut-turut adalah 34,91% dan 42,40%. Berdasarkan kategori nilai AFA dan hasil uji BNJ, ekstrak limbah buah bakau dengan konsentrasi 10% merupakan konsentrasi ekstrak dengan nilai aktivitas anti jamur tertinggi yaitu sebesar 42,40%. Kata kunci: Aktivitas anti jamur, Limbah buah bakau, Rhizophora mucronata Lamk, Schyzophyllum commune Frie