JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
KEANEKARAGAMAN JENIS SEMUT TERESTRIAL BERDASARKAN TIPE HABITAT DI HUTAN SEKUNDER DESA JELIMPO KECAMATAN JELIMPO KABUPATEN LANDAK
Ants are social or eusocial insects that belong to the group of insects with the order Hymenoptera and the family Formicidae. Terrestrial ants are a type of insects that live on the surface of the soil and play a role in overhauling soil materials. The secondary forest area in Jelimpo village has various types of habitats including tengkawang habitat, mixed habitat and field habitat which is the location for ant research because each habitat has different environmental conditions so it is very interesting to examine the diversity of ant species in the area. The purpose of this study is to obtain data on the diversity of ant species and their benefits can provide information about the ants species. The method used is purposive sampling by installing a pitfall trap contained in the observation plot measuring 20m × 20m and sub plot 2m × 2m. The results of this study is 3.704 individual ants with 4 sub famili namely Ponerinae, Myrmicinae, Formicinae and Dolichoderinae and 19 species of ants found in three types of habitat. Keywords: Diversity, Habitat, Secondary Forest, Terestrial Ants, AbstrakSemut adalah serangga sosial atau eusosial yang termasuk dalam kelompok serangga dengan ordo Hymenoptera dan famili Formicidae. Semut terestrial merupakan jenis serangga yang hidup dibagian permukaan tanah dan ikut berperan dalam merombak material tanah. Kawasan hutan sekunder di desa Jelimpo memiliki berbagai tipe habitat diantaranya habitat tengkawang, habitat campuran dan habitat ladang yang menjadi lokasi untuk penelitian semut karena setiap habitat memiliki kondisi lingkungan yang berbeda sehingga sangat menarik untuk meneliti keanekaragaman jenis semut dikawasan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data keanekaragaman jenis semut dan manfaatnya dapat memberi informasi mengenai jenis semut. Metode yang digunakan yaitu purposive sampling dengan memasang jebakan jatuh berumpan atau pitfall trap yang terdapat pada plot pengamatan berukuran 20m × 20m dan sub plot 2m × 2m. Hasil penelitian ini.terdapat 3.704 individu semut dengan 4 sub famili yaitu Ponerinae, Myrmicinae, Formicinae dan Dolichoderinae dan 19 jenis semut yang ditemukan di tiga tipe habitat.Kata kunci: Keanekaragaman, Habitat, Hutan Sekunder, Semut Terstria
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT SENGON (Paraserianthes falcataria) PADA MEDIA CAMPURAN PMK, COCOPEAT DAN PUPUK KOTORAN AYAM DI PERSEMAIAN BPDAS KOTA PONTIANAK
The first step in the development of sengon plants can be done by increasing healthy and uniform plant nurseries, one of which is by using suitable planting media, namely a combination of PMK soil, cocopeat, and chicken manure. This study aims to obtain the best proportion of PMK, cocopeat and chicken manure on the growth of sengon seedlings in the BPDAS nursery in Pontianak City. The research method used was an experiment with a completely randomized design. The research treatment was the comparison of the planting medium of PMK soil, cocopeat, and chicken manure with 6 treatment levels (v/v/v). The treatment referred to is PMK (control); (7:0:4); (7:1:3); (7:2:2); (7:3:1); (7:4:0). All treatments were repeated 5 times, with each replication being sampled so that the total sample of seeds was 30 plants. The observation variables consist of increase in stem height, increase in stem diameter, increase in the number of leaves, wet weight, dry weight, shoot root ratio and seed quality index. The results showed that the ratio of PMK, cocopeat and chicken manure was able to increase seedling height increase, stem diameter increase, increase in leaf number, plant biomass and seed quality index value. The best proportion of the planting medium for PMK, cocopeat, and chicken manure for the growth of sengon seedlings in the nursery in treatment E was 7: 3: 1 and D was 7: 2: 2. Keywords: chicken manure, cocopeat, sengon seeds, reforestation AbstrakLangkah awal dalam pengembangan tanaman sengon dapat dilakukan dengan meningkatkan pembibitan tanaman yang sehat dan seragam salah satunya dengan menggunakan media tanam yang sesuai yaitu dengan kombinasi tanah PMK, cocopeat, dan pupuk kotoran ayam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan proporsi media PMK, cocopeat dan pupuk kotoran ayam terbaik terhadap pertumbuhan bibit sengon di persemaian BPDAS Kota Pontianak. Metode penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan penelitian yaitu perbandingan media tanam tanah PMK, cocopeat, dan pupuk kotoran ayam dengan 6 taraf perlakuan (v/v/v). Perlakuan yang dimaksud yaitu PMK (kontrol); (7:0:4); (7:1:3); (7:2:2); (7:3:1); (7:4:0). Semua perlakuan diulang sebanyak 5 kali, dengan masing-masing ulangan menjadi sampel sehingga sampel bibit seluruhnya yaitu 30 tanaman. Variabel pengamatan terdiri dari pertambahan tinggi batang, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah helai daun, bobot basah, bobot kering, rasio pucuk akar dan indeks mutu bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan media PMK, cocopeat dan pupuk kotoran ayam mampu meningkatkan pertambahan tinggi bibit, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, biomassa tanaman dan nilai indeks mutu bibit. Proporsi perbandingan media tanam PMK, cocopeat, dan pupuk kotoran ayam yang terbaik untuk pertumbuhan bibit sengon di persemaian pada perlakuan E yaitu 7:3:1 dan D yaitu 7:2:2.Kata kunci : bibit sengon, cocopeat, pupuk kotoran ayam, reboisasi
KEANEKARAGAMAN JENIS SEMUT ARBOREAL DI KEBUN RAYA SAMBAS KALIMANTAN BARAT
Ants belong to the order Himenoptera and the family Formicidae. Ants are insects that have a fairly high diversity. The presence of ants in a habitat is inseparable from the availability of food and the suitability of environmental conditions. This study aims to record the diversity of arboreal ant species in the Sambas Botanical Garden, West Kalimantan. This study was conducted using a purposive sampling method where the observation paths are placed based on the physical and biological conditions that affect the presence of ants. There are three observation paths for three types of forests. One observation path was prepared for each forest type. The three types of forest are lowland forests, riparian forests and swamp forests. Sampling of ants is carried out using adhesive paper (Fly sheet) with fresh fish bait placed in the middle of the tree. The results of the study found 12 species of ants belonging to four subfamilies. Based on their habitat the species of ants found in lowland forests are Polyrhachis aspasia, Oecophylla smaragdina, Camponotus autrani, Crematogaster ferrari, Cataulacus latissimus, Monomorium antipodum, Crematogaster inflata and Leptogenys diminuta. Ant species found in riparian forests are Leptogenis diminuta, Aphaenogaster geei, Crematogaster ferrari and Prenolepis naoroji. Species of ants found in swampy forests are Camponotus melanus, Polyrhachis aspasia, Crematogaster ferrari, Crematogaster inflata and Tetraponera nodosa.Keywords: Arboreal Ants, Diversity, Sambas Botanical Gardens, West KalimantanAbstrakSemut termasuk dalam ordo Himenoptera dan famili Formicidae. Semut merupakan serangga yang memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi. Keberadaan semut dalam suatu habitat tidak lepas dari ketersediaan makanan dan kesesuaian kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman jenis semut arboreal di Kebun Raya Sambas, Kalimantan Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan penempatan jalur pengamatan dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan biologis yang mempengaruhi keberadaan semut di lapangan. Terdapat tiga jalur pengamatan untuk tiga jenis hutan, dimana setiap jenis hutan memiliki satu jalur pengamatan yaitu hutan dataran rendah, hutan riparian dan hutan rawa. Pengambilan sampel semut dilakukan dengan menggunakan kertas perekat (Fly sheet) yang diletakkan di tengah pohon dengan umpan ikan segar. Dari hasil penelitian ditemukan 12 spesies semut yang termasuk dalam empat subfamili. Berdasarkan habitatnya jenis semut yang ditemukan di hutan dataran rendah adalah Polyrhachis aspasia, Oecophylla smaragdina, Camponotus autrani, Crematogaster ferrari, Cataulacus latissimus, Monomorium antipodum, Crematogaster inflata dan Leptogenys diminuta. Spesies semut yang ditemukan di hutan riparian adalah Leptogenis diminuta, Aphaenogaster geei, Crematogaster ferrari dan Prenolepis naoroji. Jenis semut yang ditemukan di hutan rawa adalah Camponotus melanus, Polyrhachis aspasia, Crematogaster ferrari, Crematogaster inflata dan Tetraponera nodosa.Kata kunci: Semut Arboreal, Keanekaragaman, Kebun Raya Sambas, Kalimantan Bara
IDENTIFIKASI JENIS BAMBU (Poaceae) DI HUTAN DESA ENGKADIK PADE KECAMATAN AIR BESAR KABUPATEN LANDAK
This research aims to identify and obtain data on morphological characteristics of bamboo in the Engkadik Pade Village Forest of Air Basar District of Landak Regency. The study was conducted for 3 weeks in the field, using the survey method (cruising), data retrieval techniques by creating contour cutting paths, the laying of the first path is done intentionally or purposive sampling, The area of observation is 1 ha. Based on data obtained in the field there are 7 species of bamboo from 4 bamboo genera found. Bamboo munti (Gigantochloa hasskarlaiana), bamboo buluh and bamboo kuning (Schizostachyum brachyladum), bamboo pasa (Schizostachyum flexuosum), bamboo tarek (Gigantochloa levy), bamboo anyang (Dendrocalamus hirtellus), and bamboo batu (Dinochloa sp). The morphological characteristics of bamboo in Engkadik Pade village forest have their own uniqueness and have differentiators of each species, among them bamboo pasa (S. flexuosum) has a small stem and smelt with wavy cheese feathers and a length measuring 8 mm - 10 mm, bamboo buluh and bamboo kuning (S. brachyladum) have triangular upright smelt leaves with a widened base, Green and yellow stems sometimes have a green vertical line along the segment and a yellow line on the leaves, When young hairy white, when adults appear white circles such as scattered panu, Bamboo munti (G. hasskarliana) has a trunk that looks dirty and often appears new branches in the main branch, anyang bamboo (D. hirtellus) has bright green bamboo shoots and stems with a slippery stem surface, Bamboo stone (Dinochloa sp) has a hollow and small stem with a slippery surface, auricles and invisible bamboo shoots growing on a green and white stem book, While bamboo tarek (G. levis) has large bamboo shoots and thick stems with solid black trichome feathers. Keywords: Bamboo, Identification, Species. Village forest, Engkadik Pade AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperoleh data karakteristik morfologi bambu di Hutan Desa Engkadik Pade Kecamatan Air Basar Kabupaten Landak. Penelitian dilakukan selama 3 minggu di lapangan, menggunakan metode survei (jelajah), teknik pengambilan data dengan cara pembuatan jalur memotong kontur, peletakan jalur pertama dilakukan secara sengaja atau purposive sampling, yang luas area pengamatan sebesar 1 ha. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan terdapat 7 jenis bambu dari 4 genus bambu yang ditemukan. Bambu munti (Gigantochloa hasskarlaiana), bambu buluh dan bambu kuning (Schizostachyum brachyladum), bambu pasa (Schizostachyum flexuosum), bambu tarek (pungutan Gigantochloa), bambu anyang (Dendrocalamus hirtellus), dan bambu batu (Dinochloa sp). Karakteristik morfologi bambu di Hutan Desa Engkadik Pade memiliki keunikan tersendiri dan memiliki pembeda masing-masing spesies, diantaranya bambu pasa (S. flexuosum) memiliki batang dan pelepah yang kecil dengan bulu keju bergelombang dan panjang berukuran 8 mm - 10 mm, bambu buluh dan bambu kuning (S. brachyladum) memiliki daun pelepah tegak segitiga dengan dasar yang melebar, batang berwarna hijau dan kuning terkadang terdapat garis vertikal berwarna hijau sepanjang ruas dan garis kuning pada daun, ketika muda berbulu putih, ketika dewasa muncul bulatan-bulatan putih seperti panu yang tersebar, bambu munti (G. hasskarliana) memiliki batang yang terlihat kotor dan sering muncul cabang baru di cabang utama, bambu anyang (D. hirtellus) memiliki rebung dan batang hijau cerah dengan permukaan batang yang licin, batu bambu (Dinochloa sp) memiliki batang tidak berongga dan kecil dengan permukaan yang licin, aurikel dan rebung tak terlihat tumbuh pada buku batang hijau putih, sedangkan bambu tarek (G. levis) memiliki rebung besar dan batang tebal dengan bulu trikoma hitam padat.Kata kunci: Bambu, Identifikasi, Spesies. Hutan Desa, Engkadik Pad
KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK (ORCHIDACEAE) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MELINTANG KABUPATEN SAMBAS
Diversity of orchid species is a natural biological wealth that needs to be disclosed as the carrying capacity of an area as well as supporting educational and research activities. This research aims to measure the level of diversity of natural orchid species found in the Gunung Melintang Nature Tourism Park region. The research was conducted in January 2020 using a survey method with 15 plots double sampling technique with a size of 20 m x 20 m. The data analysis were Importance Value Index (INP), Dominance index (C), Index of Wealth Species (D), Diversity Index (H'), Abundance Index (e) and Species Similarity Index (IS). The results showed the most dominant species is Bromheadia finlaysoniana with an INP is 14,394. The value of species divercity index is 1.0277, which mean that it had moderate diversity. Beside that, the value of dominance index is 0,1098 (no species dominate), species richness index is 5,245 (high) and an abundance index is 0,8967.Keyword: diversity of species, orchid, Gunung Melintang Nature Tourism ParkAbstractKeanekaragaman jenis anggrek merupakan kekayaan alam hayati yang perlu diungkapkan keberadaannya sebagai daya dukung suatu kawasan sekaligus menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat keanekaragaman jenis anggrek alam yang terdapat di kawasan TWA Gunung Melintang. Penelitian dilaksanakan Januari 2020 menggunakan metode survei dengan teknik sampling petak ganda sebanyak 15 petak dengan ukuran 20 m x 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies yang paling mendominasi adalah Bromheadia finlaysoniana dengan INP sebesar 13,394. Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis sebesar 1.0277 artinya memiliki keanekaragaman jenis yang sedang. Selain itu, nilai Indeks Dominansi sebesar 0.1098 (tidak ada spesies yang mendominasi), nilai Indeks Kekayaan Jenis sebesar 5.2450 (tinggi) dan nilai Indeks Kelimpahan sebesar 0.8967. Kata kunci: anggrek, keanekaragaman jenis, TWA Gunung Melintan
JEJAK WARNA DAUN TRUJA (Peristrophe bivalvis) PADA PROSES ECOPRINT BERDASARKAN SUHU PENGUKUSAN
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jejak warna daun truja berdasarkan suhu pada proses ecoprint. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen dengan data kualitatif yang didapatkan dari pengukuran dan pengamatan pada kain yang menggunakan perlakuan suhu (60°C, 80°C dan 100°C). Pengamatan jejak warna menggunakan Munsell Soil Color Chart dan penentuan ruang warna berdasarkan nilai L*a*b* dan diolah menggunakan software Adobe Photoshop. Hasil penelitian diketahui bahwa jejak warna daun truja pada proses ecoprint menghasilkan warna weak red, red dan dark red. Suhu pengukusan 60°C menghasilkan warna weak read dan motif daun terlihat jelas dengan tingkat kecerahan (nilai L) rata-rata 64,09. Suhu pengukusan 80°C menghasilkan jejak warna red dan motif daun terlihat, dengan nilai L rata-rata 66,73. Sedangkan pada suhu pengukusan 100°C, menghasilkan jejak warna paling gelap (dark red) namun motif daun tidak terlihat jelas, dengan nilai L sebesar 63,10.
PENILAIAN DAYA TARIK WISATA ALAM BATU POSOK DI DESA PENYELADI KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU
Sanggau is one of the regencies in West Kalimantan. Sanggau has a potential place to be used as a natural tourist area that is not widely known by many people, such as the Batu Posok natural tourism area located in Penyeladi Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The purpose of this study was to obtain the value of nature tourism attractions and characteristics of Batu Posok natural tourism visitors in Penyeladi Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The method used in this study is the descriptive method. The results of data analysis show that the tourist attraction in Penyeladi Village is 181.8, with a total value of 1,090.8 tourist attractions, the criteria for natural tourist attraction Batu Posok in Penyeladi Village are declared Good (A), which means the potential to be developed as a natural attraction.Keywords: Batu Posok, Sanggau, Nature TourismAbstrakSanggau merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Sanggau memiliki tempat yang potensial untuk dijadikan kawasan wisata alam yang belum banyak dikenal oleh banyak orang, seperti kawasan wisata alam Batu Posok yang terletak di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh nilai daya tarik wisata alam dan karakteristik pengunjung wisata alam Batu Posok di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan daya tarik wisata di Desa Penyeladi adalah 181,8, dengan nilai total 1.090,8 daya tarik wisata, kriteria daya tarik wisata alam Batu Posok di Desa Penyeladi dinyatakan Baik (A), yang berarti potensial untuk dikembangkan sebagai daya tarik alam.Kata Kunci: Batu Posak, Sanggau, Wisata Ala
STUDI PEMANFAATAN ROTAN SEBAGAI BAHAN KERAJINAN OLEH MASYARAKAT DI DESA SIBAU HULU KECAMATAN PUTUSSIBAU UTARA KABUPATEN KAPUAS HULU
Rattan is a forest product or non-timber plant that lives and grows in tropical forests and is very suitable to be planted in Indonesia. Rattan is not only used for its stems but also its roots, leaves and fruit for daily needs. This study aims to identify the types of rattan, analyze the parts of rattan and record the types of rattan utilization. The results of this study are expected to provide scientific data and information regarding the Study of Rattan Utilization for the Community in Sibau Hulu Village as well as preserving the knowledge of the local community and as a form of information on how to process rattan by the people of Sibau Hulu Village. This research was conducted in Sibau Hulu Village, North Putussibau District, Kapuas Hulu Regency. The time of study was carried out from April 6 to May 6, 2021. The method used in this study was the survey method. The data collection techniques used in the study were interviews, questionnaires, and the selection of respondents' samples was carried out by purposive sampling as many as 77 families from 330 families in Sibau Hulu Village. Based on the results of the study showed that there were 6 types of rattan used in Sibau Hulu Village. The stages of rattan processing are the traditional harvest stage, the cleaning stage, the drying stage, and the last stage is weaving. The results of data analysis showed that the parts of the rattan used were stems, fruits and reeds. There are 14 types of rattan utilization that are used as handicrafts. The resulting craft motifs have 5 motifs with 8 types of woven.Keywords: Crafts, community, rattan, utilizationAbstrakRotan merupakan salah satu tanaman hasil hutan atau bukan kayu yang hidup dan tumbuh di hutan tropis dan sangat cocok ditanam di Indonesia. Rotan tidak hanya dimanfaatkan batangnya tetapi juga akar, daun dan buahnya untuk kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis rotan, menganalisis bagian-bagian rotan dan mencatat jenis-jenis pemanfaatan rotan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi ilmiah mengenai Kajian Pemanfaatan Rotan Bagi Masyarakat di Desa Sibau Hulu serta melestarikan pengetahuan masyarakat setempat dan sebagai bentuk informasi cara pengolahan rotan oleh masyarakat. Desa Sibau Hulu. Penelitian ini dilakukan di Desa Sibau Hulu, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 6 April sampai dengan 6 Mei 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara, kuesioner dan pemilihan sampel responden dilakukan secara proposive sampling sebanyak 77 KK dari 330 KK di Desa Sibau Hulu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis rotan yang digunakan di Desa Sibau Hulu. Tahapan pengolahan rotan adalah tahap panen tradisional, tahap pembersihan, tahap pengeringan, dan tahap terakhir adalah menenun. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bagian rotan yang digunakan adalah batang, buah dan alang-alang. Ada 14 jenis pemanfaatan rotan yang digunakan sebagai kerajinan tangan. Motif kerajinan yang dihasilkan memiliki 5 motif dengan 8 jenis anyaman.Kata kunci: Kerajinan, masyarakat, rotan, pemanfaata
KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA PADA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI DESA SUNGAI NILAM KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS
The mangrove ecosystem is an ecosystem that significantly contributes to the availability of organic detritus, which plays an essential role as a source of energy for biota living in the surrounding waters. The condition of the mangrove forest in Sungai Nilam Village is a natural mangrove forest, and there is no exceptional management by the local community. The mangrove forest of Sungai Nilam Village is also a habitat for gastropods that are often used by the community as food for consumption. One of the biotas that inhabit mangrove forests is Gastropods. This study aims to examine the diversity of gastropod species in the mangrove forest ecosystem in Sungai Nilam Village, Jawai District, Sambas Regency, in May-June 2019. Sampling used survey methods and data collection techniques using purposive sampling by making three observation lines. This research is divided into three research lines divided into 3, namely front, close to the river, middle, and rear, close to land vegetation. Determination of the path based on the survey results, namely by making a direction parallel to the river line, starting to find gastropods. For each research path of 300 m, ten plots will be made with a size of 1 X 1 meter. The distance between fields is 30-meters, and the distance between lanes is 250 meters. The results of the research that has been done found that there are eight types of gastropods from 4 families. The types of gastropods found were Cerithidea abtusa, Cerithidea cingulata, Cassidula auriferis, Cassidula nucleus, Ellobium aurisjudae, Nerita violacea, Littoraria scabra, Pythia plicata.Keywords: Gastropods, Species Differences, Mangrove EcosystemAbstrakEkosistem mangrove merupakan ekosistem yang memberikan kontribusi besar terhadap ketersediaan detritus organik, yang berperan penting sebagai sumber energi biota yang hidup di perairan sekitarnya. Kondisi hutan mangrove di Desa Sungai Nilam adalah hutan mangrove yang alami dan tidak ada pengelolaan secara khusus oleh masyarakat setempat. Hutan mangrove Desa Sungai Nilam juga menjadi habitat gastropoda yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan konsumsi. Salah satu biota yang menghuni hutan mangrove adalah Gastropoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman jenis gastropoda, pada ekosistem hutan mangrove di Desa Sungai Nilam Kecamatan Jawai Kabutepaten Sambas pada Mei-Juni 2019. Pengambilan sampel menggunakan metode survey dan teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling dengan membuat 3 jalur pengamatan. Penelitian ini dibuat menjadi 3 jalur penelitian yang terbagi menjadi 3 yaitu depan dekat dengan sungai, tengah dan belakang dekat dengan vegetasi darat. Penentuan jalur berdasarkan hasil survey yaitu dengan membuat jalur sejajar garis sungai mulai ditemukannya gastropoda. Setiap jalur penelitian sepanjang 300 m akan dibuat 10 plot dengan ukuran 1 X 1 meter. Jarak antar plot 30-meter dan jarak antar jalur adalah 250 meter. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa terdapat 8 jenis gastropoda dari 4 famili. Jenis-jenis gastropoda yang ditemukan adalah Cerithidea abtusa, Cerithidea cingulata, Cassidula auriferis, Cassidula nucleus, Ellobium aurisjudae, Nerita violacea, Littoraria scabra dan Pythia plicata. Kata Kunci: Gastropoda, Perbedaan Spesies, Ekosistem Mangrov
LAJU PENGURAIAN SERASAH DAUN (Rhizophora spp.) DI LAHAN REHABILITASI MANGROVE KELURAHAN SETAPUK BESAR KECAMATAN SINGKAWANG UTARA
The land for mangrove forest rehabilitation in Setapuk Besar Village, North Singkawang District is quite alarming due to abrasion and seawater intrusion. Leaf litter decomposition of Rhizophora spp. produce essential nutrients that function as a source of food and support the life of mangrove plants. The purpose of this study was to calculate the rate of decomposition of leaf litter of mangrove Rhizophora spp. in the rehabilitation area of mangrove forests and obtain the amount of nutrient content (C-organic, N, P) from mangrove leaf litter released during the decomposition process. This study uses a survey method with a purposive technique with reference to the category of planting year (2007, 2010, 2013 and 2016). Rhizophora spp. leaf litter decomposition rate. The highest was found at station II with a value of 0.13 (gr/day) while the lowest decompositcccpion rate was found at stations II, III and IV with a value of 0.12 (gr/day). The highest value of carbon (C-organic) content was found at station II at 52.39%, the lowest value was at station IV at 49.20%. The highest value of nitrogen content was found at station I of 1.21%, while the lowest value was found at station IV at 0.76%. The highest value of phosphorus nutrient content was found at station III of 0.30%, while the lowest value was found at station II of 0.25%.Keywords: Decomposition Rate, Litter, Mangrove AbstrakLahan rehabilitasi hutan mangrove yang berada di Kelurahan Setapuk Besar Kecamatan Singkawang Utara cukup memprihatinkan yang disebabkan oleh abrasi dan intrusi air laut. Penguraian serasah daun Rhizophora spp. menghasilkan unsur hara yang esensial berfungsi sebagai sumber makanan dan penyangga kehidupan tanaman mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung nilai laju dekomposisi serasah daun mangrove Rhizophora spp. di lahan rehabilitasi hutan mangrove dan mendapatkan jumlah kandungan unsur hara (C-organik, N, P) dari serasah daun mangrove yang dilepas selama proses terurai. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive dengan mengacu pada kategori tahun tanam (2007, 2010, 2013 dan 2016). Laju penguraian serasah daun Rhizophora spp. tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai sebesar 0,13 (gr/hari) sedangkan untuk laju penguraian terendah terdapat pada stasiun II, III dan IV dengan nilai sebesar 0,12 (gr/hari). Nilai kandungan Karbon (C-organik) tertinggi terdapat pada stasiun II sebesar 52,39%, nilai terendah terdapat pada stasiun IV sebesar 49,20%. Nilai kandungan Nitrogen yang tertinggi terdapat pada stasiun I sebesar 1,21%, sedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun IV sebesar 0,76%. Nilai kandungan unsur hara Posfor tertinggi terdapat pada stasiun III sebesar 0,30%, sedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun II sebesar 0,25%.Kata kunci: Laju penguraian, mangrove, serasah, Setapuk Besa