JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
    676 research outputs found

    KARAKTERISTIK DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA ENTIBAB TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN KRATOM (Mitragyna speciosa) DI KABUPATEN KAPUAS HULU

    Full text link
    Kratom (Mitragyna speciosa) is a type of plant that grows in the upstream Kapuas area and currently has a high economic value. This study aims to examine the characteristics of the people of Entibab Village about Kratom plants and describe knowledge about the use of Kratom plants in Entibab Village. The benefits of this research are expected to be able to provide information about community characteristics and public knowledge about the use of kratom plants. The method used is a survey method with a snowball sampling technique, namely determining key respondents. The gender of the community in Entibab Village itself is 18 men and 9 women. There are 2 types of kratom plants in Entibab Village, namely red kratom and white kratom. Kratom cultivation by the people of Entibab Village includes the stages of nursery preparation, land management, plant maintenance, harvest and post-harvest. Based on the criteria for gender characteristics, there are more men than women, 96% of whom are in the productive age category, meaning that almost all of the community is involved in the production process of kratom leaves.Keywords: Characteristics, Entibab Village, Kratom Plant, UtilizationAbstrakKratom (Mitragyna speciosa) merupakan jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah kapuas hulu dan saat ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik masyarakat Desa Entibab tentang tumbuhan Kratom dan mendeskripsikan pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan Kratom di Desa Entibab. Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai karakteristik masyarakat dan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan kratom Metode yang digunakan metode survei dengan teknik snowball sampling, yaitu menentukan responden kunci. Jenis kelamin masyarakat di Desa Entibab sendiri terdapat 18 orang laki laki dan 9 orang perempuan. Tumbuhan kratom di Desa Entibab sendiri terdapat 2 jenis kratom yaitu kratom merah dan kratom putih. Budidaya kratom oleh masyarakat Desa Entibab meliputi tahap persiapan pembibitan, pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, panen dan pasca panen. Berdasarkan kriteria karekteristik jenis kelamin, laki-laki lebih banyak daripada perempuan, berdasarkan usia 96% termasuk kategori usia produktif, artinya masyarakat hampir semuanya terlibat dalam proses produksi daun kratom.Kata Kunci: Desa Entibab, Karakteristik, Pemanfaatan, Tumbuhan Krato

    PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE UNTUK SILVOFISHERY DI DESA PASAR RAWA KECAMATAN GEBANG KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA

    Full text link
    Silvofishery utilizes mangrove forests with fisheries that follow a mangrove management system to get maximum results from mangrove forests to reduce environmental impact. Based on this, it is necessary to analyze ecological conditions and the influence of physical and biological factors of waters on vegetation growth. This study examined the suitability of silvofishery based on four planting years, 2012, 2018, 2019, and 2020. Data collection was carried out using a 10x10 m plot to analyze vegetation and measure habitat characteristics such as physical factors (temperature, mud thickness), chemic factors (dissolved oxygen, salinity, acidity), and biological factors (plankton and nekton). All these data were compared with silvofishery table suitability standards to assess the feasibility of research sites for silvofishery. The influence of physical, chemic, and biological factors on mangrove life is analyzed with the Generalized Linear Model (GLM). The results obtained from this study found the presence of physical, chemic, and biological factors that affect mangrove growth. Factors affecting silvofishery suitability of four different growing years, such as vegetation density, dissolved oxygen, and amount of nekton are not recommended for silvofishery. Factors that affect mangrove life in the planting year 2012 are mud depth and salinity, planting year 2018 acidity degree, the planting year 2019 temperature, and planting year 2020 nekton factor. Keywords: management, mangrove forest, pasar rawa, silvofishery, village AbstrakSilvofishery memanfaatkan hutan mangrove dengan perikanan yang mengikuti sistem pengelolaan mangrove untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari hutan mangrove untuk mengurangi dampak lingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan analisis kondisi ekologi dan pengaruh faktor fisik dan biologik perairan terhadap pertumbuhan vegetasi. Kajian ini mengkaji kesesuaian silvofishery berdasarkan empat tahun tanam, 2012, 2018, 2019, dan 2020. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan petak ukur 10x10 m untuk menganalisis vegetasi dan mengukur ciri habitat seperti kondisi faktor fisik (suhu, ketebalan lumpur), faktor kemik (oksigen terlarut, salinitas, keasaman), dan faktor biologik (plankton dan nekton). Semua data tersebut dibandingkan dengan standar kesesuaian tabel silvofishery untuk menilai kelayakan lokasi penelitian untuk silvofishery. Pengaruh faktor fisik, kemik, dan biologik terhadap kehidupan mangrove dianalisis dengan Generalized Linear Model (GLM). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini ditemukan adanya faktor fisik, kemik, dan biologik yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Faktor yang mempengaruhi kesesuaian silvofishery dari empat tahun tanam berbeda, seperti kerapatan vegetasi, oksigen terlarut, dan jumlah nekton yang tidak direkomendasikan untuk silvofishery. Faktor yang mempengaruhi kehidupan mangrove pada tahun tanam 2012 adalah kedalaman lumpur dan salinitas, tahun tanam 2018 derajat keasaman, tahun tanam 2019 suhu dan tahun tanam 2020 faktor nekton.Kata kunci: manajemen, hutan mangrove, pasar rawa, silvofishery, desa

    DAMPAK PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN HUTAN MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAPKONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA SUNGAI SEPETI KECAMATAN SEPONTI KABUPATEN KAYONG UTARA

    Full text link
    Changes in forest land use are converting forests into non-forest lands such as settlements, agricultural areas and plantations, due to various interests and impacts on the socio-economic conditions of the community. This study aims to describe the impact of changes in forest land use to oil palm plantations on the socio-economic conditions of the community and explain changes before and after the existence of oil palm plantations. This study used a survey method, collecting data with a questionnaire and analyzing data in a descriptive qualitative manner. The results of the study showed that there were slight changes in social impacts including education, health and community norms. On the other hand, there have been many economic changes, including increasing people's income, increasing employment and the emergence of new business opportunities, so it can be concluded that there were insignificant changes between the social and economic conditions of the community before and after the change in forest land use to oil palm plantations.Keywords: impact, land use, and socio-economic communityAbstrakPerubahan pemanfaatan lahan hutan adalah mengubah hutan menjadi lahan non hutan seperti, pemukiman, areal pertanian dan perkebunan, karena adanya berbagai kepentingan dan berdampak bagi kondisi social ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak perubahan pemanfaatan lahan hutan menjadi perkebunan sawit terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat serta menerangkan perubahan sebelum dan sesudah adanya perkebunan sawit. Penelitian ini menggunakan metode survey, pengumpulan data dengan koesioner dan analisis data secara deskripti kualitatif. Hasil penelitian terdapat sedikit perubahan terhadap dampak sosial diantaranya pendidikan (± 65% meningkat), kesehatan (66,67% menurun) dan norma masyarakat (62% mengalami pergeseran norma). Sebaliknya terdapat banyak perubahan ekonomi diantaranya meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya lapangan pekerjaan dan munculnya peluang usaha baru, yaitu mencapai rata-rata 70% perubahan kearah yang lebih baik. Secara keseluruhan terjadi perubahan yang tidak signifikan antara kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.Kata kunci: dampak, pemanfaatan lahan, sosial ekonomi, masyaraka

    ETNOZOOLOGI SUKU DAYAK HULU PESAGUAN DI DUSUN BATU BULAN DESA TANJUNG BEULANG KECAMATAN TUMBANG TITI KABUPATEN KETAPANG

    Full text link
    Ethnozoology is part of the field that studies the knowledge, utilization, and management of animals related to community culture. Ethnozoology includes the use of animal species that are used for various purposes, such as food, crafts, clothing, medicines, decorations, rituals, tools and others. The purpose of this study was to collect data on animal species, to examine the management and use of animals by the Dayak Hulu Pesaguan community in Batu Bulan Hamlet, Tanjung Beulang Village, Tumbang Titi District, Ketapang Regency. Data was collected using a survey method with interview techniques using questionnaires and direct observation in the field. The selection of respondents using snowball sampling technique. The data obtained were analyzed using a qualitative descriptive method and the results of the analysis were presented in the form of tables and diagrams. Based on the research results obtained as many as 140 types of animals with 93 families from a total of 9 animal classes. The results of data analysis show that the total number of animals from each form of utilization is 222 types of animals, which are used for consumption by 55.05%, (120 animals), traditional rituals by 1.80% (4 animals), mystical/signs 14, 86% (33 animals), 9% artistic value (20 animals), 14.86% medicine (33 animals), 5.40% use for hunting (12 animals) by the Dayak Hulu Pesaguan community.Keywords: Ethnozoology, use of animals, Dayak Hulu Pesaguan. AbstrakEtnozoologi merupakan bagian dari bidang etnobiologi yang mempelajari tentang pengetahuan, pemanfaatan, pengelolaan satwa berkaitan dengan budaya masyarakat. Etnozoologi meliputi pemanfaatan jenis satwa yang digunakan dalam berbagai kepentingan, seperti bahan pangan, kerajinan, pakaian, obat-obatan, hiasan, ritual, peralatan dan lain-lainnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendata jenis hewan, mengkaji cara pengelolaan dan pemanfaatan hewan oleh masyarakat Dayak Hulu Pesaguan di Dusun Batu Bulan Desa Tanjung Beulang Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner serta pengamatan langsung di lapangan. Pemilihan responden menggunakan teknik sowball sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriftif kualitatif dan hasil analisis ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 140 jenis satwa dengan 93 famili dari total 9 kelas satwa. Hasil analisis data menunjukan jumlah total satwa dari masing-masing bentuk pemanfaatan sebanyak 222 jenis satwa, yang digunakan untuk konsumsi sebesar 55,05%, (120 satwa), ritual adat sebesar 1,80% (4 satwa), mistis/pertanda 14,86% (33 satwa), nilai seni 9% (20 satwa), obat 14,86% (33 satwa), pemanfaatan untuk berburu 5,40% (12 satwa) oleh masyarakat Dayak Hulu Pesaguan.Kata Kunci: Etnozoologi, pemanfaatan satwa, Dayak Hulu Pesagua

    STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI MADU TRIGONA DI SEKITAR KAWASAN HUTAN RARUNG

    Full text link
    Dengan potensi sumber daya hutan yang cukup luas, Indonesia bisa dikatakan memiliki keunggulan komparatif. Di Kabupaten Lombok Tengah khususnya Kecamatan Pringgarata memiliki hutan lindung yaitu di kawasan hutan Rarung. Jenis lebah madu yang dibudidayakan oleh kelompok tani di Kawasan Hutan Rarung Desa Pemepek adalah jenis lebah madu Trigona Sp. Salah satu alasan petani membudidayakan madu jenis ini adalah karena minat masyarakat dan tingkat permintaan konsumennya tinggi terhadap produk madu tersebutTujuan penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, serta strategi terbaik dalam pengembangan usahatani Madu Trigona di sekitar kawsan hutan Rarung. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pemepek yang merupakan desa berada di pinggir kawasan hutan Rarung Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 30 responden dengan rincian, responden kelompok tani sebanyak 20 orang, penyuluh KHDTK Rarung sebanyak 4 orang, pengelola koperasi Wana Makmur sebanyak 1 orang, dan konsumen madu Trigona sebanyak 5 orang. Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif dengan pendekatan manajemen strategi terdiri dari: 1) analisis matriks IFE dan EFE; 2) analisis matriks IE dan matriks SWOT; dan 3) analisis QSPM. Hasil penelitian menunjukkan strategi terbaik dari ke tujuh strategi yang dihasilkan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dengan mengadakan penyuluhan dan pendampingan oleh instansi terkait. Rekomendasi penelitian ini disarankan untuk memberikan edukasi dan pendampingan yang lebih intensif kepada petani madu trigona di sekitar kawasan hutan Rarung

    KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN YANG DIMANFAATKAN OLEH PENGOBAT TRADISIONAL (BATTRA) DI DESA KUMPANG TENGAH KECAMATAN SEBANGKI KABUPATEN LANDAK

    Full text link
    Medicinal plants are still an option for the community in treating diseases, especially people who work as traditional healers (Battra) in Kumpang Tengah Village, Landak Regency. The purpose of this study was to record the types of traditional medicinal plants used by Battra, record the parts of medicinal plants used for treatment, how to process, and how to use them. This research was conducted by interviewing Battra who utilize medicinal plants for treatment as a whole, which was determined using the census technique. There were 15 traditional healers (Battra) with 6 professions,  traditional birth attendants, jampi healers, bone fracture healers, skin disease and worms healers, pediatric healers and venereal disease healers. The results of interviews conducted with Battra obtained 30 types of medicinal plants from 21 families with the most commonly found family, namely the Arecaceae family, the highest habitus is herbaceous (36.7%), the most widely used plant parts are leaves (63.3%), the highest habitat found is in the yard (66.7%), and the highest plant status is cultivated (70%).Keywords: medicinal plants, traditional healers, local knowledge, Kumpang Tengah Village  AbstrakTumbuhan obat masih menjadi pilihan bagi masyarakat dalam mengobati penyakit khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai pengobat tradisional (Battra) yang ada di Desa Kumpang Tengah, Kabupaten Landak. Tujuan dari penelitian ini untuk mendata jenis-jenis tumbuhan obat tradisional yang dimanfaatkan oleh Battra, mendata bagian tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan untuk pengobatan, cara pengolahan dan cara penggunaannya. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai Battra yang memanfaatkan tumbuhan obat untuk pengobatan secara keseluruhan yang ditentukan menggunakan teknik sensus. Terdapat 15 orang pengobat tradisional (Battra) dengan 6 profesi yaitu dukun beranak, dukun jampi, dukun patah tulang, dukun penyakit kulit dan cacingan, dukun penyakit anak dan dukun penyakit kelamin. Hasil wawancara yang dilakukan terhadap Battra diperoleh 30 jenis tumbuhan obat dari 21 famili dengan famili yang paling banyak ditemukan yaitu famili Arecaceae, habitus tertinggi yaitu herba (36,7%), bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu daun (63,3%), habitat ditemukan tertinggi yaitu di pekarangan (66,7%), status tumbuhan tertinggi yaitu dibudidayakan (70%) Kata kunci: tumbuhan obat, pengobat tradisional, pengetahuan lokal, Desa Kumpang Tengah

    IDENTIFIKASI TUMBUHAN PAKAN LUTUNG SENTARUM (Presbytis crhysomelas cruciger Thomas 1892) DI RESORT SEMANGIT TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    Lutung  Sentarum merupakan lutung yang pertama kali ditemukan di Indonesia khususnya hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat (new record). Lutung Sentarum merupakan satwa herbivora yang menjadikan tumbuhan sebagai pakan utamanya. Identifikasi jenis pakan lutung sentrarum diperlukan agar diketahui jenis tanaman apa saja yang menjadi sumber pakan lutung sentarum. Penelitian dilakukan di Resort Semangit Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi tumbuhan yang menjadi pakan dan bagian apa yang menjadi pakan lutung sentarum yang terdapat di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Metode yang digunakan yaitu survey dengan mengumpulkan data dengan cara jelajah. Hasil penelitian dari identifikasi ditemukan 7 jenis tumbuhan pakan lutung sentarum, yaitu, Archidendron pauciflorum, Adenia macrophylla, Bellucia axinanthera, Combretocarpus rotundifolius, Hevea brasiliensis, Planchonella obovata dan Willughbeia coriacea. Bagian tumbuhan yang menjadi pakan lutung sentarum adalah biji dan daun. Bagian tumbuhan pakan yang paling disukai lutung sentarum adalah biji karet

    IDENTIFIKASI POTENSI TUMBUHAN HIAS DI ZONA RIPARIAN KEBUN RAYA SAMBAS KABUPATEN SAMBAS

    Full text link
    West Kalimantan is one of the centers of biodiversity. It has a wealth of flora are very much and most potential as an ornamental plant. Sambas Botanical Garden located in Sabung Village, Subah District, Sambas Regency supports educational activities, research, and ecotourism. The study aims to determine to identify the potential of ornamental plants in the riparian zone of Sambas Botanical Garden, Sambas Regency. The research time is one month effectively in the field from May until june 2022. This research was conducted with a systematic line plot sampling with a random start method. This research is using a double plot with a plot size of 20m x 20 m for epiphytic and liana plants, 2m x 2m for understorey, as many as 48 plots and the total number of observations made plot is 1.92 hectares. The results found that 9 families of ornamental plants, namely: Araceae, Arecaceae, Aspleniaceae, Dioscoreaceae, Fabaceae, Lycopodiaceae, Nepenthaceae, Orchidaceae dan Piperaceae. Of the 27 species of ornamental plant, the highest density is Agrostophyllum stipulatum with a density of 41,1458 individual/ha. The ornamental plant with a low density is Huperzia phlegmaria (L) Rothm with a density of 1,0417 individuals/ha.Keywords: Identification, ornamental plant potential, riparian zone, Sambas botanical gardenAbstrakKalimantan Barat dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati flora melimpah yang sebagian berpotensi sebagai tanaman hias. Kebun Raya Sambas yang terletak di Desa Sabung, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas merupakan kebun raya yang sangat mendukung kegiatan penelitian, pendidikan dan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi tumbuhan hias yang terdapat pada zona riparian kebun raya sambas, kabupaten sambas. Penelitian dilaksanakan dari bulan mei sampai dengan juni 2022. Penelitian ini menggunakan metode systematic line plot sampling with random start. Penelitian ini menggunakan plot ganda dengan ukuran plot 20m x 20m untuk tingkatan pohon yang ditumbuhi tumbuhan epifit dan liana, 2 m x 2 m untuk tumbuhan bawah, sebanyak 48 plot dan total seluruh plot pengamatan yang dilakukan yaitu 1,92 Ha. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan 27 jenis tumbuhan hias dari 9 famili, yaitu Araceae, Arecaceae, Aspleniaceae, Dioscoreaceae, Fabaceae, Lycopodiaceae, Nepenthaceae, Orchidaceae dan Piperaceae. Tumbuhan hias yang memiliki nilai kerapatan paling tinggi yaitu Agrostophyllum stipulatum dengan nilai 41,1458 individu/ha, sedangkan nilai kerapatan yang terendah yaitu Huperzia phlegmaria (L) Rothm dengan nilai 1,0417 individu/ha.Kata Kunci: Identifikasi, potensi tumbuhan hias, zona riparian, kebun raya samba

    PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN PT.WANA SUBUR LESTARI KABUPATEN KUBU RAYA

    Full text link
    The entry of forest plantations company PT. WSL with a sustainable management system and forest conservation is expected to increase the income and welfare of the community around forest plantations, especially for Radak II River Village. The purpose of this study is to understand the level of community perception of the existence PT.WSL and to analyze the relationship independent variable: income levels, number of family dependents, and knowledge of the community perception of the existence of PT. WSL. The method used is the survey technique of purposive sampling and interview. The sample number of this study is 85 respondents who are heads of households and domiciled at least 5 years. Data analysis consists of community perception, the relationship between community perception and income level, and the number of family-dependent, knowledge levels. The results of the study showed a significant difference in the perception of the community of Radak II River Village towards the existence of PT. WSL and 50.59% of the community tend to have negative perceptions. There is a positive and unsignificant relationship, between the level of income and the community perception. There is a negative and significant relationship, between number of family dependents and community perception. There is a positive and significant relationship between the level of knowledge and the public's perception, meaning that the community understands that so far the contribution PT. WSL in improving the socioeconomic and environmental conditions of the radak II River Village community is still very minimal (small) to cause community perception of PT. WSL tends to be negative.Keywords: Community, Forest Plantations, perceptionAbstrakMasuknya perusahaan hutan tanaman industri PT. WSL dengan sistem pengelolaan yang lestari dan pelestarian hutan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan tanaman khususnya Desa Sungai Radak II. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat terhadap keberadaan PT.WSL dan menganalisis hubungan variabel bebas: tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengetahuan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan PT. WSL. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik purposive sampling dan wawancara. Jumlah sampel penelitian ini 85 responden adalah kepala rumah tangga dan berdomisili minimal 5 tahun. Analisis data terdiri dari persepsi masyarakat, hubungan persepsi masyarakat dengan tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan persepsi masyarakat Desa Sungai Radak II yang signifikan terhadap keberadaan PT. WSL dan 50,59% masyarakat cenderung memiliki persepsi negatif. Terdapat hubungan yang positif dan tidak signifikan antara tingkat pendapatan dengan persepsi masyarakat. Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara jumlah tanggungan keluarga dengan persepsi masyarakat. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi masyarakat, artinya masyarakat memahami bahwa selama ini kontribusi PT. WSL dalam meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat desa sungai radak II masih sangat minim (kecil) sehingga menimbulkan persepsi masyarakat terhadap PT. WSL cenderung negatif.Kata kunci: Persepsi, Hutan Tanaman Industri, Masyaraka

    TINGKAT KEMANDIRIAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN (KPH) DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI SUMATERA BARAT

    Full text link
    Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Sumatera Barat merupakan salah satu KPH Model yang dibentuk oleh pemerintah. KPH dibentuk untuk memastikan pengelolaan hutan tetap lestari dan berkelanjutan. KPH juga dituntut agar dapat menghasilkan pendapatan untuk membiayai dirinya sendiri dalam sebuah unit yang mandiri. Pembangunan KPH dianggap sebagai salah satu cara mengelola hutan di Indonesia Namun, pengelolaan KPH di Sumatera Barat tidak terlepas dari berbagai masalah yang ada baik dengan pemerintah, pihak swasta, masyarakat maupun masalah internal KPH itu sendiri. Setelah lebih kurang 6 tahun perjalanan KPH di Sumatera Barat perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sudah sejauh mana kinerja KPH sebagai unit pengelolaan hutan di tingkat tapak dengan melihat tingkat kemandirian Kesatuan Pengelolaan Hutan. Penelitian ini menggunakan kriteria dan indikator dari Forest Watch Indonesia versi 2.0. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks tingkat kemandirian KPH di Sumatera Barat berada di posisi sedang yaitu 2,33. Hal ini menunjukkan bahwa KPH masih dalam tahap pengembangan. Beberapa KPH yang ada sudah memiliki rencana bisnis dan sedang diimplementasikan, hal ini salah satu cara menuju kemandirian KPH. Tetapi sebagian lagi belum bisa merealisasikan rencana tersebut karena berbagai konflik. Pada tahap selanjutnya, diharapkan KPH bisa menjadi KPH Mandiri dengan kelembagaan yang dikembangkan menjadi PPK-BLUD, ketika itu sumber pembiayaan dapat berasal dari usaha-usaha KPH yang sah baik yang berasal dari pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan.  Kriteria yang perlu di perhatikan lebih lanjut untuk diperkuat agar operasionalisasi KPH dapat berkelanjutan yaitu peningkatan kapasitas organisasi yang selama ini masih lemah, penanganan konflik, mekanisme investasi harus jelas dan kematangan rencana kelola KPH

    671

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL HUTAN LESTARI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇