Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
TALK SHOWISU PUBLIK DI TELEVISI DAN DINAMIKA DEMOKRASI
This article describes the audience responses to the role of television talk show participants and their implications for the dynamics of democracy. The article is written based on a audience survey to the talk show Apa khabar Indonesia Malam in TVone. Survey is conducted in the city of Banjarmasin, South Kalimantan. The research findings show, guestoften emphaisizing self-interest and group and often to give emotional statement. Host has demonstrated its role as a moderator as well as provocateur, trying to dig up and dvelop the conflict as a commodity of media content. Under these conditions confirmed the view that the public sphere as a pillar of democratic played hard by mass media. Artikel ini menggambarkan tanggapan khalayak terhadap peran partisipan talk show televisi dan implikasinya terhadap dinamika demokrasi. Tulisan didasarkan pada hasil survey tanggapan penonton terhadap talk show Apa khabar Indonesia Malam di TVone. Lokasi survey di wilayah kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Temuan penelitian menunjukkan, nara sumber talk showdirespon penonton sering menonjolkan kepentingan diri dan kelompoknya serta pernyataannya sering emosional. Host telah menunjukkan peranannya sebagai moderator sekaligus provokator, berusaha menggali konflik sebagai komoditas isi media. Kondisi tersebut mengukuhkan pandangan bahwa public spheresebagai pilar demokrasi sulit diperankan media massa
Kompetensi Jurnalis Sebagai Aktor Dalam Produksi Berita Media Multiplatform
Innovations in the field of information and communication technology have created the variety of information distribution platform to audiences. This is prompted media companies to build and effort to develop system management of news production multiplatform which intended as an effort to keep the media companies alive and growing. By using framework of structuration theory, the pourpose of this study is to reveal the relationship between structure and agency of journalist as actor. The method used is a case study in media companies in South Kalimantan, Banjarmasin Post. The results showed that the duality of structure occurs, which the structure always provides the enabling and the obviouslimitations that cause system technology based newsproduction run. In line with the sructure roles, journalists as human actors adjust their competences with management system multiplatform. The system running by the developing of individual basic competences include discursive and practical consciousness, cognitive motivation and soft competences of online media namely attitude of speedy and multi-tasking working and having the work orientation of social networking. Inovasi teknologi komunikasi dan informasi menumbuhkan aneka ragam platform distribusi informasi kepada khalayaknya. Hal ini mendorong perusahaan media membangun dan berusaha mengembangkan sistem manajemen produksi berita multiplatform agar perusahaan media tetap eksis. Dengan kerangka pemikiran teori strukturasi, studi ini bertujuan mengungkap keterkaitan antara struktur dan agensi dari para jurnalis sebagai aktor. Metode yang digunakan ialah studi kasus di perusahaan media Banjarmasin Post di Kalimantan Selatan. Hasilnya menunjukkan, dualitas struktur terjadi, dimana struktur selalu memberikan pemungkin (enable) dan batasan-batasan yang jelas yang menyebabkan sistem produksi berita berbasis teknologi dijalankan. Sejalan dengan peranan struktur tersebut, para jurnalis sebagai human actormenyesuaikan kompetensinya dengan sistem manajemenmultiplatform yaitu menjalankan struktur dengan mengembangkan kompetensi dasar meliputi kesadaran diskursif, praktis dan motivasi kognitif dan mengembangkan kompetensi lunak media onlineyaitu sikap kerja cepat, multitaskingdan memiliki orientasi kerja berjejaring sosial
Literasi Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) masyarakat desa pantai, Survai di Desa Kota Bengkulu, Pangkal Pinang, Jakarta
Convergence of Communications and Information Technology support the realization of the information society as planned by WSIS signatories, including Indonesia. WSIS planned the realization of ICT literacy at 50% of the world population by 2015 and 100% by 2025. This paper will present the results of research about computer literacy in rural coastal communities. The research location selection was related to an attempt to make them as part of the global information society. This study was based on positivistic paradigm with quantitative approach through survey methods in the province of DKI Jakarta, Bangka Belitung, and Bengkulu. The results of this study can be stated asfollows. Minor variables indicate that respondents tend to have computer independent literacy skills. But particularly, it appears that the respondents in the coastal village of Bengkulu is far superior than other locations. Overall analysis of computer literacy showed that respondents who were more selfsufficient ability already prevalent in Bengkulu than two other locations. The same symptoms appears when it is viewed on the respondents who have not self-contained, Bengkulu province was also seen far less than other two locations, especially Bangka Belitung province which dominated by respondents that are not self-sufficient. Konvergensi Teknologi Komunikasi dan Informasi mendukung upaya mewujudkan masyarakat informasi (sesuatu yang dicanangkan negara penandatangan WSIS termasuk Indonesia). WSIS menyanangkan, terwujudnya ICT literasi pada 50% penduduk dunia pada tahun 2015 dan 100% pada tahun 2025. Tulisan ini akan memaparkan hasil penelitian tentang tingkat literasi komputer di lingkungan masyarakat pedesaan pantai. Pemilihan lokasi penelitian ini terkait dengan upaya untuk menjadikannya sebagai bagian dari masyarakat informasi global. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan paradigma positivistik dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survey di provinsi DKI Jakarta, Bangka Belitung dan Provinsi Bengkulu.Hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Variabel minor menunjukkan bahwa literasi komputer responden cenderung memiliki kemampuan yang sifatnya mandiri. Namun secara khusus tampak bahwa responden di desa pantai Bengkulu itu jauh lebih unggul jika dibandingkan dua lokasi lainnya. Analisis secara keseluruhan terhadap fenomena literasi komputer menunjukkan bahwa responden yang kemampuannya sudah mandiri itu lebih menonjol terjadi di lokasi Bengkulu jika dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. Gejala yang cenderung sama juga tampak jika ditinjau pada kalangan responden yang belum mandiri. Lokasi Bengkulu itu juga terlihat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan dua lokasi lainnya, terutama dengan lokasi Bangka Belitung yang dominan respondennya memang dari kalangan responden yang belum mandiri
REPRESENTASI ASPIRASI PUBLIK DALAM MEDIA CETAK Analisis Konten Terhadap Aspirasi Pembaca Terkait Isu Dana Aspirasi dalam Rubrik Suara Anda Harian Media Indonesia Edisi Juni 2010
This paper will examine public\u27s aspirations in Suara Anda Rubrication, Media Indonesia newspaper in June 2010, related to ‘the aspiration fund issues’. This research using ‘positivistic paradigm’, with ‘quantitative research approach’ through ‘content analysis method’. Problem in this research is how the readers aspirations representation related to ‘the aspiration fund issues’ in Suara Anda Rubrication, Media Indonesia, Edition June 2010? The purpose of this study is to find out how the media through the columns represent the aspirations of the readers related to the issues of aspirations fund proposed by Parliament party. Based on the findings and analysis showed that in a number of letters which were facilitated by the Media Indonesia, can be found that writers in ‘the reader letter’ also appears highlighting some issues that are linked to the main issue itself, the issues of ‘aspirations funding’. In this appointment, apparently carried out by following their own reasoning, as they wishes. The main issues that attached, there are Anti-Golkar Issues, anti-corruption issues, and Some issues that label or granting specific labeling of the DPR and Golkar. Related to the conclusions, that can be drawn from the exposure of the contents of ‘the letter reader’ author. From nine conclusion, the biggest part is the author concludes that they are upset with Golkar related to aspiration fund issues. Among the authors there also can be conclude that they were angry and disappointment with the members of Parliament. Tulisan ini akan mengkaji aspirasi publik dalam Rubrik Suara Anda Suratkabar Media Indonesia Edisi Juni 2010 Terkait Isu Dana Aspirasi dimaksud. Terkait dengan hal ini, penelitian menggunakan paradigma positivistik dengan pendekatan penelitian kuantitatif melalui metode content analysis. Masalah dalam penelitian ini yakni: “Bagaimana Representasi Aspirasi Pembaca Terkait Isu Dana Aspirasi dalam Rubrik Suara Anda Harian Media Indonesia Edisi Juni 2010? Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana media melalui rubriknya merepresentasikan aspirasi pembaca terkait persoalan dana aspirasi yang diusulkan pihak DPR. Berdasarkan temuan dan analisis penelitian menunjukkan bahwa dalam sejumlah surat pembaca yang difasilitasi oleh Harian Media Indonesia ini, dapat ditemukan bahwa para penulis surat pembaca itu, melalui suratnya juga tampak ada upaya untuk mengangkat sejumlah isu yang sifatnya dikait-kaitkan dengan isu utama itu sendiri, yakni isu dana aspirasi. Dalam pengangkatannya, tampaknya dilakukan dengan mengikuti nalar mereka masing-masing, sesuai keinginannya. Isu utama yang sifatnya dilekatkan pada isu dana aspirasi tadi, di antaranya adalah seperti pengangkatan Isu Anti Golkar, Isu anti korupsi, dan bahkan sampai pada isu yang sifatnya melebel atau pemberian cap-cap tertentu terhadap DPR dan Golkar. Terkait dengan gambaran kesimpulan yang dapat ditarik dari paparan isi surat pembaca yang dibuat para penulis surat pembaca, diketahui terdapat sebanyak sembilan yang dimunculan para penulis itu. Dari sembilan kesimpulan ini, maka bagian terbesar penulis itu menyimpulkan bahwa mereka kecewa terhadap Golkar terkait persoalan dana aspirasi ini. Di antara penulis ada juga yang dapat diimpulkan bahwa mereka itu marah terhadap DPR dan terhadap anggota DPR. Selain itu, ada juga penulis yang kecewa terhadap anggota DPR
Praktik Government Public Relations Paska Otonomi Daerah, Sebuah Tinjauan dengan Kasus Penyuluh KB Sebagai Government Public Relations Bidang KB
Multidimentional crisis that occurred in the late 1990s in Indonesia, has influenced the government management. In the national level, it appeared a legal freedom of the press, and changes on government Public Relations institution. While in the level of local government, it was applied a regional autonomy through the Law No.22/1999. These changes also affected other sectors of management, including Public Relations, which in government practice is called Government Public Relations. It beared paradigm shifting in the field of Public Relations after 1999, as well as the challenges on Government Public Relations practice due to the implementation of decentralization. Krisis multidimensional yang terjadi akhir tahun 1990-an di Indonesia, telah mempengaruhi manajemen pemerintahan Indonesia. Pada skala nasional, terjadi legalitas kebebasan pers dan berpendapat, serta perubahan institusi Public Relations pemerintahan. Sementara pada level pemerintahan daerah, diberlakukan penyelenggaraan otonomi daerah melalui Undang-Undang No.22/1999. Perubahan-perubahan tersebut ikut mempengaruhi sektor penyelenggaraan lainnya, termasuk bidang Public Relations, yang dalam pemerintahan disebut Government Public Relations(Humas Pemerintah). Terjadi pergeseran paradigma bidang Public Relations setelah tahun 1999, serta tantangan praktik Government Public Relationsakibat implementasi desentralisasi
WACANA MEDIA MASSA TENTANG KEIKUTSERTAAN UNJUK RASA KEPALA DAERAH MENOLAK KENAIKAN HARGA BBM
Government’s initiative to r aise fuel price on April 1, 2012 was faced with demonstration in a numberof regions. In fact, local goverenment heads mobilized the people and led a demonstration. Their involvement in the demonstration made the news, evoked polemic and discourses in mass media. This writting dealt with mass media discourses regardingthat issue. This research’s used method of socialsemiotic as introduced by Halliday. That method consists of three aspects: 1) Field of discourse (what mass media’s discourse); 2) Tenor of discourse (persons on the news, their characters, positions, and roles; 3) Mode of discourse (how to describe field and tenor of discourse). This research shows that discourses on media are divided into three groups: first, discourse of law & ethics violation conducted by local government heads. Second, discourse of no-law & ethics violation. Third, discourse of no-lawviolation but ethics disrespectfullness. Discourseson media which were involved in heated fight were propalace discourse versus opponent media. Propalace discourse always referred to resources from palace’s insiders. Opponent media used politicians, critics as their resources. Those two opposing groups of media harnessed language to legitimate their own argument, and delegitimate discourse in contrasting. Rencana pemerintah menaikkan harga BBM 1 April 2012disambut aksi unjuk rasa di berbagai daerah. Kepala daerah bahkan menggerakkan massa dan memimpin jalannya unjuk rasa. Keikutsertaan mereka dalam unjuk rasa menjadi pemberitaan media massa, menimbulkan polemik dan pertarungan wacana di media massa. Tulisan ini membahas wacana media massa tentang isu di atas. Penelitian ini menggunakan metode Semiotika Sosial Halliday. Metode ini terdiri dari tiga komponen: 1) Medan Wacana (apa wacana media massa); 2) Pelibat Wacana (orang-orang yang dicantumkan dalam teks berita, sifat, kedudukan, dan peranan mereka; 3) Sarana Wacana (cara menggambarkan medan, dan pelibat wacana). Temuan penelitian menunjukkan bahwa wacana media massa terkategori menjadi 3 (tiga). Pertama, wacana adanya pelanggaran hukum dan etika yang dilakukan kepala daerah. Kedua, wacana tidakadanya pelanggaran hukum dan Etika. Ketiga, wacana tidak adanya pelanggaran hukum, namun ada pelanggaran etika. Wacana media yang sengit bertarung adalah wacana yang proistana dan media oposan. Wacana media yang proistana selalu merujuk sumberberita yang berasal dari lingkaran istana. Media oposan menjadikan politisi dan para pengamat sebagai sumber berita. Kedua kubu ini menggunakan bahasa untuk melegitimasi argumen mereka masing-masing, dan mendelegitimasi wacana yang berseberangan
Media dan Konstruksi Realitas
Ledakan bom terjadi 15 April 2011 di masjid Al Dzikro Polres Cirebon. Ini menarik perhatian media massa termasuk Koran Tempo. Realitas yang disajikan Tempo bukanlah relitas sebenarnya, tetapi realitas yang mengalami proses seleksi, konstruksi dan rekonstruksi. Masalah penelitian yang dikaji adalah bagaimana Tempo mengonstruksi realitas ledakan bom bunuh diri di Cirebon itu serta frame- frame yang muncul dalam pemberitaannya. Mengetahui konstruksi T empo penting karena ia merupakan salah satu media powerfull yang memiliki otonomi redaksi. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui analisis framing model Pan and Kosicky. Hasilnya menunjukkan Koran Tempo melihat pelaku ledakan ini sebagai bagian dari aksi bunuh diri, pelakunya bagian dari kelompok jaringan khusunya Aceh. Struktur pemberitaan yang dikaji adalah elemen framing: skematik, skrips, tematik dan retorik. Skematis: Koran Tempo menghubungkan pelaku bom memiliki kaitan dengan aksi teror di tanah air. Sumber utama beritanya adalah kepolisian. Latar informasi yang dimunculkan, aksi teror yang terjadi di tanah air. Skrip: Tempo memosisikan keterangan yang dikutip saling melengkapi serta secara lengkap disampaikan. Tematik: Tempo meyakini bahwa pelaku bom berkaitan dengan jaringan lokal, Aceh pada mana Abu Bakar diduga terlibat. Secara Retoris: Koran Tempo melakukan pemberian aposisi, dan penekanan teks dengan elemen grafis.
RISET DESAIN DALAM METODOLOGI PENELITIAN
Research design is one of the stages that must be passed or made in order that research achieved its objectives. Research design is a work plan to make a construction that every question can be answered. In conducting the study, a researcher must have a research paradigm that explains researcher’s view in understanding a problem, and the testing criteria as the basis for answering the research problem. In general, the research paradigm is classified into two groups: quantitative research (positivist) and qualitative research (phenomenology / postpositivist). Quantitative approach based on the positivist paradigm, namely how to getto the truth of empirical science by using human senses and keeping track of the outside perspective. Meanwhile, a qualitative approach is based on theparadigm of phenomenology, which states that the essence of meaning or truth can be gained through human interaction; and hence it is not value free. Some designs are typically used in social research is explanatory, that examine the relationship or influence between the hypothesized variables: descriptive, which is the research that gives a clearer picture about social situations, and experimental, the trials or experiments to test the hypothesis in conditions where one or several variables can be controlled. Riset desain merupakan salah satu tahapan yang harus dilalui atau dibuat oleh seorang peneliti agar penelitan yang akan dilakukan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Riset desain adalah sebuah rencana kerja dengan membuat sebuah konstruksi agar setiap pertanyaan dapat ditemukan jawabannya. Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti tentu memiliki paradigma penelitian yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian. Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu penelitian kuantitatif (positivis) dan penelitian kualitatif (fenomenologi/postpositivis). Pendekatan kuantitatif didasari oleh paradigma positivis, yaitu bagaimana cara mendapatkan kebenaran dalam ilmu pengetahuan secara empiris dengan menggunakan indera manusia dan melacak dari sudut pandang luar. Sementara itu pendekatan kualitatif didasari oleh paradigma fenomenologi, yang menyatakan bahwa esensi makna atau kebenaran dapat diperoleh melalui interaksi manusia; oleh karena itu tidak bebas nilai. Beberapa desain yang biasanya digunakan dalam penelitian sosial adalah eksplanasi, yaitu menguji hubungan atau pengaruh antar-variabel yang dihipotesiskan; deskriptif, yaitu merupakan penelitian yang memberi gambaran yang lebih jelas tentang situasi-situasi sosial; dan eksperimental, yaitu percobaan atau eksperimen untuk melakukan tes hipotesis dalamkondisi di mana satu atau beberapa variabelnya dapat dikontrol
EVOLUSI TEORI KETERGANTUNGAN SISTEM MEDIA MENJADI TEORI INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI
This article deals with a matter of evolution theory in the study of science communications. Object of theory discussed is Media System Dependency Theory which introduced by Ball-Rokeach. This article is focused to overview: 1). History of Media System Dependency Theory emergence. 2) Development phase of this theory; 3). Challenge for this MSD theory: Critique and Change of Time, and 4). From MSD toward Communication Infrastructure Theory (CIT).Artikel ini mencoba membahas persoalan evolusi teori dalam studi ilmu komunikasi. Teori yang dijadikan objek bahasan adalah teori ketergantungan sistem media (MSD) dari Ball-Rokeach. Fokus persoalan yang dibahas dalam tulisan ini mencakup : 1) Riwayat Kemunculan Teori MSD; 2) Fase Perkembangan Teori MSD 3) Tantangan terhadap teori MSD: Kritik dan Perubahan Waktu dan 4) Dari MSD Menuju Communication Infrastructure Theory (CIT)
REPRESENTASI UMAT ISLAM DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR IBUKOTA MENGENAI KASUS MAKAM MBAH PRIOK Analisis Isi Terhadap Tajuk Rencana Suratkabar Ibukota
The Content of newpaper editorials in general is a representation of the newspaper viewpoint concerning social environment, such as: politic, economy, etc. A number of newpapers tend to be different in representing it although the object that represented is same – ex. Mbah Priok tomb incident, in Jakarta Utara on April 2010. This study uses social semiotic analysis of the text model of Hallyday in the newspaper Media Indonesia, Kompas, Republika, and Tempo newspaper. Newspaper editorials in representing Muslims in the tomb Mbah Priok incident was carried out by emerging the dominant discourse. Muslims were portrayed as the victims of violence acts done by government, as parties who are victims in Mbah Priok unrest, and as antagonists who fought against the government. Isi tajuk surat kabar harian umumnya bersifat penyampaian sikap surat kabar terhadap lingkungan sosialnya seperti iklim politik, kekuasaan, ekonomi, dan sejenisnya. Berbagai surat kabar tampaknya masing-masing relatif berbeda dalam merepresentasikannya meskipun yang dipresentasikan itu sama sifatnya-misalnya seperti persitiwa kasus makam mbah priok di Jakarta utara April 2010. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika sosial model Hallyday terhadap teks dalam tajuk surat kabar Media Indonesia, Kompas, Republika, dan Koran Tempo. Tajuk surat kabar dalam merepresentasikan umat muslim dalam kasus makam Mbah Priok dilakukan dengan cara memunculkan wacana dominan. Umat muslim digambarkan menjadi pihak yang menjadi korban atas tindakan kekerasan pemerintah, sebagai pihak yang menjadi korban dalam kasus kerusuhan makam Mbah Priok, dan sebagai antagonis yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah