Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Not a member yet
996 research outputs found
Sort by
Respons Ketahanan Sumberdaya Genetik Lokal Cabai (Capsicum frutescens L. dan Capsicum annuum L.) terhadap Infeksi Virus Daun Keriting Kuning
Virus daun keriting kuning merupakan penyakit utama pada cabai dan menjadi penyebab kehilangan hasil cukup besar. Penggunaan genotipe tahan menjadi salah satu cara efektif untuk mengendalikan penyakit ini. Perakitan genotipe tahan penyakit dilakukan melalui serangkaian proses pemuliaan tanaman, diawali dengan identifikasi terhadap sumber materi genetik potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respons ketahanan 10 genotipe cabai rawit (C. frutescens L.) dan 4 genotipe cabai besar (C. annuum L.) koleksi Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) untuk memperoleh kandidat tanaman tahan. Penanaman dan inokulasi dilakukan di rumah kaca kebun percobaan Tajur, dan deteksi keberadaan virus dilakukan di laboratorium molekuler PKHT dengan metode amplifikasi DNA menggunakan degenerate primers Begomovirus SPG1 dan SPG2. Konfirmasi molekuler menunjukkan bahwa genotipe tanaman yang diuji terinfeksi virus daun keriting kuning. Berdasarkan nilai keparahan penyakit (KP), genotipe CB-EL dikategorikan tanaman tahan dengan nilai KP sebesar 8.89% dan periode inkubasi terlama, 21-50 hari. Genotipe CB-BA dan CB-BJ dengan nilai KP sebesar 13.33%, CB-CA dan PKHT-1 (15.56%), CR-SA dan PKHT-7 (17.78%) dan PKHT-6 (20.00%) masuk pada kategori tanaman agak tahan. Tingkat keparahan penyakit dan insidensi penyakit memiliki nilai duga heritabilitas arti luas sebesar 0.47 dan 0.61, masing-masing termasuk kategori sedang dan tinggi.
Kata kunci: Bemisia tabaci, genotipe, heritabilitas, keparahan penyakit, seleksiPepper Yellow Leaf Curl Virus is a major disease in chili peppers, causing severe damage and yield loss. The use of resistant genotypes is an effective way of controlling the disease. Developing resistance genotypes requires a series of plant breeding processes, starting with the identification of new potential genetic sources. The study aimed to identify the resilience response of 10 cayenne pepper genotypes (C. frustecsens L.) and 4 chili pepper genotypes (C. annuum L.) collection of the Center for Tropical Horticultural Studies (PKHT) to acquire resistant plant candidates. Planting and inoculation were carried out in a greenhouse at Tajur experimental station, and detection of PYLCV was carried out in the molecular laboratory by DNA amplification method using degenerate primers Begomovirus SPG1 and SPG2. The results showed that all plants were infected by PYLCV and it was also confirmed by PCR detection. Based on the disease severity, the CB-EL genotype was categorized as resistant plants with a severity value of 8.89% and the longest incubation period, 21-50 days. Genotypes CB-BA and CB-BJ (13.13%), CB-CA and PKHT-1 (15.56%), CR-SA and PKHT-7 (17.78%) and PKHT-6 (20.00%) were categorized as moderately resistant. Disease severity and disease incidence had a broad-sense heritability values of 0.47 and 0.61, and were categorized as moderate and high heritability, respectively.
Keywords: disease severity, Bemisia tabaci, genotype, heritability, selectio
Characterization and Evaluation of Tungro Resistence of Local Rice from Mataram, Toraja, and South Kalimantan
Varietas lokal dapat berpotensi memilki sifat tahan terhadap cekaman penyakit tungro, sehingga diharapkan mampu meningkatkan keragaan varietas padi yang dibudidayakan baik di lahan sawah maupun lahan rawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter morfologi dan ketahanan varietas lokal asal Mataram, Toraja, dan Kalimantan Selatan terhadap penyakit tungro. Karakterisasi dilakukan pada 15 varietas lokal dan 5 varietas pembanding, yaitu Ciherang, Utri Merah, TKM6, Situ Patenggang dan Inpari 30. Evaluasi menggunakan varietas tahan wereng hijau (T1-T4) dan tahan tungro (V1-V4). Setiap varietas diamati karakter morfologinya, lalu data yang diperoleh dianalisis dengan aplikasi NTSYS 2.02 untuk memperoleh dendrogram. Kegiatan kedua yaitu evaluasi varietas lokal, masing-masing lima tanaman diinokulasikan wereng hijau. Indeks penyakit dihitung mengikuti panduan SES IRRI, dan keberadaan RTBV dikonfirmasi dengan PCR. Terdapat persamaan pada semua varietas pada karakter warna leher daun, bentuk lidah daun, dan tipe keluar malai yang sempurna. Varietas lokal yang memiliki kemiripan morfologi paling dekat dengan varietas yang disukai petani serta tahan terhadap penyakit tungro dan wereng hijau adalah Siam Kuning dan Karukut, sehingga dapat direkomendasikan tetua perakitan varietas baru tahan tungro.
Kata kunci: karakter morfologi, padi tahan tungro, plasma nutfah, uji preferensiLocal varieties have the potency to be resistant to tungro disease stress, and therefore it is expected to increase the performance of rice varieties cultivated in lowland and swamp areas. The purpose of this study was to determine the morphological characters and resistance of local rice varieties from Mataram, Toraja, and South Kalimantan against tungro disease. The characterization was performed on fifteen local varieties and five check varieties, namely Ciherang, Utri Merah, TKM6, Situ Patenggang, and Inpari 30. The evaluation used green leafhopper resistant (T1-T4) and tungro resistant (V1-V4) varieties. Each variety was observed for its morphological characters, then the data obtained were analyzed by NTSYS 2.02 software to obtain a dendrogram. The second activity was the evaluation of local varieties; five plants of each were inoculated with green leafhoppers. The disease index was calculated following the IRRI SES guidelines, then the presence of RTBV was confirmed by PCR. There were similarities in all varieties in the character of corral color, ligule shape, and panicle exsertion. The local varieties having the closest morphological similarities to the varieties preferred by farmers and resistance to tungro disease and green leafhopper are Siam Kuning and Karukut, so they can be recommended as parents for breeding new tungro-resistant varieties.
Keywords: morphological characters, rice tungro resistance, germplasm, preference tes
The Application of Silica Fertilizer to Increase Resistance of Chili Pepper Plant (Capsicum annuum L.) to Waterlogging Stress
Tanaman cabai rawit (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di lahan sawah, namun sering mengalami cekaman genangan air akibat banjir. Upaya untuk mengatasi kendala tersebut yaitu dengan aplikasi unsur hara silika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran silika dalam meningkatkan toleransi cabai rawit terhadap cekaman genangan. Percobaan dilakukan di rumah kaca milik Universal PT Tempu Rejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur mulai bulan Oktober sampai dengan Desember 2021. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (4x4) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk silika yaitu D0 = 0 mL, D1 = 0.15 mL, D2 = 0.30 mL, dan D3 = 0.45 mL per tanaman. Faktor kedua adalah cekaman genangan yaitu W1 = 50-70%, W2 = >70-90%, W3 = >90-110%, dan W4 = >110-130% dari kapasitas lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan dosis silika dengan cekaman genangan tidak berpengaruh nyata pada peubah tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun, namun berpengaruh nyata pada peubah kadar air relatif, kandungan H2O2, prolin dan klorofil. Pupuk silika mampu meningkatkan ketahanan tanaman cabai rawit terhadap cekaman genangan ditunjukkan dengan korelasi positif antara silika dengan klorofil dan prolin serta korelasi negatif antara silika dengan kandungan H2O2.
Kata kunci: fase vegetatif, hidrogen peroksida, klorofil, prolinChili pepper (Capsicum annuum L.) is a horticultural commodity widely cultivated in paddy fields, and often suffers from waterlogging stress due to flooding. One effort to overcome this problem is silica nutrients application. This study aimed to determine the role of silica in increasing chili pepper tolerance to waterlogging stress. The experiment was carried out in a greenhouse owned by Universal PT Tempu Rejo, Jember, East Java from October to December 2021. The study was carried out using a factorial completely randomized design (4x4) with 3 replications. The first factor was the silica fertilizer dose, D0 = 0 mL, D1 = 0.15 mL, D2 = 0.30 mL, and D3 = 0.45 mL per plant. The second factor was waterlogging stress, W1 = 50-70%, W2 = >70-90%, W3 = >90-110%, and W4 = >110-130% field capacity. The results showed that the effect of interaction between silica dose and waterlogging stress treatments was not significant on plant height, leaf number, and leaf area, but was significant on the relative water content, H2O2, proline, and chlorophyll content. Silica fertilizer was able to increase chili pepper resistance against waterlogging stress as indicated by a positive correlation between silica and chlorophyll and proline content and a negative correlation between silica and H2O2
Variability Response of Growth of 17 Taro Genotype Under Drought and Flooding
Salah satu alternatif sumber bahan pangan ditengah terjadinya perubahan iklim adalah tanaman talas. Selain sebagai sumber karbohidrat, tanaman talas dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi agroklimat sehingga mudah ditemukan di seluruh Indonesia Tujuan penelitian ini adalah memperoleh informasi genotipe tanaman talas yang mampu beradaptasi pada cekaman kekeringan dan genangan. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan petak utama perlakuan cekaman air yang terdiri dari 2 taraf, yaitu tadah hujan dan genangan, sedangkan anak petak adalah 17 genotipe tanaman talas. Pada parameter pertumbuhan tanaman talas umur pengamatan 20 minggu setelah tanam, genotipe tanaman talas berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anakan dan lebar tajuk tanaman; adapun perlakuan air memberikan pengaruh yang sangat nyata pada tinggi tanaman dan jumlah anakan, serta memberikan pengaruh yang nyata pada diameter batang dan lebar tajuk. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan semua genotipe talas lebih vigor pada perlakuan air tadah hujan, dimana genotipe tanaman talas memiliki tinggi tanaman, diameter batang, lebar tajuk, jumlah anakan dan diameter umbi yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan genangan.
Kata kunci: adaptasi, genangan, kekeringan, perubahan iklim, stresOne of the alternative sources of food in the midst of climate change is taro. Apart from being a source of carbohydrates, taro can adapt to various agro-climatic conditions and is easily found throughout Indonesia. The research aimed to obtain taro genotypes that are adaptive to drought and waterlogging. The study used a split-plot design with the main plot of water stress treatment consisting of 2 levels, namely dry land cultivation and saturated water cultivation, while the subplots were 17 genotypes of taro. In the growth parameters of taro, at observation 20 weeks after planting, the genotype of taro had a highly significant effect on plant height, stem diameter, number of suckers, and width of canopy, while for water treatment it had a highly significant effect on plant height and number of suckers, and gave a significant effect in stem diameter and width of canopy. Moreover, the growth of all taro genotypes was more vigorous in the dry land cultivation treatment, where the taro genotype produced higher plant height, bigger stem diameter, canopy width, number of suckers, and tuber diameter when compared to genotype with Saturated water cultivation.
Keywords: adaptation, climate change, drought, stress, waterloggin
Evaluation on Rice Quality and Amylose Content of Lowland Rice (Oryza sativa L.) treated with Paclobutrazol
Aplikasi paclobutrazol pada tanaman padi untuk mengurangi tinggi batang merupakan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim yakni agar tanaman lebih tahan rebah. Namun demikian, pengaruh aplikasi paclobutrazol terhadap kualitas beras masih jarang diteliti. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kualitas mutu beras dari empat varietas tanaman padi yang diberi perlakuan paclobutrazol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Juli 2021 di Kebun Percobaan Sawah Baru IPB, Bogor. Empat varietas yakni IPB 3S, Inpari 42, Hipa 18, dan Tarabas diperlakukan dengan paclobutrazol (K1 = 0 ppm, K2= 150 ppm, K3 = 300 ppm, K4 = 450 ppm, K5 = 600 ppm), yang diaplikasikan melalui daun saat tanaman bunting sebelum malai muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakukan paclobutrazol memengaruhi mutu beras khususnya persentase beras pecah kulit, beras giling dan beras kepala, bentuk beras, serta kandungan amilosa. Varietas padi memberikan respon berbeda terhadap perlakuan paclobutrazol. Konsentrasi 150 ppm mulai memengaruhi mutu beras yakni meningkatkan beras pecah kulit pada semua varietas, beras giling pada IPB 3S dan Inpari 42, dan beras kepala serta kandungan amilosa pada IPB 3S dan Hipa 18; tetapi menurunkan beras kepala pada varietas Tarabas dan kandungan amilosa pada Inpari 42. Perlu penelitian lebih lanjut residu paclobutrazol pada beras untuk memastikan keamanan pangan.
Kata kunci: beras giling, beras kepala, cuaca ekstrim, perubahan iklim, varietas padiApplication of paclobutrazol in rice to reduce plant height is an adaptation strategy to climate change to reduce logging during the incident. Nevertheless, the effect of paclobutrazol application on rice quality is rarely evaluated. This study aimed to evaluate rice quality of four varieties after paclobutrazol application. The research was carried out from February to July 2021 in Sawah Baru Experimental Station IPB, Bogor. Four varieties namely IPB 3S, Inpari 42, Hipa 18, and Tarabas were treated with paclobutrazol (K1 = 0 ppm, K2 = 150 ppm, K3 = 300 ppm, K4 = 450 ppm, K5 = 600 ppm), which was applied through the leaves at booting stage before the flowering. The results showed that paclobutrazol treatment affected the quality of rice, especially the percentage of brown rice, milled rice, head rice, rice shape, and amylose content. Varieties showed different responses to paclobutrazol treatment. The concentration of 150 ppm started to affect the quality of rice, i.e., increasing brown rice in all varieties, milled rice in IPB 3S and Inpari 42, and head rice and amylose content in IPB 3S and Hipa 18; but reduced head rice on the Tarabas and amylose content on Inpari 42. Further research on paclobutrazol residues in rice is needed to ensure food safety.
Keywords: climate change, extreme weather, milling rice, head rice, rice variet
Karakter Agro-morfologi dan Periode After-ripening Benih Padi Lanras Lokal Potensial asal Timor-Leste
Benih padi yang baru dipanen umumnya tidak berkecambah walaupun dikecambahkan pada kondisi optimum yang disebut after-ripening, dan secara alamiah akan hilang setelah waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan melakukan karakterisasi agro-morfologi dan menetapkan periode after-ripening benih 5 lanras potensial di Timor-Leste. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2018-November 2019. Penanaman dan pengamatan karakter agro-morfologi 5 lanras potensial Timor-Leste, yaitu Hare R-oitu, Fos Mean, Hare Belit, Hare Nona Portu, dan Ale Mamea Ula Lesa, dilaksanakan di Desa Caibada Distrik Baucau, Timor-Leste. Pengamatan periode after ripening dan mutu benih ke lima lanras tersebut dilaksanakan di Laboratorium Pengujian dan Penyimpanan Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB University, dan dirancang dalam rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah 5 lanras tersebut di atas dan faktor kedua adalah periode simpan yang terdiri atas 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 minggu setelah panen (MSP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 lanras potensial di Tinmor-Leste mempunyai keragaan tanaman yang pendek (76.3-105.50 cm), tergolong berumur sedang (129-141 HSS), dan jumlah anakan produktif tinggi (17.5-53.50 anakan), kecuali Ale Mamea Ula Lesa. Lima lanras tersebut mempunyai potensi produktivitas yang tinggi berkisar 8.1-9.8 ton ha-1. Periode after-ripening lanras Hare Belit dan Hare Nona Portu berakhir pada 2 MSP, Hare R-oitu pada 6 MSP, sedangkan Ale Mamea Ula Lesa dan Fos Mean pada 8 MSP. Semakin lama benih disimpan rasio kandungan ABA/GA3 semakin menurun dari 0.53-1.22 ppm pada 2 MSP menjadi 0.45-0.93 ppm pada 4 MSP. Lanras Hare Belit dan Hare Nona Portu merupakan lanras yang potensial dikembangkan menjadi varietas nasional di Timor-Leste, masing-masing untuk pengembangan di dataran rendah dan dataran sedang.
Kata kunci: karakterisasi, intensitas dormansi, persentase perkecambahan, mutu benihThe freshly harvested rice seeds generally do not readily germinate due to after-ripening that will naturally disappear after a certain period. This study aimed to investigate the agro-morphological traits and the period of seed after-ripening of five potential landraces of Timor-Leste. The experiment was conducted during April 2018-November 2019. Agro-morphological traits were observed in a paddy field at Caibada Village, Baucau District, Timor-Leste. The seed after-ripening was observed at the Seed Testing and Storage Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, IPB University. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with two factors and four replications. The first factor was 5 landraces of Timor Leste, i.e., Hare R-oitu, Fos Mean, Hare Belit, Hare Nona Portu, and Ale Mamea Ula Lesa. The second factor was the storage period, i.e., 2, 3, 4, 5, 6, 7, and 8 weeks after harvest. The result showed that the plant height of the five landraces is categorized as semidwarf (76.3-105.50 cm), medium maturity (129-141 DAS), and high tillering ability (17.5-53.50 tillers), except Ale Mamea Ula Lesa. The productivity of the five landraces is potentially high ranging from 8.1-9.8 tons/ha. The after-ripening period of Hare Belit and Hare Nona Portu landraces was terminated at 2 weeks after harvest (WAH), Hare R-oitu at 6 WAH, whereas Ale Mamea Ula Lesa and Fos Mean at 8 WAH. The longer the seeds are stored the ratio of ABA/GA3 content decreases from a range of 0.53-1.22 ppm at 2 WAH to 0.45-0.93 ppm at 4 WAH. Hare Belit and Hare Nona Portu are potential landraces to be established as national varieties in Timor-Leste for low land and medium land respectively.
Keywords: characterization, the intensity of dormancy, germination percentage, seeds qualit
Potensi Hasil Benih Padi Hibrida pada Tiga Galur CMS dengan Sumber Sitoplasma yang Berbeda
Padi hibrida F1 dihasilkan dari persilangan antara galur mandul jantan/cytoplasmic male sterile (GMJ/CMS) dan galur pemulih kesuburan (restorer/R). Kalinga dan Gambiaca adalah tipe galur CMS yang berhasil dikembangkan di Indonesia selain tipe Wild Abortive (WA). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tetua betina dengan sumber sitoplasma berbeda terhadap hasil benih padi hibrida pada 30 kombinasi padi hibrida baru. Percobaan dilakukan di BB Padi Subang, Jawa Barat pada MK 2021, menggunakan rancangan faktorial tiga galur CMS disilangkan dengan sepuluh restorer, dimana terdapat sepuluh ulangan untuk CMS dan tiga ulangan untuk restorer. Analisis ragam komponen hasil dan hasil dilakukan terpisah untuk CMS dan restorer mengikuti model linier rancangan faktor tunggal. Rata-rata hasil benih pada CMS GMJ15A tipe Gambiaca (1.03 ton ha-1) setara dengan GMJ12A tipe Wild Abortive (0.85 ton ha-1) dan nyata lebih tinggi dari GMJ14A tipe Kalinga (0.51 ton ha-1), sedangkan restorer terbaik adalah PK90 (1.36 ton ha-1). Tinggi tanaman, jumlah gabah isi per malai, dan tingkat silang alami memiliki korelasi positif dan nyata terhadap hasil benih padi hibrida. Galur CMS tipe sitoplasma Gambiaca dapat menjadi alternatif tetua betina padi hibrida di Indonesia.
Kata kunci: pemulih kesuburan, produksi benih, silang alamiF1 hybrid rice was produced by crossing the cytoplasmic male sterile (CMS) line and restorer (R) line. Kalinga and Gambiaca are CMS line types that have been successfully developed in Indonesia other than Wild Abortive (WA). This study aimed to determine the effect of female parents with different cytoplasmic sources on hybrid seed yield in 30 new hybrid rice combinations. The experiment was conducted at ICRR, West Java in DS 2021, using a factorial design of three CMS lines crossed with ten R lines, with 10 replications for the CMS lines and three replications for the restorer lines. Analysis of variance for yield components and yield was performed separately between CMS and restorer lines, following a single factor linear model. GMJ15A Gambiaca type had a similar average seed yield (1.03 ton ha-1) with GMJ12A WA type (0.85 ton ha-1) and significantly higher than GMJ14A Kalinga type (0.51 ton ha-1), while the best restorer line was PK90 (1.36 ton ha-1). Plant height, filled grain number per panicle, and outcrossing rate levels had a positive and significant correlation with hybrid seed yield. CMS lines of Gambiaca cytoplasmic type could be the female parent alternative of hybrid rice in Indonesia.
Keywords: outcrossing, restorer, seed productio
Karyotype and Ploidy of Vanda dearei and Vanda celebica Orchid Using Flow Cytometry Analysis
Keanekaragaman anggrek Vanda merupakan salah satu keunggulan tanaman yang dapat digunakan untuk membuat hibrida baru. Sifat anggrek ditentukan oleh banyak gen, sehingga perlu dilakukan persilangan agar diperoleh keragaman genetik yang lebih besar. Persilangan antara tetua dapat menghasilkan keturunan dengan jumlah kromosom yang berbeda dari tetuanya. Salah satu metode yang berperan dalam mengetahui tingkat ploidi adalah analisis kariotipe dan flow cytometry. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola kariotipe dan tingkat ploidi anggrek Vanda melalui flow cytometry. Bahan yang digunakan adalah anggrek V. celebica, V. dearei, hibrida dari V. dearei x V. celebica, dan V. celebica x V. dearei. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kromosom V. dearei 2n = 2x = 40, V. celebica 2n = 2x = 38, hibrida dari V. celebica x V. dearei 2n = 2x = 38, dan V. dearei x V. celebica 2n = 2x = 38. Susunan kariotipe anggrek V. celebica adalah 2n = 2x = 17m+2sm, V. dearei adalah 2n = 2x = 40 =18m+2sm, hibrida dari V. celebica x V. dearei adalah 2n = 2x = 38 = 17m+1sm, dan V. dearei x V. celebica adalah 2n = 2x = 38 = 17m+1sm. Semua tingkat ploidi anggrek yang diamati adalah diploid.
Kata kunci: sitologi, flow cytometry, genetika, kariotipeThe diversity of the Vanda orchid is one of the advantages of plants that are used to make new hybrids. The genus of Vanda has a primary chromosome number (x) = 19 and varies in ploidy level. This study aims to identify the Vanda orchid’s karyotype pattern and ploidy level through flow cytometry. The materials used are orchids Vanda celebica, Vanda dearei, and its hybrids V. dearei x V. celebica and V. celebica x V. dearei. The results showed the number of chromosomes of V. dearei is 2n = 2x = 40, V. celebica is 2n = 2x =38, the hybrid V. celebica x V. dearei is 2n = 2x = 38, and the hybrid of V. dearei x V. celebica is 2n = 2x = 38. The karyotype V. celebica is 2n = 2x = 17m+2sm, V. dearei is 2n = 2x = 40 =18m+2sm, the hybrid of V. celebica x V. dearei is 2n = 2x = 38 = 17m+1sm, and hybrid of V. dearei x V. celebica is 2n = 2x = 38 =17m+1sm. All observed ploidy levels of orchids are diploid.
Keywords: cytology, diploid, genetics, hybri
New Perspective: Management of Understorey Vegetation in Sustainable Oil Palm Cultivation
Sesama tumbuhan, antara tanaman pokok dan tumbuhan lainnya, sampai tingkat tertentu bersaing dalam mendapatkan sumberdaya lingkungan tumbuh, terutama air dan hara media tumbuh, ruang tumbuh dan unsur iklim mikro. Sehubungan dengan ini, tumbuhan atau vegetasi bawah tegakan dapat ditinjau seberapa besar daya menyaingi dibandingkan dengan besar daya manfaat, baik secara langsung bagi tanaman pokok, pengelolaan kebun maupun terhadap segi lingkungan. Pada tinjauan ini akan diungkapkan keberadaan tumbuhan atau vegetasi bawah tegakan yang lazim yang berperanan sebagai penutup tanah dengan berbagai manfaat dalam mewujudkan teknologi produksi kelapa sawit berkelanjutan. Ada beberapa peubah yang lazim diamati sebagai dampak positif penerapan teknologi produksi berkelanjutan, di antaranya: penurunan emisi gas rumah kaca CO2, peningkatan cadangan karbon, biodiversitas lingkungan, perbaikan neraca air dan hara tanah, koservasi tanah dan air, dan penekanan erosi. Dalam naskah ini akan diungkap dan ditelaah beberapa peubah tersebut sebagai dampak teknologi produksi, khususnya oleh dua spesies vegetasi bawah Nephrolepis biserrata dan Asystasia gangetica.
Kata kunci: biodiversitas, cadangan karbon, neraca air, neraca haraAmong plants, between main tree crops, e,g. oil palm and other plants, to a certain extent they are competing with each other for resources of growing environment, especially for water and nutrients within the growing media and space, and microclimate elements. In this respect, the understorey plants or vegetation will be studied by how much they compete with the main crop in comparison with their beneficial effects on the main crop directly, or indirectly toward plantation management and the environment. This study will reveal the existence of understorey plants or vegetation that is commonly used as a ground cover with various benefits in supporting sustainable palm oil production technology. There are several variables, that are commonly observed as a positive impact of implementing sustainable production technology, including reduction of CO2 greenhouse gas emissions, increased carbon stocks, environmental biodiversity, improvement of water and soil nutrient balances, soil and water conservation, including decreasing erosion In this paper, some of these variables will be revealed and analyzed as a result of production technology, especially by using two understorey vegetation species: Nephrolepis biserrata and Asystasia gangetica.
Keywords: biodiversity, carbon stock, nutrient balance, water balanc
Evaluasi Galur-galur Padi Sawah Dihaploid Hasil Kultur Antera Menggunakan Seleksi Indeks
Pemulia tanaman melakukan seleksi multi-karakter dengan metode yang sesuai, salah satunya adalah indeks seleksi. Analisis multivariat dapat digunakan dalam menyusun model indeks seleksi. Percobaan ini bertujuan untuk menyeleksi galur-galur dihaploid dengan potensi hasil yang tinggi dan memiliki penampilan agronomi baik berdasarkan indeks seleksi. Percobaan dilakukan pada bulan Agustus 2018 sampai dengan September 2019 menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan dan satu faktor yaitu genotipe. Genotipe yang diuji ialah 89 galur dihaploid padi sawah hasil kultur antera ditambah 4 varietas pembanding (Ciherang, Inpari 30 Ciherang Sub1, Inpari 41, dan Inpari 35 Agritan). Unit percobaan adalah satu bibit per pot. Model indeks seleksi disusun dengan mempertimbangkan hasil analisis ragam, analisis korelasi, analisis lintas, analisis komponen utama, dan ideotipe tanaman yang dituju. Hasil studi ini mengungkapkan bahwa terdapat keragaman sifat agronomi yang diuji dari galur-galur dihaploid. Model seleksi indeks yang disusun adalah sebagai berikut: I (nilai indeks) = 3*0.75 hasil + 0.85 jumlah gabah total per malai – 0.85 tinggi tanaman. Berdasarkan model tersebut, diperoleh 85 galur dengan nilai indeks dan produksinya lebih tinggi dibandingkan Inpari 41. Galur-galur dihaploid terpilih diikutsertakan pada pengujian berikutnya di lapangan.
Kata kunci: heritabilitas, korelasi, sidik lintas, variabilitasPlant breeders performed multi-trait selection using a suitable method, one of which is selection index. A multivariate analysis may be used for developing a selection index model. The objective of this experiment was to select doubled haploid rice lines with high yield potential and good agronomic characters based on the selection index. The experiment was carried out using a single factor completely randomized design with three replications, from August 2018 to December 2019. The study included 89 doubled haploid (DH) lines derived from anther culture as well as four check varieties (Ciherang, Inpari 30 Ciherang Sub1, Inpari 41, and Inpari 35 Agritan). Development of selection index model considered the results of analysis of variance, correlation analysis, path analysis, principal component analysis, and aimed plant ideotype. The findings revealed that there was variation in agronomic traits and yield among the DH lines tested. The selection index model can be formulated as I (index value) = 3*0.75 yield + 0.85 total grain per panicle – 0.85 plant height. Based on this model, 85 lines had index value and yield higher than Inpari 41. The selected DH lines were included in the subsequent field evaluation.
Keywords: correlation, heritability, path analysis, variabilit