Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
Peluang dan Tantangan Penggunaan Sosial Media dalam Membangun Wacana Berhenti Merokok di Indonesia
The use and availability of social media have grown exponentially, providing new opportunities to support smoking cessation efforts. Social media encompasses various interactive platforms, enabling individuals and communities to exchange information within a virtual network. This study aims to identify discourses related to smoking cessation encouragement among Indonesian people in social media. To collect data on social media, particularly Twitter, the researchers used Netlytic as a tool and limited the keyword to "rokok" in the Indonesian language. Content analysis was used to analyse collected tweets and identify themes related to smoking. Social network analysis was also conducted to identify actors and relationship between actors. The study found that discourse around smoking can either support smoking cessation intervention, normalise smoking and cigarettes, which may not support cessation efforts, or be neutral. Themes that support smoking cessation efforts include sharing experiences as a second-hand smoker, discomfort having a smoking partner, family members\u27 sickness due to smoking, and reporting health disadvantages of smoking. Besides, smoking was normalised, and its devastating health effects were neglected since people saw smoking as a "teman ngopi". Smoking cessation campaigns on social media can use relevant threads on Twitter to make them more relatable to encourage smoking cessation.Penggunaan dan ketersediaan media sosial di Indonesia telah tumbuh secara pesat, memberikan peluang baru untuk mendukung upaya berhenti merokok. Media sosial mencakup berbagai platform web interaktif yang memungkinkan individu dan komunitas untuk bertukar informasi jaringan virtual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi diskursus di media sosial terkait isu rokok di kalangan masyarakat Indonesia. Pengumpulan data di media sosial, khususnya Twitter, menggunakan Netlytic dengan kata kunci “rokok” dalam bahasa Indonesia. Analisis konten digunakan untuk menganalisis tweet yang dikumpulkan dan mengidentifikasi tema yang berkaitan dengan rokok. Selain itu, social network analysis juga digunakan untuk mengidentifikasi aktor-aktor yang terlibat serta hubungan antar aktor yang terbentuk. Studi ini menemukan bahwa diskursus seputar merokok dapat mendukung intervensi berhenti merokok namun juga dapat menghambat karena terdapat normalisasi kegiatan merokok di kalangan anak muda. Tema yang mendukung upaya berhenti merokok antara lain berbagi pengalaman negatif sebagai perokok pasif baik di lingkungan rumah atau ruang publik, ketidaknyamanan memiliki pasangan perokok, penyakit anggota keluarga akibat merokok dan efek negatif merokok. Di sisi lain, cuitan di sosial media mengabaikan efek negatif rokok terhadap kesehatan karena orang melihat merokok sebagai "teman ngopi". Kampanye berhenti merokok di media sosial dapat menggunakan utas yang relevan di Twitter agar lebih relevan bagi perokok
EQUIVOCALITY DALAM KOMUNIKASI ORGANISASI: STUDI KASUS PERBEDAAN PENAFSIRAN INFORMASI PUBLIK DIKECUALIKAN PADA KEMENTERIAN KEUANGAN
In this age of freedom of information, people want the government to provide excellent and transparent public information services. Unfortunately, these demands sometimes experience obstacles due to equivocality in organizational communication. One case was the occurrence of equivocality of excluded public information (or can be interpreted as confidential information) in the Ministry of Finance, which was interesting to study further. This research tried to examine comprehension differences to uncover the causes of public information service officers\u27 interpretation differences and ways to overcome them. This research approach was qualitative with a case study method. The research results identified several causes for differences in the interpretation of confidential public information, including concerns regarding negative impacts, potential misuse of information by applicants, political aspects of the information requested, and officers\u27 lack of understanding in interpreting excluded public information. In overcoming differences in interpretation, personnel (public information service officers) had an important role and were responsible for overcoming equivalency in organizational communication. In addition, intensive meetings, consequence tests, annual monitoring and evaluation, minutes of agreements, training, the legal classification of information, firmness in decision-making, and knowledge internalization were used to resolve interpretation differences.Pelayanan informasi publik yang baik dan transparan oleh pemerintah menjadi tuntutan utama dalam era kebebasan informasi saat ini. Sayangnya, tuntutan tersebut terkadang mengalami kendala akibat equivocality (ketidakjelasan/multitafsir/keambiguan) dalam komunikasi organisasi. Salah satu kasusnya adalah perbedaan penafsiran informasi publik dikecualikan yang terjadi di Kementerian Keuangan. Perbedaan penafsiran itu menimbulkan equivocality dan menarik untuk dikaji lebih lanjut. Penelitian ini pun berupaya mengkajinya dengan tujuan untuk mengidentifikasi penyebab perbedaan penafsiran informasi publik di antara petugas layanan informasi publik dan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), serta mengkaji upaya-upaya untuk mengatasi perbedaan penafsiran tersebut. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian mengindentifikasi beberapa penyebab terjadinya perbedaan penafsiran informasi publik dikecualikan, antara lain kekhawatiran terkait dampak negatif, potensi penyalahgunaan informasi oleh pemohon, aspek politik dari informasi yang diminta, dan kekurangpahaman petugas dalam memaknai informasi publik dikecualikan. Dalam mengatasi perbedaan penafsiran, personel (petugas layanan informasi publik dan PPID) memiliki peran penting dan bertanggung jawab untuk mengatasi equicovality dalam komunikasi organisasi. Selain itu, ada pula sejumlah upaya dalam penyelesaian perbedaan penafsiran, antara lain melalui rapat intensif, uji konsekuensi sebagai panduan, monitoring dan evaluasi tahunan, berita acara kesepakatan, pelatihan, klasifikasi informasi berdasarkan aturan hukum, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan internalisasi pengetahuan
PENGARUH KOMUNIKASI DIALOGIS TERHADAP KEPERCAYAAN PADA PEMERINTAH
One of the efforts made by government to gain the trust of public is through the use of social media to communicate directly with public. In a democratic country, public trust in government is an important thing needed as capital that enables the successful work of government. This article discusses the influence of mutuality orientation and climate of openness factor in the government\u27s dialogic communication through social media on trust in government. Measurement of the influence of dialogic communication is carried out using a measurement scale for the concept of organization-public dialogic communication (OPDC) which has been adapted for use in social media, while trust in the government is measured using the concepts of competence, benevolence and honesty. This research is an explanatory quantitative research conducted through an online survey of 350 social media followers of the Ministry of Manpower of the Republic of Indonesia. The results of the study show that there is a significant influence of orientation of mutuality and climate of openness factor in dialogic communication through social media on trust in government, and that the climate of openness factor influences trust in the government more than the orientation of mutuality factor.Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperoleh kepercayaan dari masyarakat adalah melalui pemanfaatan media sosial untuk berkomunikasi secara langsung dengan publiknya. Dalam negara yang demokratis, kepercayaan publik pada pemerintah menjadi hal penting yang dibutuhkan sebagai modal yang memungkinkan keberhasilkan kerja lembaga pemerintah. Tesis ini membahas mengenai pengaruh dari faktor orientasi mutualitas dan faktor iklim keterbukaan dalam komunikasi dialogis yang dilakukan pemerintah melalui media sosial terhadap kepercayaan pada pemerintah. Pengukuran pengaruh komunikasi dialogis dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran untuk konsep organization-public dialogic communication (OPDC) yang telah diadaptasi untuk penggunaan di media sosial, sedangkan kepercayaan pada pemerintah diukur menggunakan konsep kompetensi, kebajikan, dan kejujuran. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksplanatif yang dilakukan melalui survei online terhadap 350 follower media sosial Kementerian Ketenagakerjaan RI. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari faktor orientasi mutualitas dan faktor iklim keterbukaan dalam komunikasi dialogis melalui media sosial terhadap kepercayaan pada pemerintah, dan bahwa faktor iklim keterbukaan lebih mempengaruhi kepercayaan pada pemerintah dibandingkan dengan faktor orientasi mutualitas
EKSPLORASI BIBLIOMETRIK BERBASIS PEMODELAN TOPIK PADA TOP-3 JURNAL BIDANG SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
A management information system (MIS) is a system that manages, processes, and presents information to management that aims to improve the quality of decisions and policies. A common misconception regarding the management information system (MIS) topic is that it mainly involves programming. This study aims to capture the intellectual structure and theme evolution of MIS by incorporating latent dirichlet allocation (LDA) into its methodology. A bibliometric analysis was conducted to evaluate the publication characteristics of the top three MIS journals (IJIM, JSIS, and MIS Quarterly: Management Information Systems) from the SCOPUS database between 1980 and 2021. Our findings indicate the trend of publishing articles, the structure of science, and the topics that stand out in the top three journals.Sistem informasi manajemen (SIM) adalah sistem yang mengelola, memproses, dan menyajikan informasi kepada manajemen yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keputusan dan kebijakan. Kesalahpahaman umum terkait dengan SIM adalah bahwa bidang ini menitikberatkan pada pemrograman. Studi ini bertujuan untuk menangkap struktur intelektual dan evolusi tema SIM, yang memperbarui dan memperluas penelitian serupa sebelumnya dengan memasukkan alokasi dirichlet laten (LDA) ke dalam metodologinya. Analisis bibliometrik dilakukan untuk mengevaluasi karakteristik publikasi tiga jurnal teratas di bidang SIM (IJIM, JSIS, dan MIS Quarterly: Management Information Systems) dari basis data SCOPUS antara tahun 1980 dan 2021. Hasil penelitian ini menunjukkan tren penerbitan artikel, struktur sains, dan topik yang menonjol pada ketiga jurnal teratas di bidang SIM tersebut
Analisis dan Perancangan Aplikasi Point of Sale (POS) untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan Metode Rapid Application Development (RAD)
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki jumlah yang dominan di Indonesia. Salah satu permasalahan UMKM saat ini adalah kesulitan dalam mengelola transaksi penjualannya dengan baik. UMKM kesulitan menghitung transaksi dengan cepat dan akurat, manajemen stok yang kurang baik, dan membutuhkan banyak waktu untuk menghasilkan laporan transaksi. Tofan Computer adalah salah satu UMKM yang menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut. Solusi permasalahan tersebut dengan memanfaatkan aplikasi point of sales (POS), namun Tofan Computer tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkan aplikasi tersebut terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan rancangan aplikasinya. Penelitian ini melakukan analisis dan perancangan sistem aplikasi POS untuk menyelesaikan permasalahan pada Tofan Computer. Metode yang digunakan mengikuti pendekatan Rapid Application Development (RAD). Dari penelitian ini dihasilkan sebanyak 22 kebutuhan sistem yang terbagi menjadi kebutuhan fungsional dan nonfungsional. Dari kebutuhan sistem tersebut dibuat rancangan arsitektur, antarmuka, serta basis data. Sebuah purwarupa aplikasi POS kemudian dikembangkan berdasarkan rancangan tersebut menggunakan bahasa pemrograman Dart dengan Flutter framework. Aplikasi POS ini telah diuji coba menggunakan teknik black box testing dan hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi dapat berjalan dengan baik dan responsif. Metode RAD dapat mempercepat proses pengembangan aplikasi POS dan meningkatkan fleksibilitas dalam mengakomodasi kebutuhan pengguna yang terus berkembang.Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau dikenal dengan UMKM memiliki jumlah yang dominan di Indonesia. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh UMKM saat ini adalah kesulitan dalam mengelola transaksi penjualannya. Masih ditemukan UMKM yang kesulitan menghitung transaksi dengan cepat dan akurat, manajemen stok yang kurang baik, dan membutuhkan banyak waktu untuk menghasilkan laporan transaksi. Aplikasi Point of Sale (POS) menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan kegiatan penjualan. Namun, pengembangan aplikasi POS seringkali membutuhkan waktu yang lama dan kompleks. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi POS untuk UMKM dengan menggunakan metode Rapid Application Development (RAD).Penelitian ini dilakukan dengan tahapan analisis kebutuhan dan perancangan aplikasi POS menggunakan metode RAD.Tahap analisis meliputi analisis kebutuhan pengguna, analisis persyaratan fungsional dan non-fungsional, serta analisis teknologi yang dibutuhkan. Tahap perancangan meliputi perancangan struktur aplikasi dan antarmuka pengguna.Dari penelitian ini dihasilkan sebanyak 22 kebutuhan sistem yang terbagi menjadi kebutuhan fungsional dan nonfungsional.Dari kebutuhan sistem tersebut juga berhasil dibuat rancangan arsitektur, antarmuka, serta basis data. Aplikasi POS ini juga telah diuji coba menggunakan teknik black-box testing dan hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi dapat berjalan dengan baik dan responsif. Metode RAD dapat mempercepat proses pengembangan aplikasi POS dan meningkatkan fleksibilitas dalam mengakomodasi kebutuhan pengguna yang terus berkembang
THE IMPACT EVALUATION OF THE BASE TRANSCEIVER STATION (BTS) UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION (USO) PROJECT IN THE REMOTE, FRONTIER, AND OUTERMOST (3T) AREA ON BRIDGING INDONESIA’S DIGITAL DIVIDE USING DIFFERENCE-IN-DIFFERENCE MODEL
With the Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) project in the remote, frontier, and outermost (3T) region, the Indonesia government seeks to encourage equitable distribution of information and communication technology (ICT) infrastructure throughout the country in order to bridge the digital divide. This study tries to see the impact of BTS USO in 134 districts/cities in the 3T region in bridging Indonesia\u27s digital divide represented by internet penetration using an econometric approach with a Difference-in-Difference (DiD) model using data from 2015 as before program data and data from 2020 as after program data. From the obtained results, a significant impact of the BTS USO on internet penetration across the 3T regions has not been found. One of the possibilities is that up until early March 2020, only 134 districts/cities already had BTS/USO whereas 34 districts/cities only had USO BTS below 10 units. Based on the results of this study, there are several policy recommendations that can be taken, including increasing equal distribution of ICT infrastructure, equalizing formal education, increasing digital literacy in the 3T regions, and providing cellular service subsidies to residents.Dengan adanya proyek pembangunan Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) di daerah terpencil, terdepan dan terluar (3T), pemerintah Indonesia berupaya mendorong pemerataan infrastruktur telekomunikasi ke seluruh penjuru negeri guna menjembatani kesenjangan digital. Penelitian ini mencoba untuk melihat pengaruh dari BTS USO pada 134 kabupaten/kota di wilayah 3T dalam menjembatani kesenjangan digital Indonesia yang direpresentasikan dengan penetrasi internet menggunakan pendekatan ekonometrika dengan model Difference-in-Difference (DiD) dengan data tahun 2015 sebagai data sebelum adanya BTS USO dan data tahun 2020 sebagai data setelah adanya BTS USO. Dari hasil yang didapat, belum ditemukan adanya pengaruh yang signifikan secara dengan adanya BTS USO terhadap penetrasi internet di 134 kabupaten/kota di wilayah 3T. Salah satu kemungkinan hal ini dapat terjadi dikarenakan hingga awal Maret 2020, hanya 134 kabupaten/kota yang sudah memiliki BTS/USO dimana 34 kabupaten/kota diantaranya hanya memiliki BTS USO dibawah 10 unit sehingga dampaknya terhadap penetrasi internet belum terlihat secara signifikan. Terdapat beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diambil pemerintah diantaranya: peningkatan pemerataan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), pemerataan pendidikan formal, peningkatan literasi digital hingga ke daerah 3T dan pemberian subsidi layanan seluler kepada penduduk di wilayah 3T guna meningkatkan penetrasi internet dalam kaitannya untuk menjembatani kesenjangan digital di Indonesia
A Analisis Wacana Kritis Relokasi PKL Malioboro dalam Media Lokal Yogyakarta
Dalam polemik relokasi PKL Malioboro, media massa juga hadir dalam diskusi tersebut. Bahkan, media massa juga memproduksi berita yang memiliki wacana tertentu. Berita sebenarnya bukan hanya laporan suatu peristiwa, tetapi ada sesuatu yang dapat tersirat dari berita tersebut. Terkadang makna tersirat menjadi sesuatu yang penting. Selain itu, berita dapat menciptakan narasi yang ditonjolkan atau dihilangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui wacana relokasi PKL di Malioboro yang diproduksi oleh media lokal di Yogyakarta. Objek penelitian ini adalah situs berita krjogja.com. berita yang diteliti adalah periode 1 Januari 2022 – 14 Februari 2022. Tenggang waktu ini dipilih karena tepat saat kebijakan relokasi PKL Malioboro dilakukan. Penelitian ini menggunakan model analisis wacana kritis yang dirumuskan oleh Sara Mills. Model analitik ini dianggap tepat untuk digunakan karena menekankan sebuah ide atau kelompok ditampilkan dengan cara tertentu di media sehingga dapat memengaruhi makna ketika diterima oleh khalayak. Hasil analisis menemukan bahwa krjogja.com memposisikan narasumber pro relokasi sebagai subjek pemberitaan. Legitimasi wacana tersebut adalah PKL melanggar aturan dan merupakan kebijakan yang tertunda.Dalam polemik relokasi PKL Malioboro, media massa juga hadir dalam diskusi tersebut. Bahkan, media massa juga memproduksi berita yang memiliki wacana tertentu. Berita sebenarnya bukan hanya laporan suatu peristiwa, tetapi ada sesuatu yang dapat tersirat dari berita tersebut. Terkadang makna tersirat menjadi sesuatu yang penting. Selain itu, berita dapat menciptakan narasi yang ditonjolkan atau dihilangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana wacana relokasi PKL di Malioboro diproduksi oleh media lokal di Yogyakarta. Objek penelitian ini adalah situs berita krjogja.com. berita yang akan diteliti adalah periode 1 Januari 2022 – 14 Februari 2022. Tenggang waktu ini dipilih karena tepat saat kebijakan relokasi PKL Malioboro dilakukan. Penelitian ini menggunakan model analisis wacana kritis yang dirumuskan oleh Sara Mills. Model analitik ini dianggap tepat untuk digunakan dalam penelitian ini karena model analitik Sara Mills menekankan bagaimana sebuah ide atau kelompok ditampilkan dengan cara tertentu di media sehingga dapat mempengaruhi makna ketika diterima oleh khalayak. Hasil analisis menemukan bahwa krjogjacom memposisikan narasumber pro relokasi sebagai subjek pemberitaan. Legitimasi wacana tersebut adalah PKL melanggar aturan dan merupakan kebijakan yang tertunda
MOTIVASI DAN PENGALAMAN PENGGUNA SEBAGAI FAKTOR TAMBAHAN DALAM MENINJAU PENERIMAAN APLIKASI SELULER KAI ACCESS : MODIFIKASI TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)
The increasingly sophisticated and rigorous development of technology and information currently means that service companies are required to be able to provide easy, fast, and precise services. As a service that is often used by the public, PT Kereta Api Indonesia (KAI) presents the only official application called KAI Access. This application is here with the aim of providing convenience and optimizing the services provided to consumers in purchasing train tickets. The evaluation and improvement process continues to be carried out by PT KAI for the optimal use of this application by the community. This research aims to review the acceptance of the KAI Access application used by the public by presenting additional factors of motivation and user experience as a modification of the Technology Acceptance Model (TAM) method. Respondents in this study were 120 people using accidental sampling techniques. The instrument used is a closed questionnaire which is technically given via an online media form. Data processing in the analysis utilizes the SEM-PLS approach. The results of the analysis show that the role of easy utilization provides motivation for consumers so that later it will give rise to the experience of willing to use the application.Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin canggih dan ketat saat ini menjadikan perusahaan bidang jasa dituntut dapat memberikan layanan yang mudah, cepat dan tepat. Sebagai layanan yang sering digunakan oleh masyarakat, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan satu-satunya aplikasi resmi yang diberi nama KAI Access. Aplikasi ini hadir dengan tujuan memberikan kemudahan dan optimalisasi layanan yang diberikan kepada konsumen dalam pembelian tiket kereta api. Proses evaluasi dan perbaikan terus dilakukan oleh PT KAI demi optimalnya aplikasi ini dimanfaatkan masyarakat. Tujuan penelitian ini bermaksud untuk meninjau penerimaan aplikasi KAI Access yang digunakan oleh masyarakat dengan menghadirkan faktor tambahan motivasi dan pengalaman pengguna sebagai modifikasi metode Technology Acceptance Model (TAM). Responden dalam penelitian ini sebesar 120 orang dengan menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner tertutup dimana secara teknis diberikan melalui form media online. Pengolahan data dalam analisisnya memanfaatkan pendekatan SEM-PLS. Hasil analisis diperoleh bahwa peran dari kemudahan penggunaan memberikan motivasi pada konsumen sehingga nantinya memunculkan pengalaman untuk mau memanfaatkan aplikasi tersebut. Dengan adanya motivasi dan pengalaman pengguna, niat konsumen untuk menggunakan aplikasi berdampak positif mewujudkan KAI Access sebagai fasilitas publik yang bisa diandalkan
CITY BRANDING DENGAN KATA DAN AKRONIM: TINJAUAN SEMIOTIKA TERHADAP MAKNA DAN IMPLEMENTASI “RATU” DI KABUPATEN TANGGAMUS
Tanggamus Regency has strengths in agriculture, plantation, and tourism sectors. However, the district government has chosen the word RATU for city branding instead. Therefore, the purpose of this paper is to reveal the meaning and implementation of the word. The theory used in this paper is Peirce’s semiotics, which reveals the sign, object, and interpretant. This paper also uses the perspective of city branding in conducting the analysis. There are three things obtained in this study. First, as a sign, the word RATU exists in various public spaces in Tanggamus Regency in the form of product labels, locations, and programs. Second, as an object, the word RATU has different meaning references, but the most common ones are R (Ramah/Friendly), A (Amanah/Trustworthy), T (Tegas/Firm), and U (Unggul/Superior). Third, as an interpretant, this word means the most excellent service in community service sector. The concept of RATU has not been fully linear yet with the strengths, potentials, and identity of Tanggamus Regency that the community has understood.City branding merupakan upaya yang dilakukan oleh otoritas suatu kota untuk mempromosikan kotanya dengan menonjolkan potensi yang memiliki nilai jual. Tulisan ini mengkaji makna serta implementasi kata dan akronim RATU yang menjadi branding Kabupaten Tanggamus. Teori yang digunakan untuk mengungkap makna kata dan akronim RATU adalah semiotika, selanjutnya teori yang digunakan untuk menjelaskan implementasi kata dan akronim tersebut adalah city branding. Sementara itu, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data library research, focus group discussion, dan penelitian lapangan. Terdapat dua hal yang diperoleh pada kajian ini. Pertama, pada ranah semiotika ditemukan bahwa kata dan akronim RATU memiliki makna yang berbeda-beda. RATU sebagai kata digunakan dalam menyebut produk, lokasi, dan program. Sementara itu, RATU sebagai akronim bermakna R (Ramah), A (Amanah, Aman), T (Tegas, Teristimewa, Traveling), dan U (Unggul). Kedua, dalam implementasinya, terdapat sejumlah program yang menggunakan konsep RATU. Uraian program tersebut menunjukkan bahwa kata dan akronim RATU banyak difokuskan pada sektor pelayanan. Konsep RATU belum sepenuhnya linear dengan potensi Kabupaten Tanggamus yang selama ini dipahami oleh masyarakat
Pengaruh Podcast Sebagai Media Untuk Meningkatkan Self Development Mahasiswa Indonesia (Studi Pada Mahasiswa Indonesia Pendengar Podcast ‘Self Dev By Andreas Bordes’): (Studi Pada Mahasiswa Indonesia Pendengar Podcast ‘Self Dev By Andreas Bordes’)
Self-development is an important aspect that must be owned by students before entering the career world, because to do self-development, it is not enough if you only get knowledge through formal education. Currently, there are many contents that discuss self-development, one of which is the \u27Self Dev by Andreas Bordes\u27 podcast. This makes researchers interested in knowing the influence of podcasts on the level of self-development in Indonesian students. This study uses a quantitative method with an intact group comparison type of research. By distributing questionnaires to both groups of Indonesian students, the results are classified as a control group and an experimental group. The classification results aim to see the difference between the two groups. The researcher conducted hypothesis testing in the form of a Mann-Whitney test for both groups of respondents, with the result that there was a significant difference between the two groups. In addition, the experimental group had a higher total score compared to the control group, so it can be concluded that the \u27Self Dev by Andreas Bordes\u27 podcast has an influence on improving the self-development of Indonesian students.Bagi para mahasiswa, tentunya penting untuk melakukan pengembangan diri sebelum memasuki jenjang selanjutnya yakni menuju dunia karir. Untuk melakukan pengembangan diri, tidak akan cukup jika seorang mahasiswa hanya mendapatkan ilmu melalui pendidikan formal saja. Oleh karenanya saat ini banyak konten yang membahas mengenai self-development, salah satunya yakni pada podcast ‘Self Dev by Andreas Bordes’. Podcast tersebut merupakan podcast dengan topik pengembangan diri yang memiliki rating tinggi dan juga pendengar yang banyak jika dibandingkan dengan podcast pengembangan diri lainnya. Hal ini tentunya membuat peneliti ingin mengetahui pengaruh yang ditimbulkan oleh podcast tersebut terhadap tingkat self-development yang ada pada mahasiswa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian static group comparison, dimana peneliti akan menyebarkan kuesioner kepada kedua kelompok mahasiswa Indonesia yang nantinya akan diklasifikasikan sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berdasarkan pengujian hipotesis yang dilakukan terhadap kedua kelompok responden, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dimana skor yang dihasilkan oleh kelompok eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan skor dari kelompok kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa podcast ‘Self Dev by Andreas Bordes’ memiliki pengaruh dalam meningkatkan self-development mahasiswa Indonesia.
Kata Kunci: Podcast, Self-development, Efek Media Massa