JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
    255 research outputs found

    Pengaruh Interaksi Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri L.) dengan Glibenklamid Terhadap Ekspresi gen CYP3A4 pada kultur sel HepG2

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu sindrom metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula (glukosa) darah atau hiperglikemia. Berbagai terapi dilakukan untuk menurunkan hiperglikemia menggunakan obat antidiabetes maupun tanaman herbal. Pada beberapa kasus penggunaan bersamaan obat diabetes oral dan herbal antidiabetes dapat menyebabkan interaksi antara kedua obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi ekstrak etanol meniran dengan glibenklamid terhadap ekspresi gen CYP3A4 pada kultur sel HepG2. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kuantitatif dengan beberapa variabel, baik variabel independen (kombinasi ekstrak dan glibenklamid), dependen (ekspresi gen CYP3A4). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian glibenklamid tunggal terjadi penurunan ekspresi gen CYP3A4, yaitu pada konsentrasi 100, 50, dan 25 µg/mL sebesar 0,74;0,74;0,94. Selanjutnya pada ekstrak meniran tunggal terjadi peningkatan ekspresi gen CYP3A4 seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. Pada kombinasi ekstrak meniran dan glibenklamid terjadi penurunan ekspresi gen seiring dengan peningkatan konsentrasi pengujian. Pemberian kombinasi ekstrak meniran dan glibenklamid menurunkan ekspresi gen CYP3A4 seiring dengan peningkatan konsentrasi pengujian. Penurunan ekspresi gen CYP3A4 berimplikasi pada penurunan metabolisme oba

    Pengaruh Komponen Hidrofobik Elastis terhadap Karakteristik Fisik dan Laju Disolusi Tablet Eritromisin Stearat

    No full text
    Eritromisin stearat (ERS) telah diketahui menunjukkan fenomena sintering ketika dikempa dan ini berpotensi menyebabkan masalah pada kualitas sediaan mengingat ERS umum dipasarkan sebagai tablet. Pembuatan campuran biner ERS dengan parasetamol (PRS) dan asam mefenamat (ASM) dilakukan untuk menelaah pengaruh karakter hidrofobik elastis kedua senyawa tersebut terhadap sintering dari ERS. Karakterisasi fisik tablet campuran biner meliputi uji kekuatan mekanis, difraksi sinar-X serbuk (DSXS), scanning electron microscope (SEM), differential thermal analysis (DTA), spektrofotometri inframerah, dan terakhir dilakukan uji disolusi. Keberadaan PRS dan ASM meningkatkan nilai kekuatan tarik tablet ERS dan ASM memberikan peningkatan yang lebih tinggi. Superimposisi pola difraksi ERS dengan PRS maupun ASM teramati dari difraktogram sinar-X campuran biner. Fotomikrograf SEM memperlihatkan batas-batas antarpartikel pada permukaan dan patahan tablet campuran biner yang lebih jelas terlihat pada tablet ERS-ASM. Spektra inframerah dan termogram DTA tidak menunjukkan adanya puncak baru akibat interaksi pada sampel campuran biner, hanya teramati transformasi polimorfik dari PRS. Tablet campuran biner ERS-PRS dan ERS-ASM menghasilkan profil disolusi lebih baik dari pada tablet ERS. Berdasarkan hasil karakterisasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan PRS dan ASM dalam mencegah fenomena sintering dari ERS tidak melibatkan adanya interaksi dan dapat memengaruhi profil disolusinya

    Fenolik Total, Kandungan Flavonoid, dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Mareme (Glochidion arborescense Blume.)

    No full text
    Daun mareme (Glochidion arborescens Blume.) sering dikonsumsi oleh masyarakat khususnya suku sunda sebagai lalapan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa genus Glochidion berpotensi untuk dijadikan sebagai tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan fenolik total, flavonoid total, dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol-air daun mareme. Serbuk kering daun mareme diekstraksi dengan proses refluks menggunakan pelarut etanol-air 70% v/v. Ekstrak kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator dan penapisan fitokimia. Penetapan kadar fenolik total menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu dengan pembanding asam galat. Kandungan flavonoid total ditetapkan dengan pembanding kuersetin menggunakan pereaksi AlCl3. Aktivitas antioksidan ditentukan oleh uji peredaman radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dengan vitamin C sebagai pembanding. Hasil penafisan fitokimia menunjukkan bahwa daun mareme mengandung senyawa flavonoid, tanin, polifenol, monoterpenoid-seskuiterpen, saponin dan kuinon. Kadar fenolik total ekstrak daun mareme sebesar 33,32 ± 0,25 mg Gallic Acid Equivalent (GAE)/g ekstrak, sedangkan kadar flavonoid total sebesar 3,02 ± 0,003 mg Quercetin Equivalent (QE)/g ekstrak. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH diperoleh nilai IC50 ekstrak etanol daun mareme sebesar 5,5 µg/mL, dan nilai IC50 pembanding vitamin C sebesar 3,34 µg/mL. Berdasarkan hasil ini daun mareme memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman obat untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh stress oksidatif

    Evaluasi Kualitatif Terapi Antibiotik pada Pasien Pneumonia di Rumah Sakit Pendidikan Surabaya Indonesia

    No full text
    Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan angka resistensi antibiotik, morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan. Evaluasi penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif pada pasien pneumonia di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini dilakukan secara kohort prospektif pada pasien pneumonia yang menjalani rawat inap di RSUD dr. Soetomo selama 4 bulan dan dievaluasi denga metode Gyssens. Data diambil dari rekam medik pasien berupa nomer rekam medik, nama pasien, usia, berat badan, diagnosis, data klinik, data laboratorium, terapi, dosis, rute pemberian dan interval terapi. Dari hasil penelitian diperoleh 47 pasien pneumonia, termasuk pneumonia komunitas, pneumonia nosokomial dan bronkopneumonia. Pasien berusia mulai dari 0-24 bulan (21%); 2-12 tahun (4%); 13-59 tahun (49%) dan >59 tahun (26%). Lima besar antibiotik yang digunakan adalah seftazidim (20%), levofloksasin (18%) dan seftriakson (14%). Dalam peneitian ini menunjukkan 3 pasien (6%) kategori IVA (alternatif lebih efektif); 3 (6%) pasien kategori IIIA (pemerian terlalu lama) dan 1 pasien (2%) kategori IIA (dosis tidak tepat). Apoteker berperan dalam evaluasi antiiotika untuk meningkatkan kualitas hidup pasien

    Gambaran Kadar Elektrolit (Natrium dan Kalium) Darah, Tekanan Darah dan Denyut Nadi Pasien Terapi Gagal Jantung di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    No full text
    Gangguan elektrolit merupakan komplikasi yang berbahaya pada pasien gagal jantung. Gangguan ini dapat disebabkan oleh patofisiologis perkembangan penyakit gagal jantung pada masing – masing pasien ataupun oleh efek samping terapi obat gagal jantung yang diterima seperti diuretik, glikosida jantung, dan inhibitor sistem renin-angiotensin-aldosteron. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar elektrolit (natrirum dan kalium); tekanan darah sistolik dan diastolic; dan denyut nadi saat admisi; setelah satu minggu; dan setelah satu bulan mendapat terapi obat gagal jantung di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medis pasien pada tahun 2017. Analisis data gambaran dianalisis menggunakan uji T berpasangan (paired T-test).  Dari pengumpulan data diperoleh 27 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan secara bermakna (P > 0,05) antara kadar elektrolit (kalium dan natrium) pada saat admisi; setelah satu minggu; dan setelah satu bulan terapi obat gagal jantung). Namun, juga diketahui bahwa terdapat hubungan secara bermakna (P < 0,05) antara tekanan darah sistolik dan diastolic; dan denyut nadi saat admisi; setelah satu minggu; dan setelah satu bulan mendapat terapi obat gagal jantung

    Kajian Penggunaan Analgetik pada Pasien Pasca Bedah Fraktur di Trauma Centre RSUP M. Djamil Padang

    No full text
    Mengatasi nyeri Pasca bedah fraktur merupakan tindakan penting  dalam mencegah nyeri kronik, mengurangi lama perawatan demi meningkatkan kulitas hidup pasien. Karena itu perlu kajian penggunaan analgetik pasien Pasca bedah fraktur agar tepat guna, menguntungkan serta menghindari efek samping. Penelitian bertujuan mengkaji penggunaan analgetik yang meliputi jenis, dosis, penurunan derajad nyeri, serta efek samping yang ditimbulkan. Penelitian dilakukan pada pasien Pasca bedah fraktur di Trauma Centre RSUP M Djamil Padang Agustus hingga Oktober 2018 sebanyak 45 orang. dan yang menggunakan analgesik ketorolak injeksi 30mg/8jam 31 pasien (68,9%), tramadol injeksi 100mg/8jam 13 pasien (28,9%) dan paracetamol tablet 3x500mg 1 pasien (2,2%). Dari analisa statistik menggunakan Wilcoxon signed rank test, terdapat hubungan bermakna penurunan derajad nyeri, dimana p<0,05. Dari penelitian ini dapat disimpulkan analgetik terbanyak ketorolak injeksi 30mg/8 jam, dapat menurunkan nyeri dari sedang menjadi ringan 45,2%, 51,6% tidak berubah nyeri sedang. dan 3,2% masih dengan nyeri berat. Tramadol injeksi 100mg/8jam, menurunkan nyeri dari berat ke sedang 35,5%, berat ke ringan 61,5%. dan parasetamol tablet 3x500mg pada nyeri ringan 100%. Dengan penurunan derajad nyeri keseluruhan adalah 71,1%. Serta efek samping yang dirasakan berupa kontipasi (tramadol) sebanyak 13,33% dan mual muntah (ketorolak) sebanyak 8,89%

    Kejadian Obat-Obatan Penginduksi Kerusakan Liver pada Pasien Sirosis Rawat Inap di RSUD Dokter Soedarso Kalimantan Barat

    No full text
    Potensi terjadinya hepatotoksisitas karena penggunaan obat merupakan masalah klinis yang perlu diperliverkan. Risiko ini dapat menyebabkan bertambah parahnya penyakit liver yang diderita oleh pasien yang memang sudah menderita penyakit liver tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis obat yang paling berpotensi menginduksi kerusakan liver atau drug-induced liver injury (DILI) dan persentase peresepan obat berdasarkan kategori Likelihood Scores (A. B. C. D. E. E*. X). Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif melalui rekam medik pasien sirosis rawat inap tahun 2017. Sebanyak 36 pasien sirosis yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai sampel penelitian. Analisa data menggunakan LiverTox database (https://livertox.nih.gov/) untuk mengetahui kategori Likelihood Scores dari masing-masing obat. Hasil penelitian menunjukkan jenis obat yang paling banyak diresepkan dan berpotensi menginduksi kerusakan liver adalah paracetamol (kategori A), ranitidin (B), cetirizin (C), spironolakton (D), furosemid (E), dan ketorolac (E*). Persentase peresepan obat berdasarkan Likelihood Scores kategori A=1.7%. B=11.6%. C=0.4%. D=13.7%. E=23.6%. E*=3.4% dan X=32.2%. Dapat disimpulkan bahwa peresepan obat yang berpotensi menginduksi keparahan fungsi liver (kategori A.B.C.D.E.E*) pada pasien sirosis rawat inap di RSUD dr. Soedarso Pontianak masih tergolong tinggi (54.4%) dan memerlukan pertimbangan klinis yang hati-hati

    Deteksi Cepat Gen InvA pada Salmonella spp. Dengan Metode PCR

    No full text
    Salmonella spp. merupakan penyebab infeksi utama pada manusia melalui rute oral dengan cara mengkontaminasi makanan dan minuman. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella spp. disebut salmonellosis. Salmonella spp. memiliki gen invA yang menyebabkan patogen pada manusia. Deteksi gen InvA dapat dilakukan dengan metode PCR. Tujuan penelitian ini adalah untuk pengembangan metode deteksi cepat Gen InvA pada Salmonella spp. dengan metode PCR. Tahapan metode penelitian dimulai dari kultur Salmonella ATCC, Isolasi DNA Salmonella ATCC, Analisis Kuantitatif DNA Salmonella ATCC, Desain primer spesifik untuk deteksi gen InvA, Karakterisasi primer, Optimasi komponen PCR. Hasil isolasi DNA Salmonella ATCC yang didapat dengan konsentrasi DNA sebesar 4,5 ng/ul dengan kemurnian DNA 1,66. Primer PCR yang telah didesain untuk deteksi gen InvA terdiri dari satu pasang primer, yaitu InvA-F: 5’ TCGTCATTCCATTACCTACC 3’dan InvA-R: 5’ AAACGTTGAAAAACTGAGGA 3’ yang menghasilkan produk PCR gen InvA sepanjang 119 bp. Gen InvA dapat dideteksi dengan cepat menggunakan metode PCR yang telah dioptimasi komponen PCR

    Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Daerah Operasi pada Pasien Bedah Orthopedi di RSUP Fatmawati Periode Juli-Oktober 2018

    No full text
    Background: Surgery is one of the basic components of very important health care system. Therefore, the risk of any infectionin the surgical process must be known because microbes maycome in or accidentally come into the limbs that are in surgery. Microbes can cause nosocomial infections or Health Care Associated Infections (HAIs).WHO survey shows 5% -34% of HAIs are SSI while the highest prevalence of HAIs occurs intensively in care units, acute surgery and orthopedic rooms. Thisresearch aims to determine SSI and risk factors for SSI in orthopedic surgery patients at Fatmawati Hospital in July-October 2018. Method: This research was observational using cross sectional design,in whichthe data collection wasperformed prospectively. Data analysis was performed by univariate, bivariate, and multivariate analytic using total sampling from patients who performed orthopedic surgery at Fatmawati Hospital in both elective and cito surgery on July-October 2018 and SSI data collection was performed after surgery, namely in orthopedic poly outpatient care and inpatient care. Result: Data obtained in this research showed SSI level is 3.9 % of Orthopedic Surgery (3.9% cases of a total  770) in the research period. The results of the chi-square analysis showed that the diabetes mellitus, ASA score and type of surgery had a significant relationship with the incidence of SSI with significance value diabetes mellitus that is 0.024; ASA score that is 0.035 and type of surgery that is 0.001 where p 0.05. Analysis with logistic regression showed that the type of operation had a significant influence with the incidence of SSI which was 0.004 (p <0.05). Conclusion: From this research, it can be inferred that this type of surgery can increase the occurrence of SSI. Therefore, it is necessary to evaluate to reduce the rate of surgical site infections

    Formulasi Emulgel Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L.)

    No full text
    Garlic have an activity as antifungal. Garlic extract need to be non spesific standarized to get consistent quality. Emulgel have hydrophobic or hidrophilic active substances because emulgel is a combination of emulsion and gel. This study aims to obtain the garlic extract emulgel formula which has good quality and good physical properties.The garlic extraction method maceration method with ethanol 96% as a solvent (1:7.5). Non spesific parameter of extract standardization were powder lost on drying, water content, ash content, acid-insoluble ash content, mass of extract spesification. Extract were standardized and then formulated in emulgel dosage form with 25% concentration of extract, then emulgel evaluated for physical properties include organoleptic test, homogeneity, pH, temperature stability, spreadability, stickiness, type of emulsion, and viscosity. The results showed rendemen of extract (8.90 ± 0.12)%,  lost on drying (6.85 ± 0.11)%, water content of extract (4.16 ± 1.4)%, ash content of powder (3.24 ± 0.02)% and extract (1.14  ±  0.03)%, acid-insoluble ash content powder (0.96 ± 0.02)% and extract (0.61 ±  0.07)%, the mass of extract spesification 1.028, and for the physical properties test of emulgel preparations obtained homogeneous emulgel, semisolid form, light brown color, smell of extract garlic, stable at 5ºC and 25ºC for 24 hours, pH 7, spreadability (2.49±0.12) g.cm.s-1, stickiness (61.99±5.81)seconds, type of emulsion o/w, viscosity(2.63±0.22) Pa.s. Based on the study was obtained garlic extract that fulfill the requirements of non spesific parameter standardization from Farmakope Herbal Indonesia and emulgel formulation of garlic extract has good physical properties

    0

    full texts

    255

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇