Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
CELLULAR PHONE AND THE USAGE (Problems of Cellular Phone’s Usage In Blank Spot Areas of Indonesia)
Telepon seluler sebagai bentuk teknologi komunikasi mudah dijangkau lapisan masyarakat Indonesia. Namun, Kondisi geografis menyebabkan akses ke daerah menjadi sulit. Padahal, di daerah banyak potensi konsumen telepon seluler namun tidak difasilitasi dengan infrastruktur telekomunikasi. Fenomena ini menarik dikaji khususnya mengenai bagaimana pola penggunaan dan fungsi telepon seluler sebagai teknologi komunikasi tereduksi oleh keterbatasan infrastruktur. Tulisan ini akan mengeksplorasi, mengidentifikasi, dan memetakan pokok-pokok permasalahan terkait dengan pemanfaatan telepon seluler di daerah blankspot di Indonesia, serta ingin mengetahui trend penelitian kedepannya. Metode penelitian ingin adalah dengan melakukan tinjauan literatur terhadap publikasi terkait masalah ini. Hasilnya menunjukkan bahwa dari ketiga aspek permasalahan di atas (masalah teknis, organisasional, dan budaya) tidak dapat diperlakukan secara terpisah, tapi kesatuan yang saling terkait. Masalah teknis pada telepon seluler berkaitan dengan masalah organisasional (pemerintah dan swasta), dan masalah budaya (lokalitas daerah). Karena keragaman budaya di Indonesia, penelitian ini menganjurkan untuk menggunakan konstruktivis untuk mengkaji penetrasi teknologi telepon seluler. Analisis dilakukan untuk mengetahui bagaimana individu/kelompok merekonstruksi teknologi komunikasi sesuai konteks sosial-budaya. Karena konteks budaya yang khas di setiap daerah, generalisasi kuantitatif harus dikesampingkan, lebih menekankan pada keragaman konstruksi dan kokonstruksi individu/kelompok.Kata-kata Kunci: Permasalahan Infrastruktur; Permasalahan Kultur; Penggunaan Telepon Seluler; Daerah Blankspot. ABSTRACTMobile phone as a form of communication technology is acceptable by many peoples. But geographical condition makes them difficult to access. In fact, many potential mobile-phones consumers are in rural areas. They have no enough telecommunications infrastructure. This phenomenon is interesting to study specially about how the usage and function of cell phone get reduced for bad infrastructure. This article will explore, identify, and map the problems related to mobile-phone usage in the blankspot in Indonesia. This one also wants to know future research trend. By literature review, this study shows that all three aspects of mobile phone usage (technical, organizational, and cultural issues) cannot be separated, but interrelated between one-and-among another. Technical issues on the mobile phone’s usage are related to organizational (government and private) and cultural ones. Because of the diversity of cultures in Indonesia, this study recommends to use a constructivism paradigm to study mobile phone penetration. The analysis then will be conducted to know how the individual/group reconstruct and co-construct communications technology on the basis of their own socio-culture context. Because of cultural difference in each area, researchers can set aside generalization principle and focuses more on every individual or group’s construction to communication technology. Keywords: problems of infrastructure; problems of culture; cellular phone usage; Blank spot areas
KOMPARASI KEBENARAN, RELEVANSI, KESEIMBANGAN DAN NETRALITAS DALAM PEMBERITAAN (Studi Konten Analisis Terkait Pemberitaan Pemilu Presiden 2014 di Harian Kompas dan Koran Sindo) THE COMPARASION OF TRUTH, RELEVANCE, BALANCE AND NETRALITY IN NEWS REPORTING
ABSTRACTBackground of this research is an expectation toward mass media in order to work professionally, independently, and objectively in presidential election news reporting 2014. This article focuses on the issue of truth, relevance, balance, and netrality in news reporting regarding presidential election 2014 in Kompas and Koran Sindo daily. By content analysis, the result shows that: First truth category, Kompas has higher-level factuality than Koran Sindo. Second, relevance category,Kompasin reporting presidential election 2014 tends to keep factuality by minimalizing sensational contents. Meanwhile, this research found that Koran Sindo reported a number of sensational and dramatized news. Third, balance category, Kompas and Koran Sindo have same performance regarding presidential election 2014. They tend to abandon balance of news sources till. They emphasize oneside-cover report rather than cover-both-side one.Fourth, neutrality category, Kompas dailytends to be objective, proportional in presidential election campaign news report 2014. It gives balanced frequency for Prabowo-Hatta and Jokowi-JK. Contrarily, Koran Sindo is not objective.Frequency of the presiden/vice-president is not proportional. Koran Sindo emphasizesPrabowo-Hatta more rather that Jokowi-JK do.Keywords : Comparison; Truth, Relevance, Balance; Netrality; News. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tuntutan agar media massa berkinerja secara profesional, independen dan obyektif dalam pemberitaan kampanye PemiluPresiden 2014. Permasalahan difokuskan pada persoalan kebenaran, relevansi, keseimbangan dan netralitas dalam pemberitaan terkait masalah Pemilu Pilpres 2014 pada Harian Kompas dan Koran Sindo. Dengan metode analisis isi, hasilnya menunjukkan : Pertama kategori kebenaran, Kompas memiliki faktualitas yang cenderung tinggi dibandingkan dengan Koran Sindo. Kedua, kategori relevansi, Kompas dalam menyajikan berita kampanye Pemilu Presiden 2014 cenderung menjaga faktualitas dengan meminimalisasi hal-hal yang mengandung sensasionalisme. Sedangkan Koran Sindo masih ditemui sejumlah berita yang tergolong sensasionalisme yang mengandung unsur dramatisasi. Ketiga, kategori keseimbangan, Harian Kompas dan Koran Sindo memiliki kinerja yang sama terkait dengan pemberitaan Kampanye Pemilu Presiden 2014 yakni cenderung menggunakan nara sumber tidak berimbang sehingga lebih menonjolkan penggunaan teknik liputan satu sisi (one side cover) dari pada banyak sisi (cover both side). Keempat, kategori netralitas, Koran Kompas cenderung obyektif, proporsional dalam pemberitaan terkait dengan pelaksanaan kampanye Pemilu Presiden 2014, memberi porsi frekuensi kemunculan yang berimbang baik pasangan calon presiden Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Sedangkan Koran Sindo tidak obyektif, kemunculan berita terkait dengan pasangan calon presiden/wakil presiden tidak proporsional cenderung berat sebelah. Koran Sindo lebih menonjolkan Prabowo-Hatta daripada Jokowi-JK.Kata-kata kunci : Komparasi; Kebenaran, Relevansi, Keseimbangan; Netralitas; Berita
PENGGUNAAN DAN KONTEN INTERNET (Survai Aktifitas Penggunaan Perangkat dan Mediasi Konten Internet pada Masyarakat Kelurahan Rappojawa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar)
The background of this research is the phenomenon of easyness of community to communicate since of ICT development, this article deals with phenomenon of the internet use, and access enabler, and mediating messages. This research uses the concept of activity within the concepts of Uses introduced by Levy in theoretical models of Uses and Gratifitcation. Data Collection is by survey. Based on the findings about the second dimension of activity phenomenon (communication sequence), especially in the second one, which concerns the applications phenomenon: browser; channel; and a variety of individual issues mediated by internet use. This existing diversity shows the selection process by respondents. In using media, individuals are assumed to be active selectors in the model of uses and gratification theory. This activation is caused by individuals, who are psychologically have needs and gratification. Thus, the emergence of diverse forms of activity, theoretically is possible because of the five alternative "needs and gratification " within the respondent. This study do not explore variable "needs and gratification".Therefore, which the most influencing minor variables of major variables of "needs and gratification" on the respondent\u27s Internet uses activity are not identified. Hence, further researches need to analyze for example by LISREL analysis. Key words : Usage; content; internet. ABSTRAKBerlatarbelakangkan fenomena kemudahan berkomunikasi di kalangan anggota masyarakat karena kemajuan ICT, penelitian diorientasikan pada masalah penggunaan internet dan fokus pada fenomena enabler akses dan mediating messages. Dengan menggunakan konsep aktivitas Levy dalam kaitan konsep Uses dalam model teori Uses and Gratifitcation, penelitian gunakan survai dalam pengumpulan datanya. Berdasarkan temuan terkait fenomena aktifitas dimensi kedua (urutan komunikasi), terutama pada urutan kedua, yaitu menyangkut fenomena aplikasi browser; channel; dan ragam permasalahan yang dimediasi individu melalui penggunaan internet, kiranya semua keragaman yang ada itu menunjukkan adanya proses seleksi dalam diri responden. Dalam penggunaan media, individu diasumsikan sebagai selector aktive oleh model teori uses and gratification. Aktifasi ini sendiri karena dalam diri individu itu secara psikologis memang telah dilengkapi beberapa “needs and gratification”. Ada lima kategori “Needs and gratification” itu. Dengan demikian, munculnya bentuk ragam aktifitas sebagaimana ditemukan dalam penelitian ini, secara teoritis itu dimungkinkan karena adanya lima alternatif “needs and gratification” dalam diri responden. Upaya eksplor terhadap variabel “needs and gratification” tidak dilakukan dalam penelitian ini dan karenanya variabel minor mana dari variabel mayor “needs and gratification” yang paling berpengaruh terhadap aktivitas responden menggunakan internet itu belum diketahui. Guna mengetahuinya karenanya diperlukan semacam analisis LISREL pada penelitian sejenis di masa mendatang. Kata-kata Kunci : Penggunaan; Konten; Internet
PELIPUTAN INVESTIGASI, PROFESIONALISME WARTAWAN INVESTIGASI DAN INTERPLAY ANTARA STRUKTUR DAN AGENCY (Studi Kasus Dalam Praktiknya di majalah Tempo)
ABSTRACTBackground of this study is the phenomenon of investigative reporting practice in relation to the journalist’s professionalism. This research method is the case study. This research focuses oninvestigative reporting practice in Tempo magazine; journalist’s professionalism in investigating in perspective of competency standards of reporter; and interplay between structure and agency. The conclusion is journalist have competency to conduct investigative reporting on the basis of good experience. In the implementation of journalist-competency standard, detail process of investigation can not be conducted according to working procedure. The fact shows that investigative reporting ofTempo is earlier in situation anticipation. In the process of investigative reporting,the role of structure and agency gives freedom to each other for journalists. Investigation team’s rule of Tempo enables and constrains according to rule and resources. But, Tempo investigative reporting team has its own standards. In certain cases of investigative reporting, Tempo reporters implement higher level of competency than journalist-competency standard. Related to Structuration theory between structure and agency structure in reality, structure do not overburden team performance.The structure does not hold a decisive role. Interplay does not depend on structure. Other researchers should conduct observation research in media which apply competency test for reporters from other agencies. Keywords: Investigative Coverage; Professionalism of InvestigatingJournalist; Interplay; Structure; Agency. ABSTRAKBerlatarbelakangkan fenomena praktik liputan investigasi dalam kaitan profesionalisme wartawan, penelitian bermetode studi kasus ini fokus pada soal : praktik peliputaninvestigasi di majalah Tempo; profesionalisme wartawan investigasi dalam perspektif Standar Kompetensi Wartawan di Majalah Tempo; dan interplay antara struktur dan agency dalam praktik peliputan investigasi di majalah Tempo. Penelitian menyimpulkan : Wartawan berkompeten dalam SKW melakukan peliputan investigasi berdasarkan pengalaman yang mumpuni. Di dalam penerapan SKW, rincian teknis proses kerja investigasi tidak dapat dilakukan oleh wartawan berkompeten sesuai dengan urutan langkah kerja. Kenyataan di lapangan menunjukkan tim peliputan investigasi Tempo lebih dini mengantisipasi situasi. Dalam proses organisasi liputan investigasi, perananstruktur dan agensi saling memberi keleluasaan bagi wartawan. Aturan yang dimiliki tim investigasi Tempo memberi enabling dan constraining, sesuai dengan rule dan resources. Akan tetapi, tim liputan investigasi Tempo memiliki tolok ukur tersendiri. Dalam kasus peliputan investigasi tertentubahkan tim investigasi Tempo menerapkan standar kompetensi wartawan yang lebih tinggi materi peliputannya daripada SKW. Terkait Teori Strukturasi antara struktur dan agency ternyata struktur pada investigasi Tempo tidak terlalu membebani kinerja tim. Struktur tidak memegang peranan yang menentukan. Interplay tidak tergantung dari tujuan struktur. Para peneliti lain perlu melakukan penelitian observasi di media yang mengikuti uji kompetensi wartawan dari lembaga lain.Kata-kata Kunci : Peliputan Investigasi; Profesionalisme Wartawan Investigasi; Interplay; Struktur ; Agency
KOMUNIKASI POLITIK BERMEDIA DAN PENGGUNAANNYA OLEH MASYARAKAT (Survey pada Masyarakat Palopo Sulawesi Selatan Tentang Kampanye Pilpres 2014)
ABSTRACT Background of this research is about on political communication by media and its use among community/constituents in relation to the implementation of the campaign program of the presidential election campaign in 2014. By surveying Palopo community in South Sulawesi, this study focuses on media use in political communication, in the president/vice-president election campaign 2014. The result shows that the audience is active in using of media. They select media and the contents. It’s is marked by various forms of activity in media use, both media content use phenomenon, media type and exposure. Moreover, this phenomenon becomes a justification for the truth of uses and gratification theory model assumption that the formation of certain media usage patterns is a result of satisfaction fulfillment by the media. This study did not find any factors that determine media use patterns. Therefore, further research should improve the analysis by using LISREL analysis to find the dominating factor in determining media usage patterns. Key words: Political Communication; Media Usage ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena komunikasi politik bermedia dan penggunaannya oleh masyarakat konstituen dalam kaitan pelaksanaan program Kampanye Pilpres 2014. Dengan menggunakan metode survai dan menjadikan masyarakat Palopo Sulawesi Selatan sebagai kasus, penelitian difokuskan pada soal bagaimana masyarakat menggunakan media komunikasi politik dalam kampanye Pilpres/Cawapres 2014. Hasil penelitian memeperlihatkan bahwa khalayak itu aktif dalam penggunaan media. Mereka melakukan seleksi media dan isinya dalam kaitan penggunaan media. Kebenaran itu sendiri ditandai oleh ragam bentuk aktifitas dalam penggunaan media baik dari segi fenomena penggunaan isi media, jenis media dan terpaan media. Di sisi lain, terjadinya fenomena pola penggunaan yang demikian, juga dengan sendirinya menjadi justifikasi bagi kebenaran asumsi model teori uses and gratification. Kebenaran dimaksud yaitu bahwa terbentuknya pola tertentu dalam penggunaan media karena dorongan-dorongan untuk memenuhi kepuasan yang akan diperoleh dari media. Hanya saja dalam penelitian ini belum dapat ditemukan faktor apa yang paling diterminan dalam menentukan pola audiences dalam menggunakan media itu. Oleh karenanya, di masa mendatang, bagi peneliti yang tertarik untuk melakukan riset sejenis, hendaknya meningkatkan alat analisisnya dengan menggunakan lisrel analisis guna menemukan faktor dominan dalam menentukan pola audien dalam penggunaan media. Kata-kata kunci : Komunikasi politik; Penggunaan Media
KOMUNITAS PEDESAAN DAN POLA SELEKTIFITAS INTERNET (Survai Komunitas Desa Kading, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan)
This study Background is to view the rural community condition regarding internet. This study focuses on the selectivity pattern issue of internet access and these pattern significance with rural communities characteristics. The findings of rural community activity phenomenon -in the context of audience orientation dimensions, at the level selectivity, involvement and utilization which- shows the the internet use variation, become evidence that individuals in rural communities are active. Activities theoretically occur because peoples in rural communities psychologically have "needs and gratifications". The such activities emergence because of the five alternatives of "needs and gratifications". Attempts to see this relationship significance was done in this study, at least, by knowing the significance of the characteristic relationship variable and selectivity pattern variable. But it doesn’t get proof statistically in this research. Neither significance of individual characteristic variables with the type of information does. Theoretically those relations are not significant statistically. Even the association is more unsignificant when viewed from other minor variables within information types. The cause may be intervening/extraneous variables. Further research must implement similar research to make the theory advancementKeyword : patterns; selectivity; Internet; community; rural. ABSTRAKBerlatarbelakangkan upaya melihat kondisi komunitas pedesaan terkait internet, penelitian fokus pada persoalan pola selektifitas akses internet dan persoalan signifikansi pola dimaksud dengan karaktersistik anggota komunitas pedesaan. Temuan fenomena aktifitas komunitas pedesaan dalam konteks dimensi orientasi khalayak pada level selektifitas, keterlibatam dan pemanfaatan yang notabene memperlihatkan variansi terkait penggunaan internet, menjadi fakta empiris pembukti individu komunitas pedesaan memang aktif adanya. Aktifitas itu secara teoritis dimungkinkan karena dalam diri individu komunitas pedesaan secara psikologis dilengkapi beberapa “needs and gratification”. Dengan demikian, munculnya fenomena ragam aktifitas individu komunitas pedesaan, secara teoritis itu dimungkinkan sehubungan dengan adanya lima alternatif “needs and gratification”. Upaya melihat signifikansi hubungan itu sendiri dilakukan dalam penelitian ini. Setidaknya dilakukan dengan cara berupaya mengetahui signifikansi keterkaitan variabel Karaktersistik dan variabel Pola Selektifitas. Asumsi itu tidak menemukan kebenarannya secara statistik dalam riset ini. Begitu pula ketika signifikansi tadi dilihat keterkaitannya menyangkut variabel karakteristik individu dengan jenis informasi. Secara teoritis hubungan keduanya tidak signifikan secara statistik. Bahkan tampak menjadi sangat tidak signifikan ketika asosiasi itu ditinjau pada variabel-variabel minor lainnya pada variabel mayor jenis informasi. Penyebabnya mungkin dari sejumlah variabel intervening atau sejumlah variabel extranous. Pelaksaan penelitian sejenis melalui survai bersifat advance menjadi suatu keharusan dilakukan peneliti berikutnya untuk pengembangan teori. Kata-kata kunci : Pola ; Selektifitas; Internet; Komunitas; Pedesaan
REPRESENTASI ENKODING FENOMENA SURVEILENCE DAN MEDIA ONLINE (Analisis isi Isu Lokal dan Isu Potensi Lokal dalam Websites www.jambiekspress.co.id dan www.bangkapos.com.)
Representation of encoding -related online media surveilence- has a difference. This shows the relevance to the media agenda theory, especially in the context of the media agenda. Regarding to this assumption, the online media is percepted differently by the two online media organizations. Regarding the differences in the importance of an issue for media organizations, this indicates that the system of government in Indonesia at this time, the interpretation of the various problems that can last so arbitrary from various parties, including online media organizations. This condition occurs and justifies Abdullah\u27s assumption that in the era of democracy in Indonesia, hegemonic interpretation (monosemy) of rulers does not exist anymore and turned into an interpretation of polysemy. The dominance of the polysemy principle in the encoding media phenomenon related to the functions surveilence implementation and particularly concerning local issues and economic potential, seems to indicate a loss for the local government because the local government get a less support from the press in the development/revenue improvement. To maximize the function of local media surveilence, local government need to make approaches in building the local press awareness for the sake of public interest related to local issues.Key words: Representation; Encoding; Surveilence; Online mediaABSTRAKRepresentasi enkoding media online terkait pemeranan fungsi surveilence, dengan mana cenderung menunjukkan perbedaan yang relatif sifatnya, kiranya itu memperlihatkan ada relevansinya dengan media agenda theory, khususnya dalam konteks media agenda. Dalam kaitan asumsi ini, kedua media online dalam proses enkoding ternyata cenderung dipersepsi secara berbeda oleh kedua organisasi media online. Mengenai perbedaan arti pentingnya suatu isu bagi organisasi media, itu juga dapat mengindikasikan bahwa dalam era sistem pemerintahan di Indonesia saat ini, penafsiran terhadap berbagai masalah itu dapat berlangsung “begitu cair” dari berbagai pihak, termasuk tentunya di pihak organisasi media online dalam penelitian ini. Kondisi ini dimungkinkan terjadi dan sekaligus membenarkan asumsi Abdullah bahwa dalam era demokrasi di Indonesia saat ini hegemoni interpretasi (monosemy) penguasa tiada lagi dan berganti menjadi interpretasi bersifat polysemy. Dominannya prinsip polysemy dalam fenomena enkoding media terkait pelaksanaan fungsi surveilence dan khususnya menyangkut isu-isu lokal dan potensi ekonomi lokal, tampaknya itu mengindikasikan kerugian bagi pemerintah lokal karena dengan begitu pemerintah daerah setempat jadi kurang dapat dukungan dari pihak pers dalam rangka pengembangann daerah di bidang pendapatan. Untuk memaksimalkan fungsi surveilence media lokal, kiranya pemerintah setempat perlu melakukan pendekatan-pendekatan yang dapat menyadarkan pers lokal akan kepentingan bersama terkait pemediasian isu lokal.Kata-kata kunci : Representasi; Enkoding ; Surveilence; Media Onlin
PENGGUNAAN INTERNET PADA MASYARAKAT PERKOTAAN (Survai Aktifitas Komunikasi Masyarakat Kelurahan Karombasan Utara, Kecamatan Wanea, Kota Manado melalui Medium Internet
Beckground of this research is that internet use among urban peoples is better than rural people’s one.This study focuses on urban people’s internet usage. By referring to uses and gratification theory introduced by Katz, Blumler and Gurevitch and Levy’s concept of activities in operationalization of variableuse, and by survey technique, this study indicates that regarding activity phenomenon of “before”, their internet use motives are :information seeking; entertainment; playing games; workingand killing time. Generally, dominant motives are: information seeking; entertainment; playing games; working. In the actvity of “during”, research finds that respondents need time between 1–5 hours in every access for entertainment,1–5 hours for playing game, < 1 hours untill 11-15 hours to work. Many respondents use internet at home and places where they work. They use internet at home three time more than other places. There are 17 contentsthey access. Those contents have been accessed but most of them do never. Respondents tend to access social media. They access 2-4 times within a week for the last six months.Keywords: Urban people; Internet uses. ABSTRAKBerlatarbelakangkan indikasi masyarakat perkotaan lebih baik akses internetnya dari pada masyarakat pedesaan, penelitian fokus pada masalah penggunaan internet masyarakat perkotaan. Mengacu konsep uses dalam model teori Uses and Gratification dari Katz, Blumler dan Gurevitch dan konsep aktifitas dari Levy dalam mengoperasionalkan variabel penggunaan, hasil penelitian dengan menggunakan teknik pengumpulan data survai menunjukkan bahwa terkait fenomena aktifitas “sebelum”, motif mereka menggunakan internet yaitu ; Cari Informasi; Hiburan; Bermain game; Bekerja dan Mengisi Waktu Senggang. Umumnya responden menonjol pada motif : Cari Informasi; Hiburan; main game; dan bekerja. Dalam hubungan aktifitas “selama”, temuan menunjukkan durasi waktu yang dihabiskan responden bermotif hiburan kebanyakan 1–5 jam per akses. Responden bermotif main game, kebanyakan 1–5 jam. Responden bermotif kerja, kebanyakan menghabiskan antara < 1 jam hingga 11 - 15 jam. Responden lebih banyak menggunakan internet di rumah dan di tempat kerja. Pengakses internet 3 kali seminggu di rumah relatif lebih banyak dari pada kelompok pengakses lainnya. Terdapat 17 ragam konten internet yang diakses. Umumnya ragam konten ini sudah diakses namun demikian bagian terbesarnya mengaku tidak pernah mengakses ragam konten itu. Media sosial menjadi konten yang cenderung banyak diakses dan mereka lebih banyak mengaksesnya 2 kali-4 kali dalam seminggu selama enam bulan terakhir.Kata-kata kunci : Masyarakat Perkotaan ; Penggunaan Interne
KOMUNIKASI, GAYA KEPEMIMPINAN, DAN MOTIVASI DALAM ORGANISASI
Running an organization is not an easy thing to do.It takes a lot of elements in doing it.Of all important elements in an oganization,there is one element which can make all of the aspects work together to reach one vision in the organization.It is a leader who has the ability to communicate well and to lead effectively so that he can motivate his people to give their best.In this paper,I will explain about concepts of communication in organizations and leadership styles.Based on many concepts available,it can be concluded that there is no such thing as a fixed period of time for a leader to use a certain style of communication or a certain style of leadership.In the discussion part, the concepts do not mention any conditions that a leader should meet in order to apply a certain communication style for a certain leadership style, so that the leadership style becomes effective.To have a full understanding of communication concepts and leadership styles in organizations,we also need to learn other subjects,such as economics,laws,corporate operation, and psychology to measure a leader\u27s success.Key words : Communication; Leadership Style; Motivation; Organization. ABSTRAKMengelola organisasi bukanlah hal yang mudah, sehingga membutuhkan banyak elemen dalam pelaksanaannya. Di antara begitu banyak elemen dalam organisasi ada satu elemen yang dapat menyatukan seluruh aspek untuk bersinergi mencapai satu tujuan organisasi, yaitu elemen pemimpin yang memiliki kemampuan dalam berkomunikasi serta dapat mengkombinasikannya dengan gaya kepemimpinan yang efektif sehingga dapat menciptakan suasana berorganisasi yang dapat memotivasi para pegawainya untuk memberikan kinerja terbaiknya. Dalam tulisan ini dipaparkan konsep mengenai komunikasi organisasi serta gaya kepemimpinan. Dari berbagai konsep tersebut disimpulkan bahwa dalam kepemimpinan tidak digunakan periode waktu tertentu bagi seorang pemimpin untuk menggunakan jenis komunikasi tertentu, atau dalam konteks seperti apa gaya kepemimpinan tertentu digunakan. Dalam konsep-konsep yang disebutkan dalam pembahasan tidak dibahas syarat-syarat apa yang harus dipenuhi untuk menggunakan jenis komunikasi tertentu dalam gaya kepemimpinan tertentu, sehingga gaya kepemimpinan dapat efektif. Memahami konsep komunikasi dan gaya kepemimpinan dalam organisasi hendaknya mempelajari disiplin ilmu lainnya seperti ekonomi, hukum, operasional perusahaan dan psikologi guna mengukur keberhasilan seorang pemimpin.Kata-kata Kunci : Komunikasi; Gaya Kepemimpinan; Motivasi; Organisas
DEMOKRASI, KOMUNIKASI POLITIK INDONESIA DAN GLOBALISASI (Identifikasi dan Harapan Perencanaan Ulang)
This article aims to explore and describe the democratic political communication and democracy of Indonesia type. We hope that the country\u27s political communicators make good planning. Therefore, this article gives an overview of the basic political communication planning. This article identifies the characteristics of Indonesian peoples from the theory of sociology and anthropology. This then scrutinized it on the basis of historical reality, which the author experienced in childhood, especially in author residence. The results show that in fact Indonesia has a distinctive political communication, based on the Indonesia democratic system: Demokrasi Gotong Royong or well known as Demokrasi Pancasila. In the world it can be regarded as a form of monistic emancipatory model. Unfortunately, democracy got eroded by two trajectories of globalization which resulted in two figures causing a history accident. Efforts of Sukarno’s and Gusdur-Mega’s temporarily got stuck. But it’s not in uselessness. There is the light of hope that in the future time, peoples of Indonesia keep building characters. Hence, it’s suggested to develop conceptually, policy, and socialization on the model of democratic Indonesia.Keywords: democracy, political communication, globalization, communication plan. AbstrakArtikel ini bertujuan menelusuri dan menggambarkan komunikasi politik demokratis sekaligus demokrasi khas Indonesia. Dengan harapan ada perencanaan lebih lanjut dan matang bagi para komunikator politik negeri ini. Untuk itu, disiapkan pula gambaran dasar perencanaan komunikasi politik yang mengarah ke sana. Identifikasi dimulai dari karakteristik manusia Indonesia secara teoretis sosiologis dan antropologis, kemudian dikritisi berdasarkan realitas kesejarahan (masa lalu) di lapangan, yang penulis alami pada masa kecil, terutama di kampung halaman penulis. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki komunikasi politik yang khas, yang didasarkan pula pada sistem demokrasi Indonesia: Demokrasi Gotong Royong atau yang lebih dikenal –sebutannya (tidak substansinya)– Demokrasi Pancasila; yang didunia bisa dikatakan sebagai bentuk Model Monistik Emansipatory. Sayang demokrasi ini terkikis oleh dua lintasan globalisasi yang memunculkan pula dua tokoh penyebab kecelakaan sejarah. Upaya Sukarno dan GusDur-Mega untuk sementara terhambat. Memang tidaklah dia-sia. Setidaknya diharapkan masih ada anak bangsa yang mau melanjutkan caracter building yang mereka upayakan.Untuk itu disarankan pengembangan secara konsepsional, kebijakan, dan sosialisasi tentang model demokrasi Indonesia tersebut.Kata-kata : demokrasi, komuniaksi politik, globalisasi, perencanaan komunikas