JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
255 research outputs found
Sort by
Development of the Instrument Patient Satisfaction for Pharmaceutical Services in Hospital
Telah dilakukan pengembangan insrumen untuk pengukuran kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh suatu rumah sakit. Instrumen terdiri atas dua dimensi yaitu penjelasan yang bersahabat (friendly explanation) dan pengelolaan terapi (managing theraphy). Hasil pengembangan didapatkan suatu instrumen dengan tingkat kesepahaman yang cukup baik (ĸ = 0.53), valid (r > 0,632) dan reliabel (cronbach alpha = 0,97)Instrument to assessing patient satisfaction to hospital pharmacy services has developed. The instrument consists of two dimensions which are friendly explanation and managing theraphy. The result of instrument developing are a instrument which have fair to good of the level of agreement (ĸ = 0.53), fair to good validity (r > 0.632) and good reliability (cronbach alpha = 0.97)
Efektifitas Propolis Toothpaste sebagai Initial Therapy pada Mild Gingivitis
Characteristics of mild gingivitis are change in the color of the gums, slight edema, and no bleeding and painless. If it does not receive the proper treatment, gingivitis can become periodontitis which cause alveolar jaw bone tissue damage, resulting in further tissue damage locally and systemically through the blood vessels. The selection of appropriate therapy is essential to reduce the prevalence of the disease. In addition to scaling and plaque control, the propolis toothpaste can be used as initial therapy. The toothpaste contains propolis known for anti-inflammatory effects that is useful as one of the initial teraphy to treat mild gingivitis. Gingival index of 15 patients were measured before and after use of propolis toothpaste. Data analysis was performed by means of univariate to describe each variabel using Kolmogorov Smirnof Test. Gingival Index difference between before and after brushing with toothpaste containing propolis by paired t-test. Toothpaste contains propolis which proved effective in the initial therapy of mild gingivitis with an average difference of reduction in Gingival Index scores before and after was 0.40 ± 0.04 There are significant differences (p <0.05) difference between the average reduction in Gingival Index scores before and after the use of toothpaste containing propolis.Karakteristik gingivitis ringan adalah terjadinya perubahan warna gusi, edema ringan, tidak ada pendarahan dan tanpa ada rasa nyeri. Jika pasien tidak mendapatkan perawatan yang tepat, gingivitis dapat berubah menjadi periodontitis yang menyebabkan kerusakan jaringan tulang rahang alveolar, menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut secara lokal dan sistemik melalui pembuluh darah. Pemilihan terapi yang tepat sangat penting untuk mengurangi prevalensi dari penyakit ini. Selain proses scaling dan kontrol plak, penggunaan pasta gigi propolis dapat digunakan sebagai terapi awal. Komposisi pasta gigi yang mengandung propolis memiliki efek anti-inflamasi yang bermanfaat sebagai salah satu terapi awal untuk mengobati gingivitis ringan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Indeks gingiva dari 15 pasien diukur sebelum dan sesudah penggunaan pasta gigi propolis. Analisis data dilakukan dengan cara univariat untuk menggambarkan masing-masing variabel dengan Kolmogorov-Smirnof Test. Perbedaan indeks gingiva antara sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung propolis dianalisis dengan uji T berpasangan. Pasta gigi yang mengandung propolis ini terbukti efektif dalam terapi awal gingivitis ringan dengan rata-rata pengurangan skor indeks gingiva sebelum dan sesudah adalah 0,40 ± 0,04. Terdepat perbedaan yang signifikan (p <0,05) antara rata-rata penurunan nilai gingiva indeks sebelum dan setelah penggunaan pasta gigi yang mengandung propolis
Gambaran Tenaga Kefarmasian Dalam Memberikan Informasi Kepada Pelaku Swamedikasi di Apotek-Apotek Kecamatan Tampan, Pekanbaru
The performance of all pharmacist staff including pharmacist, pharmacist assistance and pharmacist technician in drug information service towards self medication patient affect the therapeutic success. Self medication is the way of therapy with drug medication which drugs can be obtained at pharmacy without needing doctor’s prescription. The research aims to evaluate the description of drug information service given by all pharmacist staff on self medication of tooth pain patient at the pharmacy located around Kecamatan Tampan, Pekanbaru. It was conducted using cross sectional planning survey by participative observational method. 30 pharmacist staffs who give mefenamic acid as tooth pain drug were selected as respondent. The assessment was done using Likert scale. The result showed that drug information service given by all pharmacist staffs was in good scale (63.10%) and still conducting passively or they gave drug information if only the patient asked. The detail result demonstrated that 63.20% of pharmacist afforded adequate scale of drug information service, the pharmacist assistant gave 60% of adequate scale, while the pharmacist technician exhibited 63.80% good scale. The route of drug usage was the most common information with very good category (85.33%).Tenaga farmasi dalam memberikan informasi kepada pelaku swamedikasi, dapat menentukan keberhasilan terapi. Swamedikasi adalah mengobati segala keluhan dengan obat-obatan yang dapat dibeli di apotek dengan inisiatif sendiri tanpa resep dokter. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran pemberian informasi oleh tenaga kefarmasian pada swamedikasi nyeri gigi di apotek-apotek Kecamatan Tampan. Penelitian ini menggunakan rancagan survei cross-sectional dengan metoda observational partisifatif, Responden yang digunakan adalah tenaga farmasi yang memberikan asam mefenamat sebagai obat nyeri gigi, penilaian menggunakan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian informasi yang dilakukan tenaga kesehatan adalah baik (63,10%) dan masih bersifat pasif atau hanya akan memberikan informasi ketika ditanya, dengan rincian pemberian informasi oleh apoteker cukup baik (63,20%), tenaga teknis kefarmasian cukup baik (60%) dan asisten tenaga kefarmasian dengan nilai baik (63,80%). Informasi yang paling sering disampaikan yaitu cara pemakaian obat kategori sangat baik (85,33%).
Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Etanol Tali Putri (Cassytha filiformis L.) Terhadap Fungsi Ginjal Tikus
Sub-chronic toxicity test of the deffated ethanolic extract of tali putri (Cassytha filiformis L.) on the rat renal function has been carried out. A number of 16 male rats aged 2-3 months, weighing ±250 g were used as experimental animals. The rats were divided into 4 groups which consisted of 1 control group and 3 extract-treated groups given 1.25, 2.5, and 5 mg/kg extract administrated intraperitoneally once a day for 14 days. The creatinine clearance, renal function, and the ratio of renal were calculated and analyzed by two-way ANOVA followed by Duncan’s test. The study showed that the creatinine clearance and renal function decreased significantly during treatment (p<0.05). The kidney weight ratio of groups treated with extract, especially with greater doses, showed a very significant increase as compared with control (p<0,01). These indicated that the ethanolic extract of C. filiformis on the doses of 1.25 – 5 mg/kg might decrease the renal function, althought it seemed to be relatively safe when used for 14 days.Pengujian toksisitas subkronis ekstrak etanol tali putri (Cassytha filiformis L.) terhadap fungsi ginjal tikus telah dilakukan. Sebanyak 16 ekor tikus jantan berusia 2-3 bulan dengan berat badan ±250 gram digunakan sebagai hewan uji. Hewan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol tali putri dengan dosis 1,25; 2,5; dan 5 mg/kg sekali sehari secara intraperitoneal selama 14 hari. Data bersihan kreatinin, persentase fungsi ginjal, dan rasio organ ginjal dianalisis dengan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s post hoc test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bersihan kreatinin dan persentase fungsi ginjal rata-rata tikus mengalami penurunan secara bermakna selama perlakuan (p<0,05). Rasio berat organ ginjal kelompok ekstrak, terutama pada dosis besar mengalami peningkatan dengan sangat bermakna (p<0,01) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol tali putri dengan dosis 1,25-5 mg/kg dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal, tetapi masih relatif aman bila digunakan selama 14 hari
Formulasi Mikrokapsul Ranitidin HCl Menggunakan Rancangan Faktorial dengan Penyalut Etil Selulosa
Ranitidine HCl is a histamine H2-antagonist which is used in the treatment of benign gastric and duodenal ulceration. In order to improve its bioavailability and half life time, microcapsule is prepared to extend the dose regiment. The aim of this study was to formulate and optimize ranitidine HCl containing microcapsule to prepare a suitable sustained release delivery system using factorial design. Microspheres were prepared using ethylcellulose by solvent evaporation method. The effect of different formulation variables, including stabilizer concentration (1-2 %) and drug/polymer ratio (2:2-1:2) on appearance, and entrapment efficiency was investigated. Data analysis showed that microspheres with optimum entrapment efficiency could be prepared using 2 % span 80, and 1:2 drug/polymer ratio. The results showed spherical shaped microcapsules, and porous, with realeasing time up to 10,55 hours.Ranitidin HCl adalah H2-antagonis histamin yang digunakan dalam pengobatan ulkus lambung dan duodenum. Formulasi mikrokapsul ranitiditin HCl ditujukan untuk memperpanjang regimen dosis untuk meningkatkan bioavailabilitas dan waktu paruh. Tujuan dari penelitian untuk merumuskan dan mengoptimalkan mikrokapsul ranitidin HCl untuk menyiapkan sistem pelepasan yang sesuai dengan desain faktorial. Mikrokapsul disusun menggunakan etilselulosa dengan teknik penguapan pelarut. Variasi konsentrasi penstabil Span 80 (1-2%) dan rasio obat/polimer (2: 2-1: 2) dilakukan untuk mengamati efek efisiensi penjerapan. Analisis data menunjukkan bahwa mikrokapsul dengan efisiensi penjerapan optimal didapatkan pada formula yang mengandung 2% span 80, dan 1:2 rasio obat/polimer. Hasil penelitian menunjukkan mikrokapsul berbentuk sferis, dan berpori, dengan waktu pelepasan hingga 10,55 jam
Dampak Karakteristik Sosiodemografi dan Tingkat Kepatuhan Terapi Antihipertensi Terhadap HRQoL Pasien Gagal Jantung Kongestif
Health Realted Qulity Of Life (HRQoL) is the patient perspective to their medication and illnes. The objective of study is to determine the impact of social demography characteristics, and medical adherence to the HRQoL of congestive heart failure patients in M. Djamil Hospital Padang. Data social demography, adherence, and HRQoL of 111 patients were collected by guided interview and completed by their medical record. We used T-test and one-way ANOVA, while 95% confidence intervals was taken for the significance. Patients who completed the education in senior high school possessed the best HRQoL score and the patients with lower level education had a worse HRQoL score (P0,1).Health Related Quality of Life (HRQoL) merupakan persepsi pasien terhadap efek terapi dan keparahan penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak karakteristik sosiodemografi dan tingkat kepatuhan terapi antihipertensi terhadap HRQoL pasien gagal jantung kongestif (GJK) di RSUP DR. M. Djamil Padang. Data sosiodemografi, tingkat kepatuhan, dan HRQoL 111 pasien GJK yang berpartisipasi dalam penelitian ini dikumpulkan dengan wawancara terpimpin dan dari rekam medis pasien. Metoda T-Test dan Anova satu arah digunakan untuk menganalisa dampak karakteristis sosiodemografi dan tingkat kepatuhan terhadap HRQoL pasien GJK dengan tingkat kepercayaan 95%. Pasien dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki nilai HRQoL yang lebih baik dibandingkan dengan pasien berpendidikan lebih rendah (P0,1)
Formulasi Sabun Transparan Minyak Ylang-Ylang dan Uji Efektivitas terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
Ylang-ylang oil transparent soaps in three concentration i.e. 3.1 %, 3.85 % and 4.58 % have been formulated using virgin coconut oil (VCO), olive oil and stearic acid as a base soap reacted with NaOH as alkalin base. Transparent soap were tested for its identification, pH, wetting test, the foam on distilled water, the foam on hard water, skin irritation consumen preference test and micobiology test using the agar diffusion technique against bacterium cause of acnes like Staphylococcus epidermidis. The results showed that all formulas were stable for six weeks during storage conditions. Ylang-ylang transparent soap had medium antimicrobial activity (12-16 mm) against S. epidermidis. Statistical evaluation of pH, wetting test and micobiology test from formulas against control by using one way ANOVA had significant difference (p<0,05).Sabun transparan minyak Ylang-ylang telah diformulasi dengan tiga konsentrasi yaitu 3,1%, 3,85% dan 4,58% dengan menggunakan VCO, minyak zaitun dan asam stearate sebagai bahan dasar pembentuk sabun yang direaksikan dengan NaOH sebagai basa alkali. Masing-masing formula dievaluasi berupa pemerian, pH, daya pembasah, uji busa dalam air suling dan air sadah, uji iritasi kulit, uji penerimaan oleh konsumen dan uji daya antibakteri dengan metode difusi agar terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat. Hasil evaluasi fisik sabun transparan menunjukkan bahwa semua formula stabil selama enam minggu penyimpanan. Hasil uji mikrobiologi sabun transparan minyak ylang-ylang menunjukkan daya hambat sedang (12-16 mm) terhadap bakteri S. epidermidis. Hasil statistik dengan analisa variasi (ANOVA) satu arah pada evaluasi pH, uji daya pembasah dan uji daya hambat bakteri terhadap S. epidermidis menunjukkan hasil saling berbeda nyata (p<0,05) untuk ketiga formula terhadap sediaan pembanding.
Determination of Profenofos Pesticidal Residue in Lettuce (Lactuca sativa L.) by Gas Chromatographic Method
Telah dilakukan pemeriksaan residu pestisida profenofos pada selada (Lactuca sativa L.) menggunakan metode kromatografi gas detektor fotometri nyala. Sampel sayuran selada di ambil dari daerah Padang Luar, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sampel untuk penentuan kadar residu profenofos dibagi atas tiga kelompok yaitu tidak dicuci (A), dicuci dengan air (B), dan dicuci dengan deterjen pencuci sayuran (C). Maserasi dengan sonikasi digunakan untuk ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu pestisida profenofos pada selada A, B dan C berturut-turut adalah 0,204; 0,080 dan 0,061 ppm. Residu pestisida profenofos ini melewati Batas Maksimum Residu (BMR) yang ditetapkan oleh The Japan Food Chemical Research Foundation (0,05 ppm) sedangkan World Health Organization (WHO) belum menetapkan Batas Maksimum Residu (BMR) profenofos pada selada. Hasil analisis statistik Anova satu arah menggunakan SPSS 20.0 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi yang signifikan antara selada A dengan selada B dan selada C dengan nilai p < 0,05.The determination of profenofos pesticidal residue in the lettuce (Lactuca sativa L.) by using gas chromatography using flame photometric detector (FPD) had been investigated. The lettuce was collected from Padang Luar area, Agam distric, West Sumatera. Sample for determination of profenofos residue divided into three groups: unwashed (A), washed with water (B), and washed with detergent (C). Maceration with sonication was used for the extraction using ethylacetateas a solvent. The results showed that profenofos pesticide residue in sample A, B and C were 0.204, 0.080 and 0.061 ppm, respectively. These profenofos pesticidal residue are over than the Maximum Residue Limits (MRL) that established by The Japan Food Chemical Research Foundation (0.05 ppm) even though World Health Organization (WHO) has not established Maximum Residue Limits (MRL) profenofos on lettuce. Based on the statistical analysis one-way method (Anova) using SPSS 20.0 showed that there was a significant concentrations difference between lettuce A from lettuce B and lettuce C with p < 0.05
Kajian Toksisitas Serbuk Biji Mahoni terhadap Perkembangan Tingkah Laku, Histologi Hati serta Hematologi Anak Mencit
This study aims to determine the effect of seed powder mahogany (Swietenia macrophylla King) on the development of behavior, liver histology and hematology of pups mice. Experimental animals used were 45 female mice were divided randomly into 5 groups. Group 1 as a control group. Groups 2, 3, 4, and 5, respectively mahogany seed powder given at a dose of 5, 10, 15, and 20 mg/20g/day from fetal life until lactation is completed. Developmental toxicity test carried out by behavioral test battery, observation of histology and hematology profile. The results showed that the provision of mahogany seed powder causes abnormal in the conduct reflex test and motor test on post natal day of 8 and 10, as well as the vision test on post natal day of 14-18. While the observation of liver histology and hematology profile did not show any effect.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian serbuk biji mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap perkembangan tingkah laku, gambaran histologi hati serta profil hematologi anak mencit. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih betina sebanyak 45 ekor dibagi secara acak menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 sebagai kelompok kontrol diberi NaCMC 0,5%. Kelompok 2, 3, 4, dan 5 berturut-turut diberi serbuk biji mahoni dengan dosis 5, 10, 15, dan 20 mg/ 20gBB/hari mulai masa janin hingga masa laktasi selesai. Toksisitas perkembangan dilakukan dengan metoda test perilaku berurutan, observasi terhadap histologi dengan pewarnaan Hematoxilin-Eosin serta penghitungan profil hematologi. Hasil penelitian menunjukan pemberian serbuk biji mahoni menyebabkan penyimpangan tingkah laku pada uji refleks dan uji motorik PND-8 dan PND-10, serta pada uji penglihatan PND-14 hingga PND-18. Sedangkan pada pengamatan histologi hati dan profil hematologi anak mencit tidak menunjukan adanya pengaruh
Pembuatan Dan Evaluasi Pati Talas (Colocasia esculenta Schoot) Termodifikasi dengan Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus sp)
Production and evaluation of modified taro (Colocasia esculenta Schott) starch by lactic acid bacteria (Lactobacillus sp) has been done. The purpose of this study was to observe the effect of lactic acid bacteria to the yield of taro starch and to evaluate physicochemical of starch. The evaluation which includes organoleptic, moisture content, pH, angle of repose, swelling power, gelatination temperature, amylose content, and examination of the surface shape of starch granules using SEM (Scanning Electron Microscope). The result showed that modified taro starch yield higher (19,12%) than native taro starch (11,79%). Modified taro starch of organoleptic examination showed better results where the smell was slighly reduced and the colour was white. Meanwhile, from the results of the evaluation of swelling power, gelatination temperature, and amylose content showed an increase. In addition, the modified taro starch granule were rougher due to some holes presented distinctively.Pembuatan dan evaluasi pati talas (Colocasia escuenta Schott) termodifikasi dengan bakteri asam laktat (Lactobacillus sp) telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh modifikasi pati talas dengan bakteri asam laktat terhadap rendemen pati talas dan sifat fisikokimia pati. Evaluasi yang dilakukan meliputi organoleptik, kadar air, pH, sudut angkat, daya pengembangan, temperatur gelatinasi, kadar amilosa, dan pemeriksaan bentuk permukaan granula pati menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope). Hasil penelitian menunjukkan rendemen pati talas termodifikasi lebih tinggi (19,24%) daripada pati alami (11,79%). Pemeriksaan organoleptik pati talas termodifikasi menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan pati talas alami, dimana bau khas talas agak sedikit berkurang dan warnanya lebih putih. Selain itu daya pengembangan dan kadar amilosa pati talas termodifikasi mengalami peningkatan. Hasil lainnya menunjukkan bahwa pada pati talas termodifikasi terdapat perlubangan pada permukaan granulanya