Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
    194 research outputs found

    EVOLUSI TEORI KETERGANTUNGAN SISTEM MEDIA MENJADI TEORI INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI

    Full text link
    This article deals with a matter of evolution theory in the study of science communications. Object of theory discussed is Media System Dependency Theory which introduced by Ball-Rokeach. This article is focused to overview: 1). History of Media System Dependency Theory emergence. 2) Development phase of this theory; 3). Challenge for this MSD theory: Critique and Change of Time, and 4). From MSD toward  Communication Infrastructure Theory (CIT).Artikel ini mencoba membahas persoalan evolusi teori dalam studi ilmu komunikasi. Teori yang dijadikan objek bahasan adalah teori ketergantungan sistem media (MSD) dari Ball-Rokeach. Fokus persoalan yang dibahas dalam tulisan ini mencakup : 1) Riwayat Kemunculan Teori MSD; 2) Fase Perkembangan Teori MSD 3) Tantangan terhadap teori MSD: Kritik dan Perubahan Waktu dan 4) Dari MSD Menuju Communication Infrastructure Theory (CIT)

    Literasi Internet dan Partisipasi Politik Masyarakat Pemilih dalam Aktifitas Pemanfaatan Media Baru

    Full text link
    oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/2Masalah pokok penelitian ini yaitu menyangkut pemanfaatan media baru untuk kepentingan melakukan partisipasi politik oleh masyarakat pemilih dan menyangkut keterkaitan partisipasi politik dengan faktor literasi internet masyarakat pemilih. Melalui survey pada 100 responden yang diambil dengan menggunakan tehnik sampling acak sederhana dari populasi pemilih yang terdaftar di KPUD Bengkulu berdasarkan Dapil (sub Dapil) yang terambil secara multi stage simple random sampling, hasil penelitian menunjukkan bahwa menyangkut tipologi partisipasi politik, secara over all responden umumnya merupakan para pengguna internet yang masih apatis. Cukup banyak juga di antaranya yang partisipasi politiknya itu sudah bertipologi spektator. Sementara partisipasi politik bertipologi Gladiator hampir tidak ada dan bahkan tidak satupun yang sudah bertipologi politik pengkritik. Berkaitan dengan variable literasi internet, temuan menunjukkan secara over all, sebagian besar responden masih memiliki literasi internet rendah. Sementara mereka yang sudah memiliki literasi internet sedang, jumlahnya sudah cukup banyak juga. Namun, mereka yang sudah memiliki literasi internet tinggi, jumlahnya hampir tidak ada. Kemudian, berhubungan dengan keterkaitan partisipasi politik dengan faktor literasi internet, berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan di antara kedua variabel memiliki hubungan signifikan pada df 4 α  0,05. Akan tetapi pada ukuran keeratan melalui rumus kontingensi Pearson, hubungan tersebut sifatnya sangat lema

    FENOMENA INTERKONEKSI DI LINGKUNGAN INSTANSI PELAYANAN PUBLIK BIDANG INFORMASI DAN DOKUMENTASI

    Full text link
    This paper dealt with the phenomenon of the interconnection of public service agencies in the field of information and documentation. This study focuses on: (1) Efforts to find state of the art regarding the interconnection study, (2) theoretical concepts related to the relevant Interconnection Study, (3) The factors thought influencing the implementation of interconnection network structure, and (4) Efforts to draw relevant hypothesis in terms of the interconnection studies. Review is done by referring to existing theories. The result shows studies related to interconnection are still relatively few issues and even, there are only two are known to enter under research study category. The rest still in the form of review paper category. Despite, from these limited studies also noted that review paper was very technical,and only one which its leads to linkage ICT  with human factorTulisan ini berupaya meninjau fenomena interkoneksi di lingkungan instansi pelayanan publik bidang informasi dan dokumentasi. Telaahnya difokuskan pada : (1) Upaya menemukan state of the art menyangkut studi interkoneksi; (2) Konsep-konsep teoritik yang relevan terkait studi Interkoneksi; (3) Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi penerapan struktur jaringan interkoneksi ; dan (4) Upaya menarik hipotesis yang relevan dalam kaitan studi interkoneksi. Tinjauan dilakukan dengan cara merujuk pada teori-teori yang ada. Hasilnya antara lain menunjukkan penelaahan terkait persoalan interkoneksi itu masih relatif minim, dan inipun hanya dua yang diketahui masuk dalam telaah berkategori riset. Selebihnya masih berupa telaah dalam kategori makalah/paper-paper ilmiah. Di samping itu, dari kajian-kajian terbatas ini juga diketahui bahwa penelaahan itu semuanya masih sangat bersifat teknis, hanya satu di antaranya yang singgungannya mengarah kepada keterkaitan ICT dengan faktor huma

    KONSTRUKSI MEDIA TENTANG REALITAS KORUPSI ANGGOTA PARLEMEN Analisis Teks Norman Fairclough Terhadap Teks/Berita Korupsi Anggota DPR RI Terkait Kasus Aliran Dana BI di DPR dalam Suratkabar Media Indonesia

    Full text link
    This research tries to address a problem on how media (Media Indonesia) construct texts/ reality news about corruption of Indonesian parliement’s member in the case of flow of funds of Bank Indonesia in Indonesian parliement and emerging discourse in the process of its construction. The goal of this research is to know how Media Indonesia construct texts/news about corruption of Indonesian parliement’s member pertaining flow of funds of  Bank Indonesia in Indonesian parliement. The assumptions on which this problems based are: first, news diccourse makes up integral part of framing process in a number of issues. Second: when media report about the content, it is indicated that there is ideology factor and power influencing news making. Third, there is  certain dominant groups  which tend to be able to control undominant groups or even to marginalize them by predominating media. Those reasons guide this research to harness paradigm of constructivism. In this relation, theoretical concept used is: News is a reality constructed and media discourse. To answer this problem, this research uses analytical method of Norman Fairclough. The result shows that in constructing corruption done by parliaments member in Bank Indonesia’s flow of funds, media direct into emerging a discourse in case of BI’s flow of funds that parliament members are more dominantly determined as corruptors. In that position, parliament’s members are positioned unfairly to each other: as main players, as proponent players, and players who are victimize for other party’s interests. Meanwhile, the discourse that parliament’s members regarded as whistle-blowers in the embezzlement of Bank Indonesia’s flow of funds, never become media’s choice. Emerging that discourse, theoretically, it is enabled by –in constructivism’s view- subject (media) are regarded as central factor of discourse activity which is able to control in order to achieve media’s vested interest.   Penelitian ini mencoba menjawab permasalahan tentang bagaimana media (Media Indonesia) mengkonstruksi teks/berita realitas korupsi Anggota DPR RI terkait kasus aliran dana BI di DPR RI dan wacana apa yang muncul dalam pengkonstruksian itu. Tujuan penelitian yaitu  Ingin mengetahui cara Suratkabar Media Indonesia dalam mengkonstruksi teks/berita tentang korupsi Anggota DPR RI dalam  kasus aliran dana BI di DPR RI. Asumsi-asumsi yang mendasari permasalahan ini adalah: pertama, wacana berita merupakan bagian integral dari proses framing sejumlah isu. Kedua, pada saat media memberitakan isinya diindikasikan adanya faktor-faktor ideologi dan kekuasaan yang memberikan pengaruh dalam pengemasan berita. Ketiga, adanya kelompok yang dominan cenderung dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan bahkan memarjinalkan mereka dengan menguasai media. Alasan-alasan tersebut mengarahkan penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis. Dalam kaitan ini, konsep-konsep teoritik yang digunakan yaitu: Berita sebagai Konstruksi Realitas dan Wacana Media. Untuk menjawab permasalahan, penelitian ini menggunakan metode analisis teks Norman Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengkonstruksian realitas tentang korupsi Anggota DPR RI terkait kasus aliran dana BI di DPR RI, media mengarahkannya pada munculnya wacana bahwa dalam kasus aliran dana BI tadi, anggota dewan lebih dominan dipilih dalam posisi sebagai pemain korupsi. Sebagai pemain korupsi, anggota dewan diposisikan secara berbeda, yakni sebagai pemain utama, sebagai pemain pendukung, dan sebagaimana pemain yang menjadi korban kepentingan pihak lain. Sementara wacana anggota dewan sebagai wasit dalam kasus korupsi aliran dana BI, tidak pernah menjadi pilihan media.  Munculnya pewacanaan yang demikian, secara teoritis ini dimungkinkan karena dalam pandangan konstruktivis, subjek yang dalam hal ini media, dianggap sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana yang memiliki kemampuan dalam melakukan kontrol guna mencapai maksud-maksud tertentu dari media.

    156

    full texts

    194

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Studi Komunikasi dan Media
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇