JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
PERENCANAAN PEMANFAATAN RUANG PARTISIPATIF SECARA DIGITAL: SEBUAH INOVASI DALAM PEMETAAN PARTISIPATIF
Rural area development is carried out as an effort to accelerate and improve quality of services, development, and empowerment of the village communities. Rural area development should notice the aspirations of the community, especially related to the land use by communities in the village. This research aims to assess the community's ability to use digital participatory mapping techniques. Data collection was carried out through village deliberations using focus group discussion (FGD) techniques and supported by Geographic Information System (GIS). The research results show that the process of land use planning in villages can be carried out using digital mapping technology using the principles of participatory mapping. The community able to understand digital mapping techniques and can transfer mental map knowledge into digital map language with the help of a facilitator. Each village succeeded in producing recommendations for land use planning according to the needs in their respective villages.Keywords: digital mapping, land use planning, rural area development, participatory mapping.AbstrakPembangunan Kawasan Perdesaan dilakukan sebagai upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di desa. Pembangunan Kawasan Perdesaan hendaklah memperhatikan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat, terutama yang terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di desa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknik pemetaan partisipatif secara digital. Pengumpulan data dilakukan melalui musyawarah desa dengan teknik diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion, FGD) dan didukung bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemetaan perencanaan pemanfaatan ruang di desa dapat dilakukan melalui teknologi perpetaan digital dengan memperhatikan prinsip pemetaan partisipatif. Masyarakat mampu memahami teknik pemetaan digital dan dapat melakukan transfer of knowledge mental map ke dalam bahasa peta digital dengan bantuan seorang fasilitator. Setiap desa berhasil menghasilkan rekomendasi perencanaan alokasi pemanfaatan ruang sesuai dengan kebutuhan di desanya masing-masing. Kata kunci: pemetaan digital, perencanaan penggunaan ruang, pembangunan kawasan perdesaan, pemetaan partisipatif.
SIFAT FISIS DAN KEKERASAN PAPAN BLOK DARI BATANG KELAPA SAWIT DAN FINIR JENIS KAYU CEPAT TUMBUH
The oil palm trunk and fast-growing species was the potential as raw materials for blockboard. The quality of composite board can be reflected by the value of physical and mechanical properties that influenced by the characteristics of veneer, board core and type of adhesive and the method of manufacturing. The aim of this research was to produce block boards from oil palm trunk waste and sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen), manii (Maesopsis eminii Engl.), mangium (Acacia mangium Willd.) veneers as surface layers. The size of the blockboards was 35 x 35 x 2.4 cm3. The adhesives used were phenol formaldehyde (PF) and urea formaldehyde (UF) with glue spread of 200 g·m-2. The blockboards were made with a pressure of 15 kg·cm-2 for 10 minutes at 130 oC for PF and 110 oC for UF. The physical and mechanical properties of the boards were tested based on SNI 01-7201, JAS 232 2003 and JIS A 5908-2003 standard. The research results show that the wood veneer species and adhesive types can improved the physical properties and hardness of block board with oil palm trunk core. Moisture content value of the boards had less than 10% and the thickness sweeling had less than 12%. Thickness swelling and delamination were influenced by adhesive types. Block board with PF adhesive have a lower delamination value than bloc board with UF adhesive so it can be used for exterior purposes. The hardness value blockboard fulfil BS standard and recommended for flooring applications.Keywords: adhesives types, blockboard, fast-growing species, oil palm trunk, physical properties and hardnessAbstrakLimbah batang kelapa sawit dan jenis kayu cepat tumbuh mempunyai potensi sebagai bahan baku papan blok. Kualitas papan komposit dapat terlihat dari sifat fisis dan mekanis yang dipengaruhi oleh karakteristik finir, bagian inti papan, jenis perekat, dan metode pembuatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sifat fisis dan kekerasan papan blok dari limbah batang kelapa sawit dan sengon, manii, dan mangium finir sebagai lapisan permukaan. Papan blok berukuran 35 x 35 x 2,4 cm3. Perekat yang digunakan adalah fenol formaldehida (PF) dan urea formaldehida (UF) dengan berat labur sebesar 200 g·m-2. Papan blok dibuar dengan tekanan 15 kg·cm-2 selama 10 minutes pada suhu 130 oC untuk perekat PF and 110 oC untuk perekat UF. Sifat fisis dan kekerasan diuji berdasarkan standar SNI 01-7201, JAS 232 2003, dan JIS A 5908-2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu dan jenis perekat dapat membantu meningkatkan sifat fisis dan kekerasan papan blok dengan inti batang kelapa sawit. Nilai kadar air papan blok dibawah 10% dan pengembangan tebal dibawah 12%. Papan blok dengan perekat PF mempunyai nilai delaminasi lebih kecil dibandingkan papan blok dengan perekat UF dan dapat digunakan sebagai keperluan eksterior. Nilai kekerasan papan blok BKS telah memenuhi Standar British yang direkomendasikan untuk aplikasi lantai.Kata kunci: batang kelapa sawit, jenis kayu cepat tumbuh, jenis perekat, papan blok, sifat fisis dan kekerasa
ANALISIS PEMANFAATAN STRATA VERTIKAL VEGETASI OLEH SPESIES BURUNG PADA AGROFORESTRI BERBASIS KOPI DI AREA HUTAN KEMASYARAKATAN KPHL BATUTEGI: STUDI KASUS DI DESA PENANTIAN DAN SINAR BANTEN, KECAMATAN ULUBELU, KABUPATEN TANGGAMUS
The use of vegetation stratification is closely related to the availability of food sources in that stratification, so that bird activity in utilizing existing habitat space can change, depending on the appearance of the habitat that provides food and other activity needs, such as for perching, nesting, monitoring prey, shelter, and rest. Habitat use can be described vertically which includes four levels, namely the ground surface and undergrowth (E), shrubs and bushes (D), lower canopy (C), middle canopy (B), and upper canopy (A). This research aims to analyze the abundance of bird species and their relationship in utilizing vertical strata of vegetation by bird species on coffee-based agroforestry land. The research was conducted on coffee-based agroforestry land in Penantian and Sinar Villages, Banten. The coffee-based agroforestry land is in the community forest area (Hkm), utilization block, KPHL Batutegi. Data collection was carried out using the point count method. The results obtained were analyzed quantitatively using the species abundance index and the vertical utilization of the canopy was analyzed descriptively. The research results showed that Penantian Village had 11 bird species from 11 families with a total of 82 individuals and Sinar Banten Village had 12 bird species from 11 families with a total of 87 individuals. The highest species abundance index in Penantian Village is the cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) and the cow swift (Collocalia esculenta) at 39% each. The highest abundance index in Sinar Banten Village is the kutilang cucak (Pycnonotus aurigaster) and cow swallow (Collocalia esculenta) with values of 39% and 34%. This shows that the cucak kutilang and the cow swallow are the birds most often found in the two villages. The vertical strata of vegetation used by various types of birds are canopy stratum C (>4-20 m), D (>1-4 m) and E (0-1 M), while canopy stratum A (>30 m) and B (>20-30 m) not found. This describes the condition of the vertical strata of vegetation in coffee-based agroforestry in the two villages which provides food sources, cover for shelter or nesting, and supports other activities only in these three strata.Key words: Agroforestry based-coffee, birds, species abundance, KPHL Batutegi, vertical strata of vegetation.AbstrakPenggunaan stratifikasi vegetasi berhubungan erat dengan ketersediaan sumber pakan pada stratifikasi tersebut, sehingga aktivitas burung dalam memanfaatkan ruang habitat yang ada dapat berubah-ubah, tergantung penampakan habitat yang menyediakan makanan serta kebutuhan aktivitas lain, seperti untuk bertengger, bersarang, mengawasi mangsa, berlindung, dan beristirahat. Penggunaan habitat dapat digambarkan secara vertikal yang meliputi empat tingkat, yaitu permukaan tanah dan tumbuhan bawah (E), perdu dan semak belukar (D), tajuk bagian bawah (C), tajuk bagian tengah (B), dan tajuk bagian atas (A). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan jenis burung serta hubungannya dalam memanfaatkan strata vertikal vegetasi oleh spesies burung pada lahan agroforestri berbasis kopi. Penelitian dilakukan di lahan agroforestri berbasis kopi Desa Penantian dan Sinar Banten. Lahan agroforestri berbasis kopi berada di area hutan kemasyarakatan (Hkm), blok pemanfaatan, KPHL Batutegi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode point count. Hasil yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan indeks kelimpahan jenis dan pemanfaatan vertikal tajuk dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan Desa Penantian terdapat 11 jenis burung dari 11 famili dengan total 82 individu dan Desa Sinar Banten terdapat 12 jenis burung darib11 famili dengan total 87 individu. Indeks kelimpahan jenis tertinggi di Desa Penantian adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan walet sapi (Collocalia esculenta) masing-masing sebesar 39%. Indeks kelimpahan tertinggi di Desa Sinar Banten yaitu cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan walet sapi (Collocalia esculenta) dengan nilai 39% dan 34%. Hal ini menunjukkan bahwa cucak kutilang dan walet sapi adalah burung yang paling sering ditemukan di kedua desa tersebut. Strata vertikal vegetasi yang dimanfaatkan oleh berbagai jenis burung yaitu stratum tajuk C (>4-20 m), D (>1-4 m) dan E (0-1 M), sedangkan stratum tajuk A (>30 m) dan B (>20-30 m) tidak ditemukan. Hal ini menggambarkan kondisi starata vertikal vegetasi pada agroforestri berbasis kopi di kedua desa tersebut yang menyediakan sumber pakan, cover untuk berlindung atau bersarang dan pendukung aktivitas lainnya hanya pada ketiga strata tersebut.Kata kunci: Agroforestri berbasis kopi, burung, kelimpahan jenis, KPHL Batutegi, strata vertikal vegetasi
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN AIR TAWAR KAWASAN BENDUNGAN MEROWI DAN SEKITARNYA DI DESA SEMAYANG KECAMATAN KEMBAYAN KABUPATEN SANGGAU
Merowi dam is the only dam (reservoir) located in Semayang Village, Kembayan District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. The merowi dam was built using Sanggau APBD funds. This study aimed to obtain data on the diversity of freshwater fish species upstream, downstream and around the Merowi Dam, Semayang Village, Kembayan District, Sanggau Regency. This research used survey method. Determination of stations was purposive sampling, where fish sampling was carried out using the catch per unit effort method (Saputra, 2018). Based on the data and research results, six stations obtained 19 types of freshwater fish belonging to 8 families. The dominance index value of the six stations ranged from (C) = 0.21- 0.33, which means that no fish dominates the other species fish. The value of species diversity from the six stations ranged from (H') = 1.28 – 1.74, which means that the species diversity was low. The evenness value of the six stations ranged from (E) = 0.79 – 0.88, which means the level of evenness was low. The value of the species richness index (R) = 0.91 – 2.23 which means the species richness was low. The value of the similarity index at station I – station VI was considered different and was considered to be significantly different.Keywords: Diversity of fish species, Merowi Dam, Semayang Village.AbstrakBendungan merowi merupakan satu-satunya Bendungan (waduk) yang terletak di Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Bendungan Merowi dibangun menggunakan dana APBD Kabupaten Sanggau. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis ikan air tawar dihulu, hilir dan sekitar Bendungan Merowi Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini menggunakan metode Survey penentuan stasiun secara purposive sampling, dimana pengambilan sampel ikan dilakukan dengan metode hasil tangkapan per unit usaha ( Saputra, 2018). Berdasarkan data dan hasil penelitian dimana keenam stasiun didapatkan 19 jenis ikan air tawar yang tergolong dalam 8 family. Nilai indeks dominansi dari keenam stasiun berkisaran antara (C) = 0,21 – 0,33, yang artinya tidak ada ikan yang mendominansi jenis lainnya. Nilai keanekaragaman jenis dari keenam stasiun berkisaran antara (E) = 0,79 – 0,88, yang artinya keanekaragaman jenisnya rendah. Kemerataan jenis dari keenam stasiun berkisar antara (R) = 0,91 – 2,23, yang artinya kekayaan jenisnya rendah. Nilai indek kesamaan jenis distasiun I – stasiun VI dianggap berbeda dan dianggap berbeda nyata.Kata kunci : Keanekaragaman Jenis Ikan, Bendungan Merowi, Desa Semayan
PENDUGAAN KARBON TERSIMPAN DI RUANG TERBUKA HIJAU HUTAN PENDOPO GUBERNUR KOTA PONTIANAK
Urban forests are vital in Pontianak, where environmental problems such as air pollution and rising temperatures are becoming more serious. Pontianak has green-open space in the Pontianak governor's hall. This study aims to obtain biomass and carbon stock data in the green-open space. This study was conducted from August to September 2022. Using non-destructive assessment and allometric equations. Data collection was carried out by implementing a census assessment on each stand with DBH ≥ 5 cm. The study found that as many as 48 tree species with a total of 778 individuals were found where Alstonia scholaris (L.) R. Br counted as the dominant species. The result of this study indicates that there is an increase in biomass and carbon storage compared to the last 5 years of measurement. Above-ground biomass in Pontianak city hall is around 220,32 tons/ha and carbon storage is around 103,43 tons C/ha. It can be estimated that this area sequestered carbon in the form of carbon stocks of ⁓6,63 ton/ha or absorbed 24,3 ton/ha CO2 annually from the atmosphere.Keywords: Carbon stocks, carbon sequestration.Abstrak Keberadaan hutan kota menjadi sangat penting di Kota Pontianak, di mana masalah lingkungan seperti polusi udara dan kenaikan suhu menjadi lebih serius. Kota Pontianak memiliki RTH di hutan pendopo gubernur Kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data tentang biomassa dan simpanan karbon pada ruang terbuka hijau hutan pendopo gubernur Kota Pontianak. Studi ini dilakukan dari Agustus hingga September 2022. Penelitian ini menggunakan metode non-destruktif dan persamaan allometrik, pengumpulan data dilakukan dengan sensus pada setiap tegakan dengan DBH ≥ 5 cm. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 48 jenis pohon dengan jumlah 778 individu yang didominasi oleh Alstonia scholaris (L.) R. Br. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penambahan biomassa dan simpanan karbon setelah 5 tahun pengukuran. Biomassa di hutan pendopo Kota Pontianak berkisar 220,32 ton/ha dan simpanan karbon sekitar 103,43 ton C/ha. Dapat diperkirakan bahwa area ini menyerap karbon dalam bentuk stok karbon ⁓6,63 ton/ha atau menyerap 24,3 ton/ha CO2 per tahun dari atmosfer.Kata kunci: Karbon stok, penyerapan karbon
PEMANFAATAN TUMBUHAN BAHAN PANGAN OLEH MASYARAKAT DI DESA DALAM KECAMATAN SELIMBAU KABUPATEN KAPUAS HULU
The utilization of plants as food continues to grow and increase with research related to the identification and utilization of plants that have potential as food. The purpose of this research is to record what types of plants are used as food ingredients by the people of Desa Dalam and classify how to use and process food plants as food ingredients by the people of Desa Dalam. The research was conducted in Dalam Village for 1 month effectively in the field. The method used was survey and observation with direct interview techniques. Techniques using purprosive sampling. Based on the results of the study, 36 plants were recorded as food ingredients utilized by the community, with 24 families identified and the dominating family was Anacardiaceae. Based on habitus, trees are the most commonly found habitus, which is as many as 18 species (50%). Based on the plant part used is the fruit part, which is 24 species (66.67%). Based on the most widely used food group is vitamins, namely as many as 16 types (44.44%). Based on the way of processing direct consumption is the most common way found, namely as many as 21 types (58.33%). And based on the status of the place of growth, plants that grow wildly and can be cultivated are most commonly found as many as 21 species (58.33%). The highest use value is water spinach (0.45) and the lowest is pineapple (0.20).Keywords: Food Plants, Plant Utilization, Way of UtilizationAbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pangan terus berkembang dan meningkat dengan adanya penelitian terkait identifikasi dan pemanfaatan tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan pangan. Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis-jenis tumbuhan apa saja yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Desa Dalam dan mengelompokkan cara pemanfaatan serta pengolahan tumbuhan pangan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Desa Dalam. Penelitian dilaksanakan di Desa Dalam selama 1 bulan efektif dilapangan. Metode yang digunakan adalah survei dan observasi dengan teknik wawancara langsung. Teknik dengan menggunakan purprosive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 36 tumbuhan yang tercatat sebagai bahan pangan yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan 24 famili teridentifikasi dan famili yang mendominasi adalah Anacardiaceae. Berdasarkan habitus, pohon merupakan habitus yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 18 jenis (50%). Berdasarkan bagian tumbuhan yang digunakan adalah bagian buah, yaitu sebanyak 24 jenis (66,67%). Berdasarkan kelompok pangan yang paling banyak digunakan adalah vitamin, yaitu sebanyak 16 jenis (44,44%). Berdasarkan cara pengolahan konsumsi langsung merupakan cara paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 21 jenis (58,33%). Dan berdasarkan status tempat tumbuh, tumbuhan yang tumbuh secara liar dan dapat dibudidayakan paling banyak ditemukan sebanyak 21 jenis (58,33%). Hasil nilai guna tertinggi yaitu kangkung (0,45) dan terendah yaitu nanas (0,20). Kata kunci: Tumbuhan Pangan, Cara Pemanfaatan, Pemanfaatan Tumbuhan
IDENTIFIKASI POTENSI DAYA TARIK EKOWISATA BUKIT TALAGA DESA AUR SAMPUK KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK
Identification of ecotourism potential is an activity of searching, recording, finding, and registering all that has potential or makes the place attractive for visitors to visit. This study aims to find and explain the existence of objects that are ecotourism attractions in Talaga Hill, Aur Sampuk Village, Sengah Temila District, and Landak Regency. The research method uses data collection techniques with direct field observations and interviews with visitor respondents and the local community with a questionnaire guide. Research shows that the Talaga Hills area has potential as an ecotourism attraction, including biological and non-biological potential. The biological potential is in the form of the presence of moss plants, types of fungi, orchids, corpse flowers (Amorphophallus sp.), fruit-producing trees for consumption, and a diversity of animal species such as lemurs (Galeopterus variegatus), rock magpies (Copsychus saularis), and porcupines (Hystrix brachyura). While the non-biological potential includes beautiful views of hills, high cliffs, rocks, stone caves, and clean water sources, Talaga Hill also presents attractions in the form of adventure activities, namely hiking activities, camping activities, wildlife observation, natural resource exploration activities, and rock-climbing activities. Apart from its natural beauty, Bukit Talaga also has the potential to attract cultural tourism, including the existence of three traditional Dayak ceremonial places on Bukit Talaga and the traditions and ceremonies of the local community.Keywords: attraction, ecotourism, identification, talaga hill.AbstrakIdentifikasi potensi ekowisata merupakan suatu kegiatan mencari, mencatat, menemukan serta mendaftarkan semua yang menjadi potensi atau yang menjadikan tempat tersebut menarik untuk dikunjungi oleh pengunjung. Penelitian ini bertujuan menemukan dan menjelaskan keberadaan objek-objek yang menjadi daya tarik ekowisata di Bukit Talaga Desa Aur Sampuk, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Metode penelitian menggunakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung dilapangan dan wawancara terhadap responden pengunjung dan masyarakat setempat dengan panduan kuesioner. Penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Bukit Talaga memiliki potensi yang menjadi daya tarik ekowisata diantaranya yaitu potensi hayati dan potensi non-hayati. Potensi hayati berupa keberadaan tumbuhan lumut, jenis jamur, tumbuhan angrek, bunga bangkai (Amorphophallus sp), pohon penghasil buah untuk konsumsi dan keanekaragaman jenis satwa seperti kubung (Galeopterus variegatus), burung murai batu (Copsychus saularis) dan landak (Hystrix brachyura). Sedangkan potensi non-hayati antara lain yaitu pemandangan indah di atas bukit, tebing tinggi, bebatuan, gua batu, dan sumber air bersih. Bukit Talaga juga menyajikan daya tarik berupa kegiatan petualangan yaitu kegiatan hiking, kegiatan berkemah, pengamatan satwa liar, kegiatan eksplorasi sumber daya alam dan kegiatan panjat tebing. Terlepas dari keindahan alamnya Bukit Talaga juga memiliki potensi daya tarik wisata budaya, diantaranya yaitu keberadaan tiga tempat upacara adat Dayak di Bukit Talaga, tradisi/upacara adat masyarakat setempat. Kata kunci: daya tarik, ekowisata, identifikasi, bukit talag
PERILAKU BERTELUR PENYU HIJAU (Chelonia mydas) di PANTAI BELACAN DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS
The green turtle is one of the most intensively exploited members of the turtle family. The purpose of this study was to describe the egg-laying behavior of green turtles (Chelonia mydas) on Belacan Beach Sebubus Village Paloh District Sambas Regency. Research using direct observation method with observation technique is done by noting all behavior seen at each time and its description. Research shows that all types of turtles have almost the same stages of laying eggs, namely emerging to the sea surface and choosing a location to lay eggs, digging holes, laying eggs, closing the nest and closing the hole and disguise the distance. Factors that influence the presence of green turtles going up to the mainland to lay eggs are the tides of sea water, the slope of the coast and the presence or absence of vegetation that can be used as a shelter for their nest.Keywords: Belacan beach, Turtle, Turtle behaviorAbstrakPenyu hijau adalah salah satu anggota keluarga penyu yang paling dieksploitasi secara intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) di Pantai Belacan Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penelitian menggunakan metode observasi langsung dengan teknik observasi yang dilakukan dengan mencatat semua tingkah laku yang dilihat pada setiap waktu dan uraiannya. Penelitian menunjukkan bahwa semua jenis penyu mempunyai tahapan bertelur yang hampir sama, yaitu muncul ke permukaan laut dan memilih lokasi bertelur, menggali lubang, bertelur, menutup sarang dan menutup lubang serta menyamarkan jarak. Faktor yang mempengaruhi keberadaan penyu hijau naik ke daratan untuk bertelur adalah pasang surut air laut, kemiringan pantai dan ada tidaknya vegetasi yang dapat dijadikan tempat berlindung sarangnya.Kata kunci: Pantai Belacan, Penyu, Tingkah laku peny
POTENSI FLORA TANAMAN HIAS SEBAGAI ODTWA JALUR PATROLI AIR TERJUN GUHUNG ELANG RESORT BELABAN TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA
Bukit Baka Bukit Raya National Park is a conservation area that is rich in biodiversity, including ornamental plant flora. The potential of this flora has not been fully exploited as a natural tourist attraction in the region, especially on the Guhung Elang Resort Belaban Waterfall patrol route Belaban Region-1. Ornamental plants are one of the potential objects to attract the attention of tourists because of their visual beauty and ecological value which helps strengthen environmental sustainability. This research aims to explore the potential of ornamental plant flora as a natural tourist attraction on the Guhung Elang Resort Belaban Waterfall Patrol Route Region-1 Bukit Baka Bukit Raya National Park. The research used a survey method to explore the diversity of ornamental plant flora around the tourist area. The starting point of the route is at the Belaban resort office information center. There are 2 observation routes, namely route 1 (Guhung Elang patrol route Km 37) and route 2 (Semunga waterfall route Km 35). Research parameters are plant type, coordinate points, distance and travel time. The results of the research found that there were potential ornamental plants in 20 families on both routes, with a total of 94 individuals. In route 1 there were 44 individuals, while in route 2 there were 50 individuals. The most common types of ornamental plants are orchids, senthe/ keladi, and nampu/murau. The discovery of the potential for ornamental plant flora provides an opportunity for the development of natural tourism in the area by working on the visual beauty and ecological value of ornamental plants, which can attract tourists to visit this location. The discovery of the potential for ornamental plant flora provides an opportunity for the development of natural tourism in the area by working on the visual beauty and ecological value of ornamental plants, which can attract tourists to visit this location.Keywords: Flora, Guhung Elang, Ornamental Plants, PotencyAbstrakTaman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu kawasan konservasi yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk flora tanaman hias. Potensi flora ini belum dimanfaatkan sepenuhnya sebagai objek daya tarik wisata alam di wilayah tersebut, terutama di jalur patroli Air Terjun Guhung Elang Resort Belaban Wilayah-1. Tanaman hias menjadi salah satu objek yang potensial untuk menarik perhatian wisatawan karena keindahan visualnya serta nilai ekologis yang membantu memperkuat keberlangsungan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi flora tanaman hias sebagai objek daya tarik wisata alam di Jalur Patroli Air Terjun Guhung Elang Resort Belaban Wilayah-1 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Penelitian menggunakan metode survei untuk mengeksplorasi keanekaragaman flora tanaman hias yang ada di sekitar area wisata. Titik awal jalur di pusat informasi kantor resort Belaban. Terdapat 2 jalur pengamatan, yaitu jalur 1 (jalur patroli Guhung Elang Km 37) dan jalur 2 (jalur air terjun Semunga Km 35). Parameter penelitian adalah jenis tanaman, titik koordinat, jarak tempuh, dan waktu tempuh. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat potensi tanaman hias sebanyak 20 famili pada kedua jalur, dengan total individu sebanyak 94. Pada jalur 1 terdapat 44 individu, sementara di jalur 2 terdapat 50 individu. Jenis tanaman hias yang paling umum adalah anggrek, senthe/keladi, dan nampu/murau. Temuan potensi flora tanaman hias ini memberikan peluang untuk pengembangan wisata alam di area tersebut dengan menggarap keindahan visual dan nilai ekologis tanaman hias, dapat menarik minat wisatawan untuk mengunjungi lokasi tersebut.Kata kunci: Flora, Potensi, Tanaman Hias, Guhung Elan
FENOLOGI POHON PAKAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus) PADA AREA PELEPASLIARAN SUB DAS MENDALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN KABUPATEN KAPUAS HULU
Phenology is the study of natural plant phases. The availability of Orangutan feed in natural habitats is the main factor influencing the survival of Orangutans. In this study phenological activities are focused on the development of flowers, fruits, and leaves. This research objective was to obtain information about the phenology of Orangutan food tree species carried out in the Orangutan release area of the Deep Sub Watershed Betung Kerihun National Park, Kapuas Hulu Regency, starting from September to December 2018. The object observed was the Orangutan feed trees with a diameter> 10cm. The research method is a combination of track and plot. The length of the observation track is 560 meters with a total of 28 plots measuring 20x20 meters divided into 14 plots in paths 1 and 2. The results found were 20 species from 8 families of Orangutan feed trees dominated by Anacardiaceae and Dipterocarpaceae families with 10 species on leaf's developmental phase, 6 types of the flowering development phase, 3 types didn't have phase phenological change, and 1 type failed of flowering.Keywords: Feed, Orangutan, PhenologyAbstrakTumbuhan mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan secara alami, begitu juga dengan jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan bagi Orangutan. Ketersediaan pakan Orangutan di habitat alami menjadi faktor utama yang berpengaruh pada keberlangsungan hidup Orangutan. Pada penelitian ini kegiatan fenologi dititik beratkan pada perkembangan bunga, buah dan daun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang fenologi pohon pakan Orangutan yang dilakukan di areal pelepasliaran Orangutan Sub DAS Mendalam Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Objek yang diamati yaitu pohon pakan Orangutan dengan diameter >10cm. Metode penelitian dengan kombinasi jalur dengan garis berpetak. Panjang jalur pengamatan 560 meter dengan jumlah petak 28 buah petak berukuran 20x20 meter yang terbagi atas 14 petak pada jalur 1 dan 2. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 20 jenis dari 8 famili pohon pakan Orangutan yang didominasi oleh famili Anacardiaceae dan Dipterocarpaceae dengan 10 jenis mengalami fase perkembangan daun, 6 jenis fase perkembangan berbunga, 3 jenis tidak mengalami perubahan fase fenologi, dan 1 jenis berbunga gagal. Kata kunci: Pakan, Orangutan, Fenolog