REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
Not a member yet
198 research outputs found
Sort by
Analisis Wacana Kritis Sara Mills tentang Stereotipe Terhadap Perempuan dengan Profesi Ibu Rumah Tangga dalam Film Rumput Tetangga
Film adalah media komunikasi massa yang mampu mempresentasikan dan mengonstruksi realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Film dapat menampilkan potret kenyataan dalam bentuk simbolik yang mempunyai makna, pesan, dan nilai estetikanya. Tujuan dari tulisan ini adalah mendeskripsikan status dan peran perempuan yang memilih profesi ibu rumah tangga melalui analisis tokoh perempuan yang ditampilkan dalam film Rumput Tetangga serta resepsi penonton terhadap film. Penyusunan tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pisau analisis wacana kritis Sara Mills. Untuk metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan wawancara bersama informan sebagai validasi data. Dengan menganalisis setiap scene yang ada dalam film, tulisan ini menunjukkan bahwa masih terdapat ketimpangan sosial dan pandangan terhadap peran ibu rumah tangga baik dari budaya patriarki maupun dari sesama kaum perempuan. Film Rumput Tetangga adalah cerminan realita saat ini dan dialami oleh para perempuan di lingkungan kehidupannya. Ternyata yang lebih sering memberikan stereotipe buruk kepada peran ibu rumah tangga adalah para perempuan. Hal ini menunjukan bahwa pelaku ketidakadilan gender tidak terjadi di antara dua gender yang berbeda, tetapi dapat terjadi di sesama gender
Realisme Magis Imaji ke Imajinasi Visual Fotografi
Berbagai imaji dan imajinasi yang dialami secara pribadi adalah inspirasi yang terasa familiar dan mudah diselami dalam melahirkan suatu proses ide yang kreatif, yang dalam hal ini adalah menciptakan karya seni fotografi yang estetis. Berawal dari pengalaman pribadi yang kala itu tumbuh di tengah kaum urban di pusat niaga Kota Yogyakarta, yaitu kawasan Malioboro dan kebetulan pada masa dewasa lalu berkecimpung di dunia fotografi, muncullah inspirasi untuk menciptakan karya fotografi seni tentang Malioboro. Tujuan dari artikel ini adalah untuk memaparkan bagaimana proses kreatif dalam menciptakan karya fotografi, yang pada akhirnya akan memberikan konstruksi makna yang baru terhadap visual fotografis. Karya fotografi yang secara umum diakui keotentikan realitasnya, terkadang justru melebihi realitas itu sendiri. Sebagai kerangka teoretis, realisme magis dapat melampaui dan bahkan melepaskan diri dari realitas yang ada sehingga membuka ruang pluralitas yang luas. Metode observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi dipadukan dengan teknik digital imaging berupa visual kolase dan montase menjadikan karya fotografi tentang kawasan Malioboro bernilai seni dan estetis. Penciptaan karya ini tidak sekadar membahas tentang tataran teknis yang membentuknya, akan tetapi lebih tentang estetika dan rekonstruksi makna yang kemudian muncul. Dengan menggunakan pendekatan realisme magis dalam membuat konsep karya fotografi, hadirlah karya foto seni yang representatif dan estetis dalam menggambarkan pluralitas yang ambigu dalam keseharian di kawasan Malioboro. Various images and imaginations that are personally experienced is an inspiration that feels familiar and easy to explore in incubating a creative process of ideas, which in this case is to create aesthetic photographic artwork. Starting from personal experiences that was raised in the middle of urban community in the commercial center of Yogyakarta, namely Malioboro area, and later when growing up happened to be engaged in the field of photography, triggered an inspiration to create art photography about Malioboro. The purpose of this article is to describe how the creative process of creating photographic works will eventually give the construction of new meaning to photographic visuals. Photography works that are generally recognized for their authenticity of reality, sometimes even exceed reality itself. As a theoretical framework, magical realism can transcend and even break away from existing realities, thus opening up a vast space of plurality. The methods applied were observation, exploration, and experimentation combined with digital imaging techniques in the form of visual collages and montages, in order to make photographic works about Malioboro area become valuably artistic and aesthetics. The creation of this photography work no longer speaks of the technical state that shaped it, but rather about the aesthetics and reconstruction of the meaning that exists in it. By using magical realism as the approach in conceptualizing the photographic works, there is a representative and aesthetic work of art in describing ambiguous plurality in everyday life in Malioboro area
Mood Cues dalam Film Kartini: Hubungan antara Pergerakan Kamera dan Emosi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mood cues dalam film Kartini dengan menggunakan pendekatan teori film, pergerakan kamera, dan mood setting. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif analitis dengan pendekatan studi literatur film. Studi literatur film berupa teori teknik sinematik khususnya pergerakan kamera, yaitu long tracking shot, overhead long shot, dan zoom in yang mendominasi film ini. Hasil penelitian menunjukkan empat poin utama. Pertama, teknik pengambilan gambar long tracking shot tampak kurang menunjukkan mood cues empathy kepada penonton karena kurangnya detail ekspresi wajah tokoh utama. Hal ini menyebabkan kurangnya ambivalen pada adegan terjebaknya Kartini pada aturan Jawa yang masih mendeskreditkan posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Kedua, mood setting film Kartini tampak diciptakan dengan gabungan unsur mise-en-scene termasuk kostum, properti, set, colour, dan kombinasi musik etnis dengan setting tahun 1800-an. Ketiga, overhead long shot dengan kemiringan 90° tampak menunjukkan kesan “kebenaran”, “harapan”, sekaligus emosi yang kompleks. Keempat, zoom in tampak menunjukkan empathy kepada penonton yang didukung dengan slow motion. Narasi penolakan dan camera movement menunjukkan emosi Kartini terhadap hak perempuan. Keempat teknik tersebut mendukung ambivalen emosi yang kompleks dan menunjukkan metafora emansipasi perempuan
Citra Bagong sebagai Suara Wong Cilik pada Kanal YouTube Dalang Seno
Along with the emergence of new media, wayang kulit play have also undergone changes and adjustments to the format. Through media such as YouTube, wayang kulit shows are no longer shown as 8-9 hour long shows. This media change does not cause a paradigmatic change to the role of Punakawan, but also provides a fresher interpretation space for Punakawan (clowns) as today’s social communicators. This paper aims to examine how Bagong, one of character of Punakawan, underwent a transformation in the wayang kulit play that was broadcasted on the Dalang Seno YouTube channel, which was initiated by Ki Seno Nugroho. In this channel, Bagong is no longer shown as a side character, but as the main character in the wayang kulit narrative. In addition, this paper wants to explore the extent to which Bagong seeks as a social communicator in the context of postcolonial society as shown on the Dalang Seno channel in the midst of a pandemic.
Implementasi Screenplay dan Audio Foley Effect pada Pembuatan Film Animasi 3D "Si Molek"
Screenplay adalah kisah yang diceritakan dengan gambar, dalam dialog dan deskripsi, dan ditempatkan dalam konteks struktur dramatis, yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, dialog dan keadaan. Foley merupakan jenis suara yang dibuat untuk mengisi noise pemain dalam film pada waktu yang sebenarnya atau nyata. Teknologi animasi sendiri sudah menyebar hingga pada pembuatan cerita daerah/cerita rakyat yang awalnya hanya diceritakan secara lisan/tertulis. Cerita rakyat adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan oleh seseorang pada orang lain melalui penuturan lisan. Hampir disetiap daerah di Indonesia memiliki cerita rakyatnya masing-masing. Salah satu cerita rakyat dari provinsi Riau adalah cerita rakyat Si Molek. Pada penelitian ini, akan dibuat sebuah film animasi 3D cerita rakyat Si Molek dengan menggunakan teknik Screenplay dan juga teknik Foley Effect. Teknik Screenplay digunakan sebagai acuan atau pedoman dalam proses pembuatan animasi 3D Si Molek. Sedangkan teknik Foley Effect digunakan karena tanpa adanya Foley Effect sebuah film akan terasa kurang realistis dan natural. Dengan film animasi 3D Si Molek yang menerapkan teknik Screenplay dan Foley Effect ini diharapkan menghasilkan sebuah film animasi 3D yang baik dan juga sebagai sarana memperkenalkan cerita rakyat ini kepada masyarakat. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan teknik Screenplay dan teknik Foley Effect berhasil diimplementasikan dengan benar
Film Komedi Rukun Karya: Strategi Seniman Tradisi Mempertahankan Eksistensi pada Era Pandemi
Penelitian ini mengkaji tentang strategi seniman tradisi dalam mempertahankan eksistensinya di era pandemi. Penelitian difokuskan pada kelompok kesenian tradisi Ketoprak Madura Rukun Karya yang berasal dari Kabupaten Sumenep. Di masa pandemi, kelompok Rukun Karya mengalami dampak yang cukup signifikan, dengan dibatalkannya beberapa daftar pementasan selama setahun. Kelompok ini kemudian mampu membalikkan kondisi keterpurukan melalui kesuksesannya dalam memproduksi konten Film Komedi Rukun Karya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan multidisipliner. Metode pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi partisipatoris, pengamatan mendalam, wawancara, dan studi literatur. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini antara lain 1) Rukun Karya melakukan peralihan mode pertunjukan dari ketoprak Madura menjadi Film Komedi yang memiliki dua jenis bentuk penceritaan yakni cerita adaptasi (gaya ketoprak, sastra Timur-Tengah, sejarah, dan televisi) dan cerita realitas kehidupan masyarakat Madura; 2) Peralihan mode pertunjukan dari ketoprak menjadi Film Komedi didasari oleh mekanisme industri (budaya) melalui media (youtube) yakni strandarisasi, komodifikasi dan massifikasi; 3) Peralihan mode pertunjukan berdampak pada perubahan cara penyajian dan cara menikmati sajian pertunjukan, beberapa contohnya ialah hilangnya interaksi seniman-penonton, serta digantikannya cita rasa dalam menikmati sajian pertunjukan secara kolektif menjadi cita rasa yang privat dan sangat individualistik
Visualitas Fotografi: Foto Bupati Klaten dalam Kampanye Pilkada di Tengah Covid-19
Abstrak Agenda politik tahun 2020 di Indonesia adalah pesta demokrasi untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak yang diikuti 270 wilayah meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Namun, pada saat semua calon (kandidat) mulai mempersiapkan dan memperkenalkan diri kepada masyarakat, pada saat itu pula muncul wabah virus korona (Covid-19) di dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan munculnya kampanye terselubung di tengah upaya pemerintah dalam menangani dan mencegah menyebarnya Covid-19. Indikasi munculnya kampanye terselubung telah dilakukan beberapa kepala daerah, salah satunya oleh bupati Klaten di tengah wabah Covid-19 dengan menyertakan foto diri dalam bantuan sosial (bansos), bahkan juga ditandai dengan munculnya foto kepala daerah di baliho-baliho di berbagai tempat strategis, di media massa, dan di media sosial di tengah pandemi virus corona. Wabah virus Covid-19 yang merupakan tragedi sosial kemanusiaan dimanfaatkan untuk kepentingan politik yang sifatnya pragmatis oleh segelintir anak bangsa. Terjadinya fenomena visualitas fotografi yang bersinggungan dengan fenomena politik dalam Pilkada 2020 ini menarik dan penting untuk dikaji. Tujuan kajian ini adalah untuk membaca dan memahami lebih dalam atas intervensi visual secara terus-menerus sebagai bagian esensi komunikasi sosial-politik. Untuk mengkaji fenomena tersebut menggunakan visual metodologis dari Gillian Rose (2001) yang didasarkan pada objek material berupa foto bupati Klaten pada berbagai media yang ditengarai sebagai bentuk kampanye politik Pilkada. Metode ini akan memaparkan deskripsi dan analisis secara komprehensif dengan dibantu berbagai literatur. Visualitas fotografi dalam konteks ini digunakan untuk menggambarkan citra visual yang dapat menarasikan melalui berbagai macam simbol visual. Visualitas fotografi yang dimanfaatkan pejabat publik pada media komunikasi visual dapat dilihat sebagai bentuk politisasi sebagai konsekuensi lahirnya upaya penafsiran terhadap fakta atau realitas sosial. Oleh karena itu, fotografi menjadi salah satu elemen penting sebagai upaya kampanye dalam menghadapi pemilihan kepala daerah, di mana foto dilihat dari fungsinya memiliki daya tarik dan persuasi yang kuat untuk membantu memperjelas dan memperteguh isi pesan terhadap konstituen atau masyarakat sebagai target sasarannya. PHOTOGRAPHIC VISUALITY: Photo of the Klaten Regent in the Regional Election Campaign in the Middle of Covid-19 Abstract The 2020 political agenda in Indonesia is a simultaneous democracy for regional heads (pilkada) followed by 270 stakes covering 9 provinces, 224 districts, and 37 cities. However, at a time when all candidates (candidates) start to prepare and introduce themselves to the public, at that moment a worldwide outbreak of the Corona virus (covid-19), including Indonesia. This resulted in a covert campaign amid government efforts to handle and prevent the spread of covid-19. Indications of the emergence of covert campaigns have been carried out by several regional heads, including the klaten regent in the middle of the covid-19 outbreak by including self-portraits in baliho-baliho in various strategic places, in the media, and at social media amid the corona virus pandemic. The covid-19 virus outbreak that was a social humanitarian tragedy was used for pragmatic political interests by a few national children. The occurrence of visualization of photography in relation to the political phenomenon of this 2020 pillage is of interest and importance. The purpose of the study is to read and understand more deeply about visual interventions constantly as part of the essence of socio-political communication. To review the phenomenon using a visual methodological of gillian rose (2001) based on material Photograph of the regent of klaten on various media that are believed to be a form of the election political campaign. It will outline comprehensive descriptions and analyses with help from different literature. Photographic visuals in this context are used to depict visual images that can apply through various visual symbols. Visualization of photography used by public officials on visual communication media can be viewed as politicisation as a consequence of an interpretation of facts or social reality. In consequence, photography becomes one of the key elements of a campaign effort in the face of the electoral election, where photographs of its function have a strong appeal and persuasion to help clarify and solidify the message's content of the constituency or society as its target
Transgender dalam Film “Salah Bodi”
ABSTRAKTulisan ini mengemukakan transgender di dalam film “Salah Bodi”. Film ini menceritakan seorang laki-laki yang mengubah identitasnya menjadi perempuan dan seorang perempuan yang berubah menjadi laki-laki. Film “Salah Bodi” ini dikemas dengan gaya komedi. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif yang menitikberatkan pada metode etnografi. Hasil pengamatan dalam film “Salah Bodi” diketahui bahwa dua tokoh utama Farhan dan Inong selalu berusaha menyembunyikan identitas gender aslinya di tengah masyarakat. Keberpihakan sutradara jelas terlihat di akhir film dengan menampilkan mereka kembali ke kodrat aslinya. Film ini cukup unik dan menarik sebab mengangkat isu sensitif yang berkembang di masyarakat. Masih banyak masyarakat yang menganut konsep maskulin dan feminin. Pandangan lain dari seorang transgender adalah bahwa keputusan untuk mengubah identitasnya karena pengalaman hidup yang secara tidak langsung mempengaruhi kejiwaannya, seperti halnya pengalaman masa kecil.This study investigated the transgender issues in the Salah Bodi movie. The movie tells about a man who changes his identity to be a woman, and a woman who changes her identity to be a man. The Salah Bodi movie is packed with a comedy genre. This study used a descriptive qualitative which focuses on the ethnographic method. The result shows that there are two of the main characters, who are Farhan and Inong. These main characters attempt to conceal their real identity from society. The director’s allignment is clearly seen at the ending of this movie in which shows their real identity. This movie is a unique and interesting to be criticized because the story is discussing about the sensitive issue that grow in the society. The society still adere about feminime and masculine concept. The life experinces for example in a childhood, affected someone’s psychology which become a person to be a transgender
Karantina Wilayah sebagai Ide Penciptaan Foto Seri Tentang Topical Trends Covid-19
Quarantine Areas as an Idea The Creation of A Series of Topical Trends of Covid-19. Research called quarantine areas as an idea the creation of a photograph series about topical trends covid-19 is a study based the creation of artistic, with the result of a photograph series describing the atmosphere quarantine areas due to pandemics covid-19 in Pedukuhan Pelem Sewu , RT 08 and RT 09 , Panggungharjo, Sewon, Bantul , Yogyakarta. Photo series made is activity the creation of a guide making a photograph produce a series of photos containing descriptions based on the theme or a particular subject same, that is the situation quarantine areas. Through the observation, design concept, to recording equipment, produced a series of photographs quarantine areas described the situation, the closure enter and leave in a region in which there were people infected covid-19. Methods used in this study began of observation, the design of the concept of, until shooting. The result of the creation of this series are photographs that describe scenes of residents and the activities of that lasts for quarantine areas to come into effect. Conclusions obtained from the research with the approach the work of art it produces an understanding of the circumstances and the residents habit covid-19 due to new pandemic. A new habit of them is online learning activity, aware of their health and clean environment, and of their fellow citizens for mutual support and through the quarantine
Gestur Tangan Manusia dalam Karya Fotografi Seni
Tangan sebagai bagian tubuh manusia yang sering digunakan sebagai alat komunikasi dan menghasilkan beragam pose. Manusia secara alami terbiasa menggunakan tangan untuk melakukan komunikasi dan ketika bergerak, tangan membentuk sebuah gestur tertentu. Gestur adalah sebuah gerakan yang bertujuan memberikan isyarat. Isyarat adalah untuk memahami pikiran seseorang atau mengkomunikasikan perasaan. Metode dalam penciptaan ini diawali dengan penggalian ide dan konsep yang dilanjutkan dengan studi referensi dilanjutkan dengan penjelajahan eksplorasi dan eksekusi foto. Penciptaan ini menghasilkan karya foto yang dibagi menjadi 5 kategori yakni Bahagia, Kesedihan, Kegelisahan, Marah dan Religius. Pemilihan kelima kategori ini dirasa oleh penulis cukup mewakili dinamika kehidupan manusia. Karya dalam penciptaan ini memberikan pengetahuan tambahan mengenai tangan. Tangan yang pada umumnya dikaitkan dengan peran sehari-hari ternyata dapat memiliki gestur yang bernilai pesan tertentu di balik visualnya