JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU SEBAGAI PENGHASIL KERAJINAN ANYAMAN OLEH MASYARAKAT DESA NIPAH KUNING KECAMATAN SIMPANG HILIR KABUPATEN KAYONG UTARA
Non-timber forest products are biological forest products, both vegetable and animal along with their derivative and cultivation products, except wood originating from the forest. The purpose of this study was to obtain the types of non-timber forest products used for woven handicrafts and how to manage them. This research was conducted in Nipah Kuning Village, Simpang Hilir District, North Kayong Regency for four weeks. This study uses a survey method (in-depth interview) by using provosive sampling to determine the respondents. Data collected by interview, observation, and documentation. The results show that there are three types of plants that are used by the communities for weaving crafts, namely bamboo (Schizosstzchyum zolligeri steud), nipah (Nypa fruticans), pandanus (Pandanus tectorius). This type of plant is used as a raw material for woven crafts. Reed / Bamboo is used as basket and nyiru products. Nipah leaves are made for leaf roofing products and baskets. Pandan leaves are made for woven mats and bags.Keywords: Non-Wood Forest Products, Types of Plants, Woven Handicrafts AbstrakHasil hutan bukan kayu adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidayanya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan untuk kerajinan tangan anyaman dan cara pengelolahanya. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Nipah Kuning Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara selama empat minggu. Penelitian ini menggunakan metode survey (wawancara mendalam) dengan menggunakan purposive sampling untuk menentukan responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa ada tiga jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat untuk kerajinan anyaman yaitu bambu (Schizosstzchyum zolligeri steud), nipah (Nypa fruticans wurmb), pandan (Pandanus tectorius parkinson). Jenis tumbuhan ini digunakan sebagai bahan baku kerajinan anyaman. Buluh / Bambu dijadikan produk bakul dan nyiru. Daun nipah dibuat menjadi produk atap daun dan bakul. Daun pandan dibuat menjadi produk anyaman tikar dan tas.Kata Kunci: Hasil Hutan Bukan Kayu, Jenis Tumbuhan, Kerajinan Tangan Anyama
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DIURNAL DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM TANJUNG BELIMBING DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS
Tanjung Belimbing Nature Park, located in Sebubus Village, Paloh District, Sambas Regency, is a conservation area that has area of 810.30 hectares. This area stores various kinds of plants and animals, one of which is birds. This research was conducted to obtain data on the diversity of diurnal bird species found in the Tanjung Belimbing TWA area. This research was conducted on 3 types of land cover (coastal forest, secondary forest, and mangrove forest). The method used is the path method combined with the IPA point calculation method with direct observation of the research object. The results of this study obtained 1711 individual birds with 31 species, 6 orders, and 22 families. 4 of them are protected species: Chinese egret (Egretta eulophotes), bondol eagle (Haliastur indus), striped fan (Rhipidura javanica), gray cucak (Pycnonotus cyaniventris). The diversity index value in the Tanjung Belimbing TWA area from 2.39 to 2.65 is included in the medium class. The dominance index value is low below 0.5 so that no bird species dominate. The high evenness index value for all habitat types is above 0.75 so that the distribution of individuals between species in a community is balanced with the same number of individuals. The average wealth index value shows a high value above 4, this indicates that the Tanjung Belimbing TWA area is inhabited by birds. Similarity index values show different values, namely index values above 50% have the same type, while index values below 50% have different types or not.Keywords: Diurnal Bird, Diversity Species, Land cover, TWA Tanjung BelimbingAbstractTaman Wisata Alam Tanjung Belimbing yang terletak di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, merupakan kawasan konservasi yang memiliki luas 810,30 hektar. Kawasan ini menyimpan berbagai macam tumbuhan dan hewan, salah satunya adalah burung. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis burung diurnal yang terdapat di kawasan TWA Tanjung Belimbing. Penelitian ini dilakukan pada 3 jenis tutupan lahan (hutan pantai, hutan sekunder, dan hutan mangrove). Metode yang digunakan adalah metode jalur yang dipadukan dengan metode penghitungan titik IPA dengan pengamatan langsung ke objek penelitian. Hasil penelitian ini diperoleh 1711 individu burung dengan 31 spesies, 6 ordo dan 22 famili. 4 diantaranya merupakan satwa yang dilindungi: Kuntul cina (Egretta eulophotes), elang bondol (Haliastur indus), kipasan belang (Rhipidura javanica), cucak abu-abu (Pycnonotus cyaniventris). Nilai indeks keanekaragaman di kawasan TWA Tanjung Belimbing 2,39 – 2,65 termasuk dalam kelas sedang. Nilai indeks dominasi rendah di bawah 0,5 sehingga tidak ada jenis burung yang mendominasi. Nilai indeks kemerataan tinggi untuk semua tipe habitat yaitu diatas 0,75 sehingga distribusi individu antar spesies dalam suatu komunitas seimbang dengan jumlah individu yang sama. Nilai indeks kekayaan rata-rata menunjukkan nilai yang tinggi di atas 4, hal ini menunjukkan bahwa kawasan TWA Tanjung Belimbing banyak dihuni oleh burung. Nilai indeks kesamaan menunjukkan nilai yang berbeda yaitu nilai indeks di atas 50% memiliki jenis yang sama, sedangkan nilai indeks di bawah 50% memiliki jenis yang berbeda atau tidak.Kata Kunci: Burung Diurnal, Keanekaragaman Jenis, Tutupan Lahan, TWA Tanjung Belimbin
ETNOZOLOOGI UNTUK RITUAL ADAT MASYARAKAT DAYAK KANAYATN DI DESA ANTAN RAYAN KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK
The people of Kalimantan from various tribes use animals for their daily needs such as consumption needs, traditional rituals, medicine, decoration, supernatural and commercial activities, equipment and others. One of the indigenous tribes in West Kalimantan is the Kanayatn Dayak tribe located in Antan Rayan Village, Ngabang District, Landak Regency. The use of animals by the Kanayatn Dayak Community has become a hereditary culture from their ancestors. The purpose of this study was to record the types of animals used for traditional rituals and how to use them by the Kanayatn Dayak community. This study uses data collection methods, namely by field surveys, interviews and direct observations in the field, for data collection by snowball sampling technique, namely by determining respondents to then determine other respondents based on information from previous respondents, and so on. The results showed that the number of animals used for traditional rituals by the Kanayatn Dayak people in Antan Rayan Village, Ngabang District, Landak Regency, were 16 species of animals from 11 families. Animal parts used for traditional rituals are the whole body, head, blood, feathers, bile, and oil. The main customs that must be used by the Kanayant Dayak community are pork, free-range chicken, palm wine, and flour with the distribution of rice mixed with chicken blood. Keywords: Ritual Custom, Kanayatn Dayak, EthnozoologyAbstrakMasyarakat Kalimantan dari berbagai suku menggunakan hewan untuk kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan konsumsi, ritual adat, obat-obatan, dekorasi, kegiatan supranatural dan komersial, peralatan dan lain-lain. Salah satu suku asli di Kalimantan Barat adalah Suku Dayak Kanayatn yang terletak di Desa Antan Rayan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak. Pemanfaatan satwa oleh Masyarakat Dayak Kanayatn sudah menjadi budaya turun temurun dari nenek moyang mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendata jenis-jenis satwa yang digunakan untuk ritual adat dan cara pemanfaatannya oleh masyarakat Dayak Kanayatn. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yaitu dengan cara survey lapangan, wawancara dan observasi langsung di lapangan, untuk pengumpulan data dengan teknik snowball sampling yaitu dengan cara menentukan responden untuk kemudian menentukan responden lain berdasarkan informasi dari responden sebelumnya, dan seterusnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah satwa yang digunakan untuk ritual adat oleh masyarakat Dayak Kanayatn di Desa Antan Rayan Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak sebanyak 16 jenis satwa dari 11 famili. Bagian satwa yang digunakan untuk ritual adat adalah seluruh tubuh, kepala, darah, bulu, empedu, dan minyak. Adat pokok yang wajib digunakan oleh masyarakat Dayak Kanayant adalah babi, ayam kampung, tuak, dan tepung dengan pembagian nasi campur darah ayam. Kata Kunci: Ritual Adat, Dayak Kanayatn, Etnozoolog
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN HUTAN TEMBAWANG DI DESA BILAYUK KECAMATAN MEMPAWAH HULU KABUPATEN LANDAK
The Tembawang forest is one of the cultures of the local community in utilizing land as a forest to meet their daily needs. One of the tembawang forests is still sustainable is managed by the indegenous people of Bilayuk Village, Mempawah Hulu District, Landak Regency. The aim of the study was to examine the community's perception of the existence of the Tembawang forest and to analyze the relationship between age, cosmopolitan and community income factors. The method used is a survey method with data collection carried out through direct interviews with respondents, data analysis using qualitative-quantitative descriptive analysis and inferential analysis. The results showed that people's perceptions of the existence of the Tembawang forest with respondents tended to be neutral with a frequency of 54 and a percentage of 70%. The relationship between the dependent variable and the independent variable is: cosmopolitan level with a correlation of 0.260 sig 0.023 significant, income with a correlation of 0.225 sig 0.049 significant while age level correlation 0.018 sig 0.873 not significant.Keywords: Bilayuk Village, public perception, age level, cosmopolitan, tembawang forest, income.AbstrakHutan tembawang merupakan salah satu budaya dari masyarakat lokal dalam memanfaatkan lahan sebagai hutan guna pemebuhan kebutuhan sehari-hari. Salah satu hutan tembawang yang masih lestari dikelola oleh masyarakat Desa Bilayuk Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak. Tujuan penelitian untuk mengkaji persepsi masayarakat terhadap keberadaan hutan tembawang dan menganalisis hubungan faktor tingkat umur, kosmopolitan dan pendapatan masyaraka. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan data dilakukan melalui melalui wawancara langsung terhadap responden, analisis data mengunakan analisis deskritif kualitatif-kuantitatif dan analisis inferensial. Hasil penelitian menunjukan persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan tembawang dengan responden cenderung netral dengan frekuensi 54 dan persentase 70%. Hubungan variable terikat dan variable bebas yaitu: tingkat kosmopolitan dengan correlation 0,260 sig 0,023 signifikan, pendapatan dengan correlation 0,225 sig 0,049 signifikan sedangakan tingkat umur corelasi 0,018 sig 0,873 tidak signifikan.Kata kunci: Desa Bilayuk, persepsi masyarakat, tingkat umur, kosmopolitan, pendapatan
PEMANFAATAN PURIK (Mitragyna speciosa Korth.) OLEH MASYARAKAT DESA KALIS RAYA KECAMATAN KALIS KABUPATEN KAPUAS HULU
Purik grows well in the tropics, especially in Kapuas Hulu, West Kalimantan. People use Purik as herbal products and also sell them domestically and abroad. Kalis Raya village is an area where purik plants grow. The purpose of the study to record a type of Purik used by people of Kalis Raya Village, Kalis District, Kapuas Hulu Regency. Record utilization, cultivation, and marketing. The method used surveys with interview techniques. There are two varieties of Purik found, identified through the color of leaf veins, Purik red and green vein colors. The use of both varieties leaf parts as medicinal materials and sold and stems as firewood. The use-value of Purik (UV) as traditional medicine is 0.091, herbal materials for sale 1.00, and firewood 0.132. The result of use-value (UV) data analysis is 1.23, which is a category of plants, not a priority species (03). Purik traditional medicine use for outer wounds has the highest Fidelity Percentage (FL) of 100%, and purik usability for diabetes and cosmetics is the lowest at 16.67%. Farmers' income sells wet leaves on average Rp. 10,174,798 for one harvest (6 months). Farmers sell fresh leaves to steamers, then processed into dried leaves, crumbs, and powders. Low steamers sell products to high steamers who are exporters.Keywords: Cultivation, Fadelity level (FL), Marketing, Mitragyna speciosa, Use value (UV) AbstrakPurik tumbuh baik di daerah tropis terutama di Kapuas hulu Kalimantan Barat. Masyarakat memanfaatkan purik sebagai produk herbal dan juga menjualnya ke dalam dan luar negeri. Desa Kalis Raya merupakan salah satu kawasan tempat tumbuhnya purik. Tujuan penelitian ini adalah mendata jenis purik yang dimanfaatkan masyarakat Desa Kalis Raya Kecamatan Kalis Kabupaten Kapuas Hulu, mendata pemanfaatan, pembudidayaan, dan pemasaran. Metode yang digunakan survei dengan teknik wawancara. Terdapat dua varietas purik yang ditemukan, diidentifikasi melalui warna vena daun, warna vena merah dan hijau. Pemanfaatan kedua varietas purik tersebut diantaranya bagian daun sebagai bahan obat dan dijual serta batang sebagai kayu bakar. Nilai Kegunaan purik (UV) sebagai obat tradisional sebesar 0,091, bahan obat untuk dijual 1,00 dan kayu bakar 0,132. Hasil analisis data UV sebesar 1,23 termasuk kategori tanaman bukan spesies prioritas (03). Penggunaan obat tradisional purik untuk luka luar memiliki Persentase Fidelity level (FL) tertinggi 100%, dan kegunaan purik untuk diabetes dan kosmetik terendah yaitu 16,67%. Pendapatan petani menjual daun basah rata-rata Rp.10.174.798 untuk sekali panen (6 bulan). Petani menjual daun segar kepada pengepul selanjutnya diproses menjadi daun kering, remahan dan serbuk. Pengepul kecil menjual kepengepul besar yang merupakan eksportir.Kata Kunci: Pembudidayaan, Tingkat Penggunaan, Pemasaran, Mitragyna Speciosa, Nilai Kegunaan (UV)
IDENTIFIKASI JENIS RAYAP DI DUSUN SANGKU DESA PANCAROBA KECAMATAN SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA
This study aims to identify the species of termites that attack rubber plantation in Sangku Hamlet, Pancaroba Village, Sungai Ambawang District, Kubu Raya Regency. This research was conducted using a field survey with a sampling technique using a survey line along 100 x 2 meters divided into 20 blocks (5 x 2 meters). Each blocks is divided into small blocks in size 5 x 1 meter to simplify the survey. Termites from the soldier caste were taken and then identified in the Wood Technology Laboratory of Forestry Faculty of Tanjungpura University. The survey in rubber plantation with a total of 20 blocks found seven species of termites. The species of termite found in blocks 1, 14, 19 and 20 are Termes Laticornis, in blocks 1,3, 4, 6, 7, 9, 17 are Schedorlunoternes sarawakensis, in block 2 is Coptotermes curvignathus, in blocks 3, 6 are Schedorhinotermes malacensis, in blocks 5, 10 are Lacessittermes laborator, in block 7 is Prorhinotermes flavus, in blocks 11, 12 are Coptotermes havilandi, while in blocks 13, 15, 16 and 18, there were no termite found in the these block.Keywords : Identification, Kubu Raya Regency, rubber plantation, termite.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis rayap yang menyerang tanaman karet di Dusun Sangku, Desa Pancaroba, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei lapangan dengan teknik pengambilan sampel menggunakan garis survei sepanjang 100 x 2 meter yang dibagi menjadi 20 blok (5 x 2 meter). Setiap blok dibagi menjadi blok-blok kecil berukuran 5 x 1 meter untuk mempermudah survei. Rayap dari kasta prajurit diambil kemudian diidentifikasi di Laboratorium Teknologi Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Survei di perkebunan karet dengan total 20 blok ditemukan tujuh jenis rayap. Jenis rayap yang terdapat pada blok 1, 14, 19 dan 20 adalah Termes Laticornis, pada blok 1,3, 4, 6, 7, 9, 17 adalah Schedorlunoternes sarawakensis, pada blok 2 adalah Coptotermes curvignathus, pada blok 3, 6 adalah Schedorhinotermes malacensis, di blok 5, 10 adalah Lacessitermes laborator, di blok 7 adalah Prorhinotermes flavus, di blok 11, 12 adalah Coptotermes havilandi, sedangkan di blok 13, 15, 16 dan 18 tidak ditemukan rayap di blok tersebut.Kata kunci : Identifikasi, Kabupaten Kubu Raya, perkebunan karet, raya
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT DI KELURAHAN SEBALO KECAMATAN BENGKAYANG KABUPATEN BENGKAYANG
Medicinal plants are the use of biodiversity that is around us, both cultivated plants and wild plants. Since ancient times, plants have been used as medicine. The use of plants as medicine is also still carried out by the Bengkayang community, one of which is in Sebalo Village, Bengkayang District, Bengkayang Regency. Since ancient times, people have used plants as a treatment for all kinds of diseases. The purpose of this study is to determine the types of plants used as medicine and to know the parts and benefits of medicinal plants found in Sebalo Village, Bengkayang District, Bengkayang Regency. The research was conducted using descriptive methods, namely survey and interview techniques. Collecting data in the form of qualitative data directly in the field to informants, the data collected includes primary and secondary data. Sampling/respondents were carried out by Snowball Sampling. Data analysis was carried out by qualitative descriptive analysis, namely describing the data collected in the form of words, pictures, and not numbers. Based on the results of interviews with the people of Sebalo Village, Bengkayang District, Bengkayang Regency, there are 31 types of medicinal plants and 22 families that are used by the community. The medicinal plants found in the field were 5 species of trees, 11 species of shrubs, 13 species of herbs, and 3 types of lianas. The method of processing these medicinal plants, starting from boiling, burning, pounding, kneading, sliced, and directly used . Based on the method of processing, most medicinal plants are processed by boiling as many as 16 types of medicinal plants. While the least is by chewing and burning. The use of medicinal plants is mostly done by drinking 24 types, and the least is by eating and rubbing, which is only 1 type.Keywords : Bengkayang Regency, Medicinal plants, Sebalo village, UtilizationAbstrakTumbuhan obat merupakan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita, baik tumbuhan budidaya maupun tumbuhan liar. Sejak zaman kuno, tanaman telah digunakan sebagai obat. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat juga masih dilakukan oleh masyarakat Bengkayang salah satunya di Desa Sebalo Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang. Sejak zaman kuno, orang telah menggunakan tanaman sebagai pengobatan untuk segala macam penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat serta mengetahui bagian dan manfaat tumbuhan obat yang terdapat di Desa Sebalo Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu teknik survei dan wawancara. Pengumpulan data berupa data kualitatif langsung di lapangan kepada informan, data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Pengambilan sampel/responden dilakukan dengan Snowball Sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan data yang terkumpul dalam bentuk kata-kata, gambar, dan bukan angka. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat Desa Sebalo Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang terdapat 31 jenis tanaman obat dan 22 famili yang dimanfaatkan masyarakat. Jenis tumbuhan obat yang ditemukan di lapangan adalah 5 jenis pohon, 11 jenis perdu, 13 jenis herba, dan 3 jenis liana. Cara pengolahan tanaman obat ini, mulai dari direbus, dibakar, ditumbuk, diuleni, diiris, dan langsung digunakan. Berdasarkan cara pengolahannya, tanaman obat paling banyak diolah dengan cara direbus yaitu sebanyak 16 jenis tanaman obat. Sedangkan yang paling sedikit adalah dengan cara dikunyah dan dibakar. Pemanfaatan tumbuhan obat paling banyak dilakukan dengan cara diminum 24 jenis, dan paling sedikit dengan cara makan dan gosok yang hanya 1 jenis.Kata Kunci : Kabupaten Bengkayang, Tanaman Obat, Desa Sebalo, Pemanfaata
SIFAT FISIK MEKANIK PAPAN PARTIKEL DARI SERAT KULIT BATANG SAGU (Metroxylon spp) BERDASARKAN RASIO ASAM SITRAT-SUKROSA
This particle board is made of sago stem bark fibers, which are processing wastes using sucrose citric acid without formaldehyde emission. The purpose of the study was to test the physical and mechanical properties of sago stem bark fiber particleboard based on citric acid and sucrose ratios to obtain optimal particle board physical and mechanical properties. Particle boards are made using sago stem bark fibers with a length of 10 cm and use citric-sucrose acid ratio (0/100, 25/75, 50/50, 75/25, 100/0), particle boards are made with a size of 30 cm x 30 cm x 1 cm with a target density of 0.8 gr/cm3. The particle board is pumped hot at 160ºC for 20 minutes with a pressure of 25 kg/cm². Particle board testing refers to the JIS A 5908-2003 type 8 standard. The results showed that the optimal particle board made with citric acid:sucrose ratio (25:75) with a moisture content of 7.98%, thickness swelling 48.87%, water absorption 105.78%, MOE 20,011.34 kg/cm², MOR 214.41 kg/cm², internal bonding strength 1.33 kg/cm² and firmness of screw grip 74.1982 kgKeywords: citric acid, sucrose, particle board, sago stem bark fibers, mechanical physiqueAbstrakPapan partikel ini terbuat dari serat kulit batang sagu yang merupakan limbah hasil pengolahan sagu dengan menggunakan perekat asam sitrat sukrosa tanpa emisi formaldehida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji sifat fisik dan mekanik papan partikel serat kulit batang sagu berdasarkan rasio asam sitrat dan sukrosa dan untuk mendapatkan sifat fisik dan mekanik papan partikel yang optimal. Papan partikel dibuat menggunakan serat kulit batang sagu dengan panjang 10 cm dan menggunakan rasio asam sitrat-sukrosa (0/100, 25/75, 50/50, 75/25, 100/0), papan partikel dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 1 cm dengan target kerapatan 0,8 gr/cm3. Papan partikel dikempa panas pada suhu 160 oC selama 20 menit dengan tekanan 25 kg/cm2. Pengujian papan partikel mengacu pada standar JIS A 5908-2003 Type 8. Hasil penelitian menunjukan bahwa papan partikel optimal yang dibuat dengan rasio asam sitrat: sukrosa (25:75) dengan kadar air 7,98%, pengembangan tebal 48,87%, daya serap air 105,78%, MOE 20.011,34 kg/cm², MOR 214,41 kg/cm², internal bonding 1,33 kg/cm² dan kuat pegang sekrup 74,1982 kg Kata kunci: asam sitrat, sukrosa, papan partikel, serat kulit batang sagu, fisik mekani
KEANEKARAGAMAN JENIS POHON DI HUTAN TEMBAWANG DUSUN TAHAJIAN DESA GOMBANG KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK
Management of the tembawang forest in Tahajian hamlet consists of several types of trees that have the potential to produce unique fruits with economic value. This study aims to obtain data on the diversity of tree species in the Tembawang forest, Tahajian Hamlet, Sengah Temila District, Landak Regency. The research method is a survey method, the placement of the sample using purposive sampling. The observation line consisted of 3 lines and each line had 3 plots at the tree level, so that the number of plots at the tree level was 9, the plots at the pole level were 18 and for the sapling and seedling levels each were 36 plots. According to the INP value in this seedling strata, there are 2 types that have the highest relative frequency and relative density, namely langsat and kelapai, in this sapling strata there are 3 types that have the highest relative frequency, relative density, and relative dominance, namely durian, kelapai , and rubber. In this pole strata, there are 3 types that have the highest relative frequency, relative density, and relative dominance, namely durian, rubber, and langsat. This type shows that there is a community effort to enrich tembawang with fruit-producing tree speciesKeywords: Species Diversity, Tahajian, Tembawang Forest AbstrakPengelolaan hutan tembawang di dusun Tahajian terdiri dari beberapa jenis pohon yang berpotensi untuk menghasilkan buah-buahan unik dengan nilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman jenis pohon yang ada di hutan tembawang dusun Tahajian Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Metode penelitian adalah metode survey, peletakan sample menggunakan purposive sampling. Jalur pengamatan terdiri dari 3 jalur dan setiap jalur terdapat 3 petak ukur tingkat pohon, sehingga jumlah petak ukur tingkat pohon adalah 9, petak ukur tingkat tiang sebanyak 18 dan untuk tingkat pancang dan semai masing-masing sebanyak 36 petak ukur. Hasil penelitian ditemukan 27 spesies pohon untuk semua strata pertumbuhan, 14 famili dengan total individu 498. Menurut Nilai INP pada strata semai ini ada 2 jenis yang mempunyai frekuensi relatif dan kerapatan relatif yang paling tinggi yaitu langsat dan kelampai, pada strata pancang ini ada 3 jenis yang mempunyai frekuensi relatif, kerapatan relatif, dan dominansi relatif yang paling tinggi yaitu durian, kelampai, dan karet. Pada strata tiang ini ada 3 jenis yang mempunyai frekuensi relatif, kerapatan relatif, dan dominansi relatif yang paling tinggi yaitu durian, karet, dan langsat. Jenis ini menunjukan bahwa adanya upaya masyarakat untuk memperkaya tembawang dengan jenis pohon penghasil buah-buahanKata Kunci : Keanekaragaman Jenis, Tahajian, Hutan Tembawan
UJI PERTUMBUHAN RHIZOPHORA STYLOSA DARI DUA SUMBER BENIH DI PERSEMAIAN MANGROVE KELURAHAN SETAPUK BESAR SINGKAWANG
The area of mangrove forest made by the NGO Surya Perdana Mandiri (SPM) in Setapuk Besar Singkawang Village has increased every year. The enthusiasm of the SPM NGO to further increase the area of the mangrove forest is still high. The problem is, the source of mangrove seeds is limited. Therefore, research on the origin of seed sources is needed to produce good seeds for new land revegetation. This study aims to analyzed the growth response of R. stylose seedlings from different seed sources, namely seeds picked directly from the mother tree and seeds that had fallen on the ground. This research method used a completely randomized design (CRD) and uses data analysis with two independent sample t-tests. The results showed that no difference between the treatment of pick from the tree and fall from the tree. The value of the quality index of seeds from the two treatments of seed sources was > 0.09 and showed that both treatments included criteria for seeds that could be used in nurseries. Planting to increase the area of mangrove forest in Setapuk Besar Singkawang Village can be done either with seeds from fallen trees or tree picking.Keyword: mangrove forest, revegetation, Rhizophora stylosaAbstrak Luas kawasan hutan mangrove buatan LSM Surya Perdana Mandiri (SPM) Kelurahan Setapuk Besar Singkawang setiap tahunnya mengalami pertambahan. Semangat LSM SPM untuk semakin menambah luasan hutan mangrove tersebut masih tinggi. Masalahnya, sumber benih tumbuhan mangrove terbatas. Oleh karena itu, penelitian tentang asal sumber benih diperlukan untuk menghasilkan bibit yang baik untuk revegetasi daratan baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis respons pertumbuhan bibit R. stylosa yang berasal dari sumber benih yang berbeda yaitu benih yang dipetik langsung dari pohon induk dan benih yang sudah jatuh di permukaan tanah. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan menggunakan analisis data dengan uji t dua sampel independen. Hasil penelitian menunjukan tidak adanya perbedaan antara perlakuan petik dari pohon dan jatuh dari pohon. Nilai indeks mutu bibit dari kedua perlakuan sumber benih >0,09 dan menunjukan bahwa kedua perlakuan termasuk kriteria bibit yang dapat digunakan dalam pembibitan. Penanaman untuk penambahan luas kawasan hutan mangrove Kelurahan Setapuk Besar Singkawang dapat dilakukan baik dengan benih yang berasal dari jatuh pohon maupun petik pohon.Kata Kunci: hutan mangrove, revegetasi, Rhizophora stylos