Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
RISET PENGGUNAAN MEDIA DAN PERKEMBANGANNYA KINI
ABSTRACTTheory of Uses-and-gratifications (U & G) is one of theories used by most of media usage studies. This theory gives an attention on what people do with media. Formely, that theory was develoved by Kazt and Gurevic. Recently, it has develoved siginificantly, specially on its gratifivations concept. This significant development was influenced by the develpment of new media (internet). This article studied about state of the art of the theory within last 13 years. The result showed that the theory was fuctioned as single or core theory in most studies. Sometimes, several studies used other theory for example Media Dependency Theory. Although those two theories were different to each other in their elements (assumption and concept), but they have a similarity in the term of the study object (audience), and in theoretical tradition (social-psychological). Its gratification concept has a propensity to be miscellaneous. Moreover, media that met with an audience’s need have been developing from traditional into new media (internet), even into certain application. Past research approach was generally quantitative by surveying, and sometime qualitative approach to enrich data. Additionally, most surveys were conducted by internet (online surveys). Keywords: Uses; Gratifications; MediaABSTRAKUses-and-gratifications (U & G) merupakan salah satu teori yang banyak digunakan dalam penelitian tentang penggunaan media. Teori ini memberikan perhatian pada apa yang dilakukan khalayak terhadap media. Teori yang awalnya dikembangkan Kazt dan Gurevic memiliki banyak perkembangan khususnya pada konsep gratifikasinya. Perkembangan yang pesat ini muncul setelah berkembangnya media baru atau internet. Tulisan ini mengkaji state of the art teori tersebut pada 13 tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan bahwa teori tersebut sering dijadikan teori inti dalam kajian penggunaan media. Adakalanya beberapa penelitian memadukan teori tersebut dengan Teori Media Dependency. Kendatipun berbeda dalam hal asumsi dan konsepnya, kedua tersebut memiliki kesamaan dalam hal titik fokusnya yang memusatkan kajian pada khalayak, dan sama dalam hal tradisi teorinya yaitu sosio-psikologis. Konsep gratifikasi teori ini cenderung semakin beragam. Media yang memenuhi kebutuhan khalayak mengalami perkembangan dari media tradisional ke media baru (internet), bahkan ke aplikasi tertentu. Pendekatan penelitian yang digunakan umumnya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei (acapkali didukung juga dengan pendekatan kualitatif). Survei yang dilakukan umumnya sudah lazim dilakukan secara online. Kata-kata Kunci: Penggunaan; Gratifikasi, Medi
PENGGUNAAN MEDIA OLEH KOMUNITAS
ABSTRACTBy using concept of uses regarding concept of activity, this research tries to dealt with phenomenon of media usage in a community. By determining community of UKM Pasar Malam Tarakan in listening to Radio Grass FM Tarakan broadcasting as population and respondents, and survey as a method, this research shows that generally the result has a relevance with theoretical assumption in theory model of uses and gratification. The relevance at least appears in responden’s radio-listening activities. These ones include both before, within, and after listening to Radio Grass FM. Keywords : Media usage; community. ABSTRAKDengan menggunakan konsep uses dalam kaitan konsep aktifity, penelitian ini berupaya menelaah fenomena penggunaan media pada salah satu komunitas. Dengan menjadikan Kelompok UKM Pasar Malam Tarakan dalam mendengarkan siaran Radio Grass FM Tarakan, serta menjadikan survai sebagai metodenya, penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum hasilnya memang memiliki relevansi dengan asumsi-asumsi teoritis yang dikemukakan dalam model teori uses and gratification. Relevansi itu setidaknya tampak dari memang adanya aktifitas dikalangan responden itu dalam kaitan mendengarkan radio. Aktifitas dimaksud, baik pada saat sebelum mendengarkan radio Grass FM, maupun pada saat selama dan setelah mendengarkan radio Grass FM. Kata-kata kunci : Penggunaan media; Komunitas.
MAKNA DAN MODEL KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
ABSTRACTThis article is a review towards the communication development theory and practices in Indonesia, to analyze on how the tendencies of the usage of the development model and how it should be. Through the literature study, it illustrates that the participatory development model apparently has not become the main strategy. The linear model through the dissemination of information and innovation diffusion is still the dominant paradigm. The usage of Communication and Information Technology for development, which focuses more on the provision of infrastructure have not yet been supported by the participatory and continuous model of empowerment model. The Communication and Information Technology has already become the social transformation paradigm which provides opportunities to increase the development capacity more rapidly and effectively. Based on the paradigm, this analysis offers a convergence of communication development model which is hoped to be able to mobilize all resources collaboratively and optimally. Keywords : communication, development, model, technology, convergenceABSTRAKTulisan ini merupakan tinjauan terhadap konsep-konsep teoritik komunikasi pembangunan dan prakteknya di Indonesia, untuk menganalisis bagaimana kecenderungan model pembangunan yang digunakan dan model sebaiknya. Melalui kajian literatur, kajian ini menunjukan bahwa model komunikasi pembangunan partisipatif tampaknya masih belum menjadi strategi utama. Model linier melalui diseminasi informasi dan difusi inovasi masih menjadi paradigma dominan. Penggunaan TIK untuk pembangunan lebih fokus pada penyediaan infrastruktur belum diikuti dengan pemberdayaan dengan model partisipatif dan berkesimambungan. Teknologi komunikasi dan informasi sudah merupakan paradigma transformasi sosial yang menyediakan peluang peningkatan kapasitas pembangunan yang lebih cepat dan berkualitas. Berbasis paradigma tersebut kajian ini menawarkan model komunikasi pembangunan konvergensi yang diharapkan bisa menggerakkan semua sumberdaya secara kolaboratif dan optimal. Kata-kata Kunci : komunikasi, pembangunan, model, teknologi, konvergens
MEDIA BARU, BUDAYA POLITIK DAN PARTISIPASI POLITIK (Survei Pemilih di Jambi, Babel dan Jakarta Mengenai Aktifitas Komunikasi Politik Melalui Media Baru)
This research tries to answer problems regarding phenomenon of political culture, and political participation of the peoples by using new media (population based on data in regional commission for general election). By survey, this research shows that there is variety of political culture in the three of research location. But, the over all inclination, the political culture is participant. Other finding is that there is vartiety of political participation as well. It shows that there is difference of political participation typology, specially apathetic one. The respondent proportion is different to each other but dominant, specially in Pangkal Pinang. Phenomenon of the same political typology in the three research locations is spectator one. Respondents in this typology become second dominant respondents in every location. Statistically, the relationship of those two variables is not significant. Relationship notations as follow: in Jakarta, X2 = 1,1857, df 3, p > α 0,05 (7,815). In Pangkal Pinang, X2 = 5,330, df 6, p > α 0,05 (12,592), in Jambi X2 = 2,0063, df 4, p > α 0,05 (9,488). Keywords : New Media; Political Culture; Participation Culture.ABSTRAK Penelitian ini berupaya menjawab persoalan menyangkut fenomena budaya politik dan partisipasi politik terkait penggunaan media baru oleh masyarakat (para anggota masyarakat yang secara sampling terpilih dari populasi pemilih menurut data KPUD). Dengan metode survai, penelitian ini menemukan bahwa memang terdapat keragaman budaya politik di tiga lokasi penelitian namun dengan satu kecenderungan di mana responden umumnya secara over all sudah memiliki budaya politik partisipan. Temuan lain yaitu bahwa fenomena partisipasi politik itu memang bervariasi adanya. Secara over all memperlihatkan bahwa di lokasi itu cenderung adanya perbedaan tipologi terkait dengan gejala partisipasi dimaksud. Perbedaan itu terutama menyangkut responden yang bertipologi apatis. Proporsi responden yang demikian berbeda jumlahnya di setiap lokasi, namun jadi bagian responden yang menonjol. Paling banyak dijumpai di Pangkal Pinang. Sedang tipologi politik lain yang cenderung sama gejalanya di tiga lokasi penelitian, yaitu tipologi Spektator. Responden bertipologi ini menjadi kelompok responden terbesar kedua di setiap lokasi penelitian. Secara statistik hubungan kedua variabel tidak signifikan. Notasi hubungan tersebut yaitu : Di Jakarta, X2 = 1,1857, df 3, p > α 0,05 (7,815). Di Pangkal Pinang , X2 = 5,330, df 6, p > α 0,05 (12,592). Di Jambi X2 =2,0063, df 4, p > α 0,05 (9,488)
LITERASI INTERNET APARATUR PEMERINTAH (Survei Aparat Pemerintah di Lingkungan Pemda Kabupaten Seram Bagian Barat, Propinsi Maluku)
Backgroud of this research is about the relationship between Information and Communication Technology and the chenge of current government system. This research questions government official’s internet literacy in relation to implementation of the governance system. This research shows that :1) Government official’s internet literacy is low; 2) Accordingly, it suggests that government officials are not ready to take role as officials working in governance system. In order to have an adaptability toward goverment system change, ICT literacy of government officials should be empowered specially in term of e-litercy. Key words : Internet Literacy; government official; governance.Dengan berlatarbelakangkan fenomena perkembangan ICT (Information and Communication Tekhnology) dalam kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan saat ini, penelitian ini mempertanyakan persoalan literasi internet aparat pemerintah dalam kaitan penerapan sistem pemerintahan berbasis konsep governance. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan : 1) Kadar literasi internet aparat pemerintah umumnya cenderung masih belum memadai; 2) Sehubungan kadar literasi internet itu cenderung masih belum memadai pada umumnya, ini berindikasi kalau para aparatur itu belum siap memerankan diri sebagai aparat yang bekerja dalam sistem pemerintahan berbasiskan konsep governance. Guna kepentingan adaptasi aparatur terhadap perubahan sistem pemerintahan, kiranya dianggap perlu dilakukan kegiatan-kegiatan sejenis empowering terkait upaya peningkatan kadar ICT literacy, khususnya tentu menyangkut i-litercy. Kata-kata kunci : Literasi Internet; aparat pemerintah
POLA PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)DI LINGKUNGAN MASYARAKATPEDESAAN (Survei pada Komunitas Anggota Penerima PNPM Provinsi Jambi)
Internet sudah eksis di pedesaan melalui program-program pemerintah seperti PLIK, CAP dan MPLIK.Melalui survey pada Komunitas yang menjadi anggota penerima Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)di Provinsi Jambi yang berbasiskan pada konsep aktifitas dalam dimensi pertama (orientasi khalayak) menurut Levy dan Windahl dalam konteks pengembangan konsep uses pada model teori uses and gratification, penelitian ini menyimpulkan bahwa 1) hasil penelitian ini secara umum kembali menguatkan kebenaran asumsi-asumsi konsep uses dalam model teori uses and gratification; 2) adanya aktifitas ekonomi responden pada dimensi selektifitas dalam aktifitas penggunaan internet menguatkan kebenaran asumsi bahwa ICT itu berhubungan dengan masalah ekonomi; 3) kurangnya partisipasi anggota PNPM dalam menggunakan internet berkaitan dengan lemahnya kesadaran anggota terhadap eksistensi program PNPM itu sendiri, disamping juga masih relatif lemahnya kadar literasi ICT anggota dan lingkungan domisili mereka yang juga masih belum terfasilitasi akses internet.
INDUSTRI TELEVISI DI INDONESIA DAN TAYANGAN IKLAN ROKOK
Berdasarkan pendekatan ekonomi politik, stasiun televisi kini dihadapkan pada kenyataan untuk menjadi institusi bisnis bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan rating dijadikan pedoman dalam penentuan harga iklan di stasiun televisi. Namun, seringkali iklan yang disajikan tidak memperhatikan etika periklanan. Salah satunya adalah iklan-iklan rokok yang selama ini tayang di stasiun televisi. Teori pembelajaran sosial dapat digunakan untuk mengkaji peran iklan rokok di televisi dalam memengaruhi persepsi pemirsa tentang rokok dan dampak dari rokok tersebut. Iklan rokok yang mengangkat hal-hal positif, seperti kekompakan dengan teman-teman, mengesankan bahwa gambaran yang tercipta adalah rokok dapat menghasilkan norma-norma positif. Sehingga, merokok yang sebenarnya berbahaya bagi kesehatan, malah dilakukan oleh banyak orang dengan berbagai alasan positif yang muncul dalam iklan rokok. Pemirsa televisi harus lebih kritis dalam memaknai iklan. Stasiun televisi juga jangan tergiur dengan dana promosi dari pengiklan, tapi juga harus menunjukkan tanggung jawab sosial dalam memberikan tayangan iklan yang sehat bagi masyarakat. Pemerintah sebagai regulator bekerja sama dengan Badan Pengawas Periklanan juga hendaknya tegas memberikan teguran bahkan sanksi atas pelanggaran yang terjadi dalam dunia periklanan.
MAKNA “NASIONALISME NEGARA- BANGSA” MELALUI TEKS MEDIA
ABSTRACTNationalism has a strategic role in maintaining identity of nation-state. Although it is disputable. This article describes and analyses it from some perspectives. The results are: (a) From economic perspective, it emerges a pragmatic need to achieve dominan economic growth. It’s expected to contribute to public welfare, economic stability for nationalism, nation-state; (b). From economic, social politic perspective, globalization and local community strengthenment which is caracterized by regional authonomy. If there is mismanagement, it wil be an obstruction for nationalism; (c). From cultural perspective, there is an indication that culture tends to unravel nationalism, nation-state. Therefore, “glocalisation” of culture in local community should not be viewed as counternationalism againts nation-state, on the contrary, it strengthens nationalism, in the context of nation-state. Media contents is able to frame and articulate representation & nationalism concept. Nation-state is not only in the cognitif level, but also in the level nationalism ideology, nation-state. Hence, nationalism spirit of nation-state must be bolstered, although only by construction on media text. Keywords: Media Text; Strengthenment of Nation-state nationalism ideology. ABSTRAKNasionalisme memiliki peran strategis untuk mempertahankan identitas Negara-bangsa, meski masih menjadi persoalan diskursif. Tulisan artikel ini mencoba untuk mendiskripsikan dan menganalisis dari berbagai perspektif. Hasilnya adalah: (a). Dari perspektif ekonomi, muncul kebutuhan pragmatis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dominan, diartikulasikan dapat mendorong tercapainya kesejahteraan masyarakat untuk menciptakan stabilitas ekonomi, demi nasionalisme, negara-bangsa; (b). Dari perspektif sosial politik, proses globalisasi dan penguatan komunitas lokal yang bercirikan otonomi daerah jika salah implementasinya bisa menjadi ancaman nasionalisme; (c). Dari perspektif budaya muncul gejala bahwa kebudayaan cenderung melepaskan keterikatannya pada nasionalisme, negara-bangsa. Proses “glokalisasi” budaya di komunitas masyarakat lokal hendaknya tidak dilihat sebagai kontra “nasionalisme negara-bangsa”, tetapi justru menjadi penguatan nasionalisme dalam kontek negara-bangsa. Pada akhirnya, teks media mampu membingkai dan mengartikulasikan representasi dan konsep nasionalisme, negara-bangsa bukan sekedar pada tataran kognitif, tetapi juga pada ideologi nasionalisme, negara-bangsa. Pada titik itulah semangat nasionalisme negara-bangsa dapat dibangkitkan, meski hanya melalui konstruksi teks media. Kata-kata Kunci: teks media, penguatan ideologi nasionalisme negara-bangs
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG SERANGAN ISRAEL TERHADAP LIBANON (Analisis Framing terhadap Berita tentang Peperangan antara Israel dan Libanon dalam Surat Kabar Kompas dan Republika)
This research questioned Kompas and Republika in the term of their construction regarding Israel attact on Lebanon in 2006. This result showed that their construction were different to each other. Kompas elucidated the war between Israel and Lebanon was caused by status quo organization which seized two israelian soldiers and the organization was uncooperative. The organization was Hizbullah. Meanwhile, Republika regarded Israel as an agressor state that wanted to expand its border zona by building new middle east. Keywords : Media Construction; Framing.Penelitian ini mempermasalahkan Kompas dan Republika dalam hal pengkonstruksian realitas tentang serangan Israel terhadap Libanon pada tahun 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua suratkabar berbeda dalam melakukannya. Koran Kompas memaknai bahwa penyebab terjadinya peperangan antara Israel dengan Libanon, dikarenakan adanya organisasi status quo yang menangkap dua tentara Israel dan sulit diatur oleh negaranya yaitu kelompok Hizbullah. Sedangkan Republika menilai Israel merupakan sebuah negara agresor yang ingin memperluas wilayah perbatasannya dengan membentuk Timur Tengah yang baru. Kata-kata Kunci: Konstruksi Media; Framing
SIKAP PENYELENGGARA SIARAN TELEVISI TERHADAP PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI DIGITAL
Berlatar belakang fenomena variasi sikap berbagai pihak menyangkut penerapan fase-fase penyelenggaraan tv digital di Indonesia, penelitian ini mempermasalahkan sikap penyelenggara siaran televisi terhadap penyelenggaraan siaran televisi digital. Melalui survai 100 responden penelitian ini menemukan bahwa dari lima dimensi sikap menyangkut penyelenggaraan siaran televisi digital, sikap responden cenderung lebih banyak setuju pada empat dimensi, yaitu dimensi : kendala penyelenggaraan penyiaran televisi digital; potensi penyelenggaraan siaran televisi digital; arah penyelenggaraan penyiaran siaran televisi digital bergerak; dan penyelenggaraan siaran televisi digital; Sementara sikap terkait dimensi ‘kesiapan masyarakat dan industri menghadapi migrasi analog ke digital’ responden lebih banyak bersikap netral.