Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Not a member yet
    996 research outputs found

    Beneficial Effect of Silicon Application and Intermittent Irrigation on Improving Rice Productivity in Indonesia

    Get PDF
    Penggunaan pupuk silika dipercaya dapat meningkatkan produksi padi, tetapi penelitian pengaruh silika pada tanaman padi di Indonesia masih terbatas. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi pemberian pupuk silika dan pengelolaan air pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi. Penelitian yang dilaksanakan di kebun percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Jakenan, Pati, Jawa Tengah pada musim hujan. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi dengan empat ulangan. Sebagai petak utama adalah perbedaan pengelolaan air sedangkan anak petak adalah perlakuan pupuk silika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian silika meningkatkan ketahanan serangan penyakit blas. Pemberian silika nyata menurunkan serangan blas daun dan leher yang diduga karena adanya peningkatan Si daun. Pengelolaan air berselang (IT) nyata pada meningkatkan hasil dibandingkan pengelolaan air konvensional (CF). Perlakuan IT meningkatkan pertumbuhan akar dan berdampak pada peningkatan pertumbuhan dan hasil padi. Perlakuan IT juga nyata meningkatkan kandungan hara Cu, Mn, dan Zn pada beras. Kombinasi pemberian silika dan pengelolaan air IT meningkatkan produktivitas tanaman padi terutama pada daerah dengan ketersediaan air terbatas. Kata kunci: pemberian silikon, penyakit blas, pengelolaan air, produktivitas padi, rebahIt is believed that silicon (Si) application could increase rice production, however studies related to those topics are still limited. The study determined the combination effect of Si application and water management on rice growth and productivity. This study was conducted at the experimental station of Indonesian Agricultural Environment Research Institute, Jakenan, Pati, Central Java at dry season. A split-plot in randomized complete block design with four replications was set. The main plots were different types of irrigation and subplots were Si fertilizer application. Results showed that the application of Si increased plant resistance on blast disease. This current result might be due to the increasing of Si concentration in leaves. IT water management significantly increased the yield compared to CF. IT increased root growth and gave an impact on increasing of plant growth and rice yield. Moreover, IT significantly increased Cu, Mn, and Zn concentration in rice grain. Combination of Si application with IT water management could increase rice plant productivity especially in area with water shortage. Keywords: blast disease, lodging, rice productivity, silicon application, water managemen

    Evaluasi Karakter Agro-morfologi Jengger Ayam (Celosia cristata L.) pada Genotipe Mutan M3

    Get PDF
    Celosia cristata L. atau jengger ayam merupakan tanaman hias dengan bentuk yang unik. Peningkatan keragaman C. cristata melalui teknik hibridisasi terkendala karena bunganya berbentuk bulir dan berukuran kecil sehingga menyulitkan proses kastrasi dan isolasi organ reproduksi. Induksi mutasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan keragaman. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi keragaman karakter agro-morfologi pada 17 genotipe mutan M3 jengger ayam hasil induksi mutasi sinar gamma di kebun percobaan Sabisa Farm. Karakter kualitatif dan kuantitatif yang terkait dengan agro-morfologi diamati berdasarkan deskriptor Union for The Protection of New Varieties of Plants (UPOV) yang dimodifikasi. Analisis ragam dilakukan menggunakan SPSS 20.0, sedangkan analisis kemiripan dengan menggunakan PBSTAT-CL 2.1. Keragaman signifikan antar genotipe C. cristata (p < 0.05) terdapat pada karakter tinggi tanaman dan panjang bunga. Tiga kelompok berdasarkan karakter agro-morfologi terbentuk dari analisis kemiripan pada koefisien ketidakmiripan 32%. Hasil mengindikasikan bahwa karakter karakter agro-morfologi dapat digunakan untuk membedakan 17 genotipe mutan M3 jengger ayam yang diteliti, sehingga dapat digunakan untuk pengembangan penelitian selanjutnya dalam program pemuliaan tanaman. Kata kunci: analisis kemiripan, agro-morfologi, keragaman, pemuliaan mutasiCelosia cristata L., namely jengger ayam, is an ornamental plant with a unique structure. The flower of C. cristata is shaped grains with small size; thus, the hybridization for increasing the diversity in this plant is challenging. One alternate technique for improving diversity is mutation induction by gamma rays. This study aimed to evaluate the variability of agro-morphological traits in seventeen M3 mutant C. cristata genotypes at the Sabisa Farm garden. Agro-morphological characteristics were evaluated based on descriptors of the International Union for the Protection of New Varieties of Plants (UPOV) with modification. Analysis of variance was performed using SPPS 20.0, whereas a similarity analysis was performed using PBSTAT-CL 2.1. Significant variability among C. cristata genotypes (p < 0.05) was found for plant height and flower length. Three clusters based on agro-morphological traits were obtained from similarity analysis with the dissimilarity distance of 32%. The results indicated that the agro-morphology traits were able to differentiate the 17 genotypes of C. cristata studied, and therefore it can be used for further research development in plant breeding programs. Keywords: agro-morphological, diversity, mutation breeding, similarity analysi

    Mekanisme Toleransi Aluminium pada Rumput Pakan Setaria splendida

    Get PDF
    Mekanisme toleransi tanaman terhadap toksisitas aluminium (Al) dapat dipelajari melalui perbandingan toleransiantara tanaman toleran dan tanaman sensitif toksisitas Al. Setaria splendida adalah tanaman pakan yang toleran terhadapAl, sedangkan Chloris gayana merupakan tanaman yang sensitif. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan mekanismetoleransi S. splendida terhadap toksisitas Al. Percobaan pertama disusun menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiriatas dua faktor untuk mempelajari akumulasi Al dan asam organik pada S. splendida dan C. gayana. Faktor pertama adalahkonsentrasi Al (0 dan 2 mM Al), sedangkan faktor kedua adalah jenis rumput pakan, yaitu rumput toleran Al (S. splendida)dan rumput sensitif Al (C. gayana). Percobaan kedua disusun menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas duafaktor dan tiga ulangan untuk mempelajari pengaruh cekaman Al pada S. splendida dan C. gayana. Faktor pertama adalahjenis rumput pakan (S. splendida dan C. gayana), sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi Al pada media tanam (28.19,27.37, 13.74, and 0.13 me Al3+). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akumulasi Al pada jaringan akar S. splendida tidakberbeda dengan yang terakumulasi pada jaringan akar C. gayana. Walaupun S. splendida mengakumulasikan Al dalamjumlah yang lebih tinggi dibandingkan C. gayana di bagian tajuk, S. splendida memiliki toleransi terhadap toksisitas Al.Toleransi S. splendida terhadap toksisitas Al dicapai dengan cara mensekresikan asam oksalat dan asam sitrat dari akar kelarutan eksternal, dan mengakumulasikan asam asam oksalat dan asam malat pada akar dan tajuk.Kata kunci: aluminium, asam organik, Chloris gayana, Setaria splendida, toleransiPlant tolerance mechanism to aluminum (Al) toxicity can be studied by comparing the Al-tolerant and Al-sensitivespecies. Setaria splendida is an Al tolerant forage, while Chloris gayana is a Al sensitive one. This research was aimed toreveal the main Al-tolerant mechanism in S. splendida. The first experiment was arranged in completely randomized designwith two factors and two replications to study the organic acid and Al accumulation in the S. splendida and C. gayana. Thefi rst factor was Al concentration (0 and 2 mM Al), while the second factor was Al tolerant (S. splendida) and Al sensitive(C. gayana) species. The second experiment was arranged in completely randomized design with two factors and threereplications to study the effect of Al stress on plant growth. The first factor was Al tolerant (S. splendida) and Al sensitive (C.gayana) species, while the second factor was four levels of Al concentration in the growth medium (28.19, 27.37, 13.74, and0.13 me Al3+). The results showed that the Al accumulation in the root tissue of S. splendida was similar to C. gayana. AlthoughS. splendida accumulated higher Al in the shoots in comparison to C. gayana, they were more tolerant to Al. S. splendidatolerated Al-toxicity by secreting oxalic acids and citric acid from roots to the external solution, and by accumulating oxalicacid and malic acid in their roots and shoots.Keywords: aluminum, Chloris gayana, organic acid, Setaria splendida, toleranc

    Kombinasi Pupuk Organik dan Anorganik untuk Optimalisasi Produksi dan Kandungan Nutrisi Umbi Taka

    Get PDF
    Taka (Tacca leontopetaloides [L.] Kuntze) adalah tumbuhan terna yang tumbuh liar di daerah pesisir pantai dengan tekstur tanah berpasir. Umbi taka memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi terutama karbohidrat. Saat ini pemanfaatan umbi taka masih minim karena ketersediaannya yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi pemupukan tumbuhan taka dalam rangka meningkatkan produksi umbi dan kandungan nutrisinya. Percobaan dilakukan di lapangan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 6 perlakuan, yaitu tanpa pupuk (kontrol), pupuk kandang saja (PK), pupuk kandang + pupuk anorganik NPK 50% (PKA50), pupuk kandang + NPK 100% (PKA100), pupuk kandang + pupuk organik hayati (POH) + NPK 50% (PKHA50), dan pupuk kandang + POH + NPK 100% (PKHA100). Dosis NPK 100% adalah 150:50:150 kg ha-1. POH yang digunakan adalah Beyonic StarTmik dengan dosis 25 cc L-1 air untuk perendaman bibit, 250 ml pertanaman pada umur 1 dan 3 bulan setelah tanam (BST). Seluruh perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa produksi umbi taka tertinggi adalah pada perlakuan PKHA50. Perlakuan POH yang dikombinasikan dengan pupuk NPK dapat meningkatkan produksi umbi taka sebesar 60-100%, namun tidak berpengaruh terhadap kandungan gizinya. Kombinasi pupuk kandang, POH, dan NPK 50% dapat direkomendasikan untuk optimalisasi produksi umbi taka. Kata kunci: hasil, NPK, pupuk kandang, pupuk organik hayatiTacca (Tacca leontopetaloides [L.] Kuntze) is a herbaceous plant that grows wild in coastal areas with sandy soil texture. Tacca tuber has a fairly high nutritional content, mainly carbohydrates. At present, the utilization of tacca tuber is limited due to low availability. This research aimed to obtain the fertilizer combination to enhance yield and nutrient content of tacca tuber. The research was carried out in the field using a randomized block design consisting of 6 treatments, namely without fertilizer as a control, manure only (PK), manure combined with inorganic NPK 50% (PKA50), manure combined with NPK 100% (PKA100), manure combined with biofertilizer and NPK 50% (PKHA50), and manure combined with biofertilizer and NPK 100% (PKHA100). The 100% NPK dose is 150: 50: 150 kg ha-1. Biofertilizer used was Beyonic StarTmik with a dose of 25 cc L-1 of water for seedlings soaking, 250 mL for each plant at the age of 1 and 3 months after planting. All those treatments were replicated 5 times. The results showed that the highest yield of tacca tuber was obtained from PKHA50 treatment. Biofertilizer combined with inorganic fertilizer could increase tacca tuber production by 60-100%, but did not affect the nutritional content. The combination of manure, biofertilizer, and NPK 50% can be recommended to optimize tacca tuber production. Keywords: biofertilizer, manure, NPK, yiel

    Kajian Berbagai Pola Tanam terhadap Peningkatan Produktivitas Jagung dan Kedelai dengan Berbagai Varietas Jagung

    Get PDF
    The reduction in agricultural land due to land conversion has encouraged several technological innovations in cultivation systems, including intercropping planting patterns. The study aimed to study various intercropping patterns with several varieties of maize which can increase production. The research was conducted at the Sawah Baru Experimental Station of the IPB University, Darmaga, Bogor, from November 2018 to February 2019 using a split-plot design with three replications. The main plot was the cropping systems, consisting of monoculture, single-row intercropping, double-rows intercropping, and triple-rows intercropping. The subplot was the maize varieties, consisting of Sukmaraga, Bima 19, and BISI 2. Regression and correlation analyses were carried out to determine the relationship between microclimate and productivity. The results showed that the productivity of maize and soybean was affected by the interaction between cropping patterns and varieties. The highest productivity of maize was obtained from the intercropping pattern of double rows of BISI 2 maize (7.33 ton ha-1), while the lowest maize productivity was in the intercropping pattern of a single row of Bima 19 maize (2.93 ton ha-1). The highest productivity of soybean was obtained from the intercropping cropping pattern of a single row of BISI 2 maize. The effect of microclimate on various cropping patterns with productivity in this study was a little. Land equivalent ratios (LER) in all treatments were greater than 1 except for intercropping 1 row of Bima 19 maize, indicating that intercropping can increase land productivity. Keywords: cropping pattern, intercropping, land equivalent ratio (LER), maize varietiesBerkurangnya lahan pertanian dikarenakan alih fungsi lahan mendorong beberapa inovasi teknologi sistem budidaya termasuk pola tanam tumpangsari. Penelitian ini bertujuan mempelajari berbagai pola tanam tumpangsari dengan beberapa varietas jagung yang dapat meningkatkan produksi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sawah Baru IPB, Darmaga, Bogor, dari November 2018 hingga Februari 2019, menggunakan rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama yaitu pola tanam yang terdiri atas monokultur, tumpangsari baris tunggal, tumpangsari baris ganda, dan tumpangsari tiga baris. Anak petak yaitu varietas jagung yang terdiri atas Sukmaraga, Bima 19, dan BISI 2. Analisis korelasi dan regresi untuk mengetahui hubungan antara iklim mikro dan produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan produktivitas tanaman jagung dan kedelai dipengaruhi oleh interaksi antar pola tanam dan varietas. Pada tanaman jagung produktivitas tertinggi terdapat pada pola tanam tumpangsari 2 baris jagung BISI 2 (7.33 ton ha-1), sedangkan produktivitas jagung terendah pada pola tanam tumpangsari 1 baris jagung Bima 19 (2.93 ton ha-1). Produktivitas kedelai tertinggi terdapat pada pola tanam tumpangsari 1 baris jagung BISI 2. Pengaruh iklim mikro pada berbagai pola tanam dengan produktivitas pada penelitian sangat kecil. Nisbah kesetaraan lahan (NKL) pada semua perlakuan lebih dari 1 kecuali pada tumpangsari 1 baris jagung Bima 19, mengindikasikan bahwa pola tumpangsari dapat meningkatkan produktivitas lahan, . Kata kunci: nisbah kesetaraan lahan (NKL), pola tanam, tumpangsari, varietas jagun

    Efektivitas Metode Seleksi Pedigree dan Modified Bulk pada Tiga Populasi Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench)

    Get PDF
    Sorghum has a growing popularity for food, feed, biofuel, and therefore needs to be developed. The research aimed to compare the effectiveness of pedigree and modified bulk selection methods for improving yield in three sorghum populations. The genetic materials used were 60 F6 lines from three populations, namely PI 10-90-A x Numbu, PI 150-20-A x Numbu and PI 150-20-A x Kawali which had been selected using pedigree and modified bulk methods. The experiment was conducted from October 2018 to February 2019 at the Cikabayan Experimental Station of IPB University, Dramaga, Bogor. The experiment was arranged in an augmented design with six checks, namely Kawali, Numbu, PI 10-90-A, PI 150-20-A, Samurai 1, and Samurai 2 which were replicated four times. Observations were made on agronomic traits and yield. Plant height and grain weight per panicle had high heritability and large genotypic coefficients of variation. The contrast test results showed significant differences between populations in plant height, panicle length, days of harvesting and 100-seed weight. On the other hand, no significant difference was observed among selection methods, indicating that both methods were equally effective for increasing sorghum yield. The pedigree selection and modified bulk selection increased grain yield per panicle by 14.1 g and 18.2 g respectively. Bulk of the best genotypes in early generation could be an alternative of bulk selection method. Keywords: contrast test, differential selection, genotypic coefficient of variation, heritabilit

    Produksi Jintan Hitam (Nigella sativa L.) dengan Pemberian Asam Humat dan Waktu Panen Berbeda

    Get PDF
    Jintan hitam (habbatussauda) adalah tanaman yang digunakan di seluruh dunia sebagai tanaman obat untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Biji dan minyak yang berasal dari biji adalah bagian yang sering digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komponen produksi dan bahan aktif habatussauda dengan pemberian asam humat dan waktu panen berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge, Cianjur, Jawa Barat Indonesia pada bulan Mei sampai Desember 2019. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan pemberian asam humat 0, 1.5, 3.0, dan 4.5 ton ha-1 sebagai faktor pertama dan waktu panen berbeda pada 6, 7, 8, dan 9 minggu setelah antesis sebagai faktor kedua. Hasil penelitian menunjukkan pemberian asam humat sampai 3 ton ha-1 tidak menunjukkan pengaruh nyata pada produksi kapsul, biji dan produktivitas, namun pemberian asam humat 4.5 ton ha-1 menurunkan produksi kapsul dan biji. Pemberian asam humat dan waktu panen tidak berpengaruh nyata terhadap kadar dan produksi timokuinon. Waktu panen terbaik adalah 7 sampai 8 minggu setelah antesis pada produksi kapsul dan biji. Kata kunci: biji, habbatussauda, kapsul, timokuinonBlack cumin (habatussauda) is a herb plant that is used all over the world for treatment or prevention of diseases. Seeds and seed oil of habatussauda have many advantages. The research aimed to determine yield component and active compound of habatussauda with treatments of humic acid and harvesting time. The research was conducted at the Pasir Sarongge Experimental Station, Cianjur, West Java, Indonesia, from May to December 2019. The experiment was arranged in a randomized completely block design with two factors. The levels of humic acid treatment were 0, 1.5, 3, and 4.5 ton ha-1, and harvesting time levels were 6, 7, 8, and 9 weeks after anthesis. The results showed that humic acid up to 3 ton ha-1 did not have significant effects on capsule and seed productivity, but humic acid 4.5 ton ha-1 decreased those. Humic acid and harvesting time did not have significant effects on thymoquinone content and production. Harvesting time at 6 until 7 weeks after anthesis was the best time for harvesting capsule and seed. Keywords: capsule, habbatussauda, seed, thymoquinon

    Faktor-faktor yang Memengaruhi Produksi dan Efektivitas Panen pada Kakao Mulia

    Get PDF
    Low productivity of cocoa (Theobroma cacao L.) in Indonesia is caused by various factors such as improper harvesting practice. The research studied growth, development, and distribution of pod on two edel cocoa clones (DR 2 and DRC 16) and to evaluate factors affecting production and harvesting effectivity. The study was carried out at cocoa farm located at Renteng Plantation, Jember, East Java, Indonesia in January-May 2019. Pod growth, distribution, and disease incidents were evaluated on the stem 0-200 cm from soil level. The results showed that harvested pod met 73.51% of the standard quality. DR 2 and DRC 16 matured about 21-24 and 19-22 weeks after anthesis, respectively. Pods distributed predominantly at 151-200 cm above soil surface, and number of pod increased from lower to higher stem. Cocoa production was affected by clone, fruit position on the stem height, pest and disease infections, and harvester’s age and their height. In order to increase cocoa production, it is important to increase harvesting effectivity by managing fruit position such as maintaining tree height to fit with harvester’s age and height.  Masih rendahnya productivitas kakao (Theobroma cacao L.) di Indonesia diduga karena manajemen pemanenan. Pada penelitian ini, distribusi dan pertumbuhan buah dari dua klon kakao yakni DR2 dan DRC16 dievaluasi untuk memperbaiki manajemen pemanenan dalam rangka meningkatkan produktivitas. Masih rendahnya produktivitas kakao (Theobroma cacao L.) di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya diduga karena teknis pemanenan yang kurang tepat. Penelitian bertujuan mengevaluasi pertumbuhan, perkembangan dan sebaran buah kakao pada batang dari klon DR 2 dan DRC 16 dalam rangka mengkaji faktor yang memengaruhi hasil dan efektivitas panen kakao mulia. Penelitian dilakukan di kebun kakao Perkebunan Renteng, Jember, Jawa Timur, Indonesia pada bulan Januari sampai Mei 2019. Pertumbuhan, sebaran dan kejadian penyakit buah kakao pada 0-200 cm dari permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas panen memenuhi 73.51% dari standar. Buah kakao DR 2 dan DRC 16 matang panen berturut-turut pada 21-24 dan 19-22 minggu setelah antesis. Posisi buah terbanyak ada pada ketinggian 151-200 cm dari permukaan tanah, dan jumlah buah meningkat semakin dekat ke kanopi tanaman. Produksi kakao dipengaruhi oleh klon, posisi buah pada pohon, infeksi hama dan penyakit, dan karakteristik pemanen khususnya umur dan tinggi badan. Peningkatan produksi dapat ditempuh melalui peningkatan efektivitas panen melalui pengaturan posisi buah misalnya dengan mempertahankan tinggi pohon agar sesuai dengan keterbatasan umur dan tinggi badan pemanen

    Uji Amelioran Organik Asal Limbah Pertanian pada Pertanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) di Tanah Gambut

    Get PDF
    Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan amelioran organik dapat mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia sintetik pada budidaya tanaman sawi hijau di tanah gambut. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dosis kompos limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan gedebok pisang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau di tanah gambut. Lokasi penelitian bertempat di Desa Baning Kota, Kabupaten Sintang pada bulan April sampai dengan Juni 2020. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama yaitu pemberian dosis kompos TKKS 5 taraf t0 (tanpa kompos), t1(5 ton ha-1), t2 (10 ton ha-1), t3 (15 ton ha-1), dan t4 (20 ton ha-1). Faktor kedua yaitu dosis kompos gedebok pisang dengan 4 taraf p0 (tanpa kompos), p1(10 ton ha-1), p2(20 ton ha-1), dan p3(30 ton ha-1). Interaksi perlakuan secara signifikan dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, laju asimilasi bersih, dan laju pertumbuhan tanaman. Kandungan N, P, dan K di tanah meningkat 53.85%, 409.90% dan 2,709% pada pemberian 15 ton ha-1 kompos TKKS + 30 ton ha-1 kompos gedebok pisang. Kombinasi perlakuan ini adalah yang terbaik dalam penelitian ini untuk meningkatkan produksi sawi hijau di tanah gambut, ditunjukkan dengan rata-rata bobot segar tanaman sebesar 176.71 g. Kata kunci: gedebok pisang, produksi tanaman, tandan kosong kelapa sawitThe use of agricultural waste as an organic ameliorant can reduce the dependence on the use of synthetic chemical fertilizers on the cultivation of mustard on peat soils. The research objective was to determine the best effect of the compost dosage of oil palm empty bunches (TKKS) and banana trunk waste on the growth and yield of mustard in peat soil. The location of the study was located in Baning Village, Sintang District, from April to June 2020. The research used a factorial completely randomized design. The first factor is the usage of 5 compost levels of TKKS which are t0 (without compost), t1(5 tons ha-1), t2(10 tons ha-1), t3(15 tons ha-1),t4(20 tons ha-1). The second factor was the dosage of banana trunk compost with 4 levels of p0(without compost), p1(10 tons ha-1), p2(20 tons ha-1), p3(30 tons ha-1). Treatment interactions significantly increased plant height, leaf number, leaf area, plant fresh weight, plant dry weight, net assimilation rate, and plant growth rate. The N, P, and K content in the soil increased by a percentage of 53.85%, 409.90%, and 2,709% on the application of 15 tons ha-1 TKKS compost + 30 tons ha-1banana trunk and compost. This treatment combination was the best in this study for increasing the production of mustard greens in peat soil, indicated by the average of plant fresh weight of 176.71 g. Keywords: banana trunk, crop production, oil palm empty bunche

    Identifikasi Stabilitas Hasil Genotipe Ubi Jalar (Ipomoea batatas L. (Lam)) Harapan Baru di Tiga Lingkungan

    Get PDF
    Produktivitas merupakan salah satu karakter penting dalam perakitan varietas baru. Pengujian multilokasi diperlukan untuk mengestimasi stabilitas hasil dari tanaman yang diuji. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi interaksi genotipe dengan lingkungan (GxE), mengidentifikasi stabilitas hasil genotipe-genotipe baru ubi jalar, serta mengidentifikasi pengukuran stabilitas yang statis dan dinamis terhadap hasil ubi jalar. Penelitian dilakukan di tiga lingkungan di Jawa Barat, diantaranya pada dataran medium yaitu Kabupaten Sumedang (729 mdpl), Kabupaten Bandung (857 mdpl), serta pada dataran rendah yaitu Kabupaten Karawang (24 mdpl) dari bulan Januari 2017-Juli 2018. Percobaan menggunakan rancangan lapangan Augmented design di setiap lokasi. Analisis ragam (ANOVA) gabungan digunakan untuk mengestimasi GxE, sedangkan stabilitas hasil diestimasi dengan pengukuran model stabilitas parametrik (Regresi linier Eberhart dan Russell (bi dan S2di), komponen rata-rata varians (θi), varians genotipe terhadap lingkungan (GE) (θ(i)), Wricke ecovalence (Wi2), varians stabilitas Shukla (σ²i), koefisien variasi (CVi), AMMI stability value (ASV)), non-parametrik (model Huehn (S(i)), model Thennarasu (NP(i)), Peringkat Kang (KR)), dan GGE biplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GxE menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap hasil panen dengan kontribusi sebesar 14.17%. Dua genotipe ubi jalar teridentifikasi stabil dan memiliki hasil tinggi di tiga lingkungan yaitu PR79 dan PR126. Genotipe-genotipe tersebut dapat direkomendasikan sebagai genotipe unggul baru dan sebagai bahan untuk program pemuliaan tanaman ubi jalar selanjutnya. Pengukuran stabilitas NP(2) dan θᵢ merupakan model stabilitas statis yang dapat merekomendasikan genotipe stabil pada lingkungan yang kurang menguntungkan (unfavorable), sedangkan pengukuran S(1), S(2), S(3), S(6), NP(1), NP(3), NP(4), KR, CVi, bi, S2di, Wi2, ASV, dan σ²ᵢ merupakan model stabilitas dinamis yang dapat merekomendasikan genotipe stabil pada lingkungan yang menguntungkan (favorable). Kata kunci: GGE biplot, multilokasi, non-parametrik, parametrik, stabilitas hasilProductivity is an important character in the assembly of new varieties. Multilocation tested is needed to estimate the yield stability of the tested plants. This study aimed to estimate the genotype by environment interactions (GxE), identify the yield stability of the new promising sweet potato genotypes, and identify static and dynamic stability measurement models for sweet potato yields. The research was conducted in three environments in West Java, i.e., Sumedang Regency (729 masl), Bandung Regency (857 masl), and Karawang Regency (24 masl) from January 2017 to July 2018. The field experiment used an augmented design at each location. To estimate the GxE, a combined analysis of variance (ANOVA) was used, while the yield stability was estimated using the parametric (linear regression (bi and S2di), mean variance component (θi), genotypes variance environments (GE) (θ(i)), Wricke ecovalence (Wi2), Shukla variance stability (σ²i), coefficient of variation (CVi), AMMI stability value (ASV)) and non-parametric stability measurements (Huehn (S(i)), Thennarasu (NP(i)), Kang Ranks (KR)), and GGE biplot. The results showed that GxE had a significant effect on the yield with a contribution of 14.17%. Two new sweet potato genotypes were identified as stable and high yields in three environments, they were PR79 and PR126. These genotypes can be recommended as new superior genotypes and as materials for further sweet potato plant breeding programs. NP(2) and θᵢ stability measurements were the static stability models that can recommend the stable genotypes in unfavorable environments, while S(1), S(2), S(3), S(6), NP(1), NP(3), NP(4), KR, CVi, bi, S2di, Wi2, ASV, and σ²ᵢ were the dynamic stability models that can recommend the stable genotypes in favorable environments.Keywords: GGE biplot, multilocation, non-parametric, parametric, yield stabilit

    885

    full texts

    996

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇