JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
255 research outputs found
Sort by
Prediksi Stabilitas Mucroporin sebagai Kandidat Obat Berbasis Peptida melalui Simulasi Dinamika Molekular
Beberapa peptida yang terkandung dalam racun kalajengking (Lychas mucronatus) menunjukkan beragam aktivitas biologis dengan spesifisitas tinggi terhadap target. Peptida ini memiliki efek potensial terhadap mikroba dan menunjukkan potensi untuk memodulasi berbagai mekanisme biologis yang terlibat dalam imunitas, saraf, kardiovaskular, dan penyakit neoplastik. Keragaman struktural dan fungsional yang penting dari peptida tersebut membuktikan bahwa peptida dari racun kalajengking dapat digunakan dalam pengembangan obat spesifik baru. Melalui penelitian ini akan dilakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap stabilitas peptida Mucroporin yang diproduksi dari racun kalajengking dengan menggunakan simulasi dinamika molekular. Sekuens molekul peptida Mucroporin dimodelkan dengan menggunakan server PEPstrMOD. Konformasi terbaik hasil pemodelan dipilih untuk diamati stabilitasnya dengan menggunakan software Gromacs 2016.3. Trajektori yang terbentuk kemudian dianalisis berdasarkan visulasiasi dengan menggunakan software VMD 1.9.4 serta dilakukan analisis grafik RMSD dan RMSF. Hasil analisis trajektori dari simulasi dinamika molekular membuktikan bahwa molekul peptida Mucroporin-S2 memiliki stabilitas yang paling baik. Dengan demikian, molekul peptida tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat obat berbasis peptida
Penggunaan D-Optimal Mixture Design untuk Optimasi dan Formulasi Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEEDS) Asam Mefenamat
This study aimed to optimize and formulate the poorly water-soluble mefenamic acid in the self-nano emulsifying drug delivery system (SNEDDS) using D-optimal mixture design. The initial screening was carried out to determine phases of the oil, surfactants, and co-surfactants used to prepare the ternary phase diagram. D-optimal mixture design was used to optimize SNEDDS loading mefenamic acid by selecting SNEDDS composition as an independent factor and SNEDDS characterization as a response. SNEDDS in the optimal formula were characterized, including transmittance, particle size, polydispersity index (PDI), and zeta potential. Oleic acid, Tween 80, and polyethylene glycol (PEG) 400 were the selected oil, surfactant, and co-surfactant phases for their greatest ability to dissolve mefenamic acid. The optimization results showed that the optimal formula was that using 10% oleic acid, 80% of Tween 80, and 10% of PEG 400. SNEDDS loading mefenamic acid produced nanoemulsion with 88.5% of transmittance, 190.03 ± 1.18 nm of particle size, 0.469 ± 0.03 of PDI, and -44.1 ± 1.69 mV of zeta potential. This study concludes that the D-optimal mixture design can be used to optimize and prepare the SNEDDS loading poorly-water soluble mefenamic acid.Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi formulasi asam mefenamat yang sukar larut dalam air dalam bentuk sediaan Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) menggunakan D-optimal mixture design. Skrining awal dilakukan untuk menentukan fase minyak, surfaktan dan ko-surfaktan yang akan digunakan untuk pembuatan diagram fase terner. D-optimal mixture design digunakan untuk mengoptimasi SNEDDS asam mefenamat dengan memilih komposisi SNEDDS sebagai faktor independent dan karakterisasi SNEDDS sebagai respons. Karakterisasi SNEDDS pada formula optimal meliputi transmitan, ukuran partikel, polidispersity index (PDI) dan zeta potensial. Asam oleat, Tween 80, dan polietilenglikol (PEG) 400 merupakan fase minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan yang terpilih karena memiliki kemampuan paling tinggi dalam melarutkan asam mefenamat. Hasil optimasi menunjukkan bahwa formula optimal diperoleh pada komposisi 10% asam oleat, 80% Tween 80 dan 10% PEG 400. SNEDDS asam mefenamat tersebut menghasilkan nanoemulsi dengan transmitan 88,5%, ukuran partikel 190,03 ± 1,18 nm, PDI 0,469 ± 0,03, dan zeta potensial -44,1 ± 1,69 mV. Studi ini menyimpulkan bahwa D-optimal mixture design dapat digunakan untuk mengoptimasi dan formulasi SNEDDS asam mefenamat yang sukar larut dalam air
Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Kadar Fenol dan Flavonoid Total, Aktivitas Antioksidan serta Antilipase Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia)
The leaf of Guazuma ulmifolia has been used traditionally for antiobesity. The activity of antiobesity was affected by the content of bioactive compounds. Extraction is the primary step to obtain bioactive compounds from plant material. The method and solvent used for extraction are crucial factors to produce extracts that have a high amount of active compounds. This study aims to determine the total phenolic and total flavonoids content from ethanolic extracts, water extract, and infusions of G. ulmifolia leaf and to evaluate the antioxidant and antilipase activity. Folin-Ciocalteu method was used to determine the phenolic content, while flavonoid content determination was done using aluminium chloride colorimetric assay. The antioxidant activity was done using 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay, and the antilipase activity was quantified using p-nitrophenol release from p-nitrophenyl butyrate (p-NPB) substrate-colorimetric assay. The result of G. ulmifolia leaf extraction showed that the highest yield was obtained from water extraction (10.50%). Whereas, the ethanolic extract was showed the highest total phenolic content (67.761±1.811 mg GAE/g extract) and the highest total flavonoid content (124.643 ± 1.033 mg QE/g extract). The same extract also exhibited the highest antioxidant activity (IC50 = 6.544 ± 0.271 µg/mL) and antilipase activity (IC50 = 307.280 ± 21.430 µg/mL).Daun Guazuma ulmifolia telah digunakan secara tradisional untuk antiobesitas. Aktivitas antiobesitas dipengaruhi oleh kandungan senyawa bioaktif. Ekstraksi adalah langkah utama untuk mendapatkan senyawa bioaktif. Metode dan pelarut ekstraksi merupakan faktor penting untuk menghasilkan ekstrak dengan jumlah kandungan senyawa aktif yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenol dan flavonoid total dari ekstrak etanol, rebusan, dan infusa daun G. ulmifolia serta untuk menentukan aktivitas antioksidan serta antilipase. Metode Folin-Ciocalteu digunakan untuk menentukan kadar fenol total, sedangkan penentuan kadar flavonoid total dilakukan menggunakan uji kolorimetri aluminium klorida. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode 2,2-difenil-1-pikrillhidrazil (DPPH), dan aktivitas antilipase dikuantifikasi secara kolorimetri berdasarkan pelepasan p-nitrofenol dari substrat p-nitrofenil butirat (p-NPB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rebusan memiliki rendemen tertinggi (10,50%). Sebaliknya, ekstrak etanol menunjukkan total kandungan fenolik tertinggi (67,761 ± 1,811 mg GAE/g ekstrak) dan total kandungan flavonoid tertinggi (124,643 ± 1,033 mg QE/g ekstrak). Ekstrak yang sama juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan aktivitas antilipase tertinggi (IC50 berturut-turut 6,544 ± 0,271 μg/mL dan 307,280 ± 21,430 μg/mL).
Survei Rumah Tangga terhadap Profil Obat pada Responden dengan Jaminan Kesehatan Nasional di Jakarta Timur
Household surveys are one of the methods to obtain accurate information on medicine utilization in society. The study was carried out to identify the access of medicine and medicine utilization profile. A survey using convenient sampling method was conducted in 30 households with national health insurance (JKN) diagnosed with chronic diseases in East Jakarta. Each family was observed once a week for 8 weeks to analyse their diseases, medication used, and medicine access. About 19 (63.3%) respondents enrolled in this study were male. The mean ± SD of age was 55.87±12.486 years old. About 23(76.7%) respondent had access of medicine through hospital and 7(23.3%) by pharmacy directly. The most common chronic diseases identified were cardiovascular and endocrine disorder. Cardiovascular, alimentary tract and metabolism, and nervous system were medications most commonly used. Most of respondents used about 1-3 kind of medications in a month. About 101 kind of drugs used, 74 kinds of drug among of them were generic and 27 were non generic. About 12 (40%) respondents used vitamin and 8 (26.67%) used supplement. This study highlights respondent access of medicine through hospital and cardiovascular medicines were the most commonly used.Survei rumah tangga merupakan salah satu metode untuk mendapatkan informasi yang akurat terhadap obat yang digunakan oleh masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi akses obat dan profil obat yang digunakan. Metode convenient sampling dilakukan pada 30 rumah tangga dengan Jaminan Kesehatan Nasional yang memiliki penyakit kronis. Setiap rumah tangga diamati seminggu sekali selama 8 minggu untuk menganalisa penyakit, obat yang digunakan dan akses dalam mendapatkan obat. Sebanyak 19 (63,3%) responden adalah laki-laki dan 11 (36,7%) responden adalah perempuan. Rata-rata usia responden adalah 55,87±12,486 tahun. Sebanyak 23 (76,7%) responden akses obat melalui rumah sakit dan 7(23,3%) responden melalui apotek. Penyakit yang paling banyak ditemukan adalah kardiovaskular dan endokrin. Obat kardiovaskular, saluran pencernaan dan metabolisme, sistem saraf adalah obat yang paling banyak ditemukan. Mayoritas responden menggunakan 1-3 jenis obat dalam satu bulan. Sebanyak 101 jenis obat yang digunakan, 74 obat diantaranya adalah generik dan 27 obat non generik. Sebanyak 12 (40%) responden menggunakan vitamin dan 8 (26,67%) responden menggunakan suplemen. Studi ini menunjukkan bahwa akses obat oleh responden melalui rumah sakit dan obat kardiovaskular adalah yang paling banyak digunakan
Evaluasi Terapi Adjuvant Hormonal Dan Hubungannya Terhadap Outcome Klinis Pasien Kanker Payudara Stadium Dini Di Kota Padang
Terapi adjuvant hormonal merupakan pilihan terapi yang efektif bagi pasien kanker payudara stadium dini dengan hormonal responsif dan Her-2 negatif. Outcome klinis dari terapi kanker payudara adalah Disease Free Survival (DFS), Overall Survival (OS). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi terapi adjuvant hormonal dan pengaruhnya terhadap outcome klinis pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study menggunakan data retrospektif registrasi kanker payudara Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) Kota Padang selama periode 2008-2017. Analisis data menggunakan Kaplan Meier Analysis dengan Log rank. Diperoleh sebanyak 58 orang pasien yang memenuhi kriteri inklusi, dengan rerata umur yaitu 49,41 ± 8,69 tahun, kejadian relaps 22,4% dan sebanyak 6,9% pasien mengalami kematian. Terapi terbanyak pada pasien premenopause adalah tamoxifen (58,3%), pada pasien pascamenopause adalah Aromatase Inhibitor (54,5%). Secara statistik pada pasien premenopause tidak ada pengaruh terapi adjuvant hormonal yang berbeda terhadap DFS (P log rank test 0,243 dan HR = 0.513) dan OS (P log rank test 0,545 dan HR = 0.314). Pada pasien pascamenopause tidak ada pengaruh terapi yang berbeda terhadap DFS (P log rank test 0,586 dan HR = 0,10) dan OS (P log rank test 0,594 dan HR = 0,12)
Analisa Perbandingan Monoterapi dengan Dualterapi Antibiotik Empiris terhadap Outcome pada Pasien Community Acquired Pneumonia (CAP) di IGD RSUP Fatmawati Jakarta
Community acquired pneumonia (CAP) adalah suatu peradangan akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme dan didapat dari masyarakat. Antibiotik adalah obat yang paling penting dalam pengobatan CAP. Namun, terapi antibiotik empiris yang optimal merupakan masalah yang sering diperdebatkan sehingga penatalaksanaan CAP masih merupakan tantangan yang besar bagi para klinisi. Penelitian ini bertujuan menganalisa perbandingan outcome terapi, efektivitas biaya dan kualitas penggunaan antibiotik empiris monoterapi terhadap dualterapi CAP secara kohort prospektif. Diperoleh hasil perbaikan klinis monoterapi dengan dualterapi tidak berbeda bermakna secara statistik (p=0,638). Namun, secara farmakoekonomi diketahui bahwa monoterapi lebih efektif dan dengan rasionalitas penggunaan yang lebih baik pula dibandingkan dualterapi
Pengembangan Instrumen Pemantauan Efek Samping Obat: Efek Samping Obat Pada Pasien Strok Iskemik
Stroke iskemik merupakan penyakit vaskular yang terjadi ketika pasokan darah ke otak berkurang akibat penyumbatan pembuluh darah. Pengobatan stroke menggunakan beberapa obat seperti antiplatelet, antihipertensi dan antihiperlipidemia. Salah satu masalah penggunaan obat adalah timbulnya efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek samping obat pada pasien stroke iskemik di instalasi rawat inap Neurologi suatu rumah sakit pemerintah di Padang. Penelitian dilakukan secara prospektif selama 3 bulan. Data diambil dari rekam medis pasien dan hasil wawancara dengan pasien stroke iskemik yang telah menggunakan obat selama lebih dari 3 hari dan terdapat 32 orang pasien termasuk dalam kriteria inklusi. Obat-obat yang diamati adalah aspirin, klopidogrel, amlodipin, bisoprolol dan simvastatin. Efek samping obat yang dicurigai dianalisis dengan algoritma Naranjo dan disesuaikan dengan skala potensi efek samping obat. Hasil penelitian menunjukkan 11 pasien yang diduga mengalami efek samping obat. Terdapat 6 pasien (54,5 %) mengalami anemia, urtikaria, nausea dan insomnia yang disebabkan penggunaan obat aspirin, 3 pasien (27,3 %) mengalami nausea, edema dan insomnia yang disebabkan penggunaan obat amlodipin, 1 pasien (9,1 %) mengalami rash yang disebabkan penggunaan obat klopidogrel dan 1 pasien (9,1 %) mengalami dispnea yang disebabkan penggunaan obat bisoprolol. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 6 dugaan efek samping obat termasuk kategori possible dan 5 dugaan efek samping obat kategori probable
Optimasi Nanoemulsi Natrium Askorbil Fosfat melalui Pendekatan Design of Experiment (Metode Box Behnken)
Penghantaran senyawa hidrofilik secara transkutan memiliki keterbatasan karena permeabilitas rendah sehingga sulit dalam menembus lapisan stratum corneum (SC). Natrium askorbil fosfat (NAF) merupakan salah satu senyawa turunan vitamin C yang sangat hidrofil dan permeabilitas rendah terhadap lapisan kulit. Sebagaimana vitamin C, NAF dapat berfungsi sebagai antioksidan juga memiliki aktivitas sebagai antikerut karena dapat memicu pertumbuhan kolagen pada fibroblast. NAF dibuat dalam nanoemulsi, karena sediaan dengan ukuran globul yang kecil diharapkan dapat menembus lapisan SC dan membawa zat aktif berpenetrasi ke dalam lapisan kulit. Optimasi formulasi nanoemulsi dilakukan melalui pendekatan statistik design of experiment (DoE) yang terdiri dari desain faktorial dan respon surface methods (RSM hingga diperoleh hasil yang lebih efektif dan efisien. Komposisi minyak (VCO), surfaktan (Tween 80), ko surfaktan (PEG 400) dan proses pengadukan (waktu dan kecepatan) merupakan faktor yang berperan dalam optimasi formulasi. Penentuan faktor tersebut melalui desain eksperimen 2 level factorial dan dilanjutkan dengan metode Box Behnken menggunakan perangkat lunak Minitab 17. Parameter yang diamati adalah ukuran globul dan indeks polidispersitas. Berdasarkan hasil optimasi diperoleh nilai VCO 10% dan kombinasi surfaktan 24%, waktu dan kecepatan pengadukan 5 menit, 200 rpm memberikan ukuran globul ±180 nm dan indeks polidispersitas dibawah 0,5.
Uji Aktivitas Antidiabetes Produk Obat Herbal yang Mengandung Ekstrak Bratawali (Tinospora crispa (L.) Miers ex Hoff.f & Thoms.)
Berdasarkan data WHO pada tahun 2019 lebih dari 463 juta orang di dunia menderita diabetes, dan cenderung jumlahnya semakin meningkat. Dengan bertambahnya penderita diabetes menyebabkan penggunaan obat antidiabetes meningkat. Berbagai macam obat diabetes telah digunakan untuk mengobati penyakit ini, diantaranya penggunaan obat herbal. Salah satu tumbuhan obat yang berkhasiat sebagai penurun kadar gula darah adalah bratawali (Tinospora crispa). Tujuan penelitian adalah menguji aktivitas antidiabetes produk obat herbal kategori jamu yang diproduksi oleh usaha mikro obat tradisional (UMOT) yang mengandung bratawali. Aktivitas antiabetes diuji dengan menggunakan metode toleransi glukosa dan efek pada mencit diabetes imbasan aloksan. Hasil pengujian kualitas menunjukkan ekstrak mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, dan steroid/triterpenoid. Pengujian aktivitas antidiabetes menunjukkan ekstrak dapat menghambat kenaikan kadar glukosa pada uji toleransi glukosa sebesar 18,29; 51,17 dan 75,35 % (p<0,05) dengan dosis berturut-turut 125, 250 dan 500 mg/kgBB. Sementara itu, pada mencit diabetes imbasan aloksan ekstrak mampu menurunkan kadar glukosa darah dengan penurunan yang terbesar 75,35% (p < 0,05) setelah pemberian dosis 500 mg/kgBB. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ekstrak dari produk obat herbal yang mengandung bratawali sebagai komponen aktif mempunyai aktivitas antidiabetes. Senyawa aktif pada ekstrak bratawali yang bertanggung jawab untuk aktivitas tersebut masih perlu ditentukan
Kekerabatan Genetik dan Indeks Resistensi Antibiotika Escherichia coli dari Air DAS Siak Provinsi Riau
Waterborne-disease masih memberikan angka prevalensi yang tinggi terutama di negara sedang berkembang. Keberadaan E. coli di perairan memberikan indikasi adanya cemaran pathogen dari feses hewan ataupun manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kekerabatan dan indeks resistensi antimikroba dari E.coli yang telah diisolasi dari DAS Siak, sungai terbesar yang melewati Provinsi Riau, yang masih digunakan oleh sebagian warga untuk aktivitas sehari-hari. Dendrogram yang dihasilkan dari gabungan 3 primer RAPD-PCR mampu membedakan tiap isolate uji. Intensitas penggunaan air sungai oleh warga dan kuatnya arus mempengaruhi distribusi mikroba indicator sanitasi tersebut dari Tapung hingga Perawang. Sifat resistensi antibiotika masih tergolong rendah (MAR index 0,142), namun eritromisin bukan merupakan antibiotika pilihan untuk diare akibat E.coli disebabkan seluruh isolate resisten terhadap antibiotika ini