JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
    255 research outputs found

    Ethanolic Extract of Dracaena angustifolia Roxb. as Active Cutaneous Anti Anaphylactic on Male White Mice

    No full text
    Telah dilakukan pengujian efek anti anafilaksis kutan aktif dari ekstrak etanol daun suji (Dracaena angustifolia Roxb.) pada mencit putih jantan. Pengujian dilakukan dengan tiga variasi dosis ekstrak (100, 300 dan 900 mg/kg BB) yang diberikan secara oral. Adanya efek anti anafilaksis ditandai dengan perpanjangan waktu timbul, penurunan diameter dan intensitas warna bentolan biru yang terbentuk pada punggung mencit dengan menggunakan larutan biru Evans sebagai indikator yang disuntikan secara intra vena. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun suji (Dracaena angustifolia Roxb). (100, 300, 900 mg/kg BB) memberikan efek yang berbeda nyata antara masing-masing dosis (p<0,01). Efek yang paling baik diberikan pada dosis 900 mg/kg BB.An assay of the active cutaneous anti anaphylactic of the ethanolic extract of the Dracaena angustifolia Roxb. On male white mice has been studied. The assay was done by giving three different doses (100,300, 900 mg per/kg bw). Allergic reaction was induced by giving egg’s albumin as antigen. The anti anaphylactic effect was determined by measurement of the pro long of occurrence time, the dereased in diameter and the color intensity of the blue bump formed by using blue evan’s solution as indicator which was given intravenously. Result indicated the ethanolic extract of Dracaena angustifolia Roxb. (100, 300, 900 mg/kg bw) had significant effect for each dose (p<0.01). The dose of 900 mg per kg body weight showed best effect

    Persepsi dan Kecenderungan Keterlibatan Apoteker di Apotek pada Proses Rekonsiliasi Obat

    No full text
    The objective of this study was to gain insight into the perception and the likelihood to practice medication reconciliation among pharmacists working at the apotek. Two guiding questions were given to each participant and participants were asked to write the answer on the paper. Thematic analysis was used to analyse the data. There were 31 pharmacists involved in this study. All of participants perceived that medication reconciliation was important to be implemented. Almost all of participants (i.e 30 from 31 pharmacists) clearly stated that they would like to implement medication reconciliation. And, there were 3 themes found as the main motivation factors in implementing the medication reconciliation. Pharmacists who were working at the apotek had a good perception about medication reconciliation and also showed the likelihood to implement medication reconciliation. Further research need to be conducted in order to explore the barriers in implementing medication reconciliation.Penelitian ini bertujuan untuk memotret persepsi dan kecenderungan kesediaan apoteker yang bekerja di apotek di sebuah kabupaten untuk terlibat dalam program rekonsiliasi obat. Dua buah pertanyaan panduan tertulis diberikan kepada setiap peserta dan peserta diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan tersebut pada lembar yang telah disediakan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode thematic analysis. Total terdapat 31 apoteker yang bersedia terlibat dalam penelitian ini. Seluruh peserta penelitian berpersepsi bahwa proses rekonsiliasi obat penting untuk diimplementasikan. Hampir seluruh peserta (30 dari 31 apoteker) memiliki kecenderungan untuk bersedia terlibat dalam proses rekonsiliasi obat. Terdapat 3 tema utama pertimbangan yang mendasari kecenderungan apoteker di apotek untuk bersedia terlibat dalam proses rekonsiliasi obat. Apoteker peserta penelitian yang bekerja di apotek memiliki persepsi dan kecenderungan yang baik untuk berkontribusi dalam proses rekonsiliasi obat. Identifikasi faktor-faktor yang berpotensi menjadi penghalang implementasi proses rekonsiliasi obat oleh apoteker di apotek perlu dilakukan sebelum program rekonsiliasi obat ini diimplementasikan dalam suatu daerah

    Analysis on Protein Profile and Amino acid of Edible Bird’s Nest (Collocalia fuchiphaga) from Painan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa profil protein dan asam amino sarang burung walet yang berasal dari daerah Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Analisis protein dilakukan dengan menggunakan metode Sodium Dodesil Sulfat Poliakrilamid Gel Elektroforesis (SDS-PAGE), sedangkan analisis asam amino dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Analisa ekstrak air sarang burung walet dengan SDS-PAGE menunjukan bahwa sarang burung walet terdiri dari 6 protein dengan bobot molekul masing-masing 147,2; 142,6; 133,4; 73,3; 66,2; dan 37,7 kDa. Hasil analisis asam amino dengan KCKT didapatkan 16 asam amino yang terkandung dalam sarang burung wallet, yang terdiri dari 7 jenis asam amino esensial yaitu Histidin (2,31%), Leusin (3,84%), Treonin (3,82%), Valin (3,93%), Metionin (0,48%), Isoleusin (1,80%), Fenilalanine (4,49%) dan 9 asam amino non esensial yaitu Asam Serin (4,56%), Aspartat (4,48%), Arginin (3,93%), Lisin (2,34 %), Prolin (3,64%), Asam glutamate (3,65%), Glisin (1,87%), Alanin (1,31%), dan Tirosin (3,92%). Serin merupakan asam amino dengan kadar tertinggi (4,56%), diikuti dengan Fenil alanine (4,49%) dan Asam aspartat (4,48%). Kandungan asam amino ini sedikit berbeda dengan kandungan asam amino sarang burung walet dari daerah dan negara lain.This study was aimed to analyze protein profile and amino acid composition of bird nest from Painan, Pesisir Selatan Distric, West Sumatra. Protein analysis was performed by Sodium Dodecyl Sulphate Polyacrilamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE), meanwhile High Performance Liquid Chromatography (HPLC) was used for analysis of amino acid. Analysis on water extract of bird nest by SDS-PAGE showed six bands which correspond to molecular protein which had molecular weight of 147.2; 142.6; 133.4; 73.3; 66.2; and 37.7 kDa, respectively. HPLC analysis demonstrated that bird nest was composed of 16 amino acids. Seven of them were essential amino acids; histidine (2.31%), leucine (3.84%), threonine (3.82%), valine (3.93%), methionine (0.48%), isoleucine (1.80%), phenylalanine (4.49%), and nine of them were non-essential amino acids; serine (4.56%), aspartic acid (4.48%), arginine (3.93%), lysine (2.34%), proline (3.64%), glutamic acid (3.65%), glycine (1.87%), alanine (1.31%), and tyrosine (3.92%). Serine was the highest percentage of amino acid in the bird nest (4.56%), followed by phenylalanine (4.49%) and aspartic acid (4.48%). The study also showed that composition of amino acid in this bird nest was slightly different with composition of amino acid in bird nest from other area

    Pengaruh Pemberian Sari Wortel (Daucus carota L.) terhadap Tukak Lambung Pada Tikus Putih Jantan

    No full text
    A study on the effect of carrot decoction to the gastric ulcer of white male rats induced by absolute ethanol 1 ml/200 g orally has been conducted. The study showed that carrot decoction in the doses of 3; 6; and 12 ml/kg could improve the ulcer by amount of 28.41; 46.79; and 75.76 %, respectively. The decoction could also reduce the pH of gastric juice significantly toward the normal level (P<0.01).Telah dilakukan pengujian pengaruh sari wortel (Daucus carota L.) terhadap tukak lambung pada tikus putih jantan yang diinduksi dengan etanol absolut 1 ml/200 gram berat badan secara oral. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sari wortel dengan dosis 3, 6 dan 12 ml/kgBB dapat memulihkan tukak lambung dengan persentase pengobatan masing-masing adalah 28,412%; 46,797% dan 75,766%. Sari wortel ini juga dapat menurunkan pH cairan lambung tikus yang diberi etanol absolut menuju pH cairan lambung tikus normal secara signifikan (P<0,01)

    Pengaruh Berkumur dengan Larutan Ekstrak Siwak (Salvadora persica) Terhadap pH Saliva Rongga Mulut

    No full text
    Saliva is a complex body fluid and has important roles that related with biological processes in oral cavity. Saliva has important roles in maintaining health of oral cavity from caries diseases and periodontal diseases. One of saliva functions in maintaining oral health is associated with the degree of saliva’s acidity (pH). Salivary pH can influence oral health by related with caries diseases and periodontal diseases. One of preventive method could be done is chemically preventive by using mouth wash solution. One of natural mouth wash solution could be used is miswak (Salvadora persica) extract mouth wash solution. Chemical contents of Salvadora persica extract can prevent descending of salivary pH because it has bactericidal effect that will prevent acid production from oral bacteria, increase saliva buffer activity by increasing saliva secretion. The purpose of this study was to determine the influence of  Salvadora persica extract solution on salivary pH. The method used in this research is experimental with one group pre-posttest design. Subjects were 17 students of SMK Muhammadiyah 1 Padang. Measurements before and after mouth rinsing with Salvadora persica extract solution 50% performed on the subjects. The data were analyzed by paired T-test (p<0,05). This research showed the average salivary pH before given Salvadora persica extract solution was 6,565 and the average salivary pH after given miswak extract solution was 7,4. Mouth rinsing with Salvadora persica extract solution can increase salivary pH and can be used as mouth wash solution to maintain oral health.Saliva adalah cairan tubuh yang kompleks dan memiliki peran penting yang terkait dengan proses biologi dalam rongga mulut. Saliva memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut dari karies dan penyakit periodontal. Salah satu fungsi saliva dalam menjaga kesehatan mulut berkaitan dengan tingkat keasaman saliva (pH). pH saliva dapat mempengaruhi kesehatan mulut yang berhubungan dengan karies dan penyakit periodontal. Salah satu metode pencegahan yang bisa dilakukan adalah secara kimiawi dengan menggunakan obat kumur. Salah satu obat kumur yang dapat digunakan adalah miswak (Salvadora persica). Kandungan kimia ekstrak Salvadora persica dapat mencegah menurunnya pH saliva karena memiliki efek bakterisida yang akan mencegah produksi asam dari bakteri mulut, meningkatkan aktivitas buffer saliva melalui peningkatkan sekresi saliva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak Salvadora persica pada pH saliva. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan satu kelompok desain pre-posttest. Subyek penelitian adalah 17 siswa dari SMK Muhammadiyah 1 Padang. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan ekstrak Salvadora persica 50%. Data dianalisis dengan T-test (p <0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata pH saliva sebelum diberikan larutan ekstrak Salvadora persica adalah 6,565 dan pH saliva setelah diberi larutan ekstrak miswak adalah 7,4. Berkumur dengan ekstrak Salvadora persica dapat menjadi solusi dalam meningkatkan pH saliva dan dapat digunakan sebagai obat kumur untuk menjaga kesehatan rongga mulut

    Antioxidant compound of metanolic extract of Detam 1 Glycine max (L.) Merr from ultrasonic extraction

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa antioksidan yang terkandung dalam ekstrak metanol Glycine max varietas Detam 1 hasil dari ekstraksi dengan metode ultrasonik. Ekstraksi dilakukan dengan 2 pelarut yaitu pelarut n-heksan untuk menghilangkan lemak yang mungkin dapat mempengaruhi hasil selama analisis dan metanol 80% untuk mengambil senyawa aktif dalam kedelai. Hasil ekstraksi kemudian dipekatkan dengan Rotary evaporator (BUCHI Rotavapor R-114) dan BUCHI Waterbath B-480. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectra (GS-MS). Analisis terhadap senyawa antioksidan menggunakan GC-MS menunjukkan terdapat tiga senyawa antioksidan yaitu Methyl-10-trans,12-cis-octadecadienoate, Methyl 9-cis,11-trans-octadecadienoate, dan 9,12-Octadecadinoic acid.The objective of this study is to find antioxidant compounds which are contained in methanol extract of Glycine max Detam 1 variety from Ultrasound extraction method. Extraction has done by two solvents; ¬n-hexane solvent to eliminate the soy fat which can affect the analysis result and methanol 80% to take the active compounds in soybean. The result of extraction was concentrated by using Rotary evaporator (BUCHI Rotavapor R-114) and BUCHI Water bath B-480. As the result of this study, there were three antioxidant compounds detected, i.e. Methyl-10-trans,12-cis-octadecadienoate, Methyl 9-cis,11-trans-octadecadienoate, and 9,12-Octadecadinoic acid

    Pembangan dan Validasi Metode Kromatografi Lapis TipisDensitometri untuk Analisis Pewarna Merah Sintentik pada Beberapa Merek Saus Sambal Sachet

    No full text
    Chili sauce sachet A, B and C containing synthetic red coloring agent  were taken from three fast food premises in Padang. Synthetic red coloring agent  were a food additives used by food manufacturers to enhance color of food products. The use of food coloring agent in Indonesia were regulated   in The Rule of Head of the Supervisory Food Board of the Republic of Indonesia Number 37 Year 2013 about the Limit Use of Food Coloring Agent. Thin-layer chromatography (TLC) -densitometry was  a precision method for the analysis of food additives. Development and validation of TLC method for chromatographic separation used GF254 silica plate eluted with a mixture of ethanol: butanol: distilled water (4: 5: 5) and spots were detected visually. A red spots on the sample B was identified as Ponceau 4R with Rf value of 0.76. It was then followed by quantitative analysis using densitometry. The linearity of the method  was found in the range of 2-10μg/ml with a correlation coefficient of 0.994. Precision intra-day and inter-day relative standard deviation was shown from 1.11% and 2.69% respectively. Accuracy of the method was shown on the percentage of recovery of the 3 different concentrations of solution which gave the average percentage of 108.17%. Limit of detection and limit quantitation was 0.8306μg/ml and 2.7687μg/ml.  The concentration of Ponceau 4R in the sample B was 11.9520mg/kg of material. This value was not exceeded the  maximum concentration of food coloring agent as stated in the rule which should not be above 70mg/kg of material.Saus sambel sachet A, B dan C yang mengandung pewarna merah sintetik diambil ditiga tempat makanan cepat saji dikota padang. Pewarna merah sintetik merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang digunakan oleh produsen pangan untuk memberikan sensasi warna pada produk pangannya. Penggunaan pewarna pangan ini diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Makanan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna. Metoda yang presisi untuk analisis bahan tambahan pangan ini adalah kromatografi lapis tipis (KLT)-densitometri. Pengembangan dan validasi metoda KLT untuk pemisahan secara kromatografi digunakan plat silica GF254 dengan fasa gerak campuran etanol:butanol:aquadest (4:5:5) dan bercak yang nampak dideteksi secara visual. Sebuah bercak merah pada sampel B teridentifikasi mengandung ponceau 4R dengan nilai Rf 0,76 dan dilanjutkan dengan analisis kadar dengan densitometry. Linieritas metode yang dilakukan ditemukan pada rentang 2-10 μg/ml dengan koefisien korelasi 0,994. Presisi intra-day ditunjukkan dari standar deviasi relative 1,11% dan inter-day 2,69%. Akurasi metode ditunjukkan dari persentase perolehan kembali terhadap 3 konsentrasi yang berbeda dengan persentase rata-rata  108,17%. Batas deteksi dan batas kuatitasi yang didapatkan adalah 0,8306μg/ml dan 2,7687μg/ml. Kadar ponceau 4R yang dikandung dalam sampel B adalah 11,9520 mg/kg bahan yang tidak melebihi batas maksimum penggunaan bahan pewarna menurut peraturan diatas yakni 70mg/kg bahan

    Pengaruh Pemberian Vanadil Sulfat dan Kromium (III) Klorida terhadap Fungsi Ginjal Mencit Putih Diabetes

    No full text
    The objective of this study was to identify the effect of two heavy metals, vanadyl sulphate and chromium (III) chloride on creatinine level of hyperglycemic mice induced by dexamethasone 11mg/kg. The experimental animals were grouped into five groups comprised of 5 white mice. Group I was used as control group, only received standard feeding and food supplement. Group II-V were induced with dexamethasone 11mg/kg to increase the blood glucose level. Group III was also given chromium (III) chloride 5.2 ug/20g. Group IV was also given vanadyl sulphate at the dose of 0.78 mg/20g. Group V received combination of vanadyl sulphate 0.39 mg/20g and chromium (III) chloride 2.6 ug/20g. The level of blood creatininewas determined by enzymatic method conducted for 42 days and observations were taken at day 7, 21 and 42. This study concluded that administration of vanadyl sulphate and chromium (III) chloride combination significantly reduced blood creatinine level of white mice (p<0,05).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari dua logam berat vanadil sulfat dan krom (III) klorida pada tingkat kreatinin darah tikus putih hiperglikemia yang disebabkan oleh deksametason 11mg/kgBB. Hewan-hewan percobaan dikelompokkan menjadi lima kelompok yang terdiri dari 5 tikus putih. Kelompok I digunakan sebagai kelompok kontrol, yang hanya menerima makanan standar dan suplemen makanan. Kelompok II - V diinduksi dengan dexametason 11mg/ kgBB untuk meningkatkan kadar glukosa mereka. Kelompok III juga diberikan kromium (III) klorida 5,2 ug/ 20g BW. Kelompok IV juga diberi vanadil sulfat pada dosis 0,78 mg/ 20 gBB. Kelompok V menerima kombinasi vanadil sulfat dengan dosis 0,39 mg/ 20 gBB dan kromium (III) klorida pada dosis 2,6 ug/ 20 gBB. Tingkat kreatinin darah ditentukan dengan metode enzimatik yang dilakukan selama 42 hari dan pengamatan dilakukan pada hari ke-7, hari ke-21 dan hari ke-42. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian kombinasi vanadil sulfat dan kromium (III) klorida secara signifikan mengurangi tingkat kreatinin darah tikus putih (P <0,05)

    Kajian Regimen Dosis Penggunaan Obat Asma pada Pasien Pediatri Rawat Inap di Bangsal Anak RSUP. Dr. M. Djamil Padang

    No full text
                       A study on dosage regimens of asthma medications in pediatric patients hospitalized at the pediatrics ward DR. M. Djamil Padang hospital has been carried out. The purpose of this study was to determine and compare the suitability of dosage regimen given to pediatric patients in the pediatrics ward of Dr. M. Djamil Padang hospital with the literature. This study was conducted retrospectively with consecutive sampling technique. Samples were obtained from medical records during 2013. The results showed that the appropriate dosage administration of asthma medication for the prednisone, Combivent® and ambroxol were 100%, salbutamol 75%, and theophylline 0%. On the other hand, the entire medications showed 100% suitability concerning the route of administration. While for the interval of administration, the study showed that dexamethasone, prednisone, salbutamol, theophylline and ambroxol were 100% appropriate, but Combivent® was lower at 95.24%. The study concludes that the dose and interval of administration are not in accordance with the literature, while the route of administration is considered to be in accordance with the literature.Telah dilakukan penelitian tentang kajian regimen dosis penggunaan obat asma pada pasien pediatri rawat inap di bangsal anak RSUP. DR. M. Djamil Padang yang bertujuan untuk membandingkan kesesuaian regimen dosis obat asma yang diberikan dengan regimen dosis pada literatur. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan teknik konsekutif sampling. Sampel diperoleh dari data rekam medik pasien selama tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prednison, Combivent® dan Ambroxol memenuhi tepat dosis pemberian 100%, Deksametason 7,14%, Salbutamol 75%, dan pemberian teofilin tidak ada yang tepat dosis. Untuk kriteria rute pemberian 100% dinyatakan tepat untuk semua obat. Sedangkan untuk kriteria interval pemberian, Deksametason, Prednison, Salbutamol, Teofilin, dan Ambroxol dinilai 100% tepat interval, namun Combivent® hanya 95,24%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa dosis dan interval pemberian obat asma belum sepenuhnya sesuai dengan literatur, sedangkan untuk rute pemberian dinilai sudah sesuai dengan literatur.

    Formulation of Mucoadhesive Ketoprofen Granule Using Chitosan Polymer

    No full text
    Tujuan penelitian ini yaitu formulasi granul mukoadhesif ketoprofen menggunakan polimer kitosan. Granul ketoprofen dibuat dengan metode granulasi basah dengan konsentrasi polimer kitosan 0%, 10%, 20%, dan 30% (b/v). Granul dievaluasi secara fisika dan kimia. Uji disolusi in vitro dilakukan selama 6 jam menggunakan metode keranjang dalam larutan dapar fosfat pH 7.4 secara umum granul yang dihasilkan relatif baik. Uji mukoadhesif in vitro menunjukkan bahwa granul ketoprofen menggunakan kitosan polimer dapat memberikan sifat mukoadhesif yang baik pada lambung dan usus kelinci secara in vitro. Uji statistik untuk efisiensi disolusi dilakukan dengan uji ANOVA (SPSS 17), dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara F0 dengan F1, F2 dan F3 (P 0,05). Semua formula mengikuti model kinetika pelepasan Langenbucher.The aim of this research was to formulate of mucoadhesive ketoprofen granules using chitosan polymer. Ketoprofen granules were prepared by wet granulation method with several concentrations of chitosan polymer 0%, 10%, 20%, and 30% (w/v). Granules were evaluated physically and chemically. In vitro dissolution test was carried out for 6 hours using a basket method in buffer phosphate medium pH 7.4. General evaluation of granules showed the yield was relatively good. In vitro mucoadhesive test exhibited that mucoadhesive ketoprofen granules using chitosan polymer could provide mucoadhesive properties to stomach and intestinal of rabbits. The statistics tests for dissolution efficiency with one ways ANOVA (SPSS 17) showed a significant different among F0, F1, F2 and F3 (P0.05). All the formulas followed Langenbucher kinetic release model

    0

    full texts

    255

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇