JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
PENILAIAN OBYEK DAYA TARIK WISATA ALAM PULAU SEPANDAN TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN DAN DANAU SENTARUM KALIMANTAN BARAT
Sepandan Island has a diversity of flora and fauna, uniqueness and natural beauty which has the potential to be attractive as a tourist attraction. Sepandan Island is located in the middle of Lake Sentarum in the Betung Kerihun and Lake Sentarum National Park area. This area is visited by many people, especially on holidays, to enjoy the beauty and uniqueness of Sepandan Island. Assessment of the natural tourist attractions of Sepandan Island is needed for planning the development of tourist areas. The aim of this research is to assess the potential of Sepandan Island's natural tourist attractions and classify its development elements into categories of potential, moderate potential or not potential for development. The method used is a survey method in the form of a questionnaire to collect information regarding potential tourist attractions. Determining respondents used the purposive sampling method according to the specified criteria. The results of research into the classification of the Sepandan Island ODTWA from the criteria for assessing tourist attraction, accessibility, socio-economic conditions, accommodation, supporting facilities and infrastructure, and availability of clean water obtained a total score of 3522.8 and the classification for assessing the potential of its elements is classified as potential for development.Keyword: Attraction, Natural tourism, Sepandan island.AbstrakPulau Sepandan memiliki keanekaragaman flora dan fauna, keunikan serta keindahan alam yang mempunyai potensi daya tarik sebagai obyek wisata. Pulau Sepandan terletak di tengah danau Sentarum di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Kawasan ini banyak dikunjungi oleh masyarakat terutama pada hari libur untuk dapat menikmati keindahan dan keunikan Pulau Sepandan. Penilaian objek daya tarik wisata alam Pulau Sepandan diperlukan untuk perencanaan pengembangan kawasan wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai potensi obyek daya tarik wisata alam Pulau Sepandan dan mengklasifikasi unsur pengembangannya ke dalam katagori potensial, cukup potensial atau tidak potensial dikembangkan. Metode yang digunakan adalah metode survei dalam bentuk kuesioner untuk mengumpulkan informasi mengenai potensi daya tarik wisata. Penentuan responden menggunakan metode purposive sampling sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Hasil penelitian klasifikasi ODTWA Pulau Sepandan dari kriteria penilaian daya tarik wisata, aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, akomodasi, sarana dan prasarana penunjang, dan ketersediaan air bersih mendapatkan nilai total sebesar 3522,8 dan klasifikasi penilaian potensi unsur nya adalah tergolong potensial dikembangkan.Kata kunci: Daya tarik, Pulau Sepandan, Wisata alam
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN OBJEK EKOWISATA BUKIT SELAPAR DI DESA CIPTA KARYA KECAMATAN SUNGAI BETUNG KABUPATEN BENGKAYANG
Cipta Karya Village, Sungai Betung District, Bengkayang Regency, has the Bukit Selapar ecotourism area developed by the local village community. The existence of an ecotourism area in an area will give different perceptions to each individual, depending on the characteristics of the local community. This research aims to examine and analyze the existence of the Bukit Selapar ecotourism object in Cipta Karya Village regarding the relationship between income, knowledge and cosmopolitan levels with the community's perception of the existence of the Bukit Selapar ecotourism object. The research method used is a descriptive survey method. The sample of respondents was 68 families, which is part of a total population of 215 families. The research results show that the people of Cipta Karya Village, Sungai Betung District, have a positive perception of the existence of Bukit Selapar. People with positive perceptions support and are involved in the development of Bukit Selapar, with a frequency of 49 people and a percentage of 72.06%. Income level is not significant and has a negative relationship with public perception. Meanwhile, the level of knowledge and cosmopolitanism, although not significant, have a positive relationship with the public's perception of the existence of Bukit Selapar as ecotourism.Keywords: Community Perception, Ecotourism, and Existence.AbstrakDesa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang, memiliki kawasan ekowisata Bukit Selapar yang telah dikembangkan oleh masyarakat desa setempat. Keberadaan kawasan ekowisata di suatu daerah akan memberikan persepsi yang berbeda-beda pada setiap individu, tergantung pada karakteristik masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan menganalisis keberadaan objek ekowisata Bukit Selapar di Desa Cipta Karya terhadap hubungan antara tingkat pendapatan, pengetahuan, dan kosmopolitan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan objek ekowisata Bukit Selapar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yang bersifat deskriptif. Sampel responden yang diambil sebanyak 68 KK, yang merupakan sebagian dari jumlah populasi sebanyak 215 KK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, memiliki tingkat persepsi positif terhadap keberadaan Bukit Selapar. Masyarakat yang memiliki persepsi positif adalah mereka yang mendukung dan ikut terlibat dalam pengembangan Bukit Selapar, dengan frekuensi 49 orang dan persentase 72,06%. Tingkat pendapatan tidak signifikan dan memiliki hubungan negatif terhadap persepsi masyarakat. Sementara itu, tingkat pengetahuan dan kosmopolitan, meskipun juga tidak signifikan, memiliki hubungan positif terhadap persepsi masyarakat mengenai keberadaan Bukit Selapar sebagai ekowisata.Kata kunci: Persepsi Masyarakat, Ekowisata, dan Keberadaa
ETNOBOTANI TANAMAN KRATOM (Mitragyna speciosa) OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR DAS LABIAN DI DESA LABIAN IRA’ANG KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU
Ethnobotany is a branch of science that studies the direct relationship between humans and plants in terms of their use and management, especially in traditional societies. The aim of this research is to document the ethnobotany and use of the kratom plant by the community in Labian Ira'ang Village. The Kratom plant (Mitragyna speciosa) is a type of endemic plant originating from Kalimantan and planted by the people of Labian Ira'ang village. There are two types of Kratom plants in Labian Ira'ang Village, namely red leaf veins and green leaf veins. The results of this research found that the ethnobotanical kratom plant can be used as traditional medicine, can also be used in traditional events, and can be used as a natural dye to make woven fabrics. Apart from that, kratom leaves have high economic value because they can be sold and are in great demand, while kratom wood can be used as a building material, for example to make huts and firewood for the community. The leaves can be used as mosquito coils.Keywords: Alkaloids, Mitragynin, Herbal Kratom Tea.Abstrak Etnobotani adalah cabang keilmuan yang mempelajari hubungan langsung antara manusia dengan tumbuhan dalam hal pemanfaatan dan pengelolaannya terutama pada masyarakat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendokumentasi etnobotani dan pemanfaatan tanaman kratom oleh masyarakat di Desa Labian Ira’ang. Tanaman Kratom (Mitragyna speciosa) merupakan salah satu jenis tumbuhan endemik yang berasal dari Kalimantan dan ditanam oleh masyarakat di desa Labian Ira’ang. Tanaman Kratom di Desa Labian Ira’ang terdapat dua jenis yaitu vena daun merah dan vena daun hujau. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa etnobotani tanaman kratom ini dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional, dapat juga dimanfaatkan dalam acara adat, dan dapat dijadikan sebagai pewarna alami untuk membuat kain tenunan. Selain itu daun kratom mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena dapat dijual serta banyak peminatnya, sedangkan kayu kratom bisa digunakan sebagai bahan bangunan misalnya untuk membuat pondok dan kayu bakar bagi masyarakat. tulang daunnya dapat digunakan untuk obat nyamuk bakar.Kata kunci: Alkaloid, Mitragynin, Herbal Teh Kratom
PEMANFAATAN NIRA AREN UNTUK BAHAN BAKU GULA AREN SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN MASYARAKAT DI DESA KUMPANG TENGAH KABUPATEN LANDAK
Sugar palm is a type of forest plant with high economic value and is a source of income for rural communities; income from managing sugar palm alone can support the Kumpang Tengah village community economy, plus household income from farming and oil palm gardening. This study aims to identify the parts of palm oil that are utilized, find out the amount of income of people who use palm, and find out the contribution of palm oil income to the household income of palm oil farmers. The method used in this study is quantitative descriptive. The results of this study show that the part of palm oil currently widely used by the community is the sap part, which is used as palm sugar. The income obtained by the community from utilizing palm sugar is Rp. 5,584,864 per month with an average annual revenue of Rp. 67,183,780, or 39 percent of the total income of farmers. Keywords: Community Income, Sugar Palm, UtilizationAbstrakAren adalah salah satu jenis tumbuhan hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu sumber pencarian masyarakat pedesaan. Pendapatan dari mengelola aren saja sudah mampu untuk menunjang perekonomian dimasyarakat Desa Kumpang Tengah ditambah lagi dengan pendapatan rumah tangga hasil dari bertani dan berkebun kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagian aren yang dimanfaatkan, , mengetahui besaran pendapatan masyarakat yang memanfaatkan aren, dan mengetahui kontribusi pendapatan aren bagi pendapatan rumah tangga petani aren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bagian aren yang saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu bagian niranya yang dijadikan sebagai gula aren, pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat dari memanfaatkan aren yaitu berjumlah Rp. 5.584.864 per bulan dengan rata-rata penerimaan per tahun sebesar Rp. 67.183.780 atau sebesar 39 persen dari pendapatan total petani. Kata kunci: Pendapatan Masyarakat, Aren, Pemanfaata
POTENSI TEGAKAN PADA KAWASAN CAGAR ALAM LO FAT PUN FIE KECAMATAN MONTERADO KABUPATEN BENGKAYANG
The Lo Fat Pun Fie Nature Reserve with an area of 7.8 Ha has Batik Orchids (Vanda hokeriana) and Pitchers (Nepenthes spp) as characteristics of this nature reserve that need to be preserved. The existence of orchids and pitcher plants is closely related to the existence of the types of vegetation that make up the Lo Fat Fun Pie Nature Reserve. This research aims to record tree species and analyze the potential for stands in the area. This research was carried out using the Systematics Strip Sampling with Random Start method with a sampling intensity of 15%, observations in the research area using 4 paths with varying lengths, where the first path was determined randomly and then continued with a distance between paths of 133 meters, with a total of 29 observation measuring plots. . Based on the results of data analysis, it was found that the average stand potential in the Lo Pat Fun Pie Nature Reserve per hectare was 286 stems 96.60 m3 with a minimum potential range of 1,162.40 stems 746.05 m3 and a maximum of 3,264.05 stems 748.99 m3.Keywords: forest inventory, nature reserves, stand potential.AbstrakCagar Alam Lo Fat Pun Fie dengan Luas 7,8 Ha memiliki Anggrek Batik (Vanda hokeriana) dan Kantong Semar (Nepenthes spp) sebagai ciri khas cagar alam ini yang perlu dilestarikan. Keberadaan jenis anggrek dan kantong semar sangat erat kaitan dengan keberadaan jenis-jenis vegetasi penyusun Cagar Alam Lo Fat Fun Pie Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis pohon dan menganalisa potensi tegakan pada kawasan. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematics Strip Sampling with Random Start dengan intensitas sampling 15%, pengamatan pada kawasan penelitian menggunakan 4 jalur dengan panjang bervariasi, dimana penetuan jalur pertama secara random kemudian dilanjutkan secara dengan jarak antar jalur 133 meter, dengan total 29 petak ukur pengamatan. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan potensi tegakan di Cagar Alam Lo Pat Fun Pie rata-rata per hektar 286 batang 96,60 m3 dengan rentang potensi minimum 1.162,40 batang 746,05 m3 dan maksimum 3.264,05 batang 748,99 m3.Kata kunci: inventarisasi hutan, cagar alam, potensi tegakan
KARBON TERSIMPAN PADA TEGAKAN Acacia crassicarpa DI HUTAN TANAMAN INDUSTRI PT. KALIMANTAN SUBUR PERMAI KABUPATEN KUBU RAYA
Industrial Plantation Forest (HTI) are included in the Reducing Emission form of Deforestation and forest Degradation (REDD) scheme written in the Minister of Forestry Regulation No. 30 of 2009. The method used is a survey method with systematic sampling at each plant age. Measurement of tree biomass in measuring plots uses the Allometric Equation AGB = 0,027 of Acacia crassicarpa with the variable measuring tree diameter. The results of the research obtained that the average value of biomass on the top surface of Acacia crassicarpa at 3 years age class was 40,65 tons/ha, 4 years age class was 52,73 tons/ha and 5 years age class was 64,40 tons/ha. Ha. The average value of biomass on the subsurface aged 3 years age class was 9,67 tons/ha, 4 years age class was 12,17 tons/ha and 5 years age class was 14,37 tons/ha. The average carbon obtained from the top surface of Acacia crassicarpa aged 3 years class was 19,11 tons C/Ha, aged 4 years age class was 24,78 tons C/Ha, and aged 5 years age class was 30,37 tons C/Ha. The average subsurface carbon (roots) at 3 years age class is 4,54 tons C/Ha, 4 years age class is 5,71 tons C/Ha, and 5 years age class is 6,75 tons C/Ha. The total carbon obtained is 91,26 tons C/Ha. The average value of bulk density of soil samples in the 3, 4, and 5-year age classes respectively is 0,32 gr/cm³ 0,34 gr/cm³, and 0,26 gr/cm³. Enviromental factors including C-organic nutrients, N, C/N are classified as high, and K nutrients are classified as moderate.Keywords: Acacia crassicarpa, Allometric Equation, Carbon Stock, Industrial Plantation Forest.AbstrakHutan Tanaman Industri (HTI) dapat termasuk ke dalam skema Reducing Emission form Deforestation and forest Degradation (REDD) yang tertulis dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. 30 Tahun 2009. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan pengambilan contoh secara systematic sampling disetiap umur tanaman. Pengukuran biomassa pohon di dalam plot ukur menggunakan Persamaan Alometrik AGB = 0,027 dari Acacia crassicarpa dengan variable pengukuran diameter pohon. Hasil dari penelitian menunjukkan nilai rata-rata biomassa pada bagian atas permukaan Acacia crassicarpa pada kelas umur 3 tahun sebesar 40,65 ton/ha, kelas umur 4 tahun sebesar 52,73 ton/ha dan kelas umur 5 tahun sebesar 64,40 ton/ha. Nilai rata-rata biomassa pada bagian bawah permukaan (akar) kelas umur 3 tahun sebesar 9,67 ton/ha, kelas umur 4 tahun 12,17 ton/ha dan kelas umur 5 tahun 14,37 ton/ha. Rata-rata karbon yang terdapat pada bagian atas permukaan kelas umur 3 tahun Acacia crassicarpa 19,11 ton C/Ha, kelas umur 4 tahun 24,78 ton C/Ha, dan kelas umur 5 tahun 30,37 ton C/Ha. Rata-rata karbon bagian bawah permukaan (akar) kelas umur 3 tahun 4,54 ton C/Ha, kelas umur 4 tahun 5,71 ton C/Ha, dan kelas umur 5 tahun 6,75 ton C/Ha. Total keseluruhan karbon yang diperoleh yaitu sebesar 91,26 ton C/Ha. Nilai rata-rata bulk density pada umur 3, 4, dan 5 tahun berturut-turut sebesar 0,32 gr/cm³, sebesar 0,34 gr/cm³, dan 0,26 gr/cm³. Kematangan gambut pada areal penelitian ini tergolong pada tingkat kematangan gambut hemik. Faktor lingkungan termasuk juga unsur hara C-organik, N, P, C/N tergolong tinggi dan unsur hara K tergolong sedang. Kata kunci : Acacia crassicarpa, Persamaan Allometrik, Stok Karbon, Hutan Tanaman Industri
STRUKTUR ANATOMI DAN SIFAT FISIK KAYU JATI (Tectona grandis L.f.) UNGGUL NUSANTARA TRUBUSAN PADA UMUR 8 TAHUN
Teak (Tectona grandis L.f.) Unggul Nusantara is a superior seed yield and tissue culture propagation that was first developed in the laboratory and a good quality mother plant. This research aims to find out the characteristic of Anatomical Structure and Physical Properties of Jati Wood (Tectona grandis L.f.) Unggul Nusantara Copies at the age of 8 years. The study was carried out for approximately 6 months between May and October 2021. Anatomical structure data collection was made of triangle shape with latitude, tangential, and radial. Afterwards, the result of these observations are tabulated and analyzed descriptively and the Physical Properties of Copies Jati Unggul Nusantara Wood were carried out with reference to on British Standard (BS) 373:1957. It taken from one tree and then divided again into three segments, the tip, middle, and base with a thickness of 20 cm. Afterwards, divided again into five parts with a size of 3 cm x 3 cm x 3 cm for 3 parameters. Observations of anatomical structures, namely pore or vessel diameter 100-200 m, vessel frequency or pores 6 per mm2, the width of the radius is 96m and the frequency of the radius is 4-5 pieces / mm. Its physical properties are Fresh Water Content 52.30% while Air Dry Water Content 32.69%, Density 1.20 gr/cm3, Tangential Shrinkage 0.44%, Radial Shrinkage 0.42%, with an average T/R ratio 1.04%.Keywords: Anatomical Structure, Copies Wood, Physical Properties, Tectona grandis L.f.AbstrakJati (Tectona grandis L.f.) Unggul Nusantara merupakan bibit unggul hasil dan perbanyakan kultur jaringan yang dikembangkan pertama kali di Laboratorium dan tanaman induk yang berkualitas baik. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Universitas Nusa Bangsa, Bogor dan Pusat Standardisasi Instrumen Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Gunung Batu, Bogor. Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan antara bulan Mei sampai bulan Oktober 2021. Pengambilan data Struktur Anatomi dibuat dalam bentuk segitiga dengan bagian Lintang, Tangensial dan Radial lalu hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif, dan Sifat Fisik Kayu Trubusan Jati Unggul Nusantara dilakukan dengan mengacu pada British Standard 373:1957. Diambil dari 1 pohon kedalam tiga segmen ujung, tengah, dan pangkal dengan ketebalan 20 cm, kemudian menjadi lima bagian dengan ukuran 3 cm x 3 cm x 3 cm untuk 3 parameter dan diberikan 3x ulangan untuk 3 parameter. Hasil pengamatan Struktur Anatomi yaitu Diameter pori atau pembuluh 100 – 200 μm, Frekuensi pembuluh atau pori 6 per mm2, Lebar jari – jari 96 μm dan Frekuensi jari – jari berjumlah 4 – 5 buah/mm. Sifat Fisiknya yaitu Kadar Air Segar 52,30 % sedangkan Kadar Air Kering udara 32,69 %, Kerapatan 1,20 gr/cm3, Penyusutan Tangensial 0,44 %, Penyusutan Radial 0,42 %, dengan rata – rata T/R rasio 1,04 %. Kata kunci: Struktur Anatomi, Kayu Trubusan, Sifat Fisik, Tectona grandis L.
ETNOZOOLOGI MASYARAKAT DAYAK KUBIN DESA MANGGALA KECAMATAN PINOH SELATAN KABUPATEN MELAWI UNTUK RITUAL ADAT DAN MISTIS
Indonesia is a country that has many islands and biological natural resources, one of which is on the island of Kalimantan. Kalimantan is famous for the existence of the Dayak tribe, which has a characteristic. The Dayak tribe also has diversity in the use of animals and can not be separated also in society still maintains ancestral values that still held fast since the days of their ancestors. The Dayak tribe uses animal parts for traditional and supernatural purposes. The purpose of this study was to record the types of animals used for traditional and mystical rituals and the meaning of the use of animals in the Dayak Kubin Community, Manggala Village, Pinoh Selatan District, Melawi Regency. This study uses survey methods and direct interviews, selecting respondents with side snowball for data collection with interviews aimed at people who are considered to have knowledge about the use of animals, by getting 17 types of animals that are used for traditional and mystical rituals, there are 4 types of animals that are used for traditional rituals and 19 traditional rituals carried out by using animals and there are 15 types of animals that are believed to be mystical signs by the Dayak Kubin Community, Manggala Village, Pinoh Selatan District, Melawi Regency.Keywords: Dayak Kubin, Etnozoologi, Mystical and Traditional Ritual.AbstrakIndonesia merupakan negara yang memiliki banyak pulau dan memiliki sumber daya alam hayati, salah satunya di pulau Kalimantan. Kalimantan terkenal dengan keberadaan suku Dayak yang memiliki ciri khas. Pada suku Dayak juga memiliki keragaman dalam memanfaatkan hewan dan tidak lepas juga dalam masyarakat masih mempertahankan nilai leluhur yang masih tetap memegang teguh sejak zaman nenek moyang. Suku Dayak memanfaatkan bagian-bagian hewan untuk keperluan adat dan supranatural. Tujuan dari penelitian ini adalah mendata jenis-jenis hewan yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis dan makna dari pemanfaatan hewan pada Masyarakat Dayak Kubin Desa Manggala Kecamatan Pinoh Selatan Kabupaten Melawi. Penelitian ini menggunakan metode survei dan wawancara secara langsung, pemilihan responden dengan snowball samping untuk pengumpulan data dengan wawancara ditujukan kepada orang yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan hewan, dengan mendapatkan 17 jenis hewan yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis, terdapat 4 jenis hewan yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan 19 ritual adat yang dilakukan dengan memanfaatkan hewan serta terdapat 15 jenis hewan yang dipercaya sebagai pertanda mistis oleh masyarakat Dayak Kubin Desa Manggala kecamatan Pinoh Selatan Kabupaten Melawi.Kata kunci: dayak kubin, Etnozoologi, ritual adat dan misti
FAKTOR- FAKTOR YANG MENDORONG PERUBAHAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU BAMBU UNTUK PERALATAN RUMAH TANGGA DI DESA MERAGUN KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU
Bamboo is one of the natural resources that is widely used by the community because it has the characteristics of a strong stem, straight, hard, easy to split, easy to shape, and easy to work. Over time, there has been a change in the use of bamboo as raw materials for household equipment. The purpose of this study is to describe the factors that encourage changes in the use of bamboo for household appliances in Meragun Village, Nanga Taman District, Sekadau Regency. The study used a survey method with interviews with 88 respondents with a questionnaire guide, and observation techniques were carried out in four sub-villages, namely Meragun, Kenambing Tinggi, Kelampuk, and Ladak. Data analysis was performed by multiple linear regression analysis. This study shows that age, income, knowledge, and education influence changes in using bamboo raw materials as household equipment.Keywords: Bamboo, Household Equipment, Driving factors, ChangesAbstrakBambu merupakan salah satu sumberdaya alam yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena memiliki sifat berupa batang yang kuat, lurus, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk, dan mudah dikerjakan. Seiring berjalannya waktu terjadi perubahan penggunaan bahan baku bamboo untuk peralatan rumahtangga ke bahan baku selain bambu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan bamboo untuk peralatan rumahtangga di Desa Meragun Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. Penelitian menggunakan metode survey, pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap 88 responden menggunakan panduan kuesioner dan teknik observasi dilakukan di empat dusun yaitu Meragun, Kenambing Tinggi, Kelampuk, dan Ladak. Analisis data dilakukan dengan analisis regresi linear berganda. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan bahan baku bamboo sebagai peralatan rumahtangga adalah umur, pendapatan, pengetahuan, dan pendidikan.Kata kunci: Bambu, Peralatan rumah tangga, Faktor pendorong, Perubaha
PEMETAAN TUTUPAN LAHAN SEBAGIAN WILAYAH KABUPATEN KULONPROGO MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI SPASIAL TINGGI DENGAN PENDEKATAN OBIA (OBJECT BASED IMAGE ANALYSIS)
The importance of land cover information in various planning circumstances results in high demand for such up-to-date information continuously. Remote sensing is a time and cost-effective technology that could provide such information. Remote sensing can be employed to derive numerous information from a distance without requiring direct contact with the object. The remote sensing data analysis simply demands field verification to produce scientifically admissible land cover maps. In the process, the analysis can be done with visual as well as digital analysis. In terms of digital analysis, the OBIA (Object-Based Image Analysis) technique could be deployed to synthesize land cover information in the form of maps. OBIA is a digital interpretation technique consisting of two processes named segmentation and classification which require a dominant role of interpreter. The study aims is apply OBIA in Pleiades imagery to produce land cover maps in parts of the Kulonprogo region. The accuracy of the produced map then be evaluated using the confusion matrix method and Kappa Index. The analysis reveals that OBIA is adequate in terms of providing accurate land cover maps using high spatial remote sensing imagery. The Overall accuracy and Kappa Index values of the resulting map reached 91.07% and 0.92. The results exhibit that the technique applied has a high level of confidence and could be scientifically accepted.Keywords: Accuracy Assessments, Land cover, OBIA, Pleiades.AbstrakPentingnya informasi tutupan lahan dalam berbagai bidang perencanaan mengakibatkan tingginya kebutuhan dan keterbaharuan informasi tersebut secara berkelanjutan. Penginderaan jauh merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk menyediakan informasi tutupan lahan secara time and cost effective. Penginderaan jauh dapat digunakan untuk menderivasi berbagai informasi tanpa harus ada kontak langsung dengan objek tersebut. Analisa data penginderaan jauh hanya memerlukan verifikasi lapangan untuk menghasilkan peta tutupan lahan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada prosesnya, analisa tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik; baik secara digital maupun visual. Secara digital, derivasi informasi tutupan lahan dapat dilakukan dengan teknik OBIA (Object Based Image Analysis). OBIA merupakan teknik interpretasi digital yang terdiri atas segmentasi dan klasifikasi dimana dalam prosesnya, memerlukan peran interpreter yang cukup dominan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tutupan lahan pada sebagian wilayah Kulonprogo menggunakan citra Pleiades dengan teknik OBIA. Terhadap peta hasil analisis OBIA, dilakukan perhitungan akurasi dengan metode confusion matrix dan perhitungan Kappa Index untuk mengetahui akurasi dari penerapan OBIA pada citra Pleiades. Berdasarkan analisa dan perhitungan yang dilakukan, diketahui bahwa OBIA mampu memberikan hasil yang akurat untuk interpretasi informasi tutupan lahan menggunakan citra penginderaan jauh resolusi spasial tinggi. Nilai overall accuracy dan Kappa Index yang mencapai 91.07% dan 0.92 menunjukkan bahwa hasil analisis tersebut memiliki tingkat konfidensi yang tinggi dan dapat diterima juga dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kata kunci: Uji Akurasi, Tutupan Lahan, OBIA, Pleiade