JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN TANAMAN PANGAN OLEH MASYARAKAT DESA SUNGAI MUNTIK KABUPATEN SANGGAU
Forests have a diversity of biological resources that have the potential to be used as a food source. The purpose of this study was to analyze the plants used as a food source by the people in Sungai Muntik Village, Sanggau Regency. The method used is a survey with a purposive sampling technique of data collection through interviews and observation of plant species in the field. The data obtained were analyzed to determine the number of plant families used, the form of utilization of foods plants, the parts used, the processing method, and the use value (UV). Result of research showed that the community of Sungai Muntik village used 64 species of plants included in 34 families as a food source. The most commonly used plant families are Poaceae and Zingiberaceae, each with 6 species. Seven food groups are used, such as vegetables, fruits, tubers/cereals, flavorings, drinks, food coloring, and food plants with medicinal properties. The part of the plant most often used as a food ingredient is the fruit with a proportion of 48.54% and is generally processed by cooking (61.77%). The plant with the highest Use Value (UV) is Oryza sativa (rice) with a UV value of 1, followed by Capsicum frutescens (chili peppers) with a value of 0.98, and Manihot utilissima (cassava) with a value of 0.97. Keywords: community, foods plant, forest, Muntik village, use value AbstrakHutan memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan oleh masyarakat di Desa Sungai Muntik, Kabupaten Sanggau. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengumpulan data secara purposive sampling melalui wawancara dan observasi jenis tumbuhan pangan di lapangan. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui besarnya famili tumbuhan yang digunakan, bentuk pemanfaatan bahan pangan, bagian yang digunakan, cara pengolahan dan use value (UV). Masyarakat Desa Sungai Muntik menggunakan 64 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 34 famili sebagai sumber pangan. Famili tumbuhan yang paling umum digunakan adalah Poaceae dan Zingiberaceae, masing-masing dengan 6 jenis. Ada tujuh kelompok makanan yang digunakan, seperti sayuran, buah-buahan, umbi/sereal, penyedap rasa, minuman, pewarna makanan, dan tumbuhan pangan berkhasiat obat. Bagian tumbuhan yang paling sering digunakan sebagai bahan makanan adalah buah dengan proporsi 48,54%, dan umumnya diolah dengan cara dimasak (61,77%). Tumbuhan dengan nilai Use Value (UV) tertinggi adalah Oryza sativa (padi) dengan nilai UV sebesar 1, disusul oleh Capsicum frutescens (cabe) dengan nilai 0,98 dan Manihot utilissima (ubi kayu) dengan nilai 0,97.Kata kunci: Desa Sungai Muntik, hutan, masyarakat, tumbuhan pangan, use valu
MODEL ARSITEKTUR POHON FAMILI DIPTEROCARPACEAE DI KEBUN RAYA SAMBAS KABUPATEN SAMBAS
Sambas Botanical Garden functions as a conservation area that has a fairly high diversity of plants with vegetation that is dominated by Dipterocarpaceae family. Research on architectural models of the Dipterocarpaceae family in the Sambas Botanical Garden needs to be carried out to obtain a database of the diversity of architectural models of the Dipterocarpaceae trees that grow in the Sambas Botanical Garden. It was also to provide complete data related to the architectural model which is expected to be used as a reference in the management of the Sambas Botanical Garden. The purpose of this study was to determine the architectural model of the Dipterocarpaceae family tree. The benefit of the research was to provide a source of information regarding the description of the architectural model of the Dipterocarpaceae family tree that grows in the Sambas Botanical Garden. This research was conducted using survey methods, data collection was carried out by roaming, namely by exploring every corner of the location in the Sambas Botanical Gardens. The results of this study found 5 architectural models of 28 species of trees in the Dipterocarpaceae family, namely the Roux model, Massart model, Scarrone model, Rauh model, and Attims model. The Roux model is the most common tree architectural model, with 14 species.Keywords: Dipterocarpaceae, Sambas Botanical Garden, Tree architecture.AbstrakKebun Raya Sambas difungsikan sebagai kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang cukup tinggi dengan vegetasi yang mendominasi yaitu dari famili Dipterocarpaceae. Penelitian tentang model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae di Kebun Raya Sambas perlu dilakukan untuk mendapatkan database keanekaragaman model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae yang tumbuh di Kebun Raya Sambas. Selain itu memberikan data secara lengkap terkait model arsitektur yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan Kebun Raya Sambas. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae. Manfaat penelitian yaitu dapat memberikan sumber informasi deskripsi model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae yang tumbuh di Kebun Raya Sambas. Penelitian ini menggunakan metode survey, pengumpulan data dilakukan dengan cara jelajah, yaitu dengan menjelajahi setiap sudut lokasi di Kebun Raya Sambas. Hasil penelitian ini ditemukan 5 model arsitektur dari 28 spesies pohon famili Dipterocarpaceae yaitu model Roux, model Massart, model Scarrone, model Rauh, dan model Attims. Model Roux merupakan model arsitektur pohon yang paling banyak dijumpai yaitu sebanyak 14 spesies.Kata kunci: Dipterocarpaceae, Kebun Raya Sambas, Arsitektur Pohon
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus) DESA PULAU KUMBANG KECAMATAN SIMPANG HILIR KABUPATEN KAYONG UTARA
Orangutans are the only great apes that live on the Asian continent, where in Indonesia only found on the islands of Sumatra and Kalimantan. Orangutans themselves are protected animals under national law, namely based on the Minister of Environment and Forestry Number 106 of 2018 concerning protected plant and animal species. The purpose of this study is to examine how public perceptions of the existence of orangutans and analyze the relationship between knowledge, cosmopolitan and counseling levels with community perceptions of the existence of orangutans (Pongo pygmaeus). This research was carried out in Pulau Kumbang Village using Purposive Sampling method by collecting data through interviews, observations, distribution of questionnaires and documentation. The results of this study show that public perception of the existence of orangutans (Pongo pygmaeus) Pulau Kumbang Village, Simpang Hilir District, North Kayong Regency is positive with each respondent's answer as many as 54 respondents (61.4%) Positive, 27 respondents (30.7%) neutral, and 7 respondents (8.0%) negative. There is a positive and significant relationship between the level of knowledge and cosmopolitan with public perception, there is a positive and insignificant relationship between the level of counseling and public perception. The need for cooperation from various institutions, both from government and non-government institutions as well as local communities to increase awareness of orangutans.Keyword: Orangutans, Public Perception, Pulau Kumbang Village.AbstrakOrangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di benua Asia, dimana di Indonesia hanya terdapat di pulau Sumatera dan Kalimantan. Orangutan sendiri merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan dan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan, kosmopolitan dan penyuluhan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan (Pongo pygmaeus). Penelitian ini dilakukan di Desa Pulau Kumbang dengan menggunakan metode Purposive Sampling dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, penyebaran kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan (Pongo pygmaeus) Desa Pulau Kumbang Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara adalah positif dengan masing-masing jawaban responden sebanyak 54 responden (61,4%) Positif 27 responden (30,7%). %) netral, dan 7 responden (8,0%) negatif. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pengetahuan dan kosmopolitan dengan persepsi masyarakat, terdapat hubungan positif dan tidak signifikan antara tingkat penyuluhan dan persepsi masyarakat. Perlunya kerjasama dari berbagai institusi, baik lembaga pemerintah maupun non-pemerintah serta masyarakat lokal untuk meningkatkan kesadaran terhadap orangutan.Kata kunci: Desa Pulau Kumbang, Orang Utan, Persepsi Masyarakat
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN KEPADATAN BURUNG DIURNAL PADA KAWASAN WISATA ALAM RESORT BELABAN SPTN WILAYAH I NANGA PINOH TNBBBR
Birds are wild animals that have an important role in human life both in terms of economics, tourism, education, and science. Belaban Resort is a conservation area designated as a tourist attraction and research location. This research aims to examine the diversity of species and diurnal density of birds in the Belaban SPTN Resort natural tourism area, region I Nanga Pinoh, Bukit Baka Bukit Raya National Park. The method used is the IPA (Indices Ponctuels d'Abondance) method, where the data collection technique uses a combination of paths with point counting. The number of diurnal bird species in the natural tourist area of Belaban SPTN Resort Region I Nanga Pinoh, Bukit Baka Bukit Raya National Park was found of the 41 types of diurnal birds from 28 tribes (families) spread across km 37, 28 species were found with a total of 167 individuals, while at km 39 there were 17 species found with a total of 96 individual birds. The results of the diversity index calculation show a moderate level of species diversity with diversity index values of 1.41 (Km 37) and 1.20 (Km 39), while individual density falls into medium density with density values of 33.3 (Km 37) and 19.2 (Km 39).Keywords: Birds, Resort Belaban, Species Diversity and Density.AbstrakBurung merupakan satwa liar yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia baik ditinjau dari segi ekonomi, pariwisata, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Resort Belaban merupakan sebuah kawasan konservasi yang diperuntukan sebagai tempat wisata dan lokasi penelitian. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji keanekaragaman jenis dan kepadatan burung diurnal pada kawasan wisata alam Resort Belaban SPTN wilayah I Nanga Pinoh Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Metode yang digunakan adalah metode IPA (Indices Ponctuels d'Abondance), dimana Teknik pengambilan data menggunakan kombinasi jalur dengan point count, Jumlah jenis burung diurnal yang ada pada kawasan wisata alam Resort Belaban SPTN Wilayah I Nanga Pinoh, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ditemukan 41 jenis burung diurnal dari 28 suku (famili) yang tersebar di km 37 ditemui 28 jenis dengan jumlah individu sebanyak 167 individu, sedangkan pada km 39 ditemui sebanyak 17 jenis dengan jumlah individu sebanyak 96 individu burung. Hasil perhitungan indeks keanekaragaman menunjukan tingkat keanekaragaman jenis yang sedang dengan nilai indeks keanekaragaman 1,41 (Km 37) dan 1,20 (Km 39), sedangkan untuk kepadatan individu masuk kedalam kepadatan sedang dengan nilai kepadatan 33,3 (Km 37) dan 19,2 (Km 39).Kata Kunci : Burung, Resort Belaban, Keanekaragaman Jenis Dan Kepadata
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN HUTAN DI WILAYAH UPT KPH BENGKAYANG - WILAYAH RESORT PENGELOLAAN HUTAN (RPH) I DAN II TAHUN 2013, 2017 DAN 2021
The Forest Management Unit (KPH) Bengkayang is a forest management unit located in the province of West Kalimantan, consisting of three forest management resort areas (RPH): RPH Region I Suti Semarang, RPH Region II Lumar, and RPH Region III Siding. The observed decline in the function and potential of the forest aligns with the reduction of maintainable forest areas due to forest degradation resulting from activities such as large-scale logging for agricultural expansion, mining, and transmigration carried out by the local communities around the forest. The aim of this research is to analyze the changes in the forest area in UPT KPH Bengkayang, specifically in the RPH I and II regions, for the years 2013, 2017, and 2021. The research methodology involves remote sensing techniques with visual interpretation classification of Landsat 8 OLI and TIRS images. There are six land cover categories in UPT KPH Bengkayang, RPH I and II: secondary dryland forest, mixed cultivation of dryland and shrubs, shrubland, open land, water bodies, and rice fields. During the period from 2013 to 2017, a significant reduction occurred in secondary dryland forest, covering an area of 316.18 ha (1.89%), while mixed cultivation of dryland and shrubs increased by 415.97 ha (0.67%). In the period from 2017 to 2021, the largest reduction occurred in shrubland, amounting to 469.49 ha (82.06%), while mixed cultivation of dryland and shrubs showed the highest increase at 566.64 ha (0.96%).Keywords: Bengkayang forest management unit, Deforestation, Forest area, Land cover change, Landsat imagery.AbstrakKesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkayang merupakan unit pengelolaan hutan yang berlokasi di provinsi Kalimantan Barat, terdiri dari tiga wilayah resort pengelolaan hutan (RPH): RPH Wilayah I Suti Semarang, RPH II Wilayah Lumar, dan RPH III Wilayah Siding. Fenomena menurunnya fungsi dan potensi hutan sejalan dengan menyusutnya luas kawasan hutan yang dapat dipertahankan disebabkan oleh degradasi hutan akibat aktivitas seperti penebangan besar-besaran untuk pembukaan pertanian, penambangan, dan transmigrasi yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan luas kawasan hutan di UPT KPH Bengkayang wilayah RPH I dan II pada tahun 2013, 2017, dan 2021. Metode penelitian menggunakan teknik penginderaan jauh dengan klasifikasi interpretasi visual Citra Landsat 8 OLI dan TIRS. Enam kategori tutupan lahan di UPT KPH Bengkayang wilayah RPH I dan II meliputi hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering campur semak, semak belukar, lahan terbuka, tubuh air, dan sawah. Selama periode tahun 2013-2017, terjadi penurunan signifikan pada hutan lahan kering sekunder sebesar 316,18 ha (1,89%), sementara pertanian lahan kering campur semak mengalami peningkatan mencapai 415,97 ha (0,67%). Pada periode 2017-2021, terjadi penurunan terbesar pada semak belukar sebesar 469,49 ha (82,06%), sementara pertanian lahan kering campur semak mengalami peningkatan tertinggi sebesar 566,64 ha (0,96%).Kata kunci: Kesatuan Pengelolaan Hutan Bengkayang, Deforestasi, Kawasan Hutan, Perubahan Penutupan Lahan, Citra Landsat
KETAHANAN SENGON GENERASI M1 TERHADAP PENYAKIT KARAT TUMOR
Sengon is commonly developed by community forest farmers because it is a fast-growing species and the demand for wood is quite high. The development of sengon is constrained by the attack of gall rust disease caused by the fungus Uromycladium falcatarium. Efforts to obtain disease-resistant plants can be done through mutation breeding, one of which is using gamma rays. This study aims to assess the resistance of M1 generation sengon to gall rust disease. Sengon seeds were irradiated using gamma rays at doses of 0, 25, 75, 125, and 175 Gy. Sengon seeds that had been irradiated were germinated and sown for up to 2 months of age. Inoculation of U. falcatarium fungus was carried out on sengon seedlings M1 (1st generation mutant) and M0 (control) generations, at 2 months old. The number of seeds used in each dose was five seeds with four replications. This study used a randomized block design (RBD). Observation on seedlings were disease severity, mortality rate, and resistance of seedlings to gall rust disease. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and then analysis of the least significant difference (LSD) was carried out at a level of 5%. The results showed that the dose of gamma irradiation had a significant effect on the severity of gall rust disease at 17, 27, and 37 days after isolation (DAI). The resistance levels of the M0 and M1 generations of sengon seedlings (doses of 25, 75, and 125 Gy) from 7 – 37 DAI were in the very resistant-moderately susceptible category, while the M1 seedlings with a dose of 175 Gy tended to be very resistant-resistant.Keywords: gall rust, gamma irradiation, mutation breeding. AbstrakSengon umum dikembangkan petani hutan rakyat karena termasuk jenis cepat tumbuh dan permintaan kayunya cukup tinggi. Pengembangan sengon terkendala dengan adanya serangan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh jamur Uromycladium falcatarium. Upaya untuk memperoleh tanaman yang tahan penyakit dapat dilakukan melalui pemuliaan mutasi, salah satunya dengan sinar gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mengaji ketahanan sengon generasi M1 terhadap penyakit karat tumor. Benih sengon diiradiasi menggunakan sinar gamma dengan dosis 0, 25, 75, 125, dan 175 Gy. Benih sengon yang telah diiradiasi dikecambahkan dan dipelihara hingga umur 2 bulan. Inokulasi jamur U. falcatarium dilakukan pada bibit sengon generasi M1 (mutan generasi ke-1) dan M0 (kontrol) berumur 2 bulan. Jumlah bibit yang digunakan pada masing-masing dosis sebanyak 5 bibit dengan empat kali ulangan. Penelitian ini disusun dengan rancangan acak kelompok (RAK). Pengamatan bibit meliputi keparahan penyakit, tingkat kematian, dan resistensi bibit terhadap penyakit karat tumor. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan kemudian dilakukan analisis beda nyata terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa dosisi iradiasi sinar gamma berpengaruh nyata terhadap keparahan penyakit karat tumor pada 17, 27, dan 37 HSI. Tingkat resistensi bibit sengon generasi M0 dan M1 (dosis 25, 75, dan 125 Gy) dari 7 – 37 HSI masuk dalam kategori sangat resisten-cukup rentan, sedangkan bibit sengon M1 dengan dosis 175 Gy cenderung sangat resisten-resisten.Kata kunci: karat tumor, iradiasi sinar gamma, pemuliaan mutasi
PENDAPATAN MASYARAKAT DALAM PENGOLAHAN LAHAN TEGAKAN JABON DENGAN SISTEM AGROFORESTRI DI DESA KUALA DUA
Jabon plantation stand covering an area of 3 hectares is a plantation stand owned by PT. Alas Kusuma is processed using an agroforestry system by employees to increase income. Gardening in the Jabon stand is a side business for employees as well as additional income apart from working in a factory. The purpose of this study was to calculate the income of the people of Jabon stand processing with an agroforestry system and analyze the factors that affect the income of land processing with an agroforestry system. The method used is a survey method with interview techniques, with a total of 20 respondents. The calculation of income from agroforestry was analyzed by multiple linear regression. From the results of the analysis, the income received by the land processing community is Rp. 200,000 - Rp. 750,000 per month. The factors that influence the income of agroforestry farmers in Kuala Dua Village are the variables of land area and maintenance costs, while the variables of the number of types of plants, hours of work, and labor wages do not have much effect, with the regression equation of income as follows Y = 91.662 + 2800.305X1 - 9.573X2 - 0.112X3 + 2.066X4 - 0.061X5.Keywords: Agroforestry, Community, Income, Jabon Stand.AbstrakTegakan tanaman Jabon seluas 3 Ha merupakan tegakan tanaman milik PT. Alas Kusuma yang diolah dengan sistem agroforestri oleh para karyawan untuk menambah pendapatan. Berkebun di tegakan jabon merupakan usaha sampingan bagi karyawan sekaligus sebagai penghasilan tambahan selain bekerja di pabrik. Tujuan penelitian ini adalah menghitung pendapatan masyarakat pengolah tegakan jabon dengan sistem agroforestri, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pengolahan lahan dengan sistem agroforestri. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik wawancara, dengan jumlah responden sebanyak 20 orang. Perhitungan pendapatan dari agroforestri dianalisis dengan regresi linier berganda. Dari hasil analisis, pendapatan yang diterima masyarakat pengolah lahan adalah Rp. 200.000 - Rp. 750.000 per bulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani agroforestri di Desa Kuala Dua adalah variabel luas lahan dan biaya pemeliharaan, sedangkan variabel jumlah jenis tanaman, jam kerja, upah tenaga kerja tidak terlalu berpengaruh, dengan persamaan regresi dari pendapatan sebagai berikut : Y = 91,662+ 2800,305X1 - 9,573X2-0,112X3 + 2,066X4-0,061X5.Kata kunci: Agroforestri, Masyarakat, Pendapatan, Tegakan Jabon
KAJIAN ASPEK TEKNIS DAN FINANSIAL USAHA ARANG BRIKET BIOMASSA SKALA RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU LIMBAH BUAH PINANG DAN TEMPURUNG KELAPA
Komoditas perkebunan unggulan di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya adalah tanaman kelapa dan tanaman pinang dengan produktivitas untuk tanaman kelapa pada tahun 2020 sebanyak 38.810 ton dari luas tanaman kelapa sebesar 32.284 Ha, dan kapasitas produksi pinang pada tahun 2021 sebanyak 652 ton dari luas perkebunan tanaman pinang sebesar 902 Ha. Limbah sabut pinang dan tempurung kelapa belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat untuk diolah menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah dan bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat. Limbah sabut pinang dan limbah tempurung kelapa hasil dari perkebunan hanya ditumpuk hingga membusuk, bahkan tidak jarang dibakar sehingga menyebabkan pencemaran udara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada aspek teknis diperoleh mutu arang briket terbaik dengan komposisi campuran bahan baku limbah sabut buah pinang dan tempurung kelapa dengan variasi campuran perekat tepung tapioka sebanyak 30%, yang menghasilkan nilai parameter kadar air sebesar 6,56%, nilai kadar abu sebesar 4,52%, nilai kadar zat mudah menguap sebesar 3,52% dan nilai kadar karbon terikat sebesar 5.238 Cal. Sedangkan pada aspek keuangan dapat disimpulkan bahwa usaha produksi arang briket ini dinilai layak untuk dilakukan. Pertimbangan kelayakan tersebut dilihat berdasarkan perhitungan break event point (BEP), dimana untuk mendapatkan modal kembali hanya dibutuhkan sebanyak 22.053 kg produk arang briket yang terjual dalam waktu sekitar 22 bulan pada pendapatan Rp.30.350.748. Dari perhitungan didapatkan nilai NPV sebesar Rp. 75.493.892 lebih besar dari nilai project cost sebesar 39.500.000 sehingga usaha dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Dari perhitungan IRR didapatkan hasil IRR sebasar 65%. Usaha dinilai layak apabila IRR > MARR dimana MARR=15%, karena IRR > 65% maka usaha produksi arang briket dinilai menguntungkan dan layak untuk dijalankan
PENDAPATAN PETANI PENYADAP KARET DI KAWASAN TEMBAWANG DESA TANGGUNG KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU
Rubber (Havea brasiliensis Muell. Arg) is a sap-producing vegetation that has the potential as a constituent as well as having economic value in the tembawang agroforestry system. The rubber is one of the sources of income for the community in the Village of Tanggung Jangkang District. The purpose of this research is to obtain the amount of income, income contribution, and the factors that affect the amount of rubber production. Research uses survey methods with observation techniques and structured interviews using questionnaires. The results of data analysis showed that the average income of rubber farming was Rp 9.657.000,00/household/year or Rp 804.750,00/household/month, contributing to household income of 25,93%. The results of the regression analysis showed that the independent variables, namely work experience, tree age, total of rubber that tapped, and working days simultaneously had a significant effect on the amount of rubber production. Partially the number of trees and working days have a significant effect on the amount of rubber production. The equation is: Y = -0,057 + 0,093 X1 - 0,019 X2 + 0,492 X3 + 0,419 X4 Analysis of the determination value of R Square is 0,818 (81,8%).Keywords: farmer's income, rubber trees, Tanggung, tembawang.AbstrakKaret (Havea brasiliensis Muell. Arg) adalah vegetasi penghasil getah yang memiliki potensi sebagai penyusun sekaligus memiliki nilai ekonomi dalam sistem agroforestri tembawang. Karet merupakan salah satu sumber pendapatan masyarakat di Desa Tanggung Kecamatan Jangkang. Tujuan penelitian memperoleh besaran pendapatan, kontribusi pendapatan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah produksi karet. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik observasi dan wawancara terstruktur menggunakan kuisioner. Pengambilan sampel dilakukan secara sensus terhadap 27 responden. Hasil analisis data menunjukan rata-rata pendapatan usahatani karet sebesar Rp 9.657.000,00/KK/tahun atau Rp 804.750,00/KK/bulan memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 25,93%. Hasil analisis regresi menunjukan variabel bebas yaitu pengalaman kerja, umur pohon, jumlah pohon, dan curahan hari kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi karet. Secara parsial jumlah pohon dan curahan hari kerja berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi karet. Persamaannya adalah Y = -0,057 + 0,093 X1 - 0,019 X2 + 0,492 X3 + 0,419 X4. Analisis nilai determinasi R Square sebesar 0,818 (81,8%).Kata kunci: pendapatan petani, pohon karet, Tanggung, tembawan
DAYA HAMBAT IN VITRO EKSTRAK DAUN KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea) TERHADAP JAMUR PENYEBAB BUSUK AKAR (Ganoderma sp. ) In vitro inhibition of telang (Clitoria ternatea) leaf extract against root rot fungus (Ganoderma sp.)
Kembang telang leaf extract is antimicrobial controlling pathogenic fungi in vitro. The purpose of the study was to determine the ability of the kembang telang leaf extract as an inhibitor of the growth of fungi that cause root rot and the concentration of the extract that was most effective. The research was carried out in the Silviculture laboratory Faculty of Forestry Universitas Tanjungpura for three months. The experimental method used a completely randomized design with treatments consisting of four concentrations, namely 0%, 3%, 6%, and 9%, with three replications. Telang flower leaf extract can inhibit Ganoderma sp. An inhibition zone looks more apparent than the Telang flower leaf extract area. The growth of fungal growth at the lowest concentration of 3% is the same as effectively inhibiting the growth of Ganoderma sp. The research results imply that the flower telang leaf extract has the potential as an antifungal against the Ganoderma sp. Keywords: antimicrobial, extract, Clitoria ternatea, Ganoderma.AbstrakEkstrak daun kembang telang memiliki efek antimikrob dalam mengendalikan jamur patogen secara in vitro. Tujuan penelitian mengevaluasi kemampuan ekstrak daun kembang telang sebagai penghambat pertumbuhan jamur Ganoderma sp. penyebab busuk akar dan konsentrasi ekstraknya yang paling efektif. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura selama 3 bulan. Metode percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat taraf perlakuan konsentrasi ekstrak daun kembang telang 0%, 3%, 6%, dan 9% masing-masing tiga ulangan. Ekstrak daun kembang telang dapat menghambat pertumbuhan jamur Ganoderma sp. yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening. Respons pertumbuhan jamur pada konsentrasi yang paling rendah (3%) sama efektifnya menghambat pertumbuhan jamur Ganoderma sp. Implikasi hasil penelitian adalah ekstrak daun kembang telang memiliki potensi sebagai antijamur, khususnya Ganoderma sp. yang menyebabkan busuk akar pada Acacia mangium. Kata kunci: antimikrob, Clitoria ternatea, ekstrak, Ganoderm