Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
E-GOVERNMENT DAN APLIKASINYA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH (STUDI KASUS KUALITAS INFORMASI WEBSITE KABUPATEN BENGKALIS PROPINSI RIAU)
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah menciptakan teknologi website, sebuah media informasi efektif yang terhubung ke jaringan internet sehingga dapat diakses setiap saat. Tidak ingin ketinggalan, organisasi pemerintahpun kini memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu layanannya dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Namun informasi yang terdapat pada website seyogyanya memiliki nilai kualitas yang baik agar informasi yang disampaikan dapat bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kualitas informasi website Pemerintah Kabupaten Bengkalis berdasarkan dimensi kualitas informasi. Pengamatan terhadap 4 (empat) website di lingkungan Pemkab Bengkalis dilakukan beserta wawancara mendalam kepada masing-masing pengelolanya. Hasil yang diperoleh bahwa informasi yang tersedia di website Pemkab Bengkalis sudah memenuhi kualitas informasi yang baik, meskipun terdapat beberapa kekurangan seperti adanya link informasi yang kosong, sebagian penanggalan informasi yang belum tercantum, dan belum adanya jaminan kualitas jaringan untuk memastikan ketersediaan informasi
BAHASA & KEKUASAAN: PERAN BAHASA SEBAGAI INSTRUMEN SIMBOLIK MEMPEROLEH KEKUASAAN (LANGUAGE & POWER: THE ROLE OF LANGUAGE AS A SYMBOLIC INSTRUMENT TO POWER)
Banyak ilmuan memosisikan atau cenderung kepada salah satu dari dua posisi yang bertentangan dalam diskursus epistemologi, seperti idealisme-materialisme, rasionalisme-empirisme, subjektivisme-objektivisme, mikro-makro, agensi-struktur, kebebasan-determinisme. Bourdieu -ilmuan sosial Prancis- keluar dari perdebatan tersebut dan mengadirkan konsep habitus yang meleburkan agensi dan struktur. Habitus mencakut bahasa, yang berperan sebagai sistem simbolik dan kapital. Ia bukan hanya bagian dalam transmisi pesan saja tetapi juga sebagai instrumen/mekanisme simbolik untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankan dominasi. Artikel ini akan membahas bagaimana bahasa digunakan sebagai instrumen simbolik untuk memperoleh kekuasaan. Artikel ini juga mendiskusikan bahasa sebagai kapital dan habitus, selain sebagai mekanisme kekuasaan, yaitu sistem instumental simbolik yang mencakup struktur-yang-menstruktur, struktur-yang-distruktur, instrumen dominasi. Mekanisme ini menghasilkan dua sintesa tentang sistem simbolik: “structuring symbols” dan “structured symbols”. Kami menyimpulkan bahwa walaupun tidak menekankan aspek ekonomi, kapital Bourdieu mempunyai peran penting dalam pertarungan kelas dan perbedaan kelas. Kapital ekonomi memegang perang penting karena dapat dikonversi ke kapital lainnya. Perkembangan teknologi internet memberikan implikasi bahwa kapital ekonomi tidak selalu dominan. Kapital sosial justru menjadi kapital yang dominan dan dapat dipertukarkan dengan kapital lainnya.Many scientists position and tend to one of two opposing positions in epistemology: idealism-materialism, rationalism-empiricism, subjectivism-objectivism, micro-macro, agency-structure, freedom-determinism. Bourdieu escaped out of the debate by introducing habitus which agency and structure merge with. It encompasses languages, which are important as a symbolic system and capital. Languages don’t only transmit message but also make-up symbolic instrument to power and keep dominating. We deals with the usage of language as an instrument to power, and discusses about languages as capital and habitus besides as power mechanism, namely symbolic instrument system i.e., structuring-structures, structured-structures, domination instrument. This mechanism results in two syntheses regarding symbolic system: structuring symbols and structured symbols. We conclude, Bourdieu’s concept of capitals have key role in class differentiation and class strugle although don’t emphasize economic capital. Economic one is important because of its conversability into other capitals. New technology (internet) gives an implication that economic capital is not always dominant anymore. Social capital can be dominant and important one because it can be changed into other capital
NETWORK SOCIETY, INTERNET, DAN AKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT
Network Society merupakan salah satu konsep yang banyak digagas para ahli untuk menggambarkan fenomena aktivitas komunikasi masyarakat melalui penggunaan information and communication technology (ICT) atau dikenal juga dengan teknologi komunikasi dan informatika (TIK). Penelitian ini ingin memahami terkait fenomena aktivitas komunikasi individu masyarakat dalam konteks Network Society. Fenomena aktivitas yang dimaksud adalah fenomena ragam kebiasaan beraktivitas, ragam sasaran aktivitas, tingkat keseringan beraktivitas, dan keterkaitan karakteristik individu pengguna social network websites dengan ragam aktivitas. Penelitian ini menggunakan paradigma positivistik dan melalui metode survei sebagai teknik pengumpulan datanya. Populasi penelitian adalah para penduduk berusia dewasa di 9 RW dan 40 RT di Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea. Populasi penduduk di wilayah dimaksud sebanyak 14.055 jiwa. Sampling size penelitian ini menggunakan Aksidental Sampling, yakni sebesar 150. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) hubungan usia kategori MDGs dengan jenis kebiasaan, secara statistik tidak ada hubungan yang berarti terkait usia MDGs responden dengan akses internet. (2) Hubungan tingkat pendidikan dengan jenis kebiasaan, secara statistik terkait hubungan di antara kedua variabel ini tidak menunjukkan ada signifikansi yang berarti. Dengan kata lain secara statistik tingkat pendidikan individu cenderung tidak menentukan jenis kebiasaan dalam akses media sosial
PERAN SAMPLING DAN DISTIBUSI DATA DALAM PENELITIAN KOMUNIKASI PENDEKATAN KUANTITATIF
Membicarakan persoalan normalitas data dalam kaitan permasalahan penelitian (baca : penelitian komunikasi), secara filosofis ilmu hal ini sebenarnya termasuk menjadi bagian dari telaahan elemen epistemologis. Elemen epistemologis sendiri, secara esensial berarti sebagai suatu elemen yang secara khusus menelaah cara suatu ilmu dalam berupaya menemukan kebenaran ilmiahnya. Selain masalah normalitas data, terkait dengan penelitian komunikasi, maka persoalan-persoalan yang juga termasuk dalam telaah epistemologis ini, diantaranya yaitu menyangkut pre test, paradigma teori, dan paradigma penelitian.
INTERNET DAN PENGGUNAANNYA (Survei di kalangan masyarakat Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan)
Keberadaan internet di Indonesia sebagai media konvergensi, resminya diakui pemerintah yaitu sejak Bangsa Indonesia resmi bergabung dengan WSIS bentukan UNESCO. Dengan begitu, Indonesia langsung aktif mengikuti aktivitas pertemuan WSIS, pertama di Swiss thn 2003 dan kedua di Tunisia tahun 2005. Dengan aktivitas dua pertemuan tadi, bangsa Indonesia tampak langsung berupaya mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara yang lebih maju dalam bidang internet seperti negara-negara di Eropa dan Amerika. Beberapa hal yang menandai upaya tadi misalnya, Indonesia menargetkan 50% masyarakatnya sudah terkoneksi dengan internet pada tahun 2015[1]; terbentuknya berbagai program yang berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap internet seperti E-Goverment, Telecenter, Mobile Community Acces Point (MCAP), CAP, PLIK MPLIK, Desa Pintar, atau SMART City.[1]“Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia kian tak terbendung. Jumlah pengguna internet tumbuh signifikan hingga 22% dari 62 juta di tahun 2012 menjadi 74,57 juta di tahun 2013. Menurut lembaga riset MarkPlus Insight, angka jumlah pengguna Internet di Indonesia akan menembus 100 juta jiwa di tahun 2015 nanti. Mereka yang merupakan “netizen” atau pengguna internet yang sehari-harinya menghabiskan waktu lebih dari tiga jam dalam dunia maya meningkat dari 24,2 juta di tahun 2012 menjadi 31,7 juta orang di tahun 2013 ”(http://www.the -marketeers.com/ archives/Indonesia%20 Internet% 20Users.html) diakses pada 9 Mei 2014.
REALITAS PENELITIAN KOMUNIKASI BERBASIS INTERNET (Sebuah Tinjauan)
Diskusi tentang realitas penelitian komunikasi terkait medium internet, secara praktis dalam konteks filosofis ilmu ini berarti menjadi sebuah upaya untuk menelaah persoalan dimaksud tadi secara ontologi dan epistemologi. Secara ontologi telaahnya berkaitan dengan internet sebagai obyek kajian dan secara epistemologi berkaitan dengan upaya-upaya atau cara-cara ilmiah dalam mempelajari obyek kajian tad
IDEOLOGI DAN WACANA MEDIA
Ideologi merupakan salah satu jargon yang sudah tidak asing lagi di kalangan akademisi komunikasi yang tertarik mempelajari fenomena komunikasi bermedia melalui paradigma kritis. Jargon lainnya yang juga termasuk dianggap lazim, diantaranya yaitu power dan hegemony. Paradigma kritis sendiri, yakni sebagai satu dari sejumlah paradigma yang ada dalam paradigma ilmu sosial (baca : ilmu komunikasi), jika ditelusuri dari segi historikal kemunculannya, maka pada hakekatnya merupakan reaksi dari rangkaian reaksi yang ada dalam paradigma ilmu sosial ketika paradigma dimaksud diorientasikan pada upaya menemukan kebenaran dari beragam fenomena sosial yang ada[1].Desk Research ini secara purposive menetapkan media sosial FB pada internet, secara khusus yaitu channel Wall/Status sebagai obyek treatment. Dasar penetapannya karena isi pesan komunikasi dalam Wall/Status tersebut sifatnya langsung dan dengan begitu diasumsikan sebagai wujud dari tindakan ideologis pemilik akun. Subyek pemilik akun ditetapkan secara purposive, yaitu berdasarkan sifat kontennya, yaitu yang bersifat polity. Data dikumpulkan dengan teknik deepth interview melalui chaatroom FB. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif dengan mengacu pada penggunaan konsep teoritik yang relevan. Penelitian ini mengobservasi sejumlah Wall/status akun di medsos FB. Melalui proses selektif, proses seterusnya di fokuskan pada salah satu Wall/status informan yang isu polity-nya dinilai masih relativ hangat saat riset ini berlangsung. KTI ini mencoba menelaah lebih jauh menyangkut ideologi. Telaahnya dibatasi pada upaya mengetahui konsep ideologi itu sendiri. Termasuk pula dibahas khusus menyangkut keterkaitan ideologi dengan media. Media di sini juga dimaksudkan bukan hanya terbatas pada media mainstream, tapi termasuk juga media baru atau internet.
MEDIA DAN SURVEILENCE (Content Analysis Suratkabar mengenai Valence Issue melalui Headline-nya pada Edisi Juli 2017)
Penelitian ini pada dasarnya berupaya menemukan jawaban mengenai fenomena valence issue dalam peng-agendaan Suratkabar Ibu kota. Mengacu pada analisis dan diskusi terhadap fenomena valence baik dalam konteks Konten fisik dan Konten (aktor) kiranya itu memperlihatkan fenomena penekanan oleh organisasi media. Media massa memberi penekanan pada isu-isu tertentu dan sesuai temuan tadi tampak di antara keempat suratkabar itu cenderung tidak sama penekanannya atas isu-isu yang ada di lingkungannya. Keterjadian fenomena ini sendiri memang sudah diasumsikan oleh teori agenda setting, bahwa apa yang dianggap penting oleh pembaca dalam pandangan redaksi maka itulah yang dijadikan objek penekanan oleh pihak media. Dengan demikian di antara sesama media memiliki makna ‘kepentingan’ yang relatif atas berbagai isue. Di sisi lain, temuan terkait fenomena valence dimaksud juga menjadi bukti bahwa fenomena variasi yang terjadi dalam hal valence di antara keempat suratkabar tadi juga menjadi cermin hasil perhitungan pihak organisasi media dalam proses enkoding-nya.
TELEVISI DAN MASYARAKAT PERKOTAAN (Survei Kebiasaan Menonton TV Masyarakat Kelurahan Tammamaung Kecamatan Panakkukang Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan)
Berdasarkan data empirik terkait fenomena kebiasaan menonton tv, kiranya semuanya itu mengindikasikan adanya variansi dalam aktivitas audience menggunakanmedia tv. Variansi mana tentunya ini mencerminkan upaya responden dalam memenuhi kebutuhannya melalui penggunaan media. Gambaran yang tercermin melalui data empirik ini secara teoritis membuktikan relevansinya dengan asumsi yang dibangun oleh teori uses and gratification, bahwa dalam penggunaan media anggota khalayak itu memang mengarahkan dirinya sendiri pada proses komunikasi (Levy dan Windahl.1985). Terkait dengan fenomena menyangkut Hubungan karakteristik dengan Kebiasaan Menonton TV, di mana secara statistik tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, maka secara metodologis itu dimungkinkan terjadi oleh karena faktor-faktor tertentu. Diantaranya adalah seperti faktor variabel anteseden, variabel intervening, atau variabel extranous yang tak terjangkau oleh dalam riset ini
PREFERENSI MEDIA MASYARAKAT JABODETABEK DAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Media utama yang digunakan masyarakat dalam mencari informasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi mereka memilih media tersebu