JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
    255 research outputs found

    Studi Penggunaan Obat Untuk Menangani Gangguan Natrium dan Kalium Pasien Penyakit Ginjal Terminal di RS Muhammadiyah Bandung

    No full text
    Penyakit ginjal terminal dapat menyebabkan terganggunya pengaturan keseimbangan Natrium (Na) dan Kalium (K). Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh fungsi ginjal yang menurun dan pengaruh antihipertensi golongan penghambat SRAA (Sistem Renin Angiotensin Aldosteron) seperti ACEI (Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor) dan ARB (Angiotensin Receptor Blocker). Gangguan ini dapat menyebabkan aritmia, edema otak, henti jantung hingga kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat serta pengaruh penggunaan antihipertensi ACEI dan ARB terhadap gangguan Na dan K pada kondisi pasien pradialisis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-potong lintang (cross-sectional) pada kondisi pasien pradialisis di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Dari penelitian diperoleh 22 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang memiliki hasil pengukuran kadar Na dan K pada kondisi pradialisis. Dari 22 pasien tersebut sebanyak 59,09% mengalami hiponatremia, 45,45% mengalami hiperkalemia, dan 4,55% mengalami hipokalemia. Untuk mengatasi kondisi hiponatremia digunakan infus NaCl 3%. Sedangkan untuk mengatasi kondisi hiperkalemia digunakan furosemid, kalsium glukonat, dan kalsium polistiren sulfonat baik tunggal maupun kombinasi. Gangguan Na dan K harus segera diatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan sel. Penggunaan antihipertensi ACEI, ARB maupun kombinasi keduanya secara statistik tidak bermakna yang berarti tidak terdapat pengaruh penggunaan obat tersebut terhadap munculnya kondisi hiponatremia maupun hiperkalemia pada pasien.Kata kunci: Hiponatremia, Hiperkalemia, ACEI, AR

    Penggunaan DNA Mitokondria Sebagai Penanda Sumber Gelatin Sediaan Gummy dengan Teknik Polymerase Chain Reaction dan Sekuensing DNA

    No full text
    Chewable lozenges atau gummy merupakan sediaan berbentuk kenyal yang dapat melepaskan zat aktifnya langsung di dalam mulut atau tenggorokan. Bahan yang berpengaruh dalam konsistensi gummy tersebut berasal dari basis. Dalam sediaan gummy, gelatin digunakan sebagai basis yang sebagian besar bersumber dari babi dan sapi. Identifikasi sumber bahan dapat dilakukan dengan teknik PCR dan sekuensing DNA. Penelitian ini bertujuan mengetahui sumber gelatin sediaan gummy impor tanpa logo halal. Isolasi DNA genom daging babi dan sediaan gummy dilakukan dengan GeneJet Kit. Isolat DNA kemudian diamplifikasi menggunakan primer spesifik DNA mitokondria sitokrom b. Selanjutnya, amplikon dianalisis dengan elektroforesis dan dilakukan sekuensing DNA. Hasil elektroforesis amplikon daging babi dan sediaan gummy A menghasilkan pita DNA dengan ukuran 553 bp. Analisis sekuensing DNA menunjukkan homologi dengan Sus scrofa breed long lin. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan gelatin yang digunakan pada sediaan gummy A mengandung gelatin yang berasal dari babi Sus scrofa breed long lin

    Evaluasi Penggunaan Antibiotik Secara Kualitatif dan Analisis Efektivitas Biaya pada Pasien Pediatri di RSUP Fatmawati Jakarta

    No full text
    Peresepan antibiotika yang tidak tepat akan meningkatkan kejadian resistensi. Resistensi antimikroba telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia dengan dampak meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan biaya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas penggunaan antibiotik pada pasien pediatri dan pengaruh rekomedasi apoteker dalam meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik, menurunkan lama rawat, serta biaya pengobatan. Penelitian ini menggunakan studi pra eksperimen dengan pendekatan prospektif. Data penelitian dikumpulkan dari rekam medik pasien dan dianalis dengan uji chi square serta uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekomendasi apoteker dapat menurunkan masalah ketidaktepatan dosis (29,73%) menjadi 0%), ketidaktepatan lama pemberian (51,35% menjadi 5,41%), dan ketidaktepatan pemilihan obat (18,92% menjadi 5,41%). Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) terhadap lama rawat kelompok rekomendasi (R) adalah Rp 2.481.456 lebih rendah dibandingkan kelompok non rekomendasi (NR) adalah Rp 2.640.703, sedangkan ACER terhadap hasil terapi (sembuh) kelompok rekomendasi (R) Rp 9.369.404 lebih rendah dibandingkan kelompok non rekomendasi (NR) Rp 17.985.054. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik di RSUP Fatmawati tepat dan bijak, rekomendasi apoteker dapat meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik, menurunkan lama rawat dan biaya pengobatan

    Analisis Ketepatan Pemilihan dan Penentuan Regimen Obat pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

    No full text
    Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit kronis paru-paru dengan karakteristik resistensi aliran udara yang benar-benar tidak dapat dipulihkan atau pulih sebagian dan progresif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperkirakan bahwa jumlah kasus COPD akan meningkat dari peringkat 6 pada tahun 1990 menjadi peringkat 3 pada tahun 2020 sebagai penyebab kematian paling umum di dunia, termasuk di Indonesia. Pentingnya menginformasikan keakuratan pemilihan obat dan penentuan regimen adalah untuk meningkatkan rasionalitas obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran ketepatan pemilihan obat dan penentuan regimen PPOK pada pasien dengan rawat inap COPD Mayor Jenderal H.A Thalib Kab.Kerinci. Jenis penelitian adalah deskriptif, pengambilan data dilakukan secara prospektif melalui rekam medis pasien untuk periode Maret-Mei 2018 dan dengan teknik pengumpulan data dalam bentuk total sampling. Sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian diperoleh 30 sampel. Pada hasil penyajian data deskriptif, penilaian akurat berdasarkan pemberian obat COPD pada pasien ada pemilihan obat yang tepat yaitu 74,83%, penentuan regimen obat 100% dan evaluasi pemantauan pasien yang diobati COPD sembuh 100

    Pengetahuan dan Sikap tentang Obat pada Orangtua Siswa SD di Kota Padang

    No full text
    Masalah keamanan obat pada anak seringkali diabaikan oleh orang tua. Anak masih dianggap sebagai pengguna pasif padahal anak sesuai dengan perkembangannya telah memiliki otonomi dalam penggunaan obat-obatannya sendiri. Untuk itu, anak perlu diberdayakan sesuai dengan pengetahuannya dibawah pengawasan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan dan sikap orangtua tentang obat pada anak. Disain penelitian yang digunakan menggunakan disain studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Dari peneitian ini didapatkan bahwa pengetahuan orang tua siswa SD di kota Padang tentang obat dikategorikan sedang(69,20 %). Sedangkan sikap orang tua menunjukan sikap positif dengan persentase sikap positif (97,4%). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan sikap  orang tua siswa SD di kota Padang. (P>0,05). Faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu uhuamur, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan tempat penyimpanan obat responden. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara semua karakteristik terhadap sikap responden. Dapat disimpulkan bahwa perlu edukasi kepada orangtua agar dapat memberikan informasi tentang keamanan obat pada anak.  

    Evaluasi Penggunaan Antibiotik Empiris dan Analisis Biaya Demam Tifoid di Sebuah RS Swasta Kota Semarang

    No full text
    The treatment of typhoid, which is caused by S. typhi, requires wise use of antibiotics. The use of irrational antibiotics can increase mortality, morbidity, disease spread and health costs. This study aims to understand the appropriateness of antibiotics use in a private hospital Semarang, the relationship between antibiotics rationality and costs. An observational retrospective study that used a cross sectional method, whereby data was collected from medical records and financial recap that fulfil the inclusion criteria. Data were used to perform descriptive analysis, analysis of antibiotics rationality using the Gyssens method, and to study the relationship between rationality and healthcare costs. Data on rationality and costs were analysed using the Mann Whitney test. Result showed 180 cases were evaluated during this study: 98 antibiotic regimens from medication in hospitalized and 82 antibiotic regimens from medication through take-home medicines. A number of 20,4% of the cases from medication in hospitalized and 7,3% of the cases from medication through take-home medicines were considered rational. There is a relationship between antibiotics rationality and antibiotic costs (p<0,05)Demam tifoid disebabkan bakteri Salmonella typhi dimana dalam terapi memerlukan pemakaian antibiotik yang bijaksana secara rasional. Pemakaian antibiotik irasional dapat meningkatkan mortalitas, morbiditas, penyebaran penyakit dan biaya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kesesuaian penggunaan antibiotik di sebuah RS Swasta Kota Semarang serta mengetahui hubungan antara rasionalitas penggunaan antibiotik terhadap biaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Analisis biaya dilakukan dengan menggunakan tipe farmakoekonomi Cost of Analsis (COI) berdasarkan pendekatan kejadian. Data diperoleh dari rekam medis dan faktur rekap keuangan sesuai kriteria inklusi penelitian. Data biaya yang digunakan merupakan data yang didapat dari perspektif rumah sakit. Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, rasionalitas antibiotik dengan metode Gyssens sedangkan analisis hubungan antara rasionalitas dengan biaya menggunakan uji statistika Mann Whitney. Hasil penelitian terdapat 180 kasus dengan 98 regimen antibiotik di bangsal dan 82 regimen antibiotik obat pulang. Persentase rasionalitas penggunaan antibiotik di bangsal sebesar 20,4% rasional dan 79,6% tidak rasional sedangkan rasionalitas regimen antibiotik pulang yaitu sebesar 7,3% rasional dan 92,7% tidak rasional. Ketidakrasionalan didominasi kategori IV A dan III B. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara rasionalitas terhadap biaya antibiotik (p<0,05)

    Kajian Efek Analgetik dan Toksisitas Subakut Dari Ekstrak Etanol Daun Kitolod (Isotoma longiflora L.) Pada Mencit Putih Jantan

    No full text
    Penelitian tentang pengaruh ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflora L. Presl.) terhadap aktivitas analgetik dan uji toksisitas pada mencit putih jantan telah dilakukan.. Hewan percobaan terdiri dari 30 ekor yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, pembanding (Asam mefenamat 65 mg/kg BB), dan ekstrak etanol daun kitolod dengan dosis 1; 2 dan 4 g/kg BB. Asam mefenamat dan ekstrak etanol daun kitolod diberikan secara oral selama 15 hari. Aktivitas stimulansia diuji pada hari ke-1, ke-5, ke-10, dan ke-15. Parameter yang diamati yaitu jumlah geliat hewan dengan metode writhing test. Pada pengujian aktivitas SGPT dan kadar kreatinin serum, hewan percobaan dibagi menjadi 4 kelompok (15 ekor/kelompok) yaitu kelompok kontrol yang diberikan Na CMC dan kelompok ekstrak etanol daun kitolod dengan dosis 1, 2, 4 g/Kg BB. Sediaan diberikan selama 15 hari secara oral. Aktivitas SGPT dan kadar kreatinin serum diukur dari serum pada hari ke-5, ke-10, dan ke-15 dengan menggunakan spektrofotometer microplate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kitolod dosis 1; 2; 4 g/kgBB dan lama pemberian mempengaruhi aktivitas analgetik (Sig 0,05)

    Survei Risiko Penyakit Diabetes Melitus Terhadap Masyarakat Kota Padang

    No full text
    Telah dilakukan survei risiko penyakit diabetes melitus terhadap 348 orang masyarakat di Kota Padang. Penelitian ini menggunakan metoda cross sectional survey dengan pengambilan data secara prospektif. Pengumpulan data mengunakan kuesioner CANRISK (The Canadian Diabetes Risk Questionnaire) dan dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney dan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat signifikan α<0,05. Parameter yang diamati adalah kategori risiko dan faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap diabetes melitus. Hasil penelitian menunjukan bahwa 57,7% responden termasuk kedalam kategori risiko tinggi, 34,5% risiko sedang, dan 7,7% risiko rendah terhadap penyakit diabetes melitus. Faktor risiko yang memiliki pengaruh terhadap penyakit diabetes melitus adalah jenis kelamin, umur, BMI (Body Mass Index), lingkar pinggang, riwayat hipertensi, riwayat gula darah tinggi, riwayat keluarga positif diabetes, dan tingkat pendidikan. Sedangkan faktor risiko yang tidak berpengaruh terhadap penyakit diabetes melitus adalah aktivitas fisik, konsumsi buah/sayur setiap hari, dan etnis orang tua

    Kontaminasi Bakteri pada Sediaan Campuran Intravena di Bangsal Perawatan Rumah Sakit

    No full text
    Administration of intravenous admixtures with bacterial contamination during preparation and injection to the patient can cause nosocomial infection. The purpose of this study is to determine the frequency of bacterial contamination and the types of the bacteria which contaminate to the intravenous admixtures. The sampling was carried out in the treatment ward, Government Hospital in Yogyakarta. The bacterial contamination was determined by using sterility test with direct inoculation method. A total of 60 intravenous admixtures were collected consisting of 43 intravenous admixtures were prepared by nurse in treatment ward and 17 intravenous admixtures were prepared by pharmacist in clean room. The frequency of bacterial contamination was identified in 1 of 43 (2.3%) prepared in treatment ward and none of the intravenous admixtures (0%) prepared in clean room. Enterobacter cloacae and Staphylococcus aureus were detected in one sample. Although sanitation and the training of aseptic technique can reduce the risk of bacterial contamination in treatment ward, but by using clean room to prepare intravenous admixtures can be the best strategyPemberian sediaan campuran intravena yang terkontaminasi bakteri selama persiapan dan injeksi ke pasien dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui frekuensi kontaminasi bakteri dan jenis bakteri yang mengkontaminasi pada sediaan campuran intravena. Pengambilan sampel dilakukan di bangsal perawatan, Rumah Sakit Pemerintah Yogyakarta. Kontaminasi bakteri dilihat dengan menggunakan uji sterilitas dengan metode inokulasi langsung. Total 60 sediaan campuran intravena yang dikumpulkan terdiri dari 43 pencampuran intravena yang dilakukan oleh perawat di bangsal perawatan dan 17 pencampuran intravena yang dilakukan farmasis di ruang bersih. Frekuensi kontaminasi bakteri pada sediaan campuran intravena di bangsal perawatan adalah 1 dari 43 (2,3 %) dan di ruang bersih 0 %. Enterobacter cloacae dan Staphylococcus aureus mengkontaminasi satu sampel sediaan campuran intravena. Meskipun sanitasi dan pelatihan teknik aseptik dapat mengurangi risiko kontaminasi bakteri di bangsal perawatan, namun dengan menggunakan ruang bersih untuk pencampuran sediaan intravena bisa menjadi strategi terbaik

    Characterization and antioxidant activity study of sappan wood (Caesalpinia sappan L.) ethanol extract

    No full text
    Secang (Caesalpinia sappan L.) secara tradisional digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Secang mengandung senyawa fenolik seperti asam gallat, brazilin dan brazilein. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi simplisia dan ekstrak etanol secang, mengevaluasi kandungan fenolik total dan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol secang. Karakterisasi simplisia secang diperoleh susut pengeringan sebesar 10,349 %, kadar sari larut air sebesar 3,293 %, kadar sari larut etanol sebesar 6,026 %, kadar abu total sebesar 0,6509 % dan kadar abu tidak larut asam simplisia adalah sebesar 0,480 %. Karakterisasi ekstrak etanol secang diperoleh kadar abu total sebesar 1,26 %, kadar abu tidak larut asam ekstrak sebesar 0,059 %, kadar air ekstrak didapatkan hasil 8,63 %. Kadar fenolik total ekstrak etanol secang adalah 71,144 g/100g. Semakin tinggi kadar fenolik total, maka semakin tinggi pula aktivitas antioksidannya. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol secang ditentukan dengan metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) dan hasilnya adalah 13,99 mmol Fe(II)/100g.Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) is traditionally used to treat various diseases. Sappan wood contains phenolic compounds such as gallic acid, brazilin and brazilein. The purposes of this study were to characterize the Sappan wood simplecia and ethanol extract, evaluate the total phenolic content and determine the antioxidant activity of Sappan wood ethanol extract. Characterization of Sappan wood simplicia obtained by loss of drying equal to 10.349 %, water soluble compounds was 3.293 %, ethanol soluble compounds was  6.026 %, total ash content was 0.6509% and ash content insoluble in acid was 0.480 %. Characterization of Sappan wood ethanol extract obtained total ash content was 1.26 %, ash content insoluble in acid was 0.059 % and water content yielded 8.63 %. The total phenolic content of Sappan wood ethanol extract was 71.144 g / 100g.  The higher of the total phenolic content, the higher the antioxidant activity. The antioxidant activity of ethanol extract of wood secang was determined by FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) method and the result was 13.99 mmol Fe (II) / 100g

    0

    full texts

    255

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇