REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
Not a member yet
198 research outputs found
Sort by
Analisis Peran Perubahan Karakter Tokoh Utama Untuk Membangun Tahapan Tangga Dramatik Dalam Film "SPLIT"
Split merupakan sebuah film yang bercerita tentang seorang pria yang mengalami gangguan identitas disosiatif atau memiliki kepribadian ganda. Tokoh utama pada cerita ini mempunyai 24 karakter yang berbeda, dari perubahan karakter dalam diri tokoh utama inilah kemudian menjadi konflik dalam cerita ini. Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui peranan perubahan karakter yang dialami oleh tokoh utama dalam mengkonstruksikan proses tangga dramatik cerita pada film Split ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami fenomena mengenai apa yang tengah dialami oleh subjek dalam penelitian ini seperti perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang perubahan karakter di kemukakan oleh Lajos Egri, Aristoteles pada tangga dramatik serta fungsi karakter dalam narasi yang dicetuskan Vladimir Propp. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah berlangsung dapat disimpulkan bahwa setiap karakter mempunyai peran berbeda dalam narasi, bahkan pada satu karakter dapat memiliki lebih dari satu peran dan peran yang disimilaritas antara peran satu dengan yang lainnya. Pada tiap perubahan karakter yang terjadi, ada yang memberikan korelasi dalam pembentukan tahapan tangga dramatik tetapi terdapat juga perubahan karakter yang tidak memberikan hubungan pada proses tangga dramatik. AbstractSplit is a film about a man who has a dissociative identity disorder or has a dual personality. The main character in this story has 24 different characters, from the change of character in the main character to the conflict in the story. This paper aims to determine the role of character changes experienced by the main character in constructing the dramatic ladder process of the story in this Split film. The method used in this study is qualitatively descriptive with the aim of understanding phenomena regarding what the subjects in this study are experiencing such as behaviour, perception, motivation, and action. The cornerstone of the theory used in this study is the theory of character change put forward by Lajos Egri, Aristotle on the dramatic ladder as well as the character's function in Vladimir Propp's narrative. Based on the results of the research that has been conducted it can be concluded that each character has a different role in the narrative, even in one character can have more than one role and the role is dissimilarities between one role and another. In each character change that occurs, there is a correlation in the formation of dramatic ladder stages but there are also character changes that do not provide a connection to the dramatic ladder process
Analisis pesan perdamaian pada film “Cahaya dari Timur (Beta Maluku)”: Pendekatan semiotika Roland Barthes
Di Indonesia konflik terjadi dalam skala yang besar dan kecil yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti Suku, Agama dan Ras. Konflik terjadi karena salah satu pihak berusaha mempertahankan pendapatnya. Untuk menghentikan sebuah konflik tentu ada solusi yaitu toleransi dan perdamaian. Salah satu upaya untuk menyerukan perdamaian yaitu melalui film. Berangkat dari hal tersebut penulis mengambil subjek penelitian film “Cahaya Dari Timur : Beta Maluku” karya sutradara Angga Sasongko dengan pesan perdamaian sebagai object penelitiannya. Kemudian diangkat judul skripsi “Pesan Perdamaian Dalam Film Cahaya Dari Timur : Beta Maluku”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah pesan perdamaian dalam film “Cahaya Dari Timur : Beta Maluku. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan semiotik Roland Barthes. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, kemudian scene-scene dianalisis dengan analisis semiotik Roland Barthes. AbstractConflict is a common thing that occurs in society. Indonesia, the conflict happens in both large small scales caused by various factors such as tribe, religion and race. The conflict happens because one of the parties tries to defend is an argument. In order to stop the conflict, there is a solution which tolerance and peace. Since conflicts happen frequently, then there are a lot of efforts to proclaim for peace. On of the efforts to proclaim peace is through the movie. Therefore, the researcher the research subject from the movie entitled “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku” created by Angga Sasongko as the director with the peace message as his research object. Then the thesis title is “Peace Message from The Movie Cahaya Dari Timur: Beta Maluku”. This study aims to discover the peace message from the movie “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku”. The research method used in this study was qualitative using Roland Barthes semiotics approach. The data gathering technique used documentation, while the scenes were analyzed using Roland Barthes semiotics analysis
Sinematografi Wayang: Persoalan Transmedia Seni Pertunjukan Tradisional dalam Program Tayangan Televisi
ABSTRAKMerujuk pada proses penelitian delapan tahun terakhir, dan melihat hasil kerja Penelitian Hibah Bersaing, Penelitian Produk Terapan, terungkap kompleksitas pengelolaan kegiatan seni pertunjukan tradisional di masyarakat. Berkait erat dengan budaya industri televisi, terbentang peluang sekaligus ancaman serius bagi eksistensi seni tradisi. Hasil kerja penelitian dalam rencana makro, disarankan urgensi tindakan konstruktif dan sistematis kepada para pekerja seni untuk mengantisipasi benturan kepentingan industri pertelevisian Indonesia dengan pengelolaan seni pertunjukan tradisional. Persoalan cinematography seni tradisional membahas proses dialektika kreatif mengarah pada pemikiran, tindakan, dan produk budaya dengan menyadari kerangka perubahan dan penyesuaian kultural. Diyakini, bahwa kesenian tradisi memiliki nilai luhur, kearifan lokal, identitas karakter masyarakat, menunjuk pada kebhinnekaan dan keunggulan, kekhasan suku bangsa Indonesia, berbeda dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Referring to the research process of the last eight years, and looking at the work of the Competitive Grant Research, Applied Product Research, revealed the complexity of managing traditional performing arts activities in the community. Closely related to the culture of the television industry, opportunities and serious threats lie for the existence of traditional arts. The results of research work, suggest the urgency of constructive and systematic action to the arts workers to anticipate the conflicting interests of the Indonesian television with the management of traditional performing arts. The issue of traditional art cinematography refers to the process of creative dialectics leading to thoughts, actions, and cultural products by being aware of cultural change and adjustment frameworks. It is believed, that traditional arts have noble values, local wisdom, the identity of the character of the community, pointing to diversity and excellence, the uniqueness of Indonesian from other nations in the world
Imajinasi Ke Imajinasi Visual Fotografi
AbstrakImaji visual fotografi merupakan media rekam visual yang objektif dan representatifkebenarannya dalam merekam suatu realitas. Revolusi teknologi menyebabkan perubahandari teknologi fotografi analog sebagai salah satu media yang menyatakan kebenaran ataubukti dan sebagai media yang representatif kebenarannya ke teknologi digital yang dapatmemungkinkan untuk merekayasa gambar digital melalui perangkat lunak. Teknologi digitaltelah menjadikan kebenaran dalam sebuah foto tidak lagi absolut. Akhirnya fotografi sebagaialat perekam imaji yang representatif kebenarannya semakin diragukan. Karena semakin sulituntuk membedakan foto asli atau palsu, bahkan sebuah foto asli bisa saja dikatakan sebagaihasil manipulasi. Penciptaan imajinasi visual fotografi ini dihasilkan dari suatu olah daya pikirmanusia. Dalam proses tersebut dibutuhkan suatu kreativitas dari penggabungan imaji-imajisebelumnya atau sekarang ini untuk diimajinasikan. Pemaknaan akan bergeser dari imaji visualfotografi menjadi imaji visual fotografi yang baru. Proses artistik imajinasi visual ini diciptakandengan didasarkan pada artistik yang berdasarkan imajinasi, artistik berdasarkan imajinasi danartistik didasarkan pada kombinasi antara kenyataan dan imajinasi. Penciptaan Imajinasi visualfotografi merupakan daya untuk mengonstruksi ataau menggabungkan kembali dari berbagaiimaji-imaji atau foto- secara imajinatif dan kreatif dengan persepsi yang menyertainya untukmenjadi imaji baru yang utuh, logis, dan mungkin terjadi dengan menggunakan teknik danefek fotografi. Proses mengonstruksi membutuhkan suatu kemampuan berimajinasi untukmenggabungkan dan menyatukannya untuk menjadi satu kesatuan (unity) yang utuh dalam satupermukaan gambar/imaji secara ekspresif dan imajinatif melalui proses estetis yang kreatifberdasarkan ciri personal penciptanya. Dengan demikian, hasil dari proses konstruksi tersebutsudah tidak tampak lagi imaji sebelumnya dan pemaknaannya sudah bergeser menjadi karyaimaji dengan pemaknaan baru.AbstractImage to Photography Visual Imagination. Visual image of photography is a visual recordingmedia which is objective and representative in revealing the truth when recording a reality. Thetechnology revolution led to the change in photography, from analog photographic technologyas one of the media for promoting truth or evidence and as media representing truth to thedigital technology which allow people to manipulate digital images through software. Digitaltechnology has made the truth in a photograph is no longer absolute. In the end, photographyas an images recording tool representing truth is doubted. It is getting harder and moredifficult to distinguish the original or fake photo, even an original photo can be said as aresult of manipulation.The creation of visual imagination photography is produced by thepower of human thought. The process requires a creativity of merging the previous or recentimages to imagine. The meanings will be shifted from visual image photography into a newvisual image photography. Visual imagination of the artistic process is created on the basisof artistic imagination, artistic imagination and artistic are based on a combination of realityand imagination.The creation of visual photography imagination is a power to construct orrecombine from multiple images or pictures imaginatively and creatively with the perceptionto be a whole new image, logical, and may occur with the use of techniques and photographiceffects. The process of constructing requires an ability of imagining to combine and unitethem into a single unit as a unity which is intact on s single surface of the picture/image,expressively and imaginatively through an aesthetic creative process based on the personalcharacteristics of the creator. By doing so, the construction process will no longer visible onthe former image and the meaning will shift into an image with a new meaning
Analisis Aisas Model Terhadap Product Placement dalam Film Indonesia Studi Kasus: Brand Kuliner di Film Ada Apa Dengan Cinta 2
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis AISAS Model atas product placement dari brand(tempat) kuliner pada film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2. Film ini menjadi objek penelitiankarena tingginya minat menonton dari masyarakat hingga membuatnya menjadi salah satufilm terlaris di Indonesia pada tahun 2016. Penelitian ini mengambil dua teori utama dalambidang komunikasi pemasaran, yaitu teori AISAS dan product placement. Jenis penelitian iniadalah kualitatif deskriptif, dengan teknik observasi dan wawancara mendalam kepada 12orang informan yang telah menonton film tersebut minimal 1 kali dan berdomisili di JakartaTimur. Hasil dalam penelitian ini menyebutkan bahwa berdasarkan analisis AISAS, productplacement atas brand (tempat) kuliner dalam film membantu promosi brand kuliner tersebut.Poin Search, Action, dan Share memberikan peluang besar dan sangat baik dalam keberhasilanpromosi sehingga konsumen dapat dekat, mengalami, dan merasakan brand.The Analysis of AISAS Model towards Product Placement of Indonesia Movie: A CaseStudy on the Culinary Brand of Ada Apa Dengan Cinta 2 Movie. This study aims to analyzeAISAS Model on product placement of culinary brand on Ada Apa Dengan Cinta (AADCWhat’sup with Cinta) 2 movie. The movie becomes the object of research because of the highinterest from the public to watch, making it one of the best-selling movies in 2016 in Indonesia.This study takes two main theories in the field of marketing communications, namely AISASand product placement. The research is a qualitative descriptive by observation and in-depthinterviewtechnique to 12 informants staying in East Jakarta who have seen the film at leastonce. The result of study mentions that based on the AISAS analysis, product placement ofculinary brand (places) on the film helped the promotion of the culinary brands. Some pointssuch as Search, Action, and Share provide great opportunities to the success of the campaignso consumers can be close, experience and feel the brand
Gerak Tari Baris Tunggal dalam Fotografi Ekspresi Menggunakan Teknik Strobo Light
AbstrakDance photography adalah pemotretan pada gerak tari yang memiliki karakteristik menunjukkangerakan tertentu dengan kostum yang unik. Seni fotografi tari khusus menggambarkan melaluiefek tematik tertentu dengan melaju estetika dan kreatif. Berdasarkan pengalaman fotograferuntuk menangkap cahaya bersama-sama dengan ekspresi estetika nya pada gerakan fotografi,ia akhirnya disajikan seni visual pada Baris Tunggal Dance dalam seni ekspresi fotografimenggunakan lampu sorot. Pada dasarnya, karya-karya kreatif difokuskan pada gerakanpenari dan berubah menjadi ekspresi fotografi yang dicampur dengan estetika dan kreatif ide(ideasional) juga kemampuan pemotretan teknis (teknis) dari fotografer. Foto tunas teknik yangdipilih melalui berbagai pertimbangan yang berorientasi pada implementasi kemungkinanpraktis, sehingga foto-foto di-freeze, kabur, dan multiple-gambar sebagai seni fotografi. Senifoto termasuk ekstrinsik dan nilai-nilai estetika intrinsik melalui presentasi foto. Denganhadirnya seni fotografi ini bekerja itu tidak hanya hadir dalam bentuk dokumentasi belaka,tetapi itu adalah seni ekspresi fotografi tingkat kreatif dan estetika. The Movement of Tari Baris Tunggal in Expression Photography Using the StrobeLight Technique. Dance photography is a photo shoot on a dance movement which has acharacteristic as it shows on a particular movement with unique costumes. The arts of dancephotography specifically describes through a specific thematic effect with an aesthetic andcreative oncoming. Based on the photographer experience to capture the light together withhis aesthetic expression on movement photography, he finally presented the visual arts onBaris Tunggal Dance in art photography expressions using strobe light. Basically, the creativeworks focused on the dancer movements and transformed into expression photography whichblended with aesthetic and creative idea (ideational) also the technical photo shoot capability(technical) of the photographer. The photo shoots technique have been chosen through avariety of consideration which oriented on practical implementations possibilities, resultingphotographs in freeze, blurred, and multiple-images as art photography. The art photographincludes extrinsic and intrinsic aesthetic values through photo presentation. With the presenceof this photography art works it was not only present in the form of mere documentation but itwas the art expression photography on creative and aesthetic level
Media Fotografi Abad ke-19: Daguerreotype, Calotype, dan Collodion
Artikel ini bermaksud menjelaskan tiga medium fotografi yang lazim digunakan pada abad-19 yaitu daguerreotype, calotype, dan collodion. Pembahasan ketiga medium tersebut dititikberatkan pada sejarah kemunculan, teknik pembuatan, dan karakteristik imaji. Baik daguerreotype, calotype, maupun collodion memiliki sejumlah karakteristiknya yang khas; juga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Daguerreotype yang ketajaman imajinya sangat memukau itu memiliki kekurangan pada cetakannya yang tidak dapat diperbanyak. Kekurangan tersebut dapat teratasi oleh calotype yang dapat diperbanyak sampai dengan tidak terhingga. Adapun kekurangan calotype yang berdetail tidak tajam, teratasi oleh collodion yang berdetail tajam sekaligus dapat diperbanyak. Lambat laun setelah dipraktikkan oleh masyarakat, disimpulkan bahwa kekurangsempurnaan medium yang muncul lebih awal akhirnya menjadi penyebab berakhirnya masa kejayaan medium tersebut, karena telah hadir medium baru yang bisa mengompensasi kekurangan yang ada. This article explains three kinds of main stream medias in 19th century; they are daguerreotype, calotype, and collodion. The explanation of the three medias is focused on the origin of the medias, the techniques of the medias, and the characteristics of the image made by each medias. There are some characteristics in daguerreotype, calotype, and collodion, each by its own way. There are pros and cons about each process also. Daguerreotype is amazing in sharpness but lack of reproduction ability. Calotype which came later on public could overcome that lackness because of one calotype negative is able to produce unlimited positive images. On the other side, colotype has not enough good detail due to the grain of the paper which is used as the film. Then these kind of problems could be solved by the characteristic of the latest medium called collodion which has sharp details and also could be reproduced. Thus, time by time, one medium superseded one after enother
Determinisme Teknologi Komunikasi dan Globalisasi Media Terhadap Seni Budaya Indonesia
AbstrakPenelitian ini berfokus pada pengaruh terpaan teknologi komunikasi dan globalisasi media terhadap seni budaya Indonesia. Determinasi teknologi komunikasi atau terpaan teknologi komunikasi hadir di tengah-tengah masyarakat dan memengaruhi cara pandang dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi komunikasi dan media merupakan dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya hadir saling melengkapi. Perkembangan media ini semakin pesat dan canggih seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Terpaan teknologi dan media ini memengaruhi seni budaya dan perilaku masyarakat atau bangsa Indonesia. Analisis deskriptif kualitatif merupakan metode pengkajian yang digunakan dengan tujuan mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel, dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya. Variabel dalam penelitian ini adalah teknologi komunikasi, globalisasi media, dan seni budaya Indonesia. Dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif pengkajian ini akan mengungkap pengaruh terpaan teknologi dan globalisasi media terhadap seni budaya Indonesia. AbstractThe Determinism of Communication Technology and Media Globalization Towards Arts and Indonesian Culture. This study focuses on the effect of the exposure of media communications technology and the globalization of the art and culture in Indonesia. Determination of communications technology or the exposure of communications technology present in the midst of society and influence the worldview and human behavior in everyday life. Communication technology and media are a duumvire that cannot be separated, both present complementary. The increasingly rapid development of media and its advancement are along with the development of communication technology. The exposure of media and technology affects art and culture as well as the behavior of people or the Indonesian. Qualitative descriptive analysis is the method of assessment used to uncover the facts, phenomena, variables and circumstances that occurred while running the research and presenting it as what it is. The variables in this study are technology, media globalization, and Indonesian arts and culture. By using qualitative descriptive analysis, this study will reveal the influence of technology and media globalization exposure to the art and culture of Indonesia
Estetika Fotografi Jurnalistik dalam Kaitan Nilai Kebaikan Dan Kebenaran, Olah Rasa, dan Sinestesia
Fotografi jurnalistik menjadi salah satu cabang dari pengelompokan besar di bidang fotografi, selain fotografi seni dan fotografi komersial. Sebagai salah satu bidang seni, fotografi jurnalistik tentunya memiliki konsep estetika tersendiri, bahkan konsep estetikanya sangat berkaitan dengan “rasa”, sebuah konsep abstrak mengenai proses peresapan sesuatu dalam diri manusia yang bahkan tidak dapat sepenuhnya dideskripsikan. Pemahaman konsep estetika merupakan proses dialektis berkaitan dengan persoalan lain seperti filsafat, sosial, politik, budaya, dan ekonomi sehingga nilai-nilai kebaikan dan kebenaran sering muncul dalam ragam diskusi estetika. Perkembangan pendekatan konsep proses penciptaan yang melibatkan penonton dan berupaya menyajikan berbagai rangsangan bagi pancaindera menuntut kemampuan dalam olah rasa lainnya, yaitu mengoneksikan pancaindera. Konsep yang berkaitan dengan hal tersebut dikenal dengan istilah synaesthesia (sinestesia), sebuah konsep di mana pancaindera bekerja bersama sekaligus saat merespons sebuah rangsangan sehingga akan menimbulkan sensasi yang melebihi ungkapan satu pancaindera saja. Pemahaman estetika dengan berbagai pendekatan tersebut merupakan proses apresiasi aktif yang bertujuan untuk mengungkap kemungkinan-kemungkinan pewacanaan baru dalam perkembangan fotografi jurnalistik. Photojournalism Aesthetic in Regards to the Value of Goodness and Truth, Feeling , and Synaesthesia. Photojournalism becomes one of the branches of a large group in the field of photography in addition to art photography and commercial photography. Great photojournalism is a strange sort of art. Photojournalism allows people to get close to events on the ground, so that people may better understand them as they unfold. This is an abstract concept about the impregnation which cannot be fully described. Understanding the concept of aesthetics is a dialectical process associated with other problems such as philosophy, social, political, cultural, and economic so that the values of goodness and truth often comes in a variety of aesthetic discussion. Developments in the approach to the concept and creation process that involves the audience and trying to present a wide range of stimuli for the senses require proficiency in another sense though, that connected the all senses. Concepts related to the case known as synaesthesia, a neurological phenomenon in which one or more sensory modalities are linked. Aesthetic understanding of the various approaches is an active appreciation process that aims to uncover the possibilities of a new discourse on development of photojournalism
Pemanfaatan Single Flash External dengan Guide Number Rendah untuk Pemotretan Ruang
Dalam teknik fotografi, cahaya merupakan elemen dasar dalam pembentukan image. Pemahaman tata pencahayaan saat pemotretan mutlak diperlukan karena akan memengaruhi mutu gambar yang didapat. Optimalisasi pencahayaan pada objek dapat diperoleh dengan cara memahami karakternya. Hal itu bisa dilakukan dengan menggolongkan cahaya berdasarkan sumbernya atau mengenal sifat-sifatnya, juga memahami pola terapan cahaya tersebut. Pemotretan interior merupakan salah satu terapan fotografi yang mengeksplorasi detail objek dan suasana ruangan sehingga suatu saat bias saja dibutuhkan lampu tambahan yang berupa flash. Dalam memenuhi tujuan itu, beberapa di antaranya masih banyak yang membutuhkan penggunaan lebih dari satu titik lampu flash beserta aksesorisnya sehingga akan memengaruhi biaya operasionalnya juga. Pada penulisan ini akan disampaikan hasil percobaan tentang pemotretan ruang yang hanya menggunakan sebuah lampu flash eksternal berintensitas kecil, yang bisa dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas foto sehingga dirasa dapat menekan biaya operasionl pemotretan.Application of Single Flash External Using Low Guide Number for Interior Photography. Light is the basic element of photographic technique in formation of the image. Understanding of the lighting system is important when taking the picture, because it will affect the quality of the image. Optimization of the lighting on the object can be obtained by understanding its character. This can be done by categorize light based source, identify light feature and figure out the pattern of the light. Interior photography is one of applied photography which explores the details of the object and the circumstances of the room, so that it needs extra light in the form of flash. To obtain that objective, usually a much needed to use more than one point of the flash and its accessories, so it affect operational costs as well. In this paper, the author presents the results of experiments on interior photography, which by using a small intensity of light from external flash optimally can improve the quality of the image and also reduce costs of interior photo shoot’s operasiona