Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Not a member yet
    996 research outputs found

    Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Padi (Oryza sativa L.) pada Berbagai Interval Irigasi

    Get PDF
    Peningkatan produksi padi pada saat musim kemarau dapat dilakukan melalui manajemen pengairan dan penggunaan varietas efisien pengunaan air. Penelitian bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan produksi enam varietas padi terhadap interval irigasi yang berbeda dan mendapatkan nilai efisiensi pemakaian air irigasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni - November 2019 di lahan sawah petani Kabupaten Indramayu, mengunakan rancangan petak terbagi. Faktor pertama sebagai petak utama adalah 4 interval irigasi yaitu A= kontrol (irigasi terus menerus), B = interval 4 hari, C = interval 8 hari dan D = interval 12 hari, serta faktor kedua sebagai anak petak yaitu 6 varietas padi yaitu V1 = Ciherang, V2 = Mekongga, V3 = INPARI 32, V4 = IPB 3S, V5 = INPAGO 11 dan V6 = Situ Bagendit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil dipengaruhi oleh interval pemberian air dan varietas. Interval pemberian air yang lebih lama menurunkan pertumbuhan dan hasil yang semakin besar. Varietas IPB 3S memiliki efisiensi pemakaian air irigasi tertinggi dan INPAGO 11 memiliki efisiensi terendah. Interval irigasi terbaik untuk seluruh varietas adalah interval 8 hari, atau irigasi perlu diberikan saat tinggi muka air 1.62 cm di bawah permukaan tanah. Kata kunci: efisiensi pemakaian air irigasi, irigasi berselang, tinggi muka airIncreasing rice production in the dry season can be performed by improving irrigation management and use of rice varieties with high water use efficiency. This study aimed to compare the response of growth and production of six rice varieties to different irrigation intervals and obtaining the estimate of water use efficiency. This research was conducted from June to November 2019 in Indramayu Regency using a split-plot design with irrigation intervals as the main plot, namely A = continuous irrigation, B = 4-day interval, C = 8-day interval, D = 12-day interval, and six rice varieties as the subplot, namely V1 = Ciherang, V2 = Mekongga, V3 = INPARI 32, V4 = IPB 3S, V5 = INPAGO 11 and V6 = Situ Bagendit. The results showed that the growth and yield of rice were influenced by watering interval and variety. Longer watering intervals decreased growth and yields more markedly. IPB 3S had the highest water use efficiency and INPAGO 11 had the lowest efficiency. The best irrigation interval at the time of this study was the 8-day interval, or irrigation that should be applied if the water level became 1.62 cm below the soil surface. Keywords: efficiency of irrigation water use, intermittent irrigation, water level &nbsp

    Seleksi Galur-galur Dihaploid Padi Hitam pada Uji Daya Hasil Lanjutan

    Get PDF
    Padi hitam merupakan sumber karbohidrat yang bermanfaat untuk kesehatan. Pengujian daya hasil merupakan tahapan penting dalam menentukan keberhasilan pemuliaan padi beras hitam. Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh informasi keragaan agronomi dan menyeleksi galur-galur dihaploid padi beras hitam yang memiliki penampilan agronomi baik dan berdaya hasil tinggi untuk pengujian multi lokasi. Penelitian ini dilakukan dari bulan November 2019 sampai Juli 2020 di Bogor, Jawa Barat dan Malang, Jawa Timur. Sebanyak 23 galur dihaploid padi hitam yang memiliki sifat agronomi baik dengan produktivitas tinggi dan 3 varietas pembanding yaitu Aek Sibundong, Jeliteng, dan Inpari 24 digunakan sebagai materi genetik. Studi ini menggunakan rancangan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 3 ulangan pada setiap percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi genotipe dan lingkungan berpengaruh nyata terhadap semua karakter pengamatan kecuali pada karakter lama pengisian gabah berdasarkan analisis keragaman. Sebanyak 14 galur yang terseleksi berdasarkan indeks terboboti memiliki karakteristik jumlah anakan produktif per rumpun dari 15.8 hingga 25.9, umur panen genjah dari 115.2 to 121.9 hari setelah semai, dan produktivitas >5.4 ton ha-1. Keragaan agronomi dan daya hasil galur-galur dihaploid padi yang terseleksi pada penelitian ini memerlukan pengujian lebih lanjut melalui uji multi lokasi untuk memperoleh calon varietas unggul baru padi beras hitam. Kata kunci: agronomi baik, indeks seleksi, kriteria seleksi, kultur antera padiBlack rice becomes a source of carbohydrate with health benefits. Yield trial is an important step for the success of black rice breeding. This study aimed at obtaining information on agronomic performance of doubled haploid lines of black rice and selecting the best doubled haploid black rice lines with good agronomic characters and high yielding for multi-location yield trials. This study was conducted from November 2019 until July 2020 in Bogor, West Java and Malang, East Java. Twenty-three doubled haploid black rice lines and three check varieties namely Aek Sibundong, Jeliteng, and Inpari 24 were used as plant genetic materials. This study was arranged in a randomized complete block design with three replications for each treatment. The result revealed that interaction of genotype and environment was significant on all observed traits except on grain filling period according to analysis of variance. Fourteen doubled haploid rice lines were selected based on weighted selection index. These lines showed number of productive tillers per hill ranged from 15.8 to 25.9, early maturity from 115.2 to 121.9 days after sowing, and high productivity (>5.4 ton ha-1). The agronomic performance and yield of the doubled haploid rice lines selected in this study required further testing through a multi-site test to obtain a candidate for new high yielding variety for black rice. Keywords: good agronomic, rice anther culture, selection criteria, selection inde

    Studi Pemangkasan dan Aplikasi Sitokinin-Giberelin pada Tanaman Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Produktif Klon GMB 7

    Get PDF
    Pemangkasan pada tanaman teh yang dilakukan di kebun teh produktif menyebabkan sebagian besar atau secara keseluruhan organ fotosintesis tanaman hilang dan diperlukan waktu sekitar 2-3 bulan utuk tumbuh kembali. Pemangkasan dilakukan dengan jenis dan tinggi pangkasan yang bervariasi. Penambahan sitokinin benzil amino purine (BAP) dan giberelin (GA) diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan pucuk setelah dipangkas. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh pemangkasan serta aplikasi BAP dan GA terhadap pertumbuhan dan hasil pucuk teh. Percobaan dilaksanakan kebun percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung bulan Agustus 2017-Oktober 2018 menggunakan rancangan split-split plot terdiri dari jenis pemangkasan (pemangkasan bersih dan pemangkasan ajir) sebagai petak utama, tinggi pangkasan sebagai anak petak (40 cm, 50 cm, dan 60 cm), aplikasi BAP dan GA sebagai anak-anak petak (0 ppm, 60 ppm BAP, 50 ppm GA, 60 ppm BAP+ 50 ppm GA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan bersih dan 60 ppm BAP + 50 ppm GA menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tinggi tunas. Tinggi pangkasan 60 cm dan 60 ppm BAP menunjukkan indeks klorofil daun tertinggi bulan ke-3 sebesar 91.58 (lebih tinggi daripada hasil penelitian sebelumnya yaitu 62.5-75.28), sedangkan tinggi pangkasan 60 cm dan 60 ppm BAP + 50 ppm GA memberikan bobot basah pucuk per perdu tertinggi pada pemetikan produksi. Secara tunggal, tinggi pangkasan 50 cm menurunkan jumlah pucuk burung serta 50 ppm GA mempersingkat lamanya masa dormansi pucuk menjadi 22 hari. Kata kunci: dormansi pucuk, pucuk burung, teh produktifPruning of tea plants is carried out in productive tea plantations with varying types and heights of pruning. Pruning causes most or all of the photosynthetic organs of the plant to be lost, and regrowth of new shoots takes about 2-3 months. The addition of cytokinins benzyl amino purine (BAP) and gibberellin (GA) is expected to accelerate shoot growth after pruning. The purpose of this study was to determine the effect of pruning, BAP and GA application on the growth and yield of tea shoots after pruning. The experiment was carried out in Tea and Cinchona Gambung Research Center from August 2017 to October 2018 using a split split plot design consisting of type of pruning as the main plot (clean pruning and lung pruning), pruning height (40 cm, 50 cm, and 60 cm) as the subplot, BAP and GA application as the sub-sub plot (0 ppm, 60 ppm BAP, 50 ppm GA, 60 ppm BAP + 50 ppm GA). The results showed that clean pruning and 60 ppm BAP + 50 ppm GA produced the best growth on shoots height. Pruning height of 60 cm and 60 ppm BAP showed the highest leaf chlorophyll index of third months as much as 91.58 (higher compared to previous research results of 62.5-75.28), while the pruning height of 60 cm and 60 ppm BAP + 50 ppm GA produced the highest fresh shoot weight per shrub. Individually, 50 cm pruning height reduced the number of dormant shoots and 50 ppm GA shortened the length of shoot dormancy to 22 days. Keywords: banji shoots, productive tea, shoots dormanc

    The Efisiensi Penggunaan Nitrogen pada Padi Gogo Varietas IPB 9G

    No full text
    Beras merupakan makanan pokok di Indonesia. Beberapa varietas padi gogo unggul baru telah dilepas dan perlu dilengkapi pemupukan yang akurat di lokasi tertentu. Salah satu jenis pupuk tersebut adalah nitrogen (N). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan N pada padi gogo IPB 9G sebagai respon terhadap dosis pupuk N. Dosis pupuk yang diaplikasikan adalah 0, 46, 92, 138, dan 184 kg N ha-1 dalam bentuk urea (46% N). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan di Darmaga, Bogor pada Maret-Juli 2018. Petak percobaan berukuran 3.5 m x 3.0 m. Padi gogo ditanam dengan jarak 50 cm x 10 cm. Efisiensi penggunaan N dinilai dari pertumbuhan padi, serapan N, efisiensi agronomi dan fisiologis. Peningkatan tinggi tanaman dan jumlah anakan mengikuti peningkatan dosis N. Serapan N dan hasil gabah memiliki respon kuadratik terhadap dosis N dan dapat menjadi indikator efisiensi pemupukan N. Serapan N dan hasil gabah yang maksimum diperoleh dari dosis pupuk N yang hampir sama, rata-rata 143.8 kg N ha-1 (312.5 kg urea ha-1). Untuk efisiensi pemupukan N padi gogo IPB 9G pada tanah dengan N total sedang (0.27%) di musim kering dapat diaplikasikan 143.8 kg N ha-1 (urea 312.5 kg N ha-1). Kata kunci: efisiensi agronomis, efisiensi fisiologis, hasil biji, serapan NRice is a major staple food in Indonesia. Some new upland rice varieties have been released and should be accompanied by accurate fertilization dosage at a specific location. One of the fertilizers is nitrogen (N). The objective of this research was to evaluate N use efficiency in upland rice variety IPB 9G as a response to N dose. The N doses were 0, 46, 92, 138, and 184 kg N ha-1 (using urea 46% N). The experiment was conducted using a randomized complete block design with three replications in Darmaga, Bogor in March-July 2018. The plot size of each N dose was 3.5 m x 3.0 m. The N use efficiency was determined through rice growth, N uptake, agronomical and physiological efficiency. Plant height and tiller number increased followed the increase of N dose. The N uptake and grain yield had a quadratic response to the N dose which could be an indicator of the N fertilizing efficiency. The maximum N uptake and grain yield were achieved at an average of 143.8 kg N ha-1 (312.5 kg urea ha-1). The recommendation of N fertilizing for soil with moderately N (0.27%) during the dry season was 143.8 kg N ha-1 (312.5 kg urea ha-1), as it is the most efficient dose in IPB 9G cultivation. Keywords: agronomical efficiency, grain yield, N uptake, physiological efficienc

    Penampilan Agronomi Galur-Galur Padi Sawah Tadah Hujan Toleran Kondisi Anaerob pada Fase Perkecambahan

    Get PDF
    Budidaya padi di sawah tadah hujan dengan sistem tebar benih langsung memerlukan varietas yang beradaptasi baik pada kondisi ekosistem tersebut dan toleran terhadap tingkat oksigen rendah selama berkecambah atau anaerobic germination (AG). Penelitian bertujuan mengevaluasi penampilan agronomi galur-galur padi dilakukan di sawah tadah hujan, serta toleransinya terhadap kondisi AG. Evaluasi toleransi cekaman kondisi anaerob dilakukan di rumah kaca BB Padi pada bulan Februari 2020. Materi yang digunakan adalah 12 genotipe padi. Penapisan AG dilakukan dengan merendam benih dalam air dengan ketinggian 10 cm selama 10 hari. Pengujian daya hasil dilakukan di sawah tadah hujan Sumedang dan Pati pada musim hujan 2020. Percobaan disusun menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan empat ulangan. Toleransi terhadap kondisi AG dapat diidentifikasi berdasarkan karakter persentase daya pulih, panjang tunas dan akar, dan biomassa. Karakter-karakter tersebut saling berkorelasi nyata, positif, dan kuat. Galur IR 83381-B-B-6-1, IR 129336:11-19-Ski-0-Kn-3 dan B14897E-SKI-9-7-2 memiliki toleransi AG lebih baik daripada Inpari 30 dan Inpari 39. Dari hasil pengujian lapangan, dua galur memiliki rata-rata GKG setara dengan Inpari 30 dan Inpari 39, serta konsisten cukup tinggi yaitu IR 129336:11-19-Ski-0-Kn-3 (5.61 ton ha-1) dan B14316E-KA-15 (6.04 ton ha-1). Hasil pengujian ini dapat dilanjutkan dengan uji multi lokasi pada galur IR 83381-B-B-6-1, IR 129336:11-19-Ski-0-Kn-3 dan B14897E-SKI-9-7-2 dengan mempertimbangkan daya hasil dan adaptasinya sehingga dapat dilepas menjadi varietas toleran AG. Kata kunci: cekaman abiotik, perkecambahan anaerob, tebar benih langsungDirect seeding in rainfed lowland areas requires adaptive varieties as well as tolerant to low oxygen levels during germination under flooded condition or anaerobic germination (AG). The research was aimed to evaluate agronomic performances of rice genotypes and evaluate their tolerance to AG. Evaluation of rice genotype tolerant to AG was conducted at Indonesian Center for Rice Research’s greenhouse in February 2020. The materials were 12 genotypes. Screening AG was carried out by soaking the seeds in 50 cm of depth water for 10 days. Agronomic performance of genotypes was evaluated in rainfed lowland at Sumedang and Pati during the wet season of 2020. The experiments were arranged in a randomized complete block design with four replications in each location. Based on recovery ability, shoot length, root length, and biomass, we identified that IR 83381-B-B-6-1, IR 129336:11-19-Ski-0-Kn-3 and B14897E-SKI-9-7-2 had better AG tolerance compared with popular check varieties. The field experiment showed the lines were not significantly different for grain yield compared to the check varieties, namely Inpari 30 and Inpari 39. IR 129336:11-19-Ski-0-Kn-3 (5.61 ton ha-1) and B14316E-KA-15 (6.04 ton ha-1) had consistently high yield in two locations. These results revealed that IR 83381-B-B-6-1, IR 129336:11-19-Ski-0-Kn-3 and B14897E-SKI-9-7-2 are recommended for multilocations trials on yield potential and adaptability in order to be released as tolerant varieties to AG. Keywords: abiotic stress, anaerobic germination, direct seedin

    Seleksi dan Evaluasi Mutu Beras Padi Gogo Adaptif Lahan Kering Masam

    Get PDF
    Improvement upland rice lines are faced with the diversity of physical and ecobiological characteristics of dry land, including acidic-dry land. An alternative approach to optimize upland rice cultivation in acidic-dry land is the selection of adaptive varieties. The aim of this experiment was to obtain lines that have superior performance and yield on acidic-dry land, as well as good rice quality. A total of 36 lines of upland rice, including four check varieties, were selected at Tamanbogo, Lampung on rainy season (November 2017-March 2018). The genetic parameters estimation showed that flowering age, harvest age, weight of 1,000 grains and yield can be used as selection criteria. Based on these selection criteria, four lines were selected, namely B15231-MR-10-1, B15053F-PWR-2, B14908C-MR-1-25-1-3 and B15344B-TB-34. These lines had grain yields that were not significantly different from the best check variety Inpago 8 (3.84 ton ha-1), average resistant to leaf blast (score 1), highly resistant to neck blast (score 0), and moderately tolerant of Al. Additionally, these lines had medium grain with small-medium chalkiness (MMS-LMM), amylose content between 20-23% with soft-medium rice texture. One selected line, namely B15344B-TB-34, was identified as a red-pericarp rice. Keywords: aluminum toxicity, blast disease, drought, grain quality, selection criteriaPerbaikan galur padi gogo dihadapkan pada adanya keragaman sifat fisik dan ekobiologis lahan kering, antara lain lahan kering masam. Alternatif pendekatan optimalisasi budidaya padi gogo di lahan kering masam adalah dengan pemilihan varietas yang adaptif. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh sejumlah galur padi gogo yang memiliki keragaan dan hasil unggul di lahan kering masam, serta bermutu beras baik. Sebanyak 36 galur padi gogo dan empat varietas pembanding diseleksi di Kebun Percobaan Tamanbogo, Lampung pada musim hujan November 2017-Maret 2018. Pendugaan parameter genetik menunjukkan keragaman genetik luas berbanding lurus dengan nilai heritabilitas tinggi. Umur berbunga, umur panen, bobot 1,000 butir gabah dan hasil dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi galur padi gogo di lahan kering masam. Berdasarkan kriteria seleksi tersebut terpilih empat galur, yaitu B15231-MR-10-1, B15053F-PWR-2, B14908C-MR-1-25-1-3 dan B15344B-TB-34. Galur-galur tersebut memiliki hasil gabah yang tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding terbaik Inpago 8 (3.84 ton ha-1), rata-rata tahan terhadap blas daun (skor 1), sangat tahan terhadap blas leher (skor 0), dan agak toleran Al, . Keempat galur terpilih memiliki bentuk beras sedang dengan pengapuran sedikit sampai sedang (MMS-LMM), kadar amilosa 20-23% dengan tekstur nasi pulen-sedang. Satu galur terpilih, yaitu B15344B-TB-34 teridentifikasi sebagai galur beras merah. Kata kunci: kekeringan, keracunan aluminium, kriteria seleksi, mutu beras, penyakit bla

    Keragaan Agronomi Cabai Keriting (Capsicum annuum L.) IPB di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan

    Get PDF
    Penggunaan cabai keriting sebagai bahan makanan terus meningkat. Dibutuhkan peningkatan produksi melalui penggunaan varietas unggul dengan memanfaatkan lahan pasang surut yang banyak terdapat di Sumatera Selatan. Penelitian bertujuan mendapatkan genotipe cabai keriting IPB yang memiliki keragaan agronomi yang unggul dan berpotensi untuk dikembangkan di lahan pasang surut Sumatera Selatan. Penelitian dilaksanakan bulan Juli 2020 sampai Januari 2021 di lahan pasang surut sulfat masam potensial dengan luapan tipe C menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Genotipe yang diuji adalah enam cabai keriting IPB F10-120005-141-16-35-3-2B, F10-120005-141-16-35-1-4-3B, F10-120005-141-16-35-7-1-3B, F10-120005-241-2-9-4-4-1-1B, F10-120005-120-7-1-7-8-1-2B, F11-0005-9-6, dan empat genotipe pembanding SSP, Laris, Caman, F1-PM999. Data dianalisis ragam dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur. Hubungan antar peubah dianalisis korelasi Pearson. Genotipe uji F10-120005-120-7-1-7-8-1-2B memiliki batang tinggi dan menghasilan bobot per buah lebih tinggi dari genotipe pembanding, karena didukung oleh tebal daging buah tertinggi, buah yang panjang, dan diameter buah terbesar. Genotipe IPB F10-120005-141-16-35-1-4-3B, F10-120005-141-16-35-7-1-3B, F10-120005-241-2-9-4-4-1-1B, F10-120005-120-7-1-7-8-1-2B berpotensi untuk dikembangkan sebagai varietas unggul di lahan pasang surut sulfat masam potensial Sumatera Selatan, dengan produktivitas 11.38 ton ha-1 sampai 12.92 ton ha-1. Genotipe cabai keriting mempunyai kemampuan tumbuh yang berbeda di lahan pasang surut, tergantung kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan tumbuh sesuai dengan sifat genetik yang dimiliki. Kata kunci: genotipe adaptif, genotipe pembanding, genotipe uji, lahan suboptimalThe use of curly chili as a food ingredient continues to increase. It is necessary to increase production through the use of superior varieties by utilizing tidal land that is widely available in South Sumatra. This research aimed to obtain superior varieties of curly chili IPB with the potential to be developed for tidal land of South Sumatra. The experiment was conducted from July 2020 to January 2021 on potential acidic sulfate soil of tidal land overflow type C, using a randomized complete block design with three replications. Tested genotypes were six IPB’s curly chilies, namely F10-120005-141-16-35-3-2B, F10-120005-141-16-35-1-4-3B, F10-120005-141-16-35-7-1-3B, F10-120005-241-2-9-4-4-1-1B, F10-120005-120-7-1-7-8-1-2B, F11-0005-9-6, and four check genotypes, namely SSP, Laris, Caman, F1-PM999. Analysis of variance followed by the HSD test was conducted. The relationship between variables was analyzed using Pearson correlation. Test genotype F10-120005-120-7-1-7-8-1-2B had tall stems and produced higher fruit weight than the check genotype, as it has the highest flesh thickness, longer fruit, and the largest fruit diameter. IPB genotypes F10-120005-141-16-35-1-4-3B, F10-120005-141-16-35-7-1-3B, F10-120005-241-2-9-4-4-1-1B, F10-120005-120-7-1-7-8-1-2B are potential to be developed as superior curly chili varieties in potential acidic sulfate soil on tidal land of South Sumatra, with productivity ranging from 11.38 to 12.92 ton ha-1. Curly chili genotype had different growth abilities in tidal land depending on their ability to adapt to the growing environment according to their genetic characteristics. Keywords: adaptive genotype, check genotype, suboptimal land, test genotyp

    Konfirmasi Toleransi Galur-galur Padi terhadap Cekaman Kekeringan secara Molekuler

    Get PDF
    Seleksi secara fenotipik, terutama terhadap cekaman abiotik, seringkali sulit dilakukan. Kegiatan seleksi secara molekuler diperlukan untuk mengidentifikasi hingga taraf molekuler bahwa suatu sifat toleran terbukti secara genotipik. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengkonfirmasi sifat toleransi kekeringan galur-galur padi secara molekuler menggunakan marka SSR RM164, RM228, RM248, dan RM328. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi LIPI, Cibinong pada bulan November hingga Desember 2017, menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa marka RM228 terkait dengan karakter skor menggulung, panjang malai, tinggi tanaman dan umur berbunga, sedangkan RM328 terkait dengan panjang malai, jumlah anakan, jumlah gabah isi per malai, dan produktivitas. Marka tersebut diduga dapat digunakan untuk seleksi toleransi kekeringan. Tujuh dari sepuluh galur yang terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan fase generatif berdasarkan skrining secara artifisial terkonfirmasi secara molekuler berada dalam satu kelompok dengan varietas pembanding toleran ‘Limboto’. Ketujuh galur tersebut ialah B13983E-KA-12-2, B13507E-MR-19, B14366E-KY-50, BP20452e-PWK-0-SKI-1-1, BP20452e-PWK-0-SKI-2-4, BP20452e-PWK-0-SKI-3-3, dan BP29790d-PWK-3-SKI-1-5. Kata kunci: marka, toleransi kekeringan, polymerase chain reactionPhenotypic selection, especially for abiotic stresses, is often challenging. Molecular selection activities are needed to identify at the molecular level that a tolerant trait is genotypically proven. This study aimed at confirming the drought tolerance of rice lines using SSR markers RM164, RM228, RM248, dan RM328. The study was conducted at the LIPI Biotechnology Laboratory at Cibinong, Bogor, Indonesia from November to December 2017, using the polymerase chain reaction (PCR) technique. The results showed that the RM228 marker was associated with the character of leaf rolling scores, panicle length, number of tillers, number of filled grains per panicle, and productivity. This marker is therefore potential to be used for drought tolerance selection. Seven of the ten lines that indicated as tolerant at generative phase drought stress based on artificial screening, were confirmed molecularly, which were in the same group with the tolerant check ‘Limboto’. The seven lines were B13983E-KA-12-2, B13507E-MR-19, B14366E-KY-50, BP20452e-PWK-0-SKI-1-1, BP20452e-PWK-0-SKI-2-4, BP20452e-PWK-0-SKI-3-3, and BP29790d-PWK-3-SKI-1-5. Keywords: drought tolerant, marker, polymerase chain reactio

    Multiplikasi Tunas In Vitro Anggrek Phalaenopsis dan Analisis Keragaman Genetik dengan Marka SNAP: Shoot Multiplication of Phalaenopsis Orchid in BAP Treatment Medium and The Genetic Diversity Analysis of Clonal Plantlets with SNAP Marker

    Get PDF
              Perbanyakan klonal anggrek melalui kultur in vitro dibutuhkan untuk memperoleh sejumlah besar propagul tanaman yang berkualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi BAP terhadap kemampuan multiplikasi tunas dalam propagasi klonal beberapa anggrek hibrida Phalaenopsis dan menganalisis keragaman genetik menggunakan marka Pto-SNAP pada planlet klonal. Percobaan dilakukan secara terpisah pada 3 populasi tunas anggrek hibrida Phalaenopsis yaitu, tunas hasil perkecambahan biji dari Phal. amabilis x Phal. ‘KHM 421’ dengan 5 taraf perlakuan BAP (0.00, 11.09, 22.19, 33.29, 44.39 µM), tunas klon Phal. ‘Salu Spot’ x Phal. bellina ‘1102-38’ dan Phal. ‘Salu Spot’ x Phal. bellina ‘1102-44’ dengan 4 taraf perlakuan BAP (11.09, 22.19, 33.29, 44.39 µM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BAP terbaik untuk multiplikasi tunas pada tiga populasi yang diuji adalah 22.19 µM dengan jumlah tunas masing-masing 3.7, 4.7 dan 6.0 tunas pada 12 minggu setelah tanam (MST). Protocorm like bodies (PLBs) hanya dihasilkan pada populasi Phal. amabilis x Phal. ‘KHM 421’ dengan jumlah PLBs terbanyak perlakuan BAP 11.09 µM. Evaluasi keragaman genetik menggunakan 11 marker Pto-SNAP (single nucleotide amplified polymorphism) dilakukan pada planlet klonal Phal. ‘Salu Spot’ x Phal. bellina ‘1102-44’. Hasil analisis menunjukkan adanya variasi somaklonal dari planlet yang diuji perlakuan BAP 22.19 µM dengan keragaman 7.7% pada lokus Pto-241 dan perlakuan BAP 44.39 µM dengan persen keragaman 11.1% pada lokus Pto-424. Kata kunci: marka molekuler, propagasi klonal, Pto, sitokinin, variasi somaklonalClonal propagation of orchid by in vitro culture is needed to obtain the high quantity and quality of orchid propagules. This study aimed to understand the effect of BAP (benzyl amino purine) concentrations on the shoot multiplication of three Phalaenopsis hybrid populations and to analyze genetic diversity using Pto-SNAP markers on clonal plantlets. The experiments were performed separately for each population, namely shoots from seed germination of Phal. amabilis x Phal. ‘KHM 421’ with five level of BAP (0.00, 11.09, 22.19, 33.29, 44.39 µM), clonal shoots from Phal. ‘Salu Spot’ x Phal. bellina ‘1102-38’, and Phal. ‘Salu Spot’ x Phal. bellina ‘1102-44’ with four level of BAP (11.09, 22.19, 33.29, 44.39 µM). The results showed that the optimum BAP concentration for shoot multiplication on three population was 22.19 µM which shoot number obtained were 3.7, 4.7, and 6.0 at 12 week after planting (WAP). Protocorm like bodies (PLBs) was only produced on Phal. amabilis x Phal. ‘KHM 421’ population, which the highest number of PLBs was on 11.09 BAP. Evaluation of genetic diversity using 11 Pto-SNAP (single nucleotide amplified polymorphism) marker was performed on Phal. ‘Salu Spot’ x Phal. bellina ‘1102-44’ shoots. The results revealed the presence of somaclonal variation with 7.7% of genetic diversity of the shoots from BAP 22.19 µM treatment at Pto-241 and 11.1% from BAP 44.39 µM treatment at Pto-424. Keywords: clonal propagation, cytokinin, molecular markers, orchid, Pto, somaclonal variatio

    Perubahan Perilaku Dormansi selama Proses Desikasi pada Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.)

    Get PDF
      Benih kacang bambara seringkali menunjukkan perkecambahan yang lambat dan tidak serempak, bahkan pada benih yang baru dipanen. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh dormansi benih. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi perilaku dormansi dan perkecambahan benih kacang bambara selama proses desikasi. Percobaan disusun dalam rancangan petak tersarang. Perlakuan pematahan dormansi (kontrol, skarifikasi mekanik, perendaman dalam KNO3 1% selama 2 jam, dan skarifikasi mekanik diikuti perendaman dalam KNO3) tersarang pada tingkat desikasi benih (benih segar dengan kadar air (KA) 54.7%, benih dengan desikasi hingga KA 44.4%, 18.0%, 15.4%, dan 12.1%). Hasil penelitian menunjukkan benih kacang bambara yang baru dipanen berada dalam keadaan dorman. Desikasi pada benih tidak meningkatkan intensitas dormansi, bahkan meningkatkan daya tumbuh (pada 30 hari setelah tanam) dari 43.9% pada benih segar menjadi sekitar 70% pada benih kering dengan kadar air 12-15%. Desikasi benih dari KA 44.4% hingga 12.1% meningkatkan daya tumbuh, meskipun tidak cukup untuk mematahkan dormansi. Sementara itu, desikasi juga cenderung meningkatkan rasio GA/ABA, namun mengakibatkan permeabilitas testa berkurang. Fakta menunjukkan desikasi mengurangi intensitas dormansi benih kacang bambara sehingga disarankan untuk melakukan modifikasi metode pengeringan untuk mempercepat peningkatan rasio GA/ABA dengan menjaga testa tetap permeabel. Kata kunci: after-ripening, kacang bogor, kulit keras, permeabilitas, rasio GA/ABABambara groundnut seeds often show unsynchronized and slow germination even though on newly harvested seeds. This might be due to the presence of seed dormancy. Therefore, the objective of this research was to obtain the information on seed dormancy and germination behaviour of bambara groundnut seeds during desiccation. The experiment was arranged in a nested design. Dormancy breaking treatments (untreated, mechanical scarification, soaking in 1% KNO3 for 2 hours, mechanical scarification followed by KNO3 soaking) were nested in each of the desiccation levels (fresh seeds with 54.7% moisture content (mc), desiccated seeds with 44.4%, 18.0%, 15.4%, and 12.1% mc). The results showed that newly harvested seeds were in dormant state. Seed desiccation did not increase the intensity of seed dormancy, even resulted in an increase in field emergence (at 30 days after planting) from 43.9% in fresh seeds to around 70% in dry seed (12-15% mc). Seed desiccation (from 44.4% mc to 12.1% mc) increased the field emergence, although it was inadequate to break the dormancy completely. Meanwhile, seed desiccation tended to increase the GA/ABA ratio, but the seed permeability was decreased. The fact showed that seed desiccation reduced the intensity of dormancy of bambara groundnut seed, therefore, it is suggested to modify the drying method in order to accelerate the increasing of GA/ABA ratio while keeping the testa permeable. Keywords: after-ripening, GA/ABA ratio, hard seed, kacang bogor, permeabilit

    885

    full texts

    996

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇