Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
AKTIFITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL
With the phenomenal background, activity of a members in public communication through the use of internet in social networking sites. This study focuses in the problem of how communication community activity through social networking sites. With survey refers to activity concept by Levy Katz, and uses concept by Gurevitch and Hass, the research results shows that: variety of custom activities communication in community member when online, through social networking sites, covering 16 different activities. The quantity of activity cover most of the seven types of activities, includes: "dating with friends"; "to see other people\u27s profiles"; "commenting on statements of others in the site"; "convey a steam"; "find old friends"; "invite / accept other people to be friends "and" upload own photos ". The direction of communication activities via social networking site accounts, have variation, includes four types of guidance. The most direct target by respondent is \u27every person\u27 who can access throught social networking sites. Respondent prepare a lot of alternatives as a modus of communication activities thorugh social networking sites, but without making one modus that dominate the activity. Dengan latar belakang fenomenalnya aktifitas komunikasi anggota masyarakat melalui penggunaan situs jejaring sosial dalam medium internet, penelitian ini terfokus pada permasalahan bagaimana Aktifitas Komunikasi masyarakat melalui situs jejaring sosial. Dengan survey yang mengacu pada konsep aktiftitas Levy dan konsep penggunaan Katz, Gurevitch dan Hass, penelitian menunjukkan bahwa : ragam kebiasaan beraktifitas komunikasi anggota masyarakat saat online melalui situs jejaring sosial, meliputi 16 jenis aktifitas. Kuantitas aktifitas paling banyak yaitu mencakup tujuh jenis aktifitas meliputi : "dating dengan teman"; "melihat-lihat profil orang lain"; "mengomentari pernyataan orang lain dalam situs"; "menyampaikan uneg-uneg"; "mencari teman lama"; "mengundang/menerima orang lain jadi teman"; dan "upload foto diri sendiri". Arah aktifitas komunikasi melalui akun situs jejaring sosial itu memiliki variasi yang meliputi empat jenis pengarahan. Sasaran yang paling banyak diarahkan responden adalah ’setiap orang’ yang dapat mengakses situs jejaring sosial. Responden menyiapkan banyak alternatif sebagai modus untuk beraktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial namun tanpa menjadikan salah satu moduspun yang mendominasi mereka untuk beraktifitas.
STRATEGI PROGRAM KOMUNIKASI KORPORASI Studi Kasus Pada PT Djarum Pasca PP 81/1999 dan Revisinya PP38/2000
The research was motivated by the emergence of the phenomenon of disruption on Corporate Communications Program Strategy / Corporate Communication PT. Djarum in the conduct of Communications towards Stakeholders, in relation with the enactment of PP 81/1999 and its revision namely PP38/2000. Research questions include : How do strategy program on Corporate Communications PT Djarum in communicate with Stakeholders after PP81/1999 and its revisión PP38/2000 enacted ? Using the case study method, the result showed: activity of Corporate Communications handled by the Public Relations of PT Djarum. Using the case study method, results showed: activity of Corporate Communications handled by the Public Relations of PT Djarum. Public Relations is the task of maintain and develop trust in stakeholders relationship. Stakeholders are the groups that are within (internal) or outside the company (external) that have a role in determining the success of the company. Internal stakeholders are its shareholders, managers / top executives, employees and their families. External stakeholders are customers, suppliers, distributors, competitors, banks, government, press, and NGOs. Activity of Corporate Communications through the Public Relations that gave rise to the SWOT analysis, composing the objective and target , and setting clear targets, carried out in accordance with the concept of Public Relations.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemunculan fenomena terganggunya Strategi Program Komunikasi Korporasi/Corporate Communication PT. Djarum dalam melakukan kegiatan Komunikasi Terhadap Stakeholders, sehubungan dengan keluarnya PP 81/1999 dan Revisinya PP38/2000. Pertanyaan penelitian berupa : Bagaimana strategi program Komunikasi Korporasi PT. Djarum dalam melakukan kegiatan Komunikasi antara PT Djarum dengan Stakeholdersnya Pasca PP81/1999 dan Revisinya PP38/2000? Dengan menggunakan metode penelitian studi kasus hasilnya menunjukkan : Aktifitas Corporate Communications ditangani oleh pihak Public Relations PT Djarum. Tugas Public Relations.yaitu merawat dan mengembangkan kepercayaan Stakeholders. Stakeholder adalah kelompok-kelompok yang berada di dalam (internal) maupun di luar perusahaan (eksternal) yang mempunyai peranan dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Stakeholder internal diantaranya pemegang saham, manajer/top eksekutif, karyawan beserta keluarganya. Sedangkan stakeholders eksternal diantaranya konsumen, pemasok, penyalur, pesaing, bank, pemerintah, pers, dan lembaga swadaya masyarakat. Aktifitas corporate communications melalui Public Relations yang memunculkan analisis SWOT, penyusunan objektif, dan penetapan target sasaran yang jelas, dilakukan sesuai dengan konsep Public Relations
SELEKTIVITAS DAN PENILAIAN KUALITAS INFORMASI PERTANIAN DALAM PERSPEKTIF GENDER
Farmers (male and female) of organic vegetables always need agricultural information. The term information in communication is the actual degree of freedom in a selecting signals, symbols, messages and patterns to be transferred. Selectivity is the ability to select agricultural information based on needs. The objectives of this research were (1) to identify the characteristics of male and female farmers, selectivity over agricultural information and communication channels, evaluation of information qualityand use of information and communication channels, and evaluation of information quality and the use of agricultural information. The study was conducted in the District of Megamendung in Bogor Regency and District of Pacet in Cianjur Regency. The relationships between the variables were analyzed with the rank Spearman Method. The result showed that age of both genders range from 19 to 69 years. Their farmland varies from 0.01 to 2 ha, and the maximum natural farming experience is 40 years. Both genders are active in getting information and discussing it with fellows, traders and families. The control of information is dominant on males as heads of families. The agricultural information often sought by men is on the environmental aspect, while the aspect of harvest are looked for by women. The personal channel is still dominant for both genders to find information. Both genders were critical in evaluating the information and would say that information was relevant, easy to understand, could friendly but less attractive source. Among men the information on all aspects and from personal channels and media would useful for them. Among women, the useful information for them is one that can solve problems and bring benefits, and particularly that is obtained from the group channel. Petani (laki-laki dan perempuan) sayuran organik selalu membutuhkan informasi tentang pertanian. Istilah informasi dalam komunikasi merupakan tingkat kebebasan bagi sebuah sinyal-sinyal, simbol-simbol, pesan dan pola terpilih untuk ditransfer. Selektivitas merupakan kemampuan untuk menyaring informasi pertanian sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) untuk mengidentifikasi karakteristik dari petani laki-laki dan perempuan, selektivitas terhadap informasi pertanian dan saluran komunikasi, evaluasi terhadap kualitas informasi dan penggunaan informasi pertanian. Penelitian dilakukan di Kecamatan Megamendung di Kabupaten Bogor dan kecamatan Pacet di Kabupaten Cianjur. Hubungan antar variabel dianalisis dengan metode ranking Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden untuk kedua gender berkisar antara 19-69 tahun. Tanah perkebunan mereka berkisar antara 0.01-2 ha, dan pengalaman bertani maksimal 40 tahun. Kedua gender aktif dalam menerima informasi dan mendiskusikannya dengan petani lain, pedagang, dan keluarga. Kontrol informasi dominan pada laki-laki sebagai kepala keluarga. Informasi pertanian yang sering dicari oleh laki-laki berkaitan dengan aspek lingkungan, sementara aspek tentang panen dicari oleh perempuan. Saluran komunikasi pribadi tetap dominan pada kedua gender untuk mencari informasi. Kedua gender kritis dalam mengevaluasi informasi dan akan berpendapat apakah suatu informasi relevan, mudah dimengerti, bisa jadi sebuah sumber bersahabat namun kurang menarik. Para laki-laki memandang informasi tentang semua aspek dan dari saluran komunikasi pribadi dan media sangat berguna bagi mereka. Sementara para perempuan berpendapat informasi yang berguna bagi mereka yaitu informasi yang dapat memecahkan masalah dan membawa manfaat, dan khususnya yang didapat dari saluran komunikasi kelompok
PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF SERTA PEMIKIRAN DASAR MENGGABUNGKANNYA
Quantitative research is a research approach that represents the understanding of positivism, while qualitative research is an approach that represents a familiar naturalistic research (phenomenology). Research with quantitative and qualitative approach by some may not be mixed, but knowledge is considered wrong by researchers who noticed that each research approach has a weakness, and therefore deemed necessary to do a combination, for each approach complement each other. The reason for the selection of both research approaches is that both types of research are mutually reinforcing and complementing each other so that research results will be achieved not only an objective, structured and measurable but it will be achieved also in-depth research results and factual. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis). Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif oleh sebagian kalangan tidak boleh dicampuradukan, namun pemahaman ini dianggap keliru oleh para peneliti yang melihat bahwa masing-masing pendekatan penelitian mempunyai kelemahan, dan oleh karenanya dianggap perlu untuk melakukan kombinasi, agar masing-masing pendekatan saling melengkapi. Alasan pemilihan kedua pendekatan penelitian tersebut adalah bahwa kedua jenis penelitian tersebut saling memperkuat dan saling melengkapi sehingga akan dicapai hasil penelitian yang tidak hanya obyektif, terstruktur dan terukur namun akan dicapai juga hasil penelitian yang mendalam dan faktua
NOMADISME DAN SKIZOFRENIA POLITIK(POSTMODERN) SBY Tinjauan Pada Beberapa Image SBY Di Media Massa Online
The article based on indications of the emergence of the phenomenon of SBY\u27s schizophrenia and political nomadism in online media. Therefore, this paper focused on how schizophrenia and political nomadism is seen in some news about SBY in online news. The results showed that Schizophrenia of SBY is visible from many semiotic nomadisms, in which case the SBY\u27s establishment and identity is floated and opportunists in two cases that reviewed. Popularity tends to affect how he needed to pressure political decision making. SBY\u27s political conversations as if done by several different people. As if his true identity cannot be described with certainty. Artikel ini bertolak dari munculnya indikasi fenomena skizofrenia dan nomadisme politik SBY dalam pemberitaan media online. Karena itu, paper ini terfokus pada persoalan bagaimana skizofrenia dan nomadisme politik terlihat dalam beberapa pemberitaan tentang SBY di berita online. Hasil telaah menunjukkan Skizofrenia SBY terlihat dari berbagai nomadisme semiotis, dalam hal ini pendirian dan identitas SBY terlihat mengambang dan oportunis dalam dua kasus yang diulas. Kepopuleran cenderung mempengaruhi bagaimana ia membuat keputusan poltik. Pembicaraan pembicaraan politik SBY seolah-olah dilakukan oleh beberapa sosok yang berbeda. Seolah-olah identias sejatinya tak bisa digambarkan dengan pasti
KEKUASAAN MEDIA TELEVISI KOMERSIAL DAN NETRALITAS INFORMASI
Writing this paper departs from the emergence of the phenomenon of the use of economic interests and political power in the media content of commercial television in Indonesia by its owner. In relationship to the background, review papers focused on issues of media power commercial television and its relation to the neutrality of information. Concept used to analyze these problems are the theory of political economy of media and media impartiality. Material obtained from the analysis of literature studies, documentation, and media clippings. The results of the discussion showed that the commercial television media editorship neutrality difficult to maintain because it is contaminated by the power of the owner. This contamination has implications on the number of commercial television media to be ambivalence. This condition tends to worsen the image of an operational commercial television. In this context the medium of television can be used for the fulfillment of economic and political interests of media owners based on power. Penulisan paper ini berangkat dari munculnya fenomena penggunaan kepentingan ekonomi dan politik kekuasaan dalam pemediaan konten televisi komersial di Indonesia oleh pemiliknya. Dalam hubungan latar belakang tersebut, telaah paper difokuskan pada persoalan kekuasan media televisi komersial dan relasinya terhadap netralitas informasi. Konsep yang digunakan untuk menganalisis permasalahan tersebut adalah teori ekonomi politik media dan imparsialitas media. Bahan analisis diperoleh dari hasil studi literatur, dokumentasi, dan kliping media. Hasil bahasan menunjukkan bahwa netralitas keredaksian media televisi komersial sulit dipertahankan karena terkontaminasi oleh kekuasaan pemilik. Kontaminasi ini berimplikasi pada banyaknya media televisi komersial yang bersikap ambivalensi. Kondisi ini cenderung memperburuk citra televisi komersial yang beroperasional. Dalam konteks ini media televisi dapat digunakan untuk pemenuhan kepentingan ekonomi dan politik dari pemilik media berdasarkan kakuasaa
Representasi Perempuan Pada Teks Kekerasan Dalam Rumah Tangga
This research is to identify women’s representation in the rubric text about women abuseses in households of “Nah Ini Dia” in The Poskota. This research is a discourse analysis which uses critical paradigm, through qualitatif appoarch. The choice of rubric sample is used with purposive technique. The analysis that is used is critical discourse analysis combine with Sara Mills methodological analysis. After the analysis is done, the regained conclusion is that in the rubric of “Nah Ini Dia” ,the subject position is mainly dominated by men, while women are always in the object position. The writer positions himself as a man, so that the readers are directed to interpret the content of the text from a man’s point of view. As the result, the rubric text becomes bias in representing women. Women are only depicted as the triggering factor to domestic abuses done by men. This context commonly happens in Indonesian society, in which women are identically addressed as victims of domestic abuses. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi representasi perempuan pada teks pemberitaan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga dalam teks rubrik “Nah Ini Dia” di harian Pos Kota. Penelitian ini merupakan analisis wacana dengan menggunakan paradigma kritis, melalui pendekatan kualitatif. Pemilihan sampel rubrik dilakukan menggunakan teknik purposive. Analisis yang digunakan adalah analisis wacana kritis yang dipadukan dengan metode analisis Sara Mills. Setelah dilakukan analisis diperoleh kesimpulan bahwa dalam rubrik “Nah Ini Dia” tersebut, posisi subjek cenderung di dominasi oleh laki-laki, sedangkan perempuan selalu diposisikan sebagai objek. Penulis memposisikan dirinya sebagai laki-laki, sehingga teks berita yang ditampilkan pun mengarahkan pembaca untuk menafsirkan teks berita dalam artikel tersebut dari sudut pandang lakilaki. Teks rubrik tersebut menjadi bias dalam merepresentasikan perempuan. Perempuan hanya digambarkan sebagai pemicu tindakan kekerasan dan akhirnya menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh laki-laki. Konteks ini pun terlihat dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, dimana perempuan selalu identik sebagai korban KDRT
SELF CENSORSHIP DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL MEDIA MASSA
When the press faced a choice to determine the appropriate event for the news, their obligation is not only just present the facts, but also the truth and the effects of the news. This is the importance of journalists’ self censorship and social responsibility to measure and assess the meaning of reporting. The measurement of self censorship itself is self concience and the ethic of press as their moral grip. This research aims to describe the extent of self-censorship among the media in reference to the press ethics, conscience and social responsibility in media coverage. The perspective of meta-analysis was being used in this research by utilizing the results from existing research of STIKOM LSPR 2009 students, the findings of complained cases from Indonesia Press Council (Dewan Pers) 2001-2007, and the results of group discussion between Indonesian dan Australian journalists on 8-11 November 2010 in Canberra and Sydney. The results of this research showed that journalists prefer to play their role as media demand and industrial markets. Accordingly, there are many media irrelevances intentionally. The implication of this research was the element of self censorship shoud be inheren as journalists’ intelectual process in playing their role as the spearhead of the mass media and its first loyalty to the truth and to citizens. ABSTRAKKetika pers dihadapkan pada pilihan untuk menentukan peristiwa-peristiwa yang tepat untuk dijadikan berita, kewajiban mereka tidak hanya untuk menyajikan fakta, namun juga kebenaran dan dampak dari berita tersebut. Di sinilah pentingnya sensor pribadi dan tanggung jawab sosial dari jurnalis untuk mengukur dan menilai arti dari sebuah laporan. Pengukuran sensor pribadi itu sendiri didasarkan pada kesadaran pribadi dan kode etik pers sebagai pegangan moral mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat sensor pribadi dalam media mengacu pada etika pers, hati nurani, dan tanggung jawab sosial dalam liputan media. Penelitian ini menggunakan perspektif meta-analisis dengan memanfaatkan hasil penelitian yang telah ada sebelumnya yaitu yang dilakukan oleh mahasiswa STIKOM LSPR 2009, temuan kasus dari Dewan Pers 2001-2007, and hasil dari FGD antara jurnalis-jurnalis Indonesia dan Australia pada tanggal 8-11 November 2010 di Canberra dan Sydney. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jurnalis cenderung untuk memainkan fungsinya berdasarkan permintaan media dan kebutuhan pasar. Sejalan dengan itu, ada banyak media yang dengan sengaja bertindak tidak relevan. Impikasi dari penelitian ini yaitu elemen dari sensor pribadi harus menyatu dengan proses intelektualisasi jurnalis dalam memainkan fungsinya sebagai ujung tombak dari media massa dan kesetiaannya pada kebenaran dan masyarakat
AKTIFITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL
With the phenomenal background, activity of a members in public communication through the use of internet in social networking sites. This study focuses in the problem of how communication community activity through social networking sites. With survey refers to activity concept by Levy Katz, and uses concept by Gurevitch and Hass, the research results shows that: variety of custom activities communication in community member when online, through social networking sites, covering 16 different activities. The quantity of activity cover most of the seven types of activities, includes: "dating with friends"; "to see other people\u27s profiles"; "commenting on statements of others in the site"; "convey a steam"; "find old friends"; "invite / accept other people to be friends "and" upload own photos ". The direction of communication activities via social networking site accounts, have variation, includes four types of guidance. The most direct target by respondent is \u27every person\u27 who can access throught social networking sites. Respondent prepare a lot of alternatives as a modus of communication activities thorugh social networking sites, but without making one modus that dominate the activity. Dengan latar belakang fenomenalnya aktifitas komunikasi anggota masyarakat melalui penggunaan situs jejaring sosial dalam medium internet, penelitian ini terfokus pada permasalahan bagaimana Aktifitas Komunikasi masyarakat melalui situs jejaring sosial. Dengan survey yang mengacu pada konsep aktiftitas Levy dan konsep penggunaan Katz, Gurevitch dan Hass, penelitian menunjukkan bahwa : ragam kebiasaan beraktifitas komunikasi anggota masyarakat saat online melalui situs jejaring sosial, meliputi 16 jenis aktifitas. Kuantitas aktifitas paling banyak yaitu mencakup tujuh jenis aktifitas meliputi : "dating dengan teman"; "melihat-lihat profil orang lain"; "mengomentari pernyataan orang lain dalam situs"; "menyampaikan uneg-uneg"; "mencari teman lama"; "mengundang/menerima orang lain jadi teman"; dan "upload foto diri sendiri". Arah aktifitas komunikasi melalui akun situs jejaring sosial itu memiliki variasi yang meliputi empat jenis pengarahan. Sasaran yang paling banyak diarahkan responden adalah ’setiap orang’ yang dapat mengakses situs jejaring sosial. Responden menyiapkan banyak alternatif sebagai modus untuk beraktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial namun tanpa menjadikan salah satu moduspun yang mendominasi mereka untuk beraktifitas.
Fotojurnalistik Antara Dilema Realis Dan Surealis, Tinjauan Teoritis Pada Beberapa Karya Fotojurnalistik Terkait Pembunuhan Osama bin Laden Pada Harian Kompas)
Photography presents a new climate in fine art discourse. Clasic and realism drawings could present their goal. There are two interesting controversy between two kind of photography: 1) Realismphotography. It regards photography as iconistic realities; 2) Surealism photography. It regards photography as a discursive and non-discursive materials. Journalistic photos after September 11 incident made up journalistic photos which emerged from witness bearing, or redundancy of way and news forms. This article will give theoretical review how to simulate reality of Osama bin Laden’s death in the journalistic photos. The conclusion of this article indicates that Osama bin Laden had become areal figure of simulacrum which legalized any accusation or demonization into certain group (muslims).News about Osama’s death was like one about the death of horor figure showed in films. This thing is like a naration necessity. Hence, in the room of simulation, it is a must to make hypereality in the event and certain scenes. This is like a dreaming and principles of surealistic works. Journaslitic photos about Osama’s death could be regarded as an illusion event with a dreaming and surealism nuance. Fotografi menyajikan sebuah iklim baru dalam diskursus seni rupa. Lukisan klasik dan realis mampu menghadirkan tujuan-tujuannya. Ada dua kontroversi yang cukup menarik dari sebuah karya fotografi. 1). Fotografi realisme yang menjadikan fotografi sebagai sebuah realitas yang ikonis; 2) Fotografi Surealisme yang menjadikan sebuah karya fotografi menjadi materi diskursif dan nondiskursif. Fotojurnalistik setelah peristiwa 11 September merupakan sebuah karya fotojurnalistik yang lahir dari sebuah witness bearingyang merupakan sebuah pengulangan langgam dan bentuk pemberitaan. Tulisan ini ingin memberikan suatu penjelasan teoritis berupa tinjuan tentang bagaimana simulasi realitas pembunuhan Osama bin Laden dalam fotojurnalistik. Kesimpulannnya menunjukkan bahwa Osama bin Laden yang kerap digambarkan melalui sebuah berita foto atau berita visual televisi telah menjadi sebuah sosok simulakrum sejati yang mengesahkan segala macam tuduhan atau demonisasi pada kelompok tertentu (muslim). Pemberitaan Kematian Osama seperti matinya sosok horor dalam film. Seolah-olah menjadi keharusan narasi. Karena itu menjadi keharusan, maka dalam ruang simulasi harus dibuat hiperelitasnya dalam sebuah peristiwa dan adegan tertentu. Ini serupa dengan cara kerja mimpi dan prinsip karya surealistik. Fotojurnalistik tentang kematian Osama bin Laden dapat dikatakan sebuahperistiwa ilusi dan bercorak mimpi dan surealistik