JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
    255 research outputs found

    Clinical Outcomes of Antibiotic Use on Patients of Diabetic Foot Infection

    No full text
    Resiko amputasi dan resistensi bakteri terhadap antibiotik pada pasien infeksi kaki diabetik (IKD) masih merupakan masalah besar yang belum dapat diatasi. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi clinical outcomes penggunaan antibiotik pada pasien IKD di bangsal penyakit dalam rumah sakit X. Penelitian dilakukan selama 3 bulan dengan metode observasi prospektif longitudinal. Pasien dipilih berdasarkan diagnosa IKD dengan lama rawatan ≥ 3 hari. Total sampel yang diperoleh 30 pasien, perempuan 16 (53,3%) dan laki-laki 14 (46,7%). Tes kultur hanya dilakukan pada 5 (16,67%) pasien. Satu pasien menunjukkan tidak adanya bakteri patogen. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah Ampisilin-sulbaktam. Berdasarkan clinical outcomes, 11 (36,7%) pasien membaik, 15 (50%) memburuk dan 4 (13,35%) meninggal. Berdasarkan statistik, jenis kelamin, umur, Indeks masa tubuh dan lama menderita DM tidak mempengaruhi clinical outcomes (P>0,05). Hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa antibiotik yang digunakan masih belum efektif dalam mencapai tujuan terapi.An amputation and antibiotic resistant bacteria on diabetic foot infection (DFI) are still big issue. The research aimed to evaluate clinical outcomes of antibiotic use among patients of DFI in internal medicine ward at Hospital X. An observation of prospective longitudinal methode was conducted during 3 months. Patients were selected based on diagnosis of DFI that had length of stay ≥ 3 days. Total samples were 30 patients, 16(53.3%) women and 14(46.7%) men. Only 5(16.67%) patients who did culture and sensitivity. One of them with no pathogen bacteria. The most frequently antibiotic use was ampicillin-sulbactam. Based on clinical outcomes, 11(36,7%) improve, 15(50%) worse, and others were passed away. Based on statistic, there were no influence among clinical outcomes with gender, age, BMI and duration of diabetes. Therefore based on the research, antibiotics use were still not effective to achieve desired outcomes

    Comparison of Effectivity of Health Education towards Mother’s Knowledge and Ability in Caring Children with Acute respiratory infection in Health Center Padang Pasir and Pauh

    No full text
    Pendidikan kesehatan dengan media booklet merupakan upaya meningkatkan kemampuan merawat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan kemampuan ibu dalam perawatan balita ISPA antara Puskesmas Padang Pasir dan Pauh. Metode yang digunakan adalah preeksperimental dengan pretest posttest design. Subjek penelitian adalah ibu dengan balita ISPA berjumlah 15. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk menilai perbedaan pengetahuan dan kemampuan merawat pada pretest posttest dan Mann Whitney-U untuk menilai perbandingan antar Puskesmas. Hasil penelitian diperoleh perbedaan pengetahuan dan kemampuan merawat balita ISPA sebelum dan setelah pendidikan kesehatan dengan (p=0,002). Lebih lanjut terdapat perbedaan efektivitas pendidikan kesehatan antara Puskesmas Padang Pasir dengan Pauh pada kemampuan merawat (p=0,004). Oleh karena itu pendidikan kesehatan tentang ISPA dengan media yang lebih menarik seperti booklet perlu diberikan terutama pada ibu untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan merawat balita dengan ISPA.Health education with booklet media is an effort to increase knowledge and ability in caring Acute respiratory infection (ARI). This study aimed to identify comparison effectivity in health education towards knowledge and ability in caring between Padang Pasir and Pauh Health Center. Method used pre experimental with pretest posttest design. Subject was mothers with children having ARI amount 15 samples. Data was collected by questionnaires. Data analysis used wilcoxon to identify difference pre and posttest of mother’s knowledge and ability in caring, mann whitney-U to know difference between both of them. Study showed there was difference of knowledge and ability in caring between pre and posttest (p=0,002). There was difference in effectivity of health education between Padang Pasir and Pauh on ability in caring (p=0,004).It suggested health education with more interesting media like booklet must be given especially for mothers so ARI’s rate can be reduced in children

    Pengaruh Pemberian Layanan Kefarmasian pada Penderita Pneumonia Komunitas Rawat Inap: A Small Randomized Single Blind Study

    No full text
    Pneumonia, one of infectious diseases, becomes a major health care problem in Indonesia. The inappropriateness use of treatment can lead to greater unexpected health outcome and prolonged length of stay. A lot of research has proved that pharmacists, as a part of health care professionals, has important role in assuring patients to get the most optimal treatment benefit. The aim of this study is to identify the influence of pharmaceutical care intervention in reducing the length of stay of inpatients community acquired pneumonia. This experimental study involved 32 subjects with community acquired pneumonia hospitalized without any other infection between 18th August and 31st December 2010. Subjects were divided into two groups, i.e. intervention and control group, by simple random sampling technique. Intervention group received pharmaceutical care services i.e. drug related problems identification and solving based on Pharmaceutical Care Network Europe Classification and therapy guideline. Both group received hospital standard care. The primary outcome of this study was length of stay. All subjects were followed until 31 December 2010. Most of drug related problems identified in this study were classified as treatment effectiveness (intervention group 76.19% and control group 81.82%) and treatment cost (intervention group 23.81% and control group 18.18%). Inappropriate use of antibiotic was the main cause for this drug related problems based on the pneumonia guideline. Ceftriaxone and ciprofloxacin (28.21%) were the most inappropriate used antibiotics found in this study. The mean of length of stay between intervention (6 days) and control group (8 days) was significantly different (P<0.05). Pharmaceutical care intervention significantly improved the length of stay of inpatients community acquired pneumonia.Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan terkait infeksi yang banyak terjadi di Indonesia. Ketidaktepatan pemilihan terapi dapat mengakibatkan keluaran kesehatan yang tidak terduga dan memperpanjang lama perawatan. Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan profesional memiliki perang penting dalam menjamin terapi obat yang optimal bagi penderita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian layanan kefarmasian dalam mengurangi rata-rata lama perawatan pasien pneumonia komunitas rawat inap. Studi ini melibatkan 32 penderita pneumonia komunitas tanpa penyakit infeksi lain antara 18 Agustus – 31 Desember 2010. Pasien terbagi menjadi dua kelompok, kelompok uji dan kelompok kontrol, dengan metode simple random sampling. Kedua kelompok tersebut mendapat pelayanan kesehatan standar, namun kelompok uji mendapatkan layanan kefarmasian berupa identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi terapi berdasarkan Pharmaceutical Care Network Europe Classification dan pedoman terapi. Keluaran utama pada penelitian ini adalah rata-rata lama perawatan penderita. Semua penderita dimonitor hingga 31 Desember 2010. Efektivitas terapi (kelompok uji 76,19% dan kelompok kontrol 81,82%) dan biaya terapi ( kelompok uji 23,81% dan kelompok kontrol 18,18%) merupakan masalah terkait obat yang paling banyak ditemukan. Seftriakson dan siprofloksasin (28,21%) merupakan antibiotik yang paling banyak ditemukan tidak sesuai dengan pedoman terapi pneumonia komunitas. Perbedaan yang signifikan ditemukan antara rata-rata lama perawatan pasien kelompok uji (6 hari) dan kelompok kontrol (8 hari) (P< 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian layanan kefarmasian dapat menurunkan secara signifikan rata-rata lama perawatan penderita pneumonia komunitas rawat inap

    Immunomodulatory Activity of Meniran Extracts (Phyllanthus niruri Linn.) on Broiler Chickens

    No full text
    Ayam Broiler sangat rentan terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah ini kita dapat menggunakan pengobatan alternatif dengan pemberian senyawa imunostimulan yang dapat mencegah penyakit pada ayam broiler. Salah satu tanaman yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh adalah meniran. Studi efek imunomodulator dari ekstrak etanol meniran (Phyllanthus niruri Linn.) telah dilakukan pada ayam broiler dengan metode bersihan karbon. Ekstrak diberikan secara oral dengan dosis 10; 30; 100; 300 mg/kg BB dan larutan 0,5% NaCMC sebagai kontrol serta suspensi Stimuno® forte 13,5 mg/kg BB sebagai pembanding selama 6 hari. Data indeks fagositosis dianalisis secara statistik dengan ANOVA dua arah dilanjutkan dengan uji Duncan. Peningkatan indeks fagositosis menunjukkan bahwa efek dari setiap dosis dengan kontrol negatif berbeda signifikan (P <0,05). Indeks fagositosis tertinggi diperoleh dari dosis 300 mg/kg BB. Data tentang peningkatan berat relatif limpa dan peningkatan sel limfosit darah dianalisis dengan ANOVA satu arah dilanjutkan dengan uji Duncan. Peningkatan berat limpa relatif dan peningkatan sel limfosit darah menunjukkan efek dari masing-masing dosis untuk kontrol negatif berbeda signifikan (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol meniran aktif sebagai imunostimulan untuk ayam broiler.Broilers chickens are highly susceptible to many diseases caused by bacteria and viruses. Therefore to solve these problem we can use alternative medicine by administration of immunostimulatory compounds that can prevent disease in broiler chickens. One of the plants that can enhance the immune system is meniran. The study effect of immunomodulatory test from ethanol extract of meniran herbs (Phyllanthus niruri Linn.) has been conducted in broiler chickens with carbon clearance method. The study of extract administered orally with dose of 10; 30; 100; 300 mg/kg BW and a solution of 0.5% NaCMC as negative control also suspension Stimuno® forte 13.5 mg/kg BW as positive control for 6 days. The data of phagocytosis index was analyzed statisticaly with two way ANOVA followed with Duncan’s test. The increasing of phagocytosis index with carbon clearance method showed the effect from each dose with negative control was significant (P<0,05). The highest phagocytic index obtained from a dose of 300 mg / kg BW. The data’s of increased relative spleen weight and an increased of blood limfosit cell was analyzed statisticaly with one way ANOVA followed with Duncan’s test. Increased relative spleen weight and an increased of blood limfosit cell showed effect from each dose to negative control was significant (P<0,05). The results indicated that the ethanolic extract of meniran was active as immunostimulant for broiler chickens.

    Isolasi dan Uji BSLT Ekstrak Etil Asetat Daun Meranti Sabut (Shore Ovalis (Korth.))

    No full text
    Isolation and test of Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) of ethyl acetate extract of Shorea ovalis [Kort.]) leaves have been done. The isolation method used was column chromatography by Step Gradient Polarity (SGP). The aim of this research was to isolate the metabolite secondary compound and examine the activity test of Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) from ethyl acetate extract of Shorea ovalis [Kort.]) leaves. The result showed that pure compound was I¬A which characterized by spectrum of IR, H-NMR, C-NMR, HSQC, HMBC and colour reaction of Liebermann-Burchard test. The characterization of the isolate was phytosterol with estimated molecular formula C27H48O. Result of BSLT test revealed that of ethyl acetat extract of meranti sabut leaves at 100, 10, and 1 ppm had value of LC50= 40.45 ppm with death of larva of Artemia salina equal to 56,6 % and was considered as very toxic.Telah dilakukan isolasi dan uji BSLT ekstrak etil asetat daun meranti sabut (Shorea ovalis [Kort.]). Isolasi menggunakan metode kromatografi kolom dengan cara Step Gradient Polarity (SGP). Penelitian ini bertujuan mengisolasi senyawa metabolit skunder dan uji BSLT ekstraks etil asetat daun meranti sabut (Shorea ovalis [Kort.]). Dari hasil penelitian didapatkan senyawa murni IA dan dikarakterisasi dengan spektrum IR, H-NMR, C-NMR, HSQC dan HMBC serta reaksi warna menggunakan pereaksi Liebermann-burchard. Hasil karakterisasi senyawa IA disimpulkan adalah senyawa golongan fitosterol dengan perkiraan rumus molekul C27H48O. Hasil uji BSLT ekstrak etil asetat daun meranti sabut pada konsentrai 100, 10 dan 1 ppm diperoleh nilai LC50= 40.45 ppm dengan persen kematian larva Artemia salina sebesar 56,6 %, tergolong sangat toksik

    Studi Pendahuluan Profil Penggunaan Obat dan Kepatuhan terhadap Pengobatan pada Pasien Lupus di Komunitas

    No full text
    This study aimed to describe medications used and compliance in systemic lupus erythematosus (SLE) patients. This was a nonexperimental and prospective study. Patients aged ≥18 years old, used medications for SLE and consented to participate were included in this study. Data was collected from September to November 2012 by observation and interview. Pill count method was used to measure patients compliance. All of 15 patients participated in this study were female with median of age 30 years old. Three patients received single medication and the rest received combination drugs. All patients used corticosteroids. In 12 patients it was combined with 1 or 2 of disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs). More than 50% patients did not comply with their medications. Further research is needed to elicit barriers for noncompliance and to produce strategy for improving the medication-taking-related behaviour in SLE patients.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai penggunaan obat dan kepatuhan pasien systemic lupus erythematosus (SLE) terhadap pengobatannya. Desain penelitian ini bersifat observational dan prospektif. Pasien SLE yang berpartisipasi dalam penelitian adalah pasien yang berusia ≥18 tahun, sedang menggunakan obat SLE, dan bersedia berpartisipasi. Pengumpulan data dilakukan selama bulan September sampai dengan November 2012. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Metode pill count digunakan untuk mengukur kepatuhan pasien. Terdapat 15 pasien yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Seluruh pasien tersebut berjenis kelamin perempuan dengan median usia 30 tahun. Sebanyak 3 pasien menerima 1 macam obat, sementara sisanya menggunakan kombinasi obat. Semua pasien menggunakan corticosteroids. Sebanyak 12 pasien menggunakan kombinasi corticosteroids dengan 1 atau 2 obat dari golongan disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs). Lebih dari 50% pasien tidak patuh terhadap pengobatan. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menggali faktor-faktor yang menghambat kepatuhan pasien terhadap pengobatan serta untuk menghasilkan strategi perbaikan bagi masalah ini

    Antidiabetic Use Evaluation in Type-2 Diabetes Mellitus’ Patients on a Public Hospital at Padang City – West Sumatera

    No full text
    Kajian terhadap ketepatan penggunaan antidiabetik pada suatu rumah sakit pemerintah di Padang, Sumatera Barat telah dilakukan. Penelitian ini berupa kajian deskriptif, menggunakan rekam medis sebagai sumber data. Ketepatan penggunaan obat didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu, meliputi beberapa indikator, yaitu; ketepatan indikasi, ketepatan penderita, ketepatan regimen dosis dan ketepatan rute pemberian. Kajian juga dilakukan terhadap potensi terjadinya interaski obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat antidiabetik pada rumah sakit tersebut 100% tepat indikasi dan tepat rute pemberian. Sedangkan kajian terhadap ketepatan penderita dan regimen dosis masing-masingnya hanya sebesar 95.59% dan 40.82%. Selain itu juga ditemukan potensi interaksi obat.The appropriateness of antidiabetic usege on a public hospital in Padang - West Sumatra has been studied. This study was a descriptive study, which used patient’s medical record as data resources. The appropriateness of antidiabetic usage based on criterion which was established earlier, such as the appropriateness of indication, the appropriateness of patient, the appropriateness of regiment, and the appropriateness of drug administration. Evaluation also has been done to the potential of drug interaction. The results showed that antidiabetic usage on that hospital were 100% appropriate in term of indication and drug administration. While evaluation to appropriateness of patient and drug regiment were 95.59% and 40.82% respectively

    Analgesic Activity of Papaya Leaf Extract (Carica papaya L.) on Male Mice induced by Acetic Acid 1%

    No full text
    Evaluasi aktivitas analgesia dari ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L.) pada mencit putih jantan telah dilakukan. Dua puluh lima ekor mencit (20-30 g, 2-3 bulan) dibagi secara acak menjadi lima kelompok. Grup pertama diberi NaCMC sebagai kontrol negatif, sedangkan kelompok 2-4 menerima ekstrak etanol daun Carica papaya dengan dosis 100, 300, dan 600 mg/kgBB dan kelompok kelima diberi parasetamol 65 mg/kgBB sebagai pembanding. Semua intervensi diberikan sebagai dosis tunggal secara oral. Asam asetat 1% (b/v) digunakan sebagai penginduksi nyeri. Aktivitas analgesik diukur dengan menghitung persentase geliatan sebagai ukuran efek analgesik yang dihasilkan oleh setiap intervensi. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah untuk membandingkan aktivitas analgesik antara kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak pada dosis 100, 300, dan 600 mg/kgBB memberikan efek yang berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol (PAnalgesic activity of extract of papaya leaves (Carica papaya L.) to male mice has been evaluated. Twenty five of mice (20-30 g, 2-3 months old) were divided randomly into five groups. The first group was given sodium CMC as negative control, the second until fourth groups received ethanolic extract of Carica papaya leaves in the doses of 100, 300, and 600 mg/kgBW, respectively and the fifth group was given paracetamol 65 mg/kg BW. All interventions were administered as single dose by oral route on given day. Acetic acid 1% (w/v) was used as the pain inductor. Analgesic activity was measured by counting the percentage of writhing movements as a measure of the analgesic effect produced by each intervention. Data were analyzed with one way ANOVA to compare analgesic activity between treatment groups. The results showed that the analgesic effect of the extract on the doses of 100, 300, and 600 mg/kg BW was significantly different with control group (

    Kajian Ketepatan Indikasi Penggunaan Alprazolam pada Pasien Stroke di Bangsal Rawat Inap Neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi

    No full text
    Cerebrovascular disease such as stroke remains one of diseases that causes disability and death in the world. Having sufficient quality and quantity of good sleep is one important part of the healing process. Sleep disorders also increase the patient’s risk of developing recurrent stroke. The objective of this study was to analyze the accuracy of the indications for alprazolam in patients with stroke in neurology ward of National Stroke Hospital Bukittinggi, Indonesia. The study was conducted on November 2011 to February 2012 with the prospective method through observations on the condition of the patients, medical records, drug instruction cards, and the nursing care records of stroke patients who use alprazolam. Data were analyzed descriptively based on the treatment standards related to inaccuracy: alprazolam use without medical indications and indications which were not treated. The study showed that of 35 patients taking alprazolam, 1 of them was without medical indication 1 (3.45%) and another 1 was categorized as untreated indication (3.45%) of 29 incidences of drug related problems (DRP).Penyakit serebrovaskuler atau stroke masih merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan kecacatan dan kematian di dunia. Mendapat kualitas dan kuantitas tidur yang baik merupakan salah satu bagian penting dalam proses penyembuhan (recovery) pascastroke. Gangguan tidur juga meningkatkan resiko pasien pascastroke untuk menderita stroke berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ketepatan indikasi penggunaan alprazolam pada pasien stroke di bangsal rawat inap neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi.Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi dari bulan November 2011 hingga Februari 2012 dengan metode prospektif melalui penelusuran terhadap kondisi pasien, catatan rekam medik, Kartu Instruksi Obat (KIO) dan catatan asuhan keperawatan pasien stroke yang menggunakan alprazolam di bangsal rawat inap neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif berdasarkan literatur yang berkaitan dengan ketepatan indikasi dengan kategori pemberian alprazolam tanpa indikasi medis dan indikasi yang tidak diterapi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari 35 orang pasien yang menggunakan alprazolam didapatka

    Pengaruh Kombinasi Magnesium Stearat dan Talkum sebagai Lubrikan terhadap Profil Disolusi Tablet Ibuprofen

    No full text
    A research has been conducted on the combination effect of magnesium stearate and talc as a lubricant to the dissolution profile of Ibuprofen tablets. Of the three formulas made Ibuprofen tablets with wet granulation method. Evaluation of tablets include uniformity of size, weight uniformity, tablet hardness, disintegration, friability of tablets, assay and dissolution. Results of dissolution percentage was done up to 60 indicated that the dissolution the average was 95,72%, 97,65% and 99,93% consecutively for F I, F II and F III. In addition, result of the dissolution efficiency up to 60 minutes for each formula was 82,10%, 87,58%, and 90,76%. According to the dissolution of the data, formula III which had the highest dissolution results compared to formula I and formula II, which likely due to the ratio of the combination of magnesium stearate and talc as a lubricant smaller levels of magnesium stearate.Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh kombinasi magnesium stearat dan talkum sebagai lubrikan terhadap profil disolusi tablet Ibuprofen. Dari ketiga formula dibuat tablet Ibuprofen dengan metoda granulasi basah. Evaluasi tablet meliputi keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan tablet, waktu hancur, kerapuhan tablet, penetapan kadar dan disolusi. Hasil persen terdisolusi menit ke 60 menunjukkan bahwa disolusi rata-rata berturut-turut adalah 95,7209%, 97,6474% dan 99,9373%. Dan untuk hasil efisiensi disolusi pada menit ke 60 masing-masing formula adalah 82,1089%, 87,5888% dan 90,7635%. Dari data disolusi, formula III yang mempunyai hasil disolusi yang tinggi dibandingkan formula I dan formula II yang disebabkan oleh perbandingan kombinasi magnesium stearat dan talkum sebagai lubrikan lebih kecil kadar magnesium stearatnya

    0

    full texts

    255

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇